Anda di halaman 1dari 18

TUTORIAL

FISIOLOGI REPRODUKSI WANITA

Pembimbing :
dr. Andi Handi A, Sp.OG

Disusun Oleh :
Fathie Yaqhan (2013730115)
Sabrina Qurotaayun (2013730173)
Syalara Fatharani (2013730108)
Nurul Dwi Hudatullah (2013730080)

SMF ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


KEPANITERAAN KLINIK RSUD CIANJUR
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
PROGRAM STUDI KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2017

1
BAB I
PENDAHULUAN

Kesehatan reproduksi wanita adalah keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial
yang utuh serta bukan hanya bebas dari penyakit atau kelemahan, yang berhubungan
dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi. Kesehatan reproduksi wanita dimulai sejak
konsepsi, menjadi bayi, balita, anak prasekolah, usia sekolah, remaja, usia subur, hingga
menjadi ibu, kemudian menjadi lansia, yang masing-masing mempunyai kekhususan
(Noorkasiani,2009)
Sistem hormonal pada wanita sangat unik dikarenakan adanya perubahan siklus
selama kehamilan, menstruasi dan menopause (Wharton & Church 1990). Kehamilan
tidak hanya menyebabkan perubahan fisiologis pada metabolisme, hormon, sistem saraf
otonom tapi juga mempengaruhi tekanan emosional.
Siklus menstruasi sebagai suatu periode berlangsungnya perubahan fisiologi pada
wanita. Menstruasi terjadi dalam rentang waktu antara fase perdarahan menstruasi yang
satu dengan fase perdarahan menstruasi berikutnya. Pertumbuhan organ reproduksi
mengalami banyak perubahan pada masa pubertas. Banyaknya perubahan berkaitan
dengan peristiwa haid yang dialami oleh para remaja yaitu dengan adanya unsur
perkembangan fisik, pertumbuhan tinggi badan dan berat badan, perkembangan
intelektual, seksual, dan emosional (Proverawati A, 2009).
Siklus menstruasi dipengaruhi oleh serangkaian hormon yang diperoleh oleh tubuh
yaitu Leuteinizing Hormon, Follicle Stimulating Hormon dan Estrogen. Selain itu siklus
juga dipengaruhi oleh kondisi psikis sehingga bisa maju dan mundur Wiknjosastro,
(2005).

2
BAB II
FISIOLOGI ALAT REPRODUKSI

Hormon

Hormon adalah substansi yang dihasilkan oleh jaringan khusus dan dilepaskan
dari pembuluh darah menuju ke sel-sel tempat hormon tersebut memberikan efeknya
yang khas. Setiap sel mengandung gen yang dibutuhkan untuk ekspresi hormon. Hormon
menyediakan saran komunikasi, baik komunikasi lokal atau seluler maupun komunikasi
jarak jauh melalui peredaran darah.

Bentuk komunikasi seluler yang dikenal adalah sebagai berikut.

Komunikasi parakrin, yaiitu komunikasi interseluler yang meliputi difusi lokal


substansi regulator dari sel ke sel sekitarnya.
Komunikasi autokrin, yaitu komunikasi intraseluler berupa kegiatan suatu sel
memproduksi substansi regulator yang selanjutnya memengaruhi reseptor pada
atau di dalam sel itu sendiri.
Komunikasi intrakrin, yaitu komunikasi intraselulekelenjar dan organ tubuh
berupa terikatnya substansi yang tidak disekresikan pada reseptor intraselular.

Kelenjar penghasil hormon atau kelenjar endokrin disebut juga sebagai kelenjar
buntu karena sekresinya dikeluarkan melalui lairan darah dan limpa sehingga tidak
mempunyai saluran tersendiri. Kelenjar dan organ tubuh penghasil hormon adalah
hipotalamus, hoipofisis, tiroid, paratiroid, pankreas, kelenjar suprarenal, timus, kelenjar
seks-yaitu testis pada laki-laki dan ovarium pada perempuan plasenta pada perempuan
hamil, ginjal, dan saluran cerna.

