Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Inovasi pada umumnya sering dilakukan oleh sektor swasta dalam
memberikan pelayanan kepada pelanggannya sebagai upaya untuk tetap eksis
dalam persaingan pasar. Oleh karena itu menjadi suatu keharusan bagi sektor
swasta untuk mengembangkan berbagai inovasi. Keberhasilan sektor swasta
dalam berinovasi, mulai dilirik oleh sektor publik untuk dapat menyediakan
pelayanan yang lebih efektif dan efisien. Inovasi dalam sektor publik telah
menjadi wacana penting di berbagai negara, terutama di negara maju karena
dengan adanya inovasi dalam sektor publik dianggap dapat berkontribusi dalam
peningkatan kualitas pelayanan publik dan menjadi solusi dalam pemecahan
masalah publik (Walker et al., 2011, dan de Vries, M., 2013). Inovasi dalam
sektor publik sangat identik dan sering dikaitkan dengan perubahan atau reformasi
yang dilakukan oleh pemerintah yang lebih dikenal sebagai konsep new public
management (NPM) (Pollit dan Bouckaert, 2011, Eva dan Torfing, 2012), dan
konsep e-government (Safeena dan Abdullah, 2013).
Pentingnya inovasi dalam sektor publik menjadi kajian menarik di negara-
negara maju, mengingat bahwa persaingan dan perkembangan perubahan sosial
yang semakin kompleks. Dimana persaingan antar lembaga penyedia layanan
semakin meningkat dan berpengaruh satu dengan yang lainnya. Inovasi dalam
sektor publik dilakukan melalui penciptaan ide atau gagasan baru terhadap
pelayanan publik dan melalui proses adopsi terhadap inovasi yang ada (biasanya
inovasi yang dilakukan oleh sektor swasta) (Borrins, 2014). Inovasi dalam sektor
publik dilakukan oleh pemerintah karena adanya proses komunikasi atau
penyebaran informasi akan suatu inovasi (Lewis, 2010, Thayer, 2013, dan
Hallahan, 2011). Proses penyebaran inovasi membutuhkan saluran komunikasi
dan waktu sampai pemerintah memutuskan untuk melakukan suatu inovasi
(Rambocas, 2012). Inovasi dalam sektor publik berkembang menyesuaikan
kebutuhan dan kondisi yang ada, sehingga diperlukan proses tahapan yang
panjang dan diperlukan sikap selektif yang tepat untuk mengadopsi inovasi.

1
Konsep inovasi dalam sektor publik mulai dipraktikkan di berbagai negara
berkembang karena adanya perkembangan teknologi canggih yang pesat. Konsep
inovasi di negara berkembang lebih banyak dikaitkan dengan pengadopsian atau
penggunaan teknologi, informasi dan komunikasi (TIK) ke dalam sistem
administrasi publik oleh pemerintah (Marieta et al., 2010). Dengan adanya
kemajuan teknologi yang dibawa dan dikenalkan dari negara maju, menyebabkan
adanya perubahan yang terlihat dari sistem pelayanan yang mulai begeser menjadi
lebih modern (Ramseook et al., 2010). Proses inovasi dalam sektor publik di
negara berkembang juga melalui penciptaan ide atau gagasan baru, tetapi lebih
banyak melalui proses adopsi inovasi yang sudah ada (Tomas dan Jankovic, 2014,
Akenroye, 2012, dan Stasishyn dan Ivanov, 2013). Di beberapa negara
berkembang, inovasi dianggap sebagai penggunaan teknologi yang canggih ke
dalam administrasi publik yang dikenal sebagai konsep e-government (Al-Khouri,
2011).
Di Indonesia konsep inovasi dalam sektor publik sudah dilakukan
diberbagai sektor, antara lain sektor pendidikan, kesehatan, lingkungan,
infrastruktur, pertanian, dan lain sebagainya. Inovasi dalam sektor publik di
Indosesia telah mengubah karakteristik organisasi publik yang rigid, kaku, dan
cenderung status-quo menjadi sistem yang lebih luwes dan dinamis (Suwarno,
2013, Zakso, 2012 dan Kuipers et al., 2014). Hal yang perlu diperhatikan oleh
pemerintah dalam berinovasi seperti halnya inovasi yang dilakukan oleh sektor
swasta yaitu penyesuaian dengan budaya organisasi, selain itu juga harus
memperhatikan dinamika yang terjadi pada masyarakat (Suwarno, 2013).

