Anda di halaman 1dari 69

EVALUASI SISTEM INFORMASI AKUNTANSI PERSEDIAAN OBAT (Studi Kasus pada Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kebumen)

(Studi Kasus pada Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kebumen) Skripsi Diajukan untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi

Skripsi Diajukan untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta

Oleh :

AHMAD SAEFUDDIN M

F0305027

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2010

iii
iii
iv
v

MOTTO

“…barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…”

(QS At Talaq: 2-3)

”Hal jazaaul ihsani illal ihsan”

(QS Ar Rahman: 60)

PERSEMBAHAN

Kupersembahkan karya kecilku ini

untuk keluarga tercinta,

Ibunda dan Ayahanda tercinta.

KATA PENGANTAR

Bismillaahirrahmaanirrahim…

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Puji

syukur

penulis

panjatkan

kehadirat

Allah

SWT

yang

telah

melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga syukur Alhamdulillah penulis

dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

Skripsi ini disusun dan diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan

memenuhi

syarat-syarat

untuk

mencapai

gelar

Sarjana

Ekonomi

Jurusan

Akuntansi pada Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Penulis

menyadari

bahwa

dalam

penyusunan

skripsi

ini

terdapat

berbagai kendala, tetapi penulis yakin bahwa di balik permasalahan itu terdapat

jalan

keluar.

Dengan

segala

ketulusan

dan

kerendahan

hati,

penulis

menyampaikan terima kasih dan semoga Allah SWT membalas setiap kebaikan

yang penulis terima dari pihak-pihak yang membantu meluangkan waktu,

tenaga, dan pikiran sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada :

1. Prof. Drs. Bambang Sutopo, M.Com.,M.Si., Ak. selaku Dekan Fakultas

Ekonomi Universitas Sebelas Maret.

2. Drs. Jaka Winarna, M.Si., Ak. selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas

Ekonomi Universitas Sebelas Maret.

3.

Drs. Santosa Tri Hananto Msi, Ak. selaku dosen pembimbing skripsi yang

dengan sabar, bijaksana, dan ikhlas hati membimbing dan mengarahkan

penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

4. Dosen-dosen

Fakultas

Ekonomi

UNS,

atas

ilmu,

pengetahuan,

dan

pengalaman yang diberikan. Seluruh staf dan karyawan Fakultas Ekonomi

UNS, atas bantuan dan kerjasamanya.

5. Bapak dan Ibu pegawai RSUD Kab. Kebumen, Mas Mustholih dan Mba

Titi terima kasih atas masukan-masukan, arahan dan bantuannya.

6. Keluarga di Kebumen, Abii terima kasih atas perhatian dan pengorbanan

yang

telah

engkau

berikan.

Sungguh

kami

tak

kan

bisa

membalas

pengorbanan dan kebaikan yang telah engkau berikan, jazakallahu khoir

7. Mas

hanif,

Mba

Atun,

Mba

Zizah

mensupport dan kasih semangat.

dan

My

Brother

makasih

dah

8. Asaatidz di Tanwirul Fikr, Ustd. Jazuly Al Demaky, Ustd syafi’ antum

merupakan guru terbaik yang dengan sabar dan ikhlas mengajari kami,

sungguh kami tak kan bisa membalas kebaikan antum, jazakumullahu

khair.

9. Teman-teman di TF, yang aneh-aneh tapi semangatnya luar biasa, Rokhim,

Eri, Imoet, Umam, Zain, Amirul dll. Semangat! terus tholabul ‘lmi walau

berat dirasa semoga ilmunya bermanfaat tuk kehidupan di masa depan.

10. Teman-teman Akuntansi 2005, terima kasih atas kebersamaan yang telah

kalian berikan. Ayo futsal lagi!

11. Dan semua pihak yang telah memberikan kontribusi terhadap penyelesaian

skripsi ini.

