Anda di halaman 1dari 9

TELAAH JURNAL INTERNASIONAL

HUBUNGAN ANTARA JARAK TINGGAL DI TPA NON- SANITARI


LANDFILL DAN TINGKAT KADMIUM PADA KUKU DENGAN
GEJALA KESEHATAN PADA ANAK DI NILAI MALAYSIA
Pengampu: dr. Yuni Wijayanti, M. Kes.

Oleh:
Arum Mustika Sari
NIM. 6411414016
Rombel 1

Peminatan Kesehatan Lingkungan

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2017
A. Kadmium

Jurnal ini merupakan salah satu kajian tentang zat toksik yang terdapat di
lingkungan TPA/Tempat Pembuangan Akhir yang kemudian dihubungkan dengan
kesehatan masyarakat yakni gejala penyakit akibat kadmium pada anak. Zat
toksik yang dikaji dalam jurnal ini yaitu Kadmium. Dalam jurnal ini sudah
lengkap dalam menjelaskan definisi, karakteristik, dan sumber-sumber kadmium.
Berikut ulasannya:

Kadmium (Cd) adalah unsur alami berbentuk mineral paling melimpah.


Mempunyai sifat sebagai isotop dan zat non radioaktif. Cd secara umum berasal
dari bijih Cd (greenockite) sebagai oksida, klorida, atau sulfida dan umumnya
ditemukan dalam bijih Zinc (Zn). Logam Cd yang disuling dari bijih memiliki
permukaan berwarna putih dan berkilau biru pada suhu kamar (Program
Toksikologi Nasional, NTP, 2004). Cd diklasifikasikan sebagai logam transisi
dengan tekanan uap 1 mmHg pada suhu 394C dan tidak berbau. Cd tahan
terhadap korosi dan oksida serta logamnya tidak larut dalam air. Cd padat dalam
keadaan oksidasi +2 mudah terbakar namun Cd bubuk akan terbakar dan
melepaskan korosif serta asap beracun. Beberapa garam Cd larut dalam air seperti
Cd klorida, Cd sulfat dan Cd nitrat. Garam Cd tak larut lainnya bisa menjadi lebih
larut dengan asam, cahaya atau oksigen. Titik lebur Cd adalah 321C (NTP 2004;
HSDB 2006; ATSDR 1999).
Sumber yang paling penting dari Cd di udara adalah berasal dari
peleburan. Sumber lain dari Cd di udara berasal dari pembakaran bahan bakar
fosil seperti batu bara atau minyak dan pembakaran sampah kota seperti plastik
dan baterai nikel-kadmium (yang dapat disimpan sebagai limbah
padat) (Sahmoun et al. 2005 ).

