Anda di halaman 1dari 23

ENTOMOLOGI

STRUKTUR MORFOLOGI SERANGGA BAGIAN THORAX DAN


ABDOMEN

OLEH

KELOMPOK II

EVI ELVIANA

SUNARTI

MIFTAHUL JANNAH
STKIP MUHAMMADIYAH BULUKUMBA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat, taufik dan hidayahnya sehingga kita dapat hidup berkarya dengan baik
dan beribadah kepadanya. Salawat dan salam kita senantiasa ucapkan kepada
Rasulullah Muhammad saw, karena dengan lahirnya beliau didunia ini dapat
mengubah kehidupan manusia dari gelap gulita, kekafiran dan kebodohan menjadi
manusia yang terang benderang, iman dan islam.
Alhamdulillah kami dapat menyelesaikan tugas kami yaitu menyusun
makalah tentang Struktur Morfologi Serangga Bagian Thorax dan Abdomen,
mudah mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Kami sadar bahwa makalah kami jauh dari kesempurnaan maka kami siap
untuk menerima saran dan kritikan dari pembaca. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat.

Bulukumba,20 September 2016

Penulis
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Serangga merupakan kelompok hewan yang dominan di muka bumi
dengan jumlah spesies hampir 80 persen dari jumlah total hewan di bumi. Dari
751.000 spesies golongan serangga, sekitar 250.000 spesies terdapat di
Indonesia. Serangga di bidang pertanian banyak dikenal sebagai hama.
Sebagian bersifat sebagai predator, parasitoid, atau musuh alami. Kebanyakan
spesies serangga bermanfaat bagi manusia. Sebanyak 1.413.000 spesies telah
berhasil diidentifikasi dan dikenal, lebih dari 7.000 spesies baru di temukan
hampir setiap tahun. Karena alasan ini membuat serangga berhasil dalam
mempertahankan keberlangsungan hidupnya pada habitat yang bervariasi,
kapasitas reproduksi yang tinggi, kemampuan memakan jenis makanan yang
berbeda, dan kemampuan menyelamatkan diri dari musuhnya.
Serangga merupakan Filum Arthropoda (termasuk pada kelas insekta).
Filum Arthropoda (dalam bahasa latin, Arthra = ruas , buku, segmen ; podos =
kaki) merupakan hewan yang memiliki ciri kaki beruas, berbuku, atau
bersegmen. Segmen tersebut juga terdapat pada tubuhnya. Tubuh Arthropoda
merupakan simetri bilateral dan tergolong tripoblastik selomata. Arthropoda
adalah filum yang paling besar dalam dunia hewan dan mencakup serangga,
laba-laba, udang, lipan dan hewan mirip lainnya. Arthropoda adalah nama lain
hewan berbuku-buku.
Arthropoda biasa ditemukan di laut, air tawar, darat, dan lingkungan
udara, serta termasuk berbagai bentuk simbiotis dan parasit. Hampir dari 90%
dari seluruh jenis hewan yang diketahui orang adalah Arthropoda. Arthropoda
dianggap berkerabat dekat dengan Annelida, contohnya adalah Peripetus di
Afrika Selatan. Filum Arthropoda sebagian berperan sebagai mangsa dari
sejumlah hewan predator yang terdiri atas arthropoda lain dan spesies bukan
arthropoda.
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana struktur morfologi serangga bagian thorax dan abdomen secara
umum?
2. Bagaimana struktur morfologi serangga bagian thorax dan abdomen kupu-
kupu?
3. Bagaimana struktur morfologi serangga bagian thorax dan abdomen semut?
4. Bagaimana struktur morfologi serangga bagian thorax dan abdomen
anggang-anggang?
D. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui struktur morfologi serangga bagian thorax dan abdomen
secara umum
2. Untuk mengetahui struktur morfologi serangga bagian thorax dan abdomen
kupu-kupu?
3. Untuk mengetahui struktur morfologi serangga bagian thorax dan abdomen
semut?
4. Untuk mengetahui struktur morfologi serangga bagian thorax dan abdomen
anggang-anggang?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Deskripsi Serangga
Serangga (disebut pula Insecta, dibaca insekta) adalah kelompok utama
dari hewan beruas (Arthropoda) yang bertungkai enam (tiga pasang); karena
itulah mereka disebut pula Hexapoda (dari bahasa Yunani, berarti berkaki
enam). Serangga ditemukan di hampir semua lingkungan kecuali di lautan.
Kajian mengenai peri kehidupan serangga disebut entomologi. Lebih dari
800.000 spesiesinsekta sudah ditemukan. Terdapat 5.000
spesies bangsa capung(Odonata), 20.000 spesies bangsa belalang (Orthoptera),
170.000 spesies bangsa kupu-kupu dan ngengat (Lepidoptera), 120.000 bangsa
lalat dan kerabatnya (Diptera), 82.000 spesies bangsa kepik (Hemiptera),
360.000 spesies bangsa kumbang (Coleoptera) dan 110.000 spesies bangsa
semut (hymenoptera) (Anonim 2009).
B. Struktur Morfologi Serangga Bagian Thorax Dan Abdomen Secara Umum

