Anda di halaman 1dari 55

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Bogor sebagai penyelenggaran


pendidikan tinggi bidang Penyuluhan Pertanian dan Penyuluhan Peternakan di
lingkungan Kementrian Pertanian bertujuan menghasilkan penyuluh pertanian
Ahli dan Praktisi Agribisnis yang akan bermitra dengan pelaku utama dan pelaku
usaha (STPP Bogor, 2017).

Praktisi agribisnis dapat bersaing di era MEA (Masyarakat Ekonomi


ASEAN) maupun perdagangan bebas lainnya jika mampu mengelola kegiatan
agribisnis. Pengembangan agribisnis mencakup lima fungsi kunci, yaitu
pengembangan manajemen agribisnis, manajemen hasil pertanian, manajemen
pemasaran hasil pertanian, penyediaan sarana dan prasarana serta jasa pendukung
pertanian. Jika kelima fungsi kunci tersebut dijabarkan akan memperlihatkan
kesatuan kegiatan yang saling terkait. Manajemen agribisnis mempunyai fungsi
utama manajemen produksi dan operasi, manajemen pemasaran, manajemen
keuangan, manajemen sumberdaya manusia, manajemen pengendalian mutu dan
manajemen resiko. Manajemen hasil pertanian mempunyai fungsi utama
penanganan pasca panen, pengolahan hasil pertanian, penanganan logistik dan
pengendalian mutu. Manajemen pemasaran hasil pertanian mempunyai fungsi
utama sistem informasi pasar, jaringan pemasaran, sarana dan kelembagaan pasar
dan pengendalian mutu. Penyediaan sarana dan prasarana pertanian mempunyai
fungsi utama yaitu lahan pertanian, sarana produksi pertanian, pengadaan,
distribusi alsintan dan pengendalian mutu. Jasa pendukung pertanian mempunyai
fungsi utama penelitian dan pengembangan, pendidikan dan pelatihan,
penyuluhan dan pengembangan, pendidikan dan pelatihan, penyuluhan, jasa
konsultan, perbankan, jasa manajemen OPT dan pengendalian mutu (STPP Bogor,
2017).
2

Proses pembelajaran untuk menghasilkan praktisi agribisnis dilaksanakan


dengan sistem yang terdiri atas kuliah klasikal, praktik mata kuliah, Praktik Kerja
Lapangan (PKL) dan Penugasan Akhir (PA). PKL bertujuan untuk memberi bekal
dan pengalaman kepada mahasiswa agar terlibat langsung dalam kegiatan
lapangan. PKL I dilaksanakan secara mandiri pada semester IV dengan capaian
pembelajaran tentang agribisnis, dengan bobot dua SKS atau sepadan dengan 21
hari kerja efektif di lapangan. Metode pembelajaran yang dilaksanakan dalam
PKL I adalah magang (STPP Bogor, 2017).

Magang yang dipilih pada PKL I adalah magang budidaya domba.


Pemilihan materi magang ini didasarkan pertimbangan untuk mengetahui dan
mempelajari serta menambah keterampilan tentang manajemen budidaya domba
di Bangun Karso Farm.

Tujuan
Kegiatan PKL I bertujuan untuk memberi bekal dan pengalaman kepada
mahasiswa agar mampu melakukan wirausaha di bidang agribisnis, yang meliputi
aspek :
1. Pengetahuan : Pengenalan fungsi/unit agribisis yang diusahakan, termasuk
pengenalan permasalahan pada unit usaha dan rumusan pemecahan
masalahnya terutama pada subsistem budidaya domba.
2. Keterampilan: Meningkatkan keterampilan merencanakan wirausaha
minimal salah satu subsistem agribisnis sebagai satu kegiatan yang saling
terkait pada subsistem budidaya domba.
3. Sikap : Menumbuhkan mental/jiwa wirausaha, rasa percaya diri, tangguh,
kreatif, inovatif, dinamis, disiplin, dan bertanggung jawab.
3

Manfaat
Kegiatan PKL I diharapkan memberikan manfaat bagi mahasiswa berupa :
1. Meningkatkan pengetahuan mahasiswa dalam menganalisis permasalahan
dan merumuskan pemecahan masalah pada usaha agribisnis;
2. Meningkatkan keterampiilan mahasiswa dalam merencanakan wirausaha
pada minimal salah satu subsistem agribisnis;
3. Mewujudkan mental/jiwa wirausaha, menumbuhkan rasa percaya diri,
tangguh, kreatif, dinamis, disiplin, bertanggung jawab dan inovasi.
4

TINJAUAN TEORITIS
Manajemen Budidaya Domba

Usaha budidaya domba merupakan usaha peternakan yang penerapannya


cukup sederhana namun menjanjikan. Modal yang dibutuhkan tidak begitu besar
setiap orang dapat melakukan usaha ini, perputaran modal kerja pun relatif cepat.
Permintaan terhadap domba di dalam negeri cukup tinggi baik itu untuk konsumsi
maupun untuk keperluan Aqikah dan akan menjadi sangat tinggi menjelang hari
raya haji. Permintaan di luar negeri pun terus meningkat terutama untuk Negara-
negara di Asia, Eropa dan Amerika.
Usaha budidaya domba dapat membawa hasil yang memuaskan kalau
dikelola secara baik. Pengelolaan tersebut bukan hal yang mudah. Dalamnya
peternak mesti memahami dengan benar seluk-beluk domba. Artinya, peternak
tidak sekedar memelihara domba, tetapi perlu menentukan bibit yang baik,
membangun kandang yang baik serta memberikan pakan yang baik untuk ternak.

Perkandangan
Kandang dalam komoditas domba merupakan kandang intensif dan semi
intensif. Kandang intensif tersebut terdiri dari kandang domba individu,
sedangkan kandang semi intensif terdiri dari kandang domba umbaran. Kandang
merupakan tempat untuk ternak melakukan sebagian besar aktivitas hidupnya dan
berfungsi untuk melindungi ternak dari hewan pemangsa, mencegah ternak agar
tidak merusak tanaman, tempat makan dan minum, tempat kawin dan beranak,
tempat tidur dan beristirahat. Ternak banyak menghabiskan waktunya didalam
kandang (Kusmantoro, 2008)
Domba yang diternak secara intensif membutuhkan perhatian penuh dari
pemiliknya, berupa kegiatan rutin sehari-hari dan kegiatan insidental. Perhatian itu
mutlak karena kehidupan ternak sepenuhnya terkurung di dalam kandang. Seumur
hidup, domba berada di kandang dan tidak bisa berkeliaran kemana-mana.
Kandang intensif terdiri dari dua jenis, yaitu kandang koloni dan kandang
individual (Anonimous, 2011).
Beternak domba secara semi intensif adalah kegiatan pemeliharaan ternak
domba dengan sistem penggembalaan yang dilakukan secara teratur dan baik.
5

Selain itu, pemilik juga menyediakan kandang untuk dihuni dan sebagai tempat
tidur ternaknya pada malam hari. Umumnya, lokasi kandang terpisah cukup jauh
dari rumah tinggal dalam kondisi tertentu, pemilik sudah mulai menaruh perhatian
khusus terhadap ternak domba yang dipeliharanya, terutama ketika ternak akan
melahirkan dan digemukkan untuk dipotong. Perlakuan pada domba untuk kedua
tujuan tersebut adalah mengurung domba selama sehari penuh (Anonimous,
2011).
Kandang umbaran jika tampak atas dapat dilihat bahwa kandang dibagi
dua bagian, yaitu kandang yang tertutup oleh atap dan kandang yang tanpa atap.
Kandang yang tertutup atap digunakan domba untuk istirahat dan makan,
sedangkan kandang tanpa atap digunakan ternak untuk exercise.
Kemiringan lantai kandang berbeda-beda tiap jenisnya. Kandang umbaran
memiliki kemiringan 13,5%, kandang individu mempunyai kemiringan 0%, dan
kandang koloni berkemiringan 0%.
Jenis dan luas kandang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. Kandang
umbaran memilikin ukuran 17 m x 16,85 m. Kandang individu berukuran 13,75 m
x 4,75 m, kandang karantina 1 berukuran 7,3 m x 2,19 m, dan kandang karantina 2
berukuran 6,3 m x 2,85 m.
Luas tempat pakan kandang umbaran, kandang individu, kandang koloni,
kandang karantina 1 dan kandang karantina 2 berturut-turut 79 cm x 47 cm x 74
cm, 45 cm x 20 cm x 17 cm, 270 cm x 28 cm x 28 cm, 155 cm x 46 cm x 43 cm.
Tempat minum untuk kandang umbaran, kandang koloni, kandang karantina 1 dan
kandang karantina 2 berdiameter sama yaitu 52 cm, sedangkan untuk kandang
individu 40 cm.

Peralatan kandang yang tersedia dan sebaiknya ada dalam sebuah


peternakan antara lain sekop yang berfungsi untuk membersihkan kotoran dan
mengambil pakan, sapu lidi berfungsi membersihkan kandang dari kotoran-
kotoran yang ada, garutan untuk membersihkan lantai, ember untuk mengangkut
pakan dan tempat air, troli untuk mobilisasi pakan, selang berfungsi untuk
mengalirkan air, chopper sebagai alat untuk memotong-motong tumbuahan pakan
wool saver untuk mencukur bulu domba, ear tag sebagai penandaan ternak yang
dipasang di kuping, ear notch tag merupakan alat untuk memasang ear tag, tatah
6

atau tang berfungsi untuk memotong kuku ternak, pisau rennet untuk
membersihkan kuku, sikat untuk menyikat bulu agar bersih, dan gunting untuk
memotong. Fasilitas yang harus ada didalam satu area peternakan meliputi
kandang, lahan hijauan, gudang, jembatan timbang, instalasi pengolahan limbah,
instalasi air, instalasi listrik, handling yard, kantor, mess, dan pos satpam (Widi et
al., 2008).