B. Ekokinetik Kadmium
Ekokinetik merupakan perjalanan suatu zat toksik ketika di lingkungan.
Dalam jurnal ini, selain menjelaskan secara umum perjalanan kadmium di
lingkungan baik di udara, air, dan tanah, juga menjelaskan perjalanan kadmium
hingga ke Tempat Pembuangan Akhir. Berikut uraiannya:
Kadmium bisa tersebar ke udara berasal dari produksi besi dan baja. Cd
oksida merupakan partikel kecil di udara (asap) yang berasal dari peleburan,
pematerian, atau proses industri bersuhu tinggi lainnya. Persentase tertentu dari
partikel-partikel ini dapat dihirup saat dilepaskan ke dalam atmosfer. Senyawa Cd
berhubungan dengan ukuran partikel udara yang dapat dihirup, Cd dapat
diendapkan ke tanah melalui hujan atau berhenti di udara. Begitu sampai di tanah,
Cd bergerak dengan mudah melalui lapisan tanah dan dibawa ke dalam rantai
makanan oleh tanaman seperti sayuran berdaun, tanaman akar, sereal dan biji-
bijian (ATSDR 2006). Di suatu daerah di dunia (yaitu Inggris, Wales, California),
Cd juga tinggi di tanah. Serapan tanaman Cd di daerah ini dapat menyebabkan
eksposur makanan kepada orang-orang yang tinggal di dekatnya. Akan tetapi, ada
jumlah paparan Cd yang diabaikan melalui kulit. Karena tidak dianggap sebagai
rute utama pemaparan zat kimia ini (ATSDR, 2006).
Cd di tempat pembuangan limbah padat perkotaan (MSW) memasuki
aliran limbah dari berbagai komponen produk konsumen dengan jumlah total Cd
yang ditemukan di limbah padat kota, masuk ke dalam aliran limbah dalam fraksi
yang mudah terbakar dan dapat menjelaskan sebagian besar pengamatan Cd di fly
ash dan di partikulat atmosfir. Sumber Cd yang paling mungkin terjadi di tempat
pembuangan sampah adalah berasal dari plastik, pigmen, berbagai peralatan yang
digunakan pada proses industri dan Nickel-Cadmium (NiCd) atau baterai (Edwin
a Howell, 1990; ATSDR, 1999).
TPA dapat menjadi awal dalam pelepasan trace metal ke dalam lindi
TPA. Namun, kondisi asam yang terjadi selama biodegradasi di TPA dapat
memberikan kondisi yang dapat menyebabkan pelepasan yang lebih besar selama
jangka waktu yang panjang dalam melepaskan komponen unsur ke
lingkungan (Edwi n Howell, 1990 ).

C. Farmakokinetik Cadmium
Perjalanan zat toksik dari lingkungan hingga masuk ke dalam tubuh manusia
tentu mengalami suatu proses yang dinamakan farmakokinetik. Jurnal ini telah
menjelaskan perjalanan masuk kadmium dari onset yaitu melalui inhalasi dan
ingesti hingga dapat menyebabkan suatu gejala atau pun penyakit. Kelompok
yang berisiko terpapar juga dijelaskan dalam jurnal ini, berikut uraiannya:
Paparan unsur-unsur Cd pada konsentrasi lebih dari 0,01% dapat
menyebabkan tingginya beban logam dalam badan ( Sharma et al., 2014 ).
Menelan atau menghirup Cd dapat menyebabkan mual, kram perut, nafas pendek,
disfungsi ginjal dan penghambatan penyerapan zat besi. Catarrhal dan
gastroenteritis ulserativa, kemacetan, infark paru, dan perdarahan subdural juga
dapat ditemukan di nekropsi ( Donahoe et al., 2015 ). Toksisitas Cd rata-rata
tidak menimbulkan tanda klinis patognomonik atau lesi morfologi. Inhalasi adalah
rute utama paparan Cd. Inhalasi Cd kronis telah dikaitkan dengan kemungkinan
terjadinya kanker paru (Drebler dan Schulz, 2002; Sorhan dan Esmen 2004;
Verougstratete dan Lison, 2003). Risiko kesehatan akibat polusi udara cenderung
lebih serius bagi anak-anak yang sudah terkena bahan kimia beracun, karena
mereka tinggal atau bersekolah di dekat tempat pembuangan sampah, tempat
pembuangan limbah beracun, depot bus dan pekarangan kereta api, pabrik
industri, atau fasilitas serupa.
Karena perumahan berkualitas rendah, kepadatan penduduk, dan kurangnya
AC, anak-anak di dataran rendah, masyarakat berpenghasilan rendah mungkin
juga menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah (NRDC, 1997). Sebuah
studi baru-baru ini menemukan bahwa tinggal di dekat tempat pembuangan akhir
bisa mengekspos penduduk ke bahan kimia yang bisa mengurangi kekebalan
tubuh dan menyebabkan peningkatan risiko infeksi (NRDC, 1997). Anak-anak
yang tinggal dekat tempat sampah, entah tempat pembuangan sampah atau air
yang terkontaminasi, lebih banyak dirawat di rumah sakit karena sering
mengalami infeksi pernapasan akut dibandingkan dengan anak-anak yang tinggal
di daerah bersih.
Anak-anak yang tinggal di dekat lokasi limbah berbahaya di negara bagian
New York juga mengalami kenaikan kjadian asma ( Carpenter, 2008 ). Studi
tentang kuku sebagai indikator bio telah banyak dilaporkan seperti di Mehra &
Juneja 2004; 2005; Nagaraj et al, 2015. ; Parizanganeh e t al, 2014. ; Sukumar,
2006; Ohno et al., 2007; Kazi dkk., 2008; Oluwole et al,. 1994 ; dan masih banyak
lagi. Namun, penelitian tentang korelasi kadar kuku-logam dengan konsentrasi
logam di lingkungan dan berbagai gangguan kesehatan terutama pada anak-anak
yang tinggal dekat dengan tempat pembuangan limbah yang langka. Kuku jari
telah digunakan sebagai biomarker untuk menentukan konsentrasi logam berat
diserap tubuh. Kuku lebih mencerminkan kadar logam per berat badan dibanding
darah.

