Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

BUDIDAYA TANAMAN TAHUNAN KOPI DAN KAKAO


DI PUSAT PENELITIAN KOPI DAN KAKAO INDONESIA JEMBER JAWA TIMUR

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Budidaya Tanaman Tahunan


Dosen Pengampu Ir. Shodiq Eko Arianto, M.P

Disusun Oleh :
Amin Suyitno 201141037
Musthofa Afifi 201241002
Shoviatun Nikhmah 201241013
Silvia Apriliani 201241023
Yuni Maria Sriwulansih 201241035
Ika Dwi Septiani 201241048

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MURIA KUDUS
2015
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kopi merupakan salah satu komoditi perkebunan yang memiliki nilai ekonomis yang
cukup tinggi di antara tanaman perkebunan lainnya dan berperan penting sebagai sumber devisa
Negara. Kopi tidak hanya berperan penting sebagai sumber devisa Negara melainkan juga
merupakan sumber penghasilan bagi para petani kopi di Indonesia. Keberhasilan agribisnis kopi
membutuhkan dukungan semua pihak yang terkait dalam proses produksi kopi, pengolahan dan
pemasaran komoditas kopi. Upaya untuk meningkatkan produktivitas dan mutu kopi terus
dilakukan sehingga daya saing kopi di Indonesia dapat bersaing di pasar dunia.

Kakao merupakan tanaman tahunan yang mulai berbunga dan berbuah umur 3-4 tahun
setelah ditanam. Apabila pengelolaan tanaman kakao dilakukan secara tepat, maka masa
produksinya dapat bertahan lebih dari 25 tahun, selain itu untuk keberhasilan budidaya kakao
perlu memperhatikan kesesuaian lahan dan faktor bahan tanam. Penggunaan bahan tanam
kakao yang tidak unggul mengakibatkan pencapaian produktivitas dan mutu biji kakao
yang rendah, oleh karena itu sebaiknya digunakan bahan tanam yang unggul dan
bermutu tinggi.