Seleksi Bibit
Pemilihan Bibit
Pemilihan bibit dibedakan menjadi dua, yaitu bibit yang digunakan untuk
induk dan bibit yang digunakan untuk pejantan. Bibit yang digunakan untuk
indukan memiliki kriteria : alat reproduksi normal, ambing normal dan lengkap,
bentuknya simetri dan besar, dan tidak menunjukkan gejala kemandulan, pinggul
lebar, pertulangan dan otot kokoh, mothering ability bagus, litter size baik, nafsu
makan baik, bulu bersih mengkilap, berasal dari keturunan yang tidak sedarah,
sedangkan bibit yang digunakan untuk pejantan memiliki kriteria sehat, tidak
cacat fisik, bulu bersih, umur antara 1-1,5 tahun, profil atas muka cembung, kaki
lurus dan kuat, tanduk bagus, libido tinggi, serta tidak berasal dari keturunan yang
sedarah. Beberapa patokan untuk memilih indukan yang baik adalah sehat dan
tidak mengidap penyakit, alat reproduksi normal, konformasi tubuh seimbang
antara bagian depan dan belakang. Untuk pemilihan pejantan berdasarkan
penampilan yaitu postur tubuh tinggi, besar, dada lebar dan dalam, kaki kuat,
lurus dan mata bersinar, bulu halus, testis simetris dan normal (Widi et al.,
2008).
Metode yang digunakan dalam melakukan sistem seleksi yaitu
pengamatan dan pengukuran yang dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif yang
dilakukan secara individu dan populasi. Sistemnya dengan menggunakan sistem
seleksi. Pengamatan dan pengukuran secara kualitatif dan kuantitatif tersebut
antara lain :
1. Kualitatif
Kombinasi antara ekor ngabuntut bagong atau ngabuntut beurit (bentuk
ekor domba yang berbentuk segitiga dengan timbunan lemak atau tanpa timbunan
lemak pada pangkal ekor dan mengecil pada ujung ekor) dengan kuping yang
7

rudimenter atau rumpung (< 4 cm) atau ngadaun hiris (4-8 cm). Selain ciri khas
diatas, maka dalam melakukan pemilihan bibit ternak, peternak juga harus
memperhatikan beberapa hal lainnya yaitu: umur muda (12-18 bulan), sehat dan
tidak cacat, muka lebar dan panjang, dada lebar dan dalam, tubuh besar dan
panjang, punggung lurus dan rata, kaki lurus dan kuat, penampilan gagah dan
aktif, nafsu kawinnya besar, temperamen/sifat keibuan (mengasuh anak) baik dan
memiliki tanduk yang besar dan subur, tidak pernah mengalami gangguan
reproduksi, sebaiknya berasal dari keturunan unggul, pertumbuhan baik dan cepat
serta keturunan kembar, baik bapaknya maupun induknya serta berasal dari daerah
yang bebas dari penyakit menular.
2. Kuantitatif
Cara pengamatan secara kuantitatif dilakukan dengan pengukuran biometri
tubuh, antara lain : Berat badan, panjang badan, tinggi pundak, dan lingkar dada.
Kriteria seleksi yang dilakukan dalam memilih bibit baik pejantan maupun
induk didasarkan atas prestasi performans dirinya sendiri, dengan menggunakan
metode secara penyingkiran bebas dari yang tidak berkualitas sehingga akan di
dapat pejantan maupun indukan yang benarbenar berkualitas yaitu seleksi yang
dilakukan atas dasar beberapa macam kreteria yang dilakukan satu persatu,
parameter atau ukurannya adalah sebagai berikut :
Berat Sapih (kurang lebih 120 hari);
Berat Badan 1 tahun (kurang lebih 365 hari);
Uji libido dan kualitas sperma (jantan) dan reproduksi (betina) baik.

Ada beberapa tahapan yang harus dijalankan dalam melakukan seleksi


mulai dari anak sampai dewasa yang terdiri dari 3 tahap, antara lain:

1. Seleksi Tahap Ke-1


Seleksi anak baik jantan maupun betina pertama kali dilakukan pada saat
di sapih, dimana standar umur sapih yaitu umur 4 bulan (120 hari). Sebelum
dilakukan tahap seleksi yang pertama, maka berat lahir dari masing-masing
individu harus terlebih dahulu ditimbang. Hal ini dilakukan sebagai data
pendukung dalam melakukan seleksi tahap pertama (Berat Sapih 120). Jika data
berat lahir tidak diketahui, maka untuk memperkecil kesalahan, penimbangan
8

anak harus tepat pada umur 120 hari, sehingga dengan demikian untuk anak
tersebut akan mendapatkan Berat Sapih 120 dari berat hidupnya. Sistem seleksi
yang digunakan yaitu seleksi populasi dengan parameter yang diamati yaitu :
Berat Badan. Adapun tujuan dari penyeleksian pada tahap pertama yaitu untuk
mengidentifikasi induk induk yang baik.

2. Seleksi Tahap Ke-2


Bentuk atau tekstur tubuh setelah disapih merupakan indikator yang sangat
penting, karena bentuk tubuh yang dicapai oleh ternak tersebut merupakan
kemampuan dari individu ternak itu sendiri, karena adanya pengaruh induk sudah
dianggap tidak ada lagi. Untuk mengetahui perkembangannya maka anakan
tersebut akan dilakukan penimbangan setiap 14 bulan sekali sejak umur 512
bulan. Seleksi tahap kedua dilakukan pada saat umur 12 bulan atau 365 hari
(BB.12), dimana sistem seleksi yang digunakan yaitu seleksi populasi dengan
parameter utama yang diamati yaitu: Berat Badan dan parameter pendukung yang
diamati yaitu: Panjang Badan, Lingkar Dada, Tinggi Pundak dan eksterior.
Sedangkan tujuan penyelaksian pada tahap kedua ini yaitu untuk memilih calon
bibit pejantan dan indukan.

3. Seleksi Tahap Ke-3


Seleksi tahap ketiga dilakukan pada saat umur 18 24 bulan, dimana
sistem seleksi yang digunakan yaitu seleksi individu dengan parameter yang
diamati yaitu: uji libido dan uji kualitas sperma (jantan) dan reproduksi (betina).
Pada uji libido yang diamati adalah waktu pertama mencumbu betina, frekuensi
mencumbu, waktu dan frekuensi flehmen (mengangkat bibir dan kepala ke atas
pada saat bertemu betina), waktu pertama kali menaiki betina, dan waktu ejakulat.
Sedangkan pada uji kualitas sperma harus menggunakan uji laboratorium. Sedang
yang diuji adalah volume semen per ejakulat, keasaman, warna semen, konsistensi
semen, gerakan massa spermatozoa, konsentrasi spermatozoa per milimeter,
persentase motilitas spermatozoa, persentase spermatozoa hidup, dan persentase
abnormalitas spermatozoa, persentase.
9

Uji reproduksi yang dilakukan pada induk bertujuan untuk mengetahui


kemampuannya dalam menghasilkan anak yang baik. Parameter yang diamati
yaitu kemampuan reproduksinya, antara lain yaitu induk mampu melahirkan 68
bulan sekali, temperamen, sifat mengasuh baik dan produksi susu tinggi. Dimana
umur seleksi pada betina dilakukan pada umur 1824 bulan atau partus/kelahiran
pertama, sedangkan untuk jantan dilakukan pengamatannya pada umur 1,5 tahun
(Setiawan, 2011).

Transportasi
Transportasi yang digunakan untuk mobilisasi ternak masuk ataupun
keluar menggunakan mobil bak terbuka (pick up). Penggunakan alat transportasi
diharapkan paling strategis dan mudah dalam jangkauan.

Karantina
Ternak setelah melahirkan ditempatkan di kandang tersendiri yang disebut
kandang karantina. Kandang ini juga bisa digunakan bagi ternak yang sakit.
Perlakuan yang dilakukan pada ternak saat dikarantina antara lain, pemberian obat
scabies dan obat cacing, pemberian vitamin, dan recording.

Penanganan Ternak Sebelum Pembibitan


Sebelum ternak mengalami proses pembibitan sebaiknya ternak diberikan
perlakuan cek kesehatan, seleksi induk dan pejantan, pemberian pakan yang baik,
manajemen perkandangan yang baik, saat bunting dipisahkan dari kandang koloni,
dan breeding alami.
Sebelum program pembibitan ternak jantan dan betina sebaiknya diseleksi
kembali. Ternak yang terpilih diamati dan dicatat pertimbangan tampilan yang
menjadi dasar kriteria seleksi dan data pendukung lainnya, sedangkan yang tidak
terpilih akan digemukkan. Tahapan seleksi, yaitu pembentukan kelompok dasar,
penjaringan, dan pembentukan kelompok pengembang (Wiyono dan Prayogi,
2007).
10

Pakan
Bahan Pakan
Bahan pakan yang diberikan kepada ternak dapat berupa konsentrat
berbentuk mash dan hijauan segar. Konsentrat macamnya banyak, ada yang
berasal dari tanaman dengan energi tinggi atau protein tinggi misalnya dari biji
kacang-kacangan, ampas dan sisa pembuatan minyak, sedangkan yang sumber
energi tinggi umumnya adalah dari biji-bijian beras, jagung, sorghum dan millet.
Konsentrat dari hewan biasanya dengan kandungan protein kualitas tinggi
(Williamson dan Payne, 1993).
Zat gizi makanan yang diperlukan oleh ternak domba dan mutlak harus
tersedia dalam jumlah yang cukup adalah karbohidrat, lemak, protein,
vitamin, mineral dan air. Bahan pakan untuk domba pada umumnya digolongkan
dalam 4 golongan sebagai berikut:
1. Golongan Rumput-rumputan, seperti rumput gajah, benggala, brachiaria, raja,
meksiko dan rumput alam.

2. Golongan Kacang-kacangan, seperti daun lamtoro, turi, gamal daun kacang


tanah, daun kacang-kacangan, albisia, kaliandra, gliricidia dan
siratro.

3. Hasil Limbah Pertanian, seperti daun nangka, daun waru, daun dadap, daun
kembang sepatu, daun pisang, daun jagung, daun ketela pohon,
daun ketela rambat dan daun beringin.

