Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PAKAN

Pengolahan Bahan Pakan Secara Fisik

Oleh:

Kelas D

Kelompok 1

Siti Nurharyati 200110150007

Mahbub Bil Adly 200110150063

Melia Tiberias 200110150105

Qori Muzelsa P 200110150113

Isrami Assyifa A 200110150179

Edwin Widiyanto 200110150249

LABORATORIUM NUTRISI TERNAK UNGGAS NON RUMINANSIA


DAN INDUSTRI MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2017

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat

dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan laporan akhir praktikum Pengolahan

Bahan Pakan Secara Fisik. Laporan ini disusun sebagai salah satu tugas mata

kuliah Teknologi Pakan.

Pada kesempatan ini, kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada

dosen dan Asisten dosen Teknologi Pakan yang telah memberikan bimbingan

dalam pelaksanaan praktikum ini serta semua pihak yang telah membantu dalam

menyelesaikan laporan akhir ini.

Kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan agar ke

depannya laporan akhir ini dapat menjadi lebih baik lagi. Semoga laporan akhir ini

dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.

Sumedang, Oktober 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

BAB Halaman

KATA PENGANTAR .......................................................................... ii

DAFTAR ISI ......................................................................................... iii

DAFTAR TABEL ................................................................................. v

I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1
1.2 Identifikasi Masalah.......................................................................... 2
1.3 Maksud dan Tujuan .......................................................................... 2
1.4 Waktu dan Tempat ............................................................................ 2

II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pakan................................................................................................. 4
2.2 Jagung ............................................................................................... 4
2.3 Singkong ........................................................................................... 5
2.4 Penggilingan ..................................................................................... 6
2.5 Penyaringan ...................................................................................... 6
2.6 Densitas............................................................................................. 7
2.4 Pengeringan ...................................................................................... 8

III ALAT, BAHAN, DAN PROSEDUR KERJA


3.1 Alat dan Bahan ................................................................................. 9
3.2 Prosedur Kerja .................................................................................. 10

IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil .................................................................................................. 12
4.2 Pembahasan ...................................................................................... 15

V KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan ....................................................................................... 22
5.2 Saran ................................................................................................. 22

iii
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 23

LAMPIRAN ................................................................................................. 25

iv
DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

Tabel 1. Data Hasil Penggilingan Jagung dan Produktivitas Mesin ...... 12

Tabel 2. Data Hasil Penyaringan Tepung Jagung ................................... 13

Tabel 3. Data Densitas Jagung Halus ..................................................... 14

Tabel 4. Data Berat Awal Singkong ....................................................... 14

Tabel 5. Data Berat Singkong Selama Pengeringan ............................... 15

Tabel 6. Data Kadar Air Singkong dan Kulit Singkong ......................... 15

v
1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Kualitas nutrisi dalam bahan pakan terus menurun seiring waktu yang

diakibatkan karena banyak faktor, sehingga perlu adanya pengolahan bahan pakan

agar menjaga, mempertahankan dan meningkatkan kualitas dan kandungan nutrisi

pada bahan pakan tersebut. Pengolahan pakan dapat dilakukan dengan cara

mekanik, teknis, kimia, biologis bahkan campuran dari berbagai pengolahan.

Proses pengolahan secara fisik adalah pengolahan bahan pakan dari bentuk

fisiknya dengan menggunakan mesin atau alat bantu yang mengubah bentuk asli

dari bahan pakan tersebut menjadi bahan pakan yang mudah digunakan.

Pengolahan yang dapat dilakukan salah satunya adalah penggilingan dan juga

penyaringan. Hasil pengolahan secara fisik tersebut akan mengubah bentuk dan

ukuran partikel sehingga sangat berhubungan dengan densitas. Densitas akan

mempengaruhi banyaknya pakan yang akan disajikan, keuntungan dan palatabilitas

ternak, dan sangat berhubungan dengan penyimpanan bahan pakan.

Pengolahan secara fisik salah satunya, yaitu dilakukan pengeringan.

Pengeringan ini sangat penting karena dapat mengurangi kandungan air dan resiko

kerusakan bahan sehingga dapat dipertahankan kualitasnya. Pengetahuan mengenai

pengolahan bahan pakan ini merupakan hal yang penting dalam penyediaan pakan

ternak, maka dilakukan praktikum mengenai Pengolahan Bahan Pakan secara Fisik

yang meliputi penggilingan, penyaringan, menghitung densitas dan pengeringan.


2

1.2 Identifikasi Masalah

1. Bagaimana pengolahan bahan pakan secara fisik dengan metode

penggilingan dan produktivitas mesin hammer mill.

2. Bagaimana pengolahan bahan pakan secara fisik dengan metode

penyaringan.

3. Bagaimana densitas bahan pakan hasil penggilingan.

4. Bagaimana pengolahan bahan pakan secara fisik dengan metode

pengeringan.

1.3 Maksud dan Tujuan

1. Mengetahui pengolahan bahan pakan secara fisik dengan metode

penggilingan dan produktivitas mesin hammer mill menggunakan screen

2. Mengetahui pengolahan bahan pakan secara fisik dengan metode

penyaringan.

3. Mengetahui densitas bahan pakan hasil penggilingan.

4. Mengetahui pengolahan bahan pakan secara fisik dengan metode

pengeringan.