B. Tujuan

Tujuan dari studi lapangan mata kuliah Budidaya Tanaman Tahunan di pusat penelitian kopi
dan kakao ini adalah untuk mengetahui tentang budidaya dan pasca panen tanaman perkebunan
kopi dan kakao di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia Jember Jawa Timur
BAB II
BAHAN DAN METODE
A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 30 Mei 2015 yang bertempat di Pusat Penelitian
Kopi dan Kakao Indonesia Jember Jawa Timur.
B. Bahan dan Alat
1. Bahan
Bahan pengamatan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tanaman kopi dan kakao
2. Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini antar lain bolpoin, buku, dan kamera.
BAB III
PEMBAHASAN
Dalam praktikum matakuliah budidaya tanaman tahunan di pusat penelitian kopi dan
kakao Indosesia jember jawa timur ini bertujuan untuk mengetahui bagaiman cara budidaya,
panen dan pasca panen tanaman kopi dan kakao. Berikut ini adalah ringkasan dari cara budidaya,
panen dan penanganan pasca panen tanaman kopi dan kakao:
1. Tanaman kopi
A. Persiapan lahan
Dalam penyiapan lahan terlebih dahulu menanam tanaman pelindung yang
ditanam 1 -2 tahun sebelum tanaman kopi ditanam. Untuk menunggu penanaman
tersebut siapkan lahan penanaman terlebih dahulu yaitu dengan membuat lubang tanam
dengan ukuran 60 X 60 X 60 cm dengan memisahkan tanah bagian atas dan tanah bagian
bawah, serta lubang tanam diberi pupuk kandang dan kompos kemudian ditutup kembali
dengan tanah galian tadi.
B. Pembibitan
Tanaman kopi dapat diperbanyak dengan cara generatif menggunakan benih atau
biji dan vegetatif menggunakan bagian dari tanaman itu sendiri. Perbanyakan secara
generatif lebih umum digunakan karena mudah dalam pelaksanaanya, lebih singkat
untuk menghasilkan bibit siap tanam dibandingkan dengan perbanyakan bibit secara
vegetatif (klonal). Beberapa kelebihan yang dimiliki perbanyakan kopi secara klonal
adalah sebagai berikut:
- Mempunyai sifat yang sama dengan tanaman tetuanya.
- Mutu hasil seragam
- Memanfaatkan dua sifat unggul batang atas dan batang bawah
- Memiliki umur mulai berbuah (prekositas) lebih awal
C. Pemeliharaan
1. Pemupukan
Pemupukan adalah salah satu vaktor penentu dalam budidaya tanaman kopi,
tujuan pemupukan adalah untuk menjaga daya tahan tanaman, meningkatkan
produksi, meningkatkan mutu hasil dan untuk menjaga produksi tanaman stabil.
Untuk pemupukan sendiri harus dilakukan dengan tepat waktu, dosis yang
optimal, jenis pupuk yang tepat serta menggunakan cara yang benar. Untuk dosis
pemupukan menyesuaikan umur tanaman, kondisi tanah, kondisi tanaman serta iklim
yang sesuai.
2. Pemangkasan
Pemangkasan umumnya bertujuan agar pohon tetap rendah agar supaya mudah
dalam perawatannya. Pemangkasan sendiri dibagi menjadi 3 yaitu pemangkasan
bentuk, pemangkasan produksi dan pemangkasan peremajaan. Pemangkasan bentuk
bertujuan untuk membentuk kerangka tanaman kopi yang kuat dan seimbang,
tanaman tidak terlalu tinggi, serta cabang cabang lateral dapat tumbuh dan
berkembang menjadi lebih kuat dang panjang. Pemangkasan produksi bertujuan
untuk memacu pertumbuhan cabang cabang produksi dengan memotong cabang
yang telah tua, terkena penyakit, cabang balik dan cabang adventif.sedangkan
pemangkasan peremajaan atau sering disebut pangkasan rejuvinasi ini bertujuan
untuk memperoleh batang muda yang lebih produktif.
3. Penaungan
Penaungan dibagi menjadi dua yaitu naungan sementara dan naungan tetap,
tanaman naungan sebaiknya menggunakan tanaman legum. naungan sementara
