Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

A. ANATOMI

Pleura merupakan membran serosa yang tersusun dari lapisan sel yang

embriogenik berasal dari jaringan selom intraembrional dan bersifat

memungkinkan organ yang diliputinya mampu berkembang, mengalami retraksi

atau deformasi sesuai dengan proses perkembangan anatomis dan fisiologis

suatu organisme. Pleura viseral membatasi permukaan luar parenkim paru

termasuk fisura interlobaris, sementara pleura parietal membatasi dinding dada

yang tersusun dari otot dada dan tulang iga, serta diafragma,

mediastinum dan struktur servikal

1. Pleura viseral dan parietal memiliki perbedaan inervasi dan vaskularisasi.

1
2. Pleura viseral diinervasi saraf-saraf otonom dan mendapat aliran darah dari

sirkulasi pulmoner, sementara pleura parietal diinervasi saraf-saraf interkostalis

dan nervus frenikus sertamendapat aliran darah sistemik.

3.Pleura visceral dan pleura parietal terpisah oleh rongga pleura yangmengandung

sejumlah tertentu cairan pleura.1

Perkembangan Embriologis Pleura

Embrio memiliki rongga besar berbentuk huruf U di bagian ventral yang berasal

dari jaringan selom intraembrionik dan diliputi oleh kulit, jaringan ikat, tulang,

otot dan membran serosa. Rongga ini meliputi organorganviseral seperti paru,

jantung, usus, hati, limpa, lambung, ginjal dan organ reproduksi. Janin mamalia

usia 26 28 hari memiliki tiga jenis rongga tubuh yaitu rongga perikardium,

rongga peritoneum dan sepasang kanalis perikardioperitoneum.3,10 Kanalis

perikardioperitoneum menghubungkan rongga perikardium dan peritoneum

primitif. Lipatan membran pada bagian kranial dan kaudal ujung kanal

masingmasing kemudian memisahkan rongga pleura dengan rongga perikardium

(disebut membran pleuroperikardium) serta rongga pleura dengan rongga

peritoneum pada usia 32 hari perkembangan janin mamalia.10,11 Proses ini

diiringi perkembangan massa mesenkim medialis menjadi mediastinum

yang akan mengisi rongga pleura dan akan memisahkan rongga pleura menjadi

dua sisi. Rongga pleura kanan dan kiri akan meliputi jonjot paru primordial

masing-masing sisi dan berkembang menjadi pleura viseral yang meliputi masing-

masing paru. Pleura parietal berkembang dari bagian rongga pleura yang

menghadap ke pleura visceral

2
Perkembangan rongga pleura dan perikardium pada janin mamalia.

(A) Tahap awal menunjukkan janin masih memiliki tiga rongga yaitu rongga

perikardium, rongga peritoneum dan sepasang kanalis perikardioperitoneum,

(B) kanalis perikardioperitoneum selanjutnya terpisah dan terbentuk rongga

pleura dan rongga perikardium dibatasi membran pleuroperikardium,

(C) hingga akhirnya pleura viseral berkembang meliputi paru berhadapan dengan

pleura parietal.1

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi

Efusi pleura adalah adanya cairan patologis didalam rongga pleura dimana

cairan dalam ronmgga pleura berkisar antara kurang dari 1 ml sampai 20 ml,

setiap peningkatan jumlah cairan diatas nilai ini harus dianggap evusi pleura.

Perlu diingat bahwa, pada orang normal, rongga pleura juga berisi cairan

yang berfungsi untuk mencegah meleketnya pleuraviseralis dan pleura parietalis,

sehingga gerakan paru ( mengembang dang mengecil ) dapat berjalan dengan

mulus.2

Tipe efusi pleura

1. efusi transudatif : cairan bersifat transudat (kandungan kosentrasi protein atau

molekul atau molekul lain rendah), efusi transudatif terjadi karena perubahan

faktor sistemik yang mempengaruhi pembentukan dan absorpsi cairan pleura.3

Penyebab :

4
Gagal jantung kongestif

Sindrom nefrotik

Sirosis hati

Hidronefrosis

Syndrome meigs

Dialysis peritonial

Efusi pluera maligna/paramaligna : karena atelektasis pada obstruksi

bronkial, atau stadium awal obstruksi limfatik

2. efusi eksudatif : cairan pleura bersifat eksudat (kosentrasi protein lebih tinggi

dari transudat), efusi eksudasi terjadi karena perubahab faktor loka yang

mempengaruhi pembentukan dan absorpsi cairan pleura.3

Penyebab :

Tuberkulosis

Efusi parapneumonia :efusi pada pneumonia

Keganasan (karsinoma paru )

