Anda di halaman 1dari 39

EVALUASI PROGRAM PENGENDALIAN PTM DAN UPAYA MENURUNKAN

PREVALENSI KASUS BARU PTM


DI WILAYAH PUSKESMAS PULOMERAK

MINI PROJECT

SEBAGAI SYARAT UNTUK MENYELESAIKAN


PROGRAM INTERNSHIP DOKTER INDONESIA

Disusun Oleh:
dr. Isnadiah Fitria Maharani

Pendamping:
dr. H. Faisal, MARS

PROGRAM DOKTER INTERNSHIP PUSKESMAS PULOMERAK


APRIL- JULI 2017

CILEGON

1
HALAMAN PENGESAHAN

Mini Project berjudul:


EVALUASI PROGRAM PENGENDALIAN PTM DAN UPAYA MENURUNKAN
PREVALENSI KASUS BARU PTM
DI WILAYAH PUSKESMAS PULOMERAK

oleh:
dr. Isnadiah Fitria Maharani

Telah dinilai dan dinyatakan diterima sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan
program internship dokter Indonesia

Cilegon, Juli 2017


Pendamping,

dr. H. Faisal, MARS

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkah dan rahmat-Nya
sehingga dapat menyelesaikan mini project dengan judul EVALUASI PROGRAM
PENGENDALIAN PTM DAN UPAYA MENURUNKAN PREVALENSI KASUS BARU PTM DI
WILAYAH PUSKESMAS PULOMERAK dengan baik.

Beberapa sumber yang dihimpun penulis dalam mini project ini berasal dari
artikel dan website kedokteran.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pendamping mini project yakni dr. H.
Faisal, MARS yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan mini project ini.
Terima kasih juga penulis sampaikan kepada teman-teman yang telah mendukung
penulisan ini.
Akhir kata, penulis menyadari mini project ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik
dan saran yang membangun dari semua pihak sangat diharapkan. Penulis berharap
semoga mini project ini dapat menjadi sarana informasi dalam kemajuan dan
perkembangan ilmu di bidang kedokteran.

Cilegon, Juli 2017

dr. Isnadiah Fitria Maharani

3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i


HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ ii
KATA PENGANTAR ........................................................................................... iii
DAFTAR ISI ..........................................................................................................iv

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1
1.2 Pernyataan Masalah. ......................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................................. 2
1.3.1 Tujuan Umum .................................................................................... 2
1.3.2 Tujuan Khusus ................................................................................... 2

1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................................ 2


1.4.1 Manfaat Teoritis................................................................................ 2
1.4.2 Manfaat Aplikatif............................................................................... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


BAB III METODE

BAB IV HASIL
4.1 Gambaran Umum............................................................................................ 16
4.1.1 Sejarah Puskesmas Pulomerak .....................................................................16
4.1.2 Posisi Lokasi Puskesmas DPT Pulomerak ...................................................16
4.1.3 Wilayah Kerja .............................................................................................. 18
4.1.4 Tujuan Puskesmas Pulomerak ..................................................................... 19

4.1.5 Visi dan Misi................................................................................................ 19


4.2 Situasi Derajat Kesehatan ............................................................................... 20
4.2.1 Indikator Pelayanan ..................................................................................... 22

4
4.3 Sasaran Kerja .................................................................................................. 23
4.4 Sarana Kesehatan Pemerikntah di Kecamatan Pulomerak ............................. 25
4.5 Ketenagaan ......................................................................................................26
4.6 Cakupan Program PTM ................................................................................... 26

BAB V KESIMPULAN DAN DARAN


5.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 33

5.2 Saran ............................................................................................................... 33


Daftar pustaka ....................................................................................................... 34

5
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penyakit tidak menular (PTM) adalah penyakit yang sedikit sekali terbukti dapat
penularan dari satu orang ke orang lain dapat terjadi melalui persentuhan, vektor, dan
turunan/warisan secara biologis. Karakteristik penyakit tidak menular yakni: (a) penyebab
penyakit (etiologi) yang tidak tentu; b)terdapat interaksi antara faktor risiko satu penyakit
dengan penyakit lain; (c) riwayat alamiah penyakit (masa laten, masa sakit subklinis,
masa sakit klinis dan cacat) yang panjang; (d) perubahan seseorang yang sehat menjadi
sakit tidak begitu terlihat; dan (e) sulit mengembalikan keadaan pasien menjadi normal
akibat perubahan patologis (misalnya kecacatan).

PTM menjadi penyebab utama kematian secara global. Data WHO menunjukkan
bahwa dari 57 juta kematian yang terjadi di dunia pada tahun 2008, sebanyak 36 juta atau
hampir dua pertiganya disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular. PTM juga membunuh
penduduk dengan usia yang lebih muda. Di negara-negara dengan tingkat ekonomi
rendah dan menengah, dari seluruh kematian yang terjadi pada orang-orang berusia
kurang dari 60 tahun, 29% disebabkan oleh PTM, sedangkan di negara-negara maju,
menyebabkan 13% kematian. Proporsi penyebab kematian PTM pada orang-orang
berusia kurang dari 70 tahun, penyakit cardiovaskular merupakan penyebab terbesar
(39%), diikuti kanker (27%), sedangkan penyakit pernafasan kronis, penyakit pencernaan
dan PTM yang lain bersama-sama menyebabkan sekitar 30% kematian, serta 4%
kematian disebabkan diabetes. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun
2007 dan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 dan 2001, tampak bahwa
selama 12 tahun (1995-2007) telah terjadi transisi epidemiologi dimana kematian karena
penyakit tidak menular semakin meningkat, sedangkan kematian karena penyakit menular
semakin menurun. Fenomena ini diprediksi akan terus berlanjut.

Peran serta masyarakat dalam melakukan kegiatan deteksi dini dan pemantauan
faktor risiko PTM Utama yang dilaksanakan secara terpadu, rutin, dan periodic dilakukan
dalm program posbindu PTM. Faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) meliputi
merokok, konsumsi minuman beralkohol, pola makan tidak sehat, kurang aktifitas fisik,
obesitas, stres, hipertensi, hiperglikemi, hiperkolesterol serta menindak lanjuti secara dini

6
faktor risiko yang ditemukan melalui konseling kesehatan dan segera merujuk ke fasilitas
pelayanan kesehatan dasar Upaya pengendalian PTM dibangun berdasarkan komitmen
bersama dari seluruh elemen masyarakat yang peduli terhadap ancaman PTM melalui
Posbindu PTM. Pengembangan Posbindu PTM merupakan bagian integral dari sistem
pelayanan kesehatan, diselenggarakanberdasarkan permasalahan PTM yang ada di
masyarakat dan mencakup berbagai upaya promotif dan preventif serta pola rujukannya.

