Anda di halaman 1dari 8

1|Page

sebuah esai oleh Muh Rhaka Katresna (1404749), Mahasiswa Psikologi (kelas 1B) Universitas
Pendidikan Indonesia

Banyak orang memperbincangkan dan memperdebatkan teori mengenai asal-usul manusia. Berbicara
mengenai asal-usul manusia pastilah semua orang tahu. Dari sebuah garis sejarah, sebagai bagian dari
suatu bangsa, selayaknya manusia mengetahui apa yang membentuk dirinya di masa lalu. Maka dari
situlah manusia dapat memahami fitrahnya dalam hidup.

Dalam studi yang saya kerjakan, saya diperkenalkan dengan dua tokoh yang menjadi bahan kajian saya
dalam tulisan ini; Darwin dan Harun Yahya. Kedua tokoh tersebut mengajukan suatu teori mengenai asal-
usul manusia yang hingga kini masih diperdebatkan.Berikut penjelasan mengenai konsep masing-masing
tokoh dan perbandingan di antara kedua paham tersebut.

Konsep Darwin

Charles Robert Darwin (lahir di Shrewsbury, Shropshire, Inggris, 12 Desember 1809 meninggal di
Downe, Kent, Inggris, 19 April1882 pada umur 72 tahun) adalah seorang naturalis Inggris yang teori
revolusionernya meletakkan landasan bagi teori evolusi modern dan prinsip garis keturunan yang sama
(common descent) dengan mengajukan seleksi alam sebagai mekanismenya.

Bukunya On the Origin of Species by Means of Natural Selection, or The Preservation of Favoured Races
in the Struggle for Life(biasanya disingkat menjadi The Origin of Species) (1859) menjelaskan evolusi
melalui garis keturunan yang sama sebagai penjelasan ilmiah yang dominan mengenai keanekaragaman
hayati.

Evolusi melalui mutasi dan seleksi alam pada saat ini adalah teori sentral dalam biologi, yang
memberikan kerangka penjelasan bagi berbagai fakta dalam catatan fosil, keragaman hayati, pewarisan
sifat, adaptasi, penyebaran, dan anatomi makhluk hidup. Teori evolusi yang sekarang diterima para
ilmuwan biologi pertama kali dirumuskan oleh Charles Darwin. Pada 1940-an para ilmuwan dari tiga
cabang biologi yaitu genetika, paleontologi, dan taksonomi menyempurnakan teori Darwin dengan
melakukan sintesis antara konsep-konsep dan fakta-fakta yang ditemukan di ketiga bidang tersebut,
menghasilkan Neo-Darwinisme yang kini menjadi dasar penjelasan pada hampir semua idang dalam
biologi.

Teori Darwin yang menyatakan bahwa semua makhluk hidup bersaing di alam ini melalui seleksi alam,
membuat semua manusia terutama ras-ras tertentu merasa terancam. Sejak teori ini dihembuskan, sejak
itu pula secara signifikan manusia semakin berlomba untuk dapat bertahan dengan berbagai cara,
terutama melalui peperangan.

Pernyataan Darwin mendukung bahwa manusia modern berevolusi dari sejenis makhluk yang mirip kera.
Selama proses evolusi yang diduga telah dimulai dari 5 atau 6 juta tahun yang lalu, dinyatakan bahwa
terdapat beberapa bentuk peralihan antara manusia modern dan nenek moyangnya yang ditetapkan
menjadi empat kelompok dasar sebagai berikut:

1. Australophithecines (berbagai bentuk yang termasuk dalam genus Australophitecus)


2. Homo habilis
3. Homo erectus
4. Homo sapiens

Para evolusionis menggolongkan tahapan selanjutnya dari evolusi manusia sebagai genus Homo, yaitu
manusia. Menurut pernyataan evolusionis, makhluk hidup dalam kelompok Homo lebih berkembang
daripada Australopithecus, dan tidak begitu berbeda dengan manusia modern. Manusia modern saat ini,
yaitu spesies Homo sapiens, dikatakan telah terbentuk pada tahapan evolusi paling akhir dari genus Homo
ini. Fosil seperti Manusia Jawa, Manusia Peking, dan Lucy, yang muncul dalam media dari waktu
2|Page

ke waktu dan bisa ditemukan dalam media publikasi dan buku acuan evolusionis, digolongkan ke dalam
salah satu dari empat kelompok di atas. Setiap pengelompokan ini juga dianggap bercabang menjadi
spesies dan sub-spesies, mungkin juga. Beberapa bentuk peralihan yang diusulkan dulunya, seperti
Ramapithecus, harus dikeluarkan dari rekaan pohon kekerabatan manusia setelah disadari bahwa mereka
hanyalah kera biasa.

