Anda di halaman 1dari 4

Meningkatkan

Bahasa Spontan Di Anak Autis


Rury Soeriawinata, MSc, MEd, BCBA
Board Certified Behavior Analyst

Komunikasi secara perlahan terbentuk dalam diri anak dalam usia yang bervariasi. Anak
berkomunikasi dengan saling mengucapkan salam, mengomentari tentang obyek atau aktivitas,
meminta sesuatu, menanyakan sesuatu, meminta pertolongan, memberikan pernyataan,
mengatur orang lain dan bercerita. Agar supaya anak mampu mengekspresikan fungsi-fungsi di
di atas, anak harus diberikan kesempatan untuk mengekspresikan keinginan, kebutuhan dan
pikirannya. Anak harus dirangsang untuk menggunakan bahasanya sehingga kita perlu
menciptakan suasana yang mendorong anak untuk berbicara dan berinteraksi dalam kegiatan
sehari-hari.

Beberapa anak autis memiliki keterbatasan dalam berbahasa yang dideskripsikan sebagai anak
tidak memiliki bahasa yang spontan, hanya menjawab jika ditanya, memiliki bahasa yang kaku
seperti robot tanpa ekspresi atau intonasi sehingga seperti menghapal jawaban dan tidak
terlihat alami. Banyak anak autis yang bisa verbal tetapi memiliki keterbatasan dalam
menggunakan bahasa ekspresif. Bagaimana cara melatih mereka agar memiliki bahasa yang
lebih spontan? Kunci keberhasilannya adalah latihan di lingkungan alami (natural environment
training) atau dengan kata lain adalah mengaplikasikan apa yang dipelajari di atas meja ke
dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus kreatif menciptakan kebutuhan anak untuk berbicara
dan berinteraksi dengan orang lain dan juga mendorong penggunaan reinforcers yang lebih
alami. Hal ini tentu berbeda dengan konsep terapi di meja tetapi merupakan kelanjutan dari
program terapi di atas meja.

Selain itu dalam mengajarkan bahasa spontan kita harus paham apa yang diajarkan (bentuk
komunikasinya) jadi kita harus memberikan model bagaimana menggunakan bahasa tersebut,
kapan kita menggunakannya (waktu kejadian apa), bagaimana kita menggunakannya (intonasi
dan ekspresi wajah) dan mengapa kita menggunakannya . Beberapa cara dalam membentuk
bahasa spontan adalah sebagai berikut:

