Anda di halaman 1dari 25

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pepatah Kuno mengatakan ubi societas ibi ius (dimana ada masyarakat

disitu ada hukum), dan selayaknya masyarakat Internasional. Sudah

sepantasnya, memiliki regulasi untuk kehidupan masyarakatnya.

Dari sudut pandang sejarah, kebiasaan Internasional adalah sumber

hukum tertua diantara ketiga sumber hukum utama internasional itu. Pada

zaman yunani kuno, hukum perang dan damai lahir dari adat istiadat umum

yang dipatuhi oleh negara yunani kuno. Hukum kebiasaan ini terkristaisasi

melalui proses generalisasi dan unifikasi berbagai adat-kebiasaan dari

masing masing republik kota.

Sebelum berbicara banyak mengenai berbagai kaidah dalam hukum

Internasional, ada baiknya kita definisakan dulu pengertian Kebiasaan

internasional ini. Dalam pasal 38 (1) sub b statuta Mahkamah Internasional,

dikatakan International Custom, as evidence of a General Practice accepted

as law atau dengan kata lain Kebiasaan Internasional yang merupakan

Praktek umum yang diterima sebagai hukum.

Dari definis tersebut, kita bisa menarik sebuah kesimpulan, untuk

sebuah kebiasaan internasional menjadi hukum yang mengikat bagi negara-

negara lain. Ia harus memenuhi dua unsur yaitu Harus terdapat suatu

kebiasaan yang bersifat umum dan Kebiasaan itu harus diterima sebagai

hukum.
2

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Hukum Internasional?

2. Apa yang dimaksud dengan Kebiasaan Internasional?

3. Bagaimana hubungan kebiasaan internasional pada praktek hukum

internasional ?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan

1. Untuk mengetahui apa itu hukum internasional dan kebiasaan

internasional

2. Untuk memberikan pengetahuan kepada pembaca mengenai hukum

internasional dan kebiasaan internasional

3. Agar pembaca lebih mengerti lagi seperti apa kebiasaan internasional

dalam praktik hukum internasional.


3

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Hukum Internasional

A. Pengertian Hukum Internasional

Hukum internasional adalah himpunan dari peraturan-peraturan dan

ketentuan-ketentuan yang mengikat serta mengatur hubungan antara

negara-negara dan subjek-subjek hukum lainnya dalam kehidupan

masyarakat internasional.

Di dalam ketentuan hukum itu sesungguhnya mencakup banyak hal,

antara lain:

1) Adanya peraturan.

2) Adanya subjek yang dikenal peraturan.

3) Adanya keharusan subjek untuk mematuhtaati peraturan.

4) Adanya akibat buruk jika peraturan itu dilanggar.

Unsur-unsur yang ada di dalam hukum internasional:

1) Adanya peraturan-peraturan/norma-norma, isinya: traktat,

kebiasaan, dan asas-asas.

2) Adanya subjek hukum.

3) Adanya peraturan subjek-subjek hukum terhadap peraturan-

peraturan yang ada.

4) Kepatuhan itu disyaratkan jika mereka akan saling mengadakan

hubungan.
4

Dari gambaran di atas serta dari unsur-unsur yang harus ada di dalam

hukum internasional, maka dapat disimpulkan bahwa untuk dapat

menciptakan kehidupan masyarakat internasional yang teratur maka mutlak

diperlukan adanya norma atau peraturan yang disebut hukum internasional.

Keharusan tunduknya subjek-subjek hukum internasional, khususnya

negara dalam mengadakan hubungan satu sama lain merupakan hal yang

tidak dapat ditawarkan lagi.

Dari uraian singkat di atas juga dapat dipahami, mengenai tujuan hukum

internasional, yaitu:

1) Mewujudkan keadilan dalam hubungan internasional.

2) Menciptakan hubungan internasional yang teratur.

Nama lain hukum internasional adalah international law, transnational

law (Inggris) ius gentium (Romawi), volkenreet (Jerman), volkenrecht

(Belanda), droitgent (Perancis), hukum antar bangsa (Indonesia).

Hukum Internasional dapat dibagi menjadi dua yakni hukum perdata

internasional dan hukum publik internasional. Hukum perdata internasional,

adalah hukum internasional yang mengatur hubungan hukum antara warga

negara suatu negara dengan warga negara dari negara lain. Hukum publik

internasional adalah hukum internasional yang mengatur negara yang satu

dengan negara lain di dalam hubungan internasional.

B. Subjek-Subjek Hukum Internasional

Subjek hukum internasional, yaitu pendukung hak dan kewajiban

menurut hukum internasional. Subjek hukum internasional menurut

Mochtar Kusumaatmadja terdiri dari :


5

1) Negara,

2) Tahta suci,

3) Palang merah internasional

4) Organisasi internasional

5) Orang perorangan (individu)

6) Pemberontakan dan pihak dalam sengketa (belligerent).

Negara merupakan subjek hukum internsional dalam arti klasik,

semenjak lahirnya hukum internasional, negara sudah diakui sebagai

subjek hukum internasional. Oleh karena itu, hingga sampai

sekarangpun ada yang beranggapan, bahwa hukum internasional itu

pada hakikatnya adalah hukum antara negara.

