Anda di halaman 1dari 21

Nama Faizal Ariqi

NIM 175100300111052
Kelas F
Kelompok F2

A. PRE LAB
1. Apa yang dimaksud dengan analisis volumetri?
Analisis volumetri atau volumetri adalah cabang kimia analitik di mana
pengukuran volume adalah operasi utama dan terakhir. Dalam volumetri, reaktan diambil
dalam bentuk larutan dan volume larutan standar (larutan yang diketahui konsentrasinya)
yang diperlukan untuk bereaksi sepenuhnya, dengan volume larutan yang tidak diketahui
(larutan yang konsentrasinya akan ditentukan). Konsentrasi dapat diketahui dengan
menggunakan rumus Normalitas (Sukarti, 2008).

2. Apa yang dimaksud dengan asidi-alkalimetri?


Asidimetri merupakan penentuan konsentrasi larutan basa dengan menggunakan
larutan baku asam sedangkan alkalimetri merupakan penentuan konsentrasi larutan
asam dengan menggunakan larutan baku basa. Jadi asidi-alkalimetri merupakan teknik
analisis kimia berupa titrasi yang menyangkut asam dan basa atau sering disebut titrasi
asam-basa (Sukarti, 2008).

3. Apa yang dimaksud dengan larutan standar primer?


Larutan yang telah diketahui konsentrasinya (molaritas atau normalitas) secara
pasti melalui pembuatan langsung. Suatu larutan dapat digunakan sebagai larutan
standar bila memenuhi persyaratan sebagai berikut, mempunyai kemurnian yang tinggi,
mempunyai rumus molekul yang pasti, tidak bersifat higroskopis dan mudah ditimbang,
larutannya harus bersifat stabil, mempunyai berat ekivalen (BE) yang tinggi (Wiryawan,
2007).

4. Apa yang dimaksud dengan larutan standar sekunder?


Larutan standar sekunder adalah larutan yang konsentrasinya tidak diketahui
secara tepat karena kondisinya yang tidak dari zat murni. Untuk menentukan konsentrasi
larutan ini deilakukan dengan pembakuan menggunakan larutan primer (Cairns. 2009).

5. Apa yang dimaksud dengan standarisasi/pembakuan larutan?


Larutan standar sekunder adalah larutan standar yang bila akan digunakan untuk
standarisasi harus distandarisasi lebih dahulu dengan larutan standar primer (Wiryawan,
2007).

1. Larutan apa yang digunakan untuk menstandarisasi larutan NaOH? Tuliskan


persamaan reaksinya!
Dalam pembakuan / standarisasi larutan NaOH dapat menggunakan:
1. Asam Oksalat
C2H4.2H2O(aq) + 2NaOH(aq) Na2C2O4(aq) + 4H2O(l)
2. Asam asetat
CH3COOH(aq) + NaOH(aq) CH3COOH(aq) + H2O(aq)
(Sumardjo, 2009).
Nama Faizal Ariqi
NIM 175100300111052
Kelas F
Kelompok F2

2. Larutan apa yang digunakan untuk menstandarisasi HCl? Tuliskan persamaan


reaksinya!
Untuk menstandarisasi larutan HCl menggunakan boraks (Na2B4O7.10 H2O),
indikator yang digunakan adalah metil orange.
Persamaan reaksinya :
Na2B4O7.10 H2O + 2H2O 4B(OH)3 + 2NaCl + 5H2O

Pembakuan/standarisasi larutan NaOH dapat menggunakan Boraks. Reaksinya


(Na2B4O710H2O):
Na2B4O710H2O + 2HCl 2NaCl + 4H3BO3 +5H2O
(Sumardjo, 2009).