1. Kesempatan untuk berkomunikasi harus diciptakan dan strategi yang paling baik adalah
mengunakan teknik mand. Kita harus membersihkan lingkungan dengan menyimpan
makanan atau mainan yang dibutuhkan anak di tempat yang tidak terjangkau anak
sehingga anak perlu meminta atau berkomunikasi kepada orang lain untuk
mendapatkan apa yang diinginkan. Gunakan kata sesuai dengan level sang anak. Jika
anak baru verbal jangan dibebani dengan harus membuat kalimat atau menggunakan
kata tata krama seperti tolong, terima kasih, dll karena anak mungkin belum siap untuk
itu dan belum paham makna dari kata tersebut. Di awal cukup satu kata, dan jika anak
sudah mulai mahir bisa menjadi 2 kata, 3 kata dan seterusnya sampai penggunaan
kalimat dan kata-kata tata krama.
2. Tingkatkan kemampuan labeling spontan di natural environment. Setelah anak lancar
labeling kartu, anak diajak untuk melabel buku dan benda-benda sekitarnya, misal
benda di ruang duduk: kursi, meja, tv, computer, dll. Untuk meningkatkan interaksi,
melabel pun bisa dilakukan bergantian dengan terapis. Jadi anak mengucapkan 1 kata,
terapis mengucapkan 1 kata. Setelah itu terapis dan anak juga bisa bergantian melabel
benda-benda yang agak jauh, seperti saya melihat pohon kamu melihat apa? Sambil
bertanya pada anak dan mungkin anak menjawab mobil, demikian seterusnya.
3. Tingkatkan kemampuan mand tingkat mahir dan sekaligus intraverbal dari sang anak.
Gunakan aktivitas yang bernada surprise pada sang anak sehingga menjadi aktivitas
yang menarik sambil membangun bahasa yang lebih spontan. Misalnya
a. Menggunakan mainan yang bisa menyanyi dan menari. Anak sambil tertawa bisa
ditanyakan tentang mainan tersebut, ciri, fungsi, karakteristik, nama, dll.
b. Kecelakaan yang disengaja sehingga bahasa spontan di reinforce dengan situasi
alami, seperti air tumpah, mainan yang jatuh berantakan, konstruksi balok yang
sengaja digulingkan sehingga anak bisa mengeluarkan bahasa yang terasa
spontan seperti waduh, gimana ini, kenapa ya, oh tidak, dan lain-lain.
c. Mainan atau sesuatu yang disembunyikan di tas sehingga memberi peluang
kepada anak untuk bertanya (mand untuk informasi). Contohnya: terapis bisa
menyimpan barang-barang di dalam tas. Kemudian mainan bisa di goyang-
goyang supaya anak tertarik dan kemudian anak diarahkan untuk bertanya Apa
itu di dalam tas? Kemudian terapis memberikan kepada sang anak. Diulangi lagi
prosedur supaya anak bertanya lagi dengan lebih spontan.
d. Ganti bunyi ring telfon kemudian letakkan telfon di tempat tersembunyi.
Kemudian terapis menelfon telfon hingga berbunyi. Setelah telfon berbunyi,
arahkan anak untuk bertanya Suara apa itu? Dan suruh anak untuk mencari
dimana suara itu.
e. Perintahkan seseorang untuk mengetuk pintu. Arahkan anak untuk bertanya
siapa itu? Sesuai kemampuan anak kita bisa bertanya siapakah yang dipintu?
Apakah mama? Papa? Kakak? Mungkin anak bisa menebak.
f. Jika waktunya makan, perintahkan anak untuk mengambil sendiri di lemari,
tetapi sembunyikan makanan sang anak sehingga anak harus bertanya dimana
makanannya?
g. Ketika saatnya pergi sekolah, sembunyikan tasnya sehingga anak perlu bertanya
kemana tasnya disimpan. Beri tahu jawabannya dan perintahkan anak untuk
mencari sendiri.
h. Sembunyikan mainan anak dari tempat yang biasa disimpan. Biarkan anak
bertanya dimana mainannya jika dia ingin bermain.
i. Ketika anak ingin menggambar, berikan kertasnya tetapi sembunyikan
krayonnya, sehingga anak perlu bertanya dimana krayonnya. Beri tahu anak
dimana dan suruh dia mengambilnya sendiri
j. Menebak tangan yang mana. Letakkan barang kecil misal koin atau kue kecil dll
di satu tangan, kemudian anak disuruh menebak, dimana kue nya? Arahkan anak
untuk bertanya jika dia bingung.
k. Sediakan 3-5 gelas yang ditutup terbalik. Letakkan barang/kue kecil di bawah
gelas secara tersembunyi dan pindah-pindahkan gelasnya, kemudian arahkan
anak untuk bertanya dimana kuenya? Bisa digunakan beberapa potongan kue
atau gelas yang berbeda warna sehingga bisa ditanyakan ada berapa kue?
Didalam gelas warna apa? Bisa juga sekalian dilatih kemampuan anak menjawab
ya dan tidak.
l. Menggunakan telfon dari orang-orang yang sudah dikenal anak. Misalnya dari
papa. Telfon berbunyi. Anak diarahkan bertanya siapa di telfon tersebut dan
berikan telefon ke sang anak. Kemudian sang papa memberitahu anak ada kue di
dalam lemari di dapur, biarkan anak mencari kue tersebut dan senang
mendapatkannya. Kemudian ajak orang lain lagi (misalnya tante sang anak),
arahkan anak untuk bertanya siapa ditelfon, kemudian sang tante memberikan
informasi kepada anak misal ada permen dibawah bantal, biarkan anak mencari
dan mendapatkannya sehingga anak senang bertanya dan mengangkat telelfon.
m. Masukkan barang-barang untuk berenang didalam tasnya kemudian letakkan tas
tersebut di dekat anak. Pura-pura kita mengerjakan yang lain. Jika anak
mendekati tas tersebut dan terlihat ingin pergi. Arahkan untuk bertanya kapan
kita berangkat?