Semoga karya kecil ini bukan sebuah kerja tanpa makna. Penulis

berharap dapat memberikan kontribusi bagi penelitian selanjutnya. Akhir kata,

masukan dan kritik yang membangaun dari semua pihak senantiasa penulis

nantikan untuk sebuah proses kemajuan dan perbaikan di masa yang akan

datang.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Surakarta,

Maret 2010

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAKSI ………………………

……

ii

ABSTRACT

……………………………

iii

HALAMAN PERSETUJUAN ……………………………

iv

HALAMAN PENGESAHAN ………………………………

v

HALAMAN MOTTO …………………………………………

vi

HALAMAN PERSEMBAHAN ………………………………

vii

KATA PENGANTAR …………………………………………

viii

DAFTAR ISI …………………………………………………

xi

DAFTAR TABEL ………………………………………………

xiv

DAFTAR GAMBAR ……………………………………………

xv

BAB I. PENDAHULUAN ………………………………………

1

A. Latar Belakang Masalah …

………………

1

B. Perumusan Masalah ………………………………………

4

C. Tujuan Penelitian …………………………………………

4

D. Manfaat Penelitian …………………………………………

5

E. Manfaat Penelitian………………………………………….

5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

7

A.

Sistem Informasi Akuntansi

7

1. Pengertian Sistem ……………………………………

7

2. Pengerian Informasi …………………………………

9

3.

Pengertian Sistem Informasi…………………………

10

4. Pengertian Akuntansi………………………………

12

5. Pengertian Sistem Informasi Akuntansi………………

14

B. Persediaan

15

1. Pengertian Persediaan

15

2. Metode Penghitungan Persediaan

16

3. Sistem Pencatatan Persediaan

18

C. Sistem Pengendalian Intern

18

1. Definisi Sistem Pengendalian Intern

18

2. Tujuan Sistem Pengendalian Intern

21

3. Unsur-Unsur Sistem Pengendalian Intern

22

D. Sistem Informasi Akuntansi Persediaan

25

1. Sistem Informasi Akuntansi Pembelian

26

2. Sistem Informasi Akuntansi Penjualan

30

E. Kerangka Teoritis

38

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ………………………

39

A. Desain Penelitian

39

B. Data dan Sumber Data

39

C. Metode Pengumpulan Data

40

D. Analisis Data

41

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN…………….

43

A. Sejarah dan Berkembangnya RSUD Kab. Kebumen

43

B. Kondisi Umum RSUD Kab. Kebumen

46

C.

Struktur Organisasi RSUD Kab. Kebumen

48

D. Evaluasi Struktur Organisasi RSUD Kab. Kebumen

53

E. SIA Persediaan Obat RSUD Kab. Kebumen

55

1. SIA Prosedur Pembelian Obat

55

2. SIA Prosedur Penjualan Obat

64

F. Evaluasi SIA Persediaan Obat RSUD Kab. Kebumen

69

BAB V. PENUTUP

76

A. Kesimpulan

76

B. Saran

79

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Tabel

DAFTAR TABEL

Halaman

2.1

Sistem Pembelian, Sediaan, dan Penjualan Obat

34

4.1

Pegawai Non Fungsional

……………………………

47

4.2

Pegawai Fungsional

47

4.3

Evaluasi SIA Persediaan Obat RSUD Kab. Kebumen……

70

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR

Halaman

2.1

Informasi

10

2.2

Kerangka Pemikiran Penelitian.….……………………

38

4.1

Struktur

Organisasi

Instalasi

Farmasi

RSUD

Kab.

Kebumen

54

4.2

Sistem Pembelian Obat RSUD Kab. Kebumen

 

58

4.3

Sistem Penjualan Obat RSUD Kab. Kebumen

65

EVALUASI SISTEM INFORMASI AKUNTANSI PERSEDIAAN OBAT

(Studi Kasus pada RSUD Kab. Kebumen)

ABSTRAK

Ahmad Saefuddin M

F0305027

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem informasi akuntansi persediaan obat yang diterapkan di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kebumen dan mengevaluasinya untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan sistem yang diterapkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif yang diperoleh secara langsung dari pihak Rumah sakit melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem akuntansi persediaan obat yang diterapkan di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kebumen terdiri dari sistem akuntansi pembelian dan penjualan obat, serta sistem pencatatan persediaan. Kelebihan dari sistem yang ada adalah otorisasi oleh pihak yang berwenang sebagai pengendalian intern. Sedangkan kelemahan dari sistem yang ada adalah surat order pembelian dan penjualan hanya rangkap dua, fungsi gudang dan penerimaan obat masih digabung, di bagian keuangan fungsi akuntansi belum berjalan dengan baik. Berdasarkan kelemahan tersebut di atas maka peneliti merekomendasikan antara lain; surat order pembelian dan penjualan dibuat sejumlah unit organisasi terkait, pemisahan antara fungsi gudang dan penerimaan obat, merubah status RSUD Kab. Kebumen menjadi Badan Layanan Umum (BLU).