Mekanisme kerja hormon

Mekanisme kerja hormon diawali dengan interaksi hormon tersebut dengan


makromolekul-makromolekul spesifik yang disebut resptor hormon dalam sel jaringan.
Reseptor ini dapat berada di permukaan sel atau di dalam sitoplasma.

Reseptor hormon berfungsi untuk mengenal hormon yang diperlukan oleh sel.
Kemudian, hormon dan reseptor tersebut membentuk suatu kompleks hormon reseptor.

3
Kompleks tersebut akan mengaktifkan sel yang bersangkutan sehingga dapat
menggunakan hormon tersebut untuk aksi-aksi biokimia di dalam sel.

Dalam pengatur organ target, terdapat dua mekanisme umum fungsi hormon.

1. Pengaktifan sistem AMP (adenosin monofosfat) yang kan menimbulkan fungsi


pada permukaan sel sasaran dan berikatan dengan reseptor spesifik.
2. Pengaktifan gen sel-sel sehingga menyebabkan sintesis protein dan pembentukan
protein intraselular yang bekerja di dalam sitoplasma sel sasaran dan berikatan
dengan resptor spesifik.

Kaitan hormon dan fungsi fisiologi alat reproduksi perempuan

Fungsi fisiologi alat reproduksi perempuan mengikuti suatu sistem


ketergantungan yang majemuk antara susunan saraf pusat, kelenjar hipofisis, ovarium,
serta alat-alat reproduksi terkait seperti uterus dan adneksa. Di dalam sistem ini, peran
utama dipegang oleh poros yang dikenal sebagai poros hipotalamus, hipofisis, ovarium
atau dikenal juga sebagai sumbu HPO (hypothalamus pituitaria ovarium).

Sekresi hormon pelepas diatur oleh neurotransmiter dan neuropeptida. Selain itu,
juga terdapat mekanisme umpan balik menuju hipotalamus, berupa umpan balik panjang
dari hormon ovarium, umpan balik pendek dari hormon hipofisis, serta umpan balik
sangat pendek dari hormon hipofisis itu sendiri.

Hipotalamus

Hipotalamus terletak di dasar otak, di belakang chiasma opticum. Vaskularisasi


hipotalamus berasalah dari arteri carotis interna yang membentuk plexus capillaris.
Hipotalamus mengeluarkan hormon penstimulasi (perangsang) dan
penginhibisi(penghambat).

Hormon hormon penstimulasi meliputi :


TRH (Thyrotropin Releasing Hormone)
GNRH (Growth Hormone Releasing Hormone)
CRH (Corticotropin Releasing Hormone )
GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone)

4
Hormon penginhibisi meliputi :
Somatostatin (Growth Hormone Inhibiting Hormone)
PIF (Prolactin Inhibiting Hormone)

GnRH disintesis di dalam nucleus arcuatus yang terletak pada basal hipotalamus
(eminantia mediana). Kemudain GnRH dibawa oleh sirkulasi portal menuju hipofisis
anterior di bawah pengaruh berbagai zat penghantar saraf seperti dopamin, norepinefrin,
dan epinefrin. Norepinefrin merangsang pengeluaran GnRH, sedangkan dopamin dan
opiat (endorfin) akan menghambat pengeluarannya. Hormon pelepas tersebut berhasil
mencapai sel-sel menghasilkan gonadotropin dan melalui lintasan yang sangat pendek
merangsang sintesis dan sekresi Luteinizing Hormone (LH) dan Folicle Stimulating
Hormone (FSH).

Terdapat dua kawasan inti yang bertanggung jawab terhadap pengeluaran GnRH
selama fase folikuler dan fase luteal, sedangkan pusat siklik mengatur jumlah dan jarak
waktu pengeluaran GnRH secara berkala. Pengeluaran GnRH ini terjadi secara pulsatif
dengan waktu paruh yang sangat singkat (3 menit). Pengeluaran gonadotropin tidak
terjadi sekaligus. Banyaknya pengeluaran LH & FSH ditentukan terutama oleh
kekerapan impuls GnRH serta oleh kadar estrogen.