Tahta suci (Vatikan) sebagai subjek hukum internasional yang telah ada

sejak dahulu di samping negara-negara. Hal tersebut merupakan

peninggalan (atau kelanjutan) sejarah sejak zaman dahulu ketika Paus

sebagai kepala Gereja Roma yang memiliki kekuasaan duniawi. Hingga

sekarang Tahta Suci mempunyai perwakilan-perwakilan diplomatic di

berbagai ibu kota negara, seperti di Jakarta, yang kedudukannya sejajar

dengan wakil-wakil diplomatic negara lain.

Palang Merah Internasional (PMI) yang berkedudukan di Jenewa

mempunyai tempat terakir dalam sejarah Hukum Internasional. Boleh

dikatakan, bahwa organisasi ini sebagai subjek hukum internasional

(terbatas) lahir karena sejarah, kemudia statusnya diperkuat dalam

perjanjian-perjanjian dan konvensi-konvensi palang merah internasional

(konvensi Genewa 1949 tentang perlindungan korban perang). Dewasa

ini Palang Merah Internasional secara umum diakui sebagai organisasi


6

internasional yang memiliki kedudukan sebagai subjek hukum

internasional, walaupun dengan ruang lingkup yang sangat terbatas.

Organisasi Internasional sebagai subjek hukum internasional

kedudukannya sekarang tidak diragukan lagi, meskipun pada mulanya

belum ada kepastian mengenai hal itu. Organisasi internasional, seperti

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan Organisasi Buruh Internasional

(International Labour Organization/ILO) mempunyai hak-hak dan

kewajiban yang ditetapkan dalam konvensi-konvensi Internasional yang

merupakan anggaran dasarnya. Melalui kenyataan ini sebenarnya sudah

dapat dikatakan, bahwa PBB dan organisasi internasional semacamnya

adalah merupakan subjek hukum internasional menurut hukum

internasional khususnya yang bersumber pada konvensi-konvensi

internasional tadi.

Orang perorangan (Individu) diakui sebagai subjek hukum

internasional, karena kepadanya diberikan hak untuk menuntut di

pengadilan internasional berdasarkan konvensi atau perjanjian.

Pemberontakan dan Pihak dalam sengketa, menurut hukum perang

dapat memperoleh kedudukan dan hak sebagai pihak yang bersengketa

dalam keadaan-keadaan tertentu. Bahkan akhir-akhir gerakan

pembebasan diakui pula sebagai subjek hukum internasional. Seperti

Gerakan Pembebasan Palestina (PLO).

Sebagai dasar pengalaman tersebut, maka pada prinsipnya bangsa-

bangsa di dunia mempunyai hak-hak asasi yang perlu dilindungi, seperti

(1) hak untuk menentukan nasib sendiri, (2) hak untuk secara bebas
7

memilih sistem ekonomi, politik dan sosial sendiri, dan (3) hak untuk

menguasai sumber kekayaan alam dari wilayah yang didudukinya.

C. Asas-Asas Hukum Internasional

Hukum internasional diberlakukan dalam rangka menjaga hubungan

dan kerja sama antar negara. Karena itu, hukum tersebut tidak boleh dibuat

tanpa memperhatikan kepentingan masing-masing negara. Untuk itu hukum

internasional harus memperhatikan asas-asas sebagai berikut:

a. Asas Teritorial

Asas ini didasarkan pada kekuasaan negara atas daerahnya.

Menurut asas ini, negara melaksanakan hokum bagi semua orang

dan semua barang yang ada di wilayahnya. Jadi terhadap semua

barang atau orang yang berada diluar wilayah tersebut berlaku

hokum asing (internasional) sepenuhnya.

b. Asas Kebangsaan

Asas ini didasarkan pada kekuasaan negara untuk mengatur warga

negaranya. Menurut asas ini, setiap warga negara di manapun

berada, tetap berada di bawah jangkauan hokum negara asalnya.

Asas ini mempunyai kekuatan exterritorial. Artinya, hukum suatu

negara tetap berlaku bagi warga negaranya, walaupun dia berada di

negara lain.

c. Asas Kepentingan Umum

Asas ini didasarkan pada kewenangan negara untuk melindungi dan

mengatur kepentingan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam hal

ini, negara dapat menyesuikan diri dengan semua keadaan dan


8

peristiwa yang bersangkut paut dengan kepentingan umum. Jadi

hukum tidak terikat pada batas-batas wilayah suatu negara.

D. Sumber-Sumber Hukum Internasional

Menurut pasal 38 ayat 1 Statuta Mahkamah Internasional menetapkan

bahwa sumber hukum internasional adalah sebagai berikut:

1) Perjanjian Internasional (International Convention)

2) Kebiasaan Internasional (International Costum)

3) Prinsip-Prinsip Hukum Umum (General Principles of Law) yang

diakui oleh negara-negara beradab.

4) Keputusan Pengadilan (Jaudicial Decisions) dan pendapat para ahli

(doktrin).