3. Jenis asam apa yang dominan terdapat pada asam cuka perdagangan? Tuliskan
persamaan reaksinya dengan NaOH!
Asam asetat atau asam etanoat merupakan jenis asam yang paling dominan pada
asam cuka. Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam
organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan (Watson,
2007).
Persaman reaksinya:
NaOH (aq) + CH3COOH (aq) CH3COONa(aq) + H2O(l)
(Watson, 2007).
Nama Faizal Ariqi
NIM 175100300111052
Kelas F
Kelompok F2

B. TINJAUAN PUSTAKA
Prinsip dasar titrasi
Prisip dasar titrasi ialah memperoleh larutan baru dengan cara
mereaksikan sejumlah volume tertentu larutan standar yang diketahui
konsentrasinya ke larutan lain dengan menambahkan larutan standar dan
memerlukan indikator untuk melihat hasilnya. Titrasi atau disebut juga volumetri
merupakan metode analisis kimia yang cepat, akurat dan banyak digunakan
untuk menentukan kadar suatu unsur atau senyawa dalam larutan (Wiryawan,
2007).

`Pengertian asidi-alkalimetri
Asidimetri adalah pengukuran konsentrasi asam dengan menggunaka
n larutan baku basa. Sedangkan alkalimeteri adalah pengukuran konsentrasi
basa dengan menggunakan larutan baku asam (Sukarti, 2008).

Pengertian larutan standar primer dan sekunder beserta contohnya


Larutan standar primer merupakan larutan yang mengandung zat padat
murni yang konsentrasinya diketahui dengan cara perhitungan massa dan
dapat digunakan untuk metetapkan konsentrasi larutan lain yang tidak diketahui
konsentrasinya (Cairns, 2009).
Contoh: Na2CO3, C8H5O4K, AS2O3
Larutan standar sekunder adalah larutan yang konsentrasinya tidak
diketahui secara tepat karena kondisinya yang tidak dari zat murni. Untuk
menentukan konsentrasi larutan ini deilakukan dengan pembakuan
menggunakan larutan primer (Cairns, 2009).

Fungsi bahan dalam praktikum


- Asam cuka berfungsi sebagai larutan yang diuji atau penirat (Widihati,
2008).
- NaOH berfungsi sebagai pemberi suasana basa (Widihati, 2008).
- HCl berfungsi sebagai larutan sampel keadaan normal (Widihati, 2008).
- Boraks berfungsi larutan yang diuji atau penitrat (Widihati, 2008).
- Asam Oksalat berfungsi sebagai larutan yang di uji atau penitrat
(Widihati, 2008).
- Aquades berfungsi sebagai pelarut Kristal (Widihati, 2008).
- Fenolftalin berfungsi sebagai penentu titik akhir dalam titrasi yang
ditandai jika tidak ada warna menunjukkan netral sedangkan warna
merah muda berarti keadaan basa dengan pH 8 10 (Widihati, 2008).
- Metil Jingga berfungsi sebagai penentu titik akhir dalam titrasi yang
ditandai jika warna kuning berarti keadan netral dengan pH 3,1 - 4,4
(Widihati, 2008).
Nama Faizal Ariqi
NIM 175100300111052
Kelas F
Kelompok F2

Aplikasi titrasi asam-basa dalam bidang teknologi pertanian


Pengaplikasian titrasi asam basa salah satunya adalah pupuk. Titrasi
dapat digunakan untuk membuat pupuk Kalium Klorida yang pembentukannya
diperlukan MgO yang dihitung kadarnya sebagai penguji dengan proses titrasi.
Bisa juga digunakan dalam penentuan sulfite dalam minuman Anggur
menggunakan Iodine yang merupakan asam (Doran, 2013).
Nama Faizal Ariqi
NIM 175100300111052
Kelas F
Kelompok F2

