Anda di halaman 1dari 36

15

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Belt Conveyor


Belt conveyor atau konveyor sabuk adalah pesawat pengangkut yang
digunakan untuk memindahkan muatan dalam bentuk satuan atau tumpahan,
dengan arah horizontal atau membentuk sudut dakian/inklinasi dari suatu sistem
operasi yang satu ke sistem operasi yang lain dalam suatu line proses produksi,
yang menggunakan sabuk sebagai penghantar muatannya. Belt Conveyor pada
dasarnya merupakan peralatan yang cukup sederhana. Alat tersebut terdiri dari
sabuk yang tahan terhadap pengangkutan benda padat. Sabuk yang digunakan
pada belt conveyor ini dapat dibuat dari berbagai jenis bahan misalnya dari karet,
plastik, kulit ataupun logam yang tergantung dari jenis dan sifat bahan yang akan
diangkut (Zainuri, ST, 2006).

Belt Conveyor (konveyor sabuk) memiliki komponen utama berupa sabuk


yang berada diatas roller-roller penumpu. Sabuk digerakkan oleh motor penggerak
melalui suatu pulley, sabuk bergerak secara translasi dengan melintas datar atau
miring tergantung kepada kebutuhan dan perencanaan. Material diletakkan diatas
sabuk dan bersama sabuk bergerak kesatu arah. Pada pengoperasiannya konveyor
sabuk menggunakan tenaga penggerak berupa motor listrik dengan perantara roda
gigi yang dikopel langsung ke puli penggerak. Sabuk yang berada diatas roller-
roller akan bergerak melintasi roller-roller dengan kecepatan sesuai putaran dan
puli penggerak

Ada beberapa pertimbangan yang mendasari dalam penelitian pesawat


pengangkut :
1) Karakteristik pemakaian, hal ini menyangkut jenis dan ukuran material,
sifat material, serta kondisi medan atau ruang kerja alat.
2) Proses produksi, mengngkut kapasitas perjam dari unit, kontinuitas
pemindahan, metode penumpukan material dan lamanya alat beroperasi.

Universitas Sumatera Utara


16

3) Prinsip-prinsip ekonomi, meliputi ongkos pembuatan, pemeliharaan,


pemasangan, biaya operasi dan juga biaya penyusutan dari harga awal alat
tersebut.

Berdasarkan pertimbangan diatas maka dipilihnya belt conveyor sebagai


pesawat pengangkut yang paling sesuai untuk mengangkut pasir kedalam proses
mixer dalam pembuatan tiang beton.

2.1.1 Kelebihan dan Kelemahan Belt Conveyor


2.1.1.1 Kelebihan belt conveyor
1) Mampu membawa beban berkapasitas besar.
2) Kecepatan sabuk dapat diatur untuk menetapkan jumlah material yang
dipindahkan persatuan waktu
3) Dapat bekerja dalam arah yang miring tanpa membahayakan operator yang
mengoperasikannya
4) Memerlukan daya yang lebih kecil, sehingga menekan biaya operasinya
5) Tidak mengganggu lingkungan karena tingkat kebisingan dan polusi yang
rendah.
6) Lebih ringan dari pada konveyor rantai maupun bucket conveyor.
7) Aliran pengangkutan berlansung secara terus menerus/kontinu

Belt conveyor adalah mesin pemindah yang paling universal karena kapasitas
cukup besar (500 s.d 5000 m3/jam atau lebih), sanggup memindahkan material
pada jarak relatif besar (500 s/d 1000 m atau lebih), desain yang sangat sederhana
dan pengoperasian yang baik (http://www.hksystems.com,conveyor). Belt
conveyor dapat digunakan untuk memindahkan berbagai unit material sepanjang
arah horizontal atau pada suatu kemiringan tertentu pada berbagai industri.
Contohnya pada industri pengecoran logam, tambang batubara, produksi beton,
industri makanan dan lain-lain.

Universitas Sumatera Utara


17

2.1.1.2 Kelemahan belt conveyor


1) Sabuk sangat peka terhadap pengaruh luar, misalnya timbul kerusakan
pada pinggir dan permukaan belt, sabuk bisa robek karena batuan yang
keras dan tajam atau lepasnya sambungan sabuk.
2) Biaya perawatannya sangat mahal.
3) Jalur pemindahan (transfer line). Karena untuk satu unit belt conveyor
hanya bisa dipasang untuk jalur lurus.
4) Kemiringan/sudut inklinasi yang terbatas.

2.1.2 Geometri Belt Conveyor


Geometri dari belt conveyor dapat dilihat pada Gambar 2.1 yang
memperlihatkan lintasan dari belt conveyor.

Gambar 2.1 Geometri belt conveyor

Sudut kemiringan terhadap garis horizontal () tergantung pada faktor


gesekan antara material yang dibawa dengan belt yang bergerak, sudut kemiringan
tetap dari tumpukan material dan bagaimana cara material dibebankan keatas belt.
Kemiringan yang dapat diizinkan pada belt conveyor dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Universitas Sumatera Utara


18

Tabel 2.1 Sudut kemiringan maksimum yang diizinkan pada geometri belt
conveyor untuk beberapa jenis material.
Maximum Maximum
angle of angle of
Material Material
incline incline
() ()
Coal briquetted 12 Sand, dry 18
Gravel, washed and sized 12 Sand, clamp 27
Grain 18 Ore, large-lumped 18
Foundry sand, shaken out 24 Ore, crushed 25
(burnt)
Foundry sand, damp (ready) 26 Anthracite, pebbles 17
Crushed stone, unsized 18 Coal, run of mine 18
Coke, sized 17 Coal, sized, small 22
Coke unsized 18 Cement 20
Sawdust, fresh 27 Slag, anthraciote, 22
Lime, powdered 23 damp
Sumber : Charles G. Wilson head Agronomist 1964.

2.1.3 Komponen-Komponen Utama Pada Belt Conveyor


Komponen-komponen utama konveyor sabuk dapat dilihat pada gambar
2.2.

Gambar 2.2 Konstruksi konveyor sabuk


Konveyor sabuk yang sederhana terdiri dari :
1) Rangka (Frame)
2) Pulli penggerak (Drive pulley)

Universitas Sumatera Utara


19

3) Pulli yang digerakkan (Tail pulley)


4) Pulli Pengencang (Snub pulley)
5) Sabuk (Belt)
6) Rol pembawa (Carrying roller idler)
7) Rol Kembali (Return roller idler)
8) Rol pemuat
9) Motor penggerak
10) Unit pemuat (Chutes)
11) Unit pengeluar (Discharge spout)
12) Pembersih sabuk (Belt cleaner)
13) Pengetat sabuk (Belt take-up)

2.1.3.1 Belt
Belt terbuat dari bahan tekstil, baja lembaran atau jalinan kawat baja. Belt
yang terbuat dari tekstil berlapis karet paling banyak ditemukan dilapangan.
Syarat-syarat belt:
1) Tahan terhadap beban tarik.
2) Tahan beban kejut.
3) Perpanjangan spesifik rendah.
4) Harus fleksibel.
5) Tidak menyerap air.
6) Ringan.