Kata kunci: sistem

informasi

akuntansi,

pembelian

pencatatan persediaan barang dagang.

dan

penjualan

obat,

THE EVALUATION OF DRUGS INVENTORY ACCOUNTING

INFORMATION SYSTEM

(A Case of Study in Local Government Hospital of Kebumen)

ABSTRACT

Ahmad Saefuddin M

F0305027

This research aims to know the drugs inventory accounting information system applied in the local government hospital of Kebumen and to evaluate the weakness and the strength of the system. This research uses case of study approach. Data used in this research are qualitative data that gotten directly from the hospital through interview, observation and documentation. This research result shows that drugs inventory accounting system of the local government hospital of Kebumen consists of purchasing accounting system and medicine sale, inventory registration system. The Strength of the existing system is authorization by the authorizer as internal control. While the weakness of the existing system is the purchasing and sale order mail is only double copy, the function of stores and receiving of drugs is still merged, and in finance department -the accounting system has not run well. Based on the weaknesses mentioned above, the researcher recommends: the copies of purchasing and sale order mail is made for amount of related organization units, to separate between the stores and the receiving drugs, changing the status of local government hospital of Kebumen to be general service body (BLU).

Keywords:

accounting information system, purchasing and sale of drugs, drugs inventory records.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada saat ini, dunia bisnis mengalami berbagai perkembangan yang

Pada saat ini, dunia bisnis mengalami berbagai perkembangan yang

diikuti

oleh

perkembangan

teknologi

yang

sangat

pesat.

Perkembangan

tersebut menimbulkan kesulitan baru yang tidak ditemukan sebelumnya antara

lain

seperti

masalah-masalah

yang

menyangkut

kesulitan

operasional

perusahaan. Oleh sebab itu, pemimpin suatu perusahaan harus memeriksa

sistem yang dimiliki, apakah sistem tersebut sudah cukup memadai dalam

memenuhi kebutuhan perusahaan.

Pengelolaan yang baik dengan dukungan pihak manajemen yang handal

tentunya sangat diperlukan untuk menghadapi perkembangan dunia usaha yang

terus berjalan. Dalam mengambil kebijakan, pimpinan harus memperhatikan

informasi-informasi

mengenai

kondisi

dan

permasalahan

yang

dihadapi

organisasi atau perusahaan sehingga dapat dilaksanakan oleh para karyawan

dengan hasil yang memuaskan. Informasi-informasi tersebut dapat diperoleh

dari sistem yang telah diterapkan perusahaan.

Pada dasarnya, informasi yang dihasilkan oleh perusahaan tidak hanya

dibutuhkan untuk kepentingan internal perusahaan saja, dalam hal ini adalah

pihak manajemen tetapi juga dibutuhkan oleh pihak eksternal seperti kreditur,

pemegang saham, dan informasi yang tersedia nantinya juga akan dijadikan

sebagai dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Untuk menjamin

1
1

2

ketersediaan informasi yang sangat penting tersebut, maka dibutuhkan sistem

yang secara jelas mengatur segala sesuatu di perusahaan.

Organisasi

atau

perusahaan

membutuhkan

sistem

informasi

untuk

mempertahankan kemampuannya dalam berkompetisi. Sebagai suatu sistem,

setiap

organisasi

menerima

masukan-masukan

menjadi

keluaran-keluaran

dalam bentuk produk dan jasa.

Salah

satu

sistem

informasi

penting

yang

dibutuhkan

oleh

pihak

manajemen adalah Sistem Informasi Akuntansi (SIA) yang disesuaikan dengan

kondisi dan kebutuhan perusahaan. Sistem Informasi Akuntansi (SIA) dalam

suatu perusahaan merupakan hal yang sangat penting untuk kelangsungan

perusahaan tersebut. Maka, sistem informasi yang dibuat di suatu perusahaan

harus efektif, efisien, informatif, dan akurat yang artinya sistem

informasi

tersebut harus dapat menyediakan informasi yang berkualitas bagi pihak-pihak

yang membutuhkan, harus bebas dari kesalahan-kesalahan, tidak bias, harus

jelas mencerminkan maksud dan tujuan agar mudah dipahami dan berguna

untuk semua pihak yang berkepentingan.

