Anda di halaman 1dari 13

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS GADJAH MADA


FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI

TUGAS MATA KULIAH


GEOLOGI LAUT: RESUME BUKU
"THE SEA FLOOR: AN INTRODUCTION TO MARINE GEOLOGY"
BAB 9 - PALEOCEOANOGRAPHY

DISUSUN OLEH:
ABYAN ABDAN (14/366721/TK/42158)
IKFI MAASYI HANIF (14/363552/TK/41651)

DOSEN PENGAMPU:
SALAHUDDIN HUSEIN, M.Sc., Ph.D.

YOGYAKARTA
AGUSTUS
2017
1. Pendahuluan
Paleoseanografi, studi tentang sejarah laut, muncul pada tahun 1930an dan 1940an,
ketika batuan inti tersedia yang menyediakan data dari mana sejarah dapat direkonstruksi.
Upaya awal dilakukan oleh W. Schott (1935) yang menggunakan batuan inti pendek yang
diambil oleh kapal penelitian Jerman, Meteor. Swedish Deep Sea Expedition (1947-1948)
menggunakan perangkat baru, piston corer, yang dikembangkan oleh B. Kullenberg di
Kopenhagen. Teknik ini mengambil batuan inti dengan panjang 7 m atau lebih, dengan
sedimen tertua berusia 0,3 sampai 1 juta tahun. Perangkat Kullenberg, dengan modifikasi,
masih digunakan sampai sekarang.
Para ilmuwan yang melaporkan batuan inti ini menjadi pelopor ilmu paleoceanografi.
Mereka mengajukan beberapa pertanyaan mendasar tentang sejarah laut Pleistocene. Dimulai
pada tahun 1968, ketika kapal pengeboran Glomar Challenger memulai pengeboran ilmiah di
laut dalam, banyak dimensi baru muncul di paleoceanografi: lamanya waktu yang tersedia
untuk penelitian mendetail meningkat dari sekitar 1 juta tahun sampai 100 juta tahun yang
lalu. Sejak tahun 1985, Joides Resolution telah digunakan untuk pengeboran laut dalam.

2. Lautan Zaman Es
a. Zaman Es
Kita hidup di zaman es yang telah berlangsung setidaknya dua atau tiga juta tahun.
Kenyataan ini sangat mempengaruhi cara kita menafsirkan arus erosi dan deposisi saat ini,
dan bentang alam yang telah kita warisi. Gagasan bahwa lembaran luas es tebal yang pernah
menutupi Eropa Utara dan utara Amerika Utara dapat diterima beberapa waktu selama
pertengahan abad yang lalu. Tidak lama kemudian beberapa glasier semacam itu ditemukan
dengan interval hangat yang memisahkannya. Kita sekarang hidup dalam interglasial
semacam itu. Namun, beberapa pertanyaan tentang siklus glasiasi sulit untuk dijawab dari
rekaman darat: masing-masing glasiasi berhasil menghapus banyak jejak sebelumnya. Studi
tentang batuan inti panjang dari dasar laut dalam membuka pintu menuju pemahaman baru.
Batuan inti tersebut mengandung catatan perselingan glasial dan interglasial, dalam "zaman
es".
Zaman es lebih dingin daripada sebelum atau sesudahnya, sehingga besarnya panas
bumi dilibatkan. Besar panas ini sebagian besar dikontrol oleh albedo (jumlah cahaya masuk
yang terpantul ke luar angkasa) dan efek rumah kaca (terperangkapnya inframerah yang
berusaha meninggalkan bumi oleh gas rumah kaca). Dengan demikian (kecuali jika kita
melibatkan peredupan matahari), asumsi bahwa albedo meningkat dan gas rumah kaca
menurun pada zaman es, akan masuk akal. Meski begitu, mekanisme yang bekerja belum
ditahui persis.
b. Kondisi dalam Lautan Dingin
Bagaimana perbedaan lautan zaman es dari yang sekarang? Terdapat beberapa
konsensus yang telah dicapai pada beberapa aspek.
Pertama, umumnya disepakati bahwa arus permukaan lebih kuat. Ini dikarenakan arus
permukaan didorong oleh angin, dan angin bergantung pada gradien suhu horizontal. Dengan
lingkar es dan kutub bagian depan lebih dekat ke khatulistiwa, perbedaan suhu antara es (0 C
atau kurang) dan daerah tropis (sekitar 25 C) dikompres menjadi jarak yang jauh lebih
pendek dari sekarang. Oleh karena itu gradien suhu lebih besar, angin lebih kuat, dan begitu
pula arus laut. Sebagai konsekuensinya, upwelling khatulistiwa menjadi lebih intensif, begitu
juga dengan upwelling pesisir. Dengan demikian, pada saat bersamaan kesuburan menurun di
garis lintang tinggi, tetapi meningkat pada pertengahan garis lintang (karena pencampuran
yang intensif) dan subtropis (karena upwelling).
Kedua, disepakati bahwa secara keseluruhan, permukaan laut lebih dingin dari hari ini.
Sebagian besar benua dan lautan bagian utara di bawah es, sehingga bumi memantulkan
radiasi matahari lebih mudah (memiliki albedo lebih tinggi) daripada hari ini, karenanya
menyerap lebih sedikit radiasi dan atmosfer lebih dingin. Atmosfer dingin menahan lebih
sedikit air, dan area yang luas di daratan lebih kering dari hari ini. Uap air adalah gas rumah
kaca yang paling penting, sehingga perangkap radiasi inframerah di atmosfer berkurang.
Daerah kering (seperti padang rumput dan padang pasir) lebih memantulkan sinar matahari
daripada yang basah (seperti hutan). Selain itu, lautan yang lebih subur akan sedikit lebih
reflektif daripada lautan biru gelap bersih dengan pertumbuhan alga yang kurang. Semua
faktor ini mendukung refleksi radiasi matahari kembali ke angkasa dan karenanya mendukung
pendinginan.
Ketiga, diketahui bahwa beberapa wilayah laut lebih dingin daripada yang lain, dan
bahwa tingkat perubahan regional sangat bergantung pada pergerakan batas zona iklim. Jika
sebuah daerah berada di dekat batas sub tropis dan sabuk beriklim sedang, maka akan
tergabung secara berselingan satu zona dengan lainnya. Dengan demikian, perubahan di sini
cukup besar. Sebaliknya, perubahan bisa jauh lebih sedikit di daerah tropis atau subtropis.
Terakhir, permukaan laut jauh lebih rendah selama glasiasi maksimum, yaitu 120
sampai 130 m, sehingga shelf terekspos dan permukaan laut menjadi lebih kecil. Ini juga
meningkatkan albedo bumi, menyebabkan pendinginan bertambah.
c. Peta 18 K
Berbagai konsep ini diuji dengan rekonstruksi kuantitatif koheren samudra zaman es,
di tahun 1970an. Dihasilkan suatu peta suhu permukaan laut untuk bulan musim panas selama
glasiasi maksimum. Peta tersebut juga disebut peta 18 K (18.000 tahun yang lalu), sebuah
tanggal berdasarkan penanggalan radiokarbon. Pembuatan peta dimulai dari inti laut dalam, di
mana sampel permukaan dan bawah permukaan diambil. Sampel permukaan digunakan untuk
kalibrasi. Pola kelimpahan berkorelasi dengan suhu air permukaan di musim panas, untuk
memberikan dasar bagi rekonstruksi.
Dari informasi yang ditunjukkan pada peta 18 K, dapat disimpulkan bahwa laut zaman
es pada 18.000 tahun yang lalu ditandai oleh: (1) peningkatan gradien termal di sepanjang
kutub, terutama di Atlantik Utara dan Antartika; (2) pemindahan khatulistiwa dari sistem
polar frontal; (3) pendinginan umum sebagian besar air permukaan, rata-rata sekitar 2,3 C;
(4) peningkatan upwelling sepanjang khatulistiwa di Pasifik dan Atlantik; (5) peningkatan
upwelling pesisir dan penguatan arus batas timur; Dan (6) posisi dan suhu yang hampir stabil
dari gyre pusat di dasar lautan utama.