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Inovasi
Menurut Bambang (2015) menjelaskan bahwa hal terpenting dalam inovasi
adalah proses difusi inovasi atau penyebarannya. Dimana cepat atau lambatnya
suatu inovasi dapat diterima tergantung pada kemampuan suatu inovasi dapat
diketahui oleh orang lain. Berbagai upaya dilakukan inovator untuk dapat
memperkenalkan suatu inovasi kepada orang lain. Untuk bisa diterima dan
diterapkan oleh banyak orang, maka inovator harus dapat mengidentifikasi
berbagai kebutuhan yang diperlukan orang lain. Suatu inovasi harus dapat
memperlihatkan berbagai kelebihan dan manfaat yang ada dalam inovasi.
Seharusnya suatu inovasi memiliki kelebihan dan manfaat yang lebih banyak
dibandingkan dengan keadaan dan kondisi sebelumnya. Penerapan suatu inovasi
diharapkan dapat memperbaiki kondisi dan kebutuhan orang lain menjadi lebih
baik dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Selain itu suatu inovasi untuk
dapat diadopsi oleh masyarakat mutlak harus dapat disebarkan dengan
mengkominkasikannya kepada masyarakat luas dengan berbagai cara
(Rahayuningtyas dan Sofiah, 2013).
Menurut World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa e-health
is the use of information and communication technologies (ICT) in support of
health and helath-related field, including health-care service, health
surveillance, health literature, and health education, knowledge and research.
Penekanan konsep e-health yaitu pemanfaatan TIK pada pelayanan kesehatan,
dimana dalam perkembangannya masih difokuskan pada pelayanan medis pasien
yang hanya dapat diakses pada rumah sakit pusat dan rumah sakit swasta dan
oleh pihak tertentu karena untuk mengaksesnya memerlukan biaya yang tidak
murah.

3
2.2. Manajemen Kesehatan
2.2.1. Definisi
Secara klasik, manajemen adalah ilmu atau seni tentang penggunaan
sumber daya secara efisien, efektif, dan rasional untuk mencapai tujuan organisasi
yang telah ditetapkan sebelumnya. Manajemen merupakan ilmu terapan yang
penerapannya disesuaikan dengan ruang lingkup fungsi organisasi, bentuk kerja
sama manusia di dalam organisasi, dan ruang lingkup masalah yang dihadapi. Di
bidang kesehatan, manajemen diterapkan untuk mengatur perilaku staf yang
bekerja di dalam organisasi (institusi pelayanan) kesehatan untuk menjaga dan
mengatasi gangguan kesehatan pada individu atau kelompok masyarakat secara
efektif, efisien, dan produktif (Muninjaya, 2012).
Sehat adalah suatu keadaan optimal, baik jasmani maupun rohani serta
sosial ekonomi, dan tidak hanya terbatas pada keadaan bebas dari penyakit atau
kelemahan fisik dan mental saja (WHO, 1946). Di Indonesia pengertian sehat
dituangkan dalam UU Pokok Kesehatan RI No.9 tahun 1960 (Herlambang &
Murwani, 2012).
Menurut Notoatmodjo (2003) dalam buku Manajemen Kesehatan dan
Rumah Sakit, manajemen kesehatan adalah suatu kegiatan atau suatu seni untuk
mengatur para petugas kesehatan dan nonpetugas kesehatan guna meningkatkan
kesehatan masyarakat melalui program kesehatan (Herlambang & Murwani,
2012).
Sesuai dengan tujuan sistem kesahatan, yakni peningkatan derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya, maka manajemen kesehatan tidak dapat
disamakan dengan manajemen niaga yang lebih berorientasi pada upaya mencari
keuntungan berupa uang untuk pemilik perusahaan (profit oriented) melainkan
manajemen kesehatan berorientasi memberikan manfaat pelayanan secara optimal
pada masyarakat (benefit oriented) oleh karena organisasi kesehatan lebih
mementingkan pencapaian kesejahteraan umum (Herlambang & Murwani, 2012)..