Hipofisis

Hipofisis terletak pada sella turcica, di bawah hipotalamus pada dasar tengkorak.

Kelenjar ini terdiri dari :

Hipofisis anterior atau adenohipofisis


Hipofisis posterior atau neurohipofisis
Pars intermedia yang menghasilkan Melanocyte Stimulating Hormone (MSH)

Sel-sel pada hipofisis anterior terdiri dari :

Sel kromatofilik, yaitu :


Sel asidofil, menghasilkan Growth Hormone (GH) dan prolaktin
Sel basofil, menghasilkan TSH, FSH, dan LH (jika TRH di hipotalamus)
Sel kromatofob, menghasilkan Adenocorticotropin Hormone (ACTH)
Oksitosin
Arginin dan vasopresin

5
Dalam perjalanan suatu siklus, kesanggupan hipofisis anterior untuk bereaksi
terhadap Luteinizing hormone releasing hormone (LH-RH) senantiasa berubah-
ubahn. Paling lemah semasa fase folikuler dan paling kuat selama fase ovulasi.
Perbedaan ini diduga terjadi akibat reaksi hipofisis yang bergantung kepada
konsentrasi estrogen dalam serum.

Pengeluaran FSH dan LH dipengaruhi oleh GnRH yang dikeluarkan oleh


hipotalamus secara pulsatif. FSH dan LH ini akan mempengaruhi folikel primordial
ovarium sehingga berkembang menjadi folikel matang dan menghasilkan hormon
esterogen dan progesterone. Kemampuan hipofisis anterior untuk bereaksi terhadap
GnRH tidak selalu tetap, melainkan bergantung kepada konsentrasi esterogen dan
progesterone dalam serum. Respon ini dijumpai paling lemah selama fase folikuler dan
paling kuat selama fase ovulasi.

Ovarium

Ovarium mengandung banyak folikel yang berisikan oosit. Tiap folikel dilapisi
sel teka dan sel granulosa, yang mengandung reseptor gonadotropin serta dapat
memberikan jawaban terhadap rangsangan dari hipofisis.

Sel teka bereaksi terhadap rangsangan LH serta sintesis androgen, terutama


dehidroepiandrosteron (DHEA) dan androstenedion. Selain itu, sel juga menghasilkan
sedikit progesteron dan testosteron. Sel granulosa pada awalnya bereaksi terhadap
rangsangan FSH serta merubah androgen menjadi estrogen melalui proses aromatisasi.
Selain itu, sel ini juga mampu mengadakan sintesis progesteron pada fase luteal daur
haid. Setelah ovulasi, peranan ini diambil oleh folikel dominan yang menghasilkan
progesteron dan estrogen. Selain hormon steroid, ovarium juga menghasilkan
interleukin, inhibin, aktivin, folistatin, dan faktor pertumbuhan.

Biosintesis hormon steroid


Kolesterol adalah bahan dasar utama dalam steroidogenesis. Semua steroid
kecuali yang berasal dari plasenta dapat disintesis dari kolesterol. Ovarium memproduksi
3 kelas steroid; estrogen, progestin dan androgen. Steroidogenesis folikuler di ovarium
merupakan sistem 2 sel. Hal ini menjelaskan tentang adanya tempat spesifik produksi
steroid dan reseptor hormon di ovarium. Progestin asetat, androgen, dan estrogen dapat