Dengan menjabarkan hubungan dalam rantai tersebut , evolusionis secara tidak langsung menyatakan
bahwa setiap jenis ini adalah nenek moyang jenis selanjutnya. Akan tetapi, penemuan terbaru ahli
paleoanthropologi mengungkap bahwa australopithecines, Homo habilis dan Homo erectus hidup di
berbagai tempat di bumi pada saat yang sama. Lebih jauh lagi, beberapa jenis manusia yang digolongkan
sebagai Homo erectus kemungkinan hidup hingga masa yang sangat moderen. Dalam sebuah artikel
berjudul Latest Homo erectus of Java: Potential Contemporaneity with Homo sapiens ini Southeast
Asia, dilaporkan bahwa fosil Homo erectus yang ditemukan di Jawa memiliki umur rata-rata 27 2
hingga 53.3 4 juta tahun yang lalu dan ini memunculkan kemungkinan bahwa H. erectus hidup
semasa dengan manusia beranatomi moderen (H. sapiens) di Asia tenggara

Lebih jauh lagi, Homo sapiens neanderthalensis (manusia Neanderthal) dan Homo sapiens sapiens
(manusia moderen) juga dengan jelas hidup bersamaan. Hal ini sepertinya menunjukkan ketidakabsahan
pernyataan bahwa yang satu merupakan nenek moyang bagi yang lain.

Pada dasarnya, semua penemuan dan penelitian ilmiah telah mengungkap bahwa rekaman fosil tidak
menunjukkan suatu proses evolusi seperti yang diusulkan para evolusionis. Fosil-fosil, yang dinyatakan
sebagai nenek moyang manusia oleh evolusionis, sebenarnya bisa milik ras lain manusia atau milik
spesies kera.

Konsep Harun Yahya

Adnan Oktar (lahir pada tahun 1956 di Ankara, Turki), juga dikenal sebagai Harun Yahya (diambil dari
nama nabi Harun dan Yahya) atau Adnan Hoca, adalah seorang penulis dan kreasionis Islam. Ia
merupakan penentang teori evolusi, Darwinisme dianggapnya sebagai sumber terorisme.

Harun Yahya mengajukan usul untuk menggantikan teori evolusi Darwin. Teori Harun Yahya berhak
menerima pertimbangan serius dari kalangan ilmuwan biologi. Teori ini menjelaskan berbagai penemuan
dalam biologi dengan lebih baik daripada kerangka penjelasan evolusi yang sekarang berlaku.

Meski Harun Yahya belum memberikan deskripsi sistematis atas teori yang mereka ajukan. Harun Yahya
menjelaskan kajiannya melalui buku Keruntuhan Teori Evolusi yang berisi:

1. Jenis-jenis makhluk hidup tak bisa berubah. Tidak mungkin terjadi perubahan dari satu bentuk
makhluk hidup ke bentuk lainnya, misalnya dari ikan menjadi amfibi dan reptil, reptil ke burung,
atau mamalia darat ke paus.
2. Tiap jenis makhluk hidup tidak bekerabat satu sama lain dan diturunkan dari leluhur yang sama.
Masing-masing merupakan hasil dari suatu tindakan penciptaan tersendiri.
3. Seleksi alam sebagaimana ditemukan Darwin adalah kaidah yang berlaku di alam, namun tidak
pernah menghasilkan spesies baru.
4. Tidak ada mutasi yang memberikan keuntungan berupa peningkatan kelestarian makhluk hidup.
Selain itu, mutasi tak menambah kandungan informasi dalam materi genetis makhluk hidup.
5. Catatan fosil tak menunjukkan adanya bentuk transisional, serta menunjukkan penciptaan tiap
kelompok makhluk hidup secara terpisah.
6. Abiogenesis (kemunculan makhluk hidup dari materi tak-hidup) tak mungkin terjadi.
7. Kerumitan dan kesempurnaan yang ditemukan pada tubuh dan DNA makhluk hidup tak timbul
karena kebetulan, namun merupakan bukti bahwa ada yang merancang kerumitan tersebut.
3|Page

