Anda di halaman 1dari 14

REFLEKS PADA MANUSIA

LAPORAN
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
FISIOLOGI HEWAN DAN MANUSIA
yang dibina oleh Bapak Hendra Susanto, Ph.D

Oleh :
Kelompok 4
Aulia Qori L (160342606242)
Gabriela Maria I (160342606209)
Lutfita Fitriana (160342606284)
Nicholas Gerry A (160342606297)
Nor Fadillah (160342606217)
SulistyaIka R (160342606299)

Offering H

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Oktober 2017
A. Topik
Refleks pada Manusia

B. Tujuan
Praktikum kali ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai bermacam-
macam reflex pada manusia.

C. DasarTeori
Refleks adalah respon yang cepat dan tidak disadari terhadap perubahan lingkungan
interna maupun lingkungan eksterna. Refleks terjadi lewat suatu lintasan refleks yang
disebut lengkung refleks. Komponen utama dari lengkung refleks adalah reseptor yang
menerima stimulus, efektor yang merespon stimulus, neuron sensorik dan motoric yang
merupakan lintasan komunikasi antara reseptor dan efektor.
Sebagian besar refleks merupakan refleks yang rumit, melibatkan beberapa neuron
penghubung antara neuron sensorik dan neuron motoric (refleks polisinaps). Refleks
sederhana hanya melibatkan dua neuron, tanpa neuron penghubung. Refleks sederhana
hanya melibatkan dua neuron, tanpa neuron penghubung (refleks monosinaps),
misalnya refleks patella. Karena penundaan atau penghambatan refleks dapat terjadi
pada sinaps-sinaps, maka makin banyak waktu yang diperlukan untuk menghasilkan
suatu refleks.
Berdasarkan atas sistem pengendaliannya, refleks digolongkan atas refleks somatik
(yang dikendalikan sistem saraf somatic) dan refleks otonom (yang dikendalikan sistem
saraf otonom). Kedua macam refleks tersebut dapat b erupa refleks cranial atau refleks
spinal. Refleks spinal dapat terjadi tanpa melibatkan otak, misalkan refleks fleksor.
Meskipun demikian otak seringkali memberikan pertimbangan pada aktifitas refleks
spinal sehingga dapat menguatkan atau menghambat refleks tersebut.

D. Alat dan Bahan


Pemukul dari karet, gelas piala 100 ml, penggaris, gelas ukur, aqua, kapas, sari jeruk
(nutrisari), kertas pH, kertas hidup.

E. Prosedur Kerja
1. Refleks Patella
2. Refleks Achilles

3. Refleks Kornea

4. Refleks Fotopupil / Cahaya


5. Refleks Akomodasi Pupil

6. Refleks Konvergensi

7. Refleks Menelan
Lakukan dengan cara yang sama untuk sejumlah air yang dimasukan dalam mulut

8. Refleks Salivari

F. Hasil Pengamatan
1. Refleks Patella
No Peristiwa Respon
1. Ligamentum patellarisnya dipukul dengan Berayun
pemukul karet ketika duduk
2. Perilaku sama namun ketika otak sedang Berayun
berfikir
3. Perlakuan sama namun sedang melakukan Berayun
aktivitas lain

2. Refleks Achilles
No. Perlakuan Respon
1. Tendon Achilles dipukul dengan pemukul karet Bergerak

3. Refleks Kornea
No. Perlakuan Respon
1. Kapas di arahkan ke kornea mata Berkedip

4. Refleks Foto pupil / cahaya


No. Perlakuan Respon
1. Perlakuan menghadap kea rah cahaya terang Ukuran pupil awal : 0,5
dengan mata tertutup selama 2 menit cm
Ukuran pupil setelah
perlakuan : 0,4 cm

5. Refleks Arkomodasi Pupil


No. Perlakuan Respon
1. Perilaku melihat suatu objek berjarak kira-kira Ukuran pupil : 0.4 mm
6 m pada cahaya yang cukup terang Perubahan pupil:
membesar

2. Mengalingkan pandangan pada objek pada Ukuran pupil : 0,3 mm


pensil yang diletakkan jaran 2Mengalingkan Perubahan pupil:
pandangan pada objek pada pensil yang mengecil
diletakkan jaran 20 cm dari pelaku