Emboli paru

Trauma

B. Etiologi dan Patofisiologi

5
Pleuritis Eksudatif

Pada umumnya, kelainan didasari atas adanya suatu proser radang yang

dapat akut maupun yang kronis.Suatu proses spesifik (TB) pada bagian paru atau

iga atau kelenjar getah bening paru yang berada di dekat pleura akan dapat

merangsang pleura untuk menghasilkan cairan eksudat, keadaan ini dapat juga

terjadi karena bersarangnya M. Tuberculosis yang telah mengalami penyebaran

secara hematogen (misalnya pada tuberculosis miliar) atau limfogen. Kadar

protein dalam cairan pleuran tinggi sehingga bila diperiksa dalam reagens rivalta

akan menghasilkan kekerusan atau disebut tes Rivalta +.2

Hidrotoraks

Pada keadaan hipoproteinemi berat (sindrom nefrotik, ankilostomiasi

berat, kekurangan kalori-protein brat dll) bisa timbul transudat ( cairan encer

dengan warna dan konsistensi seperti serum, dan tidak mengandung protein tes

Rivalta juga akan Negatif). Dalam hal ini penyakit nya disebut hidrothoraks dan

biasanya ditemukan bilateral.

Hematotoraks

Bila karena suatu trauma thoraks timbul perdarahan didalam rongga

pleura, keadaan ini disebut hematotothoraks, trauma ini bisa disebabkan oleh

ledakan dasyat didekat penderita (blast injury) atau trauma tajam (tusukan pisau)

maupun trauma tumpul (tendangan) kecelakaan lalu lintas adanya benturan keras

pada thoraks.

Piotoraks atau Empiema

6
Bila karena suatu injeksi primer maupun sekunder cairan pleura patologis

ini (yang maupun juga) berubah menjadi pus, keadaan ini disebut piotoraks atau

empiema. Piotorask kemungkinan timbul sebagai komplikasi.

Chylotoraks

Bila karena suatu proses keganasan dalam mediastinum terjadi Erosi

ductus thoracicus yang disertai fistulasi kedalam rongga pleura, akan timbul

chylothorax, cairannya adalah cairan limfe (putih kekuning kuningan seperti

susu). Kelainan ini jarang ditemukan.

Hidropnemotoraks dan Piopnemotoraks

Bila pada piotoraks didapatkan juga udara diatas pus efusi plura ini disebut

piopnemotoraks (bila cairan belum berupa pus, disebut hidropnemotoraks).

Cairan pleura hematosanguinus

Bila cairan patologis ini dihasilkan oleh proses maligna pada pleura, baik

primer maupun sekunder, cairan akan berwarna kemerahan, sampai coklat

(hematosangguinus).2

7
Tabel : perbedaan transudat dan eksudat

Transudat Eksudat

Kadar protein dalam efusi <3 >3

(g/dl) kadar protein dalam

efusi

<200 >200

Kadar protein dalam serum

kadar LDH dalam efusi (IU) <0,6 >0,6

Kadar LDH dalam efusi

<1,016 >1,016

Kadar LDH dalam serum

berat jenis cairan efusi

Negatif positif

Hasil tes Rivalta

1. Transudat dapat disebabkan oleh kegagalan jantung kongestif (gagal

jantung kiri), sindroma nefrotik, asites (oleh karena sirosis kepatis),

syndroma vena cava superior, tumor, sindroma meig.

2. Eksudat disebabkan oleh infeksi, TB, preumonia dan sebagainya, tumor,

infark, paru, radiasi, penyakit kolagen.4

8
C. Tanda dan gejala

Kelainan-kelainan yang ditemukan dapat dikelompokkan dalam 2 bagian

besar, yaitu kelainan yang disebabkan oleh adanya timbunan cairan didalam

rongga pleura dan kelainan yang disebabkan oleh penyakit atau kelainan

primernya. Timbunan cairan didalam rongga pleura sudah dapat dipastikan akan

memberi kompresi patologis pada paru, sehingga ekspansasi paru akan terganggu

dengan akibat akhir sesak nafas (tentunya tidak ada bunyi tambahan, karena

bronkus tetap normal.2

D. Diagnosis

A. Keluhan

Dari asimtomatis sampai keluhan berupa5

Nyeri dada

Sesak nafas

Batuk

Panas

Batuk

Lebih senang berbaring/ tidur ke satu arah (sisi yang berisi cairan)

Keluhan-keluhan tersebut tergantung pada jumlah dan jenis cairan,

kalau banyan atau purulen keluhan lebih berat

9
B.Tanda penting

Pada sisi yang sakit

Diding dada lebih cembung dan gerakan tertinggal

Vocal premitus melemah

Pekak, batasnya merupakan garis garis lengkung dan medial bawah

ke lateral atas disebut ellis damoiseau

Bunyi pernafasan menurun atau menurun atau menghilang pada

sisi yang sakit

Mediastinum terdorong kesisi yang sehat, dapat dilihat/raba pada

trakea

Iktus kordis berpindah ke sisi yang sehat

C. Pemeriksaan fisik

Retriksi ipsilateral pada pergerakan dinding dada bila >300 mL cairan:3

Bagian bawah /daerah cairan:

Perkusi : redup

Fremitus taktil dan lokal : menghilang

Suara nafas : melemah s/d menghilang

Trakea : terdorong ke kontralateral

Diatas dari cairan : penekanan paru / konsolidasi

10
D. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan Radiologi

Untuk konfirmasi dugaan adanya efusi pluera, mutlak di perlukan

pemeriksaan foto paru (PA), bila hasilnya baik, tetapi dugaan berdasarkan

pemeriksaan klinis teteap kuat, sebaiknya dimintakan foto lateral dengan sisi sakit

didepan (menempel pada film). Cairan yang masih sedikit dapat tampak jelas pada

foto lateral ini.