Berdasarkan latar belakang diatas pengendalian PTM melalui kegiatan Posbindu


oleh masyarakat sangat berperan penting. Dengan demikian perlu dilakukan evaluasi
berkala program posbindu PTM khusunya di wilayah kerja Puskesmas Pulomerak
Kecamatan Pulomerak

1.2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas, diketahui rumusan masalahnya:

1. PTM menjadi penyebab utama terjadinya kematian secara global, dimana


terjadi transisi epidemiologi kematian dimana kematian akibat PTM semakin
meningkat dibandingkan dengan penyakit menular
2. Kegiatan posbindu berperan besar dalam pengendalian kematian akibat PTM

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum

Evaluasi program Posbindu dalam penemuan kasus baru dan menekan kasus kematian
yang diakibatkan PTM pada bulan Januari- Mei 2017.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pencegahan dan penemuan dini


faktor risiko PTM.
2. Menyusun program baru untuk Posbindu PTM tahun 2017.

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Manfaat Teoritis

Mini project ini diharapkan dapat memberikan evaluasi dalam program Posbindu PTM
tahun 2017.

7
1.4.2. Manfaat Aplikatif

1. Bagi Masyarakat
Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk turut aktif dalam kegiatan posbindu di
lingkungannya dalam mengatasi tingginya kasus PTM.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Menambah referensi sarana baca dan perpustakaan untuk sebagai pengetahuan dan
informasi bagi rekan sejawat.
3. Bagi Dinas Kesehatan
Hasil mini project ini dapat dijadikan bahan referensi untuk meningkatkan kinerja
program posbindu PTM di wilayah kerja Puskesmas Pulomerak pada tahun
mendatang.
4. Bagi Penulis
Menerapkan ilmu dan teori yang diperoleh selama pendidikan kedokteran,
menambah pengetahuan, pengalaman serta masukan penulis selanjutnya.

8
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. PROGRAM POSBINDU PTM

2.1.1. Definisi

Posbindu PTM merupakan peran serta masyarakat dalam melakukan kegiatan


deteksi dini dan pemantauan faktor risiko PTM Utama yang dilaksanakan secara terpadu,
rutin, dan periodik. Faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) meliputi merokok,
konsumsi minuman beralkohol, pola makan tidak sehat, kurang aktifitas fisik, obesitas,
stres, hipertensi, hiperglikemi, hiperkolesterol serta menindak lanjuti secara dini faktor
risiko yang ditemukan melalui konseling kesehatan dan segera merujuk ke fasilitas
pelayanan kesehatan dasar. Kelompok PTM Utama adalah diabetes melitus (DM), kanker,
penyakit jantung dan pembuluh darah (PJPD), penyakit paru obstruktif kronis (PPOK),
dan gangguan akibat kecelakaan dan tindak kekerasan

2.1.2. Tujuan

Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pencegahan dan penemuan dini


faktor risiko PTM.

2.1.3. Sasaran Kegiatan

Posbindu PTM dapat dilaksanakan terintegrasi dengan upaya kesehatan bersumber


masyarakat yang sudah ada, di tempat kerja atau di klinik perusahaan, di lembaga
pendidikan, tempat lain di mana masyarakat dalam jumlah tertentu
berkumpul/beraktivitas secara rutin, misalnya di mesjid, gereja, klub olah raga, pertemuan
organisasi politik maupun kemasyarakatan. Pengintegrasian yang dimaksud adalah
memadukan pelaksanaan Posbindu PTM dengan kegiatan yang sudah dilakukan meliputi
kesesuaian waktu dan tempat, serta memanfaatkan sarana dan tenaga yang ada.

2.1.4. Pelaku Kegiatan

Pelaksanaan Posbindu PTM dilakukan oleh kader kesehatan yang telah ada atau
beberapa orang dari masing-masing kelompok/organisasi/lembaga/tempat kerja yang

9
bersedia menyelenggarakan posbindu PTM, yang dilatih secara khusus, dibina atau
difasilitasi untuk melakukan pemantauan faktor risiko PTM di masing-masing kelompok
atau organisasinya. Kriteria Kader Posbindu PTM antara lain berpendidikan minimal
SLTA, mau dan mampu melakukan kegiatan berkaitan dengan Posbindu PTM.

2.1.5. Bentuk Kegiatan

Posbindu PTM meliputi 10 (sepuluh) kegiatan yaitu:

1. Kegiatan penggalian informasi faktor risiko dengan wawancara sederhana


tentang riwayat PTM pada keluarga dan diri peserta, aktifitas fisik, merokok,
kurang makan sayur dan buah, potensi terjadinya cedera dan kekerasan
dalam rumah tangga, serta informasi lainnya yang dibutuhkan untuk
identifikasi masalah kesehatan berkaitan dengan terjadinya PTM. Aktifitas
ini dilakukan saat pertama kali kunjungan dan berkala sebulan sekali.
2. Kegiatan pengukuran berat badan, tinggi badan, Indeks Massa Tubuh (IMT),
lingkar perut, analisis lemak tubuh, dan tekanan darah sebaiknya
diselenggarakan 1 bulan sekali. Analisa lemak tubuh hanya dapat dilakukan
pada usia 10 tahun ke atas. Untuk anak, pengukuran tekanan darah
disesuaikan ukuran mansetnya dengan ukuran lengan atas.
3. Kegiatan pemeriksaan fungsi paru sederhana diselenggarakan 1 tahun sekali
bagi yang sehat, sementara yang berisiko 3 bulan sekali dan penderita
gangguan paru-paru dianjurkan 1 bulan sekali. Pemeriksaan Arus Puncak
Ekspirasi dengan peakflowmeter pada anak dimulai usia 13 tahun.
Pemeriksaan fungsi paru sederhana sebaiknya dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang telah terlatih.
4. Kegiatan penggalian informasi faktor risiko dengan wawancara sederhana
tentang riwayat PTM pada keluarga dan diri peserta, aktifitas fisik, merokok,
kurang makan sayur dan buah, potensi terjadinya cedera dan kekerasan
dalam rumah tangga, serta informasi lainnya yang dibutuhkan untuk
identifikasi masalah kesehatan berkaitan dengan terjadinya PTM. Aktifitas
ini dilakukan saat pertama kali kunjungan dan berkala sebulan sekali.
Kegiatan pemeriksaan gula darah bagi individu sehat paling sedikit
diselenggarakan 3 tahun sekali dan bagi yang telah mempunyai faktor risiko
PTM atau penyandang diabetes melitus paling sedikit 1 tahun sekali. Untuk

