Anda di halaman 1dari 14

Telaah Jurnal

Karies Gigi, Prevalensi dan Faktor Resiko


pada Penderita Penyakit Crohn
Sara Szymanska, Mikael Lordal, Nilminie Rathnayake, Anders Gustafsson,
Annsofi Johannsen

Oleh:
Vindy Cesariana, S.Ked 04054821507033
Siti Dwinindiya Putri, S.Ked 04054821507016
Rachmat Taufan, S.Ked 04054821507028

Pembimbing:
drg. Emilia CH.P, Sp.Ortho, M.M.Kes

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN GIGI DAN MULUT


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
RSUP Dr. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
2015
HALAMAN PENGESAHAN

Telaah Jurnal
Judul

Karies Gigi, Prevalensi dan Faktor Resiko


pada Penderita Penyakit Crohn

Oleh:

Vindy Cesariana, S.Ked 04054821507033


Siti Dwinindiya Putri, S.Ked 04054821507016
Rachmat Taufan, S.Ked 04054821507028

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti Kepaniteraan
Klinik Senior di Bagian Ilmu Kesehatan Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Universitas
Sriwijaya RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode 07 Desember 2015 23
Desember 2015.

Palembang, Desember 2015

drg. Emilia CH.P, Sp.Ortho, M.M.Kes

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Yang Maha Agung Allah SWT karena atas
semua kehendak-Nya lah makalah telaah jurnal ini dapat diselesaikan dengan baik. Telaah
jurnal yang berjudul Karies Gigi, Prevalensi dan Faktor Resiko pada Penderita Penyakit
Crohn ini tidak lepas dari bantuan orang-orang hebat di sekeliling penulis. Untuk itu
penulis mengucapkan terima kasih kepada drg. Emilia CH.P, Sp.Ortho, M.M.Kes, yang
telah bersedia membimbing dalam pengerjaan telaah jurnal ini.
Penerjemahan jurnal ini belumlah sempurna, untuk itu penulis mengharapkan
masukan, kritik dan saran untuk perbaikan tulisan ini. Demikianlah, penulis ucapkan
terima kasih.

Palembang, Desember 2015

Penulis

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................................... i

HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................................ ii

KATA PENGANTAR .................................................................................................... iii

DAFTAR ISI .................................................................................................................. iv

TRANSLATE JURNAL ................................................................................................ 1

iv
Karies Gigi, Prevalensi dan Faktor Resiko
pada Penderita Penyakit Crohn

Sara Szymanska1, Mikael Lordal2,3, Nilminie Rathnayake1, Anders Gustafsson1, Annsofi Johannsen1
1 Departemen Kedokteran Gigi, Divisi Periodontologi, Institusi Karolinska, Huddinge, Swedia,
2 Departemen Kedokteran, Divisi Gastroenterohepatologi di Institusi Karolinska, Huddinge, Swedia,
3 Pusat Gastro Stockholm, Sophiahemmet, Stockholm, Swedia

Ringkasan
Objektif: Penelitian ini membuktikan hipotesis bahwa pasien dengan Penyakit Crohn
memiliki prevalensi dan resiko lebih tinggi untuk terjadi karies dibandingkan orang tanpa
Penyakit Crohn.
Material dan Metode: Pasien dengan Penyakit Crohn dibagi menjadi beberapa kelompok;
71 pasien (50.713.9 tahun) yang telah menjalani operasi reseksi usus halus dan 79 pasien
(42.014.4 tahun) yang tidak menjalani operasi reseksi usus halus. Pasien dibandingkan
dengan 75 kontrol (48.613.4 tahun) berdasarkan DMF-T dan DMF-S, Lacctobacilli (LB),
Streptococcus mutans (SM), aliran saliva dan plak gigi. Metode statistik menggunakan
ANOVA atau Chi-square test untuk menghitung perbedaan demografi antara kedua
kelompok, analisis kovarians (ANCOVA) untuk membandingkan variabel klinis, serta
analisis Post hoc yang digunakan dengan Fischers Least Significant Difference test atau
Chi-square. Koefisien korelasi matriks Spearman non-parametrik diperkirakan antara
variabel klinis dan durasi penyakit.
Hasil: Penderita Penyakit Crohn yang dikelompokkan telah menjalani operasi reseksi
memiliki skor DMF-S lebih tinggi (50.7 vs. 36.5; p=0,01) dibandingkan kelompok kontrol
setelah menyesuaikan usia, jenis kelamin dan kebiasaan merokok. Pasien ini memiliki
jumlah SM (1.5 vs. 0.9; p=0,04) dan LB (10000.0 vs. 1000.0; p=0,01) lebih tinggi serta
memiliki plak dental yang lebih banyak (53.7 vs. 22.6; p=0,001). Penderita Penyakit Crohn
dilaporkan lebih sering mengkonsumsi minuman manis saat makan dibandingkan
kelompok kontrol (p=0,001).
Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa pasien dengan Penyakit Crohn yang telah
menjalani bedah reseksi memiliki skor DMF-S serta jumlah LB dan SM lebih tinggi
dibandingkan kelompok kontrol.