Gambar 1. Peta 18 K [CLIMAP Project Members, 1976, Science 191: 1131, simplified]
d. Deglasiasi Bertahap
Perubahan glasial terakhir menjadi interglasial sekarang melibatkan perubahan
distribusi musiman radiasi Matahari (Mekanisme Milankovitch). Perubahan tersebut
membutuhkan antara kira-kira 7.000 dan 8.000 tahun untuk mengurangi massa es glasial
terakhir menjadi seperti saat ini. Dalam prosesnya, permukaan laut naik sekitar 120 m.
Mundurnya kutub depan di Atlantik Utara dari posisinya antara Long Island dan Portugal di
glasial sampai yang sekarang di atas Greenland, terjadi dalam cara yang terputus-putus.
Kemajuan ulang di kutub depan terjadi selama yang disebut Younger Dryas, antara 11.000
dan 10.000 tahun radiokarbon yang lalu. (Menurut pengukuran inti es, sekitar 12.800 sampai
11.700 tahun kalender). Efek dari kejadian ini terlihat di seluruh dunia; rekamannya
ditemukan di Tibet Barat dan juga di Laut Sulu, di sebelah selatan Filipina. Asal mula periode
dingin Younger Dryas sama sekali tidak diketahui (salah satu mekanisme yang mungkin
adalah gelombang es berskala besar), namun sangat mungkin sirkulasi laut terlibat dalam
perubahan drastis dalam besarnya panas dengan cara tertentu. Era es singkat ini hanya
bertahan sekitar satu milenium dan berakhir dengan tiba-tiba.
Di Atlantik utara, serangkaian lapisan yang jelas dari periode glasial terakhir kaya
akan puing-puing rimbun dan miskin foraminifera, menunjukkan terjadinya kejadian iklim
mendadak lainnya, yang mungkin dipicu oleh pelelehan masif gunung es jangka pendek.
Musim dingin Younger Dryas yang misterius menunjukkan beberapa keterbatasan mendasar
pada penelitian paleoceanografi (dan paleoiklim). Sistem iklim sangatlah kompleks. Banyak
elemen penting dari sistem ini tidak dibatasi dengan baik. Fungsi samudera (seperti
redistribusi panas oleh arus) tidak dapat diisolasi dan ditentukan asalkan fungsi elemen lain
dari sistem tetap tidak pasti. Laut memainkan peran dominan dalam besarnya panas, bukan
hanya karena arus, tapi juga karena penguasaannya terhadap albedo (misalnya melalui lapisan
es laut) dan uap air (gas rumah kaca yang dominan), dan juga mengendalikan perubahan
jangka pendek di CO2 atmosfer melalui siklus karbon dan pompa biologisnya.

