Anda di halaman 1dari 2

KULTUR MERISTEM

Kultur meristem adalah salah satu teknik dalam kultur jaringan tanaman dengan
menggunakan jaringan meristematik atau jaringan muda sebagai eksplannya. Jaringan Meristem
atau meristematik merupakan kumpulan sel-sel yang aktif membelah pada tempat tertentu pada
tanaman, dimana sel-sel tersebut akan membentuk sistem jaringan secara permanen seperti
akar, tunas, daun, bunga dan lain-lain. Sel-sel jaringan meristem mempunyai kemampuan
embrionik yang dapat membelah tanpa batas untuk membentuk jaringan dewasa untuk
kemudian menjadi organ-organ tanaman. Pada umumnya jaringan meristematik yang dikultur
dapat berupa meristem pucuk terminal atau meristem tunas aksilar (Shalihah, 2010).

Tujuan dari aplikasi kultur meristem diantaranya adalah untuk memperbanyak tanaman.
Proses mitosis pada sel-sel meristem terjadi bersama dengan pembelahan sel yang
berkesinambungan, sehingga ekstra duplikasi DNA dapat dihindarkan. Hal ini pula yang
menyebabkan tanaman hasil kultur meristem identik dengan tanaman donornya. Jaringan
meristem merupakan jaringan vegetatif sehingga plantlet yang dihasilkannya pun merupakan
suatu klon. Oleh karena itu kelompok tanaman yang dihasilkan dari kultur meristem sering
disebut mericlone. Selain dari perbanyakan tanaman aplikasi kultur meristem lainnya ialah
menciptakan tanaman yang bebas virus (Gunawan, 1988). Kultur meristem mampu meningkatkan
laju induksi dan penggandaan tunas, mampu memperbaiki mutu bibit yang dihasilkan, mampu
mempertahankan sifat-sifat morfologi yang positif (Rice et al., 1992).

Dalam kultur meristem, ukuran eksplan merupakan salah satu faktor penting yang
berpengaruh terhadap keberhasilan eliminasi virus dan berperan dalam menentukan eksplan tersebut
dapat tumbuh selama masa pengulturan. Umumnya eksplan dengan ukuran yang lebih besar dapat
meningkatkan keberhasilan kultur dan memberikan respon pertumbuhan yang lebih cepat, namun
tingkat eliminasi virus menjadi menurun. Sementara itu, ukuran eksplan yang sangat kecil mendukung
untuk eliminasi virus, akan tetapi kemampuan regenerasinya menurun (Aqlima, 2016).

Tingkat keberhasilan dalam pelaksanaan kultur jaringan sangat ditentukan oleh sejumlah
faktor, terutama sterilisasi. Sterilisasi bahan kultur dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti
penggunaan berbagai bahan sterilan baik menggunakan perlakuan secara fisik
(pemanasan/pembakaran pada suhu tertentu) maupun secara kimia. Bahan sterilan yang sering
digunakan diantaranya deterjen, bakterisida dan fungisida. Guna mendapatkan tingkat sterilisasi yang
baik, maka penggunaan sterilan bahan kimia dengan ataupun disertai perlakuan fisik (pembakaran)
dianggap penting untuk dilakukan pada kultur jaringan tanaman yang eksplannya bersentuhan
langsung dengan tanah (Armila, dkk., 2014).

Armila, Ni Kadek Pena, Mirni Ulfa Bustami, dan Zainuddin Basri. 2014.
STERILISASI DAN INDUKSI KALUS BAWANG MERAH
(Allium ascalonicum L.) LOKAL PALU SECARA IN VITRO.
e-J.Agrotekbis 2 (2) : 129-137
Aqlima. 2016. KULTUR
MERISTEM TIP DAN KEMOTERAPI UNTUK
ELIMINASI VIRUS Onion yellow dwarf virus (OYDV) PADA
BAWANG MERAH. Thesis. IPB
Shalihah, A. 2010. Kultur Meristem. https://www.scribd.com/doc/147544876/5-4-Kultur-Meristem-
Amalia-Shalihah-140410100061

Gunawan, L.W. 1988. Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan. Depdikbud Direktorat Jendral Pendidikan
Tinggi PusatAntar Universitas Bioteknologi IPB. Bogor.
Rice, R.D., Anderson, P.G., Hall J.F. dan Ranchod, A. 1992. Micropropagation : Principles and
Commercial Practise dalam Plant Biotechnology. Fowler , M.W., Warren, G.S. dan Moo, Y. M. (Ed).
Pergamon Press Oxford, New York, Seoul, Tokyo; p : 130-149.