6
disintesis in situ pada jaringan ovarium dari 2 atom karbon asetat dengan kolesterol
sebagai prekursor steroid utamanya.
Semua hormon steroid pada dasarnya mempunyai struktur yang sama. Perbedaan
biasanya terdapat pada unsur kimia minornya. Struktur dasarnya adalah molekul
perhidrosiklopentanefenentren, yang terbentuk dari tiga unsur 6 atom karbon dan satu
unsur 5 atom karbon. Cincin pertama adalah benzena, cincin kedua adalah naftolen dan
cincin ketiga adalah fenantren ditambah satu siklopentana.
Hormon seks steroid dibagi menjadi 3 kelompok utama, yaitu:
Kelompok 21-atom karbon, meliputi kortikoid dan progestin, dengan struktur dasar
berupa nukleus pregnan.
Kelompok 19-atom karbon, meliputi seluruh androgen,dengan struktur dasar berupa
nukleus androstan.
Kelompok 18-atom karbon, meliputi seluruh esterogen, dengan struktur dasar berupa
nukleus estran.
Tabel Faal Hormon Reproduksi
Esterogen
1. Berperan dalam tumbuh kembang jaringan yang berasal dari saluran Muller,
seperti tuba fallopi, endometrium, miometrium, serviks, vagina, dan uterus.
2. Berperan dalam diferensiasi seks serta perkembangan seks sekunder.
3. Untuk perkembangan payudara.
4. Berperan terhadap hormone FSH dan LH.
5. Berperan pada pertumbuhan folikel dan ovarium.
6. Berperan dalam penutupan lempeng epifisis serta pertumbuhan tulang.
7. Menurunkan plasma kolesterol.
8. Menghambat aterogenesis.
9. Menambah sekresi kelenjar sebasea.
10. Menyebabkan retensi air dan garam.
Progesteron
1. Mengubah fase proliferasi endometrium menjadi fase sekresi.
2. Menghambat kontraksi otot polos.
3. Merangsang pengeluaran Natrium (natriuresis)
4. Merangsang saluran pernafasan.
5. Memepertahankan kehamilan.

7
6. Mengentalkan lendir serviks.
7. Merangsang pertumbuhan asini dan lobuli payudara.
8. Menghambat sekresi prolaktin.
9. Diduga menekan sekresi LH.
10. Meningkatkan suhu basal badan.
11. Dampak anabolik tidak nyata.
Relaksin
1. Menyebabkan relaksasi otot-otot dan tendon di daerah symphysis [ubis dan
panggul.
2. Melembekkan dan membuka serviks pada kehamilan.
Hormon hipofisis
Pars anterior hipofisis menghasilkan enam jenis hormon, yaitu :
Adrenocorticotropic (ACTH)
Growth Hormone
Thyrotropic Hormone (TSH)
Follicle Stimulating Hormone (FSH)
Lutenizing Hormone (LH)
Prolaktin
Pars posterior menghasilkan :
Oksitosin
Arginin dan vasopressin
Follicle Stimulating Hormone (FSH)
1. Untuk pertumbuhan dan perkembangan folikel, antrum serta menambahbesar
(berat) ovarium.
2. Sangat penting dalam produksi esterogen dan perubahan ovarium.
Lutenizing Hormone (LH)
Disebut juga Interstitial cell-stimulating hormone
1. Mempertahankan korpus luteum
2. Berperan pada proses ovulasi
Prolaktin
1. Berperan dalam proses laktasi
2. Diduga berperan dalam metabolism garam, air, lemak, dan glukosa.

8
Fisiologi ovulasi
Pada fase folikuler, terjadi tahap-tahap persiapan sejumlah folikel untuk ovulasi.
Pada ovarium manusia, proses ini berlangsung selama 10-14 hari. Hasil akhir dari
perkembangan folikel ini adalah satu folikel matang. Aktivitas sejumlah hormon secara
berurutan pada folikel, akan mengubah folikel yang dipersiapkan untuk ovulasi tersebut.
Dimulai dari perubahan folikel primordial menjadi folikel pra antral, menjadi folikel
antral dan selanjutnya menjadi folikel pra-ovulatoar. Folikel primordial terdiri dari
sebuah oosit yang dikelilingi oleh selapis sel granulosa. Oosit tersebut berada pada
stadium diploten dari fase profase pembelahan meiosis. Pertumbuhan folikel ini tidak
dipengaruhi oleh kehamilan, ovulasi atau periode anovulasi.
Mekanisme untuk menentukan folikel yang mana, jumlah folikel yang akan
berkembang tidak diketahui. Kemungkinan hal ini dipengaruhi kecocokan antara
kesiapan folikel berkembang dengan stimulasi hormone gonadotropin. Folikel pertama
yang berespons terhadap stimuli akan memimpin pertumbuhan. Tanda pertama dari
folikel yang terpilih untuk berkembang adalah perubahan sel granulosa yang semula
gepeng menjadi kuboid. Kebanyakan perkembangan ini terbatas dan berakhir dengan
atresia. Akan tetapi, dengan adanya hormon-hormon tertentu, terutama FSH,
pertumbuhan folikel ini dapat berlanjut.