USG

Menentukan adanya dan lokasi cairan dirongga pleura, membimbing

aspirasi efusi terlokulasi (terutama bila ketebalan efusi <10 mm atau terlokulasi)

CT scan

Menunjukkan efusi yang belum efusi yang belum terdeteksi dengan

radiologi konvensional, memperlihatkan parenkin paru,identifikasi penebalan

pleura dan klasifikasi karena paparan asbestos. Membedakan abses paru perifer

dengan empyema terlokulasis.3

PUNGSI

Pungsi percobaan atau pungsi Diagnostik

Pungsi percobaan atau pungsi diagnostik adalah menusukkan suatu

semprit steril 10 atau 20 ml dari luar serta menghisap sedikit cairan pleura (kalau

ada) untuk dilihat secara fisik dan untuk pemeriksaan biokimia (tes Rivalta,

11
Kolesterol dan LDH (lactate DeHydrogenase)), pemeriksaan bakteriologi umum

dan M.tuberculosis, serta pemeriksaan sitologi.3

Dinilai secara :

Makroskopis:

Transudat = jernih, sedikit kekuningan

Eksudat = warna lebih gelap, keruh

Empiema = opak, kental

Efusi kaya kolesterol = berkilau seperti satin

Efusi chylous = seperti susu

Mikroskopis

Sel leukosit < 1.000/mm3 : transudat

Sel leukosit meningkat, predominasi limfosit matur : neoplasma,

limfoma, TBC

Sel leukosit predominasi PMS : pneumonia, pankreatitis Kimia

Protein

LDH

Cairan disebut eksudat bila memenuhi salah satu dari 3 kriteria :

o Rasio kadar protein total cairan pleura / serum > 0,5

o Rasio kadar LDH cairan pleura / serum > 0,6

o Kadar LDH >200 IU atau >2/3 batas atas nilai normal serum

Jika efusi pleura eksudat, selanjutnya diperiksakan :

o Kadar glukosa

12
o Kadar amilase

o PH

o Hitung jenis

o Kadar lipid : trigliserida

o Pemeriksaan mikrobiologi dan sitologi

o Amilase

o Tes bakteriologi : pewarnaan Gram, kultur MOR, periksaan BTA

langsung dan kultur BTA

o Sitologi.3

E. Diagnosis Banding

Efusi pleura

Transudat

Eksudat

Chilothotaks

Emfiema.3

F. Komplikasi

Pada setiap efusi pluera, selalu ditakutkan terjadi infeksi sekunder

(sehingga menjadi piotoraks), scwarte sangat mungkin terjadi bila cairan

mengandung banyak protein, seperti misalnya pada pleuritis eksudatif,

hematotoraks, dan piotoraks, schwarte ialah gumpalan fibrin yang melekatkan

pleura viseral dan parietalis setempat, schwarte ini tentunya akan mengurangi

kemampuan ekspansi paru sehingga akan menurunkan kemampuan bernapas

penderita karena ganggu retriksi berupa penurunan kapasitas vital. Kemudian,

13
karena fibrin ini akan mengalami retraksi, akan timbul deformitas dan

kemundurun faal paru yang lebih parah lagi.2

G. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pada efusi pleura ini adalah.

1. Drainase cairan jika efusi pleura menimbulkan gejala subjektif seperti nyeri,

dispnea dan lain-lain. Cairan efusi sebanyak 1 1,5 liter perlu dikeluarkan segera

untuk mencegah meningkatnya edema paru. Jika jumlah cairan efusi lebih banyak

maka pengeluaran cairan berikutnya baru dapat dilakukan 1 jam kemudian.

2. Pemberian anti biotik jika ada infeksi.

3. Pleurodesis

4. operatif.4

H. Prognosis

Dubia : tergantung penyebab, dan penyakit kormobid

Prognosis buruk pada efusi pluera maligna.3

14
BAB III

LAPORAN KASUS

1. KETERANGAN UMUM

Nama : syamsul alam

Kelamin : laki- laki

Agama : islam

Umur : 19/09-1966

Bangsa : gayo

Alamat : bintang

Tempat asal : aceh tengah

Pekerjaan : Wira swasta

Tanggal masuk RS : 22/09/2016

II. KELUHAN UTAMA

Sesak Nafas

15
III. ANAMNESA KHUSUS

Seorang pasien datang dengan keluhan sesak nafas, sesak terus

menerus, sesak semakin memberat saat tidur terlentang, dan

membaik apa berbaring disebalah kanan, sesak disertai dengan

batuk kering dan Bak sedikit-sedikit berwarna kuning, keluhan

dirasakan sejak satu minggu yang lalu, memberat pada satu hari

ini, pada saat beraktivitas ringan keluhan juga memberat, pasien

mengeluhkan bengkak pada seluruh badan, dan perut terasa penuh

keluhan bengkak dirasakan empat bulan yang lalu.