bertujuan untuk memberi naungan sebelum naungan tetap di fungsikan. Sementara
tanaman naungan tetap digunakan setelah naungan sememntara dan cabang pertama
dari naungan tetap diusahakan 1 2 meter diatas tanaman kopi. Untuk tanaman
naungan sebaiknya dilakukan pemangkasan secara rutin agar tidak terlalu rimbun
dan sinar matahari dapat masuk untuk merangsang pembungaan tanaman kopi.
4. Hama dan Penyakit
Hama dan penyakit dapat menurunkan produktivitas pada tanaman kopi
diantaranya adalah OPT, seperti hama penggerek buah kopi, nematoda dan penyakit.
5. Panen
Pemanenan buah kopi dilakukan secara manual dengan cara memetik buah
yang telah masak secara selektif, selain dilihat dari warnanya yang merah dan
kehitam-hitaman juga dapat dilihan dari dagingnya yang sudah lunak dan berlendir.
Selain pemetikan secara selektif dengan memilih buah yang telah matang saja,
pemetikan juga dapat dilakukan dengan setengah selektif yaitu dilakukan terhadap
dompolan buah masak. Selain itu ada juga pemetikan secara lesehan yaitu dilakukan
terhadap buah kopi yang telah gugur di tanah,serta secara rampasan yaitu memetik
buah semua kopi kopi baik yang masih hijau yang biasanya dilakukan pada akhir
pemanenan.
6. Pasca panen
- Sortasi buah kopi
Sortasi adalah sebuah proses memisahkan antara buah dan kotoran-kotoran buah,
buah berpenyakit dengan buah yang cacat, buah yang berwarna merah dengan
buah yang berwarna kuning atau hijau, serta memisahkan buah yang superior
dengan buah yang inferior yang berguna untuk membedakan kualitas biji yang
dihasilkan.
- Pengupasan kulit buah
Pengupasan kulit buah dilakukan dengan mengunakan mesin pengupas, selama
pengupasan dilakukan pengaliran air secara terus menerus kedalam mesin
pengupas yang berfungsi untuk melunakkan jaringan kulit buah agar mudah
terlepas dari bijinya yang menghasilkan biji kopi yang masih memiliki kulit
tanduk atau yang sering disebut dengan kopi HS.
- Fermentasi
Fermentasi dilakukan setelah tahap pengupasan kulit buah kopi, yang dimulai
dari perendaman biji terlebih dahulu kemudian ditumpuk didalam bak kayu
kemudian diatasnya ditutup dengan karung goni yang harus selalu dalam keadaan
basah. Lama fermentasi selama 12 - 36 jam. Kesuksesan proses fermentasi dapat
dilihat dari lapisan lendirnya apabila lendirnya sudah hilang bisa dipastikan
bahwa proses fermentasi telah selasai, dan kopi hasil fermentasi siap untuk dicuci
dengan air bersih lagi.
- Pencucian
Tahap pencucian bertujuan untuk menghilangkan lendir-lendir yang masih tersisa
dan masih melekat di biji buah untuk melakukan tahap selanjutnya dengan
menggunakan mesin yang terus menerus di masukin air bersih.
- Pengeringan
Proses pengeringan bisa dilakukan dengan cara manual yaitu dengan menjemur
kopi dibawah sinar matahari dengan lama penjemuran sekitar 2-3 sesuai dengan
kondisi dilapangan ataupun dengan menggunakan mesin pengering sampai kadar
air yang diinginkan yaitu 7%.
- Pengupasan kulit tanduk dan kulit ari
Biji kopi yang telah mencapai kadar air 12 % kemudian dilakukan tahap
pengupasan kulit tanduk dan kulit air menggunakan mesin huller untuk
mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Cara lain adalah dengan cara
menumbuknya tapi dengan resiko biji banyak yang pecah.
- Sortasi biji kopi
Setelah kulit tanduk dan kulit ari dikupas kemudian dilakukan sortasi untuk
memisahkan kopi yang diinginkan dengan sisa kulit buah, kulit tanduk, biji kopi
pecah dan kotoran lainnya.
- Pengemasan
