Anda di halaman 1dari 5

POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA NIM : P27228015071

JURUSAN OKUPASI TERAPI

PRODI DIPLOMA IV OT TTD :

STIGMA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI KALANGAN


MASYARAKAT

Saat ini, masih banyak ditemukan anak-anak difabel yang terkunci di


dalam rumah dan tidak mendapatkan haknya sebagai anak. Banyak dari mereka
yang tidak mendapatkan hak sesuai dengan kapasitasnya. Anak-anak dikurung di
dalam rumah karena orang tua merasa malu dengan lingkungan sekitarnya terkait
kondisi putra atau putrinya. Di sejumlah desa masih ditemukan kasus anak difabel
yang dirantai atau dipasung. Perilaku demikian terjadi karena kurangnya
informasi dan edukasi.

Masyarakat dianggap sebagai rutinitas hubungan sosial yang


mengantisipasi atribut di luar natural. Adanya perbedaan dalam identitas sosial
maya dan identitas aktual maka akan terbentuk suatu stigma. Stigma muncul dari
adanya kesenjangan atau perbedaan antara identitas sosial maya dan identitas
actual yang sebenarnya. Adanya perbedaan antara virtual social identity dengan
actual social identity akan menyebabkan seseorang diantisipasi secara sosial.
Stigma berasal dari istilah yang merujuk pada suatu tanda-tanda tubuh yang
memperlihatkan sesuatu yang dianggap tidak biasa. Sehingga, stigma merupakan
suatu hubungan akibat adanya suatu atribut atau ciri khas (Goffman, 1963).

Stigma yang salah masih hinggap dalam pemikiran sejumlah orang tua
sehingga diskriminasi terhadap anak difabel tetap ada. Anak tak mendapatkan
haknya untuk memperoleh layanan fasilitas kesehatan, pusat rehabilitasi, atau
sekolah. Padahal, anak difabel memiliki hak yang sama dengan anak lainnya.
Mereka berhak memiliki identitas, mendapatkan pendidikan layak, dan diterima di
lingkungan sekitar. Fakta lainnya, pelayanan kesehatan, pendidikan, serta fasilitas
umum bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia memang masih minim.
Padahal, hak mereka sudah diatur dalam undang-undang, tetapi penerapannya
masih belum sesuai harapan. Di samping itu, masyarakat juga kerap membully
anak berkebutuhan khusus. Persepsi mengenai anak difabel tidak bisa apa-apa dan
tempatnya hanya di rumah atau sekolah luar biasa (SLB) masih kuat melekat di
benak kebanyakan orang. "Paradigma seperti ini yang menjadi penghambat
pemenuhan hak mereka," kata Wiwied menjelaskan (republika.co.id).
Respons terhadap situasi anak penyandang disabilitas umumnya terbatas
pada institusionalisasi, ditinggalkan atau ditelantarkan. Respons semacam ini
merupakan masalah, dan itu sudah mengakar dalam asumsi-asumsi negatif tentang
ketidakmampuan, ketergantungan dan perbedaan yang muncul karena
ketidaktahuan. Yang dibutuhkan sekarang adalah komitmen terhadap hak-hak
anak dan masa depan mereka, dengan memprioritaskan anak yang paling tidak
beruntung sebagai masalah kesetaraan dan manfaat bagi semua.
Anak-anak penyandang disabilitas menghadapi berbagai bentuk
pengucilan dan itu mempengaruhi mereka dalam berbagai tingkatan tergantung
dari jenis disabilitas yang mereka alami, di mana mereka tinggal dan budaya serta
kelas sosial mereka. Gender juga merupakan sebuah faktor penting. Anak-anak
perempuan penyandang disabilitas juga kecil kemungkinan untuk mendapatkan
pendidikan, mendapatkan pelatihan kerja atau mendapatkan pekerjaan
dibandingkan dengan anak laki-laki dengan disabilitas atau anak perempuan tanpa
disabilitas. Anak-anak penyandang disabilitas seringkali dianggap rendah, dan ini
menyebabkan mereka menjadi lebih rentan. Diskriminasi karena disabilitas
berujung pada marginalisasi dari sumber daya dan pembuatan keputusan, dan
bahkan pada kematian anak. Pengucilan seringkali muncul dari penglihatan. Tidak
banyak negara yang memiliki informasi yang bisa diandalkan tentang berapa
banyak warganya yang merupakan anak-anak penyandang disabilitas, disabilitas
macam apa yang mereka alami atau bagaimana disabilitas ini mempengaruhi
kehidupan mereka. Dengan demikian, anak-anak yang dikucilkan terputus dari
pelayanan publik yang sebenarnya mereka berhak untuk mendapatkannya.
Pembatasan ini bisa memiliki efek panjang yang membatasi akses mereka pada
pekerjaan atau partisipasi mereka dalam masalah-masalah kemasyarakatan di
kemudian hari. Namun akses pada pelayanan dan teknologi bisa memposisikan
anak penyandang disabilitas untuk mengambil tempat di dalam masyarakat dan
memberikan kontribusinya (Unicef, 2013).

