Anda di halaman 1dari 4

Journal Reading

Komplikasi-Komplikasi Exodontia : studi


retrospektif

Oleh :

Dimas Swarahanura 04054821517083

Pembimbing :

Drg. Rahmatullah Irfani

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2015
Komplikasi-Komplikasi Eksodontia : Studi retrospektif
Gokul Parameswar, Muku Nandkumar, Aman Rajiv, Shruti Tejprakash

Departement of Oral and Maxillofacial Surgery, Padmashree Dr. D. Y. Patil Dental College and Hospital, Dr. D.
Y. Patil University, Nerulm Mumbai, India

Abstrak

Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa angka kejadian beberapa komplikasi yang
terjadi pada exodontia rutin yang di lakukan sesuai protokol.
Bahan dan Metode: Jumlah total 22.330 ekstarksi di lakukan pada 14.975 pasien berumur antara 14-
82 tahun di Departement of Oral and Maxillofacial Surgery, Padmashree Dr. D. Y. Patil Dental College and
Hospital, Dr. D. Y. Patil University, Nerulm Mumbai, India.
Hasil: Komplikasi yang paling sering terjadi adalah fraktur gigi, trismus, fraktur platum kortikal. Nyeri
postoperasi dan perdarahan merupakan komplikasi yang jarang terjadi. Luksasi gigi, fraktur maxilaris
dan pergeseran gigi merupakan komplikasi yang langka.
Simpulan: Tindakan eksodontia dapat menimbulkan komplikasi makan seharusnya tenaga kesehatan
bisa mengatasi komplikasi tersebut secara benar

Kata kunci : Komplikasi, eksodontia, fraktur gigi

PENDAHULUAN

Dalam bagian gigi dan bedah maksilofasial eksodontia merupakan tindakan yang sangat sering
dilakukan.
Komplikasi adalah kejadian yang tidak diduga yang dapat meningkatkan mobirditas melebihi
dari yang telah diprediksikan dari sebuah prosedur yang normal. Meskipun jarang namun
kejadian komplikasi dapat memperpanjang fase pemulihan dan dapat merepotkan pasien dan
tenaga medis.
Komlikasi eksodotia sangat luas, dari yang sering terjadi seperti alveolar osteitis dan fraktur
akar hingga komlikasi yang sering dan serius seperti sisa fragment akar pada sinus maksila dan
fistula oro-antral.
Untuk mencegah komlikasi di butuhkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penujang yang menyeluruh.
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis angka kejadian dan distribusi komplikasi setelah
eksodontisa rutin di di Departement of Oral and Maxillofacial Surgery, Padmashree Dr. D. Y.
Patil Dental College and Hospital, Dr. D. Y. Patil University, Nerulm Mumbai, India.

2
BAHAN DAN METODE
Studi retrospektif dari 22,330 eksodontia pada 14,975 pasien. 8464 pasien adalah pria dan 6511
pasien adalah wanita dengan umur mulai dari 14 hingga 82 dengan rata-rata umur adalah 41
tahun.
Hanya pasien sehat yang melakukan ekstraksi sederhana yang termasuk dalam penelitian ini.
Pasien dengan resiko tinggi sepreti hamil dan menyusui dan pasien dengan ekstraksi kompleks
tidak dimasukkan dalam penelitian ini.
Anastesi di lakukan dengan 2% lignocaine Hcl maksimal 5ml secara lokal. Seluruh pasien
diberikan antibiotik dan analgetik postoperatif.

HASIL
Antara oktober 2007 dan september 2010, sebanyak 23,242 ekstraksi dilakukan pada 15,817
pasien.
Ekstraksi pada psien beresiko sebanyak 912 ekstraksi pada 842 pasien.
Besar sampel = 22,330 ekstraksi pad 14,975 pasien sehat.
Pada penelitian ini penyebab ektraksi paling sering adalah caries dan periodontitis, diikuti oleh
keperluan prthodontic, trauma dan kegagalan endodontik.
Ekstraksi paling banyak dilakukan pada segmen gigi bawah, kemudian segmen posterior
maksilaris, maksilaris anterior dan mandibular anterior.
Komplikasi eksodotia yg terjadi adalah fraktur gigi (4566), Laserasi (902), trauma jaringan
lunak (1818), Fraktur plate cortical (3607), trismus (4023), aveolar osteitis (2618), wound
dehiscene (779), nyeri post operatif (864), perdarahan (289), fraktur maxila (112), luksasi gigi
(28), fraktur mandibula (0), sisa gigi pada sinus maksila (9), sisa gigi pada sinus lain (12),
infeksi (86).
Komplikasi lebih tinggi terjadi pada ekstraksi yang dilakukan oleh mahasiswa (52%)
dibandingkan intern (48%); ketika waktu ekstraksi melebih 30 menit (51%) dibandingkan
dibawah 30 menit (49%); dan ekstraksi di lakukan pada lengkungan mandibular (5 %)
dibandingkan dengan lengkungan maksilar (49%).

DISKUSI
Faktor yang berpengaruh terhadap kejadian komplikasi sangat banyak, termasuk faktpr pasien,
faktor gigi dan bisa juga faktor operator. Faktor lain adalah umur dan jenis kelamin.
Pnelitian ini menunjukkan komplikasi fraktur gigi (20,4%), trismus (18%), fraktur cortical
plate (16,2%) dan alvelar osteitis (11,7%) adalaha komplikasi dengan kejadian lebih tinggi.
Kejadian alveolar osteitis saaat ekstarksi rutin terjadi antara 5-20%. Peningkatan terjadi pada
perokok dan pasien degan kontrasepsi.
Nyeri postoperatif (3,9%), wound dehiscence (3,5%) dan perdarahan (1,3%) adalah komplikasi
yang lebih sedikit terjadi.
Assesmen nyeri yang di gunakan adalah VAS 100-mm yang di ukur 2 dan 7 hari post operatif.
Pasien mengaku nyeri seperti ditusuk, menyut dan tumpul.
Sisa gigi pada rongga-rongga fasial merupakan komplikasi yang jarang terjadi. Namun
beberapa penilitian lain juga melaporkan kejadian sisa gigi pada rongga fasial; fossa
infraprontal, sinus maksilaris, sinus submandibularis, sinus pterygomandibularis dan regio
lateral cervical ini harus di hindari karena akan berakibat fatal pada pasien.

3
SIMPULAN
Tindakan eksodontia sangat rutin dilakukan dan sangat rentan terhadapan kejadian komplikasi
dari waktu ke waktu. Komplikasinya sangat bervariasi dari yang simpel seperti alveolar osteitis
hingga sisa fragmen gigi di sinus maksilris.
Para klinisi harus memiliki kemampuan dan keahlian untuk menilai dan memprediksi
komplikasi yang akan terjadi dan bagaimana menangani masing-masing komplikasi tersebut.
Karena nilai-p di bawah 0,05 maka hipotesis dapat disangkal dan menyimpulkan danya
hubungan antara kolum dan row. i.e pengalaman operator, durasi tindakan, lengkungan yang
di lakukan tindakan, dan jumlah komlikasi.