Pengemasan biji kopi yang telah siap untuk diproduksi dilakukan didalam karung
yang bersih dan kering untuk menghindari serangan jamur bagian bawah karung
diberi kayu sebagai alas dan diberi jarak antara tumpukan karung dengan
dinding.
- Penyimpanan
Penyimpanan kopi ditaruh dalam gudang yang bersih dan aman dari serangan
hama dan penyakit terutama jamur dengan cara bagian bawah karung diberi kayu
sebagai alas dan diberi jarak antara tumpukan karung dengan dinding.
- Sangarai
Proses sangrai bisa dilakukan menggunakan manual yaitu dengan menyangrainya
menggunakan wajan atau bisa juga menggunakan mesun penyangrai dengan suhu
100 200 o C selama 15 menit, untuk mendapatkan hasil yang maksimal
sebaiknya menggunakan mesin.
- Penghalusan
Proses penghalusan dimaksutkan untuk mempermudah proses pelarutan dengan
menggunakan air yaitu dengan menggunakan mesin grinder.
- Ekstraksi
Pengektrakkan dilakukan dengan cara mencampurkan kopi dengan air dengan
perbandingan 1 : 2, proses ini burtujuan untuk mengambil ekstaknya saja dengan
memisahkan antara sari/ekstrak kopi dengan ampas kopinya sehingga akan
dihasilkan kopi dengan bentuk cair.
- Pengkristalan
Proses ini bertujuan untuk mengkristalkan hasil ekstrak kopi yang cair setelah
melalui proses ekstraksi, pengkristalan dilakukan menggunakan mesin yang di
panaskan dan terus menerus.
- Ball mill
Proses ball mill adalah proses untuk menghaluskan kopi hasil dari proses
pengkristalan yang bertujuan untuk mendapatkan kopi dalam tekstur yang halus.
2. Tanaman kakao
A. Persiapan lahan
Dalam penyiapan lahan sama dengan persiapan lahan pada tanaman kopi yaitu
terlebih dahulu menanam tanaman pelindung yang ditanam 1 -2 tahun sebelum tanaman
kakao ditanam. Untuk menunggu penanaman tersebut siapkan lahan penanaman terlebi
dahulu yaitu dengan membuat lubang tanam dengan ukuran 60 X 60 X 60 cm dengan
memisahkan tanah bagian atas dan tanah bagian bawah, serta lubang tanam diberi pupuk
kandang dan kompos kemudian ditutup kembali dengan tanah galian tadi.
B. Pembibitan
Pembibitan adalah suatu kegiatan untuk menghasilkan atau memproduksi bibit.
Kegiatan yang dilakukan dalam pembibitan terdiri dari perencanaan pembibitan,
pembangunan persemaian, penyiapan media bibit, perlakuan pendahuluan terhadap benih
sebelum disemaikan, penyemaian benih, penyapihan bibit, pemeliharaan bibit,
pengepakan dan pengangkutan bibit serta administrasi pembibitan.
Dalam pembibitan kakao harus menggunakan benih yang baik yang dapat
diperoleh dari buah terpilih dengan syarat-syarat sebagai berikut:
1. Buah sudah masak dengan kriteria sudah mengalami perubahan warna yakni bila
muda berwarna hijau sudah berubah menjadi kuning dan yang muda merah sudah
berwarna oranye atau jingga.
2. Dompolan biji sudah terlepas dari kulit buah.
3. Buah dipetik dari batang utama atau cabang primer.
4. Bebas dari serangan hama dan penyakit.
5. Ukuran buah sedang.
Pilih lokasi dekat sumber air dan dekat dengan lahan penanaman kakao, Siapkan
dan campur media tanam yang terdiri dari: tanah, pasir dan pupuk kandang dengan
perbandingan 1:1:1 kemudian siapkan polybag ukuran 20 x 30 cm selanjutnya buat
bedengan dengan atap dari daun kelapa atau daun tebu, tinggi atap bedengan sebelah timur
1,50 m, sebelah barat 1,20 m, lalu atur intensitas cahaya matahari yang masuk sekitar 30-
50 % Susun polybag yang telah diisi media di bawah atap dengan jarak antar polybag 15
cm x15 cm atau 15 cm x 30 cm. Lakukan penyiraman tiap hari atau sesuai kondisi cuaca,