6. Refleks Konvergensi
No. Perlakuan Respon
1. Memusatkan pandangan pada suatu objek yang Pupil membesar
jauh Bola mata tetap
2. Pelaku mengalihkan pandangan pada objek Pupil mengecil
didepan mata Bola mata bergerak ke
tengah

7. Refleks Menelan
No. Perlakuan Respon
1. Menelan saliva didalam mulut secara berturut- 4 kali menelan
turut selama 2Menelan saliva didalam mulut
secara berturut-turut selama 20 detik
2. Menelan air didalam mulut selama 2Menelan 9 kali menelan
air didalam mulut selama 2Menelan air didalam
mulut selama 2Menelan air didalam mulut
selama 2Menelan air didalam mulut selama
2Menelan air didalam mulut selama 20 detik

8. Reflek Salivari
No. Perlakuan Respon
1. Saliva ditahan untuk tidak ditelan 2 menit dan Volume : 1 ml
dikumpulkan dalam gelas piala PH : 7
2. Meneteskan 2-3 testis sari jeruk pada lidah 5-10 PH : 5
detik

G. Analisis dan Pembahasan


1. Refleks Patella

Gambar Otot Paha Bagian Anterior


Sumber Gambar: Tate, Seeley. 2004. Anatomy and Physiology 6th Edition. New York:
The McGraw-Hill Companies
Pada percobaan refleks patella yang dipukul oleh pemukul karet adalah bagian
patellar ligament yang ditunjukkan dengan gambar di atas yang memberikan gerak
refleks pada kaki. Otot paha bagian anterior adalah quadriceps femoris. Quadriceps
femoris adalah empatotot yaitu rectus femoris, vastus intermedius, vastus medialis, dan
vastus lateralis seperti pada gambar di atas. Otot tersebut memanjang sampai lutut.
Patellar ligament adalah perpanjangan patellar tendon ke tibial tuberosity.Ketika patellar
ligament dipukul atau diberi stimulus, patellar ligament akan menyampaikannya ke
spinal cord (medulla spinalis) yang kemudian akan memberikan impuls lagi ke otot
quadriceps yang kemudian akan memberikan respon berupa kontraksi pada otot
quadriceps sehingga kaki secara refleks bergerak mendendang.
Percobaan dilakukan 3 kali dengan perlakuan berbeda yaitu yang pertama subjek
duduk biasa tanpa melakukan apapun, yang kedua dipukul patellar ligamentnya ketika
meregangkan otot lain, yang ketiga adalah pada saat berhitung. Ketiga perlakuan
hasilnya sama yaitu tetap ada respon. Hal tersebut karena refleks patella itu termasuk
refleks monosinaptik yaitu hanya menggunakan satu sinaps, melibatkan transmisi dari
neuron sensorik ke neuron motorik. Dengan kata lain, tidak melalui perantara otak.
Maka dari itu meskipun subjek sedang berhitung atau meregangkan otot lain, hasilnya
tetap merespon, karena kita tidak berpikir.

2. Refleks Achilles
Pada refleks Achilles dilakukan perlakuan yaitu pelaku duduk berlutut di kursi
dengan kedua telapak kaki tergantung bebas pada tepi kursi. Setelah itu telapak kaki
ditekuk ke arah betis untuk menambah tegangan otot gastrocnemius yang kemudian
tendon Achilles ditepuk dengan pemukul karet.
Refleks Achilles berpusat di segmen lumbal V dan sacral I-II yang disalurkan
melalui n. Tibialis. Ketukan pada tendon Achilles menyebabkan kontraksi m.
Gastrocnemius. Reaksinya berupa fleksi telapak kaki. Pada saat tendon Achilles dipukul
dengan pemukul karet respon yang terjadi yaitu pada bagian kedua telapak kaki sama-
sama mengalami pergerakan (rangsang) atau yang biasa ditandai dengan kontraksi
m.gastrocnemius, ujung-ujung saraf (reseptor) meneruskan pesan melalui neuron
sensoris ke medulla spinalis. Dari impuls diteruskan melalui interneuron atau asosiasi ke
neuron motorik. Neuron motorik selanjutnya meneruskan impuls ke sepanjang akson
lalu ke otot gastrocnemius (efektor), dimana perjalanan impulsnya yaitu :
Rangsangan (ketukan tendon achilles) impuls reseptor Saraf Sensorik
(n.Tibialis)
Medulla Spinalis (pusat) N. Asosiasi (n.Tibialis) Efektor (m.gastrocnemius).