8. Materi dan persepsi kita adalah ilusi; yang nyata adalah Allah, yang meliputi segalanya.

Teori Harun Yahya dan fakta Teori Harun Yahya menggunakan desain sebagai pengganti evolusi untuk
menjelaskan kerumitan struktur dan keragaman kehidupan. Bila teori mereka lebih baik daripada evolusi,
maka penjelasan desain seharusnya bisa diterapkan pada tiap peristiwa pada sejarah kehidupan di Bumi.
Tentunya tidak logis bila penjelasan desain hanya diterapkan pada beberapa kasus (misalnya kejadian
manusia) namun pada kasus lain penjelasannya diserahkan pada evolusi. Asal-usul dari tiap jenis
makhluk hidup harus bisa dijelaskan sebagai tindak penciptaan terpisah.

Menurut Harun Yahya, kerumitan yang ditemukan pada tubuh makhluk hidup harus merupakan hasil
ciptaan Sang Pencipta. Jelas bahwa kerumitan tersebut bisa ditemukan di berbagai makhluk hidup.

Dalam menyerang teori evolusi Darwin, Harun Yahya menyatakan bahwa mutasi dan seleksi alam tidak
mungkin menghasilkan spesies baru. Tidak ada mutasi menguntungkan, menurut mereka; semua mutasi
hanya menghasilkan cacat pada makhluk hidup yang mengalaminya. Bagaimana menilai klaim ini?
Mudah saja ditunjukkan bahwa ada mutasi yang bisa meningkatkan kelestarian (mutasi
menguntungkan), seperti timbulnya kekebalan pada bakteri, kemampuan mencerna laktosa pada
sebagian manusia, dan lain-lain. Namun penulis lebih tertarik membahas konsekuensi dari klaim tersebut
bila memang benar, seperti yang diyakini para pendukung teori Harun Yahya. Mutasi adalah sesuatu yang
selalu terjadi dalam proses perkembangbiakan makhluk hidup. Setiap makhluk hidup adalah mutan,
karena memiliki DNA yang berbeda dengan induknya. Bila tidak ada mutasi menguntungkan, maka
makhluk hidup tidak bisa berbuat apa-apa apabila menghadapi perubahan lingkungan. Tidak akan ada
adaptasi yang timbul, karena tiap mutasi hanya menghasilkan cacat. Digabungkan dengan penjelasan teori
Harun Yahya bahwa tiap jenis makhluk hidup adalah hasil dari tindakan penciptaan terpisah, maka
konsekuensinya adalah bahwa setiap hasil ciptaan tersebut tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menunggu
punah, entah karena kalah bersaing ataupun karena pengumpulan efek buruk mutasi. Entah apa niat Sang
Desainer yang dibayangkan Harun Yahya berbuat demikian.

Poin terakhir dari teori Harun Yahya yang bisa ditanggapi adalah pernyataan bahwa segala sesuatu adalah
ilusi. Penulis berpendapat bahwa apabila segala sesuatu adalah ilusi, maka tidak ada gunanya kita
berargumen menggunakan fakta-fakta yang ada di alam karena segalanya tidak nyata. Semua pernyataan,
baik oleh evolusionis maupun Harun Yahya, didasarkan pada fakta-fakta yang sebenarnya hanya ilusi.
Manusia hidup dalam dunia tak nyata yang ada dalam pikirannya sendiri. Dan menurut teori Harun
Yahya, pencipta dari segala ilusi tersebut adalah Tuhan, Sang Desainer. Tuhan menciptakan dunia ilusi di
mana kita merasa hidup dan beraktivitas sehari-hari di dalamnya, dan apabila kita mati, kita dipindahkan
dari dunia ilusi tersebut ke akhirat yang juga ilusi. Segalanya tidak nyata dan kita tak bisa lolos dari ilusi
tersebut. Dan sekali lagi penulis bertanya, mengapa Sang Desainer perlu menipu kita. Sang Desainer
menciptakan berbagai fakta yang seolah-olah menunjukkan bahwa telah terjadi evolusi, padahal
sebenarnya tidak. Sang Desainer menciptakan dunia yang seolaholah nyata, padahal sebenarnya ilusi.
Kesimpulan Teori Harun Yahya sebagai suatu teori ilmiah bisa saja diajukan untuk menggantikan
evolusi. Akan tetapi, sebagaimana telah ditunjukkan dalam tulisan ini, bila fakta-fakta di alam dijelaskan
dengan teori Harun Yahya (desain cerdas dan penciptaan terpisah), maka ada beberapa kesimpulan
mengenai Sang Desainer yang tak bisa dihindari, seperti bahwa desain Sang Desainer tidak sempurna,
Sang Desainer tidak bisa langsung menciptakan makhluk hidup seperti yang ada sekarang tanpa
menciptakan pendahulu yang mirip dengan makhluk hidup jenis lain, Sang Desainer suka menyertakan
hal-hal yang tak perlu dalam desainnya, bahkan bahwa Sang Desainer bermaksud menipu kita agar
percaya bahwa sebenarnya terjadi evolusi dan sebenarnya ada dunia nyata yang bukan ilusi, padahal
sebenarnya tidak! Yang demikian bukanlah pernyataan yang dibuat-buat untuk menjelekkan teori Harun
Yahya, melainkan adalah konsekuensi logis dan teologis dari mempercayai teori Harun Yahya. Harun
Yahya berusaha mengidentifikasi Sang Desainer yang dibayangkannya denga Allah; tetapi apakah Allah
suka menipu makhluk-Nya? Mengapa mereka berusaha menjadikan Allah sebagai Sang Desainer yang
4|Page