4. Golongan Makanan Penguat (Konsentrat), seperti dedak, jagung karing, garam


dapur, bungkil kelapa, tepung ikan, bungkil kedelai, ampas tahu, ampas
kecap dan biji kapas.

Pakan untuk domba berupa campuran dari keempat golongan di atas yang
disesuaikan dengan tingkatan umur. Adapun proporsi dari campuran tersebut
adalah:

1. Ternak dewasa: rumput 75%, daun 25%


2. Induk bunting: rumput 60%, daun 40%, konsentrat 2-3 gelas

3. Induk menyusui: rumput 50%, daun 50% dan konsentrat2-3 gelas

4. Anak sebelum disapih: rumput 50%, daun 50%


11

5. Anak lepas sapih: rumput 60%, daun 40% dan konsentrat 0,51 gelas

Reproduksi
Dewasa kelamin pada ternak kambing untuk jantan adalah usia 8 bulan,
sedangkan kambing betina pada usia 15 bulan. Perkawinan yang tepat adalah pada
waktu ternak mengalami birahi, apabila perkawinan terlambat, maka sel telur
tidak bisa dibuahi, sehingga penentuan saat mengawinkan adalah 6 sampai 8 jam
setelah ternak birahi (Murtidjo, 1993).

Perawatan dan Pengamanan Biologis Ternak


Pencegahan Penyakit dan Pengendalian Penyakit
Kegiatan yang dilakukan untuk mencegah dan mengendalikan penyakit
antara lain kebersihan kandang, menjaga sanitasi, pembersihan tempat pakan dan
minum, pemotongan kuku, serta pemisahan kandang antara ternak yang sehat
dengan yang sakit keadaan lantai yang harus selalu bersihdan kering.

Penyakit
Penyakit yang sering mucul pada ternak yaitu kembung, cacingan, scabies,
mencret, dan beleken.

Penanganan Ternak
Ternak yang sedang sakit maupun sehat akan diberi obat. Macam- macam
obat tersebut antara lain:
1. Vitamin B kompleks
Vitamin ini berfungsi mencegah defesiensi, cara pemberian dengan
injeksi. Dosis untuk ternak kecil adalah 5-10 ml/hari
2. Ivomec
Obat ini berfungsi untuk mengobati scabies, cara pemberian dengan
injeksi. Dosis sapi yaitu 1 ml/50 kg berat sapi dan untuk kambing mapun domba
0,5 ml/25 kg berat badan kambing atau domba.
3. Vitamin B12
Vitamin B 12 berfungsi untuk pencegahan dari penyakit anoreksia atau
anemia.
12

4. Erlanicetyn
Obat ini untuk mengobati sakit mata pada domba. Aturan pakai 2 tetes 3-4
hari sekali.
5. Vermiprozol
Vermiprozol merupakan obat cacing. Dosisnya untuk sapi dewasa 30-40
ml/ ekor, sapi muda 15-20 ml/ekor, domba dan kambing 2-3 ml/ ekor.
6. Carbosut
Obat ini untuk mengobati kaskado.
7. Negasunt
Obat ini digunakan untuk menyemprot luka.
8. Wormectin
Obat ini sebagai obat cacing. Dosisnya untuk sapi 1 ml/ 50 kg berat badan
per hari, untuk kambing dan domba 0,5 ml/ 25 kg berat badan per hari.
9. Iodine Poudone
Merupakan obat antiseptik.
10. Norit
Obat ini untuk mengobati diare pada domba yang mengkonsumsi pakan
hijauan yang mengandung racun.
Pencegahan ternak sakit sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil
reproduksi dan produksi yang optimal. Pembersihan kandang dan pemberian
vaksin pada ternak dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit-penyakit
pada ternak.
13

METODE PELAKSANAAN

Waktu dan Tempat

PKL I dilaksanakan mulai 7 Agustus 2017 sampai dengan 25 Agustus


2017 yang berlokasi di Bangun Karso Farm Desa Palasari Kecamatan Cijeruk
Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat.

Materi Kegiatan

Materi Kegiatan adalah magang budidaya domba.

Tahapan Pelaksanaan
Orientasi
Sebelum melaksanakan kegiatan PKL, mahasiswa diberikan orientasi atas
bimbingan dari dosen di Jurusan Penyuluhan Peternakan. Dalam orientasi,
mahasiswa diberikan petunjuk serta pengenalan mengenai materi PKL. Selain itu,
mahasiswa juga dibimbing mengenai cara-cara penyusunan proposal PKL,
pelaksanaan PKL, penyusunan laporan PKL dan lain-lain.

Observasi
Kegiatan observasi dilaksanakan setelah orientasi yang bertujuan agar
mahasiswa mengetahui ruang lingkup PKL mengenai budidaya domba. Dalam
kegiatan ini, mahasiswa melakukan survei langsung dan memperoleh data dan
informasi mengenai lokasi serta kondisi perusahaan lokasi PKL.

Pelaksanaan
PKL I dilaksanakan mulai 7 Agustus 2017 sampai dengan 25 Agustus
2017 yang berlokasi di Bangun Karso Farm Desa Palasari Kecamatan Cijeruk
Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat.

Ujian
Ujian PKL I dilaksanakan pada tanggal 4 September 2017.
14

HASIL DAN PEMBAHASAN

Profil Perusahaan

Bangun Karso Farm merupakan sebuah perusahaan yang didirikan oleh


Bangun Dioro yang berlokasi di Kampung Babakan RT 01/07 Desa Palasari
Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat. Perusahaan ini mulai
berdiri pada tahun 1996 yang diawali dengan mempunyai 18 ekor domba betina
dan 25 ekor domba jantan serta tanah seluas 1,2 Ha dan saat ini luas lahan Bangun
Karso Farm seluas 18 Ha.

Pada 1997, menambah komoditi kambing perah yaitu kambing etawa


untuk dipelihara, dan pada 2002, Bangun Karso Farm menyilangkan kambing
etawa dengan kambing saanen untuk menghasilkan kambing perah yang unggul.
Pada 2010, Bangun Karso Farm menyilangkan domba priangan dengan domba
texel untuk menghasilkan domba hibrida dan pada 2015, Bangun Karso Farm
bertransformasi menjadi PT. Bangun Karso Edutechfarm.

Saat ini Bangun Karso sudah memiliki 4 kandang domba yang masing-
masing kandangnya berkapasitas 1.500 ekor domba per kandang. Selain itu,
Bangun Karso juga memiliki 1 kandang sapi serta 1 kandang kambing.

Struktur Organisasi
Struktur organisasi yang berjalan di Bangun Karso Farm sebagai berikut :
15

Jumlah karyawan yang terdapat di Bangun Karso Farm sebanyak 43 orang,


yang terdiri atas :

Pemasaran : 1 orang
Administrasi : 2 orang
Kepala kandang : 6 orang
Anak kandang : 27 orang
Kebersihan : 2 orang
Dapur : 2 orang
Taman : 3 orang

Fasilitas ruangan serta alat-alat yang dimiliki Bangun Karso Farm antara
lain :
Ruang kantor : 1 buah
Ruang kantin : 1 buah
Ruang barak : 5 buah
Kandang sapi : 1 buah
Kandang kambing : 1 buah
Kandang domba : 4 buah
Mobil bak : 4 buah
Sepeda motor : 4 buah
Timbangan : 4 buah
Dan lain-lain
16

Hal yang Mendasari Berternak Kambing dan Domba


Hal yang menjadi dasar bagi Bangun Karso Farm dalam berternak
kambing dan domba adalah :
Aspek Bisnis
Meningkatnya jumlah penduduk berpotensi meningkatkan jumlah
konsumsi kambing atau domba.
Nilai harga kambing dan domba kebal dari inflasi (harga naik).
Mudah dikembangbiakan.
Modal usaha relatif kecil.
Bisnis belum dikuasai pengusaha besar.

Aspek Religius
Sebagian besar rasul adalah peternak kambing atau domba (sunah).
Selain dikonsumsi sebagai sumber protein hewani, domba dan kambing
digunakan dalam kegiatan kekah dan kurban
Aspek Tugas Sebagai Tentara
Sarana Binter
Sarana komunikasi dengan masyarakat
Membantu program pemerintah dalam mewujudkan program ketahanan
pangan

Jenis Kegiatan Usaha Peternakan Kambing dan Domba


Jenis kegiatan usaha yang dijalankan di Bangun Karso Farm antara lain
berupa budidaya (Breeding), penggemukan (Fattening) dan perdagangan
(Trading).
17

Jenis Ternak yang Dikembangkan di Bangun Karso Farm


Jenis ternak yang dikembangkan di Bangun Karso Farm antara lain :
Kambing
Kambing Peranakan Etawa
Kambing Saanen
Kambing Safera
Kambing Boer dan Feral
Domba
Domba Priangan
Domba Texel
Domba Persilangan Texel dan Priangan (hibrida)
Sapi
Limousin
Simental
Peranakan Ongol

Hasil dan Pembahasan


Identifikasi Fungsi Kunci/Subsistem Agribisnis
Budidaya Domba
Budidaya domba merupakan proses pemeliharaan ternak domba yang
dimulai dari pemilihan bibit yang unggul, proses perkawinan, dan perawatan
cempe dari masa menyusui sampai lepas sapih. Semua dapat berjalan dengan baik
apabila kita memperhatikan kebersihan kandang, pakan yang berkualitas, dan
kesehatan ternak domba serta manajemen yang baik.
Jumlah populasi ternak domba di Bangun Karso Farm pada subsistem
budidaya sebanyak 584 ekor, yang terdiri atas 30 ekor pejantan, 318 ekor indukan
dan 249 ekor Cempe.
18

Bibit
Bibit merupakan Cempe yang akan menjadi indukan dan pejantan. Perlu
dilakukan pemilihan bibit yang baik untuk dijadikan calon indukan maupun
pejantan. Indukan dan pejantan yang baik, akan menghasilkan cempe yang baik
juga.
Bibit pada umur 5 bulan, dilakukan seleksi pemilihan bibit untuk indukan
maupun pejantan. Bibit untuk calon indukan dan pejantan, harus memenuhi
syarat-syarat. Jika pada saat pemilihan bibit, terdapat bibit yang tidak memenuhi
syarat-syarat yang ada, maka bibit tersebut dijadikan domba penggemukan
(Fattening).
Berikut adalah syarat-syarat bibit yang unggul, antara lain :
Secara umum
- Berumur minimal 1 tahun,
- Bobot badan minimal 25 kg,
- Sehat,
- Tidak cacat,
- Jelas data silsilahnya,
- Kaki tegak dan besar, dan
- Postur fisik yang baik.
Untuk indukan
- Sifat keibuan yang baik,
- Puting dan ambing yang normal, dan
- Puting ambing sebanyak 2.
Untuk pejantan
- Postur tubuh besar, dan
- Testes normal.