D. Efek Toksik Cadmium


Efek toksik yang dijelaskan di jurnal ini kurang mendetail, karena hanya
menjelaskan efek kadmium terhadap organ ginjal saja, seharusnya lebih
mendetail gejala-gejala apa saja yang ditimbulkan dan penyakit apa saja yang
dapat terjadi, berikut uraian dari jurnal:
Studi telah menemukan bahwa logam berat seperti Cd, Lead (Pb), Nikel (Ni)
dan Tembaga (Cu) memiliki kecenderungan untuk menumpuk di organ vital dan
memiliki waktu paruh 30 sampai seratus tahun atau dapat lebih lama lagi
(ATSDR, 1999). Sebagai contoh, Cd dapat menumpuk di ginjal dan mengikat
secara dominan untuk protein metallothionein (Mehra & Juneja, 2004). Toksisitas
terjadi saat tubuh menumpuk sejumlah besar logam berat. Logam berat ini dapat
terakumulasi di jaringan tubuh karena mereka memiliki tempat penyimpanan di
tubuh selama periode waktu dan menyebabkan masalah kesehatan yang
serius. Beberapa logam berat ini ditemukan menumpuk di makanan laut dan
tanaman di Indonesia dan menjadi sumber racun bagi manusia. Beberapa
diantaranya menyebabkan deformasi burung paruh cacat atau kaki dan beberapa
penyakit pada manusia (Agrawal, 2012).
Materi terkait efek toksik kadmium yang sebaiknya ditambahkan:
Keracunan akut kadmium dapat disebabkan karena pemasukannya baik
melalui pernafasan maupun melalui oral. Efek keracunan yang umum adalah
iritasi saluran pernafasan bagian atas, mual, muntah, salivasi, mencret dan kejang
pada perut.
Keracunan akut yang disebabkan oleh Cd, sering terjadi pada pekerja di
industri-industri yang berkaitan dengan logam. Peristiwa keracunan akut ini dapat
terjadi karena para pekerja tersebut terkena paparan uap logam Cd atau CdO.
Gejala-gejala keracunan akut yang disebabkan oleh logam Cd dapat berupa
timbulnya rasa sakit dan panas pada bagian dada. Akan tetapi gejala keracunan itu
tidak langsung muncul begitu si penderita terpapar oleh uap logam Cd ataupun
CdO. Gejala keracunan akut ini muncul setelah 4-10 jam sejak si penderita
terpapar oleh uap logam Cd. Akibat dari keracunan logam Cd ini, dapat
menimbulkan penyakit paru-paru yang akut. Penyakit paru-paru akut ini dapat
terjadi bila penderita terpapar oleh uap Cd dalam waktu 24 jam. Selain itu,
keracunan akut yang disebabkan oleh uap Cd atau CdO dapat menimbulkan
kematian bila konsentrasi yang mengakibatkan keracunan tersebut berkisar dari
2500 sampai 2900 mg/m3.
Kadmium lebih bersifat toksis bila terhirup melalui pernafasan. Keracunan
kronis timbul bila konsentrasi kadmium dalam ginjal mencapai 200 g per gram
terjadi kerusakan ginjal.
Keracunan kronis terjadi bila memakan atau inhalasi dosis kecil Cd dalam
waktu yang lama. Gejala akan terjadi setelah selang waktu beberapa lama dan
kronik. Kadmium pada keadaan ini menyebabkan nefrotoksisitas, yaitu gejala
proteinuria, glikosuria, dan aminoasidiuria diserta dengan penurunan laju
filtrasi glumerolus ginjal.
Kasus keracunan Cd kronis juga menyebabkan gangguan kardiovaskuler
dan hipertensi. Hal tersebut terjadi karena tingginya afinitas jaringan ginjal