Sistem Informasi Akuntansi meliputi beragam aktivitas yang berkaitan

dengan siklus-siklus pemrosesan transaksi perusahaan. Meskipun tidak ada dua

perusahaan atau organisasi yang identik, tetapi sebagian besar mengalami jenis

kejadian

ekonomi

yang

dapat

dikelompokkan

menjadi

empat

siklus;

pendapatan, pengeluaran, produksi, dan keuangan (Bodnar dan Hopwood,

2006: 9).

3

Mengingat tingginya tingkat kebutuhan akan barang farmasi dan medis

di rumah sakit, terutama obat-obatan dan mengingat transaksi penjualan obat

merupakan

sumber

keuangan

perusahaan

paling

utama,

maka

diperlukan

keandalan

sistem

yang

mampu

mendukung

kegiatan

pengadaan

dan

pengeluaran obat yang tentunya sangat membutuhkan sistem pengendalian.

Sistem pengendalian atas persediaan obat sangat diperlukan untuk mencegah

terjadinya

hal-hal

yang

tidak

diinginkan

seperti

kesalahan-kesalahan

dan

kecurangan

yang

mungkin

terjadi

dalam

aktivitas

pengendalian.

Dalam

pengendalian

persediaan

sendiri

terdapat

dua

aktivitas

yang

saling

berhubungan yaitu aktivitas penyediaan dan pengeluaran barang yang harus

diamati.

Dalam Jogiyanto (2001) dijelaskan bahwa kesalahan-kesalahan yang

terjadi dalam Sistem Informasi Akuntansi biasanya dikarenakan dua sebab

yaitu kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja dan kesalahan-kesalahan yang

disengaja. Kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja biasanya terjadi pada

proses aplikasi data seperti kesalahan dalam memasukkan jenis barang atau

kesalahan dalam memasukkan kode barang. Sedangkan yang paling kritis

adalah

apabila

kesalahan

terjadi

karena

faktor

kesengajaan

yang

berupa

kecurangan-kecurangan atau penyelewengan terhadap harta kekayaan milik

perusahaan. Kecurangan-kecurangan dalam persahaan dapat dilakukan:

1.

Oleh orang lain di luar petugas yang bertanggung jawab atas keamanan

harta kekayaan milik perusahaan. Kecurangan ini dapat diatasi dengan

4

memperketat penyimpanan harta kekayaan milik perusahaan di tempat

yang aman, tidak sembarang orang dapat menemukannya dan dapat masuk.

2. Oleh karyawan sendiri yang dipercaya untuk menjaga keamanan harta

milik perusahaan tersebut.

Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian tentang sistem informasi akuntansi dengan judul “Evaluasi Sistem

Informasi Akuntansi Persediaan Obat (Studi Kasus pada Rumah Sakit

Umum Daerah Kabupaten Kebumen)”

B. Perumusan Masalah

Masih sering terjadi tujuan perusahaan tidak tercapai dengan baik

karena sistem yang diterapkan berjalan kurang optimal. Oleh karena itu,

pertanyaan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut.

1. Apakah Sistem Informasi Akuntansi dan Pengendalian Intern Persediaan

Obat di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kebumen sudah efektif

dan efisien?

2. Bagaimanakah Sistem Informasi Akuntansi dan Pengendalian Intern yang

efektif dan efisien?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

5

1.

Untuk mengevaluasi apakah Sistem Informasi Akuntansi dan Pengendalian

Intern Persediaan Obat yang diterapkan di Rumah Sakit Umum Daerah

Kabupaten Kebumen sudah efektif.

 

2.

Untuk

memberikan

rekomendasi

Sistem

Informasi

Akuntansi

dan

Pengendalian Intern yang lebih efektif untuk Rumah Sakit Umum Daerah

Kabupaten Kebumen.

D. Batasan Masalah Penelitian

Untuk lebih memfokuskan pada permasalahan yang diteliti dan agar

masalah yang dibicarakan tidak semu dan samar dengan permasalahan yang

lain, maka penelitian ini dibatsi pada hal-hal sebagai berikut:

1. Penelitian merupakan studi kasus pada Rumah Sakit Umum Daerah

Kabupaten Kebumen.