C. DIAGRAM ALIR
Pembuatan larutan standar HCl 0,1 M

HCl Pekat

Dihitung konsentrasinya

Dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL


Aquades
Dihomogenkan

Hasil
Nama Faizal Ariqi
NIM 175100300111052
Kelas F
Kelompok F2

Standarisasi larutan HCl

Na2B4O.10H2O

Ditimbang sebanyak 1,9 gram

Diletakan dalam gelas beker


Aquades

Dilarutkan

Dipindahkan ke labu ukur 100 mL


Aquades

Dihomogenkan

Diambil 10 mL

Dimasukkan ke dalam erlenmeyer


Indikator metil orange

Ditambahkan 1-2 tetes metil orange

Dititrasi dengan HCl

Diamati hingga perubahan warna

Dilakukan duplo

Dihitung M HCl

Hasil
Nama Faizal Ariqi
NIM 175100300111052
Kelas F
Kelompok F2

Pembuatan larutan standar NaOH 0,1 M

NaOH

Ditimbang sebanyak 0,4 gram dengan timbangan analitik

Dimasukkan ke dalam gelas beker


Aquades

Dilarutkan

Dipindahkan ke dalam labu ukur 100 mL


Aquades

Dihomogenkan

Hasil
Nama Faizal Ariqi
NIM 175100300111052
Kelas F
Kelompok F2

Standarisasi larutan NaOH

Asam Oksalat 0,05 M

Diambil 10 mL ke dalam erlenmeyer


Indikator PP

Ditambahkan 1-2 tetes

Dititrasi dengan NaOH

Diamati hingga terjadi perubahan warna

Dilakukan duplo

Dihitung M NaOH

Hasil
Nama Faizal Ariqi
NIM 175100300111052
Kelas F
Kelompok F2

Penggunaan larutan standar asam dan basa untuk menetapkan kadar


asam asetat pada cuka

Asam Cuka

Diambil sebanyak 10 ml dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer


Indikator PP

Ditambahkan 2-3 tetes

Dititrasi dengan larutan NaOH dalam buret

Diamati hingga terjadi perubahan warna larutan dalam erlenmeyer

Dilakukan duplo

Dihitung kadar asam asetat

Hasil
Nama Faizal Ariqi
NIM 175100300111052
Kelas F
Kelompok F2

D. PEMBAHASAN

ANALISA PROSEDUR

1. Membuat larutan standar HCl 0,1 M


Pertama-tama menyiapkan bahan dan alat yang akan digunakan meliputi Pipet
volume, Labu ukur, HCl, dan Aquades. Langkah selanjutnya yang harus dilakukan
untuk membuat larutan standar HCl 0,1 M adalah menghitung volume HCl pekat
yang dibutuhkan dengan menggunakan rumus pengenceran. Setelah menghitung,
membutuhkan 0,96 mL HCl pekat untuk diencerkan. Mengambil 0,96 ml HCl pekat
dengan menggunakan pipet volume dan memasukkan ke dalam labu ukur 100 mL.
Menambahkan aquades hingga mencapai tanda batas. Menutup labu ukur dengan
penutup dan menghomogenkan larutan HCl 0,1 M. Didapatkan hasil berupa
larutan standar HCl 0,1 M. Memasukkan larutan standar HCl 0,1 M ke dalam buret.

2. Standarisasi larutan HCl


Pertama-tama menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan meliputi
Erlemenyer, Corong, Boraks, Indikator metal orange, Pipet tetes, Buret. Langkah
selanjutnya yaitu menimbang massa boraks yang akan digunakan untuk reaksi
standarisasi dengan menggunakan rumus Molaritas. Didapatkan nilai 1,9 gram.
Letakkan didalam gelas beker dan diberi aquades. Dilarutkan lalu masukkan
kedalam labu ukur 100 mL. Lalu beri Aquades sebanyak 100 mL menggunakan
corong lalu homogenkan. Mengambil 10 mL larutan boraks dan memasukkan ke
dalam erlenmeyer. Menambahkan indikator metil orange sebanyak 12 tetes.
Menitrasi larutan boraks dengan menggunakan HCl 0,1 M pada percobaan
sebelumnya. Mengamati hingga terjadi perubahan warna dari orange menjadi
ungu. Mencatat volume HCl yang digunakan untuk menitrasi larutan boraks.
Melakukan duplo atau percobaan yang sama sebanyak 2 kali untuk mendapatkan
volume ratarata HCl yang dibutuhkan untuk Menitrasi larutan boraks. Menghitung
konsentrasi HCl. Didapatkan hasil berupa larutan HCl yang telah terstandarisasi.