1. Thorax (dada)
Toraks adalah bagian yang menghubungkan antara caput dan
abdomen. Torak juga merupakan daerah lokomotor pada serangga dewasa
karena pada torak terdapat tiga pasang kaki dan dua atau satu pasang sayap
(kecuali ordo Thysanura tidak bersayap). Torak bagian dorsal disebut
notum (Jumar, 2000).

Dada (thorax) terdiri atas 3 segmen yaitu prothorax (anterior):


adalah bagian depan dari thoraks dan sebagai tempat atau dudukan bagi
sepasang tungkai depan, mesothorax (tengah) bagian tengah dari thorax
dan sebagai tempat atau dudukan bagi sepasang tungkai tengah dan
sepasang sayap depan dan metathorax (posterior) bagian belakang dari
thorax dan sebagai tempat atau dudukan bagi sepasang tungkai belakang
dan sepasang sayap belakang. Tiap-tiap segmen tertutup oleh eksokeleton,
di bagian dorsal disebut tergum, disisi lateral disebut pleura, dan di bagan
ventral disebut sternum (Jumar, 2000). Pada mesothorax dan metathorax
masing-masing terdapat sepasang sayap.
Menurut Borror et al (1992), toraks merupakan tagma (segmen)
lokomotor tubuh dan toraks mangandung tungkai-tungkai dan sayap-
sayap. Toraks terdiri atas tiga ruas, bagian anterior protoraks, mesotoraks,
dan bagian posterior metatoraks. Diantara serangga-serangga memiliki dua
pasang spirakel terbuka pada toraks. Spirakel yang satu berkaitan
dengan mesotoraks dan yang lain berkaitan dengan metatoraks. Meso dan
metahoraks mengalami beberapa perubahan yang berkaitan dengan
penerbangan.
a. Sayap
Sayap-sayap serangga adalah pertumbuhan-pertumbuhan keluar
dari dinding tubuh yang terletak pada dorso-
lateral antara notum dan pleura (Borror et al, 1992). Mereka timbul
sebagai pertumbuhan keluar seperti kantung, tetapi bila berkembang
dengan sempurna, maka akan berbentuk gepeng dan seperti sayap dan
diperkuat oleh suatu deretan rangka-rangka sayap. Pada serangga, sayap
berkembang sempurna dan berfungsi dengan baik hanya ada dalam
stadium dewasa, kecuali pada Ordo Ephemeroptera, sayap berfungsi
pada instar terakhirnya. Tidak semua serangga memiliki sayap.
Serangga tidak bersayap digolongkan ke dalam sub kelas Apterygota,
sedangkan serangga yang memiliki sayap dimasukkan ke dalam
golongan sub kelas Pterygota.
Sayap serangga terdiri dari dua atau satu pasang. Serangga
bersayap pada fase dewasa dan pradewasa khusus pada Ephemeroptera
yang biasa disebut fase subimago/preimago. Sayap serangga secara
umum berupa lembaran yang bervena berfungsi untuk terbang. Venasi
sayap ini penting untuk diketahui sebagai dasar untuk menentukan
spesies serangga tertentu, khususnya bangsa lalat dan tawon. Sayap
serangga bentuknya sangat bervariasi, oleh karena itu entomologist
memilahkan bentuk-bentuk sayap ini sebagai dasar untuk menentukan
ordo. Sayap depan kumbang sangat tebal dan kuat yang digunakan
sebagai pelindung tubuhnya disebut elytra; sayap depan kepik yang
separuh bagian basal tebal disebut corium dan selebihnya membran,
sayap depan kepik ini disebut hemelytra; sayap depan kecoa disebut
tegmina; dan sayap belakang lalat yang disebut halter berukuran sangat
kecil berujung membulat berfungsi sebagai alat penyeimbang ketika
terbang. (Jumar. 2000)
Sayap merupakan tonjolan integumen dari bagian meso dan
metoraksi. Tiap sayap tersusun atas permukaan atas dan bawah yang
terbuat dari bahan khitin tipis. Bagian bagian tertentu dari sayap yang
tampak sebagai garis tebal disebut pembuluh yang atau rangka sayap
pembuluh atau rangka sayap memanjang disebut rangka sayap
membujur (longitudinal) dan yang melintang disebut rangka sayap
melintang. Sedangkan, bagian atau daerah yang dikelilingi pembuluh
atau rangka sayap disebut sel.
Sayap serangga terletak pada mesotoraks, apabila serangga
memiliki dua pasang sayap. Jika serangga hanya memiliki satu sayap,
maka sayap tersebut terletak pada mesotoraks dan pada metatoraks
terdapat sepasang halter. Halter ini berfungsi sebagai alat keseimbangan
pada saat serangga tersebut terbang.
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, pada sayap serangga
terdapat pembuluh sayap atau rangka sayap. Pola rangka sayap berbeda
untuk setiap jenis serangga, dan ini penting dalam identifikasi. Hingga
sekarang, akan tetapi yang paling umum dan luas digunakan adalah
sistem pola rangka sayap menurut comstock-Needham.