1.4 Waktu dan Tempat

1.4.1 Penggilingan Jagung

Hari, Tanggal : Selasa, 19 September 2017

Waktu : 13.30 15.30 WIB

Tempat : Gedung mini Feedmill Fapet UNPAD


3

1.4.2 Penyaringan dan Densitas Jagung

Hari, Tanggal : Selasa, 26 September 2017

Waktu : 13.30 15.30 WIB

Tempat : Laboratorium Nutrisi Ternak Unggas, Non

Ruminansia, dan Industri Makanan Ternak

1.4.3 Pengeringan Singkong

Hari, Tanggal : Selasa, 3 Oktober 2017

Waktu : 13.30 15.30 WIB

Tempat : Laboratorium Nutrisi Ternak Unggas, Non

Ruminansia, dan Industri Makanan Ternak;

Halaman Gedung 3 (ruang terbuka untuk

penjemuran)
4

II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pakan

Pakan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan, dapat dicerna sebagian

atau seluruhnya, dan bermanfaat bagi ternak, oleh karena itu apa yang disebut pakan

adalah segala sesuatu yang dapat memenuhi persyaratan tersebut di atas dan tidak

menimbulkan keracunan bagi ternak yang memakannya (Kamal, 1994). Kebutuhan

pakan terkait erat dengan jenis ternak, umur ternak, tingkat produksi. Konsumsi

bahan kering pakan ditentukan oleh tubuh ternak. Macam ransum, umur, penyakit,

lingkungan, kondisi ternak dan defisiensi nutrient tertentu (Tillman, 1998).

Berdasarkan bentuknya dan fisiknya, bahan baku ternak digolongkan

menjadi empat kategori, yaitu : bentuk butiran, tepung pellet dan bentuk cairan.

Bentuk butiran umumnya lebih disukai unggas, seperti bahan baku pakan jagung,

gandum, sorghum dan lain-lain. Bentuk tepung umumnya diperoleh dari bahan

baku seperti bekatul, dedak gandum, tepung tulang, tepung ikan dan lain-lain

dengan komposisi ekonomis 25% - 35% (Murtidjo, 2003).

2.2 Jagung

Jagung atau bisa disebut dengan maize adalah makanan serta pakan penting

dibelahan bumi bagian barat. Jagung dapat tumbuh diberbagai kondisi iklim. Sejak

zaman pra sejarah, jagung telah menjadi makanan pokok bangsa Meksiko dan

Amerika Latin. Kata maize dalam perdagangan global lebih sering digunkaan

daripada jagung. Meksiko merupakan Negara tempat jagung berasal. Meksiko


5

memiliki banyak varietas jagung, yaitu sebanyak 65. Tanaman jagung merupakan

tanaman biji-bijian yang lain (Malti dkk, 2011).

Jagung adalah tanaman rerumputan tropis yang sangat adaptif terhadap

perubahan iklim dan memiliki masa hidup 70-210 hari. Jagung dapat tumbuh

hingga ketinggian 3 meter, jagung memiliki nama latin zea mays. Tidak seperti

tanaman biji-bijian lain, tanaman jagung merupakan satu-satunya tanaman yang

buga jantan dan betinanya terpisah (Belfied dan Brown, 2008).

Jagung dapat menghasilkan hasil panen melimpah dengan curah hujan 300

mm perbulan. Curah hujan kurang dari 300 mm perbulan akan mengakibatkan

kerusakan pada tanaman jagung, namun demikian, factor dari kelembapan tanah

juga berdampak pada berkurangnya hasil panen (Belfield dan Brown, 2008).

2.3 Singkong

Singkong merupakan tanaman pangan berupa perdu dengan nama lain

singkong, ubi kayu atau cassava. Singkong berasal dari benua Amerika, tepatnya

dari Negara Brazil. Penyebarannya hamper ke seluruh dunia, antara lain : Afrika,

Madagaskar, India, Tiongkok. Singkong berkembang di Negara-negara yang

terkenal wilayah pertaniannya dan masuk ke Indonesia pada tahun 1852. Varietas-

varietas singkong unggul yang bisa ditanam, antara lain : Valenca, Mangi, Betawi,

Basiorao, Bogor, SPP, Muara, Mentega, Andira 1, Gading, Andira 2, Malang 1,

Malang 2, dan Andira 4 (Prihatman, 2000).

Penanganan singkong setelah panen akan berpengaruh terhadap kualitas

singkong yang dihasilkan. Singkong akan berubah warna menjadi cokelat kebiruan

bila tidak segera diolah akibat adanya aktifitas enzim poliphenolase yang terdapat
6

dalam umbi. Reaksi akan dipercepat bila berkontaminasi dengan gas O2 dan umbi

dalam keadaan terluka akibat pemotongan (Wargiono, 1979).

2.4 Penggilingann

Penggilingan hasil pertanian terutama yang berbentuk biji-bijian untuk

dibuat tepung dapat dilakukan secara kecil-kecilan (tradisional) yang dilakukan

secara basah dan secara besar-besaran (menggunakan mesin penggiling) yang

dilakukan dengan proses kering. Tepung yang dihasilkan dari proses kering lebih

baik mutunya dan bisa langsung dikemas (Pratomo, dkk., 1982).

