Anda di halaman 1dari 2

RENUNGAN

LUKAS 11 : 27-28
OLEH : LISCTIA GENCI SITOMPUL

KEBAHAGIAAN SEJATI

Setiap orang tentu ingin hidup bahagia, dan ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk

dapat merasakan kebahagiaan itu. Kebahagiaan merupakan cita-cita dan perjuangan setiap orang

untuk memperolehnya. Contoh kongkritnya adalah orang tua kita. Demi kebahagiaan kita kelak,

mereka berusaha semampunya mencari uang, bekerja keras dan berjuang untuk dapat

menyekolahkan kita sampai saat ini kita dapat menikmati duduk di bangku kuliah. Mereka

berharap dengan cara inilah kita akan merasakan kebahagiaan. Kalau kita bahagia, orang tua juga

akan bahagia. Kalau kita sukses, mereka juga akan merasa berhasil dan secara spontan tetangga

serta orang-orang yang berada di sekitar kita akan memuji orang tua kita. Orang tua juga mau

agar kita hidup lebih baik, lebih sukses dan lebih bahagia dari kehidupan mereka saat ini. Karena

kebahagiaan dan kesuksesan anak juga menjadi keberhasilan dan kesuksesan orang tua.

Dalam bacaan hari ini, hal yang sama juga terjadi di mana seorang ibu yang karena

kekagumannya ketika menyaksikan Yesus yang mengajar dengan sangat cerdas, bijaksana dan

mempesona banyak orang ,secara spontan berkata: Berbahagialah ibu yang telah mengandung

Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau. Ungkapan ini adalah ungkapan kebahagiaan

seorang ibu yang melihat anaknya berhasil. Hal ini juga menunjukkan popularitas Yesus di mana

pada zaman itu, Yesus sangat terkenal sehingga inilah yang mendorong ibu itu memuji ibu Yesus

yaitu Bunda Maria. Lalu apa tanggapan Yesus atas kekaguman ibu itu? Dia menjawab: Yang

berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya. Yesus
tidak mengijinkan pujian itu mengalir hanya kepada Bunda Maria. Di sini Yesus ingin

memberikan pandangan yang baru tentang kebahagiaan yaitu dalam konteks Kerajaan Allah.

Bagi Yesus, setiap orang yang rela dan bersedia mendengarkan firman Allah serta membiarkan

hidupnya dipandu oleh firman Allah, justru merekalah yang berbahagia.

Saudara/I yang terkasih, jika tolak ukur kebahagiaan ada pada kesetiaan, kerelaan akan

firman Allah, maka kita semua mendapat kesempatan untuk dapat menikmati kebahagiaan injili

yang kita temukan dalam Kitab Suci, bacaan-bacaan rohani atau latihan-latihan rohani lainnya.

Injil hari ini mengajak kita untuk lebih dalam melihat dasar dari kebahagiaan sejati.

Kebahagiaan karena keberhasilan tentu membuat kita merasa bahagia tetapi kadar

kebahagiaannya masih bersifat semu artinya kita masih diliputi oleh duka dan derita. Sedangkan

orang yang sungguh melaksanakan firman Allah tentu akan membuat dirinya dan orang lain

mengalami kebahagiaan kekal yaitu kebahagiaan yang tidak akan pudar oleh zaman dan waktu.

Inilah kebahagiaan sejati.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita sudah mempunyai atau memberikan waktu

khusus untuk mendengarkan firman Allah?

Mari, saudara/I kita membuka hati untuk membiarkan Roh Kudus hadir dalam diri kita

agar kita mampu untuk mendengarkan firman Allah dan sekaligus memberanikan kita untuk

melaksanakannya dalam hidup kita sehari-hari, agar kita juga disebut yang berbahagia.

Amin.