Rangka sayap membujur (longitudinal), adalah :


Costa (C) : tidak bercabang dan terdapat pada tepi depan sayap.
Subcosta (Sc) : rangka sayap yang bercabang dua, yaitu Sc1 dan Sc2.
Radius (R) : rangka sayap radius ini bercabang menjadi R1 dan sektor-
radial (Rs). Sektor- radial (Rs) ini biasanya bercabang empat, yaitu R1,
R2, R3, dan R4.
Median (M) : biasanya bercabang empat, yaitu M1, M2, M3, dan M4.
Cubitus (Cu) : bercabang menjadi dua, yaitu Cu1 dan Cu2. Cu1 ini
bercabang lagi menjadi Cu1a dan Cu1b.
Anal (A) : biasanya tidak becabang, berturut turut dari depan ke
belakang adalah anal pertama (1A), anal kedua (2A), anal ketiga (3A)
dan seterusnya.
Rangka sayap melintang
Rangka sayap melintang ini menghubungkan rangka sayap
membujur (longitudinal) yang utama dan di beri nama menurut
letaknnya atau berdasarkan nama rangka sayap membujur yang
dihubungkannya. Rangka sayap melintang tersebut adalah :
Humeral(h) : terletak dekat pangkal sayap diantara kosta dan
subkosta.
Radial(r) : menghubungkan R1 dengan cabang depan radius
sektor (Rs).
Radio-medial(r-m) : menghubungkan cabang posterior radius dengan
cabang anterior median.
Medial (m) : menghubungkan M2 dan M3.
Medio-cubital (m-cu) : menghubungkan cabang posterior media
dengan cabang anterior kubitus.
Cubito-anal : menghubungkan cabang posterior kubitus dan anal
pertama (1A).
Sayap serangga juga mengalami modifikasi. Modifikasi sayap
menurut Jumar (2000), adalah sebagai berikut:

Sayap membran, sayap sangat tipis yang kurang lebih tembus pandang,
meskipun juga ada yang gelap, misalnya pada capung Sympetrum corruptum,
tawon Dolichovespula maculata, dan rayap Reticulitermes virginicus
Sayap sisik, permukaan sayap dipenuhi dengan sisik yang membuat sayap
berwarna-warni, misalnya pada kupu-kupu Papilio turnus, ngengat
io Automeris io, dan serangga neuroptera Nectopsyche utleyorum
Haltere, modifikasi ekstrem pada serangga ordo Diptera, sayap belakang
tereduksi menjadi sepasang pentul yang berfungsi untuk menjaga
keseimbangan, misalnya pada lalat Typula oleracea
Elytra (tunggal elytron), sayap depan menebal untuk melindungi sayap
belakang, menjadi penciri serangga ordo Coleoptera, misalnya pada kumbang
kotoran binatang Heliocopris andersoni
Hemelytra, menebal pada 2/3 bagian terdekat dengan badan, sedangkan
1/3 bagian terjauh dari badan tidak menebal, misalnya pada berbagai jenis
kepik, seperti pada kepik mata besar Geocoris sp.
Tegmina (tunggal tegmen), sayap depan menyerupai kertas pada ordo
Orthoptera, Blattaria, dan Mantodea, misalnya pada kecoak Periplaneta
fuliginosa dan belalang katidid Pterophylla camellifolia.