dan lakukan pemupukan tiap 2 minggu dengan pupuk Urea 2 gr/bibit. Atap bedengan
dibuka secara bertahap pada saat umur bibit 2 minggu, Pindahkan bibit ke kebun bila bibit
telah berumur 3-5 bulan, tinggi 40-60 cm, jumlah daun 12 lembar, dan diameter batang
0,7-1,0 cm.
A. Pemeliharaan
1. Pemupukan
Jenis pupuk yang lazim (biasa) digunakan adalah Urea (46% N), ZA (21% N), TSP
(46% P2O5), SP-36 (36% P2O5), KCl (60% K2O), Kiserit (27% MgO) dan
Dolomit (19% MgO).
Dosis pupuk tentatif (disesuaikan dengan umur tanaman) untuk tanaman kakao
yang penaungnya baik, hujannya cukup, sifat fisika dan kimia tanahnya baik
adalah seperti berikut:
Umur/fase setuan urea TSP/SP- KCL Kieserit
36
Bibit gr/bibit 5 7 4 4
0-1 thn gr/ph/thn 25 33 20 40
1-2 thn gr/ph/thn 45 60 35 40
2-3 thn gr/ph/thn 90 120 70 60
3-4 thn gr/ph/thn 180 240 135 75
>4 thn gr/ph/thn 220 240 170 120
2. Pemangkasan
Tujuan pemangkasan adalah:
Membentuk kerangka dasar (cabang tanaman kakao yang baik dan kuat)
Mengatur masuknya sinar matahari kedalam kebun secara merata sehingga
tanaman lebih produktif menghasilkan makanan (fotosintesa).
Memacu dan meningkatkan serta menghasilkan bunga dan buah yang banyak.
Memotong bagian cabang yang terserang hama/penyakit, rusak/patah.
Menekan resiko berkembangnya hama penyakit.
3. Naungan
Tanaman kakao adalah salah satu tanaman perkebunan yang tidak memerlukan
banyak sinar matahari dalam perkembangannya, oleh karena itu perlu digunakan
naungan sebagai penaungannya. Naungan ini mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan tanaman kako, oleh karena itu naungan tang baik akan
meningkatkan kualitas tanaman kakao.
4. Hama dan penyakit
Hama tanaman kakao yang sering menyerang adalah hama penggerek buah kakao,
hama ini menyerang buah dan daun yang menyebabkan terjadinya busuk buah,
warna kulit buah pudar dan berbelang hijau kuning, daging buah hitam, biji keriput
dan melekat pada daging buah. Sedangkan penyakit yang sering menyerang
tanaman kakao antara lain penyakit busuk buah dan bercak daun. Untuk
pengendaliannya adalah secara kimiawi dan hahati, secara kimiawi dilakukan
dengan menggunakan pestisida dan insektisida, sedangkan dengan cara hayati
dilakukan dengan cara memutus siklus hidup hama yang menyerang, memangkas
batang yang terkena penyakit, dan membuang buah yang terserang serta
memanfaatkan semut hitam.
B. Panen
Buah kakao dipanen saat terjadi perubahan warna pada kulit buah yang telah masak,
untuk proses pemasakan buah kakao dari pembuahan yaitu 5 bulan. Untuk mengetahui
bagaimana buah kakao masak dapat dilihat dari berbagai cara selain dilihat dari umur
buah sejak pembuahan bisa juga diketahui dengan melihat ciri-cirinya antara lain
terjadi perubahan warna pada buah itu sendiri, biji terlepas dari kulit bagian dalam,
serta bila buahnya diguncang akan terdengar bunyinya. Dan bila terjadi pemanenan
yang telat maka akan membuat biji kakao berkecambah didalamnya.
C. Pasca panen
Untuk menghasilkan cokelat yang bagus maka harus melalui proses pasca panen
secara baik dan benar. Pasca panen buah kakao di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao
Indonesia diolah dengan mesin-mesin pasca panen sebagai berikut.
1. Pod Breaker
Pod Breaker adalah suatu alat untuk mencacah biji kakao menjadi bagian-bagian
yang lebih kecil. Di Puslit ini tersedia alat yang mampu memecah 6000 -7000
tongkol/jam. Apabila dikonversi dengan tenaga manusia adalah 60-63 tenaga kerja/
hari. Cara kerja alat ini adalah memecah kakao menjadi 4 bagian dari 1 buah kakao