10
pemeriksaan glukosa darah dilakukan oleh tenaga kesehatan (dokter,
perawat/bidan/analis laboratorium dan lainnya).
5. Kegiatan pemeriksaan kolesterol total dan trigliserida, bagi individu sehat
disarankan 5 tahun sekali dan bagi yang telah mempunyai fa k tor risi ko
PTM 6 bulan sekali dan penderita dislipidemia/gangguan lemak dalam darah
minimal 3 bulan sekali. Untuk pemeriksaan Gula darah dan Kolesterol darah
dilakukan oleh tenaga kesehatan yang ada di lingkungan kelompok
masyarakat tersebut.
6. Kegiatan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) dilakukan
sebaiknya minimal 5 tahun sekali bagi individu sehat, setelah hasil IVA
positif, dilakukan tindakan pengobatan krioterapi, diulangi setelah 6 bulan,
jika hasil IVA negatif dilakukan pemeriksaan ulang 5 tahun, namun bila
hasil IVA positif dilakukan tindakan pengobatan krioterapi kembali.
Pemeriksaan IVA dilakukan oleh bidan/dokter yang telah terlatih dan
tatalaksana lanjutan dilakukan oleh dokter terlatih di Puskesmas .
7. Kegiatan pemeriksaan kadar alkohol pernafasan dan tes amfemin urin bagi
kelompok pengemudi umum yang dilakukan oleh tenaga kesehatan (dokter,
perawat/bidan/analis laboratorium dan lainnya).
8. Kegiatan konseling dan penyuluhan, harus dilakukan setiap pelaksanaan
Posbindu PTM. Hal ini penting dilakukan karena pemantauan faktor risiko
kurang bermanfaat bila masyarakat tidak tahu cara mengendalikannya.
9. Kegiatan aktifitas fisik dan atau olah raga bersama, sebaiknya tidak hanya
dilakukan jika ada penyelenggaraan Posbindu PTM namun perlu dilakukan
rutin setiap minggu.
10. Kegiatan rujukan ke fasilitas layanan kesehatan dasar di wilayahnya dengan
pemanfaatan sumber daya tersedia termasuk upaya respon cepat sederhana
dalam penanganan pra-rujukan.

11
2.2. Penyakit Tidak Menular (PTM)

2.2.1 Definisi

Porta (2014) mendefinisikan penyakit tidak menular sebagai penyakit yang sedikit
sekali terbukti bahwa penularan dari satu orang ke orang lain dapat terjadi melalui
persentuhan, vektor, dan turunan/warisan secara biologis. Porta menggunakan istilah non-
comunicable disease dan nontransmissiable disease. Aikins (2016) mendefinisikan
penyakit tidak menular dengan sebutan chronic non-communicable disease (NCDs), yaitu
penyakit non infeksi yang berlangsung seumur hidup dan membutuhkan pengobatan dan
perawatan jangka panjang.

Dilihat dari kontribusi penyebab kematian, terdapat penyakit tidak menular yang
paling besar menyebabkan kematian, atau disebut juga major chronic disease, yang
meliputi cardiovascular disease, cancer, diabetes (Boslaugh, 2008), dan chronic
respiratory disease (Aikins, 2016). Selain keempat penyakit tersebut, WHO juga
memasukkan disabilitas, cedera, dan gangguan kesehatan mental sebagai fokus area
penyakit tidak menular. Bahkan beberapa organisasi kesehatan juga memasukkan cacat
lahir, kebutaan, penyakit ginjal, penyakit alzheimer, dementia, dan penyakit mulut ke
dalam definisi penyakit tidak menular. Pada awalnya, penyakit tidak menular berkaitan
erat dengan populasi usia tua di negara-negara maju. Namun saat ini, PTM menyerang
wanita dan pria usia produktif pada berbagai tingkatan penghasilan, terutama di antara
anak muda dan berpenghasilan rendah. Tidak ada batas yang jelas antara penyakit

12
menular dengan penyakit tidak menular. Beberapa kejadian PTM seperti rheumatic heart
disease, Burkitts Lymphoma, dan cervical cancer, dimulai dengan proses infeksi dari
penyakit menular.

2.2.2. Jenis Penyakit Tidak Menular


2.2.2.1. Penyakit Jantung dan pembuluh darah
Penyakit yang menyangkut jantung itu sendiri dan pembuluh pembuluh
darah (sulit dipisahkan sehingga sering disebut cardiovaskuler). Faktor risiko
yang tidak dapat dimodifikasi adalah riwayat keluarga, umur, dan jenis
kelamin, sedangkan faktor risiko yang dapat dimodifikasi adalah hipertensi,
merokok, DM, dislipidemia, obesitas, kurang aktivitas fisik, pola makan,
konsumsi alkohol, dan stress.
Penyakit jantung koroner
Penyakit jantung koroner adalah penyakit jantung yang terjadi akibat
penyempitan pembuluh darah koroner dan dapat menyebabkan
serangan jantung. Penyakit ini ditandai dengan :
Rasa tertekan seperti ditimpa beban berat , rasa sakit, terjepit, atau
terbakar di dada
Nyeri ini menjalar ke seluruh dada, bahu kiri, lengan kiri,
punggung (di antara kedua belikat), leher dan rahang bawah
,terkadang di ulu hati sehingga dianggap sakit maag
Dirasakan seperti tercekik atau rasa sesak - Lamanya 20 menit
bahkan lebih. Disertai keringat dingin, rasa lemah, berdebar -
Terkadang sampai pingsan
Penyakit Pembuluh Darah Otak (Stroke)
Disebut sebagai "serangan otak", disebabkan oleh kurangnya aliran
darah yang mengalir ke otak yang terkadang menyebabkan pendarahan
di otak. Aliran darah ke daerah otak terputus karena gumpalan darah,
endapan plak atau karena pecahnya pembuluh darah otak sehingga sel-
sel otak mengalami kekurangan oksigen serta energi dan menyebabkan
kerusakan otak permanen yang berakibat kecacatan-kematian dini
Hipertensi

13
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah
secara menetap > 140/90 mmHg. Seringkali hipertensi terjadi tanpa
gejala, sehingga penderita tidak merasa sakit

2.2.2.2. Diabetes Melitus (DM)


DM adalah suatu penyakit menahun yang ditandai dengan kadar gula dalam
darah melebihi nilai normal kadar gula darah yang normal GDS > 200mg/dL
dan GDP >126mg/dL, dengan gejala 3 klasik :
banyak minum ( polidipsi)
banyak makan (polifagi)
banyak kencing (poliuri)
Gejala tambahan:
penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
seringkali disertai dengan gejala penyerta, seperti : gatal-gatal,
mengantuk, kesemutan, mata kabur, impotensi, dan keputihan pada
wanita

Jenis-jenis DM

DM Tipe-1 : disebabkan kerusakan sel beta pankreas sehingga tidak


adanya produksi insulin sama sekali.
DM Tipe-2 : disebabkan karena penurunan sekresi insulin dan atau
resistensi insulin
DM Gestasional : muncul ketika penderita hamil (usia 24 minggu)
DM tipe lain yang disebabkan oleh pemakaian obat, infeksi, sebab
imunologi yang jarang, penyakit lain-lain, dsb