b. Tungkai
Tungkai atau kaki merupakan salah satu embelan pada bagian
toraks serangga, selain sayap. tungkai serangga terdiri atas beberapa
ruas (segmen). Ruas pertama disebut Koksa (coxa), merupakan bagian
yang melekat langsung pada toraks, ruas kedua
disebut trokhanter (trochanter), berukuran lebih pendek daripada koksa
dan sebagian bersatu dengan ruas ketiga. Ruas ketiga disebut Femur,
merupakan ruas yang terbesar. Selanjutnya, ruas keempat disebut
dengan Tibia, biasanya lebih ramping tetapi kira-kira sama panjangnya
dengan femur. pada bagian ujung tibia ini biasanya terdapat duri-duri
tau taji. ruas terakhir disebut dengan Tarsus, tarsus biasnya terdiri dari
atas 1-5 ruas. diujung ruas terakhir tarsus terdapat Pretarsus yang terdiri
dari sepasang kuku tarsus. kuku tarsus disebut dengan Claw, diantara
kuku terdapat struktur seperti bantalan yang disebut Arolium. Borror
(1992)
Pada beberapa serangga, di bawah setiap kuku tarsus terdapat
struktur seperti bantalan yang dinamakan Pulvilus.pada tungkai
serangga yang memiliki pulvilli, struktur diantara kuku biasnya dengan
bentuk meruncing disebut dengan empodium. Serangga dewasa dan
beberapa serangga muda memilki tungkai pada bagian toraksnya. akan
tetapi, terdapat serangga muda yang apodaus (tidak bertungkai), seperti
pada larva lalat (sering disebut sebagai tempayak). Bahkan ada
serangga dewasa yang tidak bertungkai secara jelas, misalnya kutu
perisai betina. Sesungguhnya, tungkai serangga banyak yang
mengalami modifikasi dari bentuk yang umum dengan fungsi pejalan,
adapun Menurut Jumar (2000), tungkai-tungkai serangga mengalami
modifikasi. Sejumlah modifikasi tersebut adalah:
1) Tipe cursorial, adalah tungkai yang digunakan untuk berjalan dan
berlari. Misalnya pada kecoa.

2) Tipe fossorial, adalah tungkai yang digunakan untuk menggali,


ditandai dengan adanya kuku depan yang keras sekali. Misalnya
tungkai depan orong-orong.
3) Tipe saltotorial, adalah tungkai yang berfungsi untuk meloncat,
ditandai dengan pembesaran femur tungkai belakang. Misalnya
pada belalang.

4) Tipe raptorial, adalah tungkai yang berfungsi untuk menangkap dan


mencengkram mangsa, ditandai dengan pembesaran femur tungkai
depan. Misalnya kaki depan belalang sembah.

5) Tipe natatorial, adalah tungkai yang berfungsi untuk berenang,


ditandai dengan bentuk yang pipih serta adanya sekelompok
"rambut-rambut renang" yang panjang. Misalnya pada kepinding
kapal.