mereka bayangkan? 29:20 Katakanlah: Berjalanlah di bumi dan lihatlah bagaimana Allah memulai
penciptaan!

Pada akhir tulisannya, Harun Yahya menyimpulkan 4 hal yaitu:

1. Teori Evolusi Telah Runtuh

Sejak langkah pertamanya, teori evolusi telah gagal. Buktinya, evolusionis tidak mampu menjelaskan
proses pembentukan satu protein pun. Baik hukum probabilitas maupun hukum fisika dan kimia tidak
memberikan peluang sama sekali bagi pembentukan kehidupan secara kebetulan.

Bila satu protein saja tidak dapat terbentuk secara kebetulan, apakah masuk akal jika jutaan protein
menyatukan diri membentuk sel, lalu milyaran sel secara kebetulan pula menyatukan diri membentuk
organ-organ hidup, lalu membentuk ikan, kemudian ikan beralih ke darat, menjadi reptil, dan akhirnya
menjadi burung? Begitukah cara jutaan spesies di bumi terbentuk?

Meskipun tidak masuk akal bagi Anda, evolusionis benar-benar meyakini dongeng ini.

Evolusi lebih merupakan sebuah kepercayaan atau tepatnya keyakinan karena mereka tidak
mempunyai bukti satu pun untuk cerita mereka. Mereka tidak pernah menemukan satu pun bentuk
peralihan seperti makhluk setengah ikan-setengah reptil, atau makhluk setengah reptil-setengah burung.
Mereka pun tidak mampu membuktikan bahwa satu protein, atau bahkan satu molekul asam amino
penyusun protein dapat terbentuk dalam kondisi yang mereka sebut sebagai kondisi bumi purba. Bahkan
dalam laboratorium yang canggih, mereka tidak berhasil membentuk protein. Sebaliknya, melalui seluruh
upaya mereka, evolusionis sendiri malah menunjukkan bahwa proses evolusi tidak dapat dan tidak pernah
terjadi di bumi ini.

2. Di Masa Mendatang pun Evolusi Tidak Dapat Dibuktikan

Menghadapi kenyataan ini, evolusionis hanya dapat menghibur diri dengan khayalan bahwa suatu saat
nanti, entah bagaimana caranya, ilmu pengetahuan akan menjawab semua dilema ini. Mengharapkan ilmu
pengetahuan akan membenarkan semua pernyataan tidak berdasar dan tidak masuk akal ini adalah hal
yang mustahil, sampai kapan pun. Sebaliknya, sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan, kemustahilan
pernyataan evolusionis akan semakin terbuka dan semakin jelas.

Begitulah yang terjadi sejauh ini. Semakin terperinci struktur dan fungsi sel diketahui, semakin jelas
bahwa sel bukan susunan sederhana yang terbentuk secara acak, seperti pemahaman biologis primitif
masa Darwin.