1
Pendahuluan
Penyakit Crohn adalah penyakit peradangan kronis granulomatosa yang dapat
mengenai bebarapa regio traktus gastrointestinal, biasanya terjadi pada usus halus dan
kolon. Diagnosis Penyakit Crohn berdasarkan manifestasi klinis, endoskopi, histologi,
radiografi dan/atau temuan biokimia. Penyakit Crohn menunjukkan episode perjalanan
penyakit yang disebut flare (hilang timbul) dan interval asimtomatik, atau gejala sisa. Hal
ini sering menyebabkan episode berulang dari penyakit selama pengobatan bahkan
diperlukan tindakan operatif untuk mengatasi gejala sisa. Etiologi Penyakit Crohn tidak
diketahui. Beberapa studi menunjukkan adanya hubungan penyakit ini dengan faktor
genetik. Selain itu, ada keterkaitan antara mikrobiota dan lapisan mukosa usus yang
mungkin menjadi penyebab dari faktor lingkungan. Angka kejadian Penyakit Crohn
berbeda-beda tergantung dari wilayah geografis.
Amerika Utara dan bagian utara Eropa memiliki angka kejadian tertinggi. Prevalensi
Penyakit Crohn pada orang dewasa di Amerika Serikat adalah 201/100.000 orang.
Faktor risiko karies gigi meningkat pada penderita dengan peningkatan jumlah
Lactobacilli (LB) dan Steptococcus mutans (SM), penurunan aliran saliva, kebersihan
mulut yang kurang, kebiasaan makan yang buruk termasuk peningkatan konsumsi gula,
serta faktor sosial ekonomi.
Penelitian sebelumnya melaporkan tingginya prevalensi karies pada Penyakit Crohn
dibandingkan dengan kontrol. Selain itu, penderita Penyakit Crohn juga terdapat
peningkatan jumlah LB dan SM. Brito et al melaporkan adanya peningkatan nilai rata-rata
dari decayed, missed, filled teeth (DMF-T) diantara penderita Penyakit Crohn
dibandingkan dengan kontrol. Selain itu, sebuah studi dari AS melaporkan bahwa pasien
dengan Penyakit Crohn memiliki angka kejadian karies lebih tinggi, peningkatan
kekeringan mulut dan angka kunjungan dokter gigi yang lebih sering. Sebuah studi
kuesioner dari beberapa kelompok menunjukkan bahwa penderita Crohn dengan kesehatan
mulut yang buruk dilaporkan terdapat masalah mulut yang yang secara signifikan
memenuhi syarat untuk dilakukan perawatan gigi dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan hipotesis bahwa
penderita Penyakit Crohn memiliki prevalensi dan risiko yang lebih tinggi untuk terjadi
karies dibandingkan dengan orang tanpa Penyakit Crohn.

2
Metode
Pasien yang didiagnosis dengan Penyakit Crohn, menurut Kriteria Lennard-Jones,
menghadiri klinik rawat jalan Departemen Gastroenterologi dan Hepatologi di Rumah
Sakit Karolinska, berpartisipasi dalam penelitian ini. Dari 309 pasien yang berpartisipasi,
150 pasien dengan Penyakit Crohn (73 perempuan dan 77 laki-laki), berusia 18-77 tahun,
antara September 2008 dan Juni 2010.
Kelompok kontrol dipilih dari 181 individu yang diambil secara acak melalui
Organisasi Stastistik Nasional (SCB) di Swedia. 75 orang (45 perempuan dan 30 laki-laki)
dipilih untuk berpartisipasi dalam studi ini, berusia 18-74 tahun. Pemilihan kelompok
kontrol dilakukan secara terstruktur untuk mencapai usia dan distribusi jenis kelamin yang
sama dengan kelompok kasus. Kelompok kontrol adalah yang tinggal di komunitas
Huddinge Stockholm dan tidak memiliki riwayat Penyakit Crohn.
Persetujuan etik diperoleh dari Dewan Penelitian Etik Institut Karolinska, serta
persetujuan lisan dan tertulis dari masing-masing peserta sebelum memulai penelitian.