Perkawinan
Perkawinan indukan dan pejantan dilakukan secara alami di dalam
kandang koloni. Dalam satu kandang koloni berisi 10 ekor indukan dan 1 ekor
pejantan. Melalui sistem ini, pejantan akan otomatis mengawini indukan yang
birahi.
19

Tanda-tanda domba betina birahi :


Alat kelamin betina terlihat membengkak.
Basah.
Merah dan Hangat.
Menggerak - gerakkan ekornya.
Diam ketika dinaikkan pejantan atau domba lain.
Terlihat gelisah.
Nafsu makan menurun.
Apabila tidak dikawinkan atau tidak terjadi kebuntingan. Maka birahi akan
muncul dalam jangka waktu 19 hari kemudian.

Setelah domba betina sudah birahi, barulah dilakukan perkawinan. Berikut


langkah perkawinan ternak domba dalam budidaya (Breeding) :
Domba umur 1 tahun atau bobot 25 kg baru dikawinkan.
Alur perkawinan domba sampai melahirkan
o Penyuntikan perangsang birahi (Bovet) 0,3 ml/ekor (Betina)
o Pemandian indukan yang siap kawin.
o Setelah 3 hari penyuntikan hormon, jantan siap dimasukkan
ke kandang yang di sediakan untuk mengawini betina
(Perbandingan 1 jantan/ 10-15 betina).
o Setelah masa kawin 20 hari, pejantan diistirahatkan.
o Bulan ke 1, pengecekan bunting atau tidak.
o Masa bunting 5 bulan, bulan ke-3 dilakukan penyutikan
Calcidex plus.
o Bulan ke-5, masa kelahiran.
o Tindakan setelah kelahiran
Penyuntikan Antibiotik (VETO-XY).
Pemberian Vitamin dan Kalsium.
o 3 bulan masa laktasi (menyusui).
Bulan ke-2 penyuntikan Vitamin B-Sanplex dan
pemberian obat cacing yang masing-masing 1
ml/ekor.
20

Bulan ke-3 lepas sapih (indukan yang masih layak


dikawinkan, dikawinkan kembali dengan bantuan
hormon).
o Setelah Cempe berumur 5 bulan, dilakukan pemilihan bibit
indukan maupun pejantan.
o Setelah Cempe berumur 1 tahun (siap kawin), sebelum
dikawinkan perlu dilakukan :
Pemotongan kuku
Pencukuran bulu
Pengobatan mata
Penyuntikan Vitamin, dan
Pemberian obat cacing
o Setelah itu baru dilakukan perkawinan kembali.
o Masa produktif indukan sampai berumur 5 tahun,
sedangkan pejantan sampai berumur 6 tahun.

Perawatan Cempe
Cempe yang baru lahir, memiliki kondisi yang sangat rentan. Jika tidak
dengan penanganan yang benar, bisa mengakibatkan cempe sakit bahkan mati.
Penanganan yang perlu dilakukan untuk cempe yang baru lahir yaitu :
Kebersihan kandang perlu dijaga.
Pembersihan plasenta di tubuh cempe.
Pemberian kolostrum (susu pertama indukan).
Pemberian susu formula secara rutin selama 3 bulan (bagi cempe yang
tidak memiliki induk).
21

Jumlah kelahiran Cempe dari 7 Agustus 2017 sampai dengan 25 Agustus


2017 di Bangun Karso Farm akan dibahas pada Tabel 1.

Tabel 1. Jumlah kelahiran Cempe

No. Hari/ Tanggal Jumlah (Ekor)


1. Selasa, 8 Agustus 2017 2
2. Rabu, 9 Agustus 2017 5
3. Kamis. 10 Agustus 2017 6
4. Jumat, 11 Agustus 2017 3
5. Sabtu, 12 Agustus 2017 2
6. Minggu, 13 Agustus 2017 3
7. Rabu, 16 Agustus 2017 1
8. Sabtu, 19 Agustus 2017 2
9. Minggu, 20 Agustus 2017 3
10. Senin, 21 Agustus 2017 5
11. Rabu, 23 Agustus 2017 2
Jumlah 34

Kandang
Kandang merupakan tempat bagi ternak untuk makan serta tidur.
Kontruksi kandang akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ternak. Sistem
perkandangan yang terdapat di Bangun Karso Farm, khususnya bagian budidaya
domba (Breeding). Merupakan kandang sistem panggung yang berlantai kayu
dengan ukuran luas kandang 30 x 20 m. Kandang dibuat bersekat-sekat dan
setiap sekatnya memiliki ukuran 1,5 x 2 m untuk kandang indukan dan 3 x 2 m
untuk kandang koloni. Jarak dari lantai kandang ke lantai penampungan kotoran
yaitu 3 m. Serta jarak dari lantai kandang ke atap adalah 3 m.
Kandang dengan sistem panggung dapat memberikan keuntungan, yaitu
kotoran domba tidak perlu dibersihkan, karena langsung jatuh ke dalam
penampungan yang berada di bawah kandang. Kotoran ini dapat menjadi
penghasilan tambahan setelah menjadi pupuk.
22

Berikut adalah kontruksi kandang yang terdapat di Bangun Karso Farm :

Kandang Koloni Kandang Indukan

1,5 m

3m
2m

20 m
2m

1m

30 m
Keterangan :
: Tempat pakan dan minum
23

Pakan
Pakan yang diberikan untuk domba pada subsistem budidaya (Breeding) di
Bangun Karso Farm yaitu 75% hijauan dan 25% konsentrat, sedangkan fermentasi
hanya sebagai pakan suplemen. Pakan hijauan ini adalah sumber serat kasar (SK),
misalnya rumput lapangan, rumput gajah dan lain-lain. Untuk pakan konsentrat
adalah sebagai sumber energi dan protein. Bahan baku untuk pembuatan pakan
konsentrat di Bangun Karso Farm dicantumkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Bahan baku pembuatan pakan konsentrat di Bangun Karso Farm


Konsentrat 2 Ton
No. Bahan Baku Pemberian (%) Jumlah (Kg) Harga (Rp/Kg) Total (Rp)
1. Polar 20 400 2.700 1.080.000
2. Kopra 10 200 3.600 720.000
3. Sawit 15 300 1.700 510.000
4. SBM 5 100 7.000 700.000
5. EGM 5 100 7.500 750.000
6. Roti 10 200 2.100 420.000
7. Premix 1 20 40.000 40.000
8. Ampas Bir 35 700 1.000 700.000
Jumlah 100 2.000 4.920.000
Harga per kg ransum = Rp 2.460,00

Bahan baku pakan konsentrat tersebut memiliki kandungan nutrisi dan


fungsi yang berbeda beda, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3
(Fakultas Peternakan UNPAD, 2007 dan Prodi Peternakan Fakultas Pertanian
USU, 2013).
24

Tabel 3. Kandungan nutrisi bahan pakan


No Bahan Pakan Kandungan Nutrisi Pakan Sumber
1 Polard Bahan kering : 88,4 %,
Lemak kasar : 5,1 %,
Protein
Protein kasar : 17 %,
Serat kasar : 8,8 %,
BETN : 45 %
Abu : 24,1 %
2 Kopra Bahan kering : 90,55 %,
Lemak kasar : 11,21 %,
Protein
Protein kasar : 27,59 %,
Serat kasar : 6,85 %,
TDN : 75,33 %.
3 Bungkil Sawit Bahan kering : 92,52 %,
Lemak kasar : 11,90 %,
Protein
Protein kasar : 14,11 %,
Serat kasar : 10,32 %,
TDN : 67,43 %.
4 Bungkil Bahan Kering : 89,413 %.
Protein Kasar : 52,075 %,
Kedelai Suplemen
Lemak Kasar : 1,011 %,
Serat Kasar : 25,528 %,
TDN : 40,265 %
5 EGM Vitamin Suplemen
6 Roti Energi : 2953 kkal,
Lemak kasar : 24,34 %,
Karbohidrat
Protein kasar : 6,47 %,
Serat kasar : 0,85 %,
Abu : 1,90 %
7 Premix Vitamin ( A, D, E, K, B Kompleks ),
Metionin, dan Lysine ( Mn, Fe, Zn,
Vitamin
Co, dan Cu ) dan anti oksidan BHT.
8 Ampas Bir Bahan kering : 31,17 %, Protein
Lemak kasar : 10,25 %,
Protein kasar : 26,41 %,
TDN : 78,70 %,
Serat kasar : 7,05 %.
9 Hijauan Protein Kasar 18 %,
(Rumput Odot) Lemak Kasar 90,1 %,
Serat Kasar
TDN, 72,68 %,
Lignin 2,5 %.
10 Fermentasi Bahan kering 91,74 %,
Bahan Organik 91,31, %,
jerami jagung
Abu 6,70 %,
Protein kasar 16,19 %, Serat Kasar
Serat Kasar 15,13 %.
25

Dalam pemberian pakan, perlu diatur sedemikian rupa sehingga domba


tidak kelaparan atau kekenyangan. Pemberian pakan ternak domba seperti jenis
pakan, jumlah dan waktu dalam pemberian pakan akan dibahas pada Tabel 4.