Penggilingan dengan proses shearing dapat dilakukan dengan

menggunakan mesin penggiling tipe disk mill (cakram) yang merupakan proses

penggilingannya menggunakan gaya tekan dan sobek. Penggilingan dengan mesin

disk mill akan menghasilkan produk yang lebih halus dan seragam. Sebelum

dilakukan proses penggilingan ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan

yaitu varietas, kekerasan bahan, struktur mekanis dan kadar air bahan

(Wirakartakusumah, dkk., 1992).

2.5 Penyaringan

Pengayakan atau screening adalah suatu unit operasi dimana suatu

campuran dari berbagai jenis ukuran partikel padat dipisahkan ke dalam dua atau

lebih bagian-bagian kecil dengan cara melewatkannya di atas screen (ayakan)

(Fellows, 2000). Faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan screen yaitu

kapasitas (kecepatan hasil yang diinginkan), kisaran ukuran (size range), sifat

bahan (densitas, kemudahan mengalir/flowability), unsur bahaya bahan (mudah


7

terbakar, berbahaya, debu yang ditimbulkan), ayakan kering atau basah (Taggart,

1927).

Saringan bertingkat dengan nilai mesh sama akan memperbaiki kualitas dan

keseragaman hasil, sedangkan saringan bertingkat dengan nilai mesh berbeda akan

menghasilkan beberapa produk dengan keseragaman berbeda. Shaker screen ini

akan menghasilkan 2 output yaitu over size, dan under size. Over size merupakan

ukuran yang lebih besar dari lubang ayakan yang berada diatas lubang ayakan dan

under size adalah ukuran lebih kecil dari lubang ayakan sehingga produk dapat lolos

melalui lubang-lubang kecil ayakan yang berada dibawah dari ayakan tersebut.

Prinsip kerja dari alat shaker screen adalah proses pengayakan dengan cara

menggoyangkan atau mengayunkan. Screen yang sering disebut pengayakan dan

shaker yaitu goyangan( Fellows, 2000).

2.6 Densitas

Densitas adalah salah satu analisis pakan yang sering dipakai dan

merupakan cara pengukuran yang sederhana. Analisis ini terutama dipakai pada

analisis zat cair namun dapat juga dipakai pada analisis bahan padat. Perubahaan

terkecil dalam volume pencampuran suatu komponen dan konsentrasi berhubungan

erat dengan densitas. Perubahan perunit denditas merupakan perubahan yang besar

dalam konsentrasi bahan (Pomeranz, 1971)

Densitas digunakan untuk mengetahui kekompakan dan tekstur pakan,

tekstur pakan yang kompak akan tahan terhadap proses penekanan sehinggga ikatan

antara partikel penyusun pakan menjadi kuat dan ruang antara partikel penyusun

pakan menjadi sangat kuat dan ruang antara partikel bahan pakan tidak terisi rongga

udara (Murdinah, 1989).


8

Zat baik dalam bentuk padat, cair maupun gas termasuk bahan hasil

pertanian memiliki densitas dan bobot jenis. Densitas atau rapat massa (mass

density) suatu bahan merupakan massa bahan per satuan volume. Satuan SI densitas

bahan adalah kg/m3 (Gardjitod dkk, 2003).

2.7 Pengeringan

Pengeringan merupakan operasi pengurangan kadar air bahan padat sampai

batas tertentu sehingga bahan tersebut bebas terhadap serangan mikroorganisme,

enzim, dan insekta yang merusak. Secara lebih luas, pengeringan merupakan proses

yang terjadi secara simultan (serempak) antara perpindahan panas dari udara

pengeringan ke bahan yang dikeringkan dan terjadi penguapan uap air dari bahan

yang dikeringkan. Pengeringan dapat terjadi karena adanya perbedaan kelembapan

(humidity) antara udara kering dengan bahan yang dikeringkan (Wirakartakusumah,

1992).

Pengeringan terhadap bahan pangan harus diusahakan agar suhu yang

digunakan tidak terlalu tinggi untuk mencegah proses-proses kimia yang tidak

diinginkan, seperti reaksi browning.Penggunaan suhu yang tidak terlalu tinggi

diimbangi dengan waktu yang tidak sebentar agar mencapai kondisi yang

maksimal. Penggunaan suhu yang terlalu rendah harus dihindari agar bahan pangan

tidak mengkerut dan jangan pula terlalu tinggi agar bahan pangan tidak mengalami

kondisi pengeringan yang tidak merata. Pengeringan juga harus meminimalisasikan

senyawa-senyawa yang volatil karena dengan terjadinya oksidasi khususnya lemak

dapat menimbulkan ancidity (Yuni, 2010).


9

III

ALAT, BAHAN, DAN PROSEDUR KERJA

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Penggilingan dan Produktivitas Mesin

1. Butiran jagung sebanyak 5 kg

2. Hammer mill

3. Screen ukuran 5 dan 2

4. Wadah penampung

5. Timbangan

3.1.2 Penyaringan

1. Jagung yang telah digiling 1 kg

2. Saringan nomor 10, 14, 18 dan 30

3. Wadah penampung

4. Timbangan

5. Plastik

3.1.3 Densitas

1. Jagung yang telah digiling

2. Wadah penampung

3. Timbangan

4. Penggaris

5. Tabung silinder

3.1.4 Pengeringan

1. Singkong 2 kg

2. Trash bag
10

3. Pisau atau Golok

4. Penggaris

3.2 Prosedur Kerja

3.2.1 Penggilingan dan Produktivitas Mesin

1. Menyiapkan sampel bahan pakan (jagung) sebanyak 5 kg.

2. Menyiapkan screen 5 dan screen2.

3. Menyalakan mesin disk mill dan biarkan beberapa saat sampai mesin

stabil.

