Anda di halaman 1dari 4

REFERAT

PENYAKIT MEMBRAN HIALIN

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik Madya


Bagian Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Umum Daerah Abepura

Disusun Oleh :
Vera Fitria
007 084 0063

Pembimbing :
dr. Annet Ririhena, Sp.A

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS CENDERAWASIH


BAGIAN / SMF ILMU KESEHATAN ANAK
RUMAH SAKIT UMUM JAYAPURA
PAPUA
2016
PENYAKIT MEMBRAN HIALIN

Penyakit membran hialin (PMH) merupakan gangguan pernapasan yang


disebabkan imaturitas paru dan defisiensi surfaktan, terutama terjadi pada
neonatus usia gestasi <34 minggu atau berat lahir <1500 gram. Surfaktan mulai
dibentuk pada usia kehamilan 24-28 minggu oleh karena itu kejadian MH
berbanding terbalik dengan usia gestasi. Angka kejadian PMH pada neonatus
dengan usia gestasi <30 minggu 60%, usia gestasi 30-34 minggu 25%, dan pada
usia gestasi 35-36 minggu adalah 5%. Faktor predisposisi lain adalah kelahiran
operasi kaisar dan ibu dengan diabetes.

Gejala klinis
- Sesak, merintih, takipnea, retraksi interkostal dan subkostal, napas cuping
hidung, dan
sianosis yang terjadi dalam beberapa jam pertama kehidupan.
- Bila gejala tidak timbul dalam 8 jam pertama kehidupan, adanya PMH dapat
disingkirkan.

Pemeriksaan pencitraan : Foto toraks AP

Gambaran pencitraan
- Bentuk toraks yang sempit disebabkan hipoaerasi dan volume paru berkurang
- Gambaran ground-glass, retikulogranuler menyeluruh serta perluasan ke
perifer
- Gambaran udara bronkus (air bronchogram).
- Gambaran granularitas, yaitu distensi duktus dan bronkiolus yang terisi udara
dengan alveoli yang mengalami atelektasis.
- Tata laksana PMH yang semakin baik, seperti penggunaan surfaktan dan
pemberian CPAP segera setelah bayi lahir menyebabkan gambaran tidak
klasik pada foto toraks.
Klasifikasi beratnya PMH pada dibagi atas 4 derajat (Gambar 7), yaitu:
- Derajat I: bercak retikulogranuler dengan air brochogram
- Derajat II: bercak retikulogranular menyeluruh dengan air bronchogram
- Derajat III: opasitas lebih jelas, dengan air bronchogram lebih jelas meluas ke
cabang di perifer; gambaran jantung menjadi kabur.
- Derajat IV: seluruh lapangan paru terlihat putih (opak), Tidak tampak air
bronchogram,
jantung tak terlihat, disebut juga white lung

Keadaan hipoksemia pada PMH dapat menyebabkan terjadinya perdarahan


intrakranial,
perdarahan paru, dan gagal jantung kongestif akibat left to right shunt melalui
PDA.
Sedangkan komplikasi penggunaan bantuan ventilasi dapat terjadi pulmonary
interstitial
emphysema (PIE), pneumotoraks. pneumomediastinum, pneumopericardium,
pneumoperitoneum, pneumato-cele.