Tabel 4. Waktu pemberian pakan ternak domba di Bangun Karso Farm


No. Waktu Pemberian Jenis Pakan Jumlah Pemberian
1. 08.00 Konsentrat 0,5 kg/ekor
2. 11.00 Minum (Bioku) Secukupnya
3. 13.00 Fermentasi Jerami Jagung 1,5 kg/ekor
4. 16.00 Hijauan Segar 2 kg/ekor

Kesehatan
Kesehatan ternak sangat menentukan keberhasilan di dalam suatu usaha
peternakan. Oleh karena itu, menjaga kesehatan ternak harus menjadi salah satu
prioritas utama yang disertai dengan kualitas pakan ternak dan pelaksanaan yang
benar.

Kegiatan penanganan kesehatan dasar untuk ternak domba, diantaranya :


Memotong kuku
Sistem pemeliharaan yang terdapat di Bangun Karso Farm, yaitu
pemeliharaan dengan domba yang selalu berada di dalam kandang. Dengan sistem
pemeliharaan tersebut, domba akan mempunyai kuku yang lebih panjang dari
pada domba yang digembala. Oleh karena itu, pemotongan kuku perlu dilakukan
secara teratur. Keterlambatan dalam pemotongan dapat mengakibatkan kerugian.
Berikut kerugian yang diakibatkan kuku ternak yang panjang :
- Kuku panjang mengakibatkan ternak susah berdiri dan berjalan.
- Ternak jantan menjadi susah menaiki betina saat kawin.
- Penyakit kuku yang sering terjadi pada domba disebabkan bagian
bawah kuku panjang dan sangat kotor yang merupakan sumber
penyakit.
26

Memandikan ternak
Ternak, terutama domba, sekali-sekali perlu dimandikan untuk menjaga
kebersihan dan kesehatan kulit dan bulu. Ternak domba yang dimandikan terlihat
lebih bersih dan lebih menarik sehingga memungkinkan akan memperoleh harga
yang lebih tinggi.
Ternak dimandikan dengan penggunaan sabun. Tujuannya agar parasit
luar, bakteri dan jamur yang tumbuh pada kulit dan bulu dapat dicegah.

Mencukur bulu
Pencukuran bulu dilakukan pada domba yang berbulu panjang atau wol.
Wol yang kotor dan gempel, merupakan tempat parasit dan dapat mengganggu
kesehatan ternak domba.
Bagi indukan domba yang akan menjelang kelahiran sebaiknya pun
dilakukan pencukuran bulu.Tujuannya untuk menghindari kotoran dan darah
menempel setelah melahirkan. Jika menempel, bulu tersebut dapat menjadi tempat
lalat berkumpul.

Penyakit
Ada beberapa penyakit yang sering menyerang di Bangun Karso Farm
antara lain :

Cacingan
Cacing tumbuh karena kondisi kandang yang kotor. Cacing yang banyak
ditemukan pada domba yang terkena penyakit cacingan adalah cacing
Haemonchus contortusi. Cacing ini hidup sebagai parasit di daerah pencernaan
domba dan menghisap sari makanan.
Tanda-tanda domba yang terkena penyakit cacingan :
- Domba akan terlihat kurus dan lemah.
- Nafsu makan berkurang dan perut membesar.
- Domba terlihat pucat.

Pemberian obat cacing seperti Kalbazen merupakan penanganan bagi


ternak yang terkena penyakit cacingan. Dengan dosis 2,5 ml/10 kg dari bobot
badan domba dan pemberian obat melalui mulut. Berikan obat cacing setiap 2-3
27

bulan sekali. Pada musim kemarau 3 bulan sekali dan pada musim penghujan 2
bulan sekali.

Kembung (Bloat)
Kembung (Bloat) dikarenakan oleh penimbunan gas dalam perut.
Tingginya akumulasi gas menekan organ dalam tubuh sehingga mengakibatkan
kesakitan, pernafasan dengan mulut terbuka atau frekuensi nafas tinggi.
Agar ternak domba tidak mengalami perut kembung, hindari pemberian
pakan domba seperti hijauan yang masih terlalu muda karena banyak mengandung
air. Sebaiknya diberi pakan hijauan yang tidak basah. Selain itu, pemberian pakan
konsentrat yang terlalu banyak tetapi kurang mendapat hijauan berserat. Dapat
menyebabkan perut kembung pada domba.
Tanda-tanda ternak domba yang mengalami perut kembung :
- Domba merasa gelisah, sakit dan susah bernafas. Perut bagian kiri
mengalami pembesaran yang bila ditepuk akan berbunyi.
- Domba jatuh dan sulit untuk berdiri, bila dibiarkan ternak domba bisa
mati.

Penanganan ternak domba yang mengalami perut kembung dengan cara


pemberian minyak nabati seperti minyak kelapa kurang lebih 100-200 ml dan
diberikan dengan cara dicekok.

Kudis (Scabies)
Kudis atau kurap pada domba disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabei.
Parasit ini terdapat pada kotoran. Kudis terjadi karena kandang domba yang
terlalu kotor. Penyakit ini sangat menular melalui kontak langsung.
Tanda-tanda ternak domba yang mengalami penyakit kudis :
- Kerak-kerak pada permukaan kulit.
- Domba sering menggesekkan bagian kulit yang terserang kudis ke
tembok.

Penanganan ternak domba yang mengalami penyakit kudis yaitu dengan


pencukuran bulu di daerah yang terserang kudis. Mandikan domba dengan cara
28

disikat dengan sabun sampai bersih kemudian jemur hingga kering. Setelah
kering, kulit yang sakit diolesi dengan oli bekas secara teratur seminggu sekali.

Belekan (Pink Eye)


Domba yang terserang penyakit belekan aktivitasnya akan terganggu, ini
dikarenakan oleh trauma dampak tertusuk ujung rambut maupun debu. Biasanya
ternak domba yang sehabis menjalani perjalanan jauh seperti pengiriman keluar
kota yang terserang belekan.
Tanda-tanda ternak domba yang mengalami belekan :
- Mata sering mengeluarkan air.
- Kelopak mata tertutup dan membengkak.
- Muncul keruh atau luka pada selaput bening mata yang berujung
kebutaan.
Penanganan pada ternak domba yang mengalami belekan yaitu dengan
cara mata domba dibersihkan dengan air hangat. Lalu diteteskan dengan obat
Super-tetra.

Orf
Penyakit Orf adalah penyakit kulit yang dapat menyerang kambing atau
domba yang disebabkan oleh virus. Jika ternak domba terkena penyakit Orf tidak
akan menyebabkan kematian tetapi akan menurunkan harga jual dari domba
tersebut.
Tanda-tanda ternak domba yang mengalami Orf :
- Munculnya bintik-bintik merah di sekitar daerah mulut domba
- Jika tidak segera diobati, makan akan berakibat melepuhnya kulit di
sekitar mulut domba yang menjadi seperti keropeng.
Penanganan pada ternak domba yang mengalami Orf yaitu dengan
pengerokan keropeng sampai terkelupas dan sedikit berdarah. Selanjutnya
diberikan super-tetra atau Betadine.

Penanganan dari segala macam penyakit tersebut harus dengan benar agar
tidak menambah angka kematian pada ternak domba. Jumlah angka kematian
29

ternak domba dari 7 Agustus 2017 sampai dengan 25 Agustus 2017 di Bangun
Karso Farm yang akan dibahas pada Tabel 5.

Tabel 5. Angka kematian ternak domba di Bangun Karso Farm


No. Hari/ Tanggal Jumlah (Ekor)
1. Selasa, 8 Agustus 2017 1
2. Rabu, 9 Agustus 2017 2
3. Jumat, 11 Agustus 2017 1
4. Senin, 21 Agustus 2017 1

Limbah
Penanganan limbah berguna untuk mengurangi terjadinya dampa
pencemaran terhadap lingkungan. Selain itu, penanganan limbah dapat
meningkatkan nilai guna dari limbah tersebut.
Limbah ternak di Bangun Karso Farm tidak dilakukan pengolahan, produk
yang dihasilkan hanya pupuk kandang yang dijual dengan harga Rp 9.000/karung.
Bobot pupuk kandang per karung rata-rata 40 kg. Pupuk kandang tersebut dijual
kepada para petani di daerah sekitar Bogor. Selain dijual, kotoran ternak dijadikan
pupuk bagi tanaman di lahan Bangun Karso Farm.

Analisis Masalah Pada Unit Usaha


Masalah merupakan suatu hambatan atau kendala dalam mencapai tujuan
yang telah direncanakan. Masalah juga dapat diartikan sebagai suatu keadaan
yang akan membuat kita tidak yakin (tidak percaya diri), ragu ragu, bingung dan
cemas.
Ciri-ciri dari masalah adalah :
Merupakan kesulitan yang harus diatasi.
Dapat dijadikan sebagai suatu tantangan dan rintangan yang harus dilalui.
Ciri masalah yang ketiga adalah mempunyai sifat penting dan realistis.
Dapat menggerakkan seseorang untuk mengatasinya atau
memecahkannya.
Berguna apabila dipecahkan dipecahkan.
30

Upaya Pemecahan Masalah


Pemecahan masalah adalah suatu proses terencana yang perlu
dilaksanakan agar memperoleh penyelesaian tertentu dari sebuah masalah yang
mungkin tidak didapat dengan segera.
Tahapan dalam pemecahan masalah yaitu sebagai berikut :
Kenali masalah secara umum/mendefinisikan masalah,
Temukan bukti dari permasalahan,
Carilah penyebab munculnya masalah,
Pertimbangkan berbagai kemungkinan untuk menemukan jalan keluar dari
masalah,
Pilihlah jalan keluar yang dengan mudah,
Laksanakan penyelasaian,
Periksa kembali dengan penyelesaian yang dilakukan.

Subsistem Breeding di Bangun Karso Farm pernah terjadi masalah serta


upaya dalam pemecahannya akan dibahas pada Tabel 6.

