Anda di halaman 1dari 2

Perkiraan Saat Kematian

Selain perubahan pada mayat tersebut diatas, beberapa perubahan lain dapat digunakan untuk
memperkirakan saat mati.

1. Perubahan pada mata. Bila mata terbuka pada atmosfer yang kering, sklera di kiri-kanan
kornea akan berwarna kecoklatan dalam beberapa jam berbentuk segitiga dengan dasar di
tepi kornea (taches noires sclerotiques).
Kekeruhan kornea terjadi lapis demi lapis. Kekeruhan yang terjadi pada lapis terluar dapat
dihilangkan dengan meneteskan air, tetapi kekeruhan yang telah mencapai lapisan lebih
dalam tidak dapat dihilangkan dengan tetesan air. Kekeruahan yang menetap ini terjadi
sejak kira-kira 6 jam pasca mati.
Baik dalam keadaan mata tertutup maupun terbuka, kornea menjadi keruh kira-kira 10-12
jam pasca mati dan dalam beberapa jam saja fundus tidak tampak jelas. Setelah kematian
tekanan bola mata menurun, memungkinkan distorsi pupil pada penekanan bola mata.
Tidak ada hubungan antara diameter pupil dengan lamanya mati.
Perubahan pada retina dapat menunjukkan saat kematian hingga 15 jam pasca mati. Hingga
30 menit pasca mati tampak kekeruhan macula dan mulai memucatnya diskus optikus.
Kemudian hingga 1 jam pasca mati, makula lebih pucat dan tepinya tidak tajam lagi.
Selama 2 jam pertama pasca mati, retina pucat dan daerah sekitar diskus menjadi kuning.
Warna kuning juga tampak disekitar macula yang menjadi lebih gelap. Pada saat itu pola
vaskular koroid yang tampak sebagai bercak-bercak dengan latar belakang merah dengan
pola segmentasi yang jelas, tetapi pada kira-kira 3 jam pasca mati menjadi kabur dan setelah
5 jam menjadi homogeny dan lebih pucat.
Pada kira-kira 6 jam pasca mati, batas diskus kabur dan hanya pembuluh-pembuluh besar
yang mengalami segmentasi yang dapat dilihat dengan latar belakang kuning-kelabu.
Dalam waktu 7-10 jam pasca mati akan mencapai tepi retina dan batas diskus akan sangat
kabur. Pada 12 jam pasca mati diskus hanya dapat dikenali dengan adanya konvergensi
beberapa segmen pembuluh darah yang tersisa. Pada 15 jam pasca mati tidak ditemukan
lagi gambaran pembuluh darah retina dan diskus, hanya macula saja yang tampak berwarna
coklat gelap.
2. Perubahan dalam lambung. Kecepatan pengosongan lambung sangat bervariasi, sehingga
tidak dapat digunakan untuk memberikan petunjuk pasti waktu antara makan terakhir dan
saat mati. Namun keadaan lambung dan isinya mungkin membantu dalam membuat
keputusan. Ditemukannya makanan tertentu (pisang, kulit tomat, biji-bijian) dalam isi
lambung dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa kornban sebelum meninggal telah
makan makanan tersebut.
3. Perubahan rambut. Dengan mengingat bahwa kecepatan tumbuh rambut rata-rata
0.4mm/hari, panjang rambut kumis dan jenggot dapat dipergunakan untuk memperkirakan
saat kematian. Cara ini hanya dapat digunakan bagi pria yang mempunyai kebiasaan
mencukur kumis atau jenggotnya dan diketahui saat terakhir ia mencukur.
4. Pertumbuhan kuku. Sejalan dengan hal rambut tersebut diatas, pertumbuhan kuku yang
diperkirakan sekitar 0.1mm/hari dapat digunakan untuk memperkirakan saat kematian bila
dapat diketahui saat terakhir yang bersangkutan memotong kuku.
5. Perubahan dalam cairan serebrospinal. Kadar nitrogen asam amino kurang dari 14 mg%
menunjukkan kematian belum lewat 10 jam, kadar nitrogen non-protein kurang dari 80
mg% menunjukkan kematian belum 24 jam, kadar kreatin kurang dari 5 mg% dan 10 mg%
masing-masing menunjukkan kematian belum mencapai 10 jam dan 30 jam.
6. Dalam cairan vitreus terjadi peningkatan kadar Kalium yang cukup akurat untuk
memperkirakan saat kematian antara 24 hingga 100 jam pasca mati.
7. Kadar semua komponen darah berubah setelah kematian, sehinnga analisis darah pasca
mati tidak memberikan gambaran konsentrasi zat-zat tersebut semasa hidupnya. Perubahan
tersebut diakibatkan oleh aktivitas enzim dan bakteri serta gangguan permeabilitas dari sel
yang telah mati. Selain itu gangguan fungsi tubuh selama proses kematian dapat
menimbulkan perubahan dalam darah bahkan sebelum kematian itu terjadi. Hingga saat ini
belum ditemukan perubahan dalam dalam yang dapat digunakan untuk memperkirakan saat
mati dengan lebih cepat.
8. Reaksi supravital, yaitu reaksi jaringan tubuh sesaat pasca mati klinis yang masih sama
seperti reaksi jaringan tubuh pada seseorang yang hidup.

Beberapa uji dapat dilakukan terhadap mayat yang masih egar, misalnya rangsang listrik masih
dapat menimbulkan kontraksi otot mayat hingga 90-120 menit pasca mati dan mengakibatkan
sekresi kelenjar keringant sampai 60-90 menit pasca mati, sedangkan trauma masih dapat
menimbulkan perdarahan bawah kulit sampai 1 jam pasca mati.