14
Faktor resiko DM

tidak dapat dimodifikasi : Ras/ suku, riwayat keluarga, usia >45 tahun,
riwayat melahirkan bayi besar >4000 gram, riwayat BBLR <
2500gram.
dapat dimodifikasi : IMT > 23kg/m2, kurang aktifitas fisik,
Hipertensi,dislipidemia, diet yang tidak sehat

2.2.2.3. Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara


Kanker Leher Rahim.
Faktor risiko kanker leher rahim adalah merokok,hubungan seksual <
20 tahun, berganti-ganti pasangan seksual, infeksi Human Papiloma
Virus, penyakit menular seksual, serta adanya riwayat keluarga yang
menderita kanker leher rahim. Untuk mengetahui secara dini bisa
dilakukan pemeriksaan IVA dan papsmear secara teratur
Kanker Payudara
Faktor Risiko Kanker Payudara:
Haid pertama pada usia < 10 tahun
Berhenti haid (menopause) pada usia > 50 tahun
Kehamilan pertama pada usia > 35 tahun

Riwayat keluarga

Tidak mempunyai anak

Tidak menyusui
Riwayat tumor jinak sebelumnya

Berat badan berlebih
Kebiasaan makan tinggi lemak dan kurang serat
Perokok aktif dan pasif

Konsumsi alkohol
Pemakaian obat hormonal dalam waktu lama
Penekanan pada payudara terus menerus dalam waktu lama
Deteksi dini kanker payudara dapat dilakukan dengan pemeriksaan
payudara sendiri (SADARI).

15
2.2.2.4. Asma
Asma merupakan gangguan inflamasi kronis di jalan napas. Dasar penyakit ini
adalah hiperaktivitas bronkus dan obstruksi jalan napas. Gejala asma adalah
gangguan pernapasan (sesak), batuk produktif terutama pada malam hari atau
menjelang pagi, dan dada terasa tertekan. Gejala tersebut memburuk pada
malam hari, adanya alergen (seperti debu, asap rokok) atau saat sedang
menderita sakit seperti demam. Gejala hilang dengan atau tanpa pengobatan.
Didefinisikan sebagai asma jika pernah mengalami gejala sesak napas yang
terjadi pada salah satu atau lebih kondisi: terpapar udara dingin dan/atau debu
dan/atau asap rokok dan/atau stress dan/atau flu atau infeksi dan/atau
kelelahan dan/atau alergi obat dan/atau alergi makanan dengan disertai salah
satu atau lebih gejala: mengi dan/atau sesak napas berkurang atau menghilang
dengan pengobatan dan/atau sesak napas berkurang atau menghilang tanpa
pengobatan dan/atau sesak napas lebih berat dirasakan pada malam hari atau
menjelang pagi dan jika pertama kali merasakan sesak napas saat berumur <40
tahun (usia serangan terbanyak).

2.2.2.5. Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)


PPOK adalah penyakit kronik saluran napas yang ditandai dengan hambatan
aliran udara ke dalam paru-paru. Penyakit ini biasanya irreversible dan bersifat
progresif (berkembang) perlahan. Termasuk didalamnya adalah bronkhitis
kronis dan emfisema Penyakit ini ditandai dengan sesak napas dan batuk
berdahak kronik Faktor risiko PPOK adalah :
Riwayat Merokok
Polusi udara
Infeksi Saluran Napas Bawah berulang

2.2.2.6. Kanker
Kanker atau tumor ganas adalah pertumbuhan sel/jaringan yang tidak
terkendali, terus bertumbuh/bertambah, immortal (tidak dapat mati). Sel
kanker dapat menyusup ke jaringan sekitar dan dapat membentuk anak sebar.
Diagnosis kanker maupun jenis kanker ditegakkan berdasarkan hasil
wawancara terhadap pertanyaan pernah didiagnosis menderita kanker oleh
dokter. prevalensi asma, PPOK, dan kanker di Indonesia masing-masing 4,5
16
persen, 3,7 persen, dan 1,4 per mil. Prevalensi asma tertinggi terdapat di
Sulawesi Tengah (7,8%), diikuti Nusa Tenggara Timur (7,3%), DI Yogyakarta
(6,9%), dan Sulawesi Selatan (6,7%). Prevalensi PPOK tertinggi terdapat di
Nusa Tenggara Timur (10,0%), diikuti Sulawesi Tengah (8,0%), Sulawesi
Barat, dan Sulawesi Selatan masing-masing 6,7 persen. Prevalensi kanker
tertinggi terdapat di DI Yogyakarta (4,1), diikuti Jawa Tengah (2,1),
Bali (2), Bengkulu, dan DKI Jakarta masing-masing 1,9 per mil.

2.2.3. Faktor Risiko PTM


Berbeda dengan penyakit menular yang disebabkan oleh adanya
mikroorganisme seperti bakteri, virus, cacing, jamur dan protozoa yang
menginfeksi manusia, penyakit tidak menular tidak disebebkan oleh
mikroorganisme, akan tetapi disebabkan adanya interaksi antara factor

17
fisiologi, genetik, faktor perilaku dan faktor diluar manusia itu sendiri seperti
social, ekonomi dan kondisi lingkungan disekitarnya. Faktor yang
berkontribusi terhadap munculnya PTM biasa disebut sebagai Faktor Risiko.
Gambar berikut menunjukkan adanya factor risiko bersama dimana
beberapa factor merupakan penyebab dari munculnya beberapa jenis penyakit
baik penyakit yang disebut sebagai penyakit antara yang merupakan tanda dan
gejala awal suatu penyakit (hipertensi, obesitas, dislipidemia, lesi pra kanker
dan bronchitis kronis) sampai terjadinya penyakit itu sendiri (penyakit jantung
koronen dan pembuluh darah/PJK-PD, stroke, Diabetes, Ginjal kronis,
Penyakit Paru Obstruktif Kronis/PPOK dan kanker).

18
BAB III

METODE

3.1. Jenis Mini Project

Jenis mini project yang dilakukan adalah dalam bentuk deskriptif yang dilakukan dengan
tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi secara objektif.

A. Ruang Lingkup Pelaksanaan


1. Lokasi penelitian
Penelitian dilakukan di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pulomerak
Kecamatan Pulomerak
2. Waktu pelaksanaan
Penelitian dilakukan pada periode tahun 2017
B. Jenis dan Sumber Data
1. Jenis Data
Jenis Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang bersifat
kuantitatif. Data kuantitatif merupakan data yang dinyatakan dalam bentuk
angka-angka yang dapat dihitung besarannya. Data kualitatif dalam penelitian
ini adalah hasil laporan kegiatan dan laporan kasus PTM serta data
kepustakaan.
2. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari data
sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari data yang telah
dikumpulkan oleh petugas program Posbindu PTM Puskesmas Pulomerak dan
dari data studi kepustakaan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya.

3.2. Sasaran

Sasaran pelaksanaan ini adalah seluruh masyarakat di wilayah Kerja


Puskesmas Pulomerak Kecamatan Pulomerak yang berusia > 15 tahun. Jumlah
penduduk di kecamatan Pulomerak adalah 54.990 jiwa dengan 8 Posbindu
PTM.