3. Pembuatan larutan standar NaOH 0,1 M


Pertama-tama menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan meliputi
Timbangan analitik, Gelas beker, Spatula, Labu ukur, Aquades, Pengaduk.
Langkah selanjutnya menghitung berat kristal NaOH yang dibutuhkan untuk
membuat larutan standar NaOH 0,1 M. Menimbang kristal NaOH sebanyak 0,4
gram dengan menggunakan timbangan analitik. Memasukkan kristal NaOH ke
dalam gelas beker dengan cara membilas gelas arloji dan selanjutnya
menambahkan aquades secukupnya. Melarutkan kristal NaOH. Memindahkan
larutan NaOH ke dalam labu ukur 100 mL dan ditambahkan aquades hingga
mencapai tanda batas. Menghomogenkan larutan NaOH dan didapatkan hasil
Nama Faizal Ariqi
NIM 175100300111052
Kelas F
Kelompok F2

berupa larutan standar NaOH sebesar 0,1 M. Memasukkan larutan standar NaOH
0,1 M ke dalam buret yang selanjutnya digunakan untuk menitrasi asam okasalat.

4. Standarisasi larutan NaOH


Pertama-tama menyiapkan alat dan bahan yang meliputi Erlemenyer, Asam
oksalat, Indikator pp, NaOH, dan Buret. Mula mula mengambil 10 mL asam
oksalat 0,05 M ke dalam erlenmeyer. Menambahkan indikator pp sebanyak 12
tetes. Menitrasi asam oksalat dengan menggunakan NaOH. Mengamati hingga
terjadi perubahan warna dari jernih menjadi ungu. Mencatat volume NaOH yang
digunakan untuk menitrasi asam oksalat. Melakukan duplo atau mengulangi
percobaan sebanyak 2 kali untuk mendapatkan volume ratarata NaOH yang
ditambahkan ke dalam asam oksalat. Menghitung M NaOH. Didapatkan hasil
berupa larutan NaOH yang telah di standarisasi.

5. Penggunaan larutan standar asam dan basa untuk menetapkan asam asetat
pada cuka
Pertama-tama menyiapkan alat dan bahan yang meliputi Cuka, Labu ukur,
Aquades, Pipet volume, Erlemenyer, Indikator pp, NaOH. Langkah selanjutnya
mengambil cuka sebanyak 10 mL, lalu memasukkan ke dalam labu ukur 100 mL,
selanjutnya menambahkan aquades hingga mencapai tanda batas.
Menghomogenkan larutan cuka. Mengambil sebanyak 10 mL larutan cuka dan
memasukkannya ke dalam erlenmeyer. Menambahkan indikator pp sebanyak 2
3 tetes. Menitrasi larutan cuka dengan menggunakan larutan NaOH yang berada
di dalam buret. Mengamati hingga terjadi perubahan warna larutan dari jernih
menjadi ungu. Mencatat volume NaOH yang digunakan untuk menitrasi larutan
cuka dan menghitung kadar asam asetat yang terkandung di dalam cuka.
Melakukan duplo.
Nama Faizal Ariqi
NIM 175100300111052
Kelas F
Kelompok F2

ANALISA HASIL

1. Membuat larutan standar HCl 0,1 M

Dalam pembuatan larutan HCL 0,1 M ini digunakan rumus persen mol dan
pengenceran
% 10
M=
m1 . V1 = m2 . V2
1,19 32 10 10,43 . V = 0,1 . 100
=
36,5 V = 0,96 mL
= 10,43 M

Sedangkan menurut literatur, menghitung terlebih dahulu jumlah volume HCl 32%
yang akan diencerkan dalam percobaan pembuatan 100 ml larutan HCl 0,1 M dari
larutan HCl 32% dengan menggunakan rumus konsentrasi dan pengenceran
larutan.
% 10
M1 =
32% 10 1,19
M1 = 36,5
M1 = 10,43

