Anda di halaman 1dari 1

NAMA : RUELLA SALSABILA

NIM / KELAS : 11151130000015 / HI 5A


ANALISIS KONFLIK FILM HOTEL RWANDA
Film Hotel Rwanda merupakan sebuah film bersejarah yang menceritakan tentang
konflik yang terjadi di Rwanda, tepatnya di kota Kigali. Konflik yang terjadi saat itu dapat
dikategorikan sebagai konflik berdarah yang merenggut banyak nyawa. Dalam menganalisis
konflik dalam film ini, penulis akan memaparkan secara urut dimulai dari akar sebab terjadinya
konflik, puncak konflik, hingga cara penyelesaian konflik. Dalam film ini, diceritakan kisah
seorang pemilik hotel bersuku Hutu yang berjasa dalam penyelesaian konflik ini, bernama Paul
Rusesabagina.
Konflik yang terjadi pada 1994 ini bermula dari perselisihan antara kedua suku di
Rwanda, yaitu suku Hutu dan Tutsi. Kedua suku tersebut konon merupakan hasil dari bentukan
kolonialisasi Belgia. Walaupun keduanya lahir bersamaan, namun ada suatu perbedaan yang
nampaknya menjadi akar dari konflik ini. Dimana suku Tutsi dipandang lebih tinggi derajatnya
karena tentara Belgia pada saat itu menggunakan orang Tutsi untuk menjalankan negara nya.
Dengan berbekal kekuatan yang dimilikinya, pada saat itu Belgia dan suku Tutsi merasa
berkuasa hingga membuat suku Hutu menderita. Merasa tidak terima, akhirnya suku Hutu
berencana untuk membuat tindakan pembalasan dendam terhadap suku Tutsi. Pembalasan
dendam suku Hutu yaitu dengan membunuh semua orang bersuku Tutsi.
Sebelum konflik memanas, Presiden Rwanda yaitu Habyarimana sebenarnya telah lebih
dahulu melakukan misi perdamaian dengan bantuan PBB. Namun, cara tersebut justru
memperkeruh suasana. Seiring dengan terbunuhnya Presiden Habyarimana oleh pemberontak
Tutsi, hingga timbulnya tindakan anarkis tentara Hutu yang mulai memburu masyarakat bersuku
Tutsi. Siapapun orang yang bersuku Tutsi pada saat itu diburu, disiksa, hingga dibunuh. Hingga
pada suatu hari, tentara Hutu datang menyisir rumah Paul dan membawa semua anggota keluarga
dan para tetangga bersuku Tutsi ke hotel dan mengancam untuk membunuh semuanya. Namun,
misi pembunuhan tidak berhasil berkat usaha negosiasi Paul yaitu dengan membayar setiap
orang yang diselamatkan dengan uang yang dimilikinya.
Konflik mulai memanas ketika munculnya suatu gerakan pemberontak bernama
Interhamwe. Mereka adalah warga suku Hutu yang arogan dan bersikeras untuk memusnahkan
suku Tutsi. Mereka menyisir seluruh wilayah Kigali, kemudian membakar pemukiman,
menyiksa warga, hingga melakukan pembunuhan massal. Semua warga yang diduga bersuku
Tutsi pada saat itu tidak terselamatkan, kecuali pengungsi yang berada di hotel milik Paul. Hotel
tersebut dilindungi oleh pasukan perdamaian PBB, dan dijanjikan bahwa tentara Eropa (Barat)
akan datang dan menjemput mereka dari kekacauan yang terjadi. Namun, nasib mereka ternyata
kurang baik. Karena ketika tentara Eropa datang, mereka hanya menyelamatkan warga Barat saja
dan acuh terhadap warga Rwanda. Semenjak itu, warga Rwanda merasa telah dikhianati oleh
Barat dan mencoba bertahan hidup dengan etnisnya sendiri.
Setelah konflik semakin parah dan semakin banyak korban berjatuhan, Paul merasa
bertanggung jawab atas pengungsi yang ada di hotelnya. Sehingga, ia melakukan tindakan
penyelesaian konflik dengan berbagai cara, salah satunya yaitu bernegosiasi dengan tentara Hutu
untuk bekerjasama menyelamatkan pengungsi yang tidak bersalah itu. Kemudian, bekerjasama
dengan pasukan PBB untuk membawa pergi seluruh pengungsi ke tempat yang aman.
Penyelesaian konflik dalam film ini merupakan sebuah keberhasilan Paul sebagai manajer hotel
dengan bermodal kekayaan yang dimilikinya dan kecerdasannya dalam bernegosiasi.