3.3. Metode yang digunakan

3.4.1. dokumentasi

19
Dokumentasi dalam penelitian ini yaitu data kegiatan program posbindu
dan penyuluhan PTM Puskesmas Pulomerak Kecamatan Pulomerak,

3.4.2. observasi

Observasi yang dilakukan pada penelitian ini yaitu, pengamatan mengenai


peran kegiatan Posbindu dalam menekan kejadian kasus kematian maupun kasus
baru PTM baik dari petugas Puskesmas Pulomerak maupun Kader yang terlibat

20
BAB IV
HASIL

4.1. Gambaran Umum


4.1.1. Sejarah Puskesmas Pulomerak
Puskesmas Pulomerak yang beralamat di jalan R.E. Martadinata Km 2 Kecamatan
Pulomerak dengan nomor telepon 0254-571154, didirikan pada tahun 1973. Semula
merupakan wilayah Kabupaten Serang Propinsi Jawa Barat.

Berturut-turut Kepala Puskesmas dijabat oleh :

1. Dr. Ali Sastranegara


2. Dr. Bantuk Hadianto
3. Dr. Faijah Sukri
4. Dr. Budi Purnomo
5. Dr. Sri Lestari
6. Dr. Hana Johan

Berubahnya status Cilegon menjadi Kota berdasar Undang-Undang No.15 tahun 1999
tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Cilegon pada tanggal 27 April 1999
dan terbentuknya Propinsi Banten pada tanggal 17 Oktober tahun 2000 maka Puskesmas
Pulomerak menjadi wilayah Kota Cilegon Propinsi Banten, dengan Kepala Puskesmas
berturut-turut :

7. Drg. Ratih Purnamasari (September 2000 ~ Nopember 2002)


8. Drg. Syah Farida (Nopember 2002 ~ Oktober 2003)
9. Drg. Niniek Harsini, M.Kes (Oktober 2003 ~ Desember 2008)
10. Drg. Sefi Saeful Holiq ( Desember 2008 ~ Mei 2014 )
11. Dr. H. Faisal ( Juni 2015 s/d Sekarang ).

4.1.2. Posisi lokasi Puskesmas DTP Pulomerak

21
Propinsi Banten

Cilegon

Serang Kota Tangerang


Kab
Tangerang

Pandeglang Lebak

Pulau Kepusat-pusat utama


Sumatra lainnya di pulau Sumatera

Bandar Lampung

LAUT JAWA

Kepusat-pusat utama
Cilegon lainnya di pulau Jawa
Jabotabek

KETERANGAN : Anyer

Jalan Raya Pulau Jawa


Angkutan Penyeberangan
Kereta Api

Angkutan Laut Nasional & International


Alur Pelayaran

Posisi strategis Kota Cilegon yang terletak di ujung barat Pulau Jawa, merupakan
satu-satunya jalan darat untuk menuju Jakarta dari Pulau Sumatra dan sebaliknya.
Pelabuhan penyeberangan Merak~Bakauni yang menghubungkan Pulau Jawa dan
Sumatera, berada di wilayah Kecamatan Pulomerak.

Sepanjang jalan menuju Kecamatan Pulomerak adalah daerah industri berat , yang
tentunya berciri khas yaitu urbanisasi dan aktifitas manusia meningkat sehingga
kepadatan penduduk meningkat.

Keadaan diatas menyebabkan tingkat mobilitas manusia dan kendaraan bermotor


sangat tinggi, terutama pada hari besar (Lebaran dan Tahun Baru) dan hari libur. Hal ini
berdampak banyaknya kasus penyakit menular dan kasus gawat darurat yang harus
ditangani dan menjadi perhatian utama Puskesmas Pulomerak.

22
Dilihat dari jarak Kecamatan ke lokasi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Cilegon,
Kecamatan Pulomerak terletak paling jauh dibanding Kecamatan lain. Sehingga
peningkatan status Puskesmas menjadi Puskesmas DTP (Dengan Tempat perawatan)
sangat diperlukan.

Adanya masyarakat di wilayah gunung yang mana akses ke Puskesmas hanya dapat
dijangkau dengan ojek atau jalan kaki, karena jalan menuju gunung yang terjal menanjak
dan masih berbatu-batu, memerlukan pantauan kesehatan secara rutin dari Puskesmas
Pulomerak. Hal ini merupakan tantangan keberanian bagi karyawan Puskesmas
Pulomerak untuk menjalankan tugas Pusling Ojek sesuai dengan visi dan misi Puskesmas.

Posisi Kecamatan Pulomerak yang merupakan jalur arus mudik, merupakan tugas
rutin karyawan Puskesmas Pulomerak untuk tetap bekerja (piket) pada hari Lebaran dan
Natal-Tahun Baru.

4.1.3. Wilayah Kerja


Luas Wilayah :

20,07 Km2 (Bapeda Kota Cilegon)

Batas Wilayah

Sebelah Utara : Kec. Puloampel Kab. Serang


Sebelah Timur : Kec. Bojonegara Kab Serang
Sebelah Selatan : Kec. Grogol Kota Cilegon
Sebelah Barat : Selat Sunda (Propinsi Lampung)
Jumlah Kelurahan

Kecamatan Pulomerak terdiri dari 4 kelurahan 27 RW 124 RT, yaitu:

Kelurahan Suralaya : terdiri dari 5 RW dan 21 RT


Kelurahan Lebakgede : terdiri dari 9 RW dan 43 RT
Kelurahan Tamansari : terdiri dari 6 RW dan 35 RT
Kelurahan Mekarsari : terdiri dari 7 RW dan 30 RT
Wilayah Gunung
Kecamatan Pulomerak memiliki 8 wilayah gunung, yaitu :

23
1. Gunung Cisuru Suralaya
2. Gunung Cipala Lebakgede
3. Gunung Batupayung Lebakgede
4. Gunung Ciporong Mekarsari
5. Gunung Tembulun Mekarsari
6. Gunung Sumurpring Mekarsari
7. Gunung Batur I Mekarsari
8. Gunung Batur II Mekarsari
4.1.4. Tujuan Puskesmas Pulomerak
1. Meningkatkan Mutu Pelayanan
2. Meningkatkan Jangkauan Pelayanan (Utilisasi)
3. Meningkatkan Pengembangan SDM Yang Profesional
4. Meningkatkan Manajemen Puskesmas
5. Meningkatkan Efisiensi
6. Meningkatkan Fungsi Sosial
4.1.5. Visi dan Misi
Nilai-nilai dan Indikator yang disepakati :

1. Pelayanan Prima

Indikator:

- Mengutamakan kepentingan pelanggan dan memberikan pelayanan sesuai


SOP
- Ramah (senyum, sapa, salam)
- Segera/ cepat dalam pelayanan
- Tempat pelayanan bersih
- Alur berobat dan denah ruangan jelas
- Tarif sesuai perda
- Pasien dilayani sesuai nomer urut pendaftaran
- Tersedia alat pelindung diri bagi petugas (masker, sarung tangan, baju lab)
2. Profesional

Indikator:

24
- masing-masing Program mempunyai pencatatan dan
pelaporan yang tepat waktu dengan data yang akurat
- bekerja sesuai SOP
3. Berwawasan

Kedepan Indikator:

- Mempunyai keinginan untuk meningkatkan keahliannya


- Mau menyebarkan ilmu pengetahuan yang dimiliki
kepada orang lain.