Selanjut nya, setelah di ketahui molaritas nya, melakukan pengenceran dengan


menggunakan rumus :
M1V1 = M2V2
10,43*V1 = 0,1*100
0,1 100
V1 = 10,43
= 0,96 ml
Sehingga di dapatkan hasil yang kita butuhkan yaitu 0,96 ml larutan HCl (Nugroho
dan Rahayu, 2016).
Nama Faizal Ariqi
NIM 175100300111052
Kelas F
Kelompok F2

2. Standarisasi larutan HCl 0,1 M

Dalam melakukan standarisasi HCL dengan boraks digunakan rumus

Titrasi 1 Titrasi 2

Ma . Va = Mb . Vb . Val b Ma . Va = Mb . Vb . Val b
M . 11,7 = 0,05 . 2 . 10 M . 11,1 = 0,05 . 2 . 2
M asam = 0,085 M M asam = 0,09 M

0,085 + 0,09
=

2
= 0,0875

Sedangkan menurut literature, standarisasi larutan HCl dilakukan dengan


melakukan titrasi antara larutan HCl 0,1 M sebagai larutan sekunder dengan
boraks (Na2B4O7.10H2O) sebagai larutan primer. Massa boraks yang dibutuhkan
untuk melakukan titrasi dihitung dengan menggunakan rumus :

Mboraks =

0,05 = 0,1
n = 5x10-3

n=


5x10-3 =
381
gr = 1,9 gram (Khopkar, 2008).
Titrasi dilakukan secara duplo. Yaitu pada percobaan pertama membutuhkan 11,8 ml
HCl. Dan pada percobaan ke dua dibutuhkan 9,9 ml HCl. Sehingga rata rata volume
yang di butuhkan adalah 10,58 ml larutan HCl. Dan juga perlu di tambahkan indicator
metil orange pada boraks sebelum melakukan penstandarisasi larutan HCl.
Perbedaan volume HCl yang di butuhkan untuk proses titrasi dapat dipengaruhi oleh
beberapa factor. Salah satunya adalah banyak nya tetesan indicator dalam proses
titrasi.
Setelah diketahui volume HCl yang dibutuhkan untuk proses titrasi, dilakukan
perhitungan untuk mengetahui konsentrasi HCl dengan menggunakan rumus
molaritas. Yaitu dengan perhitungan berikut :
2 . .
MHCl =
2 .0,05 .10
= 10,85
MHCl = 0,092 M
Sehingga diketahui konsentrasi/molaritas larutan HCl hasil standarisasi adalah 0,092
M (Khopkar, 2008).
Nama Faizal Ariqi
NIM 175100300111052
Kelas F
Kelompok F2

3. Pembuatan larutan standar NaOH

Perhitungan massa Kristal NaOH adalah:


1000
MNaOH =
. .
gr =
1000
0,1 . 40 . 100
= 1000
= 0,4 gram

Sedangkan menurut literature, untuk membuat larutan, hitung berat dengan


menggunakan rumus molaritas

1000
M NaOH =
. .
gr = 1000
0,1 . 40 . 100
= 1000
= 0,4 gram
Pada pembuatan larutan ini, kami mendapat hasil yang baik walaupun terdapat
kelebihan berat NaOH sebanyak 0,04 gram pada saat penimbangan. Hal ini terjadi
karena sulitnya memotong NaOH serta cepatnya larutan tersebut menghisap air
yang membuat NaOH mencair. Hal ini tidak begitus sesuai dengan literatur yang
kami gunakan (Wegner, 2008).
Nama Faizal Ariqi
NIM 175100300111052
Kelas F
Kelompok F2

4. Standarisasi larutan standar NaOH

Dalam pembuatan larutan ini kami menghitung mol NaOH dengan rumus

Titrasi 1 Titrasi 2
0,05 . 2 . 10 = M . 11,2
0,05 . 2 . 10 = M . 11,2
M NaOH = 0,089 M M NaOH = 0,089 M