4. Menuangkan jagung 5 kg secara bertahap ke dalam mesin dengan ukuran

screen 5 sambil menyalakan timer/stopwatch.

5. Menunggu hingga jagung habis, lalu mematikan timer/stopwatch.

6. Menimbang jagung halus yang dihasilkan.

7. Menghitung waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh jagung halus

(kg/jam).

8. Melakukan hal yang sama pada hammer mill dengan screen 2.

3.2.2 Penyaringan

1. Mengambil 1 kg jagung yang telah digiling.

2. Menyaring jagung halus pada ukuran saringan 10.

3. Menimbang jagung yang tidak lolos saringan 10.

4. Sisa saringan 10 disaring kembali dengan saringan 14.

5. Menimbang jagung yang tidak lolos saringan 14.

6. Sisa saringan 14 disaring kembali dengan saringan 18.

7. Menimbang jagung yang tidak lolos saringan 18.

8. Sisa saringan 18 disaring kembali dengan saringan 30.


11

9. Menimbang jagung yang tidak lolos saringan 30.

10. Menimbang sisa akhir dari saringan 30.

11. Menghitung persentasi dari setiap saringan.

3.2.3 Densitas

1. Mengukur jari-jari dan tinggi tabung.

2. Memasukkan sampel jagung yang telah digiling ke dalam tabung hingga

penuh.

3. Menjatuhkan tabung dengan ketinggian 15 cm sebanyak 2 kali.

4. Meratakan permukaan jagung.

5. Mengukur tinggi jagung yang tersisa di dalam tabung.

6. Menimbang berat jagung.

7. Menghitungnya menggunakan rumus densitas.

3.2.4 Pengeringan

1. Menimbang singkong sebanyak 2kg lalu dibagi menjadi 2 bagian (masing-

masing 1 kg)

2. Mengupas kulit singkong lalu menimbang berat kulit singkong perbagian.

3. Memotong daging singkong dengan ketebalan 1 cm dan 1,5 cm.

4. Menjemur daging singkong yang telah diiris di atas trash bag dengan

posisi melintang dan terkena cahaya matahari.

5. Melakukan pengambilan data setiap pukul 07.00 dan 15.30 selama 3 hari

berturut-turut.

6. Membuat perhitungan pengurangan kadar air setiap pengecekan dalam

bentuk persen. Lalu membuat grafik laju penurunan kadar air.


12

IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Penggilingan dan Produktivitas Mesin

Hasil pengamatan penggilingan jagung dan produktivitas mesin dapat

dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Data Hasil Penggilingan Jagung dan Produktivitas Mesin


Jumlah Berat
Ukuran Berat Lama Produktivitas
Screen Jagung Setelah
Partikel Awal Penggilingan Mesin
(1 kg) Digiling
2790 0,82 357, 14
5 5 Kg 4,97 kg 0,84 menit
butir cm2 kg/jam

Perhitungan :

Produktivitas mesin = 60 ()

5
= 60 = 357,14
0,84
Ukuran Partikel =

I = 1 0,7 = 0,7 cm2


2
II = 1,1 0,9 = 0,99 cm

III = 1 0,9 = 0,9 cm2


2
IV = 1,2 0,8 = 0,96 cm

V = 0,8 0,7 = 0,56 cm2 +

= 4,11 5 = 0,82 cm2


13

4.1.2 Penyaringan

Hasil pengamatan mengenai penyaringan tepung jagung dengan

menggunakan berbagai saringan yang berbeda dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Data Hasil Penyaringan Tepung Jagung


Hasil Penyaringan (%) Total
Kel Penyaringan
S10 S14 S18 S30 Sisa (%)

1. 12,8 45,5 13,9 13,9 18,4 99,7

2. 0 2,4 21,9 21,9 37,8 97,9

3. 9.5 45 18 18 13,8 99,5

4. 0 1,4 21,8 21,8 38,8 99,9

5. 9 48,4 16 16 14,1 99,8

6. 0 1 23,7 23,7 37,9 99,2

7. 29,4 37,7 13,2 13,2 10,4 99,7

8. 0 0,7 25,4 34,7 38,2 99,0

Perhitungan Penyaringan :

1. Bahan yang tidak lolos dengan saringan 10


10 128
O= 100% =1000 100% = 12,8%
1000

2. Bahan yang tidak lolos dengan saringan 14


14 455
P= 100% =1000 100% = 45,5%
1000

3. Bahan yang tidak lolos dengan saringan 18


18 139
Q= 100% =1000 100% = 13,9 %
1000

4. Bahan yang tidak lolos dengan saringan 30


30 91
R= 100% = 100% = 9,1%
1000 1000
14

5. Bahan yang lolos dengan saringan 30


30 184
S = 1000 100% =1000 100% = 18,4%

6. Total Penyaringan

% Total penyaringan = O + P + Q + R + S

= 12,8% + 45,5% + 13,9% + 9,1% +18,4%

= 99,7%

4.1.3 Densitas

Hasil pengamatan mengenai densitas jagung halus yang digiling

menggunakan screen 5 dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Data Densitas Jagung Halus


