Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
LAPORAN KASUS

1.1 STATUS PASIEN


1. Identitas Pasien
Nama : Ny. M
Umur : 43 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : RT. 18 Payo Lebar

2. Latar Belakang sosial-ekonomi-demografi-lingkungan keluarga


Status Perkawinan : Sudah menikah
Jumlah Anak : 3 orang
Jumlah Saudara : 3 orang (Anak ketiga)
Status Ekonomi Keluarga : Cukup
Kondisi Rumah :

Rumah pasien merupakan rumah permanen dengan ukuran 14x12 m


yang dihuni oleh 5 orang yaitu pasien, suami dan 3 anaknya. Rumah terdiri
dari 1 teras, 1 ruang tamu, 3 kamar tidur, 1 ruang makan, 1 dapur dan 2
kamar mandi. Rumah pasien disertai ventilasi di bagian depan dan samping
rumah, atap terbuat dari seng, lantai rumah terbuat dari keramik dan dinding
beton. Pintu dan jendela rumah terdapat di depan dan disamping,
pencahayaan di dalam rumah pasien tergolong baik. Pencahayaan alamiah
cukup dan pencahayaan buatan untuk penerangan malam hari digunakan
lampu pijar.
2

Tampak depan rumah pasien Keadaan kamar pasien

Keadaan dapur rumah pasien Keadaan kamar mandi pasien

Sumber air bersih berasal dari PDAM, air yang digunakan untuk masak,
mandi dan mencuci dari air PDAM sedangkan air untuk minum berasal dari
air PDAM yang dimasak sampai mendidih. terdapat 2 wc/kamar mandi,
jamban yang digunakan keluarga merupakan jamban dengan leher angsa.
Lingkungan sekitar rumah merupakan lingkungan padat penduduk dan
cukup bersih. Terdapat selokan di belakang rumah, dan untuk pembuangan
3

air limbah langsung ke dalam septic tank. Sampah biasanya dibuang di


tempat pembuangan sampah umum. Kondisi dapur rumah pasien cukup
rapi, barang-barang terletak beraturan, pencahayaan dapur cukup baik
karena terdapat jendela yang disertai ventilasi dan pintu.

Kondisi Lingkungan Keluarga :


Pasien tinggal bersama suami dan ketiga anaknya. Sumber
penghasilan keluarga berasal dari gaji suami sebagai karyawan
swasta dan pasien sebagai penjahit. Keharmonisan keluarga pasien
baik. Tidak ada masalah dalam hubungan satu sama lain.

Aspek Psikologis di Keluarga


Pasien merupakan seorang ibu bagi 3 anaknya. Pasien tinggal
bersama suami dan 3 orang anak dirumahnya, 2 orang anak laki-laki
dan satu orang anak perempuan. Hubungan pasien dengan anggota
keluarga yang lain baik.

3. ANAMNESIS
Keluha Utama
Nyeri ulu hati sejak 2 hari sebelum datang ke puskesmas.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengeluh nyeri ulu hati sejak 2 hari sebelum datang ke
puskesmas, nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk, nyeri berkurang bila
pasien minum obat promagh dan sedikit hilang apabila pasien makan,
nyeri bertambah berat apabila pasien terlambat makan dan memakan
makanan yang pedas, nyeri dirasakan tidak menjalar ke punggung. Pasien
juga mengaku perut terasa kembung dan rasa tidak enak diperut, mual (+),
muntah (+), muntahan terasa asam, muntah darah (-), demam (-). Nafsu
makan berkurang, badan terasa lemah namun pasien masih dapat
melakukan aktivitas sehari-hari. BAK dan BAB biasa.
4

Pasien sudah membeli obat di warung (promag), keluhan dirasakan


sedikit berkurang namun kembali nyeri pada ulu hati. Pasien mengaku
beberapa hari ini makan tidak teratur. Riwayat makan makanan asam dan
pedas diakui pasien. Kebiasaan konsumsi teh dan kopi (+), jamu-jamuan (-
) obat-obatan penghilang nyeri (-), penggunaan obat aspirin dan
deksametason (-). Keluhan ini sering dirasakan pasien 3 tahun terakhir
terutama saat pasien terlambat makan.