6) Tipe ambalatorial, adalah tungkai yang berfungsi untuk berjalan


ditandai dengan femur dan tibia yang lebih panjang dari bagian
tungkai lainnya. tungkai ini merupakan bentuk umum tungkai
serangga.
Tungkai pada beberapa jenis serangga memiliki struktur khusus yang
sesuai dengan fungsinya. Beberapa struktur tersebut antara lain :
1) Kurubikulum terdapat pada tungkai lebah madu, merupakan wadah
tepung sari.
2) Timpanum terdapat terdapat pada tibia tungkai depan dari belalang
berantena panjang (Tettigonidae)dan jangkrik (Gryllidae). Alat
tersebut berfungsi sebagai alat pendengar.
3) Pada berbagai jenis serangga terdapat berbagai tipe struktur alat indera
pada tungkainya, Misalnya : Sesilli pada tarsi tungkai depan lalat
rumah yang berfungsi untuk merasakan makanan.
2. Abdomen (perut)
Abdomen serangga merupakan bagian tubuh yang memuat alat
pencernaan, ekskresi, dan reproduksi. Abdomen serangga terdiri dari
beberapa ruas, rata-rata 9-10 ruas. Bagian dorsal dan ventral mengalami
sklerotisasi sedangkan bagian yang menghubungkannya berupa membran.
Bagian dorsal yang mengalami sklerotisasi disebut tergit, bagian ventral
disebut sternit, dan bagian ventral berupa membran
disebut pleura. Perkembangan evolusi serangga menunjukkan adanya
tanda-tanda bahwa evolusi menuju kepengurangan banyaknya ruas
abdomen.