Kuesioner
Semua peserta melengkapi kuesioner yang meliputi data demografi seperti usia, jenis
kelamin, pendapatan, tingkat pendidikan, rekam medis, pengobatan, dan kebiasaan
merokok. Sebagian besar pertanyaan dalam kuesioner merupakan jenis pertanyaan pilihan
ganda. Pertanyaan berdasarkan kuesioner penelitian sebelumnya. Kebiasaan merokok
dibagi atas perokok, mantan perokok, dan tidak pernah merokok. Pertanyaan tentang
kebersihan mulut termasuk frekuensi menyikat gigi, membersihkan bagian interproksimal,
dan kunjungan ke dokter gigi. Kesehatan gigi juga ditanyakan seperti adakah sakit gigi,
masalah ulserasi oral, mulut kering, dan bau mulut selama 12 bulan terakhir. Selain itu,
peserta juga ditanyakan tentang kebiasaan makan berupa frekuensi makan dan konsumsi
minuman manis saat makan. Penderita Crohn juga ditanyakan berapa lama mereka
menderita Penyakit Crohn, dan apakah telah dilakukan tindakan bedah.

Pemeriksaan Klinis
Dua peneliti melakukan pemeriksaan terhadap peserta. Sebelum pemeriksaan klinis,
dilakukan inter dan intra kalibrasi antara kedua pemeriksaan. Tiga peserta (dari kelompok
kasus) diperiksa oleh kedua peneliti untuk mencapai kesepakatan. Selain itu, pengukuran
ulang pada dua pasien dilakukan oleh pemeriksa yang sama.

3
Pemeriksaan klinis dilakukan setelah pengambilan sampel saliva, pendataan jumlah
gigi, dan penilaian plak gigi (Visible Plaque Index, VPI) di enam lokasi gigi yang tampak,
kecuali gigi molar ketiga.

Penilaian Karies
Assesmen karies dilakukan dengan metode WHO dan dinilai berdasarkan skor
decayed, missed, filled teeth (DMF-T) dan surface index (DMF-S) pada setiap pasien.
Diagnosis didasarkan pada pemeriksaan klinis dan pemeriksaan X-Rays. Diagnosis
didasarkan pada pemeriksaan klinis, visual, dan taktis dengan pemeriksaan probe dan
radiografi. Secara klinis, karies dimulai ketika lesi memiliki rongga, merusak enamel atau
permukaan lunak, dan probe tersangkut dengan tekanan ringan. Permukaan yang terisi
karies yang ditandai sebagai decayed dan filled.
Pemeriksaan radiografi dilakukan dengan 4 bitewing radiografi. Semua permukaan
gigi yang tidak dapat dievaluasi secara klinis dilakukan dengan radiografi. Karies gigi pada
radiografi tergambar pada lesi yang sudah mengenai dentin.
Analisis pengukuran intraexaminer dilakukan pada 10% pasien dan kontrol (dipilih
secara acak), dan pengukuran mencapai hasil yang identik pada 89% kasus.

Pengambilan Sampel Saliva


Untuk menghindari kavitas oral sebagai akibat intak makanan juga merokok, subjek
diinstruksi untuk tidak makan, minum, merokok ataupun menyikat gigi satu jam sebelum
pengambilan sampel. Saliva yang tidak distimulasi dan yang distimulasi chewing paraffin
wax dikumpulkan dalam waktu lima menit. Laju aliran saliva diukur dalam mililiter per
menit segera setelah pengumpulan saliva.

Analisis Lactobacilli dan Streptococcus Mutans


Jumlah Lactobacilli (LB) dan Streptococcus mutans (SM) pada saliva diukur
menggunakan DentocultLB Orion Diagnostica dan Dentocult-SM Orion Diagnostica,
menurut instruksi produsen. Level LB pada saliva dinyatakan dalam satuan bakteri per mL
dan level SB dinyatakan dalam unit, 0-3. Angka 0-1 mewakili kurang dari 100.000 colony
forming units (CFU)/ml, 2 mewakili 100.000-1.000.000 CFU/mL, dan 3 mewakili lebih
dari 1.000.000 CFU/mL.