Riwayat penyakit dahulu:


Riwayat alergi obat-obatan (-), alergi makanan (-), riwayat asma (-).

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan yang sama.

4. Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
b) Pengukuran Tanda Vital :
Nadi : 88x per menit, reguler, kuat angkat
Suhu : 36,7C
Respirasi : 20x/menit, reguler
BB : 55 kg
TB : 160 cm

Pemeriksan Organ:
Kepala :
Bentuk : Simetris, normocephal
Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, cekung -/-
Telinga : Dalam Batas Normal
Hidung : Napas cuping hidung -/-, Sekret -/-, Epistaksis -/-
Mulut : Bibir sianosis (-), Mukosa basah (+), lidah kotor(-)
5

Thoraks:
Paru :
Inspeksi : Simetris kiri dan kanan
Palpasi : Fremitus kiri dan kanan normal
Perkusi : Sonor
Auskustasi : Suara nafas vesikuler, Rhonki -/-, wheezing -/-
Jantung :
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus kordis teraba, tidak kuat angkat
Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : BJ I-II regular, gallop (-), murmur (-)
Abdomen:
Inspeksi : Datar, jaringan parut (-)
Auskultasi : BU (+) normal
Palpasi : Nyeri tekan epigastrium (+), Ballotemen (-),
Hepar lien tidak teraba
Perkusi : Timpani, nyeri CVA (-)

5. Pemeriksaan laboratorium dan anjuran


- Darah rutin
- Endoskopi

6. Diagnosa Kerja :
Gastritis kronik (K29.5)

7. Diagnosa Banding :
1. Ulkus Gaster (K25)
2. Ulkus duodenum (K26)
3. Gastroesophageal reflux disease (GERD) (K21)
6

8. Manajemen
a. Promotif
- Menjelaskan kepada pasien mengenai peyakitnya yaitu penyebab,
faktor yang memperberat penyakit, pencegahan dan
komplikasinya.
- Istirahat yang cukup, tidur selama 8-9 jam dari jam 21.00 sampai
jam 05.00 wib, dan tidak boleh terlalu capek.
- Mengatur pola makan yang benar dengan cara makan 5 x sehari
dan jangan sampai telat makan. Mengonsumsi makanan yang
bergizi yang terdiri dari nasi, lauk pauk (ikan/ ayam/ telur/ tahu/
tempe), sayur (bayam/ kangkung/ wortel), dan buah ( jeruk/ apel/
pisang/ pepaya).
- Mengonsumsi makanan yang teksturnya lembut dan juga lunak.
Sebaiknya jangan makan terlalu banyak dalam satu waktu makan
dan usahakan untuk makan dengan jumlah sedikit namun frekuensi
sering.
- Menjelaskan kepada pasien tidak mengkonsumsi makanan yang
dapat mengiritasi terutama makanan yang pedas, asam, gorengan
atau berlemak.
- Menganjurkan pasien untuk selalu menyediakan cemilan-cemilan
sehat untuk dimakan karena orang yang menderita gastritis harus
sering makan dengan porsi sedikit terutama jika pasien sedang
berpergian keluar rumah.
b. Preventif
- Jangan terlambat makan, sebaiknya makan tepat waktu.
- Jangan mengonsumsi makanan yang pedas, terlalu panas ataupun
terlalu dingin.
- Hindari stress
- Jangan sembarangan membeli obat diwarung.
- Kurangi aktivitas yang terlalu berat, jam kerja tidak melebihi jam 9
malam
7