Mual muntah (-), BAB dalam batas normal (-).

IV. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Riwayat yang sama tanpa disetai dengan udem (+)

9 bulan 4 bulan sesak nafas

Bulan januari bulan april Tanggal 22/09-2016

Sesak (+), batuk (+), nafsu Keluhan disertai dengan


Wajah ,tangan dan kaki batuk (+), udem ekstremitas
makan menurun (+), bb udem (+) (+), distensi abdomen (+),
badan menurun (+).

V. RIWAYAT KELUARGA

Riwayat yang sama disangkal (-)

16
VI. RIWAYAT PENGGUNAAN OBAT

OS tidak ingat obat apa saja yang diminum

VII. RIWAYAT SOSIAL

Perokok berat sejak usia OS 20 Tahun

1 hari 2 bungkus

24x30 = 720 ( perokok berat )

PEMERIKSAAN FISIK

KEADAAN UMUM

Tampak sesak nafas, terpasang RL 20 gtt/i

KESADARAN

Compos mentis, GCS 15 E4M5V6

TANDA VITAL

TD : 148/122 mmhg

N : 90 x/i

RR : 28 x/i

T : 36,7oc


STATUS GIZI

BB : 85 kg
TB : 165 cm
IMT : 31,25 (obesitas)

17
PEMERIKSAAN FISIK

I. PEMERIKSAAN FISIK
Kepala : Mikrocephali (-), Hidrocephali (-)
Rambut : Beruban (+)
Mata
Anemis : -/-
Skleta ikterik : -/-
Cekung : -/-
Pupil isokor : +/+

Telinga :Makrotia (-), Mikrotia (-), Serumen (-)


Hidung : Septum deviasi (-) Conca hiperemis (-)

Tenggorokan : Tonsil hiperemis (-)

Leher
Simetris (+)
Deviasi trakea :-/-
Tvj : Terjadi peningkat (R 4CM)
Kelenjar thyroid : Pembengkakan (-)

THORAK
INSPEKSI

Pergerakan dinding dada : Asimetris

(Kiri dan kanan tidak sama)

Retraksi intercotal : (-)


Sikatrik : (-)

PALPASI
Nyeri tekan : (-)
Stem fremitus : Hantaran udara kiri dan kanan tidak sama

18
PERKUSI : Redup pada daerah yang terdappat cairan

AUSKULTASI :
Vesikuler : (+/+/)
Rhonki : (+/+)
Wheezing : (-/-)

JANTUNG
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus teraba di iga VI, 2 cm di sebelah lateral linea
ssmid claviularis sinistra.

PERKUSI
Batas atas jantung : ICS II linea para sternalis sinistra
Batas jantung kiri bawah : ICS V 1 cm lateral mid axilla anterior
Batas jantung kanan awah : ICS V linea parasternalis dekstra

AUSKULTASI
Aorta : BJ A1 >A2
Pulmonal : BJ P1<P2
Tricuspid : BJ T1 >T2
Mitral : BJ M1>M2

ABDOMEN
INSPEKSI :
Simetris (+)
Distensi (+)
Asites (+)
Striae (-)

19
PALPASI

Nyeri tekan (+)

PERKUSI : Timpani (+), Redup pada daerah yang terdapat cairan


AUSKULTASI : Peristaltik (+)
HEPAR : Teraba 3 jari diawah costae, nyeri tekan, licin, dan
tidak bergranur.
LIEN : Tidak teraa
REN : Ballotement (-)
KEL. GETAH BENING : Tidak dijumpai adanya pemesaran
EKSTREMITAS : Wajah tangan dan kaki udem (+)

FOLLOW UP HARIAN
TANGGAL PERJALANAN TERAPI
PENYAKIT
22/09/2016 S/ Sesak nafas (+), batuk Th/ Diet jantung III
(+), udem seluruh tubuh O2 2L
(+), distensi abdomen (+), Threeway
BAK sedikit(+) Inj. Furosemid /8jam
Inj. Ceftriaxone 1fls/hari
Flumicin 3xc1
O/ TD : 148/122
CPG 1x1
N : 86x/i
RR : 28x/i
T : 36,7OC P/ thorax PA
Hasil Pemeriksaan
Pf : mata: anemis (-),
ikterik (-) CTR : 68%
Bibir : sianosis (-), pucat (+)
Leher : tvj meningkat (R Perselubungan
4cm)
Thx : pergerakan dinding inhomogen lapangan
dada kiri dan kanan tidak
simetris (+), ves (+/+), rh bawah paru kanan
(+/+), wh (-).
Abd : distensi (+), Cor, bentuk, letak
peristaltick (+)
Ekstremitas : udem pada serta ukuran dalam
tangan dan kaki (+)