2.2.2. Fungsi
Fungsi-fungsi dalam manajemen kesehatan sama dengan fungsi-fungsi
dalam manajemen perusahaan, yaitu (Herlambang & Murwani, 2012) :

4
1. Fungsi Perencanaan (Planning)
Perencanaan merupakan fungsi terpenting dalam manajemen. Perencanaan
kesehatan adalah sebuah proses untuk merumuskan masalah-masalah kesehatan
yang berkembang di masyarakat, menentukan kebutuhan dan sumber daya yang
tersedia, menetapkan tujuan program yang paling pokok, dan menyusun langkah-
langkah praktis untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan tersebut.
Dengan perencanaan dapat mengetahui : tujuan yang ingin dicapai; jenis
dan struktur organisasi yang dibutuhkan; jenis dan jumlah staf yang diinginkan
dan uraian tugasnya; sejauh mana efektivitas kepemimpinan dan pengarahan yang
diperlukan; bentuk dan standar pengawasan yang akan dilakukan.
Terdapat lima langkah yang perlu dilakukan pada proses penyusunan
sebuah perencanaan dalam manajemen kesehatan, yaitu: (a) analisa situasi; (b)
mengidentifikasi masalah dan prioritasnya; (c) menentukan tujuan program; (d)
mengkaji hambatan dan kelemahan program; (e) menyusun rencana kerja
operasional.

2. Fungsi Pengorganisasian (Organizing)


Dengan adanya pengorganisasian, maka seluruh sumber daya yang
dimiliki oleh organisasi akan diatur penggunaannya secara efektif dan efisien
untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Dengan pengorganisasian, seorang pemimpin akan mengetahui:
pembagian tugas secara jelas, tugas pokok dan prosedur kerja staf, hubungan
organisatoris dalam struktur organisasi, pendelegasian wewenang, dan
pemanfaatan staf dan fasilitas fisik yang dimiliki organisasi.
Ada enam langkah penting dalam membuat pengorganisasian, yaitu: (a)
tujuan organisasi harus sudah dipahami oleh staf; (b) membagi habis pekerjaan
dalam bentuk kegiatan-kegiatan pokok untuk mencapai tujuan; (c)
menggolongkan kegiatan pokok ke dalam suatu kegiatan yang praktis; (d)
menetapkan kewajiban yang harus dilakukan oleh staf dan menyediakan fasilitas
pendukung yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya; (e) penugasan
personal yang terampil.

5
3. Fungsi Pelaksanaan dan Pembimbingan (Actuating)
Pada fungsi ini lebih mengarahkan dan menggerakkan semua sumber daya
untuk mencapai tujuan yang telah disepakati. Beberapa hal yang dapat
menggerakkan dan mengarahkan sumber daya manusia dalam organisasi yaitu :
peran kepemimpinan (leadership), motivasi staf, kerja sama antar staf, dan
komunikasi yang lancer antar staf.
Adapun tujuan fungsi pelaksanaan dan pembimbingan adalah: (1)
menciptakan kerjasama yang lebih efisien; (2) mengembangkan kemampuan dan
keterampilan staf; (3) menumbuhkan rasa menyukai dan memiliki pekerjaan; (4)
mengusahakan suasana lingkungan kerja yang meningkatkan motivasi prestasi
kerja staf; (5) membuat organisasi berkembang secara dinamis.