Visi :

Menjadi Salah Satu Pusat Pelayanan yang Berkualitas di Kota Cilegon Tahun
2018

Misi :

1. Mengembangkan koptensi yang tersedia sumber daya manusia


2. Memberdayakan Masyarakat untuk hidup sehat
3. Mengembangkan Manajemen Pelayanan Kesehatan
4. Meningkatkan kemudahan Akses masyarakat terhadap Pelayana Kesehatan
5. Komitmen terhadap Pelayanan Puskesmas Ramah Pelanggan.

4.2. SITUASI DERAJAT KESEHATAN


4.2.1. Indikator Pelayanan
Indikator yang digunakan sebagai dasar pelayanan di Puskesmas Pulomerak
(Basic Six dan program tambahan)

PROGRAM POKOK KEGIATAN INDIKATOR

Promosi Kesehatan Promosi hidup bersih dan sehat Perbaikan perilaku masyarakat
menuju perilaku sehat

Kesehatan Bimbingan tehnis Perbaikan lingkungan


Lingkungan
Penyehatan lingkungan

25
Kesehatan Ibu dan ANC K4 dan Linakes
Imunisasi Cakupan Imunisasi
Anak
KB Cakupan MKET
(IUD, Implan, MOW/MOP)

Cakupan non MKET


(suntik, pil, kondom)

Pemberantasan Diare Cakupan penemuan kasus


ISPA Cakupan penemuan kasus
Penyakit Menular
DBD Cakupan penemuan kasus
TB Kesembuhan
Kusta Kesembuhan
Pengobatan Medik dasar Cakupan pelayanan
UGD Jumlah kasus
Laboratorium sederhana Jumlah pemeriksaan
Gizi Distribusi vit A Cakupan vit A
Distribusi Fe Cakupan Fe
PSG % gizi buruk/ gizi kurang
SKDN
% Kadarzi
Promosi gizi

Kualitas Pelayanan Jaga mutu

Kesehatan Provider(internal) Tingkat kepatuhan


Konsumen (external) Tingkat kepuasan

Indikator yang di gunakan sebagai dasar pelayanan di Puskesmas Pulomerak


yaitu Pokok Program Basic six yang meliputi berbagai pokok program kegiatan untuk
menilai hasil cakupan kegiatan atau tingkat keberhasilan pelayanan kesehatan di
Puskesmas baik di luar gedung ataupun dalam gedung dengan di tentukan target
pencapaian setiap program yang masing-masing program mempunyai nilai target yang

26
berbeda adapun nilai target sudah di tentukan, tetapi ada beberapa program yang tidak
ditentukan nilai target cakupan yang harus di capai.

Pokok Program yang mempunyai nilai target cakupan kegiatan yaitu :

1. Pokok Program Kesehatan Ibu dan Anak


K1 Murni target : 100%
K 4 target : 95%
Resti Bumil oleh Nakes : 20%
Resti Bumil oleh Masy : 10%
Persalinan oleh Nakes : 90%
Kunjungan nifas : 90%
Neonatus 1 (0 - 28hr) : 90%
Bayi umur 2 bln : 90%
Bayi umur 4 bln : 90%
Bayi umur 8 bln : 90%
Bayi umur 12 bln : 90%

2. Pokok Program Pemberantasan Penyakit Menular


Imunisasi Bayi meliputi :
BCG : 90%
DPT 1 : 90%
DPT 2 : 90%
DPT 3 : 90%
Polio 1 : 90%
Polio 2 : 90%
Polio 3 : 90%
Polio 4 : 90%
Campak : 90%
Combo 1 : 90%
Combo 2 : 90%
Combo 3 : 90%

TB Paru meliputi :

27
a) Suspec : 90%
b) CDR : 60%
c) Konversi : 80%
d) CR : 85%
3. Pokok Program Gizi
K/S : 90%
D/S : 60%
N/S : 50%
N/D : 50%
FE 1 : 100%
FE 3 : 90%
VIT A biru (6 12 bl) : 90%
VIT A merah (12 -59 bl) : 100%
Pokok Program yang tidak memiliki nilai target yaitu :

1. Promkes
2. Kesling
3. Kespro
4. KB
5. Surveilans
6. Diare/ISPA
7. Kusta
8. Usila
9. Pengobatan
10. Gilut
11. Mata dan Jiwa

4.3. SASARAN KERJA


Jumlah penduduk: 44.366 jiwa (data BKCS)

Sasaran Penduduk Kecamatan Pulomerak

Berdasar estimasi tahun 2014

Hasil Perhitungan BKCS (Dinas Kependudukan Kota Cilegon)

28
No Kelurahan Jumlah 01 ~ 11 1 ~ 5 Bumil Bulin Bufas
Bulan Tahun
Penduduk

1 Suralaya 6.322 120 664 132 136 126

2 Lebakgede 12.405 296 1.303 259 269 247

3 Tamansari 14.078 267 1.478 294 288 281

4 Mekarsari 11.561 220 1.214 242 257 231

Jumlah 44.366 843 4.658 927 950 885

Jumlah penduduk miskin : 14.918 jiwa/ 12.036 KK (DinKeSos,th 2014)

Tingkat kepadatan penduduk : 2.276 jiwa / Km2

Sasaran kegiatan luar gedung

Jumlah TK : 9

Jumlah PAUD : 12

Jumlah SD : 24

Jumlah SMP : 5

Jumlah SMA : 4

Jumlah Posyandu : 57

Jumlah Posbindu : 8

Jumlah Pusling : 1

Jumlah kader posyandu : 271 orang

Jumlah kader posbindu : 24 orang

Jumlah kader TB Paru : 6 orang

Jumlah kamantik : 20 orang

29
4.4. Sarana Kesehatan Pemerintah di Kecamatan Pulomerak
A. Sarana Bangunan
Puskesmas Induk

Terletak di Lingkungan Sukamaju Kelurahan Mekarsari dengan luas areal + 2.000


m2 dengan luas bangunan Puskesmas 450 m2. Untuk Puskesmas Rawat Jalan, dan 250 m2,
untuk Puskesmas Perawatan, Luas area tersebut sudah cukup memadai dengan adanya
pelayanan Kesehatan Tingkat Puskesmas.