Rasa percaya diri berlebihan dalam menolak fakta penciptaan dan menyatakan bahwa kehidupan berasal
dari kebetulan-kebetulan yang mustahil, lalu berkeras mempertahankannya, kelak akan berbalik menjadi
sumber penghinaan. Ketika wajah asli dari teori evolusi semakin tersingkap dan opini publik mulai
melihat kebenaran, para pendukung evolusi yang fanatik buta ini tidak akan berani lagi memperlihatkan
wajah mereka.

3. Rintangan Terbesar bagi Evolusi: Jiwa

Banyak spesies di bumi ini yang mirip satu sama lain. Misalnya, banyak makhluk hidup yang mirip
dengan kuda atau kucing, dan banyak serangga mirip satu dengan lainnya. Kemiripan seperti ini tidak
membuat orang heran.

Sedikit kemiripan antara manusia dan kera, entah bagaimana terlalu banyak menarik perhatian.
Ketertarikan ini kadang menjadi sangat ekstrem sehingga membuat beberapa orang mempercayai tesis
palsu evolusi. Sebenarnya, kemiripan tampilan antara manusia dan kera tidak memberikan arti apa-apa.
5|Page

Kumbang tanduk dan badak juga memiliki kemiripan tampilan, namun menggelikan sekali jika mencari
mata rantai evolusi di antara keduanya hanya berdasarkan kemiripan tampilan saja; yang satu adalah
serangga dan yang lainnya mamalia.

Selain kemiripan tampilan, kera tidak bisa dikatakan berkerabat lebih dekat dengan manusia
dibandingkan dengan hewan lain. Jika tingkat kecerdasan dipertimbangkan, maka lebah madu dan laba-
laba dapat dikatakan berkerabat lebih dekat dengan manusia karena keduanya dapat membuat struktur
sarang yang menakjubkan. Dalam beberapa aspek, mereka bahkan lebih unggul.

Terlepas dari kemiripan tampilan ini, ada perbedaan sangat besar an-tara manusia dan kera. Berdasarkan
tingkat kesadarannya, kera adalah hewan yang tidak berbeda dengan kuda atau anjing. Sedangkan
manusia adalah makhluk sadar, berkeinginan kuat dan dapat berpikir, berbicara, mengerti, memutuskan,
dan menilai. Semua sifat ini merupakan fungsi jiwa yang dimiliki manusia. Jiwa merupakan perbedaan
paling penting yang jauh memisahkan manusia dari makhluk-makhluk lain. Tak ada satu pun kemiripan
fisik yang dapat menutup jurang lebar di antara manusia dan makhluk hidup lainnya. Di alam ini, satu-
satunya makhluk hidup yang mempunyai jiwa adalah manusia.

4. Allah Mencipta Menurut Kehendak-Nya

Apakah akan menjadi masalah jika skenario yang diajukan evolusionis benar-benar telah terjadi? Sedikit
pun tidak, karena setiap tahapan yang diajukan teori evolusioner dan berdasarkan konsep kebetulan,
hanya dapat terjadi karena suatu keajaiban. Bahkan jika kehidupan benar-benar muncul secara berangsur-
angsur melalui tahapan-tahapan demikian, masing-masing tahap hanya dapat dimunculkan oleh suatu
keinginan sadar. Kejadian kebetulan bukan hanya tidak masuk akal, melainkan juga mustahil.

Jika dikatakan bahwa sebuah molekul protein telah terbentuk pada kondisi atmosfir primitif, harus diingat
bahwa hukum-hukum probabilitas, biologi dan kimia telah menunjukkan bahwa hal itu tidak mungkin
terjadi secara kebetulan. Namun jika kita terpaksa menerima bahwa hal tersebut memang terjadi, maka
tidak ada pilihan lain kecuali mengakui bahwa keberadaannya karena kehendak Sang Pencipta.

Logika serupa berlaku juga pada seluruh hipotesis yang diusulkan oleh evolusionis. Misalnya, tidak ada
bukti paleontologis maupun secara pembenaran fisika, kimia, biologi atau logika yang membuktikan
bahwa ikan beralih dari air ke darat dan menjadi hewan darat. Akan tetapi, jika seseorang membuat
pernyataan bahwa ikan merangkak ke darat dan berubah menjadi reptil, maka dia pun harus menerima
keberadaan Pencipta yang mampu membuat apa pun yang dikehendaki-Nya dengan hanya mengatakan
jadilah. Penjelasan lain untuk keajaiban semacam itu berarti penyangkalan diri dan pelanggaran atas
prinsip-prinsip akal sehat.