Belt yang digunakan pada belt conveyor terdiri dari beberapa tipe seperti
bulu unta, katun dan beberapa jenis belt tekstil berlapis karet. Belt harus
memenuhi persyaratan, yaitu kemampuan menyerap air rendah, kekuatan tinggi,
ringan, lentur, regangan kecil, ketahanan pemisahan lapisan yang tinggi dan umur
pakai panjang. Untuk persyaratan tersebut, belt berlapis karet adalah yang terbaik.
Belt tekstil berlapis karet terbuat dari beberapa lapisan yang dikenal dengan plies.
Lapisan-lapisan tersebut dihubungkan dengan menggunakan (vulkanisasi) atau
dengan karet alam maupun sintetis. Belt dilengkapi dengan cover karet untuk
melindungi tekstil dari kerusakan-kerusakan. Karena beberapa jenis material yang

Universitas Sumatera Utara


20

dibawa mempunyai sifat abrasif. Bentuk penampang belt diperlihatkan pada


Gambar 2.3.

Gambar 2.3 Penampang belt


1 : lapisan
2 : cover
b : tebal belt
1 : bagian yang dibebani
2 : bagian pembalik
Jumlah lapisan belt tergantung lebar belt. Hubungan antara lebar belt dengan
jumlah lapisan dapat dilihat pada Tabel 2.2 berikut.

Tabel 2.2 Jumlah lapisan belt yang disarankan.


(B) Belt width (mm) Minimum and maximum number of plies (i)
300 3-4
400 3-5
500 3-6
650 3-7
800 4-8
1000 5-10
1200 6-12
1400 7-12
1600 8-12
1800 8-12
2000 9-14
Sumber : MF. Spot, 1985

Sedangkan untuk mengetahui ketebalan dari cover dapat dihubungkan dengan


jenis material yang membebani belt. Sebab tiap jenis material mempunyai ukuran
dan sifat fisik yang berbeda. Ketebalan belt dapat ditentukan dari Tabel 2.3.

Universitas Sumatera Utara


21

Tabel 2.3 Tebal cover yang disarankan pada belt tekstil berlapis karet untuk beban
tumpukan dan beban satuan.
Cover thickness, mm
Load characteristics Material Loaded Return
slide 1 slide, 2
Granular and powdered, non Section 1.01 Bulk 15 1.0
abrasive load Grain, col dust

Fing-grained and small Sand, foundry sand, 1.5 to 3.0 1.0


Lumped, abrasive, medium and cement, crushed
heavy weight (a<60 mm, <2 stone, coke
tons/m3)

Medium-lumped, slightly, Coal, peat briquettes 3.0 1.0


abrasive, medium and heavy
weight (a<160 mm, < 2
tons/m3)

Ditto, abrasive Gravel, clinker, 4.5 1.5


stone, ore, rock salt

Large-lumped, abrasive, heavy Manganese ore, 6.0 1.5


weight (a<160 mm, < 2 brown iron ore
tons/m3)

Light load in paper and clocth Section 1.02 Unit 1.0 1.0
packing loads

Load in soft containers Parcels, packages, 1.5 to 3.0 1.0


books
Load in soft containers weighin Bag, bales, packs 1.5 to 3.0 1.0
up to 15 kg Boxes, barrels,
baskets

Ditto weighin over 15 kg Boxes, barrels, 1.5 to 4.5 1.0 to 1.5


baskets

Untared loads Machine parts, 1.5 to 6.0 1.0 to 1.5


ceramic articles,
building elements
Sumber : Dyachkov, 1975

Berat tiap meter belt (qb) berdasarkan Gambar 2.3 adalah :


(qb) = 1.1B (i + 1 + 2) kg/m (2.1)
Tebal tiap lapisan () bervariasi menurut jenis belt : 1,25 mm untuk belt berlapis
katun, 2,0 mm untuk belt kekuatan tinggi, 0,9 s.d 1,4 mm untuk sintetik.

Universitas Sumatera Utara


22

Jumlah lapisan (number of plies) dapat ditentukan dari persamaan :


KS maks
I (2.2)
BKt
Dimana:
Smaks = gaya tarik maksimum teoritis dari belt, kg
Kt = gaya tarik ultimate per cm dari lebar per lapisan, kg/cm
K = faktor keamanan (dari Tabel 2.4)
B = lebar belt, cm

Tabel 2.4 Faktor keamanan sesuai dengan jumlah lapisan belt.


Number of plies (i) 2 to 4 4 to 5 6 to 8 9 to 11 12 to 14
Safety factor (k) 9 9,5 10 10,5 11
Sumber : Sularso, 1987

Menurut standar USSR, tegangan tarik maksimum untuk belt adalah 55


kg/cm untuk belt tipe b-820, 115 kg/cm untuk belt tipe OIIb-5 dan OIIb-12, 119
kg/cm untuk belt katun dan 300 kg/cm untuk belt sintetik.

2.1.3.2 Idlers
Belt disangga oleh idler. Jenis idler yang digunakan kebanyakan adalah
roller idler. Berdasarkan lokasi idler di conveyor, dapat dibedakan menjadi idler
atas dan idler bawah. Gambar susunan idler atas dapat dilihat pada Gambar 2.4.
Sudut antara idler bawah dan idler atas dapat divariasikan sesuai keperluan.

Gambar 2.4 Idler bagian atas

Universitas Sumatera Utara


23

Idler atas menyangga belt yang membawa beban. Idler atas bisa
merupakan idler tunggal atau tiga idler. Sedangkan untuk idler bawah digunakan
idler tunggal. Gambar idler bawah dapat dilihat pada Gambar 2.5 di bawah ini.
B

Gambar 2.5 Idler bagian bawah

Idler dibuat sedemikian rupa sehingga mudah untuk dibongkar pasang. Ini
dimaksudkan untuk memudahkan perawatan. Jika salah satu komponen idler
rusak, dapat dilakukan penggantian secara cepat. Kontruksi idler dapat dilihat
pada Gambar 2.6.

Gambar 2.6 Kontruksi roller Idler

Komponen-komponen roller idler diatas adalah:


1) selubung bagian luar, yang langsung berfungsi untuk menopang belt.
2) Selubung bagian dalam.
3) Bantalan.
4) Karet perlindung, yang berfungsi untuk melindungi bantalan dari debu
atau kotoran lainnya.
5) Pengunci bantalan.
6) Poros idler.
7) Baut.
8) Bantalan

Universitas Sumatera Utara


24

Diameter (D) idler tergantung pada lebar belt (B) yang disangganya.
Hubungan antara lebar belt dengan diameter idler dapat dilihat pada Tabel 2.5.