Dari beberapa pengertian kata sumber di atas, apabila dikaitkan dengan

hukum internasional maka sumber hukum internasional dapat diartikan:

1) Dari mana asal mula hukum itu (sumber hukum dalam arti materiil).

2) Bagaimana terjadinya hukum itu (sumber hukum dalam arti luas).

3) Dalam bentuk apa saja hukum itu menampakkan diri (sumber hukum

dalam arti formal).

2.2 Kebiasaan Internasional

A. Pengertian Kebiasaan (Costory)

Dari sudut pandang sejarah, kebiasaan Internasional adalah sumber

hukum tertua diantara ketiga sumber hukum utama internasional itu. Pada

zaman yunani kuno, hukum perang dan damai lahir dari adat istiadat umum

yang dipatuhi oleh negara yunani kuno. Hukum kebiasaan ini terkristaisasi
9

melalui proses generalisasi dan unifikasi berbagai adat-kebiasaan dari

masing masing republik kota.

Sebelum berbicara banyak mengenai berbagai kaidah dalam hukum

Internasional, ada baiknya kita definisakan dulu pengertian Kebiasaan

internasional ini. Dalam pasal 38 (1) sub b statuta Mahkamah Internasional,

dikatakan International Custom, as evidence of a General Practice accepted

as law atau dengan kata lain Kebiasaan Internasional yang merupakan

Praktek umum yang diterima sebagai hukum.

Dari definis tersebut, kita bisa menarik sebuah kesimpulan, untuk

sebuah kebiasaan internasional menjadi hukum yang mengikat bagi negara

negara lain. Ia harus memenuhi dua unsur yaitu :

1) Harus terdapat suatu kebiasaan yang bersifat umum

2) Kebiasaan itu harus diterima sebagai hukum.

Unsur pertama, adalah suatu kebiasaan yang bersifat umum. Atau

dengan kata lain, elemen ini merupakan unsur materiil. Namun yang harus

dibedakan adalah antara kebiasaan dan adat. Adat istiadat adalah

kebiasaan langkah laku internasional yang belum diterima sebagai hukum

dan dapat bertentangan satu sama lain. Sedangkan kebiasaan harus

diunifikasi dan keberadaanya tidak usah dibuktikan (self consistent). Atau

kesimpulanya adalah,kebiasaan, dalam hukum adalah adat-istidat yang

telah memperoleh kekuatan hukum.

Namun untuk dikatakan sebagai kebiasaan internasional pula,

kebiasaan ini harus memuat unsur unsur dibawah ini:

1) Perlu adanya suatu kebiasaan / praktek, yaitu : suatu pola tindak

yang berlangsung lama, atau dilakukan secara berulang kali.


10

2) Pola tindakan yang dilakukan, harus merupakan rangkaian

tindakan yang serupa.

3) Rangkaian tindakan itu harus mengenai sesuatu hal yang sama

dan dalam keadaan yang serupa pula.

4) Pola tindakan yang dilakukan secara berulang kali, terhadap hal

yang sama dan dalam keadaan yang serupa, harus bersifat

umum dan bertalian dengan hubungan internasional.

Berbicara mengenai jangka waktu, tentu timbul pertanyaan. Berapa

lama waktu yang dibutuhkan untuk dikatakan sebagai sebuah kebiasaan.

Berapa perulangan yang kiranya perlu untuk bisa memenuhi unsur

kebiasaan ini.

Mochtar Kusumaatmadja mengatakan,Dalam situasi yang konkret

memang sukar sekali menetapkan setelah berapa lama dapat dikatakan

telah terbentuk satu kebiasaan. Tentang hal ini tidak ada ketentuan yang

pasti. Ada kalanya waktu yang lama akan tetapi ada juga contoh di mana

masyarakat internasional telah menerima satu pola tindakan sebagai hukum

kebiasaan setelah waktu yang tidak begitu lama.Tak jauh berbeda, Frans E

Likadja dan Daniel Frans Bessie, menjelaskan, secara yuridis tidak ada

ketentuan yang pasti tentang jangka waktu/berapa kali harus dipraktekan.

Unsur Kedua, yaitu kebiasaan itu harus diterima sebagai hukum. Atau

aspek psikologis yang lebih dikenal opinio juris sive necessitas atau

sebagaimana diistilahkan oleh seorang hakim, yaitu keyakinan timbal-balik

bahwa keadaan perulangan itu adalah akibat peraturan yang memaksa.

Diihat secara praktis suatu kebiasaan Internasional dapat dikatakan diterima

sebagai hukum apabila negara-negara menerimanya sebagai demikian;


11

artinya apabila negara negara itu tidak menyatakan keberatan terhadapnya.

Keberatan ini dapat dinyatakan dengan berbagai cara misalnya dengan jalan

diplomatik (protes) atau dengan jalan hukum dengan mengajukan keberatan

keberatan di hadapan suatu mahkamah.

Dan yang perlu digarisbawahi lagi bahwa kedua unsur tersebut ialah

saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan, artinya sebuah kebiasaan untuk

bisa diterima sebagi sumber hukukm internasional haruslah memenuhi dua

unsur itu, bukan salah satu unsur saja yang terpenuhi kemudian bisa

dikatakan bahwa kebiasaan menjadi sumber hukum internasional.