20
bar\tas normal
Linkar perut : 111 Cm
Sinus kanan tumpul
BB : 85 kg
TB : 165 Cm
Sinus kiri dan kedua
IMT : 31,25
(obesitas)
diafragma dalam batas
Input : 500 liter
output : 200 liter
normal
normal volume urine
minimal : 1,020 liter
Tulang-tulang rongga
maximal : 2,040 liter
thorax dalam batas

normal
A/ Efusi pleura ec CHF +
hipoalbumin Kesan : pleuropneumonia

dextra

23/09/2016 S/ Sesak nafas menurun Th/ Diet jantung III


(+), batuk (+), udem seluruh O2 2L
tubuh (+), distensi Threeway
abdomen (+), BAK Inj. Furosemid /8jam
sedikit(+) Inj. Ceftriaxone 1fls/hari
Flumicin 3xc1
CPG 1x1
O/ TD : 160/100 mmhg
N : 81x/i
RR : 22x/i
T : 36,7OC

Pf : mata: anemis (-),


ikterik (-)
Bibir : sianosis (-), pucat (+)
Leher : tvj meningkat (R
4cm)
Thx : pergerakan dinding
dada kiri dan kanan tidak
simetris (+), ves (+/+), rh
(+/+), wh (-).
Abd : distensi (+),
peristaltick (+)
Ekstremitas : udem pada
tangan dan kaki (+)

21
Linkar perut : 111 Cm
BB : 85 kg
TB : 165 Cm
IMT : 31,25
(obesitas)

A/ Efusi pleura ec CHF +


hipoalbumin

24/09/2016 S/ Sesak nafas menurun Th/ Diet jantung III


(+), batuk (+), udem seluruh O2 2L
tubuh (+), distensi Threeway
abdomen (+), BAK Inj. Furosemid 10mg /8jam
sedikit(+) Inj. Ceftriaxone 1fls/hari (h2)
Flumicin 3xc1
CPG tab 75 mg 1x1
O/TD : 130/90 mmhg
N : 80x/i
RR : 22x/i
T : 36,3OC
P/ Pungsi
( 08:45 )
Pf : mata: anemis (-),
Sudah
ikterik (-)
dilakukan
Bibir : sianosis (-), pucat (+)
pungsi pleura,
Leher : tvj meningkat (R
cairan sebanyak
4cm)
800 ml,
Thx : pergerakan dinding
berwarna
dada kiri dan kanan tidak
kuning,
simetris (+), ves (+/+), rh
konsistensi cair,
(+/+), wh (-).
KU pasien baik
Abd : distensi (+),
peristaltick (+)
Ekstremitas : udem pada
tangan dan kaki (+)

Linkar perut : 111 Cm


BB : 85 kg
TB : 165 Cm
IMT : 31,25
(obesias)

A/ Efusi pleura ec CHF +


hipoalbumin

22
25/09/2016 S/ batuk (+), udem pada Th/ Diet jantung III
tangan menurun (+), udem O2 2L
pada kaki (+) distensi Threeway
abdomen (+), BAK Inj. Furosemid 10mg /8jam
sedikit(+) Inj. Ceftriaxone 1fls/hari (h2)
Flumicin 3xc1
CPG tab 75 mg 1x1
O/ TD : 120/80
N : 83x/i
RR : 22x/i
T : 36,0OC
P/ USG, EKG
Kesan usg (tampak
Pf : mata: anemis (-),
cairan bebas cavum abdomen)
ikterik (-)
Ascites
Bibir : sianosis (-), pucat (+)
Leher : tvj meningkat (R
EKG
4cm)
SINUS RHYTM+VES
Thx : pergerakan dinding
(VENTRIKULER
dada kiri dan kanan tidak
EKTRA SISTOL)
simetris (+), ves (+/+), rh
(+/+), wh (-).
Abd : distensi (+),
peristaltick (+)
Ekstremitas : udem pada
tangan menurun (-) udem
kaki (+)

A/ Efusi pleura ec CHF +


hipoalbumin

26/09/2016 S/ Sesak nafas (+), batuk Th/ Diet jantung III


(+), udem pada kaki (+), O2 2L
distensi abdomen (+), BAK Threeway
sedikit(+) Inj. Furosemid 10mg /8jam
Inj. levofloxacin 1fls/hari
Pectocil 3xc1
O/ TD : 130/90 mmhg
CPG tab 75 mg 1x1
N : 76x/i
ISDN 3x5mg
RR : 21x/i
Spironolacton 1x25mg
T : 36,5OC

Pf : mata: anemis (-),


P/ Foto Thorax PA
ikterik (-)
Kesan :
Bibir : sianosis (-), pucat (+)
pleuropneumonia dextra

23
Leher : tvj meningkat (R tampak perbaikan
4cm) Cardiomegali
Thx : ves (+/+), rh (+/+), wh
(-). CTR : 68%
Abd : distensi (+),
peristaltick (+)
Ekstremitas : udem kaki
(+)