Areal UPTD Puskesmas DTP Pulomerak terletak pada jalan Protokol yang
menguhubungkan arus lalu lintas Jawa Sumatera, oleh karena itu di tingkat kat menjadi
Puskesmas Perawatan.

Puskesmas Pembantu Lebakgede

Terletak di Lingkungan Wilulang Kelurahan Lebakgede dengan luas areal 150 m2


dengan luas bangunan 48 m2. Areal Pustu Lebakgede berada di area kuburan dan jauh
dari perkampungan penduduk (lokasi tidak strategis) sehingga jumlah kunjungan pasien
sangat kurang.

Puskesmas Pembantu Suralaya

Terletak di Lingkungan Pringori Kelurahan Suralaya dengan luas areal,


Keberadaan Pustu ini sangat tepat mengingat letak Kelurahan Suralaya paling jauh ke
Puskesmas induk. Lokasi Pustu ini strategis, berada di tengah masyarakat dan dekat
dengan lokasi SMPN X dan SMAN IV

Pos Kesehatan Desa

Terletak di Lingkungan Sabrang Kelurahan Lebak Gede dengan luas areal 100
M,luas bangunan 55 M keberadaan PosKesDes ini sebagai syarat pembentukan desa
siaga di Kelurahan Lebak Gede

B. Sarana Transportasi
Kendaraan roda empat : 3 unit Pusling (ambulans)

Kendaraan roda dua : 8 unit motor dinas

C. Sarana Penunjang Pelayanan Kesehatan

30
Komputer : 5 Unit ( APBD II )
Alat-alat Kesehatan: 1 Unit USG
: 1 Unit EKG
: 1 Unit Nebulizer
: 1 Unit Dopler, dll
4.5. Ketenagaan
Komposisi Karyawan Berdasarkan Jenis Pekerjaan di Puskesmas Pulomerak
Yang Ada Status
No Jenis Ketenagaan Kekurangan Keterangan
Sekarang Kepegawaian
1 Dokter Umum 2 2 PNS
2 Dokter Gigi 2 0 PNS
3 Apoteker 1 1 PNS
4 Perawat Umum 16 4 PNS
5 Perawat Gigi 1 1 PNS
6 Bidan 14/3/2 2 PNS/PTT/THL
7 Rekam Medik 1 2 pns
9 Pekarya 1 0 PNS
10 Administrasi 2/3 0 PNS/THL
11 Analis Kesehatan 1 1 PNS
12 Nutrisionis 2 0 PNS
13 Kesling 2 0 PNS
14 Petugas Kebersihan 4 0 THL
15 Petugas jaga malam 2 0 THL
16 Sopir 1 0 THL
JUMLAH 61 13

4.6. Cakupan Program PTM

4.6.1. Cakupan Wilayah


Puskesmas Pulomerak memiliki 8 Posbindu PTM yang tersebar di 4
Kelurahan. Seperti dilihat pada table 2 di bawah ini.
Tabel 2. Jumlah RT, RW dan Posbindu PTM di wilayah Puskesmas Pulomerak

31
No Kelurahan RT RW Jumlah Posbindu PTM
1. Suralaya 5 21 2
2. Lebak Gede 9 43 2
3. Taman Sari 6 35 2
4. Mekar Sari 7 30 2
Jumlah 27 129 8

4.6.2. Bentuk Kegiatan Program PTM Tahun 2016 2017.


Adapun kegiatan program PTM yang telah dilaksanakan antara lain :
1. Kegiatan pelaksanaan Surveilans FR PTM berbasis Posbindu PTM
2. Penyuluhan Kesehatan (Konseling) di Posbindu PTM
3. Kegiatan Skrining pemeriksaan Laboratorium Sederhana (cek GDS-
Kolesterol)
4. Kegiatan Skrining pemeriksaa IVA di Puskesmas
5. Kegiatan pelaporan E-Monev tahun Posbindu PTM melalui Website Portal
PPTM

4.6.3. Analisa Kasus Baru PTM


Kegiatan penyemangat yang sistematis dan terus menerus terhadap data
dan informasi tentang penyakit tidak menular yang bersumber dari FKTP dan
Posbindu PTM untuk memperluas dan memberikan informasi guna mengarahkan
tindakan. Pencegahan dan pengendalian secara efektif & efisien. Maka upaya
untuk meminimalkan adanya peningkatan kasus baru PTM dengan terus
mengadakan pembinanaan dan penyuluhan memberikan pengetahuan tentang
PTM, faktor risiko, dampak serta pengendalian PTM.

32
Tabel. Rekapitulasi Laporan Kasus Baru (kunjungan pertama dan belum tercatat di
RS/Faskes lainnya).

Pada laporan kasus baru yang terhitung mulai dari Januari tahun 2017 sampai
mei 2017, didapatkan hasil bahwa pada bulan januari ditemukan 4 besar kasus
baru PTM terbanyak adalah KLL ( kecelekaan lalu lintas) darat yaitu sebanyak 60
kasus dan diikuti oleh kasus hiperkolesterolemi, hipertensi dan diabetes mellitus
yang jumlah kasus barunya 21, 18 dan 8 kasus. Pada bulan februari didapatkan
penurunan untuk 4 besar kasus tersebut yaitu 46 kasus untuk KLL, 11 untuk
hiperkolesterolemia, 8 untuk hipertensi dan 5 untuk DM. Untuk bulan maret
didapatkan data 4 terbesar kasus PTM yaitu KLL sebanyak 53 kasus,
hiperkolesrolemia 11 kasus, hipertensi 6 kasus, dan DM 4 kasus. Namun pada
bulan maret ini mulai ditemukan peningkatan penemuan kasus baru obesitas yaitu
sejumlah 5 kasus. Pada bulan april didapatkan hasil penemuan KLL masih dalam
kisaran yang sama yaitu 65 kasus, sedangkan hiperkolesterolemia, hipertensi dan

33
DM mengalami penurunan yaitu masing- masing 6, 6 dan 2 kasus, sedangkan
untuk obesitas ditemukan 6 kasus. Penemuan kasus baru pada bulan april sedikit
berbeda dengan bulan bulan sebelumnya karena dari hasil rekapitulasi laporan
didapatkan bahwa paling tinggi penemuan kasusnya adalah obesitas yaitu
sejumlah 108 diikuti oleh KLL sebanyak 55 kasus, hipertensi dan
hiperkolesterolemia masing masing 4 kasus, sedangkan DM sama sekali tidak ada
kasus baru. Disini dapat dilihat adanya peningkatan angka penemuan kasus
obesitas yang sangat signifikan disbanding bulan bulan sebelumnya.
Kesimpulan yang didapatkan dari data tersebut diatas adalah terjadi
penururunan adanya penemuan kasus baru PTM seperti Hipertensi,
hiperkolesterolemia dan juga DM. Hal ini kemungkinan karena berhasilnya
program pencegahan PTM yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di puskesmas
pulomerak sehingga kasus baru yang ditemukan menjadi lebih sedikit.