3. Siklus Pleistosen
a. Bukti
Catatan Pleistosen menunjukkan serangkaian panjang keadaan iklim yang bergantian.
Temuan ini sangat penting dalam ilmu bumi, terutama dalam studi dinamika iklim. Siklus
tersebut memperlihatkan fluktuasi komposisi fauna dan flora dalam kelimpahan karbonat dan
rasio oksigen-18 sampai oksigen -16 dalam kulit foraminifera, serta sifat lainnya.
b. Siklus Karbonat
Siklus karbonat dari Pasifik ekuatorial umumnya ditafsirkan sebagai siklus pelarutan,
dengan pelarutan tinggi dalam interglasial (nilai CaCO3 rendah) dan pelarutan rendah dalam
glasial (nilai CaCO3 tinggi). Penyebab siklus pelarutan ini tidak jelas. Fluktuasi permukaan
laut berperan penting. Selama muka air laut rendah, shelf (tempat pengendapan karbonat)
terekspos. Dengan demikian, di sana tidak bisa terendapkan karbonat. Sebaliknya, selama
interglasial, permukaan laut yang tinggi memungkinkan karbonat dangkal untuk tumbuh.
Beberapa faktor lain juga berperan: perubahan tingkat erosi pada daratan dan shelf,
pertumbuhan dan pembusukan hutan yang mempengaruhi kelimpahan CO2 di sistem laut-
atmosfer, perubahan suhu laut dalam, perubahan dalam produktivitas keseluruhan laut, dan
perubahan sirkulasi laut dalam. Sirkulasi laut dalam mengatur sebagian besar akumulasi
karbonat di Pasifik tengah, melalui "fraksinasi basin-basin" dengan Atlantik. Ketika produksi
air laut Atlantik Utara meningkat, Atlantik menjebak karbonat, sehingga menyisakan sedikit
untuk Pasifik.
Di sebagian besar dasar laut Atlantik, siklus karbonat cenderung berlawanan dengan
yang ada di Pasifik tengah. Siklus karbonat Atlantik sebagian besar merupakan siklus
pengenceran. Selama glasial, pasokan material darat dari benua-benua yang mengelilingi
Atlantik meningkat sangat pesat. Di garis lintang yang tinggi, es yang bergerak menggores
massa batuan yang sangat besar. Di daerah subtropis, padang pasir tersebar luas,
mengantarkan debu. Banjir bandang di daerah semi kering merupakan agen yang efisien
dalam jumlah besar. Hutan hujan tropis jauh berkurang, dan daerah semi kering semakin luas.
Shelf terekspos dan terkena erosi. Semua faktor ini berkontribusi terhadap kenaikan glasial
tingkat deposisi terrigenous. Seiring pasokan material terrigen meningkat, proporsi karbonat
dalam sedimen pelagis menurun. Dengan mengubah tingkat pengenceran, dihasilkan siklus
karbonat.
c. Siklus Fauna (dan Flora)
Siklus fauna (dan flora) dapat diekspresikan dalam berbagai cara, paling sering disebut
siklus hangat-dingin. Contohnya adalah plot kuantitatif Parker (1958) dan Imbrie dan Kipp
(1971). Metode Parker membandingkan kelimpahan relatif foraminifera air hangat dan air
dingin sebagai fungsi inti. Metode Imbrie-Kipp mengkalibrasi persentase air hangat dan
dingin terhadap suhu air permukaan dengan teknik statistik yang disebut regresi faktor.
Berdasarkan kalibrasi ini, suhu air permukaan yang paling mungkin kemudian dihitung untuk
sampel batuan inti yang lebih dalam. Teknik ini juga digunakan untuk membangun peta 18 K.
Siklus fauna agak mengikuti isotop oksigen yang terkait, namun tidak menduplikatnya. Pada
prinsipnya, perbandingan dua kurva memungkinkan pemisahan efek suhu dari efek es, dalam
rekaman isotop oksigen. Ada satu fakta menarik lainnya yang muncul dari analisis fauna: saat
ini agak tidak biasa karena terlalu hangat. Selama setengah juta tahun terakhir iklimnya jauh
lebih dingin.
d. Siklus Isotop Oksigen
Fluktuasi komposisi isotop oksigen kerang foraminifera pertama kali dijelaskan oleh
C. Emiliani pada tahun 1955. Dia menganalisis foraminifera plankton dari beberapa inti
panjang yang diambil di Karibia dan Atlantik Utara. Dia berkonsentrasi pada spesies tersebut
dengan oksigen-18 terendah (Globigerinoides ruber dan Globigerinoides sacculifer), dengan
alasan bahwa spesies ini harus hidup di perairan dangkal dan oleh karena itu mencerminkan
suhu air permukaan. Karena suhu pertumbuhan mempengaruhi rasio 18O/16O, fluktuasi
isotopik mencerminkan siklus hangat-dingin. Selain itu, komposisi air laut mengendalikan
rasio 18O/16O di dalam kerang. Komposisi air laut berfluktuasi seiring tumbuh dan
memudarnya lapisan-lapisan es. Alasannya adalah bahwa es sudah habis dalam 18O. Selama
penumpukan es, isotop yang lebih berat ini tetap berada di lautan, meningkatkan rasio
18 16
O/ O. Kerang yang tumbuh di air tersebut kemudian diperkaya 18O, dan pengayaan ini
ditambahkan ke pengayaan yang disebabkan oleh penurunan suhu air. Bila es glasial mencair,
rasio 18O/16O di lautan menurun lagi. Saat ini, stratigrafi isotop oksigen membentuk tulang
punggung stratigrafi Pleistosen. Isotop oksigen digunakan sebagai template utama, yang
rekaman lainnya harus dibandingkan untuk menentukan signifikansinya.
e. Siklus dan Penanggalan Milankovitch
Hipotesis Milutin Milankovitch (1879-1958) menyatakan bahwa fluktuasi jangka
panjang dalam radiasi yang diterima dari Matahari selama musim panas di garis lintang tinggi
belahan bumi utara telah mengontrol terjadinya zaman es selama 600.000 tahun terakhir.
Terdapat tiga metode penanggalan untuk menguji pendapat Emiliani bahwa variasi
isotop dengan jelas menunjukkan semacam siklus reguler seperti yang bisa dihasilkan oleh
mekanisme Milankovitch: (1) Penanggalan C-14 untuk bagian paling atas dari rekaman, dan
ekstrapolasi ke bawah. Cara ini tidak terlalu bisa diandalkan. (2) Penanggalan Uranium koral
yang tumbuh selama high stand muka laut terakhir. Perkiraan terbaik untuk usia ini adalah
sekitar 124.000 tahun. Cara ini lebih dapat diandalkan daripada yang berbasis pada
radiokarbon. (3) Pembalikan magnetik yang terekam sedimen laut dalam. Batas utama
terakhir antara zaman magnetik berumur 790.000 tahun yang lalu (umur sebelumnya 730.000,
sekarang ditinggalkan). Umur ini hanya bisa didapatkan dalam batuan inti yang sangat
panjang. Hal ini memungkinkan interpolasi umur untuk variasi isotop.
Analisis spektral (pencarian frekuensi yang terdapat dalam catatan isotop)
menunjukkan bahwa periode berikut sangat kuat: mendekati 20.000 tahun, mendekati 40.000
tahun, dan mendekati 100.000 tahun. Ini adalah periode utama yang terkandung dalam kurva
iradiasi Milankovitch. Dengan demikian, terbukti kuat bahwa iradiasi belahan bumi utara
adalah faktor yang mendominasi dalam mengontrol frekuensi fluktuasi iklim Pleistosen.
Sumbu rotasi bumi tidaklah diam di ruang angkasa, dan tidak selalu mengarah ke
Bintang Utara seperti sekarang, tetapi menggambarkan bentuk lingkaran, dengan Bintang
Utara adalah satu titik. Orbit ini selesai satu kali dalam waktu sekitar 21.000 tahun.
Kecenderungan poros bumi terhadap bidang orbitnya juga berubah seiring berjalannya waktu.
Saat ini adalah 66,5, tetapi sekali dalam 41.000 tahun bervariasi antara sekitar 65 dan 68.
Ini adalah variasi kemiringan. Kemiringan sangat penting, karena tingginya kemiringan jelas
berarti musim panas yang hangat dan musim dingin yang dingin, dan sebaliknya. Sehingga,
orbit bumi pada matahari bukanlah lingkaran melainkan elips, seperti yang ditunjukkan oleh
Johannes Kepler, 1571-1630. Rasio antara sumbu panjang dan pendek bervariasi sepanjang
waktu. Satu siklus memakan waktu sekitar 100.000 tahun. Inilah unsur-unsur yang mengatur
perubahan iradiasi musiman di belahan bumi utara. Diduga terdapat sabuk latitudinal yang
sangat sensitif di belahan bumi utara dimana perubahan paparan sinar matahari ini
diterjemahkan ke dalam jumlah penutupan salju yang bervariasi, yang pada gilirannya
mengatur iklim oleh mekanisme umpan balik albedo.
f. Perubahan Pola
Bagian bawah Kuarter pada dasarnya tidak memiliki siklus 100.000 tahun sama sekali.
Fluktuasi 18O (variasi massa es) di bagian rekaman didominasi oleh siklus kemiringan.
Sedikit Tidak diketahui alasan perubahan besar dalam sistem iklim bumi (revolusi mid-
Pleistocene). Tidak ada alasan astronomi: elemen orbital, sejauh yang bisa dikatakan, sama
sebelum dan sesudah kejadian. Dengan demikian, diasumsikan bahwa respons terhadap gaya
berubah.