2. Penelitian ini hanya membahas mengenai Sistem Informasi Akuntansi

Persediaan Obat.

E. Manfaat Penelitian

Penelitian

ini

diharapkan

dapat

memberikan

manfaat

bagi

pihak

perusahaan terkait yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kebumen dan

para mahasiswa. Manfaat penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu:

1. Manfaat praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perusahaan yang

terkait sebagai bahan pertimbangan, perbaikan dan pengembangan. Selain

6

itu manajemen dapat segera memperbaiki dan menyempurnakan praktik-

praktik yang kurang sesuai dengan Sistem Pengendalian Intern.

2. Manfaat teoritis

Penelitian

ini

diharapkan

dapat

dipakai

sebagai

wawasan

untuk

menerapkan teori-teori yang diperoleh di perkuliahan, serta menambah

pengalaman untuk mengenal lebih jauh bagaimana sesungguhnya aplikasi

teori yang diperoleh yang diterapkan di dalam organisasi dan kehidupan

yang sesungguhnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Sistem Informasi Akuntansi

1.

Sistem

II TINJAUAN PUSTAKA A. Sistem Informasi Akuntansi 1. Sistem Dalam sebuah perusahaan, sistem informasi akuntansi

Dalam sebuah perusahaan, sistem informasi akuntansi mempunyai

peran yang sangat penting terkait dengan eksistensi perusahaan. Sistem

informasi membantu perusahaan dalam menentukan metode yang akan

digunakan untuk mengumpulkan, mengklasifikasi dan mengolah semua

transaksi keuangan perusahaan sehingga dapat menjadi informasi berguna

bagi pihak manajemen. Sistem tersebut membantu manajemen dalam

melakukan pengendalian intern melalui informasi akuntansi yang berguna

untuk mengukur realisasi dari perencanaan yang telah ditetapkan. Untuk

memahami lebih jauh suatu sistem informasi, maka perlu dimengerti

terlebih dahulu arti sistem itu sendiri. Sistem adalah sesuatu yang terdiri

dari

bagian-bagian

yang

saling

berinteraksi

dengan

maksud

untuk

mencapai suatu tujuan tertentu (Widjajanto, 1989).

Menurut Mulyadi (2001) sistem adalah sekelompok unsur-unsur

yang saling berkaitan dan bekerja sama antara yang satu dengan yang

lainnya untuk mencapai tujuan tertentu. Jadi, jika unsur-unsur tersebut

berinteraksi dengan baik maka tujuan perusahaan akan cepat tercapai

dengan

menghasilkan

output

yang

diinginkan.

Untuk

memberikan

gambaran yang jelas mengenai berbagai sistem yang kemudian diolah

7
7

8

dalam sistem akuntansi maka dalam Jogiyanto (2001) diberikan beberapa

pendapat untuk mendefinisikan pengertian sistem.

a. Menurut Moscove

Sistem adalah suatu entity (kesatuan) yang terdiri atas bagian-bagian

yang saling berhubungan (disebut subsistem) yang bertujuan untuk

mencapai tujuan tertentu.

b. Menurut Richard F. Neuschel

Sistem

adalah

suatu

kerangka

dari

prosedur-prosedur

yang

berhubungan

yang

disusun

sesuai

dengan

suatu

skema

yang

menyeluruh (terintegrasi) untuk melaksanakan suatu kegiatan atau

fungsi utama suatu perusahaan

Sedangkan definisi menurut Wilkinson et al. (2005: 6) “A sistem is

a unified group of interacting parts that function together to achieve its

purpose”.

Suatu sistem merupakan suatu kesatuan dari bagian-bagian yang

berinteraksi yang berfungsi bersama-sama untuk mencapai tujuannya.

Beberapa

sistem

mempunyai

batas-batas

yang

memisahkannya

dari

lingkungannya. Kebanyakan sistem bersifat terbuka, sistem menerima

input dari lingkungannya dan menyediakan output kepada lingkungannya.

Kebanyakan sistem juga bersifat nyata, mereka menggunakan sumber-

sumber fisik seperti bahan baku dan juga tenaga kerja.

9

2.