A/ Efusi pleura ec CHF +


hipoalbumin

27/09/2016 S/ batuk (+), udem seluruh Th/ Diet jantung III


tubuh (+), distensi O2 2L
abdomen (+), BAK Threeway
sedikit(+) Inj. Furosemid 10mg /8jam
Inj. levofloxacin 1fls/hari
Pectocil 3xc1
O/TD : 110/80mmhg
CPG tab 75 mg 1x1
N : 80x/i
ISDN 3x5mg
RR : 22x/i
Spironolacton 1x25mg
T : 36,9OC

Pf : mata: anemis (-),


ikterik (-)
Bibir : sianosis (-), pucat (+)
Leher : tvj meningkat (R
4cm)
Thx : pergerakan dinding
dada kiri dan kanan tidak
simetris (+), ves (+/+), rh
(+/+), wh (-).
Abd : distensi (+),
peristaltick (+)
Ekstremitas : udem kaki
(+)

A/ Efusi pleura ec CHF +


hipoalbumin

24
28/09/2016 S/ Sesak nafas (+), batuk Th/ Diet jantung III
(+), udem kaki (+), distensi O2 2L
abdomen (+), BAK Threeway
sedikit(+) Inj. Furosemid 10mg /8jam
Inj. levofloxacin 1fls/hari
Pectocil 3xc1
O/TD : 110/80 mmhg
CPG tab 75 mg 1x1
N : 79x/i
ISDN 3x5mg
RR : 21x/i
Spironolacton 1x25mg
T : 36,7OC

Pf : mata: anemis (-),


ikterik (-)
Bibir : sianosis (-), pucat (+)
Leher : tvj meningkat (R
4cm)
Thx : pergerakan dinding
dada kiri dan kanan tidak
simetris (+), ves (+/+), rh
(+/+), wh (-).
Abd : distensi (+),
peristaltick (+)
Ekstremitas : udem kaki
(+)

Linkar perut : 101 Cm


BB : 70 kg
TB : 165 Cm
IMT : 25,73
(overweight)

A/ Efusi pleura ec CHF +


hipoalbumin

29/09/2016 S/ Sesak nafas (+), batuk Th/ Diet jantung III


(+), udem kaki (+), distensi O2 2L
abdomen (+), BAK Threeway
sedikit(+) Inj. Furosemid 10mg /8jam
Pectocil 3xc1
CPG tab 75 mg 1x1
O/ TD : 120/90
ISDN 3x5mg
N : 79x/i
Spironolacton 1x25mg
RR : 22x/i
Codein 2x20mg
T : 36,6OC

Pf : mata: anemis (-),


ikterik (-)

25
Bibir : sianosis (-), pucat (+)
Leher : tvj meningkat (R
4cm)
Thx : pergerakan dinding
dada kiri dan kanan tidak
simetris (+), ves (+/+), rh
(+/+), wh (-).
Abd : distensi (+),
peristaltick (+)
Ekstremitas : udem pada
kaki (+)

A/ Efusi pleura ec CHF +


hipoalbumin

30/09/2016 S/ Sesak nafas (+), batuk Th/ Diet jantung III


(+), udem kaki (+), distensi O2 2L
abdomen (+), BAK Threeway
sedikit(+) Inj. Furosemid 10mg /8jam
Pectocil 3xc1
O/TD : 130/90 mmhg CPG tab 75 mg 1x1
N : 79x/i ISDN 3x5mg
RR : 21x/i Spironolacton 1x25mg
T : 36,1OC Codein 2x20mg

Pf : mata: anemis (-), P/ Ureum Creatinin, albumin


ikterik (-)
Bibir : sianosis (-), pucat (+)
Leher : tvj meningkat (R Hasil
4cm)
Ureum : 73 ( meningkat)
Thx : pergerakan dinding
dada kiri dan kanan tidak Creatinin : 1,3 (normal)
simetris (+), ves (+/+), rh
Albumin : 2,7 (rendah)
(+/+), wh (-).
Abd : distensi (+),
peristaltick (+)
Th/ albumin 100mg 20% 1fls
Ekstremitas : udem kaki
(+)

BB : 70 kg
TB : 165
IMT : 25,73

26
A/ Efusi pleura ec CHF +
hipoalbumin

01/10/2016 S/ Sesak nafas (+), batuk Th/ Diet jantung III


(+), udem kaki (+), distensi O2 2L
abdomen (+), Threeway
Inj. Furosemid 10mg /8jam
Pectocil 3xc1
O/ TD : 120/90 mmhg
CPG tab 75 mg 1x1
N : 86x/i
ISDN 3x5mg
RR : 28x/i
Spironolacton 1x25mg
T : 36,7OC
Codein 2x20mg
Albumin 100mg 20% 1fls
Pf : mata: anemis (-),
ikterik (-)
Bibir : sianosis (-), pucat (+)
Leher : tvj meningkat (R
4cm)
Thx : pergerakan dinding
dada kiri dan kanan tidak
simetris (+), ves (+/+), rh
(+/+), wh (-).
Abd : distensi (+),
peristaltick (+)
Ekstremitas : udem kaki
(+)