c. Kuratif
Non farmakologi
- Istirahat yang cukup, tidur selama 8-9 jam dari jam 21.00
sampai jam 05.00 wib, dan tidak boleh terlalu capek.
- Mengatur pola makan yang benar dengan cara makan 5 x
sehari dan jangan sampai telat makan. Mengonsumsi makanan
yang bergizi yang terdiri dari nasi, lauk pauk (ikan/ ayam/
telur/ tahu/ tempe), sayur (bayam/ kangkung/ wortel), dan buah
( jeruk/ apel/ pisang/ pepaya).
- Tidak memakan makanan yang dapat mengiritasi terutama
makanan yang pedas, asam, gorengan atau berlemak.
- Cukup minum minimal 8 gelas sehari.
- Menganjurkan pasien untuk selalu menyediakan cemilan-
cemilan sehat untuk dimakan karena orang yang menderita
gastritis harus sering makan dengan porsi sedikit terutama jika
pasien sedang berpergian keluar rumah, seperti roti tawar, roti
gabin dan biskuit.

Farmakologi
1. Resep puskesmas
- Antasida tablet 200 mg 3 x sehari
- Domperidon tablet 10 mg 2 x sehari
- Vitamin B Compleks 1 x sehari
2. Resep ilmiah
- Antasida tablet 200 mg 3 x sehari
3. Resep ilmiah
- Ranitidin tablet 150 mg 2 x sehari
4. Resep ilmiah
- Omeprazol tablet 20 mg 2 x sehari
8

Obat tradisional
Ramuan Gastritis I
Bahan : Kunyit 2 buah
Cara : Parut kunyit tersebut kemudian diperas hingga
keluar airnya, kemudian minumlah air perasan kunyit tersebut.
Aturan : Diminum 2-3 kali sehari sebelum makan.

d. Rehabilitasi
Menjelaskan kepada pasien agar selalu menjaga pola makan dan minum
obat secara teratur dan menginstruksikan pasien agar menghabiskan
obat-obat yang diberikan. Jika nyerinya makin bertambah dan ada
muntah darah segera dibawa ke puskesmas atau ke rumah sakit.
9

Resep puskesmas Resep ilmiah 1

Dinas Kesehatan Kota Jambi Dinas Kesehatan Kota Jambi


Puskesmas Simpang Kawat Puskesmas Simpang Kawat
Dr. Rina Maya Sari Dr. Rina Maya Sari
SIP : 123456 SIP : 123456
Jambi, 2017 Jambi, 2017

Pro : Pro :
Alamat : Alamat :
Resep tidak boleh ditukar tanpa Resep tidak boleh ditukar tanpa
sepengetahuan dokter sepengetahuan dokter

Resep ilmiah 2 Resep ilmiah 3

Dinas Kesehatan Kota Jambi Dinas Kesehatan Kota Jambi


Puskesmas Simpang Kawat Puskesmas Simpang Kawat
Dr. Rina Maya Sari Dr. Rina Maya Sari
SIP : 123456 SIP : 123456
Jambi, 2017 Jambi, 2017

Pro : Pro :
Alamat : Alamat :
Resep tidak boleh ditukar tanpa Resep tidak boleh ditukar tanpa
sepengetahuan dokter sepengetahuan dokter
10

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Gastritis merupakan suatu keadaan peradangan atau perdarahan mukosa
lambung yang dapat bersifat akut, kronis dan difus atau lokal. Gastritis erosif bila
terjadi kerusakan mukosa lambung yang tidak meluas sampai epitel.1
Gastritis merupakan penyakit yang sering ditemukan, biasanya bersifat jinak
dan merupakan respon mukosa terhadap berbagai iritan lokal. Endotoksin bakteri
(setelah menelan makanan), kafein, alkohol, dan aspirin merupakan pencetus yang
lazim. Infeksi Helicobacter pylori lebih sering dianggap penyebab gastritis akut.
Obat-obatan seperti obat anti inflamasi non steroid (OAINS) sulfonamid, steroid
juga diketahui mengganggu sawar mukosa lambung.1

2.2 Epidemiologi
Insidensi H. pylori mendekati 90% pada orang dewasa dan anak-anak lebih
tinggi. Insidensi gastritis meningkat seiring dengan pertambahan umur. Insidensi
gastritis yang disebabkan infeksi H. Pylori meningkat pada usia 8-16 tahun.
Sosioekonomi yang rendah dan riwayatkeluarga yang memiliki ulkus gaster juga
berhubungan dengan kejadian gastritis.2