Informasi

Ada perbedaan antara data dan informasi. Data adalah fakta statistik

dalam bentuk kumpulan simbol yang tidak mengartikan sesuatu. Informasi

adalah

data

yang

telah

tersaring,

terorganisir,

terealisasi,

dan

saling

berhubungan sehingga berguna untuk mencapai tujuan organisasi.

Menurut

Wilkinson

dalam

buku

Sistem

Informasi

Akuntansi

menyatakan bahwa “informasi merupakan suatu keterangan-keterangan

yang

berarti

dan

berguna

bagi

(Wilkinson et al., 2005: 5).

orang-orang

yang

membutuhkan”

Menurut McLeod (2008) “Informasi adalah data hasil pemrosesan

yang memiliki makna, biasanya menceritakan suatu hal yang belum

diketahui kepada pengguna”.

Menurut definisi-definisi di atas, informasi adalah hasil pengolahan

dari data yang digunakan untuk membantu pengambil keputusan. Agar

informasi berguna dalam pengambilan keputusan, harus memiliki kriteria-

kriteria sebagai berikut:

a. Relevan,

suatu

informasi

pengambilan keputusan.

mempunyai

manfaat

sebagai

dasar

b. Akurat, ketepatan dan dapat diandalkannya suatu informasi.

c. Tepat waktu, informasi yang diperoleh terbaru dan mudah diperoleh

saat dibutuhkan.

d. Ringkas,

informasi

diterangkan.

telah

dikelompokkan

sehingga

tidak

perlu

10

e. Jelas, tingkat informasi dapat dimengerti oleh penerima.

f. Dapat dikuantifikasi, tingkat informasi dapat dinyatakan dalam bentuk

angka.

g. Konsisten, tingkat informasi dapat diperbandingkan.

Informasi

pengolahan

data

merupakan

keluaran

yang

biasanya

sudah

(output)

tersusun

dari

suatu

proses

dengan

baik

dan

mempunyai arti bagi yang menerimanya sehingga dapat digunakan sebagai

dasar dalam pengambilan keputusan oleh manajemen.

Data

Proses

Output

pengambilan keputusan oleh manajemen. Data Proses Output Gambar 2.1 Informasi Gambar di atas menunjukan perbedaan dan
pengambilan keputusan oleh manajemen. Data Proses Output Gambar 2.1 Informasi Gambar di atas menunjukan perbedaan dan

Gambar 2.1 Informasi

Gambar di atas menunjukan perbedaan dan hubungan antara data dan

informasi.

3. Sistem Informasi

Informasi merupakan hal yang sangat penting bagi manajemen,

informasi tersebut dapat diperoleh dari suatu sistem informasi (information

system). Menurut John F. Nash dan Martin B. Robert dalam Jogiyanto

(2001) sistem informasi adalah suatu kombinasi dari orang, fasilitas,

teknologi, media, prosedur-prosedur dan pengendalian yang ditujukan

untuk mendapatkan jalur komunikasi penting, memproses tipe transaksi

tertentu, memberikan sinyal kepada manajemen dan lainnya terhadap

kejadian-kejadian internal dan eksternal yang penting dan menyediakan

suatu dasar untuk pembuatan keputusan.

11

Suatu sistem informasi dimaksudkan untuk memberikan informasi

kepada

semua

tingkat

manajemen,

yaitu

manajemen

tingkat

atas,

menajemen tingkat menengah, dan manajemen tingkat bawah.

Menurut Mulyadi (2001) sistem informasi terdiri dari beberapa

komponen utama, antara lain sebagai berikut.

a. Blok masukan (input block)

Masukan adalah data yang dimasukkan ke dalam sistem informasi

beserta metode dan media yang digunakan untuk menangkap dan

memasukkan data tersebut ke dalam sistem. Masukkan terdiri dari

transaksi, permintaan, pertanyaan, perintah, dan pesan.

b. Blok model (model block)

Blok model terdiri dari logico-mathematical models yang mengolah

masukkan dan data yang disimpan, dengan berbagai macam cara,

untuk memproduksi hasil yang dikehendaki atau keluaran.

c. Blok keluaran (output block)

Produk suatu sistem informasi adalah keluaran yang berupa informasi

yang bermutu dan dokumen untuk semua tingkat manajemen dan

semua pemakai informasi, baik pemakai intern maupun pemakai luar

organisasi. Keluaran sistem informasi dapat berupa laporan keuangan,

faktur, surat order pembelian, cek, laporan pelaksanaan anggaran.

d. Blok teknologi (technologi block)

Teknologi

ibarat

mesin

untuk

menjalankan

sistem

informasi.

