Anda di halaman 1dari 7

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmatNya Panduan Second
opini dapat diseleseikan.

Untuk meningkatkan kualitas dan mutu Rumah Sakit, maka Rumah Sakit Umum Hermina Arcamanik
memberikan hak pasien dalam mendapatkan, memahami dan menyetujui diagnose dan rencana
pelayanan di Rumah sakit dengan sejelas jelasnya.

Dengan terbitnya Panduan Second Opini ini diharapkan dapat memberikan kenyamanan dan
kepuasan kepada pasien saat pasien mendapat pelayanan di Rumah Sakit Umum Hermina
Arcamanik.Selain itu dapat menjadi buku panduan bagi staf dalam memberikan pelayanan kepada
pasien.

Akhir kata kami ucapkan banyak terimakasih kepada lingkungan semua pihak yang telah membantu
terwujudnya Panduan Second Opini RS Hermina Arcamanik.
DAFTAR ISI

Keputusan Direktur tentang kebijakan Second Opini di Rumah sakit Umum Hermina
Arcamanik

Keputusan Direktur tentang Penetapan Panduan Second Opini di Rumah Sakit Umum
Hermina Arcamanik

KATA PENGANTAR ........................................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................................................ii

BAB I

DEFINISI ....1

BAB II

RUANG LINGKUP ..2

BAB III

TATA LAKSANA ....3

BAB IV

DOKUMENTASI .....4

Lampiran

1. SPO Second Opini


2. Formulir Second Opini
PANDUAN SECOND OPINION
DI DALAM DAN DI LUAR RUMAH SAKIT

BAB I
DEFINISI

1. Second opinion adalah proses mencari evaluasi oleh dokter lain atau ahli bedah untuk
mengkonfirmasi rencana diagnosis dan pengobatan dari dokter utama, atau untuk
menawarkan diagnosis alternatif atau pendekatan pengobatan.
2. Second opinion juga bisa dikatakan sebagai pendapat kedua yaitu pendapat dari dokter
selain yang pertama kali yang memeriksa pasien yang bertujuan untuk mendapatkan
persepektif yang berbeda.
3. Dokter kedua tersebut biasanya adalah dokter yang bidang keahlian yang sama dengan
dokter yang pertama.
4. Dokter kedua sebaiknya independen, yaitu tidak dipengaruhi oleh pendapat dokter
pertama, pasien sebaiknya memilih dokter lain yang tidak memiliki hubungan dekat
dengan dokter pertama.
5. Pendapat kedua tidak sama dengan rujukan ketika dokter meminta pasien mengunjungi
dokter lain yang lebih spesialis itu adalah rujukan bukan pendapat ke dua atau second
opinion.
BAB II
RUANG LINGKUP

1. Second opinion dapat dilakukan oleh seorang pasien dan pasien tidak perlu
meminta ijin kepada dokter pertama untuk mendapatkannya
2. Pasien berhak mendapatkan informasi yang lengkap tentang penyakitnya,
pilihan pengobatan, resiko, efek samping, dan tingkat keberhasilannya
3. Pasien perlu mendapatkan second opinion seperti :
Pasien setuju dengan dokter pertama tetapi ingin mendapatkan peneguhan/
kepastian baik diagnosa maupun masalah terkait dengan pasien .
Pasien merasa pendapat dokter pertama tidak jelas, membingungkan atau
kurang menyakinkan
Pasien merasa diagnosis tidak cocok dengan keluhan yang dirasakan
sehingga meragukan
Pasien merasa bahwa penyebab gejala tidak ditemukan atau tidak
sepenuhnya diekplorasi
Pasien disarankan untuk menjalani pembedahan tetapi pasien merasa
therapi non bedah mungkin masih dapat dilakukan/ masih ragu untuk
dilakukan tindakan .
Pasien diberi beberapa saran pengobatan tetapi pasien kesulitan memilih
Pasien telah menjalani tetapi kondisinya tidak kunjung membaik
Dokter pertama mengatakan bahwa kondisi pasien baik-baik saja tetapi
pasien tidak merasa demikian sehingga diperlukan untuk second opinion .
Dokter pertama merekomendasikan pengobatan yang menurut pasien tidak
diperlukan
Dokter pertama mengatakan bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi
untuk penyakit pasien
Pasien merasa dokter pertama kurang mengikuti perkembangan ilmu dn
keahliannya
Dokter pertama menyarankan untuk meminta pendapat kedua dari dokter
lain

4. Dari hal tersebut diatas dokter dan manajemen rumah sakit harus memfasilitasi
hak pasien tersebut.
BAB III
TATA LAKSANA

A. Second opinion yang diajukan dari pasien adalah :


1. Pasien mengajukan secara lisan kepada perawat atau dokter
2. Pasien yang mengajukan second opinion menuliskan permohonan tersebut
dalam lembar integrasi rawat inap dan di tandatangani oleh pasien yang
memberi surat pernyataan
3. Jika pasien tidak menunjuk dokter maka rumah sakit akan mencarikan
dokter yang diinginkan oleh pasien atau keluarga
4. Jika pasien punya dokter yang direkomendasi maka perawat meminta
nomor telphone yang bisa dihubungi
5. Selanjutnya perawat menghubungi dokter tersebut dan mengutarakan
maksud dan tujuan dari second opinion
B. Second opinion yang diajukan dari dokter adalah :
1. DPJP menginformasikan kepada pasien rencana second opinion

2. DPJP meminta persetujuan untuk second opinion secara tertulis pada formulir
persetujuan tindakan medis

3. DPJP membuat permohonan second opinion secara tertulis pada formulir/lembar


konsultasi

4. DPJP menghubungi dokter yang dituju sesuai dengan keinginan dokter

5. Setelah dokter kedua datang maka perawat mengantarkan ke ruang perawatan untuk
memeriksa pasien

6. Menjelaskan hasil temuan dari dokter kedua ke keluarga pasien

7. Dokter ke dua menginformasikan hasil pemeriksaannya ke DPJP

BAB IV

DOKUMENTASI

1. Formulir persetujuan tindakan medis

2. Lembar integrasi rawat inap

3. Formulir konsultasi dokter


4. Formulir komunikasi informasi dan edukasi ( KIE)