Permasalahan tersebut masuk dalam kategori occupational injustice yaitu


occupational alienation. Occupatinal alienation adalah suatu keadaan dimana
hilangnya makna atau tujuan dari occupations yang dijalani oleh seseorang dalam
kehidupan sehari-hari sehingga tidak mampu melakukan hal-hal yang penting dan
dibutuhkan untuk melangsungkan kehidupannya.

Diskriminasi dan stigma dari luar tersebut adalah adanya ejekan, sikap
pengucilan dan memandang aneh anak berkebutuhan khusus. Sebagian besar
masyarakat masih menganggap sebelah mata kemampuan penyandang disabilitas.
Padahal, tak sedikit penyandang disabilitas yang berkapasitas dan berkualitas hal
ini terjadi karena tidak adanya bukti bahwa mereka itu berharga dan didukung.
Sehingga hak untuk menyuarakan aspirasi tersebut hilang dan mengganggu
okupasi dari penyandang disabilitas itu sendiri. (kompas.com)

Stigma masyarakat tersebut memiliki sifat yang dapat mengganggu secara


permanen identitas difabel dan akan menghalangi partisipasi penuh mereka dalam
masyarakat, sehingga stigma tersebut melahirkan atribut yang dapat mengganggu
identitas individu (Goffman 1963 dalam Ritzer, 2004).

Sebagai tenaga kesehatan harus memberikan sosialisasi mengenai isu-isu


disabilitas guna membentuk masyarakat inklusif mengenai disabilitas. Dalam
upaya meningkatkan peran serta penyandang difabel dalam masyarakat
penyandang difabel hendaknya ikut dalam berbagai forum diskusi guna
menambah wawasan dan informasi sehingga bisa menyelesaikan persoalan yang
berkaitan dengan isu-isu difabel, dan himbauan kepada masyarakat agar dapat
menerima dan menghormati hak-hak penyandang difabel dan memberi ruang bagi
mereka dalam berpartisipasi di kehidupan sosial guna mewujudkan harapan dan
cita - cita yang telah dibangun bersama. Selain itu, peran serta pemerintah dalam
menangani permasalahan difabel yang berkaitan dengan aksesibilitas dan
kesejahteraan sosial (Mutassim, 2016). Dengan kata lain, manusia memiliki
eksistensi serta kedudukan yang sama, terlepas dari manusia tersebut menyandang
disabilitas atau tidak.

Diharapkan dengan adanya komunikasi yang baik melalui media massa


atau program penyuluhan dapat mengurangi tingkat diskriminasi di masyarakat.

.
DAFTAR PUSTAKA

Anak Penyandang Disabilitas. (2013). United Nations Childrens Fund


(UNICEF). https://www.unicef.org/indonesia/id/SOWC_Bahasa.pdf.
Diakses pada tanggal 28 Oktober 2017 pukul 13:25 WIB.

IKEA FOUNDATION (2014). Parenting Hak Anak Difabel.


http://www.republika.co.id/berita/koran/leasure/14/12/16/ngny4a4-
parenting-hak-anak-difabel. Diakses pada tanggal 28 Oktober 2017 pukul
13:15 WIB.
Mutassim. (2016). STIGMA SOSIAL TERHADAP PENYANDANG DIFABEL
DI KECAMATAN PONTIANAK BARAT. Jurnal S-1 Sosiologi , Volume
4 Nomor 1.

Nainggolan, Y. (2015). RUU Penyandang Disabilitas. KOMPAS.


http://nasional.kompas.com/read/2015/07/14/15350001/RUU.Penyandang.
Disabilitas?page=all. Diakses tanggal 30 Oktober 2017 pukul 20.47 WIB.