Tabel 6. Masalah serta pemecahannya


No. Masalah Yang Terjadi Upaya Pemecahan Masalah
1. Sulit dalam mendapatkan Usahakan agar tidak hanya bergantung
beberapa bahan baku pembuatan pada satu tempat saja dalam
konsentrat seperti ampas bir dan memperoleh bahan baku pembuatan
ampas tahu. Karena bersaing konsentrat. Atau dengan cara
dengan perusahaan lain. pergantian bahan makanan yang sulit
didapat dengan bahan makanan yang
mudah didapat serta dengan kandungan
nutrisi yang sama atau tak jauh
berbeda.
2. Saat waktu menjelang masa Idul Lakukan perluasan kandang agar
Adha. Permintaan konsumen akan kapasitas populasi dalam suatu
meningkat, dan untuk memenuhi kandang bertambah. Sehingga,
permintaan konsumen. Dilakukan populasi dalam suatu kandang tidak
pemadatan populasi dalam berlebihan. Dapat juga dengan
kandang. Ini dapat pengurangan populasi dalam suatu
mengakibatkan banyak ternak kandang. Jangan paksakan
sakit dan bahkan mati. memadatkan populasi, karena ternak
bisa sakit bahkan mati.
31

3. Kurangnya intensif dalam Penambahan jumlah tenaga kerja untuk


pemeliharaan budidaya pada saat tetap memperhatikan bagian budidaya
waktu menjelang masa Idul Adha
mengakibatkan terbengkalainya
bagian budidaya (Breeding).
4. Beberapa konsumen Lakukan pengamatan rutin seperti
membutuhkan ternak domba pendataan yang jelas pada indukan
betina untuk Idul Adha, sehingga yang sedang bunting dan segera
perusahaan menjadikan domba berikan penanganan khusus bagi
betina sebagai stok. Dan selama indukan yang sedang bunting seperti
masa pemeliharaan atau pemberian vitamin, pakan dll.
penggemukan, sulit untuk
mendeteksi ternak yang bunting.
Tak jarang domba betina
melahirkan di dalam kandang
koloni yang mengakibatkan
cempe terinjak-injak oleh domba
lain dan mati.
5. Banyak cempe yang mati. Lakukan pengamatan rutin dan
Dikarenakan kurangnya penanganan khusus bagi indukan serta
penanganan dan perhatian khusus cempe yang baru melahirkan.
untuk indukan dan cempe yang
baru lahir.
6. Tak sedikit kaki cempe terjepit di Pemberian alas berupa karpet karet
antara lubang lantai karena jarak merupakan sebuah cara agar kaki
lubang lantai yang terlalu besar. cempe tidak terjepit diantara lantai
kandang.
7. Sulitnya mengatasi penyebaran Harus segera melakukan pengadaan
penyakit. Karena tidak adanya kandang karantina (isolasi) sebagai
kandang isolasi (karantina) untuk tempat bagi ternak domba yang sakit
ternak domba yang sakit. supaya tidak terjadi penyebaran
Sehingga penyebaran penyakit penyakit yang begitu cepat. Dengan
sangat cepat. adanya kandang karantina,
pengontrolan penyakit pada ternak
domba lebih mudah.
8. Tidak melakukan vaksinasi. Lakukan program vaksinasi secara
teratur dalam pencegahan suatu
penyakit pada ternak.
9. Kurangnya perhatian khusus bagi Lakukan pengamatan rutin pada setiap
ternak yang sedang sakit. individual ternak dan segera ambil
tindakan jika ada tanda-tanda yang
tidak normal.
32

Rencana Agribisnis
Budidaya Domba
Ternak merupakan sumberdaya alam hayati yang strategis. Selain sebagai
sumber pangan (daging, susu, telur), sumber tenaga kerja, sumber pupuk,
penghasil bahan baku industri (tepung daging, tepung tulang) dan sebagai
tabungan serta yang terpenting mendukung ketahanan pangan. Pembangunan sub
sektor peternakan perlu terus dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan bahan
pangan asal hewan dan mempertahankan ketahanan pangan.

Peluang bisnis usaha budidaya domba sangat terbuka lebar karena


permintaan bakalan domba untuk penggemukan hingga permintaan domba muda
untuk kebutuhan konsumsi semakin bertambah. Budidaya domba juga sangat
penting untuk menjaga ketersediaan populasi domba. Kebutuhan protein hewani
terus mengalami peningkatan dari tahun ketahun, hal ini dikarenakan peningkatan
penghasilan dan pengetahuan masyarakat yang semakin baik akan pentingnya
makanan bergizi. Kebutuhan ini dapat dipenuhi dari hasil produk peternakan
seperti daging, telur dan susu. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
produktivitas ternak domba ialah dengan pembibitan domba. Usaha budidaya
domba juga bermanfaat untuk mencegah pemotongan domba betina produktif
seperti yang saat ini banyak terjadi. Selain itu, sarana untuk terus meningkatkan
mutu genetik domba Indonesia.

Analisis Pasar dan Pemasaran


Gambaran Pasar
Produk (ternak domba hidup) dipasarkan di wilayah Jabodetabek, dan
dipasarkan kepada peternak yang menggemukkan domba. Usia domba yang
diminta konsumen kebanyakan dibawah satu tahun atau domba muda.

Target atau Segmen yang Dituju


Target atau segmen yang dituju adalah :
1. Pasar Hewan
2. Pedagang Sate
3. Rumah Makan
4. Peternak Domba
33

Proyeksi Penjualan
Proyeksi penjualan untuk setiap periode berbeda-beda. Untuk periode
pertama akan dilepas 16 ekor, pada periode kedua bertambah menjadi 32 ekor,
periode ketiga sampai akhir akan dilepas 64 ekor.

Strategi Pemasaran
Metode pemasaraan dilakukan melalui : Personal Selling, pengepul dan
pemasaran secara online.

Analisis Pesaing
Usaha ternak domba merupakan usaha yang sangat menjanjikan dimasa
sekarang dan yang akan datang sehingga banyak yang menjalankan usaha ternak
ini. Usaha ternak domba tidak hanya dilakukan oleh peternak rakyat saja tetapi
juga oleh perusahaanperusahan yang sudah memiliki kualitas yang lebih baik.
Disamping itu, usaha peternakan ini tidak hanya dilakukan oleh peternak dari
daerah Bogor saja, tetapi usaha ini juga dilakukan oleh peternak dari luar daerah.
Salah satunya dari daerah Garut.

Analisis Produksi
Proses Produksi
Proses produksi budidaya ternak domba dimulai dari penyediaan kandang
dengan memperhatikan kontruksi. Yang kedua yaitu penyeleksian bakalan domba
yang akan dibudidaya, selanjutnya penyediaan dan pemberian pakan secara
berkelanjutan dengan ransum yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat.
Sambil berjalan, perawatan ternak juga diperhatikan meliputi memandikan ternak,
mencukur bulu ternak, memotong kuku ternak, sanitasi kandang dan pengendalian
penyakit ternak.

Bahan Baku dan Penggunaannya


Cara memperoleh bibit, pakan, dan obat-obatan dibeli dari poultry shop
terdekat, sedangkan kandang diperoleh dengan cara sewa per periode.

Kapasitas Produksi
Untuk tahap awal akan memelihara 55 ekor domba yang diantaranya 50
ekor indukan dan 5 ekor pejantan.
34

Rencana Pengembangan Produksi


Setelah indukan domba bunting dan melahirkan, anakan akan menyusu
selama 3 bulan dan lepas sapih. Setelah lepas sapih, anakan akan dijual.

Analisis Dampak Resiko Usaha


Dampak Terhadap Masyarakat
Dampak positif usaha terhadap masyarakat sekitar adalah :
1. Dapat merekrut satu tenaga kerja dari masyarakat sekitar
2. Menjadi contoh, sehingga masyarakat termotivasi untuk berwirausaha

Dampak Terhadap Lingkungan


Dampak positif dan negatif usaha terhadap lingkungan sekitar adalah :

1. Menyediakan bahan untuk pembuatan kompos atau bokhasi yaitu berupa


kotoran ternak yang dapat digunakan sebagai pupuk untuk menyuburkan
tanaman
2. Lingkungan sekitar kandang akan tercemar yang disebabkan dari kotoran
ternak.

Resiko Usaha
Resiko usaha ini adalah kerugian yang diakibatkan oleh :
1. Ternak yang sakit karena akan menurunkan harga jual
2. Pencurian ternak
3. Harga produk yang cenderung terjadi fluktuasi

Antisipasi Resiko Usaha


Untuk mengantisipasi resiko usaha maka dilakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Melakukan pencegahan penyakit, yaitu dengan melakukan sanitasi kandang
yang baik dan teratur
2. Membuat jadwal piket kandang
3. Selalu mengikuti informasi perubahan permintaan dan menahan penjualan
produk ketika harga rendah.
35

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan
Simpulan dari kegiatan PKL I yang dilaksanakan di Bangun Karso Farm
antara lain :

2. Mahasiswa mengenal fungsi/ unit agribisnis yang diusahakan, termasuk


permasalahan pada unit usaha dan rumusan pemecahan masalahnya
terutama pada subsistem budidaya domba.
3. Meningkatnya keterampilan mahasiswa dalam merencanakan wirausaha
terutama pada subsistem budidaya domba.
4. Tumbuhnya mental/jiwa wirausaha, rasa percaya diri, tangguh, kreatif,
inovatif, dinamis, disiplin dan bertanggung jawab dalam diri mahasiswa.

Saran
Saran yang dapat penulis sampaikan untuk Bangun Karso Farm,
khususnya subsistem budidaya domba adalah Bangun Karso Farm harus lebih
meningkatkan upaya dalam pemecahan masalah agar tidak menghambat proses
produksi.
36

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 2011. Beternak Semakin Untung?? Available


at:http://dombagarut.blogspot.com/2008_02_01_archive.html. Acces date:
16thOctober 2011; 23.14 WIB.
Kusmantoro, 2008. Pengembangan Ternak Sapi Potong DIY. Fakultas Peternakan
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Murtidjo, B.A. 1993. Memelihara Domba. Kanisius. Yogyakarta.