4. Koneksi Karbon
a. Penemuan Utama
Salah satu penemuan paling menarik di Ilmu Bumi, pada tahun 1980an, adalah
rekonstruksi komposisi atmosfer Pleistosen dari inti es. John Tyndall (1820-1893)
mengemukakan bahwa periode glasial mungkin disebabkan oleh penurunan karbon dioksida
di atmosfer. Svante Arrhenius (1859-1927) dan Thomas C. Chamberlin (1843-1928)
mengajukan hipotesis tentang bagaimana konsentrasi CO2 dapat berubah sepanjang waktu.
Hasil inti es baru-baru ini membuktikan bahwa konsentrasi CO2 glasial di udara lebih rendah
daripada pada saat interglasial dengan faktor 1,5. Fluktuasi CO2 sejajar dengan suhu di mana
salju diendapkan. Gas metana juga diukur; fluktuasi serupa dengan karbon dioksida.
Amplitudo variasi CO2 yang diamati sesuai dengan efek rumah kaca antara 1 dan 2
C, sesuai dengan model iklim terkini. Perubahan kecil dalam keseluruhan kimiawinya
berpotensi menimbulkan efek yang besar pada atmosfer.
b. Paleoproduktivitas
Ada beberapa hal yang memengaruhi pembagian karbondioksida antara laut dan
atmosfer. Misalnya, jika karbon anorganik terlarut cenderung disimpan di kedalaman dan
habis di perairan bagian atas, maka atmosfer akan menerima bagian yang lebih kecil dari total
karbon yang ada. Dengan meningkatkan efisiensi biologic pumping, peningkatan fraksinasi
vertikal dapat dicapai.
Mekanisme bio-pump menyediakan model konseptual sederhana yang
menghubungkan pCO2 dan 13O. Alasan untuk kaitannya adalah bahwa pemompaan
cenderung menghilangkan 12C lebih efisien dari zona fotik daripada 13C, karena 12C lebih
mudah digabungkan menjadi bahan organik selama fotosintesis. Efeknya, 13C diperkaya di
perairan permukaan, relatif terhadap perairan dalam. Perbedaan yang sesuai pada 13C adalah
ukuran intensitas fraksinasi yang dihasilkan dari pemompaan biologis. Intensitas ini
bergantung sepenuhnya pada kandungan nutrisi perairan laut dalam.
Model bio-pump untuk mengubah kandungan CO2 dari atmosfer menyiratkan
produktivitas lautan yang lebih tinggi selama waktu glasial. Memang ada bukti bahwa
produktivitas lebih tinggi selama glasial. Sepanjang ekuator, produktivitas juga lebih tinggi
selama waktu glasial dari sekarang. Peningkatan produktivitas secara umum mungkin telah
mengakibatkan burial karbon tambahan yang cukup untuk menurunkan kandungan CO2
secara signifikan.
Perubahan dalam produksi karbonat juga penting. Pada saat permukaan laut yang
rendah, deposisi karbonat akan sangat menurun di shelf, dan ini akan meningkatkan kadar ion
karbonat lautan, dan juga "alkalinitas" lautan. Peningkatan alkalinitas memungkinkan laut
untuk mempertahankan bagian yang lebih besar dari total CO2 di dalam sistem.
c. Gambaran Jangka Panjang
Pada skala waktu yang panjang, tidak hanya pertukaran lautan dengan atmosfer yang
harus dipertimbangkan, tapi juga pelapukan silikat di darat dan masukan CO2 dari
vulkanisme. Proses pelapukan dapat dijelaskan secara ringkas dengan rumus
CO2 + CaSiO3 CaCO3 + SiO2
Yang menunjukkan penyerapan jangka panjang CO2 dari atmosfer. CO2
(vulkanogenik) di sisi kiri, didaur ulang pada skala jangka panjang (100 juta sampai 1 miliar
tahun). Jadi, di dalam bumi di bawah zona subduksi, persamaan terbaca mundur.
Dari persamaan tersebut, kita dapat menyimpulkan efek penurunan jangka panjang
CO2 di atmosfer: dengan memberikan CaSiO3 segar melalui pembentukan pegunungan dan
erosi yang dalam. Pembentukan pegunungan dan penurunan permukaan laut berlanjut
sepanjang akhir Tersier, terutama dalam beberapa juta tahun terakhir. Inilah salah satu
kemungkinan penyebab (beberapa) permulaan zaman es: penurunan CO2 atmosfer sebagai
tren jangka panjang di akhir Tersier.