terhadap kadmium. Gejala hipertensi ini tidak selalu dijumpai pada kasus
keracunan Cd krosik. Kadmium dapat menyebabkan osteomalasea karena
terjadinya gangguan daya keseimbangan kandungan kalsium dan fosfat dalam
ginjal.
Toksisitas kadmium dipengaruhi oleh pH dan kesadahan. Keberadaan zinc
dan timbal dapat meningkatkan toksisitas kadmium. Untuk melindungi kehidupan
pada ekosistem akuatik, kadar kadmium sebaiknya sekitar 0.0002 mg/l (Moore,
1991 dalam Effendi, 2000). Departemen Kesehatan RI menetapkan batas aman
kadmium dalam makanan (ikan) sebesar 1.0 ppm. Menurut badan dunia
FAO/WHO, konsumsi per minggu yang ditoleransikan bagi manusia adalah 400-
500 g per orang atau 7 g per kg berat badan (Barchan dkk., 1998 dalam
Suhendrayatna, 2001).
E. Pengambilan Data Cadmium
Penentuan akumulasi logam berat melalui biomarker yaitu kuku sangat
penting karena merupakan hal yang menarik karena merupakan matriks biologis
untuk studi pemantauan pencemaran lingkungan atau asupan racun logam dalam
tubuh manusia ( Druyan et al., 1998). Dalam jurnal ini pengambilan data yang
digunakan yakni menggunakan kuesioner dan pengukuran Cd pada kuku anak-
anak, serta pengukuran kadar Cd berdasarkan jarak tempat tinggal dengan TPA,
berikut uraiannya;
1. Survei kuesioner
Kuesioner yang dimodifikasi digunakan dalam penelitian ini untuk
mendapatkan informasi tentang karakteristik individu, eksposur risiko lingkungan
dan kebiasaan makan responden. Kuesioner diisi oleh orang tua atau wali
responden. Kuesioner terdiri dari 5 bagian; Bagian A latar belakang sosio-
demografi, Bagian B Informasi kesehatan pernafasan, Bagian C masalah
kesehatan yang terkait, Bagian D informasi kebiasaan merokok di kalangan
anggota keluarga dan Bagian E kebiasaan responden makan makanan kalengan.
Informasi merokok anggota keluarga dan konsumsi makanan kalengan
responden adalah faktor perancu dalam penelitian. Makanan kalengan sangat
diproses dengan tinggi kandungan lemak sehingga mengandung logam beracun
seperti Cd yang tinggi dan tingkat penyerapan yang besar logam ini di saluran
pencernaan (Oostdam et al., 1999).
2. Kuman kuku dan pengumpulan sampel debu di udara
Kuku jari dikumpulkan dengan kliping dengan clipper stainless steel dari dua
jempol besar dan jari lainnya. Instruksi diberikan kepada responden untuk
mendapatkan kuku sebanyak mungkin dan kliping harus dari kedua tangan.
Sampel kuku ditempatkan dalam label amplop dan disimpan pada suhu kamar
dalam kondisi terkering mungkin pada pra- daerah yang ditunjuk sampai sampel
dianalisis ( Ia, 2011 ).
Pengumpulan debu di udara diambil sampelnya selama 8 jam dengan
menggunakan model sampler pompa SKC (224-PCXR). Kertas saring yang
digunakan adalah kertas Selulosa Ester Membran Filter (berdiameter 37 mm dan
pori 0.8um). Pompa pengambilan sampel udara ditempatkan pada responden.
Topan dan Kaset dilekatkan pada kerah baju atau di zona pernapasan responden.
Setiap 1 Jam, posisi dan kondisi peralatan diperiksa. Ini untuk memastikan