A/ Efusi pleura ec CHF +


hipoalbumin

02/09/2016 S/ Sesak nafas (+), batuk Th/ Diet jantung III


(+), udem seluruh tubuh O2 2L
(+), distensi abdomen (+), Threeway
Inj. Furosemid 10mg /8jam
Pectocil 3xc1
O/ TD : 148/122
CPG tab 75 mg 1x1
N : 86x/i
ISDN 3x5mg
RR : 28x/i
Spironolacton 1x25mg
T : 36,7OC
Codein 2x20mg

27
Pf : mata: anemis (-),
ikterik (-)
Bibir : sianosis (-), pucat (+)
Leher : tvj meningkat (R
4cm)
Thx : pergerakan dinding
dada kiri dan kanan tidak
simetris (+), ves (+/+), rh
(+/+), wh (-).
Abd : distensi (+),
peristaltick (+)
Ekstremitas : udem pada
tangan dan kaki (+)

A/ Efusi pleura ec CHF +


hipoalbumin

03/10/2016 S/ Sesak nafas (+), batuk Th/Diet jantung III


(+), udem seluruh tubuh O2 2L
(+), distensi abdomen (+), Threeway
Inj. Furosemid 10mg /8jam
Pectocil 3xc1
O/ TD : 110/90
CPG tab 75 mg 1x1
N : 81x/i
ISDN 3x5mg
RR : 22x/i
Spironolacton 1x25mg
T : 36,7OC
Codein 2x20mg
Albumin 100mg 20% 1fls
Pf : mata: anemis (-),
ikterik (-)
Bibir : sianosis (-), pucat (+)
Leher : tvj meningkat (R
4cm)
Thx : pergerakan dinding
dada kiri dan kanan tidak
simetris (+), ves (+/+), rh
(+/+), wh (-).
Abd : distensi (+),
peristaltick (+)
Ekstremitas : udem pada
kaki (+)

Lingkar perut : 101 Cm


BB : 70 kg

28
Tb : 165 Cm
IMT : 25,73

A/ Efusi pleura ec CHF +


hipoalbumin

04/10/2016 S/ Batuk (+), lemas (+) Th/ Diet jantung III


O2 2L
Threeway
O/ TD : 130/90
Inj. Furosemid 10mg /8jam
N : 86x/i
Pectocil 3xc1
RR : 22x/i
CPG tab 75 mg 1x1
T : 36,7OC
ISDN 3x5mg
Spironolacton 1x25mg
Pf : mata: anemis (-), ikterik
Codein 2x20mg
(-)
Bibir : sianosis (-), pucat (+)
Leher : tvj meningkat (R
4cm)
Thx : pergerakan dinding
dada kiri dan kanan tidak
simetris (+), ves (+/+), rh
(+/+), wh (-).
Abd : distensi (+),
peristaltick (+)
Ekstremitas : udem kaki (+)

Linkar perut : 98 Cm
BB : 60 kg
TB : 165 Cm
IMT : 22,0 (batas
normal)
Input : 500liter
output : 1500 liter
normal volume urine
minimal : 1,020 liter
maximal : 2,040 liter

A/ Efusi pleura ec CHF +

29
hipoalbumin

05/10/2016 S/ batuk (+), lemas (+) Th/ Diet jantung III


O2 2L
Threeway
O/ TD : 120/80
Inj. Furosemid 10mg /8jam
N : 81x/i
Pectocil 3xc1
RR : 22x/i
CPG tab 75 mg 1x1
T : 36,3OC
ISDN 3x5mg
Spironolacton 1x25mg
Pf : mata: anemis (-), ikterik
Codein 2x20mg
(-)
Bibir : sianosis (-), pucat (+)
Leher : tvj meningkat (R
p/ PBJ
4cm)
Thx : pergerakan dinding
dada kiri dan kanan tidak
simetris (+), ves (+/+), rh
(+/+), wh (-).
Abd : distensi (+),
peristaltick (+)
Ekstremitas : udem pada
kaki (+)

Linkar perut : 98 Cm
BB : 60 kg
TB : 165 Cm
IMT : 22,0 (batas
normal)
Input : 500liter
output : 1400 liter
normal volume urine
minimal : 1,020 liter
maximal : 2,040 liter

A/ Efusi pleura ec CHF +


hipoalbumin

30
RESUME

Seorang pasien datang dengan keluhan sesak nafas, sesak terus menerus, sesak

semakin memberat saat tidur terlentang, dan membaik apa berbaring disebalah

kanan, sesak disertai dengan batuk kering dan Bak sedikit-sedikit berwarna

kuning, keluhan dirasakan sejak satu minggu yang lalu, memberat pada satu hari

ini, pada saat beraktivitas ringan keluhan juga memberat, pasien mengeluhkan

bengkak pada seluruh badan, dan perut terasa penuh keluhan bengkak dirasakan

empat bulan yang lalu. Mual muntah (-), BAB dalam batas normal (-).