4. Fungsi Pengawasan (Controlling)


Melalui fungsi pengawasan, standar keberhasilan program yang telah
dibuat dalam bentuk target, prosedur kerja, dan sebagainya harus selalu
dibandingkan dengan hasil yang telah dicapai atau yang mampu dikerjakan oleh
staf.
Jenis standar pengawasan ada dua, yaitu : (1) standar norma, standar yang
dibuat berdasarkan pengalaman staf melaksanakan program yang sejenis atau
yang pernah dilaksanakan dalam situasi yang sama di masa lalu; (2) standar
kriteria, standar yang diterapkan untuk kegiatan-kegiatan pelayanan oleh petugas
yang sudah mendapatkan pelatihan.
Pemimpin bisa mendapatkan data pada saat melakukan pengawasan
dengan tiga cara: pengamatan langsung, laporan lisan dari staf atau pengaduan
masyarakat, dan laporan tertulis dari staf.

5. Fungsi Evaluasi (Evaluation)


Tujuannya yaitu untuk memperbaiki efisiensi dan efektivitas pelaksanaan
program dengan memperbaiki fungsi manajemen. Evaluasi ada beberapa macam,
yaitu: (a) evaluasi terhadap input, dilaksanakan sebelum program dilaksanakan;(b)
evaluasi terhadap proses, dilaksanakan pada saat kegiatan berlangsung; (c)
evaluasi terhadap output, dilaksanakan setelah pekerjaan selesai.

6
Fungsi-fungsi manajemen diatas dapat dilihat pada Gambar 2.1. Meskipun
keempat fungsi manajemen tersebut terpisah satu sama lain, teteapi sebagai
sebuah proses, keempatnya merupakan suatu rangkaian kegiatan yang
berhubungan satu sama lain. Jika tujuan organisasi belum tercapai, pimpinan
organisasi harus menganalisis kelemahan pelaksanaan salah satu atau beberapa
fungsi manajemen tersebut (Muninjaya, 2012).

Gambar Siklus Fungsi Manajemen


Sumber: Muninjaya, 2012

2.2.3. Ruang Lingkup


Seperti halnya manajemen perusahaan, di bidang kesehatan juga dikenal
berbagai jenis manajemen sesuai dengan ruang lingkup kegiatan dan sumber daya
yang dikelolanya. Ruang lingkup manajemen kesehatan secara garis besar
mengerjakan kegiatan yang berkaitan dengan (Herlambang & Murwani, 2012).:
1. Manajemen sumber daya manusia (personalia)
2. Manajemen keuangan (mengurusi cashflow keuangan)
3. Manajemen logistik (mengurusi logistik-obat dan peralatan)
4. Manajemen pelayanan kesehatan dan sistem informasi manajemen (melayani
pelayanan kesehatan masyarakat)
Untuk masing-masing bidang tersebut dikembangkan manajemen yang
lebih spesifik sesuai dengan ruang lingkup dan tugas pokok institusi kesehatan.
Penerapan manajemen pada unit pelaksana teknis seperti puskesmas dan RS
merupakan upaya untuk memanfaatkan dan mengatur sumber daya yang dimiliki
oleh masing-masing unit pelayanan kesehatan tersebut, dan diarahkan
untuk mencapai tujuan organisasi (unit kerja dan sebagainya) secara efektif,

7
efisien, produktif, dan bermutu (Muninjaya, 2012).
Manajemen kesehatan harus dikembangkan di tiap-tiap organisasi
kesehatan di Indonesia, seperti Kantor Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan
di daerah, Rumah Sakit, dan Puskesmas, dan jajarannya. Untuk memahami
penerapan manajemen kesehatan di Rumah Sakit, Dinas Kesehatan, dan
Puskesmas perlu dilakukan kajian proses penyusunan rencana tahunan
Departemen Kesehatan dan Dinas Kesehatan di daerah. Khusus untuk tingkat
Puskesmas, penerapan manajemen dapat dipelajari melalui perencanaan yang
disusun setiap lima tahunan (Herlambang & Muwarni, 2012).