2.3 Klasifikasi
Gastritis ada 2 kelompok yaitu gastritis akut dan gastritis kronik. Salah
satu bentuk gastritis akut yang sering dijumpai di klinik ialah gastritis akut
erosif. Gastritis akut erosif adalah suatu peradangan mukosa lambung yang akut
dengan kerusakan-kerusakan erosif. Disebut erosif apabila kerusakan yang
terjadi tidak lebih dalam daripada mukosa muskularis.2
Gastritis kronik bukan merupakan lanjutan dari gastritis akut, dan
keduanya tidak saling berhubungan. Gastritis kronis adalah suatu peradangan
bagian permukaan mukosa lambung yang berkepanjangan yang disebabkan baik
oleh ulkus lambung jinak maupun ganas atau oleh bakteri Helicobacter pylori.
11

Gastritis kronik juga masih dikelompokkan lagi dalam 2 tipe yaitu tipe A dan
tipe B. Gastritis kronik tipe A jika mampu menghasilkan imun sendiri. Tipe ini
berhubungan dengan atropi dari kelenjar lambung dan penurunan mukosa.
Penurunan pada sekresi gastrik mempengaruhi produksi antibodi. Anemia
pernisiosa berkembang pada proses ini. Gastritis kronik tipe B lebih lazim. Tipe
ini berhubungan dengan infeksi helicobacter pylori yang menimbulkan ulkus
pada dinding lambung.2,3

2.4 Etiologi dan Patogenesis


a. Helicobater pylori
Individu sehat dibawah umur 30 tahun mempunyai angka prevalesi
koloni H. Pylori pada lambung sekitar 10 %. Kolonisasi meningkat sesuai
umur, pada mereka yang berumur lebih dari 60 tahun mempunyai tingkat
kolonisasi sesuai umur mereka. H. pylori merupakan basil gram-negatif,
spiral dengan flagel multipel lebih menyukai lingkungan mikroaerofilik.
H. Pylori tidak menyerang jaringan, menghuni dalam gel lendir yang
melapisi epitel. H. pylori mengeluarkan urease yang memecah urea
menjadi amnion dan CO2 sehingga milieu akan menjadi basa dan kuman
terlindungi terhadap faktor merusak dari asam lambung. Di samping itu,
kuman ini membentuk platelet activing factor yang merupakan pro
inflamatory sitokin. Sitokin yang terbentuk mempunyai efek langsung
pada sel epitel melalui ATP-ase dan proses transport ion.2,4
b. OAINS dan Alkohol
OAINS dan alkohol merupakan zat yang dapat merusak mukosa
lambung dengan mengubar permeabilitas sawar epitel, sehingga
memungkinkan difus balik asam klorida yang mengakibatkan kerusakan
jaringan terutama pembuluh darah. Zat ini menyebabkan perubahan
kualitatif mukosa lambung yang dapat mempermudah terjadinya degradasi
mukus oleh pepsin. Mukosa menjadi edem, dan sejumlah besar protein
plasma dapat hilang. Mukosa kapiler dapat rusak mengakibatkan hemoragi
interstisial dan perdarahan. Mukosa antrum lebih rentan terhadap difusi
12

balik dibanding fundus sehinga erosif serin terjadi di antrum. Difus balik
ion H akan merangsang histamin untuk lebih banyak mengeluarkan asam
lambung, timbul dilatasi dan peningkatan permeabilitas pembuluh kapiler,
kerusakan mukosa lambung.1,2