Syarat materiil yang terpenuhi saja, tidak akan melahirkan hukum,

sebaliknya jika kebiasaan hukum internasional itu tidak memenuhi syarat

psikologis (unsur kedua yaitu tidak diterima sebagai hukum) maka kebiasaan

Hukum Internasional tersebut hanyalah merupakan kesopanan

Internasional.

Kebiasaan sebagai salah satu sumber hukum, tidaklah berdiri sendiri. Ia

berkaitan erat dengan sumber hukum lainya, yaitu perjanjian Internasional.

Dan alur hubunganya adalah timbal balik dan saling berkaitan dan

berhubungan. Saling mengisi dan melengkapi satu sama lainya.

B. Perkembangan Kebiasaan

Unsur kebiasaan merupakan suatu bentuk kaidah hukum internasional

dari sejak zaman purba sampai dengan zaman modern. Pada masa Yunani

kono, kaidah-kaidqah hokum perang dan damai timbul dari kebiasaan-

kebisaan umum yang ditati oleh Negara-negara kota Yunani. Kaidah-kaidah

kebisaan ini diberikan bentuk yang jelas melalui proses generalisasi dan

unifikasi berbagai macam adat istida sebelumnya secara sendiri-sendiri


12

ditaati oleh masing-masing republic kota.Proses serupa berlangsung di

antara Negara-negara ecil Italia pada Abad pertengahan.Abad ke-16 dan ke-

17 Eropa menjadi wilayah yang penuh dengan negar-negara nasional dan

lebih luas. Dari adat-istiadat yang berkembang dalam hubungan Negara-

negara Eropa modern tersebut muncul kaidah-kaidah hukum internsional.

C. Unsur-Unsur Kebiasaan Internasional

Unsur-unsur kebiasaan internsional telah dijelaskan pada Pasal 38 (1)

sub b Statuta Mahkamah Internsional bahwa jelaslah untuk dapat dikatakan

suatu kebiasaan internsional itu merupakan sumber hukum internsional

harus memenuhi sebagai berikut:

1. Harus Terdapat Suatu Kebiasaan yang Bersifat Umum

Dalam unsur ini tini merupakan prasyarat material. Prasyarat

material di sini dimaksudkan adalah suatu kebiasaan internasional

dapat dikatakan bersifat umum, apabila memenuhi prasyarat

tertentu pula.Prasyarat-prayaratan yang dimaksud antara lain :

a. Perlu adanya suatu kebisaan/praktek,

yaitu suatu pola tindakan yang berlangsung lama atau dilakukan

secara berulang kali.

b. Pola tindakan yang dilakukan harus merupakan rangkaian

tindakan

c. Rangkaian tindakan itu harus mengenai suatu hal yang sama

dan dalam keadaan yang serupa pula

d. Pola tindakan yang dilakukan secara berulang kali

Terhadap hal yang sama dan dalam keadaan yang serupa itu, harus

bersifat umum dan bertalian dengan hubungan internsional.


13

D. Analisis Mengenai Unsur-Unsur Kebiasaan Internasional

Pertimbangan-timbangan mengenai prasyarat suatu kebiasaan

internsional dapat diterima secara umum adalah menurut penulis bahwa

timbulnya suatu kebiasaan bukan hanya factor pengulangan pengulangan

yang sama, namun dalam praktek mungkin bisa saja adanya factor konflik,

dan penyimpangan-penyimpangan terhadap aturan-aturan internasional.

Faktor Konflik

Hal ini bisa dilihat pada akhir-akhir ini banyak terjadi konflik berenjata di

timur tengah yang semula adanya perjanjian-pernjian untuk melindungi

korban perang namun ternyata hal ini tidak dapat efektif dilaksanakan maka

belum lama ini dilakukukan oleh (ICRC) Internasional Palang Merah untuk

International tentang Perlindungan Korban Perang yang diselenggarakan di

Jenewa pada bulan Agustus-September 1993 membahas secara khusus

cara-cara untuk menanggulangi pelanggaran Hukum Humaniter

Internasional (HHI tetapi tidak mengusulkan diadopsinya sebuah perjanjian

internasional baru. Akan tetapi yang berasal dari hukum kebisaan

internsional. Kemudian kelompok Pakar Antarpemerintah untuk

Perlindungan Korban Perang bertemu di Jenewa pada bulan Januari 1995

dan mengadopsi sejumlah rekomendasi yang bertujuan meningkatkan

penghormatan terhadap HHI, terutama dengan cara mengambil

langkahlangkah preventif yang bisa menjamin bahwa HHI akan diketahui

dengan lebih baik dan dilaksanakan dengan lebih efektif.