Tabel 2.5 Hubungan antara diameter roller idler dengan lebar belt.
(D) Roller diameter (mm) (B) Belt width (mm)
108 400 to 800
159 800 to 1600
194 1600 to 2000
Sumber : Sularso, 1987
Dalam perancangan, panjang idler Lid dibuat lebih panjang 100 s/d
200 mm dari lebar belt. Untuk saluran pemasangan komponen belt conveyor dapat
dilihat pada Gambar 2.7.

Jika idler pada loading zone adalah 11 0.51 dan pada belt bagian bawah
12 21. Training idler berfungsi untuk menjaga agar belt berjalan lurus dan
efektif jika dipasang pada belt conveyor yang panjangnya lebih dari 50 meter.
Jarak idler tergantung pada belt dan berat jenis dari beban seperti tertera pada
Tabel 2.7.

Gambar 2.7 Susunan Idler pada belt conveyor

Tabel 2.6 Jarak maksimum idler pada belt conveyor.


Bulk weight ( B ) Spacing 1 for belt width (mm)
of load, 400 500 650 800 1000 1200 1400 1600-
3
(ton/ m ) 2000
<1 1500 1500 1400 1400 1300 1300 1200 1100
= 1 to 2 1400 1400 1300 1300 1200 1200 1100 1000
>2 1300 1300 1200 1200 1100 1100 1000 1000
Sumber : Sularso, 1987

Universitas Sumatera Utara


25

2.1.3.3 Unit penggerak


Daya penggerak pada belt conveyor ditransmisikan kepada belt melalui
gesekan yang terjadi antar belt puli penggerak yang digerakkan dengan motor
listrik. Unit penggerak terdiri dari beberapa bagian, yaitu puli, motor serta roda
gigi transmisi antara motor dan puli. Tipe-tipe susunan puli penggerak untuk belt
conveyor dapat dilihat pada Gambar 2.8.

Gambar a dan b menunjukkan pulli penggerak tunggal (single pulley


drive) dengan sudut = 180 dan 2100 s.d 2300. Peningkatan sudut kontak
seperti Gambar b dapat diperoleh jika idler pembalik diletakkan lebih keatas dan
jarak dengan puli penggerak lebih dekat. Gambar c dan d menunjukan dua puli
penggerak dengan sudut kontak 3500 dan 4800. Pada gambar e dan f diperlihatkan
puli penggerak khusus, dan digunakan pada conveyor yang panjang serta beban
yang berat. Susunan puli penggerak pada gembar e menggunakan pegas tekan
pada gambar f menggunakan beban take-up (Metriadi, 2005). Tetapi dalam
aplikasi dilapangan, konstruksi seperti pada Gambar 2.8 (b) lebih banyak
digunakan.

(a (b)
)

(d)

(c)

(e) (f)

Gambar 2.8 Susunan puli pengegrak belt conveyor a dan b puli tunggal;
c dan d sistem dua puli; e dan f menggunakan bagian penekan

Universitas Sumatera Utara


26

Untuk kondisi tak ada slip antara belt dengan puli seperti pada Gambar
2.8, diperoleh persamaan berikut :

St Ss1 e (2.3)
Keterangan notasi :
St = gaya tarik pada sisi belt yang kencang
St = gaya tarik pada sisi belt pembalik
= koefisien gesekan antara belt dengan puli
= sudut lilit
e 2,718

Gaya tarik keliling Wo pada puli penggerak, dengan mengabaikan losses


pada puli penggerak dengan mengacu pada kekuatan belt, diberikan oleh
persamaan :

W0 = St St1 (2.4)
Sehingga:
Wo = St Ss1 St1 e Ss1
= Ss1 (e 1) (2.5)
e
Atau; Wo -1

Sumber : Bell, Idler An Pulley Catalogue

Dari persamaan di atas, besar gaya tarik yang dapat ditransmisikan oleh
puli penggerak ke belt meningkat dengan penambahan sudut kontak. Koefisien
gesek dan tegangan belt. Besar koefisien gesek tergantung pada permukaan puli
dan sudut kontak. Dan dapat dilihat pada Tabel 2.7, yaitu hubungan antara sudut
kontak dan bagaimana belt dililitkan pada puli. Tegangan belt tergantung dari
kekuatan belt. Sedangkan kekuatan belt ditentukan lebar dan jumlah lapisan belt.

Universitas Sumatera Utara


27

Tabel 2.7 Harga koefisien gesek dan e.


Type of pulley and Friction e for wrap angles , deg and radians
atmospheric factor 1800 2100 2400 3000 3600 4000 4800
conditions 3,14 3,66 4,19 5,24 6,28 7,0 8,38
Cast iron of steel 0.1 1.37 1.44 1.52 1.69 1.87 2.02 2.32
pulley and very
humid (wet)
atmosphere; dirty

Wood or ruber 0.15 1.60 1.73 1.87 2.19 2.57 2.87 3.51
lagged pulley and
very humid (wet)
atmophere; dirty

Cast iron or steel 0.20 1.87 2.08 2.31 2.85 3.51 4.04 5.34
pulley and humid
atmosphere; dirty

Cast iron or steel 0.30 2.56 3.00 3.51 4.81 6.59 8.17 12.35
pulley and dry
atmosphere; dusty

Wood lagged 0.35 3.00 3.61 4.33 6.25 9.02 11.62 18.78
pulley and dry
atmosphere; dusty

Rubber lagged 0.45 3.15 4.33 5.34 8.12 12.35 16.41 28.56
pulley and dry
atmosphere; dusty
Sumber : Bell, Idler An Pulley Catalogue

Puli penggerak terbuat dari besi cor atau baja lembaran (sheet steel) yang
dibuat menggunakan proses pengelasan. Permukaan puli harus lebih besar 100 s.d
200 mm dari lebar belt. Diameter puli Dp ditentukan oleh jumlah lapisan belt yang
diberikan oleh persamaaan berikut :
Dp > Kp . i, mm (2.6)
Dimana :
Dp = diameter puli, mm
Kp = faktor proporsional
I = jumlah lapisan belt

Universitas Sumatera Utara


28

Harga Kp adalah 125 s.d 150 (Kp = 150 untuk I = 8 s/d 12). Diameter puli dihitung
dari persamaan diatas dan dibulatkan ke diameter terdekat yaitu: 250, 320, 400,
500, 630, 800, 1000, 1250, dan 1600 mm.