Tinggi Tinggi
Berat Volume
Screen Tabung Tabung Densitas
Jagung Tabung
Awal Akhir

5 11 cm 9,5 cm 605 gram 853,81 cm3 708,59 kg/m3

Perhitungan :

Volume tabung = 2 = 3,14 5,352 9,5 = 853,81 3


605
Densitas jagung = = = 0,70859 103 = 708,59 /3
853,81

4.1.4 Pengeringan
Hasil pengamatan mengenai berat awal singkong sebelum diberi perlakuan

dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Data Berat Awal Singkong


Berat Daging 1 cm (gram) Daging 1,5 cm (gram)
Awal 1000 1029
Kulit 171 221
Daging 824 765
15

Hasil pengamatan mengenai berat singkong selama 4 hari pengeringan

dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Data Berat Singkong Selama Pengeringan


Hari ke- Daging 1 cm (gram) Daging 1,5 cm (gram) Kulit (gram)
07.00 15.30 07.00 15.30 07.00 15.30
1 824 811 765 748 392 384
2 621 485 665 534 292 230
3 469 417 520 459 194 135
4 392 353 446 421 109 82

Hasil pengamatan mengenai kadar air singkong setelah pengeringan dapat


dilihat pada Tabel 3.

Tabel 6. Data Kadar Air Singkong dan Kulit Singkong


Daging 1 cm (%) Daging 1,5 cm (%) Kulit (%)
Hari ke-
07.00 15.30 07.00 15.30 07.00 15.30
1 67 65,51 67 65,94 66 64,65
2 50,16 39,17 58,62 47,08 49,16 38,72
3 37,88 33,68 45,85 40,47 32,66 22,73
4 31,66 28,51 39,32 37,12 18,35 13,8

Grafik laju Penurunan Kadar Air Daging dan Kulit Singkong

Laju Penurunan Kadar Air


80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
07.00' 15.30' 07.00' 15.30' 07.00' 15.30' 07.00' 15.30'
1.5 cm 67% 66% 59% 47% 46% 40% 39% 37%
1 cm 67% 66% 50% 39% 38% 34% 32% 29%
Kulit 66% 65% 49% 39% 33% 23% 18% 14%

1.5 cm 1 cm Kulit
16

4.2 Pembahasan

Praktikum yang telah kami laksanakan yaitu mengenai pengolahan pakan

secara fisik, yang meliputi penggilingan dan penyaringan menggunakan bahan

pakan jagung, serta proses pengeringan menggunakan singkong . Pengolahan

pakan ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas dari bahan pakan.

Menurut Syarief dan Nugroho (1992) bahwa reduksi ukuran mengakibatkan

peningkatan luas permukaan spesifik bahan sehingga dapat mempermudah proses

pencampuran, meningkatkan palatabilitas pakan, meningkatkan daya cerna ternak,

menghilangkan benda-benda asing dan memperkecil resiko adanya bahan-bahan

yang terbuang percuma.

4.2.1 Penggilingan dan Produktivitas Hammer Mill

Pengolahan pakan secara fisik yang pertama yaitu dengan cara

penggilingan. Penggilingan bertujuan untuk meningkatkan kecernaan dan efisiensi

penggunaan pakan, memudahkan proses pencampuran, menyeragamkan bentuk

dan ukuran partikel bahan baku (Herrman, 2000). Bahan pakan yang digunakan,

yaitu jagung sebanyak 5 kg. Pertama, dilakukan pengamatan mengenai ukuran

partikel jagung dengan pengukuran 5 butir sebagai sampel, didapatkan hasil luas

jagung 0,82 cm2 dan dihitung banyaknya butiran jagung dalam 1 kg, didapatkan

hasil perhitungan dalam 1 kg jagung sebanyak 2790 butir. Kemudian dilakukan

pengamatan mengenai waktu yang dibutuhkan untuk penggilingan, proses kerja,

serta produktivitas alat hammer mill yang menggunakan screen 5.

Hasil praktikum didapatkan untuk menggiling jagung sebanyak 5 kg

membutuhkan waktu selama 0,84 menit dengan berat jagung setelah penggilingan

sebesar 4,97 kg dan produktivitas mesin 357,14 kg/jam. Hasil penggilingan tersebut

memperkecil ukuran partikel dapat dilihat secara fisik dari jagung yang awalnya
17

berupa butiran rata-rata 0,82 cm2 menjadi jagung halus. Sebagaimana menurut

Behnke (2001) yang menyatakan bahwa ukuran partikel bahan dari hasil proses

penggilingan dengan kategori fine (halus) memiliki permukaan yang luas sehingga

mudah menyerap air dan menerima panas.

Berat yang didapat setelah penggilingan berkurang sebesar 30 gram. Hal

tersebut dikarenakan adanya jagung halus yang menempel pada kain penampung

hasil gilingan, adanya jagung halus yang berterbangan karena tertiup angin, lalu

dapat disebabkan pula karena adanya partikel-partikel jagung yang tertinggal di

dalam alat mesin hammer mill. Namun saat proses penggilingan tidak terjadi

kemacetan mesin sehingga waktu penggilingan berlangsung cepat dan

menyebabkan produktivitas mesin tinggi.Selain itu produktivitas dipengaruhi oleh

ukuran screen yang digunakan dan operator yang bekerja cekatan. Sesuai dengan

pendapat Sudigdo, dkk (2000) bahwa faktor yang berpengaruh terhadap

kemampuan kerja alat, yaitu keterampilan operator, kecepatan putaran mesin (rpm),

ukuran alat dan diameter lubang saringan.