Kenyataannya telah jelas dan terbukti. Seluruh kehidupan merupakan karya agung yang dirancang
sempurna. Ini selanjutnya memberikan bukti lengkap bagi keberadaan Pencipta, Pemilik kekuatan,
pengetahuan, dan kecerdasan yang tak terhingga.

Pencipta itu adalah Allah, Tuhan langit dan bumi, dan segala sesuatu di antaranya.

Kesimpulan

Darwin menjelaskan bahwa evolusi makhluk hidup terjadi melalui mutasi dan seleksi alam. Setiap
makhluk hidup bersaing dalam lingkungannya untuk tetap hidup dan melestarikan populasinya. Di sisi
lain, teori tersebut menunjukan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya, yang saya
nilai menjadi sisi imajinatif yang ditawarkan oleh Darwin sendiri.

Darwin pula menyimpulkan bahwa manusia modern berevolusi dari sejenis makhluk hidup mirip kera,
yang dijelaskan berawal dari species Pilopithecus yang berevolusi hingga menjadi Homo Sapiens.
6|Page

Teori ini memberi perspektif imajinatif terhadap asal-usul manusia. Pula menyimpulkan bahwa manusia
dan kera berhubungan sebagai suatu keturunan yang sama dari satu spesies. Tetapi, teori evolusi manusia
Darwin menurut saya kurang sesuai dengan pemahaman agama yang jelas menyebutkan bahwa manusia
adalah satu spesies utuh dari awal penciptaannya. Tidak mungkin ada hubungan kekerabatan yang terjalin
antara dua spesies; manusia dan kera.

Meski begitu, keanekaragaman hayati bisa saja terbentuk karena hasil adaptasi terhadap lingkungannya.
Perbedaan antar ras manusia mungkin terjadi sebagai bentuk adaptasi manusia terhadap lingkungannya.
Seperti perbedaan warna kulit, postur tubuh, dan hal lainnya bisa terbentuk dari adaptasi tersebut.

Selanjutnya, mengenai teori yang dipaparkan Harun Yahya. Harun Yahya menjelaskan bahwa setiap
makhluk hidup telah didesain sedemikian rupa oleh Sang Desainer, yaitu Sang Pencipta. Setiap jenis
makhluk yang telah diciptakan tidak bisa berubah, tidak berkerabat satu sama lain, dan diturunkan dari
leluhur yang sama. Jelas menyanggah teori Darwin mengenai seleksi alam yang dapat menimbulkan suatu
spesies baru.

Manusia hanya berasal dari satu keturunan yaitu Adam dan Hawa. Bukan berasal dari kera. Dan makhluk-
makhluk mirip kera lainnya. Hal ini ditunjukkan melalui perbedaan struktur tulang dan otot dari berbagai
temuan yang dijelaskan Harun Yahya. Meskipun teorinya bersifat kreasionis.

Harun Yahya memandang bahwa Darwinisme sebagai terorisme. Hal ini terlihat dari beberapa tulisannya
yang berusaha mematahkan teori-teori Darwin melalui fakta-fakta penciptaan yang ditulis dalam
bukunya. Teori Darwin menurutnya memberikan pemikiran materialistis terhadap alam semesta. Juga
berusaha memberikan suatu pandangan bahwa alam ini tidak hanya bersifat materiil tetapi juga memiliki
sisi spiritual yang harus diilhami oleh setiap umat beragama.

Persamaan yang saya dapatkan dari kedua konsep tersebut adalah seleksi alam bisa saja menimbulkan
suatu keanekaragaman hayati. Selain itu, perbedaan ras yang terjadi di antara manusia adalah bentuk
adaptasi manusia terhadap lingkungannya.

Perbedaan yang terlihat, jelas konsep Harun Yahya menentang konsep Darwin. Harun Yahya
memberikan suatu perspektif kreatif bahwa makhluk hidup diciptakan dengan desainnya masing-masing
oleh Sang Pencipta. Setiap manusia diberikan kelebihan dan kekurangan adalah konsep manusia yang
disampaikan oleh Harun Yahya. Tetapi konsep Darwin menjelaskan bahwa antara manusia dan kera
memiliki hubungan kekerabatan. Secara tidak langsung konsep Darwin menunjukkan bahwa tidak ada
batas yang jelas antara manusia dan makhluk hidup lainnya. Hal inilah yang ditentang oleh Harun Yahya.
Manusia memiliki martabat yang lebih baik daripada hewan. Memiliki suatu kelebihan yang jelas
membedakan antara manusia dan hewan, yaitu akal.