Setiawan, B. S., dan M. T. Farm. 2001. Beternak Domba dan Kambing. PT.
Agromedia Pustaka, Jakarta

[STPP Bogor] Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Bogor. 2017. Panduan


Praktik Kerja Lapangan I. Bogor: Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian
Bogor.
Widi, Baliarti, Ngadiyono, Murtidjo, Budisatria. 2008. Bahan Ajar Industri
Ternak Potong, Kerja, dan Kesayangan. Fakultas Peternakan UGM.
Yogyakarta.
Williamson, G and W. J. A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah
Tropis. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Wiyono, B. D dan Prayogi. 2007. Sistem Pembibitan Sapi Potong. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Pasuruan.
37
38

Lampiran 2. Rencana agribisnis (Agribussiness plan)

Analisis Keuangan
Asumsi

1. Pembibitan dilakukan secara alami (semi-intensif). Dilakukan dengan


mengawinkan domba indukan dan pejantan.
2. Indukan dan pejantan yang digunakan yaitu domba lokal (domba sayur
atau kampung)
3. Jumlah indukan 50 ekor dan pejantan 5 ekor, dengan bobot rata-rata 25
kg/ekor.
4. 1 periode panen selama 8 bulan.
5. Masa pakai kandang selama 64 bulan/ 6 periode.
6. Masa pakai alat dan perlengkapan selama 64 bulan atau 6 periode.
7. Penjualan anakan dilakukan setelah anakan berumur 3 bulan atau sudah
lepas sapih.

Analisa usaha

Biaya investasi.

No Nama Barang Satuan Jumlah

1 Sewa Kandang Rp 6.000.000,00


2 Alat dan Perlengkapan @1 golok, 3 sabit, tambang,
1 Sekop, 2 sapu lidi, 1 Rp 750.000,00
gunting, 1 ember, 1 gayung.
(25 kg/ ekor x Rp
Rp 56.250.000,00
3 Pembelian Indukan 45.000,00/ kg) x 50 ekor
(25 kg/ ekor x Rp
Rp 8.125.000,00
4 Pembelian Pejantan 65.000,00/ kg) x 50 ekor
5 ATK Rp 100.000,00
6 Dana Tidak Terduga Rp 775.000,00

Total Rp 72.000.000,00
39

Biaya operasional per periode.

No Biya Tetap Jumlah

1 Penyusutan Kandang 1/6 Rp 6.000.000,00 Rp 1.000.000,00

Penyusutan Alat dan


Rp 125.000,00
2 Perlengkapan 1/6 Rp 750.000,00

Total Rp 1.125.000,00

No Biaya Variabel Satuan Jumlah

Pakan dan Tenaga


Rp 8.000.000,00
1 Kerja Rp 8.000.000,00 / periode

@1 buah B 12

@1 paket alat suntik

@1 buah salep mata Rp 1.000.000,00

@1 toples kecil

2 Obat-obatan @1 buah sulpidon

3 Listrik & air @1 periode Rp 1.000.000,00

Total Rp 10.000.000,00

Total biaya oprasional = Biaya tetap + Biaya variabel


= Rp 1.125.000,00 + Rp 10.000.000,00
= Rp 11.125.000,00
40

Penerimaan

- Penerimaan = (50 ekor x 10 % Mortalitas) = Rp 27.000.000,00


anakan jantan x 8 kg/ ekor x Rp
75.000,00/ kg
- Penerimaan = (50 ekor x 10 % Mortalitas) = Rp 19.800.000,00
anakan betina x 8 kg/ ekor x Rp
55.000,00/ kg
- Penerimaan = Rp 9.000/ karung x 224 hari = Rp 2.016.000,00
kotoran (1 periode)
Jumlah = Rp 48.816.000,00

Keuntungan
Keuntungan per periode = Total Penerimaan Total Biaya Operasional

= Rp 48.816.000,00 Rp 11.125.000,00

= Rp 37.691.000,00

Keuntungan per bulan = Rp 37.691.000,00/ 8 bulan

= Rp 4.711.375,00

Pay back periode


Titik modal atau titik impas adalah perbandingan antara total investasi dengan
keuntungan yang diperoleh.

= (Total investasi : keuntungan perbulan) x 1 bulan

= (Rp 72.000.000,00 : Rp 4.711.375,00) x 1 bulan

= 15 bulan (2 periode)
41

Lampiran 3. Jurnal harian

Jurnal Harian Kegiatan PKL I


Jurusan Penyuluhan Peternakan
Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Bogor

Nama : Muhammad Adhitya Putra


NIRM : 042150654
Lokasi PKL : Bangun Karso Farm Desa Palasari Kecamatan Cijeruk
Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat

Paraf
No. Hari/Tanggal Kegiatan Pembimbing
Eksternal
1. Senin, 7 Agustus 2017 - Pengenalan Mahasiswa dan
Instansi kepada Bangun
Karso Farm.
- Observasi serta
mengidentifikasi
lingkungan Bangun Karso
Farm dan sekitarnya.
2. Selasa, 8 Agustus 2017 - Pemantauan ternak domba
(07.00 WIB).
- Penanganan cempe pasca
partus sebanyak 2 ekor
sekalogus pemberian susu
(07.15 WIB).
- Penanganan ternak domba
yang mati (07.45 WIB).
- Pemberian pakan konsentrat
(08.00 WIB).
- Penyuntikan Vitamin B-
Sanplex sebanyak 135 ekor
domba (08.30 WIB).
- Pemberian minum dengan
campuran Bioku (09.30
WIB).
- Pemberian konsentrat
(14.00 WIB).
- Pemberian minum dengan
campuran Bioku (14.15
WIB).
- Pengaturan jumlah domba
42

dalam setiap sekat di


kandang dalam rangka
persiapan hewan Qurban
untuk Idul Adha (14.30
WIB).
- Pemberian hijauan (16.30
WIB).
3. Rabu, 9 Agustus 2017 - Pemantauan ternak domba
(07.00 WIB).
- Penanganan cempe pasca
partus sebanyak 3 ekor
sekaligus pemberian susu
(07.15 WIB).
- Penanganan ternak domba
yang mati sebanyak 2 ekor
(07.45 WIB).
- Pemberian pakan konsentrat
(08.00 WIB).
- Penanganan kelahiran
domba, melahirkan 2 ekor
cempe (10.00 WIB).
- Pemindahan ternak domba
dari kandang 3 menuju
kandang 1 sebanyak 88 ekor
(10.30 WIB).
- Pembuatan kalung identitas
ternak (14.00 WIB).
- Pemberian susu pada cempe
(15.00 WIB).
- Pemberian minum dengan
campuran Bioku (15.30
WIB).
- Pemberian Hijauan (16.00
WIB).
4. Kamis, 10 Agustus 2017 - Pemantauan ternak domba
(07.30 WIB).
- Penanganan cempe pasca
partus sebanyak 3 ekor
(08.00 WIB).
- Pemberian susu untuk
cempe (08.30 WIB).
- Penyuntikan Vitamin B-
Sanplex sebanyak 54 ekor
domba (08.45 WIB).
- Memandikan ternak domba
(10.00 WIB).
- Pemberian pakan dengan
fermentasi (13.30 WIB).
43

- Penanganan cempe pasca


partus sebanyak 3 ekor
(14.00 WIB).
- Penerimaan domba yang
baru datang dan
dimasukkan menuju
kandang koloni sebanyak
300 untuk persiapan Qurban
Idul Adha (15.00 WIB).
5. Jumat, 11 Agustus - Pemantauan ternak domba
2017 di kandang (07.15 WIB).
- Penanganan ternak domba
yang mati sebanyak 1 ekor
(07.20 WIB)
- Penanganan cempe pasca
partus sebanyak 3 ekor
cempe (07.40 WIB).
- Penyuntikan Antibiotik
Kaloxy untuk induk domba
pasca partus (08.00 WIB).
- Penyuntikan Vitamin B-
Sanplex sebanyak 300 ekor
domba (08.30 WIB).
6. Sabtu, 12 Agustus 2017 - Pemantauan ternak domba
di kandang (07.30 WIB).
- Penanganan cempe pasca
partus sebanyak 2 ekor
(07.40 WIB).
- Penyuntikan Antibiotik
Kaloxy untuk induk domba
pasca partus (08.00 WIB).
- Persiapan penelitian PBB
ternak domba dengan
menggunakan pakan baru
Pemilihan sampel
sebanyak 20 ekor
domba betina secara
acak.
Penimbangan BB awal.
Pukul 08.00 :
Pemberian Konsentrat
500 g + Ovialis 50 g +
Ampas Tahu 200 g +
Premix 3 g/ekor.
Pukul 11.00 :
Pemberian minum
dengan campuran
Bioku.
44

Pukul 11.30 :
Fermentasi jerami
jagung 200 g/ekor.
Pukul 13.30 :
Konsentrat 500 g +
Ovialis 50 g + Ampas
Tahu 200 g/ekor.
Pukul 16.00 :
Pemberian hijauan
segar 1 Kg/ekor.
7. Minggu, 13 Agustus - Menangani kelahiran
2017 domba sebanyak 3 ekor
cempe (09.30 WIB).
- Penyuntikan Antibiotik
Kaloxy untuk induk pasca
partus (10.00 WIB).
- Hari ke-2 penelitian PBB
ternak domba dengan
menggunakan pakan baru
Pukul 08.00 : Pemberian
konsentrat.
Pukul 11.00 : Pemberian
minum dengan
campuran Bioku.
Pukul 11.30 :
Fermentasi jerami
jagung.
Pukul 13.30 : Pemberian
konsentrat.
Pukul 16.00 : Pemberian
hijauan segar.
8. Senin, 14 Agustus 2017 - Penanganan penyakit Pink
Eye dan ORF pada ternak
domba (08.30 WIB & 14.00
WIB).
- Pembuatan kalung identitas
ternak (15.00 WIB).
- Penerimaan domba yang
baru datang dan
dimasukkan menuju
kandang koloni sebanyak
272 ekor untuk persiapan
Qurban Idul Adha (18.30
22.00 WIB).
- Hari ke-3 penelitian PBB
ternak domba dengan
menggunakan pakan baru
Pukul 08.00 : Pemberian
45

konsentrat.
Pukul 11.00 : Pemberian
minum dengan
campuran Bioku.
Pukul 11.30 :
Fermentasi jerami
jagung.
Pukul 13.30 : Pemberian
konsentrat.
Pukul 16.00 : Pemberian
hijauan segar.