2.2.4. Subsistem Manajemen Kesehatan


Subsistem adalah bagian dari sistem yang membentuk sistem pula. Dalam
sistem kesehatan nasional, subsistem manajemen kesehatan adalah tatanan yang
menghimpun berbagai upaya administrasi kesehatan yang didukung oleh
pengelolaan data dan informasi, pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan
dan teknologi, serta pengaturan hukum kesehatan secara terpadu dan saling
mendukung, guna menjamin tercapainya derajat kesehatan yang setinggi-
tingginya (Herlambang & Murwani, 2012).
Subsistem manajemen kesehatan terdiri dari empat unsur utama
(Herlambang & Murwani, 2012) :
1. Administrasi kesehatan, adalah kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan
pengendalian serta pengawasan dan pertanggungjawaban penyelenggara
pembangunan kesehatan.
2. Informasi kesehatan, adalah hasil pengumpulan dan pengolahan data yang
merupakan masukan bagi pengambilan keputusan di bidang kesehatan.
3. Ilmu pengetahuan dan teknologi, adalah hasil penelitian dan pengembangan
yang merupakan masukan bagi pengambilan keputusan di bidang kesehatan.
4. Hukum kesehatan, adalah peraturan perundang-undangan kesehatan yang
dipakai sebagai acuan bagi penyelenggara pembangunan kesehatan.

2.2.5. Pembiayaan Program Kesehatan


Sesuai dengan UU No. 22 dan 25 tahun 1999 (diubah menjadi UU No.32

8
dan 33 tahun 2004) tentang pemerintah daerah dan perimbangan keuangan pusat
dan daerah, dana pembangunan kesehatan berasal dari tiga sumber yaitu
(Muninjaya, 2012) :
1. Pemerintah (APBN), yang disalurkan ke daerah dalam bentuk DAU ( Dana
Alokasi Umum) dan DAK (Dana Alokasi Khusus). Dengan diberlakukannya
otonomi daerah, porsi dana sector kesehatan yang bersumber dari APBN
menurun. Pemerintah pusat juga masih tetap membantu pelaksanaan program
kesehatan melalui bantuan dana dekonsentrasi, khususnya untuk
pemberantasan penyakit menular.
2. APBD yang bersumber dari PAD (Pendapatan Asli Daerah), baik yang
bersumber dari pajak maupun penghasilan badan usaha milik Pemda.
Mobilisasi dana kesehatan juga bisa bersumber dari masyarakat dalam bentuk
asuransi kesehatan, investasi pembangunan sarana pelayanan kesehatan oleh
pihak swasta dan biaya langsung yang dikeluarkan oleh masyarakat untuk
perawatan kesehatan. Dana pembangunan kesehatan yang diserap dari
berbagai sektor harus dibedakan dengan dana sektor kesehatan yang diserap
oleh dinas kesehatan.
3. Bantuan luar negeri, dapat dalam bentuk hibah (grant) atau pinjaman (loan)
untuk investasi atau pengembangan pelayanan kesehatan.

2.3 Sistem Pelayanan Kesehatan Masyarakat


2.3.1 Definisi Sistem Pelayanan Kesehatan
Definisi dari sistem pelayanan kesehatan adalah sebuah konsep
dimana konsep ini memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat. Definisi
pelayanan kesehatan menurut Prof. Dr. Soekitjo Notoatmojo pelayanan kesehatan
adalah sebuah subsistem pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah
pelayanan prefentif (pencegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan) dengan
sasaran masyarakat. Dan menurut Level dan Loomba pelayanan kesehatan adalah
upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara bersama-sama dalam waktu
organisasi dalam memelihara dan menigkatkan kesehatan, mencegah dan
menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan.