4.6.4. Analisa Kematian Kasus PTM


Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti DM, Kanker, Jantung, Gagal
Ginjal Kronis, Hipertensi dan yang lainnya merupakan penyakit yang tidak
diketahui secara pasti mulai terjadinya. Perilaku merokok, konsumsi alkohol dan
diet yang tidak sehat serta kurangnya aktifitas fisik merupakan faktor resiko yang
dapat menyebabkan 80% kematian akibat penyakit tidak menular, maka upaya
peningkatan kesadaran masyarakat untuk hidup sehat dan menerapkan pola
CERDIK dengan cara memberikan edukasi dan konseling serta memberikan
pengetahuan tentang PTM, faktor risiko, dampak dan pengendalian PTM harus
terus dilakukan sehingga kematian karna kasus PTM bisa lebih
ditekan/diminimalisir

34
Tabel. Rekapitulasi Laporan Kasus Angka Kematian pada bulan Januari- Mei
2017.

Dari hasil rekapitulasi laporan kasus angka kematian pada bulan januari
sampai Mei 2017 didapatkan hasil yaitu sebagai berikut, dimana kasus terbanyak
penyebab kematian pada bulan januari adalah Diabetes Melitus sebanyak 3 kasus
dan Hipertensi sebanyak 2 kasus. Pada bulan februari ditemukan kasus kematian
disebabkan oleh penyakit jantung coroner dan gagal ginjal kronik yaitu masing
masing 1 kasus. Pada bulan maret dan april didapatkan hasil yang sama yaitu
kasus meninggal 1 kasus akibat DM dan 1 akibat gagal ginjal kronik. Sedangkan
pada bulan mei 2017, kasus angka kematian didapatkan 2 kauss akibar hipertensi
dan 1 kasus akibat Diabetes mellitus.
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa penyebab kasus angka
kematian dari PTM adalah Diabtes mellitus, hipertensi dan gagal ginjal kronik,
sehingga untuk kedepannya sebaiknya program pencegahan serta penanggulanan
mengenai penyakit tersebut harus lebih ditekankan agar angka kematian dapat
ditekan.

4.6.5 Program Pencegahan Kasus PTM


Salah satu point penting untuk membantu menurunkan angka penemuan
kasus, serta angka kematian akibat penyakit tidak menular adalah pemberian

35
informasi kepada masyrakat secara berkesinambungan sehingga masyrarakat dapat
mengetahui mengenain pengertian, pencegahan bahkan tata laksana mengenai
penyakit tidak menular (PTM) tersebut. Sebenarnya Seperti yang kita ketahui
bahwa Penyakit tidak menular tentu saja seharusnya lebih sederhana dibandingkan
penyakit menular karena penyakit tidak menular apabila mengenai satu orang
ttentu tidak membahayakan orang lain atau orang disekitarnya. Akan tetapi hal ini
justru terkadang disepelekan oleh beberapa orang sehingga justru PTM atau
penyakit tidak menular lebih sering menyebabkan kematian dibandingnya
Penyakit menular. Sebagai contoh penemuan kasus kematian akibat hipertensi,
diabetes mellitus serta penyakit jantung coroner setiap bulannya masih sering
ditemukan.
Sebagai salah satu contoh upaya untuk membantu menurunkan tingkat angka
penumuan kasus ptm dan angka kematian ptm, saya telah melakukan sedikit upaya
kesehatan berupa promosi kesehatan yang dilakukan di dalam gedung yaitu pada
tanggal 10 Mei 2017 di puskesmas pulomerak dengan sasaran yaitu para pasien
yang datang berkunjung ke puskesmas pulomerak. Hal ini ditujukan untuk
pemberian informasi mengenai salah satu penyakit tidak menular yang sangat
berbahaya dan sering menyebabkan kematian yaitu hipertensi. Dengan adanya
penyuluhan informasi mengenai hipertensi baik dari pengertian, penyebab, tata
laksana sampai pencegahan mengenai peyakit tersebut diharapkan dapat
membantu para warga agar lebih waspada dan dapat mengingatkan anggota
keluarga mereka di rumah untuk segera memeriksakan keadaan mereka untuk
sekaligus screening penemuan kasus ptm tersebut.
Selain upaya promosi kesehatan didalam gedung dilakukan juga upaya
pelayanan kesehatan melalui pos bindu yang dilakukan beberapa kali di wilayah
kerja kecamatan pulomerak. Dengan diadakannya kegiatan posbindu ini
diharapkan angka penemuan kasus yang ada dapat segera diberi penanganan
sehingga angka kematian akibat ptm dapat ditekan.

36
Dokumentasi kegiatan penyuluhan :

37
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN
Terjadi penururunan adanya penemuan kasus baru PTM seperti Hipertensi,
hiperkolesterolemia dan juga DM. Hal ini kemungkinan karena berhasilnya
program pencegahan PTM yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di puskesmas
pulomerak sehingga kasus baru yang ditemukan menjadi lebih sedikit.
Masih adanya peningkatan angka penemuan kasus baru obesitas yang sangat
signifikan dibanding bulan bulan sebelumnya.
Adanya partisipasi dan kerjasama yang baik antara lintas program dan lintas
sektor sehingga program PTM tercapai.
Penyebab terbanyak kasus angka kematian dari PTM adalah Diabtes mellitus,
hipertensi dan gagal ginjal kronik, sehingga untuk kedepannya sebaiknya program
pencegahan serta penanggulanan mengenai penyakit tersebut harus lebih
ditekankan agar angka kematian dapat ditekan.

5.2. SARAN

Pelatihan terhadap petugas Puskesmas dan Kader diperlukan guna melengkapi


kegiatan-kegiatan di Posbindu seperti Senam, konseling / penyuluhan dan
surveilans factor risiko PTM
Dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan yaitu lintas program dan
sektor,sehingga program PTM bisa mencapai target.
Monitoring dan evaluasi kegiatan secara rutin dan terencana, terutama terhadap
penemuan kasus obesitas yang sangat signifikan pada bulan mei, diharapkan
program pemberian informasi mengenai pengertian, pencegahan dan tata laksana
mengenai Obesitas dapat ditambahkan pada salah satu program PTM sehingga
untuk bulan bulan berikutnya dapat terjadi penemuan angka kasus baru.

38
DAFTAR PUSTAKA

1. Kemenkes RI. 2012. Petunjuk Teknis Pos Pembinaan Terpadu Penyakit


Tidak Menular (Posbindu PTM). Jakarta : Kemenkes RI

2. Balitbang Kemenkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar; RISKESDAS.


Jakarta: Balitbang Kemenkes RI

3. Kemenkes RI. 2012. Buku pintar kader penyelenggaraan POSBINDU


PTM (seri 1). Jakarta : Kemenkes RI

4. Kemenkes RI. 2012. Buletin jendela data dan informasi Penyakit Tidak
Menular. Jakarta : Kemenkes RI

39