Folikel pra-antral
Perkembangan folikel menjadi folikel pra-antral adalah ketika oosit membesar
dan dikelilingi oleh suatu membran, yaitu zona pelusida. Sel granulosa berproliferasi
menjadi beberapa lapisan. Lapisan teka mulai terbentuk dari stroma di sekelilingnya.
Pertumbuhan ini bergantung kepada gonadotropin dan menyebabkan bertambahnya
produksi estrogen.
Sel granulosa pada folikel pra-antral menyintesis 3 macam hormon, estrogen,
androgen, dan progestin. Di bawah pengaruh FSH, terjadi aromatisasi androgen menjadi
estrogen sehingga terjadi lingkungan yang estrogenik. Produksi estrogen terbatas sesuai
dengan jumlah reseptor FSH. Pemberian FSH akan menambah jumlah reseptor FSH
sendiri pada sel granulosa. Reseptor FSH terdapat pada membran sel granulosa segera
setelah perkembangan folikel dan bertambah hingga mencapai 1.500 reseptor pada tiap
sel granulosa. FSH dan estrogen bekerja sinergis untuk menghasilkan efek mitogenik sel

9
granulosa dan reseptor FSH itu sendiri. Estrogen memungkinkan folikel untuk berespons
terhadap FSH yang konsentrasinya rendah.

Folikel antral
Dibawah pengaruh sinergis FSH dan estrogen, peningkatan produksi cairan
folikel berakumulasi di ruang interstisial sel granulosa. Cairan folikuler ini membuat
oosit dan sel granulosa dapat terpelihara dalam lingkungan endokrin yang spesifik untuk
tiap folikel. Dengan adanya FSH, esterogen berkembang menjadi substansi dominan
dalam cairan folikel. LH biasanya tidak terdapat di cairan folikel hingga pertengahan
siklus. Folikel antral yang mempunyai derajat proliferasi sel granulosa tertinggi akan
mengandung kadar estrogen tertinggi pula dan kadar androgen terendah.

Seleksi Folikel Dominan


Estrogen menyebabkan umpan balik negatif terhadap FSH pada tingkat
hipotalamus-hipofisis sehingga mengurangi jumlah gonadotropin yang berfungsi
mendukung pertumbuhan folikel lainnya yang kurang berkembang. Pengurangan FSH
menyebabkan pengurangan aromatisasi, yang selanjutnya akan mengurangi produksi
estrogen pada folikel yang kurang berkembang tersebut. Pengurangan FSH ini juga akan
mengganggu proliferasi dan fungsi sel granulosa dan menyebabkan perubahan
lingkungan menjadi androgenik,sehingga folikel mengalami atresia.
Folikel yang dominan dapat terlihat pada hari ke 5 siklus, sesuai dengan waktu
terjadinya penurunan fase mid-folikuler berupa penambahan diameter folikel tersebut.
Umpan balik negatif estrogen terhadap FSH mengakibatkan hambatan pertumbuhan
semua folikel kecuali folikel dominan. Folikel dominan mempunyai reseptor FSH yang
lebih banyak sehingga mendukung aktivitas FSH. Banyaknya reseptor FSH tadi
disebabkan kadar estrogen intrafolikuler yang tinggi. Oleh karena itu, stimulus untuk
aromatisasi, yaituadanya FSH dapat dipertahankan. Agar dapat berespons terhadap
gelombang ovulasi menjadi korpus luteum, sel granulosa harus memiliki reseptor LH.
FSH perkembangan reseptor LH pada sel granulosa folikel antral.

Folikel Pra Ovulasi


Sel-sel granulosa pada fase pra-ovulasi membesar dan memproduksi estrogen
lebih banyak. Keadaan ini mencapai puncaknya antara 24-36 jam menjelang ovulasi.