Rekomendasi II dari Kelompok Pakar Antarpemerintah tersebut ialah:

bahwa ICRC perlu diminta untuk menyusun sebuah laporan tentang

aturanaturan HHI yang berasal dari Hukum Kebiasaan dan dapat berlaku
14

(applicable) dalam konflik bersenjata internasional maupun non-

internasional, dengan bantuan pakar HHI dari berbagai kawasan geografis

dan berbagai sistem hukum dan secara berkonsultasi dengan

pemerintahpemerintah dan organisasi-organisasi internasional, dan untuk

mengedarkan laporan tersebut ke Negara-negara dan lembaga-lembaga

internasional yang kompeten. Hampir sepuluh tahun kemudian, yaitu pada

tahun 2006, seusai dilakukan penelitian yang ekstensif dan konsultasi yang

meluas dengan para pakar, maka laporan ini, yang sekarang disebut sebagai

Studi Hukum Humaniter Internasional Kebiasaan (Study on Customary

International Humanitarian Law) (Jean-Marie Henckaerts, Jurnal Hukum

Internasional Volume 87 Nomor 857 Maret 2005 International Review of the

Red Cross).

Penyimpangan-Penyimpangan Kecil

Dalam hukum internsional

ada pula kebiasaan internsional

yang timbul akibat adanya

penyimpangan-penyimpangan

kecil sehingga muncul suatu

kaidah baru pada pratek Negara

yang menggunakan kaidah

internsional dalam praktek-praktek Negara. Hal ini dapat dilihat pada contoh

yang terkenal adalah penambangan batu bara di Selat Inggris (Engglish

Channel) di Cornwall dan pengambilan mutiara dari dasar laut dekat pantai

Ceylon dan di teluk Persia yang didasarkan atas kebiasaan yang telah

berlaky sejak dulu kala (Muctar Kusumaatdja, 1986: 85).


15

Contoh yang lain pada tahun 1951 terjadi adanya sengketa Perikananan

anatara Inggris dan Norwegia yang diselesaikan di Mahkamah Internasional

(Internatinal Court of Justice) yang dikenal dengan namaAnglo-Norwegian

Fisheries Cese tentang penarikan garis ukur, di mana pihak Norwegia

menganut sistem pengukuran yang telah dianut oleh Nowegia secara

tradisinal tanpa adanya tentangan dari Negara-negara lain termasuk Inggris

sendiri. Mahkamah Internasional menyatakan bahwa yang ditetapkan dalam

Firman Raja tahun 1935 (yang dianut Norwegia) tidak berteentangab dengan

hukum Internasional.Sehingga hal ini memungkinkan kaidah hukum itu

dapat diterima secara umum dan dengan demikian hl itu pula diikuti oleh

Negara-negara lain maka timbullah kaidah hukum kebiasaaan internsional.

Perimbangan-pertimbangan yang lainya masih terkait dengan

pegulangan kebiasaan itu adalah lamanya usia tindakan-tindakan yang

dianggap perlu menjadi pertimbangan. Namun waktu yang singkat mungkin

mencukupi apabila praktek Negara itu telah meluas dan keseragaman dalam

semua tujuan praktis misalnya berkaitan dengan evolusi pada prinsip bahwa

suatu Negara partai memiliki hak-hak untuk mengeksploitasi, dan lain-lain,

landas kontinennya.

Kebiasaan itu Harus Diterima Sebagai Hukum

Unsur ke dua, yaitu unsure psikologis menhendaki bahwa kebiasaan

internasional dirasa mememuhi suruhan kaiedah atau kewajiban hukum,

atau seoerti dikatakan dalam bahasa latin opinion juris sive necessitatis

Dilihat secara praktis suatu kebiasaan internasional dapat dikatakan diterima

sebagai hukum apabila Negara-negara menrimanya sebagai demikian,

artinya apabila Negara-negara itu tidak menyatakan kebebratan


16

terhadapnya.Keberatan ini dapat dapat dinyatakan dengan berbagai cara

misalnya dengan jalan diplomatic (protes) atau dengan jalan hukum dengan

menunjukkan keberatan-keberatan di hadapan mahkamah.

Contoh Kebiasaan Diterima Sebagai Hukum

a. Contoh dari pada ketentuan hukum internsional yang terjadi melalui

proses kebiasaa internasional terdapat misalnya di dalam hukum

perang.Penggunaan bendara putih sebagai bendara parlementer,

yaitu bendera yang memberi perlindungan kepda utusan yang dikirim

untuk mengadaikan hubungan dengan pihak musuh, timbul karena

kebiasaan demikian di masa lampau diterima sebagai sesuai dengan

hukum.

b. Dan hukum mengenai perlakuan terjadap tawanan perang peradilan

meneurut rasa kemanusiaan. Hal-hal tersebut timbul karena

kebiasaan perlakuan demikian, berulang kali terjadi, dan diterima

sebagai hukum oleh masyarakat internasional, karena dirasa

memuhi rasa keadian dan rasa kemanusiaan inernsional

Sebaliknya di hukum perang pun ada contoh-contoh mengenai

kebiasaan-kebiasaan yang tidak pernah menjelma ketentuan hukum.Dalam

perang dunia ke-I dan ke-II merupakan kebiasaan bagi kapal selam Jerman

untuk menenggalamkan kapal-kapal dagang fihak lawan tanpa

pemberitahuan lebih dahulu, tanpa membeir kesempatan kepada awak

kapal untuk menyelematkan dirinya.