3. Refleks Kornea
Pada perlakuan mendekatkan kapas sedekat mungkin pada mata didapatkan
hasil mata berkedip dengan cepat segera saat kapas didekatkan. Mata langsung tertutup
dalam hitungan detik atau sangat cepat.
Respon mata yang langsung berkedip menandakan respon tersebut termasuk
refleks spinal dimana penyampaian impulsnya cepat dan sigap dengan langsung
menutup mata agar tidak tersentuh korneanya . Respon berkedip yang cepat
menandakan bahwa impuls berjalan dengan semestinya yaitu dari reseptor diteruskan ke
sistem saraf untuk diterjemahkan perintah apa yang harus diinstruksikan hingga muncul
respon motorik yaitu pergerakan berkedip. Saraf sensorisnya merupakan neuron
opthalmicus sedangkan respon motorik berkedipnya diatur oleh neuron facialis.

4. Refleks Fotopupil / Cahaya


Pada perlakuan menghadap ke arah cahaya yang terang dengan mata tertutup
selama 2 menit didapatkan hasil sebelum diberi perlakuan ukuran pupil adalah 0,5 mm
dan setelah diberikan perlakuan adalah 0.4 mm.
Dari percobaan refleks fotopupil ini menunjukkan adanya perbedaan diameter
pupil pada saat sebelum dan sesudah diberi perlakuan. Berdasarkan data hasil
praktikum, diameter pupil pelaku sebelum di beri perlakuan adalah 0,5 mm setelah
diberi perlakuan, pelaku menatap kearah cahaya dengan mata tertutup selama 2 menit
dan kemudian membuka matanya, diameter pupil berubah menjadi mengecil yaitu 0,4
mm.
Hasil percobaan tersebut tidak sesuai dengan teori, seharusnya setelah di
perlakukan dengan menatap kearah cahaya dengan mata tertutup selama 2 menit dan
kemudian membuka matanya hasilnya pupil berubah menjadi melebar bukan mengecil.
ini disebabkan karena lamanya pengamat dalam mengukur diameter pupil subyek.
karena pada saat sesudah diberi perlakuan otot sirkulernya akan berelaksasi dan otot
radier berkontraksi untuk mengatur cahaya yang masuk. Sehingga saat sebelum pelaku
diberi perlakuan terjadi penambahan ukuran diameter pupil. Adapun penyebab setelah
dibiarkan beberapa detik diameter pupil kembali normal atau kecil dikarenakan pupil
akan terus berkontriksi (mengecil saat melihat cahaya terang disebut juga refleks cahaya
pupillary) untuk melindungi retina dari intensitas atau stimulus cahaya yang berlebihan.

5. Refleks Akomodasi Pupil


Pada praktikum gerak refleks pada akomodasi pupil pelaku diminta melihat
suatu obyek dengan jarak 6 m pada cahaya yang cukup terang diperoleh hasil pupilnya
membesar dengan ukuran 0,4 cm. Hal ini tidak sesuai teori, dimana ketika seseorang
berada ditempat yang terang maka pupil mata akan mengecil karena cahaya yang masuk
terlalu berlebihan sehingga untuk meminimalisir cahaya yang masuk, pupil pun
mengecil. Sedangkan, ketika seseorang berada ditempat yang gelap atau tempat dengan
intensitas cahaya kurang maka pupil mata akan membesar untuk memaksimalkan
menangkap cahaya yang kurang.
Pengamatan kedua yaitu seseorang diminta mengalihkan pandangan pada obyek
yang dekat misalnya sebuah pensil yang diletakkan pada jarak 20 cm dan pupil mata
pun mengecil. dari mata pelaku dihasilkan diameter pupil 0,3 cm. Ketika seseorang
melihat benda dari jarak dekat dengan refleks konvergensi akomodasi yaitu dimana
mata berkonvergensi, pupil menjadi kontruksi maka memfokuskan pada obyek. Ketika
seseorang mengarahkan penglihatan kepada sesuatu yang dekat ketegangan ligament-
ligamen yang mempertahankan masing-masing lensa agar tetap ditempatnya
disesuaikan oleh otot-otot siliaria dan berbentuk silinder sesuai bentuk aslinya. Hal ini
meningkatkan kemampuan lensa untuk merefraksi (membelokkan) cahaya untuk
mendekatkan obyek-obyek. Ketika seseorang memfokuskan penglihatan pada obyek
yang tajam, lensa pun menjadi datar. Proses memfokuskan gambar pada retina disebut
akomodasi. Sedangkan konvergensi yaitu mata bergerak melihat obyek.