10
Melalui reseptornya sendiri, LH meningkatkan luteinisasi granulosa dan folikel yang
dominan sehingga menghasilkan progesteron. Progesteron menyebabkan umpan balik
positif terhadap estrogen, baik dalam waktu maupun dosis Adanya kadar estradiol di
bawah ambang menginduksi peningkatan kadar LH. Androgen yang terdapat di ovarium
mempercepat kematian sel granulosa dan atresia folikel. Mekanisme spesifik untuk aksi
ini belum jelas. Namun, terdapat dugaan bahwa hal ini disebabkan adanya hubungan
antara estrogen dengan peran pentingnya dalam memungkinkan terjadinya aktivitas FSH.

Ovulasi
Folikel pra-ovulasi, dengan perantaraan estradiol, mempunyai rangsangan
ovulasinya sendiri. Meskipun pada perempuan yang sama waktu terjadinya ovulasi dapat
beragam. Ovulasi tepatnya terjadi antara 10-12 jam setelah puncak LH hingga 24-38 jam
setelah kadar puncak estradiol tercapai. Adanya lonjakan LH merupakan indikator yang
paling penting terjadinya ovulasi, Lonjakan terjadi 34-38 jam setelah rupturnya folikel.
Lonjakan LH menyebabkan selesainya proses meiosis dalam oosit, luteinisasi sel
granulosa serta sintesis prostaglandin yang berguna untuk pecahnya folikel prematur dan
luteinisasi yang dibantu oleh faktor lokal. Peningkatan progesteron secara progresif
menyebabkan berakhirnya lonjakan LH (efek umpan balik negatif dari konsentrasi
progesteron yang tinggi). Progesteron juga meningkatkan daya regang dinding folikel.
Perubahan daya elastis folikel ini menyebabkan peningkatan volume cairan folikel secara
cepat yang terjadi hanya menjelang ovulasi. LH dan/atau progesterone memungkinkan
terjadinya aktivitas enzim proteolitik, sehingga menyebabkan penghancuran kolagen
dalam dinding folikel dan meningkatkan daya regangnya. Enzim proteolitik seperti
kolagenase tadi terdapat dalam cairan folikel.
Teori lain menyatakan bahwa lonjakan gonadotropin juga menyebabkan
pelepasan histamin. Histamin sendiri dapat menginduksi ovulasi. Sel granulosa dan sel
teka memproduksi aktivator plasminogen sebagai respons terhadap lonjakan
gonadotropin. Peningkatan aktivator plasminogen merupakan penyebab peningkatan
plasminintrafolikuler, yang selanjutnya menyebabkan aktivitas kolagenase dengan akibat
degradasi jaringan.

Prostaglandin E dan F meningkat dalam cairan folikel selama fase praovulasi dan
mencapai kadar puncak saat ovulasi. Penghambatan sintesis prostaglandin akan
menghambat terjadinya ruptur folikel, tetapi tidak memengaruhi proses luteinisasi.

11
Mekanisme terjadinya ruptur folikel oleh prostaglandin sendiri belum diketahui, diduga
karena menyebabkan kerja enzim lisosomal bebas yang menghancurkan dinding folikel.
Sebaiknya, pasienpasien infertil dianjurkan untuk menghindari penggunaan obat yang
menghambat sintesis prostaglandin.

Plasminogen aktivator diperlukan untuk plasminogen menjadi plasmin, yaitu


suatu enzim proteoliktik yang berperan dalam pecahnya dinding folikel. Enzim ini lebih
sensitif terhadap FSH dibandingkan terhadap LH.

Fisiologi Haid

Proses haid merupakan masalah yang kompleks. Proses ini tidak hanya didasari
oleh perubahan endometrium serta stroma uterus, tetapi juga melibatkan fungsi-fungsi
jaringan reproduksi lainnya, yang melibatkan interaksi hormon-hormon. Interaksi
tersebut serta dampaknya pada jaringan reproduksi dipengaruhi oleh rangsangan pulsatil
dari hipotalamus serta adanya mekanisme umpan balik. Pada proses haid yang umum,
yaitu 28 hari dalam satu daur, terjadi perubahan-perubahan interaksi berbagai hormon
sebagai berikut.