Sebagian besar ruas abdomen tampak jelas terbagi menjadi tergum


(bagian atas) dan sternum (bagian bawah), sedangkan pleuron (bagian
tengah) tidak tampak, sebab sebagian bersatu dengan tergum. Perbedaan
kelamin jantan dan betina dapat dilihat jelas pada bagian abdomen ini.
Pada abdomen serangga betina terdapat 10 ruas tergum dan 8 ruas
sternum, sedangkan pada serangga jantan terdapat 10 ruas tergum dan 9
ruas sternum. Ruas ke-11 abdomen pada belalang betina tinggal berupa
pelat dorsal berbentuk segitiga yang dinamakan epiprok dan sepasang
pelat lateroventral yang dinamakan paraprok. Di antara ujung ujung
epiprok dan paraprok terdapat lubang anus. Tergum ruas ke-11 memiliki
sepasang embelan yang dinamakan cerci (tunggal : cercus). Pada serangga
betina embelan embelan termodifikasi pada ruas abdomen kedelapan dan
kesembilan membentuk ovipositor (alat peletakkan telur) di mana terdiri
atas dua pasang katub yang dinamakan valvifer dan selanjutnya
menyandang valvulae (sepasang pada ruas kedelapan dan dua pasang
pada ruas kesembilan). Alat kopulasi pada serangga jantan biasanya
terdapat pada ruas abdomen kesembilan.
Pada kedua sisi ruas abdomen pertama terdapat lubang yang cukup
besar dan tertutup oleh selaput tipis yang disebut timpanum (alat
pendengaran pada belalang). Spirakel (lubang pernapasan) pada abdomen
terletak di depan timpanum, dan spirakel lainnya terletak pada ruas
abdomen kedua sampai kedelapan pada sebelah bawah dari tergum.
Serangga betina dewasa yang tergolong apterygota, seperti
Thysanura, memiliki ovipositor yang primitive dimana bentuknya terdiri
dari dua pasang embelan yang terdapat pada bagian bawah ruas abdomen
kedelapan dan kesembilan. Sesungguhnya, terdapat sejumlah serangga
yang tidak memiliki ovipositor, dengan demikian serangga ini
menggunakan cara lain untuk meletakkan telurnya. Jenis serangga tersebut
terdapat dalam ordo Thysanoptera, Mecoptera, Lepidoptera, Coleoptera,
dan Diptera. Serangga ini biasanya akan menggunakan abdomennya
sebagai ovipositor. Beberapa spesies serangga dapat memanfaatkan
abdomennya yang menyerupai teleskop sewaktu meletakkan telur-
telurnya (Jumar, 2000).
C. Struktur Morfologi Serangga Bagian Thorax Dan Abdomen Kupu-kupu
(serangga darat)
Seperti serangga lainnya, tubuh kupu-kupu ditopang oleh kerangka luar
exoskeletontempat otot-otot dan organ dalam melakat sisi bagian dalam.
Kepala dan dada dilengkapi dengan otot-otot yang berperan sebagai alat gerak
dari bagian-bagian mulut dan sayap. Sebagaian besar rangka luar berupa lapisa
kitin yang tidak tembus air dan tidak laut dalam asam organic. Di alam,
serangga yang mati hanya dapat diurai oleh mikroorganisme.
Thorax atau dada
Thorax kupu-kupu sangat berbeda dengan kepala
(Head) dan abdomen. Thorax terhubung dengan kepala melalui membran atau
selaput yang berfungsi sebagai leher yang lembut dan pendek. Thorax kupu-
kupu dilengkapi dengan ruas-ruas yang kuat yang membentuk kotak, yang
sepenuhnya berisi otot-otot yang menyokong pergerakan kupu-kupu. Dari ruas-
ruas inilah thorax dibagi atas tiga bagian yaitu:
1. Protoraks: tempat melekatnya pasangan kaki depan
2. Mesotoraks; tempat melekatnya pasangan kaki tengah dan
pasangan sayap depan
3. Metatoraks: tempat melekatnya pasangan kaki belakang dan
pasangan sayap belakang
Pada Thorax terdapat sejumlah spirakel pada sisi-sisi thorax. Spirakel
merupakan tempat masuknya udara dari luar kedalam tubuh kupu-kupu. Perlu
diketahui bahwa spirakel pada bagian Thorax tampak besar dikarenakan
berkaitan dengan kebutuhan oksigen yang tinggi untuk pergerakan sayap dan
kaki.
Kaki atau tungkai kupu-kupu terdiri atas beberapa ruas, yaitu koksa (ruas
dasar), trokanter (sendi paha), femur, tibia dan tarsus. Tarsus terdiri dari
beberapa ruas yang dilengkapi dengan sepasang kuku. Jumlah dari ruas-ruas
tarsus sangat bervariasi tergantung dari jenis dan kelamin kupu-kupu. Perlu
diperhatikan bahwa kaki depan kupu-kupu sangat sensitif, sehingga sangat
berguna dalam menganal adanya nectar, bunga atau pasangannya. Disamping
itu kaki kupu-kupu kadang-kadang atau biasanya dilengkapi dengan spina atau
taji yang berfungsi untuk membantu dalam berjalan.
Sayap merupakan organ yang terpenting bagi bagi pergerakan kupu-kupu,
dimana sayap kupu-kupu merupakan selaput tipis yang dilengkapi dengan
venasi sehingga memperkuat melekatnya sayap pada toraks. Distribusi venasi
ini sama pada setiap jenis kupu-kupu. Dalam memudahkan indentifikasi kupu-
kupu maka dilakukan pemberian nama atau kode keterangan terkait gambar
dan warna. Sayap kupu-kupu pada dasarnya transparan, warna pada sayap
kupu-kupu terbentuk dan berasal dari sisik yang menutupi sayap pada
keduanya yang dinamakan double layer. Sisik pada sayap kupu-kupu tersusun
seperti genting, akan tetapi tidak semua Lepidoptera memiliki sayap yang
ditutupi sisik. Ngengat dari family Ithomiinae yang biasa dikenal dengan
Clearing butterfly karena sayapnya transparan dikarenakan tidak ada sisik yang
menutupi. Sayap depan dan belakang dihubungkan oleh suatu strukur yaitu
fenulu dan jugun.
Perlu diingat bahwa beberapa kupu-kupu memiliki perbedaan pola warna
dan bentuk antara individu jantan dan betina dari satu jenis,dimana dikenal
dengan istilah Dimorfisme. Selain itu, pola warna sayap juga digunakan
sebagai system perlindungan diri dengan berkamuflase.
D. Struktur Morfologi Serangga Bagian Thorax Dan Abdomen Semut (serangga
tanah)
Semut termasuk famili Formicidae, ordo Hymenoptera, yaitu kelompok
serangga yang anggotanya selain semut adalah tawon dan lebah. Semut adalah
serangga sosial yang hidupnya dalam sarang yang lebih kurang bersifat
permanen. Ukuran koloni sangat bervariasi dan kebanyakan lokasinya di dalam
tanah, kayu, dan diantara batu-batuan. Perilaku makannya berbeda-beda, ada
yang predator, bangkai, cairan tanaman, atau secara umum yang mengandung
gula, atau pemakan segala (omnivora). Semut adalah serangga yang sangat
familiar di sekitar lingkungan kita tinggal. Semut bisa dilihat di dinding
bangunan, dapur, rumput lapangan atau di kebun, kayu yang membusuk atau
batu-batuan. Sebagai kelompok, maka semut tergolong serangga yang paling
sukses.