Pada akhirnya, semua jawab dari pertanyaan manusia kembali kepada-Nya, Sang Desainer, Sang Pencipta
yang Maha Tahu. Asal-usul manusia yang disampaikan oleh kedua tokoh tersebut kembali kepada
pembacanya menjadi seperti apakah manusia selanjutnya. Apakah manusia menjadi sama saja seperti
hewan, ataukah harus menjalani hakikatnya sebagai manusia yang utuh.
7|Page

Teori Evolusi Harun Yahya yang Menyanggah Teori Evolusi Darwin

Charles Darwin adalah tokoh yang sangat terkenal dalam kaitannya dengan evolusi. Darwin banyak
mengemukakan gagasan-gagasannya tentang teori evolusi. Karena pemikirannya tersebut, Darwin dikenal
sebagai Bapak Evolusi.

Pokok-pokok pemikiran yang melandasi ajaran Darwin mengenai evolusi antara lain:
1. Tidak ada individu yang identik, selalu ada variasi meskipun dalam satu keturunan
2. Setiap populasi cenderung bertambah banyak karena setiap makhluk hidup mampu berkembang biak.
3. Untuk berkembangbiak diperlukan makanan dan ruang yang cukup.
4. Pertambahan populasi tidak berlangsung secara terus menerus, tetapi dipengaruhi oleh berbagai macam
faktor pembatas antara lain makanan dan predasi.
Ada juga pihak yang menentang Teori Evolusi dari sudut pandang yang berbeda. Yang
menolak Teori Evolusi dari sudut pandang ajaran agama. Kelompok ini dikenal sebagai kelompok yang
menganut paham kreasionisme. Paham kreasionisme adalah suatu paham yang meyakini bahwa makhluk
hidup dan segala jenisnya diciptakan oleh Tuhan, secara terpisah (tidak ada kesamaan leluhur, atau bahwa
satu jenis makhluk hidup tidak diturunkan dari jenis makhluk hidup lain). Salah satu tokoh yang
gigihmenyampaikan teori paham kreasionisme ini adalah Harun Yahya. Beliau adalah seorang dai dan
ilmuwan terkemuka asal Turki yang memiliki nama asli Adnan Oktar. Dalam karyanya yang berjudul
Keruntuhan Teori Evolusi, Harun Yahya mengungkapkan bantahan-bantahannya terhadap teori
evolusi yang dicetuskan oleh Darwin diatas.
Menurut pandangan Harun Yahya, konsep kehidupan yang berasal dari benda mati bertentangan
dengan hukum dasar biologi. Dalam hal ini, Harun Yahya memberikan gambaran bahwa sel hidup
merupakan hasil pembelahan dari sel hidup juga dan bukan dari pembelahan sel mati. Harun Yahya
membantah gagasan yang menyatakan bahwa kehidupan muncul dari kehidupan sebelumnya. Gagasan
tersebut mengandung arti bahwa makhluk hidup yang pertama kali muncul di bumi berasal dari kehidupan
yang ada sebelumnya.Harun Yahya mengungkapkan pendapatnya dari sudut pandang berbeda yang
menyatakan bahwa di alam semesta ini ada pencipta (creator) yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Salah satu
bantahan Harun Yahya tersebut merupakan bagian dari pendapatnya dalam meruntuhkanTeori
Evolusi Darwin.