2.1.3.4 Pengencang Belt (take up)


Pengencang belt dapat dibedakan atas 2 jenis yaitu screw take up dan
gravity take up, atau sering juga disebut pengencang horizontal dan vertical.
Gravity take up terdiri dari tiga puli seperti pada gambar 2.9.

a
b

a. Horizontal Gravity type b. Vertical Gravity type c. Screw type


Gambar 2.9 Berbagai cara pengencangan sabuk/belt

2.1.3.5 Penekuk Belt


Belt ditekuk dengan puli atau roller pembelok. Penggunaan roller
pembelok adalah untuk merubah kemiringan sistem seperti dari arah horizontal
menjadi seperti miring. Tekukan belt dapat dibedakan atas dua macam yaitu
tekukan kearah pembalik (Gambar 2.10a) dan tekukan kearah pembebanan
(Gambar 2.10b), kedua jenis tekukan tersebut mempunyai jari-jari tekukan
minimum yang berbeda.

Universitas Sumatera Utara


29

a. Tekukan kearah pembalik b. Tekukan kearah pembebanan


Gambar 2.10 Pembeloken belt

Untuk kondisi pada gambar 2.10a, jika B adalah lebar belt maka harga R
12 B dan I2 = (0,4-0,5). Sedangkan untuk kondisi seperti gambar 2.10b, lintasan
belt berubah dari arah horizontal menjadi miring. Harga jari-jari kelengkungan
minimum (Rmin) diberikan pada persamaan berikut :
Rmin S K1 (m) (2.7)
qb
Dimana :
S = Gaya tarik belt pada akhir lengkungan (kg)
qb = Berat beban tiap meter panjang belt (kg/m)
K1 = Factor numerik (K1 = 1 untuk 7, k1 =1,05)
untuk = 8-25 ) dan K1 = 1, 1 untuk = 16-20
Diameter dan panjang idler yang digunakan untuk penekuk belt sama dengan
digunakan untuk system horizontal.

2.1.3.6 Conveyor Frame


Struktur penyangga (frame) terbuat dari susunan baja batangan atau besi siku yang
disambung dengan menggunakan las listrik. Frame dibuat kaku (rigit). Atruktur
tersebut terbuat dari batangan membujur, tegak dan menyilang. Tinggi dari frame
biasanya 400 s/d 500 mm dan jarak batang tegak/tiang adalah 2 s/d 3,5 meter.

2.1.3.7 Komponen-komponen Pendukung

Universitas Sumatera Utara


30

Dalam pengoperasian belt conveyor dilapangan, ada beberapa komponen


pendukung yang ditambahkan pada sistim tersebut seperti :
1) Hopper, berfungsi untuk mencurahkan bebas keatas belt conveyor.
Kapasitas beban dapat diatur dari curahan hopper tersebut.
2) Peralatan pembongkar (discharging device), berfungsi untuk membongkar
muatan belt conveyor
3) Rem penahan otomatis (automatic hold back brakes) berfungsi untuk
mematikan sistem seketika jika ada gangguan.
4) Pembersih belt, yang dipasangkan pada puli bagian depan. Alat ini
dipasang untuk conveyor yang membawa material basah dan lengket
5) Feeder, sebagai pengumpan dari hopper ke belt, feeder ini memiliki dua
bentuk yaitu sudu dan screw.

2.1.4 Perhitungan Belt Conveyor


Dalam merancang belt conveyor, ditetapkan data awal perancangan.
Kemudian dipilih belt dan motor penggerak yang sesuai.

2.1.4.1 Data Awal Perhitungan


Untuk merancang dimensi utama dan daya motor yang diperlukan untuk
belt conveyor diperlukan data awal sebagai dasar perancangan. Seperti
karakteristik material, kapasitas perjam, geometri belt dan kondisi operasi dari
belt conveyor.

2.1.4.2 Lebar Belt


Untuk beban tumpukan, lebar belt ditentukan berdasarkan kapasitas conveyor dan
ukuran material yang dibawa atau sebaliknya. Untuk material aliran bebas seperti
gambar 2.11

Universitas Sumatera Utara


31

Gambar 2.11 Tumpukan bulk material diatas belt

Luas penampang irisan aliran material pada gambar 2.11 dibagian atas (A 1 )
adalah luas segitiga :

bh
A1 = C1
2
0,8 0,4C1 tan 1
=
2

Bila kemiringan idler samping adalah 20 dan panjang idler tengah 11 = 0,4B
maka luas penampang irisan A2 adalah luas trapezium, yaitu :
A2 = 0,0435B2 (2.8)
Maka luas total aliran tersebut adalah :
A = A1 + A 2
= 0,16B2C 1 tan 0,35 + 0,043B2 (2.9)
Jika persamaan tersebut disubstitusikan ke persaaman sebelumnya maka didapat
persamaan untuk kapasitas yaitu :
Q = 3600AFv = F2v [576C1 tan (0,35) + 1 ]
= 160 B2 v [3,6C1 tan (0,35) + 1 ] (ton/ jam) (2.10)
Harga factor koreksi bervariasi tergantung harga sudut kemiringan idler.
Harga C1 = 1, untuk = 0-10, C1 = 0,95 untuk = 10-15, C1 = 0,85 untuk
20.

Universitas Sumatera Utara


32

Lebar belt yang dihitung dari persamaan diatas disesuaikan dengan ukuran ukuran
butir material (lump-sized) sesuai dengan ukuran berikut :
Untuk unsized material :
B 2a + 200 mm (2.11)
Untuk sized material :
B 3,3a + 200 mm (2.12)

Lebar belt yang dipilh adalah pembulatan terhadap harga terbesar yang
terdekat dari lebar standar. Kecepatan belt tergantung pada sifat material yang
dibawa, lebar belt dan kemiringan konstruksi conveyor, kecepatan belt dengan
berbagai variasi diberikan pada Tabel 2.8 berikut :

Tabel 2.8 Kecepatan belt yang direkomendasikan


Bulk load Material Belt width B (mm)
characteristics 400 500 and 800 and 1200
650 1000 and
1600
Belt speed v (m/sec)
Nonbrasive and Coal, run of 1.01.6 1.25 2.0-4.0 2.0-4.0
abrasive material, mine, salt, 2.0
crusched, without sand, peat
downgrading.