0,089 + 0,089
=

2
= 0,089

Sedangkan menurut literature, standarisasi larutan NaOH dilakukan dengan


melakukan titrasi antara larutan NaOH 0,1 M sebagai larutan sekunder dengan asam
oksalat (H2C2O4.2H2O) sebagai larutan primer. Titrasi dilakukan secara duplo. Yaitu
pada percobaan pertama membutuhkan 13,5 ml NaOH. Dan pada percobaan ke dua
dibutuhkan 13,3 ml NaOH. Sehingga rata rata volume yang di butuhkan adalah 13,4
ml larutan NaOH. Dan juga perlu di tambahkan indicator fenolftalein (pp) pada asam
oksalat sebelum melakukan penstandarisasi larutan NaOH.
Pada percobaan ini sebelum melakukan standarisasi , terlebih dahulu harus
mengetahui molaritas NaOH, dengan perhitungan sebagai berikut :
MNaOH . VNaOH nNaOH
MAsam Oksalat . VAsam Oksalat
= nAsam Oksalat (Wegner, 2008)
nNaOH . MAsam Oksalat . VAsam Oksalat
M NaOH = VNaOH . nAsam Oksalat
2 . 0,05 . 10
= 13,4
= 0,074 M
Adapun hal-hal yang mempengaruhi keberhasilan percobaan antara lain, kebersihan
alat, perhitungan yang akurat dan teliti, dan pengukuran larutan yang tepat. Teliti
dalam melihat perubahan warna pada saat titrasi, kurang nya ketelitian dalam
melihatvolume NaOH dalam buret, dan adanya tambahan skala buret yang tidak
konstan (Wegner, 2008).
Nama Faizal Ariqi
NIM 175100300111052
Kelas F
Kelompok F2

5. Penetapan kadar asam asetat pada cuka


Perhitungan:
Titrasi 1 Titrasi 2
0,089 . 1,8 . 100 = M . 10
M asam = 1,6 M 0,089 . 1,6 . 100 = Ma . 10
1,6 + 1,42 M asam = 1,42 M
=
= 1,51
2

1000
M=
0,906
1000
1,51 = 60 10
Kadar (% b/v) = 10 100%
= 9,06%
gr = 0,906

Sedangkan menurut literatur, untuk mencari kadar asam dilakukan perhitungan


dengan rumus

Perhitungan:
Titrasi 1 Titrasi 2 = 2,3 ml
0,089 . 1,8 . 100 = M . 10
M asam = 1,6 M 0,089 . 1,6 . 100 = Ma . 10
M asam = 1,42 M

1,6 + 1,42
=
= 1,51
2

1000
M=
0,906
1000
1,51 = 60 10 Kadar (% b/v) = 10 100%
gr = 0,906
= 9,06%

Pada pratikum kali kami mendapatkan hasil yang kurang memuaskan,


kadar asam yang kami dapatkan adalah 20% tidak sesuai dengan literatur yang
kami gunakan. Hal ini terjadi dikarenakan pada saat titrasi kami mengalami
kelebihan NaOH dikarenakan kurang teliti dan sabar dalam melakukan titrasi
(Hong dkk, 2016).
Nama Faizal Ariqi
NIM 175100300111052
Kelas F
Kelompok F2

DATA HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN

1. Pembuatan larutan standar HCl 0,1 M

BJ HCl 1,19
Kadar HCl 32%
Volume HCl yang dibutuhkan 0,96 mL
Perhitungan:
% 10
M=
1,19 32 10
= 36,5
= 10,43 M
MHCl pekat . VHCl pekat = MHCl . VHCl
10,43 . V = 0,1 . 100
V = 0,96 mL
Mengapa dalam pembuatan larutan standar HCl, BJ HCl harus diperhitungkan?

Karena dalam HCl berat jenis sangat mempengaruhi konsentrasi molaritas dalam
penentuan HCl pekat yang dibutuhkan dalam pembuatan larutan standar HCl
(Khopkar, 2008).