kemudian akan dilanjutkan pada tahap pengayakan yang akan memisahkan antara .
1 ton kakao akan menghasilkan biji kakao bersih sekitar 30 kg saja atau dengan
kata lain limbah yag dihasilkan mencapai 75 %. Limbah yang berupa kulit kakao
tersebut dapat dimanfaatkan untuk pupuk organik, sabun cuci piring dan untuk
pakan ternak atau pelet.
2. Depulper
Adalah alat untuk menghilangkan lendir pada biji kakao yang sudah dikupas
kulitnya. Pada alat depulper ini banyaknya lendir yang dibuang adalah sekitar 20-25
%. Lendir yang dihasilkan dari proses ini tidak langsung dibuang begitu saja,
namun bisa dimanfaatkan sebagai pembuatan sabun muka/ kulit dan sisanya untuk
pembuatan biogas.
3. Peti Fermentasi
Setelah biji kakao melalui proses pemisahan lendir maka dilanjutkan dengan proses
fermentasi. Proses ini berlangsung dalam sebuah peti yang terbuat dari papan kayu
dan ditutup secara rapat dengan menggunakan kain goni atau bisa diganti dengan
daun pisang. Tujuan fermentasi pada biji kakao ini adalah untuk mendapatkan
aroma cokelat. Lama fermentasi biji kakao untuk menghasilkan kualitas yang
maksimal dibutuhkan waktu 5 hari dan tiap 48 jam sekali di balik agar proses
fermentasi berjalan secara merata.
Kegagalan dan keberhasilan proses fermentasi pada biji kakao ini adapat dilihat dan
diamati secara langsung. Apabila fermentasi berhasil, maka pada akhir fermentasi
secara otomatis akan menghasilkan aroma cokelat yang khas. Sedangkan jika
fermentasi gagal maka aroma yang muncul adalah aroma yang berasal dari kain
goni, sehingga kualitas cokelat akan menjadi menurun.
4. Alat Pengering
Setelah difermentasikan dalam peti fermentasi kemudian dilanjutkan ke dalam
mesin pengering. Dalam mesin pengering ini akan dilakukan pengeringan dimana
yang semula kadar air 60 % menjadi kadar air 7 %. Dalam mesin ini bisa diukur
suhu dan temperaturnya untuk menghasilkan kadar air yang optimal pad biji kakao
tersebut. Agar pengeringan bisa merata maka dilakukan pembalikan setiap 1 jam
sekali. Namun kelemahan dari alat ini adalah masih menggunakan tenaga manusia
(manual) saat pembalikan.
Selain menggunakan alat ini biji kakao dapat juga dilakukan dengan pengeringan
secara langsung menggunakan sinar matahari (sun drying), namun waktu yang
diperlukan cukup lama.
5. Mesin Sortasi
Pada mesin sortasi ini akan dilakukan pengelompokan biji berdasarkan ukuran biji
per 100 gr. Ukuran biji juga akan menjadi tolok ukur kualitas biji kakao yang
dihasilkan begitu pula dengan kualitas cokelat yang terbentuk. Semakin sedikit
jumlah biji kakao per 100 gram, maka kualitas yang dihasilkan semakin bagus,
karena satuan biji akan semakin besar. Selain untuk mensortasi biji alat ini juga
untuk memisahkan benda-benda asing yang ikut masuk dalam proses ini, misalnya
kerikil ataupun serpihan-serpihan kulit.
Adapun pengelompokan biji kakao adalah sebagai berikut :
1) AA : Jumlah biji per 100 gram maksimum 85
2) A : Jumlah biji per 100 gram adalah 85 - 100
3) B : Jumlah biji per 100 gram adalah 100 - 110
4) C : Jumlah biji per 100 gram adalah 110 120
Setelah melalui proses pengeringan maka biji kakao masuk kedalam pabrik untuk
diolah menjadi cokelat. Adapun tahap-tahap pembuatan cokelat adalah melalui
berbagai proses sebagai berikut :
6. Penyangraian
Penyangraian merupakan proses awal setelah biji kakao dikeringkan dan disortasi.
Proses penyangraian biji coklat dilakukan pada suhu maksimal 150oC, selama 35