Fase folikuler awal

Sebelum terjadi perdarahan haid, kadar estrogen progesteron, dan inhibin sangat
rendah. Kadar rendah ini akan merangsang pusat impuls GnRH di hipotalamus, yang
berdampak pada peningkatan hormon FSH. Peningkatan FSH akan berpengaruh pada
pertumbuhan folikel dengan cara dihasilkan estrogen.

Perkembangan folikel juga akan menyebabkan dihasilkannya hormon oleh sel


granulosa, yaitu LH, prolaktin, prostaglandin, serta inhibin. Hormon inhibin diduga dapat
menekan FSH sehingga terjadi perubahan ratio LH/FSH; hormon FSH menurun,
sedangkan LH naik pada 5 hari pertama daur haid.

Fase folikuler tengah

Fase ini ditandai oleh sekresi folikuler dominan dan peranan folikel dominan
yang penuh dengan reseptor FSH dan mampu memproduksi estrogen. Pada hari ke-9,
vaskularisasi folikel sangat bertambah sehingga produksi FSH, LH dan LDL (lipoprotein

12
densitas rendah), prolaktin, serta reseptor prostaglandin juga semakin bertambah.
Peningkatan estrogen dan inhibin memiliki dampak umpan balik negatif terhadap FSH,
sehingga FSH menurun.

Fase folikuler akhir

Pada fase ini terjadi lonjakan gonadotropin dan ovulasi. Fase ini ditandai dengan
adanya umpan balik estrogen terhadap gonadotropin, terjadinya lonjakan LH dan FSH,
pematangan oosit, serta pembentukan korpus lateum.

Pada fase praovulasi, estradiol meningkat, demikian juga FSH dan LH selain itu,
progesteron dan 17 hidroksiprogesteron juga bertambah. Biasanya terjadi 2-3 hari
menjelang lonjakan tengah daur. Lonjakan Lh yang berlangsung rata-rata 48 jam tidak
hanya merangsang keluarnya ovarium, tetapi juga mampu kadar progesteron dan
prostaglandin. Ovulasi terjadi 36-40 jam setelah dimulainya lonjakan LH.

Fase luteal awal

Pasca ovulasi, terjadi fase luteal yang ditandai oleh peninggian kadar LH. Dalam
3 hari pasca-ovulasi, mulai terbentuk korpus luteum yang dapat menghasilkan relaksin,

13
oksitosin dan progesteron. Kadar progesteron sejak 24 jam sebelum ovulasi
dipertahankan untuk 11-14 hari kemudian. Kadar progesteron maksimal dicapai pada
hari ke 3-4 pasca-ovulasi. Fase luteal umumnya berlangsung sekitar 14 hari, denagan
variasi antara 11-17 hari. Progesteron menekan pertumbuhan folikel baru, disamping
penekanan dari hormon inhibin dan esterogen.

Fase luteal akhir

Pra haid, setelah hari ke 4-5 dari pertumbuhan korpus luteum, terjadi penurunan
kadar progesteron, estradiol, dan inhibin. Penurunan ini akan merubah kadar LH melalui
mekanisme umpan balik negatif, dan meningkatkan kembali FSH, untuk mengawali
pembentukan folikel baru.

Perubahan Endometrium

Fase haid

Kadar hormon, terumata estrogen dan progesteron yang rendah, akan


menyebabkan perubahan endometerium yang ditandai dengan adanya perdarahan awal.
Selama 4-24 jam sebelum haid, adanya vasokontriksi ateri pada endometrium
menimbulkan iskemia dan nekrosis endometrium. Pada Keadaan ini terjadi penyusutan
akibat vasospasme. Vasospasme itu sendiri kemungkinan disebabkan adanya rangsangan
prostaglandin F-2 serta dikeluarkannya enzim lisosomalitik. Relaksasi arteri spiralis
setelah iskemik ini menyebabkan endometrium terlepas dari lapisan dasar, yang disusul
dengan pelepasan sel dan bagian-bagian pembuluh darah. Keadaan ini terjadi selama 4-6
hari dengan jumlah darah umumnya antara 25-60 cc.