tabungnya belum terjepit atau terlepas dari kaset atau pompa. Setelah 8 jam,
pompa dimatikan dan dikeluarkan dari responden. Untuk sampel lapangan
kosong, satu kosong disiapkan dengan mengeksposnya di lapangan dimana
pengambilan sampel dilakukan namun belum pernah digunakan ambil sampel
2 km.
3. Analisis kuman pada uku dan sampel debu di udara
Sampel kuku dikerok dan dibersihkan dari partikel debu dengan deterjen non-
ionik (Triton X-100) mengikuti prosedur pencucian standar oleh Ciszewski,
(1997). Diikuti dengan merendam sampel kuku pada aseton untuk menghilangkan
kontaminasi eksternal, dan akhirnya sampel dibilas lima kali dengan air
deionisasi, dikeringkan dalam oven pada suhu 110 C dan disimpan di desikator.
Kemudian, sampel kuku kering (1 g) ditempatkan di tungku dan didinginkan pada
suhu 550 C selama 4 jam. Abu dicerna dengan 10 ml campuran nitrat
terkonsentrasi 6: 1 dan asam perklorat disimpan semalam pada suhu kamar untuk
mencegah pembusaan yang berlebihan dan selanjutnya sampel dipanaskan pada
suhu 160-180 C sampai campuran menjadi air bersih dan dikurangi menjadi 1
ml Setiap larutan sampel kemudian diencerkan dengan asam nitrat 0,1 N dan
dibuat menjadi volume 50 ml dengan air suling. Kertas filer debu ambien dari
sampling udara pompa itu dicerna dengan HNO3. Penentuan kadmium dibuat
langsung pada setiap akhir Larutan dengan menggunakan Analisis Multi-Elemen
Spektrometri Massa Plasma Massal (Seri Thermo Elemental X7CCT).
4. Pengelolaan data dan analisis statistik
Semua data dianalisis dengan menggunakan Statistical Package for Social
Science (SPSS) Version 21.0. Uji deskriptif digunakan untuk menghitung rata-
rata, median, mode dan standar deviasi. Uji normalitas digunakan untuk
mendapatkan data normalitas dalam penelitian ini. Nilai logam konsentrasi pada
kuku jari tangan dan debu udara responden disajikan sebagai Mean aritmetik (mg
/ kg) dengan standar deviasi ( SD). Perbandingan konsentrasi Cd Pada kuku dan
debu udara antara kelompok responden ditentukan dengan Mann Uji Whitney-U.
Hubungan antara konsentrasi Cd pada kuku dan kesehatan terkait gejala
ditentukan dengan uji regresi logistik; Dimana Odds Ratios (OR) dan 95%
Confidence interval (CI) untuk gejala fisik yang dilaporkan sendiri diperoleh jarak
tempuh TPA, konsentrasi Cd dan merokok. Model disesuaikan untuk jenis
kelamin, usia, pendapatan dan konsumsi makanan kaleng. Perangkat lunak
ArcGIS 9.2 digunakan untuk merencanakan Konsentrasi Cd berdasarkan lokasi.

F. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional yang melibatkan
anak-anak yang berada dalam radius 2 sampai 4 km dari TPA non-sanitary landfill
di Pajam-Nilai, Negeri. Pengumpulan data dilakukan mulai bulan November 2013
sampai Februari 2014. Kriteria responden yang dipilih dalam penelitian ini adalah
orang Malaysia berusia antara 6 sampai 11 tahun. Sejumlah tujuh puluh (70)
anak-anak dilibatkan dalam penelitian. Anak-anak di sekitar berpotensi terpapar
Cd dari tempat pembuangan akhir melalui pengendapan debu melalui
penghirupan (Drebler, 2002).