Dapat dilihat bahwa dalam hal ini berlawanan dengan hukum perang di

laut yang menyatakan bahwa:


17

1) Sebelum mengenggelamkan kapal dagang musuh suatu kapal selam

harus membeir isyarat peringatan

2) dan kesempatan awal pada awak kapal untuk menyelamatakan dirinya.

Dengan begitu tidak terasa bahwa selama Perang dunia I dan Perang

dunia II telah terjadi suat kebiasaan penenggelaman kapal-kapal niaga fihak

lawan oleh kapal selam Jerman tanpa memenuhi kedua syarat hkum perang

di laut tersebut di atas.

Dalam situasi yang knkrit memang sukar sekali untuk menetapkan

setelah berapa lama dapat diakatakan telah terbentuknya satu

kebiasaan.Tentang hal ini tidak dapat ada ketentuan yang pasti.Ada kalanya

diperlukan satu waktu yang lama sekali akan tetapi ada juga contoh di mana

masyarakat internasional telah menerima satu pola tindakan sebagai hukum

kebiasaan setelah waktu yang begitu lama

2.3 Kebiasaan Hukum Internasional Dalam Praktik Hukum Internasional

Mengenai praktek-praktek dewasa ini terkait dengan kebisaaan

internasional bukan hanya saja traktat yang keberadaannya banyak menjadi

perbincangan pada era sekarang ini, namun keberadaan kebiasaan

internasional tidak dapat ditinggalkan begitu saja.Dalam praktek-praktek

dewasa ini (actual practice of state), bukti-bukti yang menunjukkan bahwa

dalam praktek-praktek internsional dapat ditemukan hal-hal yang

menunjukkan bahwa dalam praktek-praktek internasional dapat ditemukan

hal-hal yang dapat menunjukkan tindakan-tindakan atau peristiwa yang

kemudian dianggap dianggap sebagai international customary law yaitu:


18

a. Laporan-laporan di surat kabar

b. Pernyataan (statement) yang dibuat oleh pemerintah dalam suatu

komprensi hukum nasional Negara-negara

c. Keputusan-keputusan pengadilam (nasional-internasional)

d. Tulisan-tulisan para penulis terkenal terkemuka dari Negara-negara,

termasuk di dalamnya opinion juris

e. Praktek-praktek dari organ-organ internasional (universal-regional)

Dengan melihat praktek Negara-negara dewasa ini pada point a dan b

mengutip pendapatnya dari Starke mengenai penguman-pengumuman

berita (press release) ataupun pernyataan resmi oleh juru bicara pemerintah

semuanya akan menjadi bukti adat-istiadat yang diikuti oleh Negara-

negara.Dalam kaitannya ini baik tindakan maupun pernyataan-pernyataan

tertulis (tulisan atau lisan) mempunyai dasar yang sama.

Namun menurut pendapat penulis mengenai laporan-laporan di surat

kabar agaknya kurang bisa relevan dijadikan sumber hukum upaya

menetapkan hukum karena kemungkinan sering kali laporan-laoran di surat

kabar banyak ditumpangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu untuk

mencapai tujuan tertentu dengan pemberitaan-pemberitaan yang kurang

obyektif pada pokok permasalahan dan hanya ditambahi-tambahi suatu isu

yang berbau politik dengan begitu tidak cukup relevan dijadikan sumber

hukum kebiasaan Internsional walupun itu sudah bayak Negara yang

mempraktekkannya.Kalau pada point b cukuplah relevan dijadikan sumber

hukum karena yang demikian dibuat oleh pemerintah dalam suatu

komprensi hukum nasional Negara-negara.


19

Tidak terkecuali pada point c dan d menurut pendapat penulis mengenai

praktek-praktek di atas cukup relevan dijadikan sumber hukum karena

keputusan-keputusan yudisial dari pengadilan-pengadilan nasional atau

praktek Negara dan para penulis terkenal, akan memperlihatkan besarnya

pemakaian kaidah-kaidah yang sama untuk memperkirakan penakuan

umum atas suatu prinsip hukum yang luas.

Begitu juga pada point e praktek-praktek organ-organ internasional

dapat membawa pada berkembangnya kaidah-kaidah kebiasaan hkum

internsional mengenai status Negara-negara yang bersangkutan dan

wewenang-wewenang serta tanggung jawabnya sebagai contohnya

mengutip pendapatnya Starke menyebutkan dalam opini Nasihat yang

menyatakan bahwa Organisasi Buruh Internasional (ILO) mempunyai

kewenangan untuk mengatur syarat-syarat kerja secara internsional atas

orang-orang yang dipekerjakakan di bidang pertanian, permanent of Court

of Justicemendasarkan pendapatnya pada praktek organisasi tersebut.

Dalam sebuah Opini Nasihatnya yang penting, yang akan menyatakan

bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa merupakan personaliatas hukum

internsional, Internasional Court of Justice mendasarkan opininya itu

sebagaian pada praktek Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam membuat

Traktat.