c. Stres ulkus
Istilah stres ulkus digunakan untuk menjelaskan erosi lambung yang
terjadi akibat stress psikologis atau fisiologis yang berlangsung lama.
Bentuk stress dapat bermacam-macam seperti syok hipotensif setelah
trauma dan operasi besar, sepsis, hipoksia, luka bakar hebat (ulkus
Curling), atau trauma serebral (ulkus Cushing). Gastritis erosive akibat
stress memiliki lesi yang dangkal, ireguler, menonjol keluar, multiple. Lesi
dapat mengalami perdarahan lambat menyebabkan melena, dan seringkali
tanpa gejala. Lesi ini bersifat superficial. Ulkus stress dibagi menjadi 2.
Ulkus cushing karena cedera otak ditandai oleh hiperasiditas nyata yang
diperantarai oleh rangsang vagus dan ulkus curling an sepsis ditandai oleh
hipersekresi asam lambung. Sebagian besar peneliti setuju bila iskemia
mukosa lambung adalah faktor etiologi utama yang menyebabkan
terjadinya destruksi sawar lambung dan terbentuk ulserasi.1,2

2.5 Diagnosis
Diagnosis gastritis erosif ditegakkan berdasarkan pengamatan klinis,
pemeriksaan penunjang (radiologi dan endoskopi), dan hasil biopsi untuk
pemeriksaan kuman H. pylori. Pemeriksaan endoskopi memudahkan diagnosis
tepat erosif. Dengan endoskopi memungkinkan visualisasi dan dokumentasi
fotografik sifat ulkus, ukuran, bentuk dan lokasinya dan dapat menjadi dasar
referensi untuk penilaian penyembuhan. Pada pemeriksaan radiologi didapatkan
gambaran niche atau crater. Pemeriksaan tes CLO/PA untuk menunjukkan
apakah ada infeksi H. pylori dalam rangka eradikasi kuman.3,5
13

Pemeriksaan Penunjang :
1. EGD (Esofagogastriduodenoskopi) merupakan tes diagnostik kunci
untuk perdarahan GI atas, dilakukan untuk melihat sisi perdarahan
/derajat ulkus jaringan / cedera.
2. Minum barium dengan foto rontgen, dilakukan untuk membedakan
diagnosa penyebab / sisi lesi.
3. Analisa gaster dapat dilakukan untuk menentukan adanya darah,
mengkaji aktivitas sekretori mukosa gaster, contoh peningkatan
asam hidroklorik dan pembentukan asam nokturnal penyebab ulkus
duodenal. Penurunan atau jumlah normal diduga ulkus gaster,
dipersekresi berat dan asiditas menunjukkan sindrom Zollinger-
Ellison.
4. Angiografi, vaskularisasi GI dapat dilihat bila endoskopi tidak dapat
disimpulkan atau tidak dapat dilakukan. Menunjukkan sirkulasi
kolatera dan kemungkinan isi perdarahan.
5. Amilase serum akan meningkat dengan ulkus duodenal, kadar rendah
diduga gastritis.3

2.6 Diagnosis Banding


- Ulkus peptikum
- Ulkus duodenum
- GERD

2.7 Penatalaksanaan
Terapi pada gastritis erosif terdiri dari terapi non-medikamentosa dan
medikamentosa. Tujuan dari terapi adalah menghilangkan keluhan,
menyembuhkan atau memperbaiki erosi, mencegah kekambuhan dan mencegah
komplikasi.2,3
14

Non-medikamentosa
1. Istirahat
Stres dan kecemasan memegang peran dalam peningkatan asam lambung.
Sebaiknya pasien hidup tenang dan menerima stres dengan wajar.
2. Diet
Makanan lunak apalagi bubur saring, makanan yang mengandung susu
tidak lebih baik dari makanan biasa, karena makanan halus dapat merangsang
pengeluaran asam lambung. Cabai, makanan merangsang, makanan mengandung
asam dapat menimbulkan rasa sakit.3