Selanjutnya, dari hasil pengamatan yang didapatkan, waktu yang

dibutuhkan untuk menggiling butiran jagung sebanyak 5 kg dengan menggunakan

screen 5 rata rata lebih cepat selesai. Jika dibandingkan dari hasil praktikum yang

dilakukan kelompok lain yang menggunakan screen 2. Waktu yang dibutuhkan

untuk menggiling butiran jagung menjadi jagung halus pada screen 2 lebih lama.

Hal ini dapat disebabkan ukuran lubang penggilingan yang lebih kecil

dibandingkan dengan screen 5. Selain itu terjadi perbedaan tekstur, dan berat yang

dihasilkan. Pada screen 5 terhitung rata rata lebih berat yang dihasilkan

dibandingkan dengan berat jagung halus pada screen 2. Hal ini dapat disebabkan

tekstur jagung yang dihasilkan dari screen 2 lebih halus dibandingkan dengan
18

screen 5 sehingga jagung halus tersebut banyak yang berterbangan karena tertiup

angin.

4.2.2 Penyaringan

Proses pengolahan secara fisik selanjutnya, yaitu penyaringan jagung halus

menggunakan saringan yang kerapatannya berbeda-beda. Prinsip kerja yang

digunakan adalah memperkecil ukuran dan homogenisasi bahan pakan butiran.

Sebagaimana menurut Fellows (2000) bahwa screening adalah suatu unit operasi

dimana suatu campuran dari berbagai jenis ukuran partikel padat dipisahkan ke

dalam dua atau lebih bagian-bagian kecil dengan cara melewatkannya di atas screen

(ayakan)

Pemisahan ukuran dilakukan dengan menggunakan saringan yang berbeda-

beda diantaranya, yaitu nomor 10,14,18, dan 30 yang partikel penyaringnya

berukuran 2 mm, 1mm, 1mm, dan 0,59 mm. Penyaringan ini dilakukan untuk

memperoleh jagung halus yang telah digiling dengan ukuran sama atau homogen.

Selain itu, dengan melakukan penyaringan, dapat diketahui berapa persen butiran

jagung yang lolos saringan. Hal ini menunjukkan seberapa baik hasil penggilingan

yang telah dilakukan.

Proses homogenisasi ukuran bahan pakan butiran tersebut dilakukan dengan

meratakan jagung hasil gilingan diatas terpal yang kemudian dibagi menjadi empat

bagian yang sama. Lalu mengambil sampel secara acak dari tiap bagiannya dan

melakukan penimbangan sebanyak 1 kg. Proses homogenisasi dengan pengambilan

sampel ini dilakukan agar lebih efektif dan efisien.

Berdasarkan hasil pengamatan jagung halus dari screen 5, didapatkan hasil

persentase jagung yang tidak lolos saringan 10, 14, 18, dan 30 masing-masing
19

sebesar 12,8%; 45,5%; 13,9%; 9,1%, dan yang lolos saringan 30 sebanyak 18,4%.

Jagung yang tidak lolos dengan saringan nomor 10 dikarenakan penggilingan

screen 5 menghasilkan partikel jagung lebih besar. Partikel jagung terbanyak tidak

lolos pada screen 14 yang berarti jagung hasil gilingan rata-rata berukuran lebih

dari 1 mm. Sedangkan kelompok yang menggunakan screen 2 memperoleh hasil

0% jagung yang tidak lolos dengan saringan nomor 10. Hal tersebut dikarenakan

screen 2 lebih banyak menghasilkan partikel berukuran kecil sehingga melewati

saringan. Maka semakin besar nomor screen atau semakin kecil ukuran saringan,

akan semakin halus jagung yang dihasilkan.

Data keseluruhan hasil perhitungan persentasi bahan pakan yang lolos

saringan dan bahan pakan yang tidak lolos saringan, yaitu 99,7%. Hasil tersebut

tidak mencapai 100% yang berarti terjadi kehilangan partikel sebesar 0,3%.

Kehilangan tersebut dapat terjadi karena faktor kesalahan praktikan, alat, serta

bahan baku yang bulky.

4.2.3 Densitas

Densitas adalah gambaran volume ruang yang ditempati bahan sejumlah

berat tertentu (Susanti dan Nurhidayat, 2008). Pengukuran densitas pada praktikum

ini dengan cara memasukan jagung hasil gilingan ke dalam silinder dan dijatuhkan

dari ketinggian 15 cm. Tinggi jagung yang hilang atau keluar dari silinder tersebut

diukur untuk dihitung densitasnya.