4. Sengaja melakukan kesalahan. Tergantung level bahasa sang anak kita bisa dengan
sengaja berbicara menggunakan bahasa yang salah dan liat reaksi anak apakah anak
mengerti dan berusaha untuk mengkoreksi bahasa kita? Gunakan kalimat lucu misalnya
jika sakit kita pergi ke ____ (dokter hewan). Atau jika anak belum paham bahasa seperti
itu bisa menggunakan mainan, misalnya dengan sengaja memberikan potongan puzzle
yang salah sehingga bisa keluar bahasa-bahasa spontan dan lucu.

5. Gunakan humor dalam menjalin interaksi dengan sang anak supaya timbul bahasa yang
spontan dan natural. Bermain dengan boneka tangan dan memberikan cerita yang
dibumbui tingkah laku yang lucu dan interaktif memancing anak mengeluarkan kata-
kata spontan (atau mungkin di awal perlu di arahkan terlebih dahulu).

6. Bermain adalah cara yang alami untuk meningkatkan bahasa yang spotan, kemampuan
sosial dan kreativitas. Beberapa anak autis tidak mengerti cara bermain sehingga perlu
di ajarkan cara bermain dengan memberikan model. Bermain harus melibatkan anak
untuk mengeksplorasi dan anak dibiarkan untuk memilih apa yang dia ingin lakukan
sehingga lebih terbangun interaksi yang lebih spontan. Selama bermain terapis dapat
memberikan model bagaimana bahasa yang seharusnya tetapi diharapkan tidak
memberikan perintah. Selama sesi bermain berlangsung terapis harus mengarahkan dan
berinteraksi dengan anak untuk meminta, imitasi kata dan konsep berbahasa tetapi
biarkan anak yang memimpin permainan. Contohnya sambil bermain boneka, mobil-
mobilan, kereta api, dll. Contoh lain misalnya bermain ular tangga, ajarkan berbicara
giliran saya, giliran kamu, lempar dadunya, berapa dadunya, bagaimana jalannya naik
atau turun. Tanyakan siapa yang di depan pion nya, siapa yang dibelakang, siapa yang
menang. Jika anak belum bisa bermain secara sosial, anak perlu dilatih dulu untuk
bermain sendiri dengan sederhana. Misal mencontoh satu gerakan menggerakkan mobil
ke depan, anak juga menggerakkan mobil ke depan kemudian berikan reinforcers. Atau
berlatih bermain dengan boneka, berikan susu ke boneka, anak juga diarahkan
memberikan susu ke boneka, demikian seterusnya. Dan jika anak sudah mulai mahir
bermain dan memiliki kemampuan bahasa yang cukup, maka bermain sosial bisa mulai
diajarkan.

Peringatan: Informasi yang saya tulis harap digunakan sebagai informasi yang memperkaya pengetahuan anda,
tetapi sebaiknya anda komunikasikan dengan professional yang menangani anak anda sebelum diterapkan. Ilmu
yang saya sampaikan sesuai dengan keilmuan yang saya pelajari tetapi harus dipahami bahwa setiap kasus anak
adalah unik. Saya tidak bertanggung jawab atas kesalahpahaman atau penyalahgunaan dari informasi yang anda
terima.

Rury ABA dan VB Untuk Autisma
FB Group: Rury ABA/VB untuk autisma
Telegram Group: https://t.me/joinchat/EPjWgA1eIBgrn7-QLJ37aw
Email: rury@rurysoeriawinata.com