Abrasive, small and Gravel, ore, 1.0-1.25 1.01.6 2.3-3.0


medium lumped, stone Rock, 1.0-1.6
a<160 mm ore, stone

Abrasive, large Coke, sized- - 1.6-2.0 1.6-2.0


lumped, a>160 mm coal, char- 1.0-1.6
coal
Fragile load, 1.01.25 1.25-1.6 1.6-2.0
downgraded by Flour, 1.0-1.6
crushing cement,
apatile
Pulverized load, Rye, wheat 0.4-1.0
dusty
2.0-4.0
Grain

Sumber : MF. Spot, Machine Element , 1985

Universitas Sumatera Utara


33

2.1.4.3 Penentuan Tahanan Gerak Belt


Untuk belt yang dijalankan diatas idler, losses (rugi-rugi) tahanan
disebabkan gesekan pada bantalan idler, belt slip diatas roller dan tekukan dari
idler. Gaya dari tahanan belt conveyor ditentukan dari persamaan berikut :
Untuk belt yang membawa beban :
W1 = (q + qb + qp) L cos (q + qb) L sin
= (q + qb + qp) Lhor cos (q + qb) H (kg)
Dan untuk belt pembalik :
W1 = (qb + qp) Lhor cos qb H (kg) (2.13)
Arti notasi : q = berat beban (kg/m)
qb = berat belt (kg/m)
qp = berat bagian berotasi pada idler beban (kg/m)
q = berat bagian berotasi pada idler pembalik (kg/m)
= sudut kemiringan kontruksi conveyor, ()
L = Panjang lintasan conveyor (m)
L hor = Panjang proyeksi horizontal lintasan conveyor, (m)

H = beda ketinggian awal dan akhir conveyor


= koefisien tahanan belt

Pada persamaan diatas, tanda plus berarti gerakan naik dan tanda minus
berarti gerakan turun. Berat idler tergantung pada disainnya. Jika berat bagian
berotasi untuk satu idler adalah Gp maka berat permeter dari bagian berotasi idler
dari persamaan berikut :
Gp
qp = (kg/m)
I
Gp
q p = (kg/m)
I2
Arti notasi :
I = jarak idler yang menahan beban (m)
I2 = jarak idler pembalik (m)
Harga koefisien tahanan rolling bearing diberikan pada tabel 2.9, sedangkan
untuk sliding bearing harga akan lebih besar 3 s/d 4 dari rolling hearing.

Universitas Sumatera Utara


34

Tabel 2.9 Faktor tahanan untuk rolling hearing


Operating Characteristics of the operating Faktor for idlers
condition condition Flat troughing
Favorable Operating in clean, dry premises 0.018 0.020
in the absence of abrasive dust

Operation in heated premises in


Medium the presence of a limited amount
0.022 0.025
of abrasive dust, normal air
humanity

Operation in unheated premises


Adverse or out-of-door, large amount of
abrasive dust, excessive moisture 0.035 0.040
or other factor present adversely
affecting the operation of the
bearing
Sumber : MF. Spot, Machine Element , 1985

Tahanan gerak puli penekuk diberikan oleh persamaan berikut dengan harga
faktor K = 1.05 untuk sudut lilit = 180 dan K = 1.07 untuk sudut lilit = 180

Gambar 2.12 Sudut Lilit Pada Puli

Wcury = (K 1) St, kg (2.14)


Atau:
Sst = K.St, kg (2.15)
Sedangkan tahanan untuk puli penggerak (Wdr) adalah:
Wdr = (0,03 s/d 0,05)(Sst + Sst), kg (2.16)
Tahanan untuk peralatan pembongkar (Wpt) adalah :
Wpt 2.7 qB, kg (2.17)

Universitas Sumatera Utara


35

2.1.4.4 Penentuan Daya Motor Penggerak


Pada belt conveyor , tegangan dari titik-titik yang terpisah pada sistem
dapat diketahui dari persamaan berikut :
Si = S1-1 = W(i-1).1 , kg
Arti notasi : i = 1,2,3
S = gaya tarik, kg
W = tahanan gerak (kg)
Gaya tarik efektif pada belt adalah :
Wo = St Ssl, kg (2.18)
Jika efisiensi transmisi adalah g maka daya motor penggerak yang dibutuhkan
adalah :
Wov
N= (HP)
75 g

Wov
= (KW) (2.19)
102 g

Faktor tahanan total dari belt conveyor adalah :


270
= (2.20)
QL
Daya spesifik motor adalah :

N' =
270
N
= (2.21)
QL

2.2 Ukuran Butir Pasir


2.2.1 Definisi Pasir
Pasir merupakan material alam yang banyak di dapatkan dipermukaan
bumi. Pasir adalah material yang dibentuk oleh silikon dioksida, tetapi di
beberapa pantai tropis dan subtropis umumnya dibentuk dari batu kapur. Butiran
pasir umumnya berukuran antara 0,06 sampai 2 mm.

Pasir merupakan meterial alam yang berperan penting dalam kehidupan


umat manusia. Misalnnya pasir kuarsa digunakan pada industri pembuatan kaca,

Universitas Sumatera Utara


36

pasir silika dimanfaatkan untuk memisahkan kotoran dari baja cair pada
pengecoran baja. Selain itu, pasir juga adalah material yang paling utama dalam
kegiatan konstruksi bangunan seperti pada pembuatan tiang beton, hingga ke-
industri kerajinan, dekorasi maupun kegiatan lainnya.

Nama-nama pasir dalam bisnis bangunan kadang identik dengan daerah


asal pasir itu didapat. Misalnya, pasir yang berasal dari Cileungsi, orang
menyebutnya dengan sebutan Pasir Cileungsi. Pasir yang berasal dari daerah
Cikalong, orang menyebutnya Pasir Cikalong. Pasir dari daerah Lampung, disebut
Pasir Lampung. Pasir dari daerah Bangka disebut Pasir Bangka, karena warnanya
putih lebih lengkap dengan sebutan Pasir Putih Bangka. Namun demikian
meskipun memiliki nama berbeda, corak dan tekstur yang berbeda semua itu
tetaplah Pasir yang bermanfaat dalam kehidupan.

2.2.2 Karakteristik Material Pasir


Karakteristik bulk ditentukan oleh sifat mekanik (berat spesifik,
abrasivitas, angle of repose) dan sifat fisik (ukuran buitr) (Joseph, 1993).
Berikut ini adalah beberapa karakteristik material pasir :

1) Ukuran Butir
Menurut ukuran butir, bulk material dikenal sebagai nilai bongkah (a) dan
mempunyai satuan mm. Dimensi linier material terdiri dari diagonal besar amaks
dan diagonal kecil amin yang menentukan karakteristik partikel serta jumlah
parameter untuk perhitungan alat pemindahan dan peralatan pembantunya. Bentuk
ukuran bongkah dapat dilihat pada Gambar 2.13.
a maks

a min

Gambar 2.13 Dimensi Partikel Bulk

Universitas Sumatera Utara


37

Untuk menentukan ukuran bongkah material yang lebih besar dari 0,1 mm,
dilakukan penyaringan secara bertingkat. Ukuran bongkah bulk material dengan
ukuran partikel lebih kecil dari 0,1 mm ditentukan melalui metoda khusus, yaitu
berdasarkan kecepatannya jika dimasukkan kedalam air atau udara.