2. Standarisasi larutan HCl 0,1 M

Volume HCl 11,7 mL dan 11,1 mL


Molaritas HCl 0,1 M
Berat boraks
BM boraks
Molaritas larutan HCl hasil 0,092 M
standarisasi
Perhitungan : Na2B4O7.10H2O + 2HCl 2NaCl + 4H3BO3 + 5H2
MHCl = 2 x 10 x 0,05 2 . .
MHCl =
11,7
=
= 0,085
MHCl = 0,085 + 0,09
MHCl = 2 x 10 x 0,05
2
11,1
= 0,0875 M
= 0,09
Nama Faizal Ariqi
NIM 175100300111052
Kelas F
Kelompok F2

Mengapa asam boraks digunakan untuk menstandarisasi larutan HCl?

Karena antara HCl dan boraks terjadi reaksi sempurna. HCl ( asam kuat ) akan
bereaksi dengan boraks (basa lemah ) membentuk garam yang bersifat asam.
Reaksi :
Na2B4O7.10H2O + 2HCl ===> 2NaCl + 4H3BO3 +5H2O
Dari reaksi antara asam kuat dan basa lemah itu akan lebih mudah diamati titik akhir
titrasinya. Pada percobaan ini, boraks merupakan larutan standar primer dan HCl
merupakan larutan standar sekunder. Hal ini disebabkan kerena :
-. Boraks adalah suatu garam yang bersifat basa lemah, sifatnya yang tidak mudah
teroksidasi, boraks cenderung stabil, selain itu juga boraks ditemukan dalam keadaan
murni, tidak korosif. Bobot ekivalen boraks tinggi, yaitu 123 g/aq.
-. HCl merupakan larutan gas Cl dalam air . Hal ini memungkinkan kelarutannya mudah
sekali berubah terhadap perubahan suhu, perubahan kelarutan tersebut akan
mempengaruhi konsentrasinya.
-. HCl yang digunakan yaitu berasal dari hasil pengenceran sehingga dimungkinkan
konsentrasi HCl yang didapat tidak tepat. Indikator yang paling tepat digunakan untuk
titrasi ini adalah indikator MO, range pH 3-4,5, karena range pH garam ( bersifat asam
) yang dihasilkan mendekati range pH dari indikator MO, sehingga indikator yang paling
tepat digunakan pada reaksi ini adalah MO (Tim Asisten, 2011).

3. Pembuatan larutan standar NaOH

Berat NaOH 0,4 gram


Volume larutan NaOH
Molaritas larutan NaOH 0,1
Perhitungan:
1000
MNaOH =
. .
gr = 1000
0,1 . 40 . 100
=
1000
= 0,4 gram
Mengapa larutan NaOH harus distandarisasi?

Hal ini dilakukan untuk memastikan keakuratan konsentrasi NaOH yang nantinya akan
digunakan sebagai larutan standar, dan untuk menunjukkan apakah larutan NaOH ini
dapat bereaksi sempurna baik dengan asam lemah maupun kuat (Khopkar, 2008).
Nama Faizal Ariqi
NIM 175100300111052
Kelas F
Kelompok F2

4. Standarisasi larutan standar NaOH

Volume Na-oksalat
BM Na-oksalat 381
Volume aquades
Volume larutan NaOH 0,1 M 11,2 ml dan 11,2 ml)
Molaritas larutan NaOH 0,089 M
Perhitungan: H2C2O4 + 2NaOH Na2C2O4 + 2H2O
.
.
=
2 .0,05 .10 2 .0,05 .10
M NaOH = 11,2
M NaOH = 11,2

= 0,089 M = 0,089 M
MNaOH = 0,089 + 0,089
2
= 0,089 M

a. Mengapa standarisasi larutan NaOH menggunakan Na-oksalat?