4
Analisis Statistik
Analisis data dilakukan menggunakan paket perangkat lunak PASW Statistik 18
(PASW Inc, Chicago, IL, USA) . Signifikansi perbedaan demografi (Tabel 1) antara pasien
dan kontrol dihitung dengan ANOVA, variabel menggunakan dua faktor dihitung dengan
uji Chi-square. Post hoc Analisis dilakukan dengan Fischers Least Significant Difference
test atau Chi-square. Analisis kovarians (ANCOVA) untuk mengontrol usia, jenis kelamin
dan kebiasaan merokok dilakukan untuk membandingkan variabel klinis antar kelompok,
Post hoc analisis dilakukan dengan Fischers Least Significant Difference test (Tabel 2).
Nilai p 0,05 atau di bawahnya dianggap signifikan. Data nonparametrik dinormalisasi
dengan logaritmasi. Koefisien korelasi matriks Spearmen non-parametrik diperkirakan
antara variabel klinis dan durasi penyakit.

Populasi Penelitian
Jumlah pasien dengan Penyakit Crohn (n=150) dan jumlah kontrol (n=75) dipilih
untuk diamati perbedaan kesehatan mulut dari 10% populasi dengan keakuratan lebih dari
90%. Sedikit perbedaan tidak dianggap relevan secara klinis. Keakuratan perhitungan
didasarkan pada perbedaan yang dilaporkan oleh Brito et al. Perhitungan menunjukkan
bahwa 150 pasien dengan Penyakit Crohn dan 75 kontrol akan memberikan 80%
kemungkinan untuk mendeteksi perbedaan yang berarti dari DMF-T 2,8 antar kelompok
(22%), dengan asumsi bahwa standar deviasi umum adalah 7,0 dengan tingkat signifikansi
0,05.

Hasil
Analisis data awal menunjukkan bahwa ada dua subkelompok yang berbeda dalam
populasi pasien, mereka yang telah menjalani operasi reseksi (RS) dan mereka yang tidak
(NRS). Oleh karena itu, kedua kelompok dibandingkan secara terpisah dengan kelompok
kontrol. Data demografis untuk semua pasien dengan Penyakit Crohn dan kelompok
kontrol disajikan pada Tabel 1. Terdapat perbedaan yang signifikan pada usia (p=0,001)
dan durasi Penyakit Crohn (p=0,01) antara kelompok RS dan NRS. Tidak ada perbedaan
yang signifikan antara kelompok mengenai status perkawinan, pendapatan dan pendidikan.

5
Tidak ada perbedaan antara kelompok mengenai frekuensi makan. Namun, pasien
dengan Penyakit Crohn dilaporkan secara signifikan lebih sering mengkonsumsi minuman
manis saat makan, seperti minuman ringan (softdrink) dibandingkan dengan kelompok
kontrol (Tabel 1). Ada perbedaan yang signifikan antara kelompok dengan mulut kering
dan bau mulut selama 12 bulan terakhir yang ditentukan melalui kuesioner (Tabel 1).
Tabel 2 menunjukkan variabel klinis antara tiga kelompok, menggunakan ANCOVA
dan disesuaikan dengan usia, jenis kelamin dan kebiasaan merokok. Kelompok RS
memiliki nilai DMF-S yang lebih tinggi secara signifikan. Perbedaan tersebut merupakan

6
perbedaan yang paling menonjol meskipun perbedaannya tidak bermakna secara statistik.
Kelompok RS juga memiliki skor DMF-T yang tinggi tetapi perbedaannya tidak bermakna
secara statistik (p=0,06).
Kedua kelompok dengan Penyakit Crohn (RS dan NRS) memiliki jumlah
Lactobacilli yang lebih tinggi dan jumlah plak gigi yang lebih banyak secara signifikan
dibandingkan dengan kelompok kontrol. Selain itu, kelompok RS memiliki jumlah
Streptococcus mutans yang lebih banyak dibanding dengan kelompok kontrol (Tabel 2).
Hasil penelitian menunjukkan korelasi positif yang lemah antara durasi penyakit dan
DMF-S (r=0,374, p=0,01), missing surface (r=0,272, p=0,05), dan filled surface (r=0,424,
p=0,01) pada kelompok RS. Korelasi ini tidak ditemukan pada kelompok NRS.
Ketika membandingkan frekuensi kunjungan ke dokter gigi dan kebersihan gigi
antara pasien dan kontrol, tidak ada perbedaan yang signifikan. Kebiasaan membersihkan
mulut tidak berbeda mengenai frekuensi menyikat gigi dan penggunaan alat bantu
aproksimal antara kedua kelompok (data tidak ditampilkan).