Kelemahan teori evolusi Darwin menurut Harun Yahya

Dalam karyanya, Harun Yahya mengungkapkan bahwa Teori Evolusi yang dikemukakan oleh
Darwin merupakan gagasan yang tidak ilmiah. Ada beberapa hal yang dijadikan dasar bagi Harun Yahya
untuk membantah Teori Evolusi Darwin.
Yang pertama, masih minimnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologipada masa Darwin dan
Lamarck untuk menjelaskan fenomena asal usul kehidupan. Ilmu genetika dan biokimia pada masa Darwin
belum ada sehingga mempersempit penjelasan Darwin tentang evolusi dari sudut pandang genetika dan
biokimia.
Yang kedua, komposisi dan susunan unsur genetik pada makhluk hidup yang sangat rumit menunjukkan
ketidakabsahan mekanisme evolusi kehidupan. Menurut Harun Yahya, kerumitan yang ada dalam setiap
unsur genetik tersebut merupakan hasil rancangan Sang Pencipta alam semesta ini.
Yang Ketiga, Harun Yahya juga mengungkapkan kelemahan-kelemahan bukti evolusi yang
dikemukakan oleh Darwin, salah satunya dari catatan fosil. Dari berbagai fosil yang ditemukan, tidak ada
satu pun fosil yang menunjukkan bentuk transisi yang dapat dijadikan sebagai petunjuk proses evolusi. Di
samping itu, perbandingan anatomi menunjukkan bahwa spesies yang diduga telah berevolusi dari spesies
lain ternyata memiliki ciri-ciri anatomi yang sangat berbeda, sehingga mereka tidak mungkin menjadi
nenek moyang dan keturunannya.
Yang keempat mengenai seleksi alam, Harun Yahya mengungkapkan bahwa tidak pernah ada satu
spesies pun yang mampu menghasilkan spesies lain melalui mekanisme seleksi alam. Sebagai contoh,
masih ingatkah kalian tentang evolusi kupu-kupu Biston betularia di Inggris?
8|Page

Menurut Harun Yahya, terbentuknya kupu-kupu Biston betularia bersayap gelap yang terjadi pada pada
awal revolusi industri di Inggris sebenarnya tidak ada. Cerita sebenarnya adalah pada awalnya warna kulit
batang pohon di Inggris benar-benar terang. Oleh karena itu, kupu-kupu berwarna gelap yang hinggap pada
pohon-pohon tersebut mudah terlihat oleh burung-burung pemangsa, sehingga mereka memiliki
kemungkinan hidup yang rendah. Lima puluh tahun kemudian akibat polusi, warna kulit kayu menjadi lebih
gelap dan saat itu kupu-kupu berwarna cerah menjadi mudah diburu. Akibatnya, jumlah kupu-kupu
berwarna cerah berkurang, sementara populasi kupu-kupu berwarna gelap meningkat karena tidak mudah
terlihat oleh pemangsa.
Dalam kasus ini, Harun Yahya menganggap bahwa tidak terjadi perubahan warna sayap kupu-kupu yang
diturunkan. Namun, yang terjadi sebenarnya adalah jumlah kupu-kupu yang berwarna cerah telah banyak
dimangsa oleh burung-burung pemangsa, sehingga jumlah kupu-kupu berwarna cerah lebih sedikit
dibanding kupu-kupu yang berwarna lebih gelap.

Yang kelima, ialah satu pokok pikiran Teori Evolusi yang juga tak luput dari bantahan Harun Yahya
adalah tentang mutasi. Di dalam pandangan evolusi Darwin, mutasi dikatakan sebagai proses yang
memunculkan spesies baru yang berbeda dari tetuanya. Harun Yahya menentang pandangan yang
menyatakan bahwa mutasi dapat bersifat menguntungkan, tetapi pada kenyataannnya setiap mutasi bersifat
membahayakan. Lalu, Harun Yahya mengajukan tiga alasan utama mengapa mutasi tidak dapat dijadikan
bukti pendukung evolusi:
1. Tidak pernah ditemukan mutasi yang bermanfaat, karena mutasi terjadi secara acak dan akan merusak
susunan dan komposisi materi genetik.
2. Mutasi tidak menambahkan informasi genetik yang baru, tetapi hanya bersifat merubah atau merusak
yang dapat mengakibatkan ketidaknormalan.
3. Agar dapat diwariskan pada generasi selanjutnya, mutasi harus terjadi pada sel-sel reproduksi
organisme.
Jadi, kesimpulannya teori evolusi darwin ditentang oleh teori evolusi yang dikemukakan oleh Harun Yahya.
Menurut pandangan Harun Yahya, konsep kehidupan yang berasal dari benda mati bertentangan dengan
hukum dasar biologi. Gagasan tersebut mengandung arti bahwa makhluk hidup yang pertama kali muncul
di bumi berasal dari kehidupan yang ada sebelumnya, dan bukan dari benda mati yang dikemukakan oleh
Charles Darwin. Harun Yahya berpendapat bahwa di alam semesta ini ada pencipta yaitu Tuhan Yang Maha
Esa. Harun Yahya juga menemukan kelemahan teori evolusi Charles Darwin, yaitu tentang komponen
dan penyusun unsur genetik, catatan fosil, seleksi alam, dan mutasi.