9
2.3.2 Teori Sistem Pelayanan Kesehatan
Teori sistem pelayanan kesehatan meliputi: (S Notoatmodjo, 2007)
1. Input
Merupakan subsistem yang akan memberikan segala masukan untuk
berfungsinya sebuah sistem, seperti system pelayanan kesehatan, maka
masukan dapat berupa potensi masyarakat, tenaga kesehatan, sarana
kesehatan dan lain-lain.
2. Proses
Suatu kegiatan yang berfungsi untuk mengubah sebuah masukan untuk
menjadikan sebuah hasil yang diharapkan dari system tersebut, sebahaimana
contoh dalam system pelayanan kesehatan, maka yang dimaksud proses
adalah berbagai kegiatan dalam pelayanan kasehatan.
3. Output
Hasil berupa layanan kesehatan yang berkualitas, efektif dan efisien serta
dapat di jangkau oleh seluruh lapisan masyarakat sehingga pasien sembuh
dan sehat optimal.
4. Dampak
Merupakan akibat yang dihasilkan sebuah hasil bari sistem, yang terjadi
relatif lama waktunya. Setelah hasil dicapai, sebagaimana dalam system
pelayanan kesehatan , maka dampaknya akan menjadikan masyarakat sehat
dan mengurangi angka kesakitan dan kematian karena pelayanan terjangkau
oleh masyarakat.
5. Umpan Balik
Merupakan suatu hasil yang sekaligus menjadikan masukan dan ini terjadi
dari sebuah system yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi.
Umpan balik dalam system pelayanan kesehatan dapat berupa kualitas tenaga
kesehatanyang juga dapat menjadikan input yang selalu meningkat.
6. Lingkungan
Lingkungan disini adalah semus keadaan diluar system tetati dapat
mempengaruhi pelayanan kesehatan sebagaimana dalam system pelayanan
kesehatan, lingkungan yang dimaksud dapat berupa lingkungan strategis, atau

10
situasi kondisi social yang ada di masyarakat seperti institusi di luar
pelayanan masyarakat.

2.3.3 Tingkatan Pelayanan Kesehatan


Menurut (leavel & clark, 1958) tingkat pelayanan kesehatan dalam
sistem pelayanan kesehatan adalah :
1. Health promotion ( promosi kesehatan )
Tingkat pelayanan kesehatan ini merupakan tingkat pertama dalam
memberikan pelayanan melalui peningkatan kesehatan dan bertujuan untuk
meningkatkan status kesehatan agar masyarakat tidak terjadi gangguan
kesehatan.
2. Spesific protection ( perlindungan khusus )
Dilakukan untuk melindungi masyarakat dari bahaya yg akan menyebabkan
penurunan status kesehatan. Contohnya pemberian imunisasi.
3. Early diagnosis and prompt treatment (diagnosis dini danpengobatan
segera)
Dilaksanakan dalam mencegah meluasnya penyakit yang lebih lanjut serta
dampak dari tibulnya penyakit sehingga tidak terjadi penyebaran.
4. Disability Limitation (Pembatasan Cacat)
Dilakukan untuk mencegah agar pasien atau masyarakat tidak mengalami
dampak kecacatan akibat penyakit yang ditimbulkan
5. Rehabilitation
Dilaksanakan setelah pasien didiagnosis sembuh. Tahap ini dijumpai pada
fase pemulihan terhadap kecacatan sebagaimana program latihan ini
diberikan pada pasien.

2.3.4 Lembaga Pelayanan Kesehatan


Lembaga Pelayanan Kesehatan merupakan tempat pemberian pelayanan
kesehatan pada masyarakat dalam rangka meningkatkan status kesehatan. Tempat
pelayanan kesehatan sangat bervariasi berdasarkan tujuan pelayanan kesehatan
dapat berupa rawat jalan, institusi kesehatan, comunity based agency dan hospice.
( Aziz Alimul, 2008)

11
1. Rawat Jalan
Lembaga ini bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan pada tingkat
pelaksanaan diagnosis dan pengobatan pada penyakit yang akut atau
mendadak dan kronis yang memungkinkan tidak terjadi rawat inap.
2. Institusi
Lembaga ini merupakan pelayanan kesehatan yang fasilitasnya cukup dalam
memberikan berbagai tingkat kesehatan seperti rumah sakit, pusat
rehabilitasi, dan lain lain.
3. Community Based Agency
Bagian dari lembaga pelayanan kesehatan yang dilakukan pada klien
sebagaimana pelaksanaan perawatan keluarga seperti praktek rawat keluarga
dan lain lain.
4. Hospice
Lembaga ini bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang di
fokuskan pada klien yang sakit terminal agar lebih tenang dan biasanya
digunakan dalam home care.