Menurut keseragaman komposisi bongkah, bulk material dibagi menjadi


dua jenis, yakni terukur (sized) dan tidak terukur (unsized). Jika rasio ukuran
terbesar amaks terhadap ukuran terkecil amin dibawah 2,5 dianggap tidak terukur
(unsized). Material terukur (sized) adalah material homogen dengan amaks/amin
2,5. Karakteristik material terukur ditentukan oleh ukuran bongkah rata-rata.
Persamaan yang digunakan untuk menghitung ukuran bongkah tersebut adalah :

a maks + a min
a = (2.22)
2

Karakteristik material tak terukur ditentukan oleh ukuran bongkah yang terbesar
(amaks).
Menurut ukuran partikelnya, bulk material diklasifikasikan menjadi
bongkah dengan ukuran besar, sedang, kecil, granular atau bubuk. Ukuran
bongkah partikel dapat dilihat pada Tabel 2.10 berikut.

Tabel 2.10 Pengelompokan bulk material menurut ukuran partikelnya.


Load Group Size of largest characteristic particle a (mm)
Large-lumped Over 160
Medium-lumped 60-160
Small-lumped 10-60
Granular 0,5-10
Powdered Below 0.5
Sumber : Hardyanto, 1992.

Ukuran bongkah bulk material harus diperhatikan karena akan berpengaruh dalam
menentukan ukuran mesin pemindah material, hopper serta sistem salurannya.

2) Berat Spesifik
Berat spesifik/massa jenis bulk material adalah berat material per satuan
volume dengan satuan ton/m3 atau kg/m3. Berat dari bulk material yang berbentuk

Universitas Sumatera Utara


38

butiran atau serbuk diukur dengan peralatan khusus yang terdiri dari container
dengan volume tertentu (1-3 liter), batang yang dipasangkan ke container dan
kerangka berputar pada batang. Makin besar ukuran bongkah maka makin besar
ukuran container yang dibutuhkan. Untuk menentukan berat bulk material,
material dimasukkan kedalam container melalui kerangka sampai penuh. Putaran
kerangka akan membuang kelebihan material dalam container. Selanjutnya
container di timbang. Container ini dapat dilihat pada Gambar 2.14.

Berat bulk material dihitung sebagai berat bersih material dalam container
relatif terhadap volume. Perbedaan dibuat antara berat bulk material yang terbuka
() dan material yang dikemas (packed). Bulk material yang dikemas mengalami
kompresi statis atau dinamis yang seragam akibat goncangan.

Gambar 2.14 Container untuk menghitung berat bulk material aliran bebas

Berat material yang dikemas dibandingkan dengan berat sebelum dikemas,


dikenal sebagai packing coeficient yang harganya bervariasi untuk berbagai jenis
bulk material dari 1,05-1,52. Penggolongan bulk material berdasarkan beratnya
dapat dilihat pada Tabel 2.11.

Universitas Sumatera Utara


39

Tabel 2.11 Distribusi bulk material berdasarkan berat.


Weight group Bulk weight (ton/ m 3 ) Material
Light Up to 0,6 Saw dust, peat, coke
Medium From 0,6 to 1,1 Wheat, rye, coal, slag
Heavy From 1,2 to 2,0 Sand, gravel, core, raw mix
Very heavy Over 2,0 Iron core, cobbe stone
Sumber : Hardyanto, 1992

Berat bulk material berpengaruh dalam menghitung kapasitas alat


pemindah material dan tekanan pada dinding serta sisi keluar hopper. Berat
spesifik bulk material diberi simbol G dan dapat dihitung dengan menggunakan
formula :
Ws
G = Dimana : W s = Berat spesifik bulk material
Vs
V s =Volume spesifi bulk material

3) Abrasivitas
Abrasivitas adalah sifat partikel yang mengikis permukaan saat terjadi
kontak dalam pergerakannya. Permukaan saluran belt dan pin, merupakan objek
yang akan mengalami abrasivitas oleh material yang dipindahkan. Pengikisan
akan terus terjadi tergantung pada kekerasan, kondisi permukaan, bentuk, serta
ukuran partikel. Beberapa material seperti abu, bouksit, aluminium oksida, semen,
pasir, dan kokas bersifat abrasif.

Sifat spesifik material yang dipindahkan adalah kelembaban, kemampuan


untuk dikemas, kekakuan, kerapuhan, pengkaratan penggumpalan serta sifat
mudah meledak. Semua sifat ini harus diperhatikan dalam perancangan alat
pemindah material dan peralatan pembantunya.

4) Angle of Refose
Sudut antara kemiringan tumpukan material dengan garis horizontal
disebut angle of repose yang dilambangkan dengan . Besarnya sudut
tergantung pada mobilitas partikel. Jika mobilitas partikel semakin besar maka

Universitas Sumatera Utara


40

sudut semakin kecil. Angle of repose bisa berbentuk statik atau dinamik (dyn).
Angle of repose dinamik besarnya sekitar 0,7.

Angle of repose statik bisa ditentukan dengan peralatan sederhana seperti


silinder berlubang pada Gambar 2.15. Material dimasukkan kedalam selinder dan
dibiarkan tersebar di lantai sampai berbentuk kerucut. Sudut yang dibentuk oleh
kerucut material dengan bidang horizontal itulah disebut angle of repose statik.

Gambar 2.15 Angel of Repose statik

Koefisien gesekan suatu bulk material terhadap baja, kayu, beton, karet,
dan lainya harus diperhatikan dalam perancangan mesin pemindah material.
Faktor gesekan menentukan sudut kemiringan dinding dan sisi hopper, saluran
dan inklinasi maksimum suatu mesin pemindah (conveyor). Hubungan antara
faktor gesekan dan sudut gesekan material diberikan dalam bentuk :

f0 = tan 0 (2.23)
atau:

f = tan (2.24)

Universitas Sumatera Utara


41

Tabel 2.12 Berat bulk, angle of repose dan faktor gesekan bulk material.

Angle of repose, () Static friction factor (f0)


Bulk weight
Material Dynamic Static steel wood rubber
, ton/m3
dyn
Anthracite, fine, 0,8 0,95 27 45 0,84 -
dry

Gypsum, small- 1,2 1,4 - 40 - 0,82


lumped

Clay, dry, small- 1,0 1,5 40 50 - -


lumped

Gravel 1,5 1,9 30 45 - -

Ground, dry 1,2 30 45 - -

Foundry sand, 1,25 30 45 - 0,61


shake-out

Ash, dry 1,30 40 50 1 -

Lime stone, small- 0,4 0,6 30 - 0,7 -


lumped

Coke 1,2 1,5 35 50 1,0 -

Wheat flour 0,36 0,53 49 55 - 0,85

Oat 0,45 0,66 28 35 0,78 0,50

Sawdust 0,40 0,50 - 39 - 0,65

Sand, dry 0,16 0,32 30 45 - 0,56

Wheat 1,40 1,65 25 35 0,58 0,50

Iron one 0,65 0,83 30 50 - -

Peat, dry, lumped 2,10 2,40 40 45 0,80 -

Coal, run,-of-mine 0,33 0,41 35 50 1,0 0,64

Cement, dry 0,65 0,78 35 50 - 0,64


Sumber : Afrizal, 1998

Universitas Sumatera Utara


42

2.2.3 Berat Volume Pasir dan Hubungan-hubungannya


Segumpal pasir terdiri dari dua atau tiga bagian. Dalam pasir yang kering,
hanya akan terdiri dari dua bagian, yaitu butir-butir tanah dan pori-pori udara.