9. Selasa, 15 Agustus 2017 - Penyuntikan Vitamin B-


Sanplex sebanyak 272 ekor
domba (08.30 WIB).
- Penanganan penyakit Pink
Eye dan ORF pada ternak
domba (14.00 WIB).
- Hari ke-4 penelitian PBB
ternak domba dengan
menggunakan pakan baru
Pukul 08.00 : Pemberian
konsentrat.
Pukul 11.00 : Pemberian
minum dengan
campuran Bioku.
Pukul 11.30 :
Fermentasi jerami
jagung.
Pukul 13.30 : Pemberian
konsentrat.
Pukul 16.00 : Pemberian
hijauan segar.
10. Rabu, 16 Agustus 2017 - Penanganan cempe pasca
partus sebanyak 2 ekor
(07.30 WIB)
- Penanganan penyakit Pink
Eye dan ORF pada ternak
domba (09.00 WIB).
- Pembuatan kalung identitas
ternak (16.30 WIB).
- Hari ke-5 penelitian PBB
ternak domba dengan
menggunakan pakan baru
Pukul 08.00 : Pemberian
konsentrat.
Pukul 11.00 : Pemberian
46

minum dengan
campuran Bioku.
Pukul 11.30 :
Fermentasi jerami
jagung.
Pukul 13.30 : Pemberian
konsentrat.
Pukul 16.00 : Pemberian
hijauan segar.

11. Kamis, 17 Agustus 2017 - Konsultasi dengan Dosen


Pembimbing (08.30 WIB)
- Penanganan penyakit Pink
Eye dan ORF pada ternak
domba (09.30-10.30 WIB)
- Memandikan ternak domba
(14.00-15.30 WIB)
- Pengambilan pakan di
gudang pakan (20.00 WIB)
- Pemberian pakan konsentrat
+ fermentasi jerami jagung
(21.00 WIB)
- Hari ke-6 penelitian PBB
ternak domba dengan
menggunakan pakan baru
Pukul 08.00 : Pemberian
konsentrat.
Pukul 11.00 : Pemberian
minum dengan
campuran Bioku.
Pukul 11.30 :
Fermentasi jerami
jagung.
Pukul 13.30 : Pemberian
konsentrat.
Pukul 16.00 : Pemberian
hijauan segar.
12. Jumat, 18 Agustus - Penanganan penyakit Pink
2017 Eye dan ORF pada ternak
domba (08.30-10.30 dan
14.30-15.30 WIB).
- Hari ke-7 penelitian PBB
ternak domba dengan
menggunakan pakan baru
Pukul 08.00 : Pemberian
konsentrat.
Pukul 11.00 : Pemberian
47

minum dengan
campuran Bioku.
Pukul 11.30 :
Fermentasi jerami
jagung.
Pukul 13.30 : Pemberian
konsentrat.
Pukul 16.00 : Pemberian
hijauan segar.

13. Sabtu, 19 Agustus 2017 - Penanganan cempe pasca


partus 1 ekor (07.30 WIB).
- Penyuntikan Antibiotik
Kaloxy untuk induk pasca
partus (07.45 WIB).
- Hari ke-8 penelitian PBB
ternak domba dengan
menggunakan pakan baru
Penimbangan domba di
minggu pertama
sebanyak 20 ekor
dengan perlakuan dan
20 ekor tanpa
perlakuan.
Pukul 08.00 : Pemberian
konsentrat.
Pukul 11.00 : Pemberian
minum dengan
campuran Bioku.
Pukul 11.30 :
Fermentasi jerami
jagung.
Pukul 13.30 : Pemberian
konsentrat.
Pukul 16.00 : Pemberian
hijauan segar.
14. Minggu, 20 Agustus - Penanganan kelahiran
2017 domba, melahirkan 3 ekor
cempe (07.15 WIB).
- Penyuntikan Antibiotik
Kaloxy untuk induk pasca
partus (07.45 WIB).
- Penyuntikan Vitamin B-
Sanplex sebanyak 112 ekor
domba (09.00 WIB).
- Hari ke-9 penelitian PBB
ternak domba dengan
48

menggunakan pakan baru


Pukul 08.00 : Pemberian
konsentrat.
Pukul 11.00 : Pemberian
minum dengan
campuran Bioku.
Pukul 11.30 :
Fermentasi jerami
jagung.
Pukul 13.30 : Pemberian
konsentrat.
Pukul 16.00 : Pemberian
hijauan segar.

15. Senin, 21 Agustus 2017 - Penanganan cempe pasca


partus 2 ekor (07.30 WIB).
- Penyuntikan Antibiotik
Kaloxy untuk induk pasca
partus (07.45 WIB).
- Penanganan ternak domba
yang mati 1 ekor (08.00
WIB)
- Penanganan kelahiran
domba, melahirkan 3 ekor
cempe (10.00 WIB).
- Penyuntikan Antibiotik
Kaloxy untuk induk pasca
partus (10.45 WIB).
- Penanganan penyakit Pink
Eye dan ORF pada ternak
domba (14.00 WIB).
- Hari ke-10 penelitian PBB
ternak domba dengan
menggunakan pakan baru
Pukul 08.00 : Pemberian
konsentrat.
Pukul 11.00 : Pemberian
minum dengan
campuran Bioku.
Pukul 11.30 :
Fermentasi jerami
jagung.
Pukul 13.30 : Pemberian
konsentrat.
Pukul 16.00 : Pemberian
hijauan segar.
49

16. Selasa, 22 Agustus 2017 - Menghitung jumlah


populasi ternak domba
dalam kandang (07.15
WIB)
- Penanganan penyakit Pink
Eye dan ORF pada ternak
domba (09.00-10.30 &
14.30-15.30)
- Hari ke-11 penelitian PBB
ternak domba dengan
menggunakan pakan baru
Pukul 08.00 : Pemberian
konsentrat.
Pukul 11.00 : Pemberian
minum dengan
campuran Bioku.
Pukul 11.30 :
Fermentasi jerami
jagung.
Pukul 13.30 : Pemberian
konsentrat.
Pukul 16.00 : Pemberian
hijauan segar.
17. Rabu, 23 Agustus 2017 - Penanganan cempe pasca
partus sebanyak 1 ekor
(07.20 WIB).
- Penyuntikan Antibiotik
Kaloxy untuk induk domba
pasca partus (07.40 WIB).
- Penanganan penyakit Pink
Eye dan ORF pada ternak
domba (09.00 WIB)
- Penanganan cempe pasca
partus sebanyak 1 ekor
(13.45 WIB).
- Penyuntikan Antibiotik
Kaloxy untuk induk domba
pasca partus (14.15 WIB).
- Hari ke-12 penelitian PBB
ternak domba dengan
menggunakan pakan baru
Pukul 08.00 : Pemberian
konsentrat.
Pukul 11.00 : Pemberian
minum dengan
campuran Bioku.
Pukul 11.30 :
50

Fermentasi jerami
jagung.
Pukul 13.30 : Pemberian
konsentrat.
Pukul 16.00 : Pemberian
hijauan segar.

18. Kamis, 24 Agustus 2017 - Penanganan penyakit Pink


Eye dan ORF pada ternak
domba (09.00 WIB)
- Hari ke-13 penelitian PBB
ternak domba dengan
menggunakan pakan baru
Pukul 08.00 : Pemberian
konsentrat.
Pukul 11.00 : Pemberian
minum dengan
campuran Bioku.
Pukul 11.30 :
Fermentasi jerami
jagung.
Pukul 13.30 : Pemberian
konsentrat.
Pukul 16.00 : Pemberian
hijauan segar.
19. Jumat, 25 Agustus - Konsultasi dengan
2017 Pembimbing Eksternal.
- Perpisahan dengan Bangun
Karso Farm.
- Berangkat menuju STPP
Bogor.
51

Lampiran 4. Lembar konsultasi

LEMBAR KONSULTASI
PRAKTIK KERJA LAPANGAN I
JURUSAN PENYULUHAN PETERNAKAN
SEKOLAH TINGGI PENYULUHAN PERTANIAN
BOGOR
2017

Nama : Muhammad Adhitya Putra


Semester : IV (Empat)
Lokasi PKL : Bangun Karso Farm
Desa Palasari Kecamatan Cijeruk
Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat

Pembimbing Internal : 1. Ir. Kenedy Putra, M.Si


2. Dr. Ir. Thomas Widodo

Pembimbing Eksternal : Ridwan Abdul Haris

No. TANGGAL MATERI KOREKSI PARAF


KONSULTASI PEMBIMBING PEMBIMBING
1. 15 Mei 2017 Revisi 1 penyusunan
proposal PKL I

2. 18 Mei 2017 Revisi 2 penyusunan


proposal PKL I

3. 6 Juli 2017 Pembuatan jadwal


palang pada proposal

4. 14 Juli 2017 Persetujuan dan


penandatanganan
proposal PKL I

5. 4 Septermber Ujian PKL I


2017
6. 5 September Langkah pembuatan
2017 laporan PKL I serta
persetujuan dan
penandatanganan
laporan PKL I
52

Lampiran 5. Dokumentasi kegiatan

Penampilan kandang

Tampilan kandang tampak depan Tampilan kandang tampak samping

Jalan di bawah kandang Jalan di atas kandang


53

Kegiatan

Pemberian susu formula kepada cempe

Penyuntikan Vitamin B-Sanplex

Memandikan domba
54

Penanganan penyakit Pink Eye dan ORF pada domba

Penimbangan bobot badan domba

Pemberian pakan
55

Anda mungkin juga menyukai