menit. Selama proses penyangraian, kadar air biji turun menjadi sekitar 2% dan
terjadi pembentukan flavor coklat. Biji akan berwarna lebih gelap dengan tekstur
yang lebih rapuh dan kulit menjadi lebih mudah dipisah dari daging biji (nib).
Penyangraian juga akan mempermudah proses ekstraksi lemak. Biji yang telah
disangrai secepatnya didinginkan untuk mencegah pemanasan yang berlebihan.
7. Pengupasan
Setelah biji disangrai selanjutnya dihancurkan dan dipisahkan dari kulit ari dan
lembaganya dengan menggunakan teknik hembusan udara (menampi secara
mekanis). Keberadaan kulit ari dan lembaga tidak diinginkan karena akan
merusak flavor dan karakteristik produk olahan coklat.
8. Penggilingan
Setelah dipisahkan dari kulit biji dan kulit ari kemudian biji coklat (nib)
mengalami proses penggilingan (pelumatan). Proses ini dilakukan secara
bertingkat sebanyak 2 3 tahap untuk memperoleh pasta coklat (cocoa liquor atau
cocoa mass) dengan tingkat kehalusan tertentu.
9. Pengempaan
Setelah proses penggilingan dan tahapan selanjunya adalah mengekstrak cocoa
liquor dengan cara dipress/ditekan untuk mendapatkan lemak coklat (cocoa butter)
dan kakao dengan massa padat yang disebut cocoa presscake. Lemak cokelat akan
diolah dalam pembuatan cokelat, sedangkan massa padat akan diolah menjadi
cokelat bubuk.
a. Cokelat padat
Dalam pembuatan cokelat ini melalui beberapa tahapan, yaitu:
Pencampuran
Tahapan ini adalah mencampurkan antara lemak cokelat, susu dan gula
menjadi satu.
Penghalusan
Setelah bahan dicampurkan kemudian dihaluskan dalam seuatu mesin
agar bahan yang akan dicampurkan bisa merata.
Pencetakan
Setelah semua bahan tercampur merata dilakukan langkah akhir yaitu
pencetakan sesuai keinginan masing-masing. Setelah dicetak kemudian
dimasukkan dalam ruangan pendingin agar cokelat menjadi padat.
b. Cokelat bubuk
Untuk menghasilkan cokelat bubuk adalah bahan utama berupa cocoa
presscake diolah dengan cara dihaluskan.
Demikianlah tahapan-tahapan pembuatan cokelat dari biji kakao. Memasuki tahap air
yaitu packaging, yaitu mengemas cokelat dalam wadah yang menarik. Adapun merk dagang
yang dipakai di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia ini adalah VICCO.
BAB IV
KESIMPULAN
Dari data yang di ketik diatas dapat kita simpulkan bahwa, Kakao (Theobroma cacao, L)
merupakan salah komoditas perkebunan yang sesuai untuk perkebunan rakyat, karena tanaman
ini dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun. Bahwa kakao merupakan tanaman kecil di
bagian bawah hutan hujan tropis dan tumbuh terlindung pohon-pohon yang besar.
Dan Kopi merupakan salah satu hasil komoditi perkebunan yang memiliki nilai ekonomis
yang cukup tinggi di antara tanaman perkebunan lainnya dan berperan penting sebagai
sumber devisa negara.
Untuk syarat tumbuh dan penanamannya yaitu dengan membuat lubang tanam dengan
ukuran 60 X 60 X 60 cm dengan memisahkan tanah bagian atas dan tanah bagian bawah, serta
lubang tanam diberi pupuk kandang dan kompos kemudian ditutup kembali dengan tanah galian
tadi.untuk tanaman kopi dan kakao syarat tumbuh dan penanamannya sama juga perbedaanya
yaitu terlebih dahulu menanam tanaman pelindung yang ditanam 1 -2 tahun sebelum tanaman
kopi ditanam.
LAMPIRAN

Tanaman Kako Kakao yang Sudah Tua Siap di Panen


untuk di Olah

Kakao dalam Proses Fermentasi Olahan Kakao menjadi Cokelat yang


Siap di Kemas

Tanaman Mahoni Sebagai Tanaman


Produk Hasil Olahan Kopi dan Kako
Pelindung
Tanama Lada Panjat di sela-sela
Tanaman Kopi
Tanaman Kopi
DAFTAR PUSTAKA