Dalam pasir yang jenuh juga terdapat dua bagian, yaitu bagian padat atau
butiran dan air pori.Dalam keadaan tidak jenuh, pasir terdiri dari tiga bagian, yaitu
bagian padat atau butiran, pori-pori udara, dan air pori. Bagian-bagian pasir dapat
digambarkan dalam bentuk diagram fase seperti gambar dibawah ini.

Vu
Udara
Vv

Va Air Ma

V M

Vt Mt
Tanah

Gambar 2.16 Diagram fase pasir

Gambar 2.16 diatas menunjukkan elemen pasir yang mempunyai volume V dan
berat total W dan hubungan berat dan volumenya. Dari gambar tersebut dapat
dibentuk persamaan berikut : (E.Bowks, 1995)
W = Ws + Ww dimana :

dan W s = berat butiran padat


V = Vs + Vw + Va W w = berat air

V v = Vw + Va V s = volume butiran padat


V w = volume air
V a = volume udara

Dengan berat udara dianggap nol, hubungan-hubungan volume yang biasa


digunakan adalah angka pori, porositas dan derajat kejenuhan. Adapun hubungan-
hubungan tersebut adalah sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara


43

Kadar air (w) didefenisikan sebagai perbandingan antara berat air (W w ) dengan

berat butiran (W s ) dalam tanah tersebut, dinyatakan dalam persen (%).

Ww
w (%) = 100 (2.25)
Ws

Porositas (n), didefinisikan sebagai perbandingan antara volume rongga (V v )

dengan volume total (V). Dalam hal ini dapat digunakan dalam benntuk persen
maupun decimal.
Vv
n= (2.26)
V
Angka pori (e), disefinisikan sebagai perbandingan volume rongga (V v ) dengan

volume butiran (V s ). Biasanya dinyataka dalam desomal.

Vv
e= (2.27)
Vs

Berat volume basah ( b ), adalah perbandingan antara berat butiran tanah termasuk

air dan udara (W) dengan volume total tanah (V).


W
b = (2.28)
V
dengan W = W w + W s + W v (W v = berat udara = 0). Bila ruang udara terisi oleh

air seluruhnya (V a = 0), maka tanah menjadi jenuh.

Berat volume kering ( b ), adalah perbandingan antara berat butiran (W s ) dengan

volume total (V) tanah.

Ws
b = (2.29)
V
Berat butiran padat ( s ), didefinisikan sebagai perbandingan antara berat butiran

padat (W s ) dengan volume butiran padat (V s ).

Ws
s = (2.30)
Vs

Universitas Sumatera Utara


44

Berat jenis (specific gravity) tanah (G s ) didefinisikan sebagai perbandingan

antara berat volume butiran padat ( s ) dengan berat volume air ( w ) pada

temperatur 4C.

s
Gs=
w (2.31)

G s tidak berdimensi. Berat jenis dari berbagai jenis tanah berkisar antara 2,65

sampai 2,75. Nilai berat jenis sebesar 2,67 biasanya digunakan untuk tanah-tanah
tak berkohesi. Sedangkan untuk tanah kohesip tak organik berkisar antara 2,68
sampai 2,72. (Hardyanto, 1992) Untuk melihat berat jenis dari pasir dapat dilihat
pada tabel berbagai jenis tanah dibawah ini.

Tabel 2.13 Tabel berat jenis tanah


Keadaan tanah Berat Jenis G s
Kerikil 2,65-2,68
Pasir 2,65-2,68
Lanau tak organik 2,62-2,68
Lempung organik 2,58-2,65
Lempung tak organiok 2,68-2,75
Humus 1,37
Gambut 1,25-1,80
Sumber : Hardyanto, 1992
Derajat kejenuhan (S), adalah perbandingan volume air (V w ) dengan volume total

rongga pori tanah (V v ). Biasanya dinyatakan dalam persen (%).

Vw
S (%) = 100 % (2.32)
Vv

2.2.4 Analisis Ukuran Butiran pasir


Sifat-sifat tanah sangat berngantung pada ukuran butirannya. Karena
besarnya butiran tanah mempengaruhi volume dan persentase berat butiran pada
suatu unit saringan dengan ukuran mesh yang tertentu. Oleh karena itu, analisis
butiran ini merupakan pengujian yang sangat penting untuk dilakukan (E.Bowks,
Joseph, 1993).

Universitas Sumatera Utara


45

. Karena pemeriksaan makroskopis massa butiran tanah menunjukkan


bahwa hanya sedikit pastikel-partikel yang bundar.

Kasar Sedang Halus


Gambar 2.17 Jenis besar butiran pasir

Dan karena itu mempunyai diameter, kita dapat menarik kesimpulan


bahwa ini merupakan deskripsi mengenai tanah yang agak longgar.

(4,76 mm) # 4

(2,00 mm) # 10

(0,84 mm) # 20

(0,42 mm) # 40

(0,25 mm) # 60

(0,147 mm)#100

Gambar 2.18 Analisis saringan pasir

2.2.4.1 Pasir Berbutir Kasar


Distribusi ukuran butir dari pasir berbutir kasar dapat ditentukan dengan
cara menyaringanya. Pasir berbeda uji disaring (screening) standar untuk
pengujian pasir. Berat pasir yang tinggal pada masing-masing saringan ditimbang

Universitas Sumatera Utara


46

dan persentase tehadap berat kumulatif pada tiap saringan dihitung. Contoh
nomor-nomor saringan dan diameter lubang dari standar Amerika dapat dilihat
dari tabel dibawah ini.

Tabel 2.14 Standar ukuran saringan

Nomor Saringan Diameter Lubang (mm)


4 4,75
10 2,00
20 0,85
40 0,425
60 0,25
100 0,15
140 0,106
200 0,075
Sumber : E.Bowks Joseph, 1993

2.2.4.2 Pasir Berbutir Halus


Distribusi ukuran butiran pasir berbutir halus atau bagian yang berbutir
haluis dari pasir berbutir kasar, dapat ditentukan dengan cara sedimentasi. Metode
inididasarkan pada hukum Stokes yang berkenaan dengan kecepatan butiran
mengendap pada larutan suspensi. Menurut Stokes, kecepatan mengendap butiran
dapat ditentukan oleh persamaan berikut :
s w
v= (2.33)
18
dimana:
v = kecepatan, sama dengan jarak (L/t)
w = Berat volume air

s = berat volume butiran padat (gr/cm 3 )

= kekentalan air absolute (g det/cm 2 )


Ukuran butiran ditentukan dengan menyaring sejumlah tanah melalui
seperangkast saringan yang disusun dengan lobang yang paling besar berada
paling atas, dan makin kebawah makin kecil. Jumlah tanah yang tertahan pada
saringan tertentu disebut sebagaisalah satu dari ukuran butiran pasir.