Contoh ketentuan hukum internasional yang terjadi melalui proses

kebiasaan internasional misalnya di dalam hukum perang. Penggunaan

bendera putih sebagai bendera tanda untuk memberikan perlindungan

kepada utusan yang dikirim untuk mengadakan hubungan dengan pihak

musuh. Kebiasaan internasional ini berawal dari sebuah kebiasaan. Pada


20

masa Yunani kuno, kaidah-kaidah hukum perang dan damai timbul dari

kebiasaan-kebiasaan umum yang ditaati oleh negara-negara kota Yunani.

a. Praktek Indonesia Pada Hukum Kebiasaan Internasional dalam

Hubungan Hukum Nasional Indonesia.

Berkenaan dengan hukum kebiasaan, praktek Indonesia belum

begitu menampakkan adanya suatu kepastian. Namun untuk beberapa

hal, Indonesia menerima hukum kebiasaan internasional sebagai bagian

dari hukum nasional Indonesia.Misalnya, hukum kebiasaan yang berlaku

di laut. Seperti misalnya tentang hak lintas damai (right of passage

innocent) bagi kapal-kapal asing di laut territorial Indonesia diakui dan

diterapkan oleh Indonesia serta dihormati pula oleh kapal-kapal asing,

tertama sekali setelah setelah Indonesia memperleh kemaerdekaan.

Demikian juga dalam bidang perlakuan terhadap orang asing yang

berada dalam wilayah Indonesia, yang menurut hukum kebasaan

internasional orang asing harus diperlakukansesuai dengan prinsip-

prinsip dan kaidah-kaidah hukum kebiasaan internsional seperti

misalnya berdasarkan prinsip perlakuan standar minimum menurut

hukum internsional, oleh Indonesia ditaati sepenuhnya.

Akan tetapi pernah terjadi bahwa Indonesia justru bertindak

sebaliknya yaitu dengan mengesampingkan hukum kebiasaan

internsional dan mengutamakan hukum atau undang-undang

nasionalnya.Dalam hal ini dalam kasus nasionalisasi perusahaaan-

perusahaan asing milik Belanda yang beroperasi di Indonesia.Pada

tanggal 31 Desmber 1958 Indonesia mengeluarkan undang-undang

Nasionalisasi Perusahaan-Perusahaan Milik Belanda yang berada


21

dalam wilayah RI (Undang-Undang No: 86 tahun 1957) dan mengambil

langkah nasionalisasi perusahan-perusahaan milik Belanda yang

beroperasi di Indonesia. Pihak Belanda mempermasalahkan

keabsahaan undang-undang nasionalisasi tersebut, melainkan hanya

mempersoalkan pembayaran ganti rugi yang dianut dan diterapkan oleh

Indonesia yang nyata-nyata bertentangan dengan hukum kebiasaan

internasional yang dianut secara luas dalam hal pembayaran ganti rugi

yaitu sesuai dengan prinsip prompt, effective and adequate.Prinsip ini

pada dasarnya mengaharuskan dilakukan pembayaran dengan segera

(prompt) atas obyek yang dinasinalisasi, harus benar-benar dapat

mencapai sasaran yaitu pembayaran ganti rugi itu benar-benar

dibayarkan oleh pihak yang terkena nasionalisasi dan benar-benar tepat

guna bagi ihak yang bersangkutan (effective).

Akibatnya lebih lanjut adalah terjadinya sengketa antara Indonesia

dan Belanda yang diajukan di hadapan pengadilan Bremen (Jerman

Barat). Jatuhnya perkara ini ke tangan pengadian Bremen antara lain

disebabkan sebagaian dan barang yang terkena nasionalisasi yaitu

berupa tembakau berada di atas sedang dalam perjalanan menuju

Bremen. Pengadilan Bremen tampaknya bisa memahami dalil yang

diajukan oleh Indonesia dan aturannya memenangkan pihak Indonesia.

Dengan demikian melalui yurisprupensi, maka prinsip baru yang

diajukan oleh Indonesia itu kini menjadi sumber hukum internasional

positif, yang dapat dijadikan sumber hukum dan dianut oleh Negara-

negara lain dalam menghadapi kasus yang serupa.


22

b. Praktek Inggris Pada Hukum Kebiasaan Internasional dalam Hubungan

Hukum Nasional Inggris.

Di Inggris yang sangat menonjol adalah terkait dengan hukum

kebiasaan yang di sana hukum Kebiasaan Internasional diterima sebagai

bagaian dari berlaku sebagai hukum nasional Inggris.Prakteknya Inggris

menunjukkan bahwa hukum kebiasaan Internasional bagian dari hukum

nasional Inggris.Namun tidaklah semua hukum kebiasaan Internasional

harus diterima semua dalam hukum nasional Inggris.

Dalam hal ini ada suatu syarat yang harus dipenuhi supaya hukum

kebiasaan internasional itu dapat diterima sebagai bagian hukum

nasional Inggris. Syarat tersebut adalah, hukum kebiasaan internasional

itu tidak boleh bertentangan dengan undang-undang Inggris. Jika hukum

kebiasaan itu bertentangan dengan undang-undang Inggris, baik

undang-undang itu lahir lebih dahulu atapun belakangan dari pada

hukum kebiasaan internasional itu, maka Inggris akan menolak hukum

kebiasaan internasional dan mengutamakan penerapan undang-

undangnya. Hal ini berarti bahwa Inggris akan mendahulukan hukum

nasionalnya sendiri atas hukum kebiasaan internasional.