Perbedaan Jenis Kelamin


Kelompok laki-laki dengan Penyakit Crohn secara signifikan mengalami decayed
teetch (DT) (2.53.7 vs. 1.52.1, p=0,05), dan decayed surface (DS) (4.38.6 vs. 2.14.1,
p=0,05) dibanding perempuan. Rata-rata persentase plak gigi lebih tinggi pada laki-laki
daripada perempuan dari kelompok penderita Penyakit Crohn (56.427.1 vs. 42.426.1,
p=0,005). Tidak ada perbedaan jenis kelamin dari assesmen karies gigi dan persentasi plak
gigi pada kelompok kontrol.

Non-responden
Dari peserta yang diundang terdiri dari 159 penderita Penyakit Crohn dan 106 orang
dari kelompok kontrol yang menolak, meskipun alasannya tidak diminta. Perbandingan
statistik antara responden dan non-responden tidak menunjukkan perbedaan secara
signifikan dari usia dan jenis kelamin.

7
Diskusi
Sebuah studi membuktikan bahwa penderita Penyakit Crohn yang telah dilakukan
tindakan pembedahan mempunyai skor DMF yang tinggi dibandingkan orang tanpa
Penyakit Crohn setelah penyesuaian usia, jenis kelamin, dan riwayat merokok. Tingginya
angka karies pada penderita Penyakit Crohn telah dibuktikan pada beberapa studi
sebelumnya. Sebaliknya Grossner-Schreiber et al menyatakan tidak adanya perbedaan skor
DMF antara pasien inflamatory bowel disease (IBD) tetapi adanya prevalensi karies yang
signifikan antara IBD dibandingkan kontrol. Penjelasan tentang perbedaan hasil ini yaitu
terdapat perbedaan pada kelompok studi, karena IBD terdiri dari Penyakit Crohn dan
8
kolitis ulseratif. Studi terbaru mengatakan bahwa ditemukan lebih banyak plak gigi pada
penderita Penyakit Crohn dibandingkan kolitis ulseratif dan kelompok kontrol dimana
sangat berpengaruh pada prevalensi terjadinya karies menurut Habashneh et al.
Pada studi ini, kedua grup yaitu penderita Penyakit Crohn yang belum dilakukan
tindakan bedah dan sudah dilakukan tindakan bedah, dilakukan intervensi yaitu konsumsi
minuman manis diantara waktu makan dibandingkan kontrol. Hal ini sesuai dengan studi
epidemiologi terdahulu yang menyatakan bahwa penderita Penyakit Crohn yang
mengkonsumsi jumlah karbohidrat dalam jumlah tinggi, seperti permen dan softdrink,
berhubungan dengan tingginya angka kejadian karies. Selain itu, beberapa studi
menyatakan terjadi peningkatan konsumsi gula dibandingkan sebelum menderita Penyakit
Crohn. Schutz et al mengatakan bahwa pada penderita Penyakit Crohn terdapat
peningkatan angka karies, konsumsi glukosa yang tinggi, dan konsentrasi zink pada
plasma, walaupun belum dapat disimpulkan hubungannya. Defisiensi zink bisa
mempengaruhi persepsi rasa manis pada pasien dengan Penyakit Crohn. Mekanisme
defisiensi zink ini belum sepenuhnya jelas, dan ada beberapa penelitian yang menyatakan
sebaliknya, walaupun faktanya terjadi penurunan konsentrasi zink pada penderita Penyakit
Crohn dibandingkan kontrol. Pada penelitian ini tidak ditemukan perbedaan antara
frekuensi makan antara penderita dengan kontrol.
Level LB dan SM lebih tinggi pada penderita Penyakit Crohn dibandingkan kontrol
yang sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sundh et al. Selain itu, beberapa studi
telah menemukan bahwa bakteri ini berperan pada pembentukan karies walaupun perlu
dipertimbangkan jenis bakteri lainnya yang juga ikut berperan dalam proses ini seperti
studi oleh Takahashi dan Nyvad. Keterlibatan bakteri dalam proses pembentukan karies
merupakan hal yang kompleks dan belum jelas sepenuhnya.
Agen biologi, tumor necrosis factor alpha (TNF) inhibitor, mempunyai efek anti
inflamasi dan digunakan ketika pengobatan untuk Penyakit Crohn gagal. TNF inhibitor
sekarang dianggap sebagai pilihan pengobatan Penyakit Crohn ketika terapi yang
digunakan tidak efektif, tetapi hal ini hanya betahan 10 tahun terakhir. Pendekatan dengan
TNF sudah berkurang dan lebih kearah tindakan pembedahan. Pada studi populasi sangat
sedikit yang menggunakan anti-TNF sebagai pengobatan. Oleh karena itu, pengobatan ini
tidak berpengaruh dengan perbandingan penderita yang telah dilakukan tindakan bedah
atau tidak. Pada studi terbaru, pasien yang telah menjalani tindakan pembedahan memiliki
skor DMF yang tinggi dibandingkan kontrol, sedangkan tidak ditemukan perbedaan skor
DMF antara pasien Penyakit Crohn yang tidak melakukan tindakan bedah dibandingkan