Medikamentosa
1. Antasida
Pada saat ini sudah jarang digunakan, sering untuk menghilangkan rasa
sakit. Dosis 3x1 tablet.3
2. Koloid Bismuth
Mekanisme kerja belum jelas, kemungkinan membentuk lapisan
penangkal bersama protein pada dasar ulkus dan melindunginya terhadap
pengaruh asam dan pepsin. Dosis 2x2 sehari. Efek samping feses kehitaman
sehingga menimbulkan keraguan dengan perdarahan. 3
3. Sukralfat
Mekanisme kerja kemungkinan melalui pelepasan kutub alumunium
hidroksida yang berkaitan dengan kutub positif molekul protein membentuk
lapisan fisikokemikal pada dasar ulkus, yang melindungi dari asam dan pepsin.
Efek lain membantu sintesis prostaglandin dan menambah sekresi bikarbonat dan
mukus, meningkatkan daya pertahanan dan perbaikan mukosa.2
4. Prostaglandin
Mekanisme kerja dengan mengurangi sekresi asam lambung, menambah
sekresi mukus, bikarbonat dan menambah aliran darah mukosa serta pertahanan
dan perbaikan mukosa. Biasanya digunakan sebagai penangkal ulkus gaster pada
pasien yang menggunakan OAINS.3
15

5. Antagonis Reseptor H2/ ARH2


Struktur homolog dengan histamin. Mekanisme kerjanya memblokir efek
histamin pada sel parietal untuk tidak memproduksi asam lambung. Dosis:
Simetidin (2x400 mg), Ranitidin 300 mg/hari, Nizatidin 1x300 mg, Famotidin
(1x40 mg), Roksatidin (2x75 mg).3
6. Proton Pump Inhibitor/ PPI
Mekanisme kerja memblokir enzim K+H+- ATP ase yang akan memecah
K+H+- ATP menjadi energi yang digunakan untuk mengeluarkan asam lambung.
Penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kenaikan gastrin darah. PPI
mencegah pengeluaran asam lambung, menyebabkan pengurangan rasa sakit,
mengurangi faktor agresif pepsin dengan PH>4. 3
Omeprazol 2x20 mg
Lanzoprazol/ Pantoprazol 2x40 mg
7. Penatalaksanaan Infeksi H. Pylori
Terapi tripel
- PPI 2x1 + Amoksisislin 2x1000 + Klaritromisin 2x500
- PPI 2x1 + Metronidazol 3x500 + Klaritromisin 2x500
- PPI 2x1 + Metronidazol 3x500 + Amoksisilin 2x1000
- PPI 2x1 + Metronidazol 3x500 + Tetrasiklin 4x500
Terapi Kuadrupel, jika gagal dengan terapi tripel. Regimen terapinya
yaitu: PPI 2x1, Bismuth 4x2, metronidazol 4x250, tetrasiklin 4x500.3

KOMPLIKASI
Komplikasi gastritis dibagi menjadi dua yaitu gastritis akut dan gastritis
kronik.
Gastristis akut komplikasinya adalah perdarahan saluran cerna bagian atas
berupa hematemesis dan melena, dapat berakhir syok hemoragik.
Gastritis kronik komplikasinya adalah perdarahan saluran cerna bagian
atas, ulkus, perforasi dan anemia.
16

BAB III
ANALISA KASUS

ANALISIS PASIEN SECARA HOLISTIK


a. Hubungan diagnosis penyakit dengan keadaan rumah dan lingkungan
sekitar
Dari hasil anamnesis didapatkan keluhan utama nyeri pada ulu hati sejak 2
hari yang lalu, nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk, nyeri berkurang bila
pasien minum obat promagh dan sedikit hilang apabila pasien makan, nyeri
bertambah berat apabila pasien terlambat makan dan memakan makanan
yang pedas, nyeri dirasakan tidak menjalar ke punggung, nyeri pada ulu hati
ini diikuti dengan ada rasa tidak enak pada perut, perut kembung, mual dan
muntah, dimana muntahan terasa asam. Hal ini menunjukkan adanya
peningkatan produksi asam lambung yang menyebabkan keluhan tersebut.
Keluhan ini sering dirasakan pasien sejak 3 tahun yang lalu, dimana keluhan
dirasakan berulang jika pasien terlambat makan ataupun mengalami stres
psikologi. Dari pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan epigastrium
sehingga di diagnosa sebagai Gastritis Kronis. Dan tidak adanya darah di
muntahan ataupun saat BAB dapat menyingkirkan diagnosis banding ulkus
peptikum. Namun dapat dilakukan endoskopi untuk mengetahui secara pasti
penyebab keluhan tersebut.
Gastritis kronis merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan
meningkatkatnya asam lambung yang menyebabkan berbagai keluhan. Jika
dilihat dari keadaan rumah, keadaan rumah os dinilai cukup baik dan bersih.
Halaman depan rumah terawat dengan baik. Tidak ada pabrik di sekitar
lingkungan rumah pasien.
Penyakit ini tidak mempunyai hubungan dengan keadaan rumah dan
lingkungan sekitar. Keadaan rumah pasien cukup bersih sehingga tidak
terdapat hubungan antara penyakit pasien dengan keadaan rumah dan
lingkungan sekitar.
17