Karena antara NaOH dan asam oksalat terjadi reaksi sempurna. NaOH ( basa kuat ) akan
bereaksi dengan asam oksalat (asam lemah ) membentuk garam yang bersifat basa.
Reaksi :
2NaOH + H2C2O4 ===> Na2C2O4 + 2H2O
Dari reaksi antara basa kuat dan asam lemah itu akan lebih mudah diamati titik akhir titrasinya.
Pada percobaan ini, asam oksalat merupakan larutan standar primer dan NaOH merupakan
larutan standar sekunder. Hal ini disebabkan kerena :
-. Asam oksalat adalah suatu asam lemah, sifatnya yang tidak mudah menguap, asam oksalat
cenderung stabil, selain itu juga asam oksalat ditemukan dalam keadaan murni. Mr asam
oksalat tinggi, yaitu 90
-. NaOH memiliki sifat higroskopis, yaitu mudah menyerap H2O atau CO2 sehingga mudah
dilarutkan didalam air dan memiliki kestabilan rendah. Mr dari NaOH hanya 40 (Tim Asisten,
2011).
Nama Faizal Ariqi
NIM 175100300111052
Kelas F
Kelompok F2

b. Mengapa indikator yang digunakan adalah pp (fenolftalein)?

Indikator yang digunakan adalah indikator pp, sebab range pH indikator ini 8,5-10, mendekati
range pH garam basa yang dihasilkan, maka dengan indikator ini dapat menunjukkan titik akhir
titrasi yang terbentuk dan ditunjukan dengan perubahan warna (Tim Asisten, 2011).

5. Penetapan kadar asam asetat pada cuka

Volume larutan asam cuka 10 ml


Volume NaOH (titrasi) 1,8 mL dan 1,6 mL
Molaritas NaOH 0,089 M
BM asam organik dominan 60
Persamaan reaksi CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O
Kadar total asam (% b/v) 9,06 %
Perhitungan:
0,089 . 1,8 . 100
MCH3COOH = 10
= 1,6 M
0,089 . 1,6 . 100
MCH3COOH = 10
= 1,42 M
1,6+1,42
MCH3COOH =
2
= 1,51 M
1000
MCH3COOH =
1000
1,51 = 60 10
gr = 0,906 gram

Kadar total asam ( % b/v) = 100%
0,906
= 10
100%
= 9,06 %

Apakah prinsip analisis kadar total asam bisa digunakan untuk menentukan keasaman
produk pangan yang lain? Jelaskan contoh aplikasinya!

Prinsip analisis kadar total asam dapat digunakan untuk menentukan keasaman produk
pangan, contoh nya adalah dalam proses pembuatan yoghurt (Irawati, 2008). Nilai total
asam yang diperoleh dari produk yogurt yang dianalisis harus memiliki persyaratan
standar mutu yogurt Indonesia yang harus dipenuhi seperti dalam SNI 01-2981-1992
yaitu 0.5-2.0% (b/b) (BSN, 2009).
Nama Faizal Ariqi
NIM 175100300111052
Kelas F
Kelompok F2

KESIMPULAN

Pada pratikum kali kali ini dapat disimpulkan bahwa titrasi adalah memperoleh
larutan baru dengan cara mereaksikan sejumlah volume tertentu larutan standar yang
diketahui konsentrasinya ke larutan lain dengan menambahkan larutan standar dan
memerlukan indikator untuk melihat hasilnya (Khopkar, 2008).

Tujuan pratikum ini adalah membuat larutan standar HCl 0,1 M, membuat larutan
standar sekunder NaOH 0,1 M dan standar primer H2C2O4, melakukan standarisasi
larutan HCl 0,1 M dan NaOH 0,1 M serta menggunakan larutan standar NaOH 0,1 untuk
menetapkan kadar asam asetat cuka perdagangan.

Dalam percobaan didapatkan larutan standar HCL 0,1 M dengan volume 0,96
ml. Untuk standarisasi HCL dengan boraks didapatkan konsentrasi boraks sebesar
0,0875 M. Pembuatan larutan standar NaOH diperoleh massa 0,4 gram. Untuk
standarisasi larutan NaOH diperoleh konsentrasi 0,089 M dan untuk kadar asam asetat
pada cuka adalah 9,06%.