Hasil perhitungan menunjukan banyaknya partikel jagung yang mengisi

silinder tersebut sebesar 708,59 kg/m3. Ukuran partikel jagung hasil gilingan bila

kecil maka semakin sedikit ruang kosong yang masih tersisa pada silindris, namun

jika partikel jagung besar akan semakin banyak ruang kosong silindris. Hal ini
20

berarti bahwa semakin halus atau semakin kecil ukuran bahan pakan, akan semakin

efisien dalam penyimpanannya. Keuntungan mengetahui densitas bahan pakan

jagung ini, yaitu dapat diperhitungkan secara tepat berapa banyak jumlah bahan dan

mengetahui apakah padatan utuh atau serbuk karena perubahan densitas setelah

pengolahan fisik akan mempengaruhi konsentrasi pakan. Hal ini sesuai pernyataan

Pomeranz (1971) bahwa perubahan perunit densitas merupakan perubahan yang

besar dalam konsentrasi bahan. Menurut Herdeson dan Perry (1976), bahwa kadar

kehalusan bahan menunjukan adanya keseragaman hasil penggilingan.

Hasil pengamatan bila dibandingkan dengan kelompok lain, densitas jagung

pada screen 2 lebih besar dibandingkan screen 5. Perbedaan tersebut dipengaruhi

ukuran partikel screen 2 yang lebih halus. Penggilingan dan penyaringan yang

dilakukan menjadi faktor yang mempengaruhi besarnya densitas. Menurut

Murdinah (1989) densitas digunakan untuk mengetahui kekompakan dan tekstur

pakan. Tekstur pakan yang kompak akan tahan terhadap proses penekanan

sehinggga ikatan antara partikel penyusun pakan menjadi kuat ruang antara partikel

bahan pakan tidak terisi rongga udara.

4.2.4 Pengeringan

Berdasarkan hasil akhir perhitungan persentase kadar air pada daging dan

kulit singkong, terlihat bahwa kulit memiliki kecepatan pengeringan yang paling

tinggi dengan sisa kadar air sebesar 13,8%. Daging singkong dengan ketebalan 1

cm memiliki kecepatan pengeringan yang lebih tinggi dengan sisa kadar air sebesar

28,51%, sementara daging ketebalan 1,5 cm memiliki sisa kadar air sebesar

37,12%. Hal ini bisa terjadi karena pengaruh ketebalan singkong itu sendiri serta
21

berbagai faktor eksternal seperti cuaca, suhu, kelembaban yang mempengaruhi

proses pengeringan.

Perbedaan ketebalan irisan singkong berpengaruh terhadap lama

pengeringan. Semakin tebal irisan singkong maka dibutuhkan pengeringan dengan

waktu lebih lama. Kecepatan proses pengeringan dipengaruhi oleh luas permukaan

bahan pakan yang terkontak langsung dengan udara terbuka. Luas permukaan

berbanding lurus dengan kecepatan pengeringan. Hal ini dibuktikan dari hasil

pengamatan bahwa kulit dan daging singkong 1 cm lebih kering dibandingan

daging singkong 1,5 cm. Urutan kecepatan pengeringan tersebut yaitu kulit, daging

1 cm serta daging 1,5 cm. Hal ini sesuai dengan pendapat Supriyono (2003) dimana

bahan yang memiliki lapisan tebal jika dikeringkan akan lebih lama proses

pengeringannya karena terdapat beberapa tahap. Tahap pertama pengeringan terjadi

di bagian bawah, tahap kedua pengeringan terjadi di bagian atas, sehingga

pengeringan pada daging singkong 1,5 cm lebih lama. Sementara itu, pengeringan

pada lapisan tipis akan menerima langsung aliran udara pengering yang

melewatinya dengan kelembaban relatif dan suhu konstan.

Presentase penurunan kadar air setiap harinya selalu berbeda. Hal ini

dikarenakan pengeringan dengan bantuan sinar matahari sangat tergantung dari

cuaca. Perubahan cuaca dipengaruhi oleh suhu udara, tekanan udara, kelembaban

udara dan curah hujan. Pengeringan ini mempunyai laju pengeringan yang lambat,

memerlukan perhatian lebih dan sangat rentan terhadap resiko terhadap

kontaminasi lingkungan (Toftruben, 1977). Pengeringan matahari sangat

tergantung pada iklim yang panas dan udara atmosfer yang kering (Frazier dan

Westhoff, 1978). Ketika siang hari yang terik biasanya terjadi penurunan kadar air

yang signifikan.
22

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Prinsip penggilingan bahan pakan dengan hammer mill adalah gaya tekan.

Penggilingan yang dilakukan dengan menggunakan screen 5 memiliki

ukuran partikel yang lebih besar dan produktivitas mesin lebih tinggi

dibandingkan screen 2.

2. Hasil penyaringan dengan nomor screen yang semakin besar akan

memperoleh partikel yang semakin halus, sedangakan bila nomor screen

semakin kecil maka ukuran partikel yang tersaring lebih besar.

3. Densitas suatu bahan merupakan massa bahan per satuan volume yang

diperoleh dengan rumus D = . Semakin besar densitas maka semakin

kecil ruang kosong pada wadah dan semakin efisien penyimpan bahan.

4. Semakin kecil luas permukaan bahan pakan maka waktu pengeringan akan

semakin lama, dan semakin besar luar permukaan bahan pakan maka bahan

pakan tersebut akan cepat kering.

5.2 Saran

1. Alat penggiling dan timbangan diperbanyak agar pelaksanaan praktikum

lebih cepat.

2. Hammer mill yang digunakan perlu diperiksa sebelum praktikum agar tidak

terjadi kemacetan atau kerusakan alat yang mengahambat pengerjaan.

3. Pelaksanaan praktikum hendaknya lebih teliti dalam pengambilan data agar

hasil data yang diperoleh sesuai dengan yang diharapkan.