b. Hubungan diagnosis dengan keadaan keluarga dan hubungan keluarga


Jika dilihat dari penyakit yang diderita Ny. D dengan keadaan keluarga dan
hubungan keluarga, keadaan dan hubungan keluarga pasien terjalin cukup
baik. Selama anamnesis pasien mengatakan bahwa bila mendapatkan tawaran
menjahit yang banyak pasien merasa kesulitan karena tidak ada yang
membantu dan pasien sering tidur larut malam untuk menyelesaikannya
sehingga pasien menjadi sering telat makan. Faktor stress dan kecemasan
yang dirasakan pasien adalah salah satu pemicu penyakit gastritis pada pasien
ini.

c. Hubungan diagnosis dengan perilaku kesehatan dalam keluarga dan


lingkungan sekitar
Perilaku kesehatan pasien dalam hal mengatur pola makan pasien dalam
keluarga dianggap berhubungan terhadap penyakit yang dialami pasien.
Perilaku kesehatan pasien tergolong tidak baik, hal ini tergambar dari
kebiasaan pola makan dan pola hidup yang tidak sehat seperti :
- Pasien mengaku beberapa hari ini makan tidak teratur dan riwayat makan
makanan asam dan pedas.
- Kebiasaan minum teh dan kopi.
- Pasien juga sangat jarang berolah raga dan kurang tidur.
Bila dilihat dari keadaan perilaku kesehatan pasien maka jelas ada
hubungannya dengan penyakit yang dialami oleh pasien karena hal-hal
tersebut merupakan faktor resiko dari penyakit gastritis.
Terdapat hubungan antara perilaku kesehatan dalam keluarga dengan
penyakit yang diderita pasien.

d. Analisis kemungkinan faktor risiko atau etiologi penyakit pada pasien


Pada pasien ini dari anamnesis yang dilakukan terhadap berbagai faktor yang
bisa menyebabkan terjadinya penyakit ini didapatkan kesimpulan bahwa
kebiasaan pasien dengan tidak menjaga pola makan yang teratur, seringnya
18

mengonsumsi makan makanan asam dan pedas, kurangnya aktifitas olahraga


menjadi faktor resiko yang mendukung terjadinya penyakit ini.

e. Analisis untuk mengurangi paparan


Pasien kita edukasi mengenai penyakit yang diderita dan penatalaksanaan
yang diberikan. Menghindari makanan pencetus yang merangsang, seperti
pedas, asam, tinggi lemak. Makan teratur, sedikit tapi berulang kali (sering),
makanan banyak yang mengandung susu tapi dalam porsi kecil, dan makanan
yang dimakan harus lembek, mudah dicerna, tidak dirangsang dan dapat
menetralisir asam lambung. Selain itu juga harus diikuti dengan banyak
konsumsi buah, sayuran, dan produk-produk rendah lemak.