9
kontrol. Perbedaan ini juga perlu dipertimbangkan dari usia dan jenis kelamin. Durasi
penyakit menunjukkan signifikansi korelasi yang lemah dari DMF-S pada kelompok RS,
namun tidak untuk kelompok NRS. Alasan perbedaan antara penderita Penyakit Crohn
yang telah menjalani tindakan pembedahan dengan tidak melakukan tindakan pembedahan
adalah tingkat keparahan sehingga diperlukan tindakan pembedahan. Pada penelitian ini
tidak ditemukan perbedaan antara kebiasaan makan diantara kedua grup penderita. Hal ini
dikarenakan pendeita yang telah lama menderita Penyakit Crohn dibandingkan yang telah
melakukan tindakan pembedahan, mereka telah terbiasa dengan kesehatan mulut yang
buruk dan telah dilakukan perbaikan karies. Hal yang menjadi faktor resiko karies salah
satunya adalah perbaikan yang sudah lama dilakukan, jumlah karies yang lebih besar dan
masalah kesehatan mulut.
Menariknya, pada penelitian ini, laki-laki mempunyai prevalensi signifikan
terjadinya plak dibandingkan perempuan pada grup yang sama, walaupun tidak ada
perbedaan jenis kelamin dalam grup kontrol. Untuk sekarang, belum adanya studi tentang
hubungan jenis kelamin dengan kesehatan mulut pada penderita Penyakit Crohn. Pada
studi terbaru terdapat klinis yang signifikan yang menyatakan bahwa pasien dengan
Penyakit Crohn yang telah menjalani tindakan pembedahan, khusunya laki-laki,
memerlukan profilaksis untuk karies gigi.
Tingginya angka drop-out pada penelitian ini perlu dipertimbangkan. Semua pasien
telah dilakukan komunikasi melalui telepon dan beberapa menyatakan tidak bersedia
melanjutkan penelitian karena alasan sakit, mereka telah berkunjung ke dokter gigi dalam
waktu dekat dan beberapa tanpa alasan.
Perubahan dan penyusuaian kondisi dan aktivitas pada penderita Penyakit Crohn
juga mempengaruhi kesehatan mulut dan kebiasaan konsumsi makanan. Keefer et al
menyatakan bahwa penderita IBD yang melakukan behavioural intervention akan
meningkatkan kualitas hidup penderita. Sehingga menjadi hal penting untuk mengedukasi
pasien Penyakit Crohn tentang hubungan Penyakit Crohn dengan peningkatan resiko
karies. Penderita juga diberikan informasi tentang akibat perubahan kebiasaan makan dan
pentingnya pencegahan. Sehingga dibutuhkan program yang mengkhususkan pencegahan.
Pada penelitian ini menyimpulkan bahwa penderita Penyakit Crohn yang telah
menjalani tindakan pembedahan mempunyai skor DMF yang tinggi dan tingginya jumlah
Lactobacili dan Streptococcus mutans pada saliva dibandingkan kontrol.

10