5. Perairan Samudera Zaman Tersier: Planet yang Mendingin

Pada Bab ini dijelaskan secara detil tentang sebab mengapa terjadi pendinginan secara
global di permukaan Bumi dengan menghubungkan peristiwa pergerakan lempeng tektonik
terhadap konfigurasi benua-samudera pada Zaman Tersier dan pengaruhnya terhadap
peristiwa zaman es yang dimulai sejak pertengahan Zaman Tersier dengan melihat catatan
observasi data isotop oksigen dari data pemboran laut dalam atau DSDP (Deep Sea Drilling
Project).
Sampel sedimen yang masih segar diekstraksi dari hasil pemboran laut dalam diteliti
unsur kimiawinya, terutama unsur oksigen, untuk membantu merekonstruksi perubahan iklim
dan bagaimana peran samudera terhadap iklim itu sendiri. Informasi yang diperoleh dari
penelitian menggunakan isotop oksigen adalah grafik perubahan oksigen dari waktu ke waktu
serta untuk menjawab bagaimana respon dari organisme laut seperti plankton dan benton
mengenai perubahan fisiknya terhadap perubahan iklim. Dengan demikian penelitian isotop
oksigen juga tidak terlepas oleh studi biostratigrafi dan paleobiologi.
Di Zaman Tersier, terjadi perubahan iklim secara global dan merata oleh peristiwa
penurunan muka air laut lalu diiringi oleh pendinginan global. Perubahan secara gradual ini
telah terjadi sejak Zaman Mesozoik dari temperatur hangat menuju dingin, atas dasar
meningkatnya kandungan 18O pada penelitian sampel foraminifera bentonik. Setelah
dilaksanakan proyek DSDP dengan skala luas, didapat fakta bahwa fenomena pendinginan
yang terjadi di Zaman Tersier sebagian besar terjadi di daerah kutub karena terlihat trend
yang serupa pada stratigrafi kandungan isotop oksigen pada foraminifera planktonik dan
bentonik. Penulis tidak mengetahui secara persis apakah benar-benar terjadi hubungan sebab-
akibat antara perubahan isotop oksigen terhadap perubahan temperatur samudera yang semula
hangat menjadi mendingin. Namun, penulis memberikan hipotesis bahwa selain isotop
oksigen ada faktor lain yang dinamis terjadi di seluruh belahan Bumi, yaitu perubahan
geografis. Penulis percaya bahwa walaupun tidak ada hubungan antara keduanya namun yang
pasti dua faktor tersebut bekerja bersamaan dan berperan penting terhadap perubahan global.
Perubahan geografis akibat pergerakan lempeng yang terjadi pada Zaman Tersier
dipercaya dapat mempengaruhi konfigurasi dan sirkulasi perairan samudera, dari yang
awalnya sebagai sebuah samudera yang besar kemudian terpecah menjadi beberapa samudera
yang lebih kecil, akibat dari fenomena ini maka terbentuk pintu gerbang bagi perairan yang
berukuran kecil untuk melakukan sirkulasi air keluar dan masuk (Gambar 2). Pada Kala
Eosen (45 jtl) terjadi penutupan sirkulasi arus samudera di wilayah sekitar Ekuator, sementara
itu di wilayah Kutub Utara maupun Selatan terjadi pembukaan. Salah satu konsekuensi dari
mekanisme buka-tutup ini adalah fenomena mengeringnya Laut Mediterania (5-6 jtl) dengan
dibuktikan oleh terjadinya pengendapan garam yang sangat luas yang mengakibatkan
menurunnya tingkat salinitas samudera secara global sebesar 6%.

Gambar 2.
Diagram temperatur
global dari waktu ke
waktu.

Gambar 3. Konfigurasi Bumi pada saat Kala Eosen. Persegi panjang berwarna putih menandakan sirkulasi yang
membuka, berwarna hitam menandakan sirkulasi yang menutup.