2.3.5 Lingkup Sistem Pelayanan Kesehatan


1. Primary Health Care (Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama)
Pelayanan Kesehatan ini dibutuhkan atau dilaksanakan pada masyarakat
yang memiliki masalah kesehatan yang ringan.
2. Secondary Health Care (Pelayanan Kesehatan Tingkat Kedua)
Diperlukan bagi masyarakat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit
atau rawat inap dan dilaksanakan di pelayanan kesehatan utama.
3. Tertiary Health Service (Pelayanan Kesehatan Tingkat Ketiga)
Pelayanan kesehatan merupakan tingkat pelayanan yang tertinggi.
Biasanya pelayanan ini membutuhkan tenaga-tenaga yang ahli.

2.3.6 Pelayanan Perawatan dalam Pelayanan Kesehatan


Pelayanan keperawatan merupakan bagian dari pelayanan kesehatan
semuanya dapat dilaksanakan oleh tenaga keperawatan dalam menigkatkan
derajat kesehatan. Contoh pelayanan kesehatan dalam tingkat dasar yang

12
dilakukan di lingkup puskesmas dengan pendekatan asuhan keperawatan keluarga
diantaranya mengenal masalah kesehatan secara dini, mengambil keputusan,
menanggulangi keadaan secara darurat bila terjadi kecelakaan, memberikan
pelayanan keperawatan dasar.

2.3.7 Faktor yang Mempengaruhi Pelayanan Kesehatan


1. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Baru
Perkembangan Iptek akan diikuti dengan pelayanan kesehatan, seperti dalam
pelayanan kesehatan untuk mengatasi masalah penyakit-penyakit yang sulit.
Dapat menggunakan alat seperti laser, terapi perubahan gen, dan lain lain.
2. Pergeseran Nilai Masyarakat
Masyarakat yang sudah maju dalam pengetahuan yang tinggi maka akan
memiliki kesadaran yang lebih dalam pemanfaatan kesehatan sebaliknya
masyarakat yang memiliki pengetahuan yang murang akan memiliki
kesadaran yang rendah terhadap layanan kesehatan sehingga kondisi
demikian akan sangat mempengaruhi sistem pelayanan kesehatan.
3. Aspek Legal dan Etika
Tingginya kesadaran masyarakat terhadap penggunaan pelayanan kesehatan,
maka diimbangi pula tingginya tuntutan hukum dan etik sehingga pelayanan
kesehatan dituntut untuk profesional dengan memperhatikan nilai-nilai
hukum dan etika yang ada di masyarakat.
4. Ekonomi
Pelaksanaan pelayanan kesehatan akan dipengaruhi oleh tingkat ekonomi
masyarakat. Semakin tinggi ekonomi seseorang, pelayanan kesehatan akan
lebih di perhatikan begitu juga sebaliknya maka sangat sulit menjangkau
pelayanan kesehatan mengingat biaya dalam jasa pelayanan kesehatan
membutuhkan biaya yang cukup mahal.
5. Politik
Kebijakan pemerintah akan sangat berpengaruh dalam sisitem pemberian
pelayanan kesehatan. Kebijakan-kebijakan yang ada dapat memberikan pola
dalam sistem pelayanan.

13
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari pembahasan makalah ini adalah:
1. Menurut World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa Penekanan
konsep e-health yaitu pemanfaatan TIK pada pelayanan kesehatan, dimana
dalam perkembangannya masih difokuskan pada pelayanan medis pasien
yang hanya dapat diakses pada rumah sakit pusat dan rumah sakit swasta
dan oleh pihak tertentu karena untuk mengaksesnya memerlukan biaya yang
tidak murah.
2. Fungsi Manajemen Kesehatan Pada umumnya, fungsi manajemen dalam
suatu organisasi meliputi: Planning (perencanaan), Organizing
(pengorganisasian), Actuating, Controlling (monitoring) atau pengawasan
dan pengendalian.
3. Sistem Pelayanan Kesehatan adalah sebuah konsep dimana konsep ini
memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat. Definisi pelayanan
kesehatan menurut Prof. Dr. Soekitjo Notoatmojo pelayanan kesehatan adalah
sebuah subsistem pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah
pelayanan prefentif (pencegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan)
dengan sasaran masyarakat. Dan menurut Level dan Loomba pelayanan
kesehatan adalah upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara bersama-
sama dalam waktu organisasi dalam memelihara dan menigkatkan kesehatan,
mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan

3.2 Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi
pokok bahasan dalam makalah ini tentunya masih banyak kekurangan dan
kelemahan dari makalah kami, karena terbatasnya waktu, pengetahuan, dan
kurangnya rujukan yang berhubungan dengan makalah kami.