Pengadilan Inggris

Sebagai Negara yang bersistem hukum common law dimana

peranan badan peradilan dalam proses pembentukan hukum cukup

berpengaruh, badan peradilan khususnya badan peradilan tertinggi di

Inggris mempunyai peranan penting.Dapat diambil contohnya adalah jika

misalnya Mahkamah Agung Inggris pada suatu waktu memeutuskan

bahwa suatu kaidah hukum kebiasaan internasional dinyatakan menjadi


23

bagian dari hukum nasional Inggris maka seluruh badan peradilan

Inggris yang lainnya harus menaati. Meskipun kemudian timbul hukum

kebiasaan internasional baru yang bertentangan atau mengapuskan

keberadaan hukum kebiasaan Internasional yang sudah dinyatakan

sebagai bagian dari hukum nasional Inggris itu.Dalam hal ini dapat

dikatakan bahwa Inggris tetap masih mengutamakan hukum kebiasaan

yang sudah diadaptasi sebagai bagian dari hukum nasionalnya itu,

sampai nantinya pada suatu wakty Mahkamah Agung Inggris

menyatakan bahwa hukum kebiasaan Internasional baru itudapat

dinyatakan sebagai bagian dari hukum nasional Inggris menggantikan

kedudukan dari hukum kebiasaan Internasional yang lama tersebut.

Lebih lanjut lagi bahwa Pengadilan Inggris juga harus menaati

tindakan dan kebijaksaan pada pihak eksekutifnya yang berkenaan

dengan masalah-masalah luar negeri atau masalah Internasional yang

memang merupakan hak prerogative dari eksekutif, misalnya jika

eksekutif Inggis telah memberikan pengakuan (recognition) atas suatu

Negara baru atau pemerintah yang sah dari suatu Negara, maka

pengadilan wajib menaati tindakan eksekutif tersebut.Ataujika eksekutif

melakukan nasionalisasi milik asing atau melakukan deportase terhadap

orang asing maka badan-badan pengadian harus menaatinya.


24

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Hukum internasional adalah himpunan dari peraturan-peraturan dan

ketentuan-ketentuan yang mengikat serta mengatur hubungan antara

negara-negara dan subjek-subjek hukum lainnya dalam kehidupan

masyarakat internasional.

Dari sudut pandang sejarah, kebiasaan Internasional adalah sumber

hukum tertua diantara ketiga sumber hukum utama internasional itu. Pada

zaman yunani kuno, hukum perang dan damai lahir dari adat istiadat umum

yang dipatuhi oleh negara yunani kuno. Hukum kebiasaan ini terkristaisasi

melalui proses generalisasi dan unifikasi berbagai adat-kebiasaan dari

masing masing republik kota. Dalam pasal 38 (1) sub b statuta Mahkamah

Internasional, dikatakan International Custom, as evidence of a General

Practice accepted as law atau dengan kata lain Kebiasaan Internasional

yang merupakan Praktek umum yang diterima sebagai hukum.

Contoh mengenai kebiasaan dalam praktik hukum internasional Dalam

perang dunia ke-I dan ke-II merupakan kebiasaan bagi kapal selam Jerman

untuk menenggalamkan kapal-kapal dagang pihak lawan tanpa

pemberitahuan lebih dahulu, tanpa memberi kesempatan kepada awak

kapal untuk menyelematkan dirinya.

Dapat dilihat bahwa dalam hal ini berlawanan dengan hukum perang di

laut yang menyatakan bahwa:


25

1) Sebelum mengenggelamkan kapal dagang musuh suatu kapal selam

harus membeir isyarat peringatan

2) dan kesempatan awal pada awak kapal untuk menyelamatakan dirinya.

Contoh ketentuan hukum internasional yang terjadi melalui proses

kebiasaan internasional misalnya di dalam hukum perang. Penggunaan

bendera putih sebagai bendera tanda untuk memberikan perlindungan

kepada utusan yang dikirim untuk mengadakan hubungan dengan pihak

musuh. Kebiasaan internasional ini berawal dari sebuah kebiasaan. Pada

masa Yunani kuno, kaidah-kaidah hukum perang dan damai timbul dari

kebiasaan-kebiasaan umum yang ditaati oleh negara-negara kota Yunani.

3.2 Saran

Keberadaan hukum internasional dan praktik hukum internasional

sangat dirasakan demi tercapainaya ketertiban dunia. Namun tidak dapat

dipungkiri juga bahwa dewasa ini ketegasan dari hukum internasional sudah

mulai melemah seiring berkembangnya kekuatan-kekuatan yang terpusat

pada beberapa negara tertentu.

Sebagai generasi penerus yang akan menjalankan tugas-tugas

pemerintahan pada masa akan datang, sangat diharapkan keseriusan dari

semua pihak khususnya mahasiswa untuk kritis terhadap isu-isu, baik yang

terjadi di dalam maupun diluar negeri ini, apalagi menyangkut pelaksanaan

dari hukum internasional yang semakin hari semakin melemah

pengimplementasiannya demi tercapainya perdamaian dunia.