Terdapat beberapa faktor yang memberikan petunjuk bahwa pecahnya samudera besar
menjadi beberapa bagian yang lebih kecil dapat mempengaruhi pendinginan global, di
antaranya adalah (1) perlambatan pemekaran samudera, (2) pembentukan pegunungan
(orogenesa), dan (3) regresi muka air laut. Ketiga faktor tersebut saling berkaitan dan terjadi
secara berurutan. Pada awalnya, lempeng samudera mengalami tumbukan dengan lempeng
lain sehingga membentuk pegunungan, penambahan massa di wilayah pegunungan
berdampak pada menebalnya lapisan litosfer di bagian pusat dan menipis di bagian tepi
sebagai implikasi dari mekanisme isostasi. Oleh karena lempeng samudera menumbuk
lempeng lain, maka di sisi lain terjadi perlambatan pemekaran samudera. Hal ini
mengakibatkan terhambatnya pembentukan lantai samudera yang baru sehingga samudera
menjadi semakin dalam. Ketika terdapat tempat yang lebih dalam maka air laut akan
berkumpul di tempat tersebut sehingga terjadi proses penurunan muka air laut secara global.
Dari ketiga faktor tersebut dapat digambarkan bahwa wilayah samudera semakin sempit,
sementara wilayah daratan semakin meluas, hal ini berdampak pada intensitas albedo yang
semakin meningkat karena pantulan sinar matahari terhadap daratan lebih baik daripada
terhadap samudera serta terjadi penurunan kadar CO2 di atmosfer karena intensitas pelapukan
kimia di daratan semakin besar. Alhasil, kedua hipotesis ini saling bekerja membuat Bumi
mengalami penurunan temperatur secara global.
Pergeseran lempeng-lempeng benua bagian selatan ekuator secara umum mengalami
pergeseran ke arah utara menjauhi Antartika, hal ini menyebabkan perubahan oseanografi
dalam aspek fisik, kimia dan biologi. Perpecahan samudera menjadi bagian yang lebih kecil
mengakibatkan perbedaan rentang temperatur dan salinitas yang semakin melebar pada
perairan sempit dibandingkan dengan samudera secara global. Pada kenyataannya, terjadi
perluasan samudera di belahan Bumi bagian selatan, sehingga terjadi percampuran komposisi
kimia dan temperatur rata-rata yang terkandung dalam air. Konsekuensinya, fauna yang
memiliki habitat di wilayah selatan menjadi lebih seragam, sementara sebaliknya di wilayah
tropis lebih beragam dari lokasi ke lokasi lain karena sifat perairannya yang relatif terisolasi.
Keberagaman lain yang menjadi dampak dari perubahan konfigurasi lempeng
samudera-benua di Bumi adalah perbedaan paleoklimatologi yang terjadi di belahan Bumi
bagian utara dengan belahan Bumi bagian selatan, yang disebabkan oleh 4 faktor yaitu (James
Croll, 1875): (1) Benua Antartika yang semakin bersalju mengakibatkan pergeseran zona
iklim dingin ke arah utara; (2) lempeng benua di wilayah ekuator secara umum bergeser ke
arah utara, hal ini mengakibatkan pusat pertukaran panas bergeser ke arah utara; (3)
terangkatnya Tibet dan Pegunungan Himalaya sebagai akibat dari kolisi Lempeng Eurasia dan
Lempeng India berimplikasi terhadap monsoon yang semakin kuat dan bertambahnya
intensitas pelapukan; (4) konfigurasi geografis yang unik dari cekungan Samudera Atlantik
dan Pasifik mengakibatkan defleksi arus ekuator menuju ke arah barat. Pada faktanya, di
wilayah Samudera Atlantik Utara arus dalam yang lebih dingin bermigrasi menuju selatan.
Sebaliknya, ia menerima arus dangkal yang relatif lebih hangat dari berbagai perairan.
Peristiwa ini dinamakan Nordic Heat Pump dengan mekanisme warm water in, cold water
out. Kesimpulannya adalah panas yang dimiliki belahan Bumi bagian selatan bermigrasi
menuju belahan Bumi bagian utara.
Peristiwa Nordic Heat Pump ini belum diketahui secara pasti kapan terjadi, namun
terdapat beberapa bukti dari perbedaan kimiawi antara Samudera Pasifik dengan Samudera
Atlantik. Ketika Atlantik Utara memproduksi arus dalam yang dingin lalu meneruskannya ke
arah selatan, pada saat itu juga mengirimkan nurien dan silika terlarut mengikuti arah alilran
arus dalam. Selain itu, untuk mencapai densitas yang tepat untuk membuat arus dalam maka
harus meningkatkan salinitas dengan cara mengirimkan uap air ke Pasifik Utara. Dengan
demikian menghasilkan pola sirkulasi estuarine yang dalam dengan nutrien dan silika yang
tinggi semakin bertambahnya kedalaman. Ketika terjadi peristiwa Nordic Heat Pump,
hasilnya adalah jarang ditemukan sedimen silikaan di Atlantik Utara, sementara di Pasifik
Utara melimpah. Dari catatan pengendapan silika ini, perbedaan Pasifik-Atlantik semakin
meningkat saat 10-15 jtl, hal ini juga diperkirakan sebagai klimaks maksimum peristiwa
Nordic Heat Pump.
Pada saat Nordic Heat Pump aktif, asimetri utara-selatan akan semakin melebar dan
seharusnya zaman es cenderung terjadi di Antartika saja. Namun, pada kenyataannya pernah
terjadi pendinginan di wilayah utara (2,5-3,5 jtl), ternyata peristiwa ini berasosiasi dengan
regresi air laut saat Plio-Pleistosen. Ditambah orogenesa dan pergeseran daratan ke arah utara
yang membantu salju untuk menetap lebih lama kondisi yang diperlukan untuk terjadi
glasiasi.
Pertukaran silika yang terjadi 10-15 jtl mengakibatkan terjadinya zaman es di belahan
Bumi bagian utara. Pada foraminifera bentonik telah diteliti catatan isotop oksigen yang
hasilnya menandakan penambahan oksigen secara drastis (13-15 jtl). Pertambahan ini
menunjukkan bahwa terjadi pertumbuhan es di Antartika dan perairan laut dalam (abisal).
Peningkatan keberagaman foraminifera planktonik mengindikasikan berkembangnya
thermocline di bawah permukaan air hangat sehingga menyediakan habitat yang beragam
untuk plankton berkembang biak dan oleh hal ini pula menjadikan spesies plankton semakin
beragam.
Pendinginan ini dipercaya diakibatkan karena kecenderungan isotop Karbon (C) yang
mengikat unsur berat. Anomali perilaku isotop karbon ini terlihat di seluruh samudera dan di
seluruh kedalaman. Hal ini berlangsung bersamaan dengan peristiwa pengendapan sedimen
kaya organik yang melimpah di tepi Pasifik. Peningkatan pengendapan organik
mengakibatkan ekstraksi 12C dari samudera, sehingga karbon inorganik yang terlarut di air
kaya dengan isotop 13C, alhasil rasio 13C/12C meningkat. Hubungan antara sedimentasi di tepi
Pasifik dengan catatan isotop sedimen laut dalam benar adanya. Meningkatnya pengendapan
karbon organik bertanggungjawab atas pendinginan di Miosen Tengah karena ekstraksi
karbon dari samudera menyebabkan penurunan kandungan CO2 di atmosfer sehingga
membantu perkembangan pembentukan es di Bumi.
Akhir kala Eosen meninggalkan teka-teki bagi peneliti sedimen laut dalam, karena
faktanya mereka menemukan lapisan baturijang saat melakukan pengeboran di wilayah
Atlantik Utara bagian barat. Penelitian lebih lanjut menyatakan bahwa ternyata lapisan
baturijang ini ditemukan di banyak titik di seluruh dasar samudera. Mereka berpendapat
bahwa terjadi banyak perubahan menjelang akhir Eosen, di antaranya adalah pendinginan
wilayah kutub yang membuat garis kutub bergeser semakin ke arah ekuator.