Dari pemeriksaan fisik didapat kan tekanan vena jugularis meningkat R4Cm,

fremitus taktil hantaran udara kiri dan kanan tidak sama, Ictus teraba di iga VI, 2

cm di sebelah lateral linea mid claviularis sinistra. Perkusi pada abdomen

didapatkan timpani (+), Redup pada daerah yang terdapat cairan.pada pada hepar

teraba 3 jari diawah costae, nyeri tekan, licin, dan tidak bergranur.

31
BAB IV

KESIMPULAN

Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terjadi penumpukan cairan

melebihi normal di dalam cavum pleura diantara pleura parietalis dan visceralis

dapat berupa transudat atau cairan eksudat. Dimana effusi pleura terjadi

pengumpulan sejumlah besar cairan bebas dalam kavum pleura. Kemungkinan

penyebab efusi antara lain :

1. penghambatan drainase limfatik dari rongga pleura

2. gagal jantung yang menyebabkan tekanan kapiler paru dan tekanan perifer

menjadi sangat tinggi sehingga menimbulkan transudasi cairan yang

berlebihan ke dalam rongga pleura

3. sangat menurunnya tekanan osmotik kolora plasma, jadi juga

memungkinkan transudasi cairan yang berlebihan

4. infeksi atau setiap penyebab peradangan apapun pada permukaan pleura

dari rongga pleura, yang memecahkan membran kapiler dan

memungkinkan pengaliran protein plasma dan cairan ke dalam rongga

secara cepat

Adapun gejala pada efusi pleura adalah nyeri dada, sesak nafas, batuk,

panas, dan lebih senang berbaring/ tidur ke satu arah (sisi yang berisi cairan).

Sedangkan tanda penting pada efusi pleura adalah :

32
Pada sisi yang sakit

Diding dada lebih cembung dan gerakan tertinggal

Vocal premitus melemah

Pekak, batasnya merupakan garis garis lengkung dan medial bawah

ke lateral atas disebut ellis damoiseau

Bunyi pernafasan menurun atau menurun atau menghilang pada

sisi yang sakit

Mediastinum terdorong kesisi yang sehat, dapat dilihat/raba pada

trakea

Iktus kordis berpindah ke sisi yang sehat

Pemeriksaan fisik Retriksi ipsilateral pada pergerakan dinding dada bila

>300 mL cairan:

Bagian bawah /daerah cairan:

Perkusi : redup

Fremitus taktil dan lokal : menghilang

Suara nafas : melemah s/d menghilang

Trakea : terdorong ke kontralateral

Diatas dari cairan : penekanan paru / konsolidasi

Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan Radiologi cairan yang masih sedikit dapat

tampak jelas pada foto lateral ini. Dan CT scan Menunjukkan efusi yang belum

efusi yang belum terdeteksi dengan radiologi konvensional, memperlihatkan

parenkin paru,identifikasi penebalan pleura

33
Pada kasus ini, pasien datang dengan keluhan sesak nafas, sesak terus

menerus, sesak semakin memberat saat tidur terlentang, dan membaik apa

berbaring disebalah kanan, sesak disertai dengan batuk kering dan Bak sedikit-

sedikit berwarna kuning, keluhan dirasakan sejak satu minggu yang lalu,

memberat pada satu hari ini, pada saat beraktivitas ringan keluhan juga memberat,

pasien mengeluhkan bengkak pada seluruh badan, dan perut terasa penuh keluhan

bengkak dirasakan empat bulan yang lalu. Mual muntah (-), BAB dalam batas

normal (-).

Dari pemeriksaan fisik didapat kan tekanan vena jugularis meningkat R4Cm,

fremitus taktil hantaran udara kiri dan kanan tidak sama, Ictus teraba di iga VI, 2

cm di sebelah lateral linea mid claviularis sinistra. Perkusi pada abdomen

didapatkan timpani (+), Redup pada daerah yang terdapat cairan.pada pada hepar

teraba 3 jari diawah costae, nyeri tekan, licin, dan tidak bergranur. Oleh Karena

itu, pada kasus ini di diagnosakan efusi pleura dikarenakan CHF dengan

hipoalbumin.

34
DAFTAR PUSTAKA

1. Pratomo putra irandi, yunus faisal. Anatomi dan fisiologi pleura.

Departemen pulmonologi dan ilmu kedokteran respirasi. fakultas

kedokteran. universitas Indonesia/RSUP pewrsahabatan. Jakarta

Indonesia: 2013. CDK-205/vol.40 no 6

2. Danusantoso halim, Buku saku penyakit paru edisi 2. Jakarta: EG Mubin,

Halim. Panduan praktis ilmu penyakit dalam diagnosis dan terapi edisi 2,

EGC.2012

3. Rani, Azis, dkk. paduan pelayanan medik, Jakarta pusat : EGC.2008

4. Mansjoer, Arif, dkk. Kapita selekta kedokteran edisi 3 jilid 1, Jakarta:

EGC.2001. FKUI

5. Mubin, Halim. Panduan praktis ilmu penyakit dalam diagnosis dan terapi

edisi 2, EGC.2013

35