6. Refleks Konvergensi
Pembentukan bayangan pada retina memerlukan 4 proses dasar, yang semua
bersangkutan dengan pemfokusan cahaya: (1) refraksi cahaya, (2) akomodasi lensa, (3)
konstriksi pupil, dan (4) konvergensi bola mata. Konvergensi bola mata seperti pada
manusia saat melihat suatu benda, kedua bola matanya akan terfokus pada satu benda
tersebut yang biasa dikenal sebagai single binocular vision. Single binocular vision
adalah kemampuan mengarahkan cahaya dari suatu benda agar jatuh pada titik-titik
sesuai (corresponding points) pada retina kedua mata (Basoeki, dkk., 2003).
Pada praktikum kali ini, pelaku diminta melihat benda yang ada di tempat yang jauh
kemudian mengalihkan pandangannya ke benda yang ada di dekat mata. Saat
melakukan praktikum tersebut posisi bola mata pelaku yang semula berada di pusat
kemudian bergerak ke dalam atau ke tengah. Hal ini sesuai dengan apa yang disebutkan
dalam Basoeki, dkk. (2003) yang berbunyi bila kita melihat benda yang relatif jauh,
maka cahaya yang dating melewati pupil akan dapat langsung sampai ketitik sesuai
pada kedua retina mata tanpa menggerakkan kedua bola matake medial sebab cahaya
yang dating relative sejajar. Bila benda di dekatkan ke mata, agar supaya bayangan jauh
pada titik-titik sesuai, maka kedua bola mata harus diputar kearah medial.
Menggerakkan kedua bola mata kearah medial disebut dengan konvergensi bola mata.

7. Refleks Menelan
Pada refleks menelan dilakukan 2 macam perlakuan. Perlakuan yang pertama
yaitu saliva ditelan selama didalam mulut secara berturut-turut selama 20 detik dan
diperoleh hasil yang terjadi yaitu pelaku dapat menelan saliva sebanyak 4 kali.
Perlakuan kedua yaitu air ditelan didalam mulut selama 20 detik dan diperoleh hasil
yang terjadi yaitu pelaku dapat menelan air sebanyak 9 kali.
Pada refleks menelan yang terjadi yaitu refleks secara sadar karena dengan
melakukan gerakan menelan secara terus menerus menyebabkan rongga mulut kering
dan pelaku merasakan tersendak akibat berkurangnya saliva pada rongga mulut.
Sehingga pelaku berhenti melakukan menelan saliva. Namun, dalam menelan saliva ini
berbeda dengan menelan air yng diminum. Refleks pelaku dalam menelan air minum ini
lebih lancar atau cepat dan lengket antara rahang atas dan rahang bawah. Hal ini
disebabkan oleh air yang lebih muda masuk ke dalam kerongkongan dibanding dengan
air ludah atau saliva.

8. Refleks Salivari
Pada perlakuan tidak menelan saliva selama dua menit didapatkan pH saliva
sebesar 7 dengan volume saliva yang terkumpul sejumlah 1 ml. Sedangkan ketika diberi
tetes sari jeruk dan didapatkan pH sebesar 5.
Hasil pengukuran volume yang didapat sesuai dengan pernyataan bahwa
pengeluaran air ludah sebesar 0,3-0,4 ml tiap menitnya. Meskipun tidak ada makanan
yang dicerna dalam mulut, kelenjar saliva tetap mensekresikan saliva untuk melicinkan
dan membasahi rongga mulut serta untuk aktivitas antibacterial dan membantu dalam
berbicara.
Sekresi saliva yang spontan dan kontinu bahkan tanpa adanya rangsang yang
jelas, disebabkan stimulasi konstan tingkat rendah ujung saraf parasimpatis yang
berakhir di kelenjar saliva. pH yang berbeda antara perlakuan saat tidak diberi
perlakuan apapun dengan saat ditetesi sari jeruk menunjukkan adanya gerakan refleks
pada lidah dengan adanya perubahan pH dari yang netral dan cenderung basa dapat
berubah menjadi asam. Perubahan yang nyata menunjukkan saraf sensorisnya bekerja
dan mampu menunjukkan perubahan yang terjadi pada mulut.