6. Batas Kapur-Tersier

Batas antara zaman Kapur-Tersier ditandai oleh jeda (break) biostratigrafi yang
menunjukkan pergantian era reptil oleh era mamalia. Kepunahan massal ini juga terjadi di
dunia bawah laut, pada peneliti biostratigrafi juga menemukan petunjuk kepunahan plankton
pada sedimen pelagik. Hasil penelitian dari DSDP juga mengkonfirmasi terjadinya kepunahan
ini dan menyatakan bahwa hal ini terjadi pada skala besar di seluruh dunia. Musibah ini
diperkirakan terjadi pada waktu geologi yang relatif singkat, sekitar 100.000 tahun.
Penyebab kepunahan massal yang menghentikan populasi reptil secara global
sebenarnya masih diperdebatkan dan belum diketahui secara pasti faktor apa yang paling
berpengaruh, namun para geolog memberikan hipotesis yang mendukung terjadinya peristiwa
ini, di antaranya adalah radiasi dari supernova, gas beracun dari komet yang masuk ke dalam
atmosfir, vulkanisme skala besar, hingga tumbukan meteorit ke permukaan Bumi. Hipotesis
yang paling populer saat ini adalah peristiwa tumbukan meteorit. Bukti kuat yang
menunjukkan hal ini adalah pengkayaan unsur iridium dan kehadiran shocked quartz tepat
pada batas K/T. Salah satu kandidat lokasi tumbukan meteorit penyebab kepunahan massal ini
adalah kawah berdiameter 200 km di Yucatn, Semenanjung Meksiko. Kepunahan massal
tidak terjadi secara instan seperti halnya tumbukan meteorit, adalah musibah turunan dari
tumbukan meteorit yang menjadi penyebab mengapa kepunahan massal terjadi dalam skala
global, di antaranya atmosfer yang gelap menutupi masuknya sinar matahari, hujan asam dan
peningkatan temperatur akibat gas rumah kaca.
7. Pelat Stratigrafi dan Fluktuasi CCD

Untuk menginterpretasi sampel lantai samudera secara benar dan tepat, sedimen harus
diletakkan pada derajat lintang dan kedalaman yang sebenarnya agar dapat diketahui waktu
pengendapannya, metode ini dinamakan sebagai backtracking. Horizontal backtracking
dilakukan dengan cara membalikkan jalur pengeboran. Metode ini baik untuk mendapatkan
lokasi lintang purba. Vertical backtracking diperlukan setiap kali ingin mengetahui hal-hal
yang berkaitan dengan kedalaman air laut seperti kadar karbonat, laju sedimentasi, maupun
pengawetan fosil karbonat. Letak CCD (Carbonate Compensation Depth) purba di bawah laut
dapat diketahui dengan menggunakan metode backtracking, berikut adalah langkah-
langkahnya.
1) Identifikasi titik yang sesuai dengan umur dasar laut (basement) pada kurva subsidence.
2) Hitung tebal yang menunjukkan lapisan yang sama untuk menentukan kedalaman
deposisi. Dari parameter ini kita dapat memperkirakan paleodepth (kedalaman purba)
untuk dibandingkan dengan kedalaman saat ini.
3) Untuk mengkoreksi paleodepth, ketebalan sedimen yang terakumulasi sejak pengendapan
awal harus dikurangi 1,5 agar memperhitungkan faktor kenaikan dasar laut dan penurunan
isostatik.
4) Hasil dari perhitungan tersebut dinamakan paleodepth atau sama dengan paleo-CCD, titik
ini merupakan kedalaman transisi perubahan fasies karbonat menjadi non-karbonat.