14
DAFTAR PUSTAKA

A.A. Gde Muninjaya. 2004. Manajemen Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku


Kedokteran EGC: 220-234.
A.Sihotang. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia , Jakarta : PT.
Pradnya Paramita.
Alimul Hidayat, A. Aziz. 2008. Pengantar Kosep Dasar Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika
Follet, Marry Parker. 1999. Visionary Leadership and Strategic Mangement.
MCB University Press. Women in Management Review Volume 14. No. 7
Handoko, T. Hani. 1999. Manajemen. Yogyakarta: BPFE
Harold, Koontz dan C. ODonnell (1964), Principles of Manajement Ed:
Gunawan Hutauruk, Erlangga: Jakarta.
Leavel and Clark, 1958. Public Health. Yale Uneversity
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Rineka
Cipta. Jakarta.
Notoatmodjo, S. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka
Cipta
Nugroho . 2010. Syarat-Syarat Perencanaan yang Baik .
http://danisnugroho.blogspot.com [Diakses 12 Mei 2013]
Siagian, Sondang P. 2003. Administrasi Pembangunan : Konsep, Dimensi, dan
Strateginya. Jakarta : Bumi Aksara.
Santoso Prasko. 2013. Pengertian Perencanaan dan Macam.
http://zona-prasko.blogspot.com[Diakses 20 November 2014]
Stoner, James A.F. (2006). Manajemen. Jakarta.
Stephen P. Robbins, Mary Coulter. 2003. Management. 7th ed., Prentice Hall,
New Jersey.
Terry, George R., 2003, Prinsip Prinsip Manajemen, Bumi Aksara, Jakarta

15
MAKALAH TENTANG INOVASI DALAM
MANAJEMEN KESEHATAN

DI SUSUN
OLEH :

RISKA ANDESTA PARTIA


ROZAYANI
NANA HARDIANA

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
UNIVERSITAS ABDURRAB
2017

16
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya,sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah ini,
untuk melengkapi makalah ini dengan judul INOVASI DALAM MANAJEMEN
KESEHATAN.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam menyusun
makalah ini, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca
sekalian untuk kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, semoga tugas makalah ini
bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya dan bagi penyusun pada
khususnya.

Pekanbaru, 22 Oktober 2017

Penulis

17i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................ i


Daftar Isi......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................... 3
2.1 Inovasi .................................................................................................... 3
2.2. Manajemen Kesehatan ............................................................................ 4
2.2.1 Definisi ................................................................................................. 4
2.2.2 Fungsi ................................................................................................... 4
2.2.3 Ruang Lingkup ..................................................................................... 7
2.2.4 Subsistem Manajemen Kesehatan ........................................................ 8
2.2.5 Pembiayaan Program Kesehatan .......................................................... 8
2.3 Sistem Pelayanan Kesehatan Masyarakat ............................................... 9
2.3.1 Definisi Sistem Pelayanan Kesehatan .................................................. 9
2.3.2 Teori Sistem Pelayanan Kesehatan ..................................................... 10
2.3.3 Tingkatan Pelayanan Kesehatan ......................................................... 11
2.3.4 Lembaga Pelayanan Kesehatan .......................................................... 11
2.3.5 Lingkup Sistem Pelayanan Kesehatan ................................................ 12
2.3.6 Pelayanan Perawatan dalam Pelayanan Kesehatan ............................ 12
2.3.7 Faktor yang Mempengaruhi Pelayanan Kesehatan............................. 13
BAB III PENUTUP ..................................................................................... 14
3.1 Kesimpulan ........................................................................................... 14
3.2 Saran ..................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 15

18
ii