Universitas Sumatera Utara


47

2.3 Tingkat Kelembaban Pasir


Kelembaban atau kadar air pasir dapat didefinidikan sebagai rasio berat air
di dalam pori-pori pasir terhadap butiran air atau disebut dengan tingkat
kebasahan pasir. Perbedaan telah dibuat antara penentuan kadar air yang
dilakukan di laboratorium lewat sejumlah jenis pasir yang menunjukkan nilai
pada suatu saat di lapangan Untuk mengetahui pengaruh kebasahan terhadap
kapasitas transfer maka pasir tersebut diberi air dan diukur kelembabannya
dengan menggunakan Formula di bawah ini :
Basah ker ing
Kelembaban = x 100 %
ker ing

Kelembaban biasanya diberi simbol wN , dan biasanya tingkat

kebasahan/kelembaban ini adalah bervariasi, tergantung pada lokalisasi dari


pasirnya.

2.4 Kapasitas Transfer Pemindah Material Yang Bergerak Kontinu


Pemilihan kapasitas dari peralatan pemindah material yang bergerak
kontinu tergantung pada berat dari beban per meter panjang mesin (q dalam
satuan kg/m) dan pada laju pemindahan (v dalam satuan m/dt). Jika laju aliran
pada conveyor adalah (kg/dt), maka kapasitas perjamnya adalah :
3600
Q= qv = 3,6 qv (ton/jam) (2.34)
1000

Jika beban mempunyai bulk weight ( dalam satuan ton/m3) dan


dipindahkan dalam aliran yang kontinu yang mempunyai luas penampang A
dalam (m2), maka beban per meternya adalah :
q = 1000 A (kg/m) (2.35)
Contoh sketsa potongan melintang belt conveyor yang bergerak secara kontinu
dengan mempunyai luas penampang (A) material dapat dilihat pada Gambar 2.19
berikut ini :

Universitas Sumatera Utara


48

Gambar 2.19 Penampang Lintang Material pada Belt Conveyor

Saat material dipindahkan dalam saluran atau pipa yang mempunyai luas
penampang A0 dalam satuan (m2), efisiensi pembebanan , maka luas
penampang :
A = A0.
Sehingga:
q = 1000A0.. (kg/m) (2.36)
Dengan mensubtitusikan persamaan diatas dengan persamaan yang sebelumnya
maka untuk material dalam aliran kontinu, didapatkan kapasitas per jam :
Q = 3600A.v.
= 3600A0.v.. (ton/jam ) (2.37)
Kapasitas mesin pemindah tersebut dapat dinyatakan tanpa berat per unit, atau Q
(ton/jam), dan selanjutnya dapat juga dinyatakan dalam bentuk volume per unit
V (m3/jam). Bila kapasitas mesin pemindah tanpa berat per unit, maka Q
dinyatakan dalam ton/jam seperti persamaan berikut :
Q = V. (ton/jam) (2.38)
Sedangkan untuk kapasitas mesin pemindah dalam bentuk bulk, maka
kapasitasnya dapat dihitung dengan persamaan :
massapasir (kg )
Q= , atau
waktutransfer (m)
m
Q= (2.39)
t
2.4.1 Pengaruh Beban Terhadap Laju
Dalam penelitian ini yang akan menjadi topik utama pembahasan
adalah bagaimana pengaruh Beban terhadap Laju pada conveyor yang
yang digunakan pada PT.WIKA BETON. Untuk menghindari salah penafsiran

Universitas Sumatera Utara


49

tentang hal tersebut, maka diperlukan penegasan istilah sebelum masuk ke


landasan teori mengenai hal tersebut, yaitu:
a) Beban, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti barang yang
dibawa atau muatan yang dibawa. Dalam penelitian ini beban berarti
muatan yang mempengaruhi kerja bagian lain. Satuan beban yang
digunakan adalah Kg.
b) Laju, sebelum memahami istilah laju harus dalam hal ini harus
dibedakan antara pengertian laju dan kecepatan, dan mengapa dalam
penulisan skripsi ini digunakan istilah kecepatan bukan menggunakan
istilah laju. Istilah laju dalam Fisika karangan Giancoli, menyatakan
seberapa jauh sebuah benda berjalan dalam suatu selang waktu
tertentu, atau dapat diartikan bahwa laju rata-rata adalah jarak yang
ditempuh sepanjang lintasannya dibagi waktu yang diperlukan untuk
untuk menempuh jarak tersebut (Giancoli, 2001).
Berdasarkan rumus dapat ditulis demikian :
jarak yang tempuh
Laju rata-rata =
waktu tempuh diperlukan

Sedangkan kecepatan didefinisikan sebagai sebuah vektor yang


berhubungan dengan waktu yang diperlukan untuk perpindahan sesuatu
(Giancoli, 2001). Dalam hal ini pengertian perpindahan berarti perubahan posisi
benda. Berdasarkan rumus dapat ditulis sebagai berikut :
perpindahan (m)
Kecepatan rata-rata =
waktu yang tempuh diperlukan (dt)
Atau dapat dituliskan :
s
V= ( 2.40)
t

2.5 Pengatur Debit aliran material (Hopper)


Hopper berfungsi sebagai pencurah dan pengatur kapasitas material pada
belt conveyor. Konstruksi hopper dapat dilihat pada gambar 2.20.

Universitas Sumatera Utara


50

Gambar 2.20 Hopper

Gambar 2.21 Sudu Pencurah dan Poros

Volume material yang dicurahkan dapat dihitung berdasarkan volume


bagian yang cekung dari hopper (gambar 2.21). Jika sudu pencurah mempunyai
diameter dalam d 0 , diameter luar d 1 dan panjang sudu I s maka volume curahan
untuk satu putaran adalah :

1 (d12 d 02 )
V = . Is (2.41)
2 4

= .
(
1 11 2,7
2 2
)
15
2 4
= 670
Kapasitas curahan hopper akan bervariasi tergantung putaran sudu (nh) dan jenis
material yaitu :
Q h = 0,00067. n h . (ton/menit) (2.42)

= 0,0402. n h . (ton/jam)

Arti notasi:
Q h = kapasitas curaahan hopper (ton/jam)

n h = putaran sudu hopper (rpm)

Universitas Sumatera Utara