23

DAFTAR PUSTAKA

Behnke, K. C. 2001. Processing Factrors Influencing Pelet Quality. Feed Tech. 5


(40: 1-7)

Belfield, Stephanie dan Brown, Christine. 2008. Field Crop Manual. Maize (A
Guide to Upland Production in Cambodia). Canberra.

Fellows, P. 2000. Food Processing Technology, Second Edition. Ellis Horwood


Limited. England.

Frazier, W.C. dan D. C. Westhoff. 1978. Food Microbiology. 4 th edition. McGraw


Hill Book : New York

Gardjito, Murdijati dan Agung Setya Wardana. 2003. Hortikultura, Teknik Analisis
Pasca Panen. Transmedia Global Wacana. Yogyakarta.

Henderson, S. M and R. L. Perry. 1976. Agricultural Process Engineering. 3rd


Edition. The AVI Publishing Company, Inc. Wesport, Connecticut.

Herrman,T. J. 2000. Feed Quality Assurance. American Soybean Association:


Singapore.

Kamal, M. 1994. Nutrisi Ternak I. Laboratorium Makanan Ternak Jurusan Nutrisi


Makanan Ternak. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.

Malti, Ghosh, Kaushik, Ramasamy, Rajkumar, Vidyasagar. 2011. Comparative


Anatomy of Maize and its Aplication. International Journal of Bio-resources
and Stress Management.

Murdinah, 1989. Studi Stabilitas dalam Air dan Daya Pakan Udang Bentuk Pellet.
(Tesis) Bogor: Fakultas Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.

Murtidjo, B. A. 2003. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Kanisius. Yogyakarta.

Pomeranz and Meloan. 1971. Food Analysis: Theory and Practice. The Avi
Publishing Company Inc. Connecticut.

Pratomo, M., A.K. Irwanto dan D. Pakpahan. 1982. Alat dan Mesin Pertanian 2.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Pendidikan
Menengah Keguruan. Jakarta.
24

Prihatman, K. 2000. Ketela Pohon / Singkong (Manihot Utilissima Pohl).


http://www.ristek.go.id. Diakses tanggal 8 Oktober 2017.

Sudigdo. 2000. Uji Kerja Alat Penggiling Putak Type Palu dengan Model Palu
Yang Berbeda. Tesis SI. Fakultas Pertanian UKAW. Kupang

Supriyono. 2003. Mengukur Faktor-Faktor dalam Proses Pengeringan. Gramedia


: Jakarta

Susanti, Emmy dan Nurhidayat. 2008. Pengaruh Ukuran Partikel yang Berbeda
pada Pakan Limbah Agroindustri terhdap Kualitas Fisiknya. Seminar
Nasional. Fakultas Peternakan Universitas Soedirman: Purwokerto.

Syarief, A. M dan E. A. Nugroho. 1992. Teknik Reduksi Ukuran Bahan.


Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor,
Bogor. Taggart, F.A. 1927. Hand Book of Mineral Dressing, Ores and
Industrial Materials. New York: John Willie & Sons. Inc.

Taggart . 1927 . Hand Book of Mineral Dressing, Ores and Industrial Materials.
New York : John Willie & Sons.Inc.

Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprojo, S. Prawiro Kusuma, dan S.


Lebdosoekoekojo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.

Toftruben, J. 1977. Food and Nutrition. University of Illinois at Urbana-


Champaign

Wargiono. 1979. Ubikayu dan Cara Bercocok Tanamnya. Lembaga Pusat


Penelitian Pertanian Bogor. Bogor. Hlm 12-26.

Wirakartakusumah, Aman. 1992. Petunjuk Laboratorium Peralatan dan Unit


Proses Industri Pangan.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat antar Universitas Pangan dan
Gizi Institut Pertanian Bogor.Bogor.

Wirakartakusumah, A, Subarna, M. Arpah, Dahrulsyah dan S.Y. Budiwati. 1992.


Peralatan dan Unit Proses Industri Pangan. Pusat Antar Universitas
Pangan dan Gizi.Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Yuni.2010. Pengaruh Waktu Pengeringan terhadap Karakteristik Singkong dan


Labu Siam. Laporan Penelitian Universitas Padjajaran. Bandung.
25

LAMPIRAN

Tabel Data Hasil Praktikum Kelompok Kelas D


Produkti Tidak Lolos Saringan
Sisa Total
vitas (%) Densitas
Kel Akhir Penyarin
Mesin (kg/m3)
10 14 18 30 (%) gan (%)
(kg/jam)
1 357,14 12,8 45,5 13,9 9,1 18,4 99,7 708,56
2 75 0 2,4 21,9 35,8 37,8 97,9 706,4
3 283,3 9,5 45 18 13,2 13,8 99,5 582
4 97,8120 0 1,4 21,8 37,9 38,8 99,9 705,74
5 258,62 9 48,4 16 12,3 14,1 99,8 595
6 86,2 0 1 23,7 36 37,9 99,2 642,76
7 341 29,4 37,7 13,2 9 10,4 99,7 588,56
8 68,65 0 0,7 25,4 34,7 38,2 99 804,29
26

Foto-Foto Saat Praktikum

Penimbangan butiran jagung Penimbangan jagung halus Penggilingan jagung

Pengukuran densitas Penyaringan jagung halus Pengeringan singkong