Rencana Promosi Dan Pendidikan Kesehatan Kepada Pasien Dan Kepada


Keluarga
Menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta olahraga untuk mewujudkan
hidup yang sehat dan bersih.
Menjelaskan kepada pasien dan keluarga pasien tentang faktor-faktor yang
dapat memicu kekambuhan gastritis seperti :
a. Faktor makan (pola makan)
Pada kasus gastritis biasanya diawali oleh pola makan yang tidak
teratur sehingga lambung menjadi sensitif bila asam lambung
meningkat. Gastritis juga dapat timbul setelah minum alkohol atau
kopi serta makanan yang pedas dan sulit dicerna. Kekambuhan
gastritis dapat disebabkan oleh pola makan yaitu frekuensi makan,
jenis, dan jumlah makanan. Sedangkan Frekuensi makan di berikan
sedikit tapi sering. Makan dalam porsi besar dapat menyebabkan
refluks isi lambung. Konsumsi jenis makanan yang berserat dan
bergas dapat menyebabkan gastritis, dan juga stres dapat
menyebabkan luka pada saluran pencernaan .
b. Faktor obat-obatan
19

Konsumsi obat-obat pereda nyeri tanpa diawasi dokter dikarekan


dalam tingkat konsumsi yang berlebihan dapat menimbulkan
gastritis.
c. Faktor psikologis
Stres baik primer maupun sekunder dapat menyebabkan peningkatan
produksi asam lambung dan gerakan peristaltik lambung.
d. Infeksi bakteri
Gastritis akibat infeksi dari luar tubuh jarang terjadi, sebab bakteri
tersebut akan terbunuh oleh asam lambung.
Menjelaskan kepada pasien dan keluarga pasien untuk melakukan diet
lambung, bertujuan untuk:
a. Memberikan makanan yang adekuat dan tidak mengiritasi lambung.
b. Menghilangkan gejala penyakit.
c. Menetralisir asam lambung dan mengurangi produksi asam lambung.
d. Mempertahankan keseimbangan cairan.
e. Mengurangi gerakan peristaltik lambung.
f. Memperbaiki kebiasaan makan pasien.
Prinsip diet bersifat ad libitum, yang artinya adalah bahwa diet
lambung dilaksanakan berdasarkan kehendak pasien dan pasien dianjurkan
untuk makan secara teratur, tidak terlalu berlebihan dan juga tidak boleh
kekurangan makan. Makanan yang dikonsumsi harus mengandung cukup
kalori dan protein (TKTP) namun kandungan lemak/minyak,.Makanan
pada diet lambung harus mudah dicerna dan rendah serat, terutama serat
tidak larut dalam air yang ditingkatkan secara bertahap. Makanan tidak
boleh mengandung bahan yang merangsang, menimbulkan gas, bersifat
asam, dan yang bersifat melekat.

Rencana Edukasi penyakit kepada pasien dan kepada keluarga :


- Menjelaskan kepada pasien dan keluarga pasien bahwa penyakit ini
merupakan penyakit yang dapat berulang kembali dan dapat dicegah
20

kekambuhannya dengan mengatur pola makan dan mengkonsumsi makanan


yang tidak merangsang meningkatnya asam lambung.
- Menjelaskan kepada pasien dan keluarga pasien untuk menghindari stres baik
fisiologis maupun psikologis dengan istirahat yang cukup dan melakukan
kegiatan yang positif dikarenakan stres dapat meningkatkan resiko
kekambuhan gastritis.
- Menjelaskan kepada pasien bagaimana cara konsumsi obat, menjelaskan
komplikasi yang dapat terjadi akibat penyakit tersebut sehingga apabila tidak
ada perbaikan atau keluhan yang memburuk pasien diminta kembali kontrol
ke puskesmas ataupun sarana kesehatan lainnya untuk dilakukan pemeriksaan
yang lebih lanjut.
21

DAFTAR PUSTAKA

1) Hirlan. Gastritis dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid 1. Jakarta.
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia:
2006. hal. 335-7.
2) Tarigan P. Tukak Gaster dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid 1.
Jakarta. Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia: 2006. hal. 338-44.
3) Djojoningrat D. Dispepsia Fungsional dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam, jilid 1. Jakarta. Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia: 2006. hal. 352-4.
4) Lindseth G. Gangguan Lambung dan Duodenum dalam Patofisiologi Konsep
Klinis Proses-proses Penyakit, volume 1. ECG: 2006. hal. 422-3.
5) Mubin H. Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam Diagnosis dan Terapi. EGC:
2001. hal 240.