Meskipun haid masih tetap berlangsung, regenerasi endometrium umumnya


sudah dimulai kembali sejak hari kedua dari awal haid. Proses ini berlangsung sampai
hari ke-5 atau hari k-6, dan terjadi reepitelisasi lapisan spongiosum yang umumnya
dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pertumbuhan epidermis, fibroblast, serta
angiogenik.

14
Gambar 2 Perubahan kadar hormon hipotalamus-hipofisis dan ovarium selama satu
siklus haid

Gambar 3 Perubahan-perubahan pada ovarium dan uterus selama satu siklus haid

Fase pascahaid
Pada hari ke V hingga VI, ketika haid mulai berhenti, terjadi proliferasi di bawah
pengaruh estrogen yang ditandai peningkatan mitosis epitel dan stroma lapisan

15
permukaan atau lapisan fungsional. Saat ini, kira-kira hanya sepertempat bagian dari
pertumbuhan yang berada di bawah pengaruh progesteron.

Fase akhir proliferasi endometrium


Dibawah pengaruh esterogen, proliferasi epitel dan stroma endometrium berjalan terus.
Proses glikogenesis dan pengendapan glikogen dimulai hingga hari ke-10 sejak dimulai
haid

Gambar 4 Perubahan endometrium selama satu siklus haid

Tebal endometrium pada tengah daur sekitar 10-12 mm, dengan diameter sekitar
5 mm. Terjadi pula penambahan pertumbuhan silia dan mikrovili mulai hari ke VII
hingga VIII dari daur. Penambahan reseptor progesteron dan penurunan reseptor
esterogen juga mulai terjadi.

Fase sekersi awal

16
Pada ovulasi, endometrium mengalami diferensiasi dibawah pengaruh
progesteron yang ditandai adanya vakuola pada bagian basal kelenjar endometrium.
Pada hari ke VI-VII dari fase luteal ini, hasil sekresi mencapai puncak kelenjar,
kemudian masuk ke dalamnya dengan bantuan sekresi apokrin. Meskipun menghentikan
proliferasi kelenjar, kadar progesteron yang meninggi tetap membantu pertumbuhan
sistem arteriol.
Puncak sekresi endometrium menghadilkan glikoprotein, peptida, plasma
transudat, dan imunoglobulin.
Pada pertengahan awal fase sekresi ini, terjadi peningkatan enzim yang bersifat
dapat melisiskan kelenjar. Akan tetapi, kadar progesteron yang ada mempertahankan
kestabilan kelenjar sehingga tidak keluar sebelum waktunya.

Fase sekresi akhir


Kelenjar yang padat dan berisi penuh menandai endometrium di hari ke-7 pasca-
ovulasi. Pada hari ke 13 pasca-ovulasi, endometrium mengalami diferensiasi menjadi 3
bagian, yaitu bagian baal, spongiosul dan kompaktum(superfisial). Pembengkakan
kelenjar dan stroma enndometrium terjadi dibawah pengaruh hormon estrogen,
progesteron dan prostaglandin.
Pada hari ke 2-3 dan akhir fase ini, esterogen dan progesteron menurun. Enzim
proteolitik akan masuk ke sitoplasma, merangsang keluarnya prostaglandin,
menyebabkan nekrosis jaringan hingga terlepas, dan kemudian terjadilah haid.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Sarwono Prawirohardjo. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo. 2008
2. Cunningham, F. Gary, et al. 2007. Williams Obstetrics 22nd Edition. The
McGraw-Hill Companies: New York.
3. Fakultas Kedokteran UNPAD. Obstetri Fisiologi. Ilmu Kesehatan Produksi. Edisi
2. Jakarta : EGC. 2004
4. Buku Acuan Nasional. Pelayanan Kesehatan aternal dan Neontal. Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

18