H. Kesimpulan
Refleks patella itu termasuk refleks monosinaptik yaitu hanya menggunakan
satu sinaps, melibatkan transmisi dari neuron sensorik ke neuron motorik atau tidak
melalui perantara otak. Refleks Achilles berpusat di segmen lumbal V dan sacral I-II
yang disalurkan melalui n.Tibialis. Ketukan pada tendon Achilles menyebabkan
kontraksi m.Gastrocnemius. Pada saat tendon Achilles dipukul maka akan mengalami
pergerakan (rangsang). Pada mata pelaku didekatkan dengan kapas, mata langsung
merespon yang menandakan bahwa impuls berjalan dengan semestinya untuk
diterjemahkan hingga merespon saraf motorik yang diatur oleh neuron facialis. Pada
mata pelaku yang mengahadap ke arah cahaya terang dengan mata tertutup, diameter
pupil mata berubah menjadi mengecil yang disebabkan karena lamanya pengamat
dalam mengukur diameter pupil subyek. karena pada saat sesudah diberi perlakuan otot
sirkulernya akan berelaksasi dan otot radier berkontraksi untuk mengatur cahaya yang
masuk. Pada mata pelaku yang mengahadap ke cahaya yang cukup terang, pupil mata
membesar. Sedangkan pada perlakuan kedua dimana pelaku diminta mengalihkan
pandangan, pupil mata pun mengecil. Konvergensi bola mata adalah bergeraknya bola
mata ke arah medial, karena sebelumnya melihat benda yang jauh dan beralih melihat
benda yang ada di dekat mata. Refleks pelaku dalam menelan air minum ini lebih lancar
atau cepat dan lengket antara rahang atas dan rahang bawah. berbicara. Sekresi saliva
yang spontan dan kontinu bahkan tanpa adanya rangsang yang jelas, disebabkan
stimulasi konstan tingkat rendah ujung saraf parasimpatis yang berakhir di kelenjar
saliva.
Daftar Rujukan

Anonim, 2014. Refleks dan Tes Cerebellum. (Online), (fissiologi.fkunissula.ac.id),


diakses 03 Oktober 2017.
Soewolo, dkk. 2006. Common Textbook (Edisi Revisi) Fisiologo Manusia. Malang: UM
Press.
Latufrisah, dkk. 2015. Anatomi Fisiologi Manusia. Banyuwani: Universitas 17 Agustus
1945.
Faqudin. 2015. Gerak Refleks. (Online), (http://faqudin.staff.umm.ac.id/), diakses 03
Oktober 2017.
Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia : dari Sel ke Sistem Edisi 2. Jakarta : EGC

Soewolo, Basoeki S, Yudani T. 1999. Fisiologi Manusia. Malang : IMSTEP-JICA,


FMIPA, UNIVERSITAS NEGERI MALANG.
https://id.scribd.com/mobile/doc/40488032/Refleks-Pupil (diakses secara online
pada 03 Oktober 2017 pukul 22.54 WIB )
Anthony, Chaterine P dan Gary A.T.1983. Anatomy and Physiology. London: The C.V
Mosby Company.
Burhan. 2009. Penelitian Kualitatif: Macam Refleks pada Manusia. Jakarta : Kencana.

Surya, Yohanes. 2010. Optika. Tangerang: PT. Kandel

Basoeki Soedjono, Soewolo, Yudani Titi. 2003. JICA: Common Textbook (Edisi Revisi)
Fisiologi Manusia. Malang: Universitas Negeri Malang.
Tate, Seeley. 2004. Anatomy and Physiology 6th Edition. New York: The McGraw-Hill
Companies

Lampiran
Refleks Kornea Refleks Akomodasi Pupil

Refleks Fotopupil/Cahaya Refleks Konvergensi

Refleks Menelan