Untuk merekonstruksi fluktuasi CCD dari titik pengeboran yang satu ke titik lain
dalam wilayah yang luas maka diperlukan penerapan prosedur di atas pada semua titik, lalu
di-plot pada diagram umur-kedalaman untuk mendapatkan kurva perubahan fluktuasi CCD
dari waktu ke waktu. Rekonstruksi fluktuasi CCD memberikan informasi bagaimana
dinamika kerja arus laut dalam, produktivitas karbonat secara regional, serta memberikan
gambaran mengenai kondisi kimia air laut terhadap kandungan CO2 di atmosfir.
Secara umum, fluktuasi di Atlantik dan Pasifik tidak berbeda jauh walaupun grafik
menunjukkan puncak dan lembah pada kedalaman yang berbeda. Pada Eosen Akhir, CCD
berada pada kedalaman yang dangkal, kemudian pada batas Eosen-Oligosen semakin
mendalam, lalu kembali naik pada Miosen, dan akhirnya mendalam kembali seperti saat ini
yaitu berkisar pada kedalaman 4,3 km. Dari data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa
kondisi kimiawi perairan samudera berubah-ubah dari waktu ke waktu dalam skala global.
Sebagai perbandingan, fluktuasi CCD dengan metode stratigrafi 18O menunjukkan bahwa
setiap terjadi kenaikan muka air laut dicirikan oleh kedalaman CCD yang dangkal dan
wilayah kutub yang hangat, sebaliknya, bila terjadi penurunan muka air laut maka CCD
mendalam dan wilayah kutub yang dingin.

Gambar 4. Rekonstruksi fluktuasi CCD di Samudera Atlantik dan Pasifik.


Hubungan antara dinamika perubahan muka air laut dengan fluktuasi CCD dijelaskan
dalam konsep fraksinasi cekungan-paparan. Paparan samudera merupakan tempat yang baik
bagi terbentuknya karbonat karena memiliki kedalaman yang relatif dangkal, selain itu juga
merupakan lingkungan jenuh karbonat dan memiliki tekanan relatif rendah. Ketika paparan
samudera mengalami pembanjiran maka akan terbentuk karbonat sementara laut dalam tidak
akan menerima pasokan karbonat. Sebaliknya, bila paparan samudera tidak dapat menahan
karbonat maka laut dalam akan menampungnya. Dengan begitu, dinamika perubahan muka
air laut merupakan faktor terpenting dalam pembentukan karbonat, temperatur air laut
merupakan faktor terpenting selanjutnya sebagai faktor turunan dari dinamika perubahan
muka air laut.

8. Perairan Samudera Zaman Kapur: Pertanyaan Mengenai Oksigenasi

Penurunan kadar oksigen secara drastis dalam air laut terjadi pada Zaman Kapur,
peristiwa ini disebut sebagai anoxic event. Dalam peristiwa ini terjadi pengendapan
sedimen kaya akan material organik pada Kapur Tengah. Hal ini mengindikasikan dua hal
yaitu, tingginya pasokan material organik menuju dasar laut dan minimnya kehilangan
material organik karena kadar oksigen rendah.
Kecenderungan material organik dengan kadar tinggi untuk mengendap terjadi pada 2
kondisi berikut: cekungan tertutup dengan sirkulasi estuarine (contoh: Laut Baltik dan Laut
Hitam) dan lereng benua pada laut terbuka (contoh: Laut Arab, Teluk California). Analogi
yang digunakan untuk menghubungkan pengendapan material organik dengan kadar oksigen
adalah bila pengendapan material organik terjadi di lingkungan tertutup maka kawasan
aerobik hanya terletak dekat permukaan air saja sehingga kandungan oksigen akan sedikit,
lingkungan ini akan cenderung mengendapkan endapan lempung hitam, sebaliknya bila
pengendapan terjadi di lingkungan terbuka kawasan aerobik tidak hanya ditemukan di dekat
permukaan tetapi juga di lereng benua sehingga kandungan oksigen akan besar. Faktanya,
produktivitas material organik cenderung menurun dibandingkan dengan saat ini, sehingga
faktor utama dalam menentukan tingginya endapan kaya material organik adalah kadar
oksigen yang rendah.

Gambar 5. Analogi modern untuk pengendapan lempung hitam. (a) merupakan ilustrasi dari lingkungan
perairan tertutup, (b) merupakan ilustrasi dari lingkungan perairan terbuka.

Saat ini, temperatur air laut berkisar pada 0-5C dan saturasi oksigen sekitar 7,5 mL/L.
Bila dibandingkan dengan air laut pada Zaman Kapur, temperatur lebih hangat, yaitu sekitar
15C dan saturasi oksigen 5,5 mL/L. Bila dihubungkan dengan pengendapan material organik,
ternyata temperatur mempengaruhi kadar oksigen yang kemudian mengontrol pengendapan
material organik.
Perselingan antara fasies kaya organik dan kaya karbonat pada sedimen pelagik di
Pegunungan Italia berumur Kapur menunjukkan sebuah siklus yang berulang. Namun siklus
ini masih dipertanyakan apakah dipengaruhi oleh faktor luar Bumi (Siklus Milankovitch)
ataukah hanya dipengaruhi oleh faktor fluktuasi material organik dan kadar oksigen?
Peristiwa Anoksik dapat dikaitkan juga dengan peristiwa vulkanisme. Diusulkan oleh
S.O. Schlanger dan H.C. Jenkyns, Oceanic Anoxic Events (OAE) merupakan teori yang
mengatakan bahwa peristiwa vulkanisme hebat Ontong Java Plateau di Papua Nugini (120
jtl) bertanggung jawab atas pelepasan kadar CO2 ke atmosfer, hal ini berdampak pada sulitnya
perkembangan proses aerobik di bawah laut sehingga hanya terjadi proses anaerob.