Di bagian dada semut terdapat tiga pasang kaki dan di ujung setiap
kakinya terdapat semacam cakar kecil yang membantunya memanjat dan
berpijak pada permukaan. Sebagian besar semut jantan dan betina calon ratu
memiliki sayap. Namun, setelah kawin betina akan menanggalkan sayapnya
dan menjadi ratu semut yang tidak bersayap. Semut pekerja dan prajurit tidak
memiliki sayap.
Di bagian metasoma (perut) semut terdapat banyak organ dalam yang
penting, termasuk organ reproduksi. Beberapa spesies semut juga memiliki
sengat yang terhubung dengan semacam kelenjar beracun untuk melumpuhkan
mangsa dan melindungi sarangnya. Spesies semut seperti Formica yessensis
memiliki kelenjar penghasil asam semut yang bisa disemprotkan ke arah
musuh untuk pertahanan.
E. Struktur Morfologi Serangga Bagian Thorax Dan Abdomen Pada Anggang-
anggang (serangga air)
Serangga air merupakan kelompok arthropoda yang sebagian hidupnya
berada di kolom air. Mereka sangat penting dan dimana mereka ditemukan
distu terdapat tujuanya; beberapa sebagai makanan ikan dan invertebrata lain
dan sebagian dapat menyalurkan patogen pada manusia dan hewan. (Popoola
dan A. Otalekor, 2011).

Anggang-anggang merupakan sekelompok serangga pemangsa yang


semuanya termasuk dalam suku Gerridae. Anggota-anggotanya, sekitar 340
jenis, banyak yang sulit dibedakan. Dalam literatur dikenal juga secara salah
kaprah sebagai "laba-laba air", walaupun ia sama sekali bukan laba-laba. Nama
"anggang-anggang" sendiri berasal dari gerakannya yang maju-mundur sambil
mengapung.
Serangga ini sangat mudah dikenali karena kebiasaan hidupnya yang
selalu berjalan/melompat di permukaan air. Gerakannya cepat, dapat mencapai
1.5 m/s. Kebanyakan hidup di perairan tenang, namun ada lima jenis (dari
marga Halobates) yang diketahui hidup di permukaan samudera.
Hewan ini menjadi model dalam penelitian biofisika tentang kemampuan
tekanan permukaan dalam menyangga beban. Ada dua aspek yang menjadi
perhatian: kemampuan mengapung di permukaan dan kemampuannya bergerak
ke depan secara cepat.
Kemampuan mengapung berasal dari adanya rambut-rambut sangat kecil
(microsetae) tersusun dengan arah tertentu dengan lekukan-lekukan dalam
ukuran nanometer pada ujung tungkainya dan dilengkapi dengan lapisan
malam (lilin), tetapi efek hidrofobik lebih disebabkan oleh struktur fisik
tungkai daripada lapisan malam yang ada. [3] Diketahui pula, terdapat sudut
kontak efektif tungkai dengan air sebesar 167.6 4.4. Karena rapatnya
rambut-rambut kecil serta lekukan-lekukan yang ada, udara terperangkap pada
struktur itu dan berfungsi sebagai "bantalan" pada permukaan air.
Struktur morfologi anggang yaitu:
1. Thorax memiliki tiga pasang kaki, biasanya dengan dua pasang (satu atau
tidak ada) sayap.
2. Abdomen terdiri atas 11 atau beberapa ruas dan bagian ujungnya
termodifikasi sebagai genitalia.
3. Pada ruas abdomen pertama golongan belalang terdapat membran
timpanum sebagai alat pendengaran.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dada (thorax) terdiri atas 3 segmen yaitu prothorax (anterior): adalah
bagian depan dari thoraks dan sebagai tempat atau dudukan bagi sepasang
tungkai depan, mesothorax (tengah) bagian tengah dari thorax dan sebagai
tempat atau dudukan bagi sepasang tungkai tengah dan sepasang sayap depan
dan metathorax (posterior) bagian belakang dari thorax dan sebagai tempat atau
dudukan bagi sepasang tungkai belakang dan sepasang sayap belakang.
Sayap-sayap serangga adalah pertumbuhan-pertumbuhan keluar dari
dinding tubuh yang terletak pada dorso-lateral antara notum dan pleura .
Sayap serangga terdiri dari dua atau satu pasang. Serangga bersayap pada fase
dewasa dan pradewasa khusus pada Ephemeroptera yang biasa disebut fase
subimago/preimago. Sayap serangga secara umum berupa lembaran yang
bervena berfungsi untuk terbang.