Teknologi menangkap masukan, menjalankan model, menyimpan dan

12

mengakses data, menghasilkan dan menyampaikan keluaran, serta

mengendalikan seluruh sistem.

e. Blok basis data (data base block)

Basis data merupakan tempat untuk menyimpan data yang digunakan

untuk melayani kebutuhan pemakai informasi.

f. Blok pengendalian (control block)

Semua sistem informasi harus dilindungi dari bencana dan ancaman,

seperti bencana alam, api, kecurangan, kegagalan sistem, kesalahan

dan penggelapan, penyadapan, ketidakefisienan, sabotase, orang-orang

yang dibayar untuk melakukan kejahatan.

Dari definisi sistem informasi yang ada, dapat diambil kesimpulan

bahwa sistem informasi digunakan dalam proses pengambilan keputusan

dan pengendalian dalam organisasi.

4.

Akuntansi

Definisi akuntansi menurut Wilkinson et al. (2000: 5) yaitu:

Accounting has several facets. First, it is an information system in its own right. That is, employs various systemic operation to generate relevant information. Among the operation that is encompasses are (1) recording economic data (data collection), (2) maintaining stored data, and (3) presenting quantitative information in financial firm (information generation). Second, accounting is “language of business”: it provide the means by the key affairs of a business firm are expressed and summarized. Finally, accounting maybe viewed as financial information needed for overall functioning of an entity (such as a business firm). Menurut definisi di atas, akuntansi mempunyai beberapa fase.

Pertama,

akuntansi

merupakan

sistem

informasi

yang

menggunakan

13

bermacam

operasi

sistemis

Opersai tersebut meliputi:

untuk

membuat

informasi

yang

relevan.

a. Mencatat data-data ekonomi (pengumpul data)

b. Memelihara data-data ekonomi (memelihara data)

c. Menampilkan

informasi

kuantitatif

yang

keuangan (pembuat informasi)

berhubungan

dengan

Bodnar dan Hopwood (2001) mengartikan “Accounting as an

information, as an information system identities, collects, processes and

communicates economic information about an entity a wide of people”.

Akuntansi

sebagai

informasi,

sebagai

suatu

sistem

informasi,

mengidentifikasikan, mengumpulkan dan mengkomunikasikan informasi

ekonomi mengenai suatu entitas untuk orang banyak.

Menurut Weygandt, Kieso dan Kimel (1992) akuntansi adalah

“Accounting

consist

of

three

basic

activities-identifies,

records,

and

communicates the economic events of organization to interested user”.

Akuntansi

mempunyai

tiga

dasar

aktivitas

yaitu

mengidentifikasi,

mencatat

dan

mengkomunikasikan

kejadian-kejadian

ekonomi

suatu

organisasi kepada pihak yang berkepentingan. Informasi yang dihasilkan

nantinya akan digunakan untuk mengambil keputusan.

AICPA

(American

Institute

of

Certified

Public

Accountants),

mendefinisikan akuntansi sebagai berikut.

Accounting is a service activity. Its function is to provide quantitative information, primarily financial in nature, about economic activities that is intended to be useful in making economic decision, in making choices among alternative courses of action.

14

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa akuntansi bertujuan

menghasilkan

informasi

yang

digunakan

oleh

pihak-pihak

di

dalam

perusahaan

(manajemen)

dan

berbagai

pihak

di

luar

perusahaan

(pemegang saham, pemeriksa pajak, investor, kreditor) yang

mempunyai

kepentingan terhadap kegiatan usaha tersebut.

5. Sistem Informasi Akuntansi

Salah satu sistem informasi yang dikembangkan di lingkungan

perusahaan adalah Sistem Informasi Akuntansi. Definisi Sistem Informasi

Akuntansi menurut Bodnar dan Hopwood (2006) adalah kumpulan sumber

daya, seperti manusia dan peralatan, yang dirancang untuk mengubah data

keuangan dan data lainnya ke dalam informasi.

Weygandt et al. (2010) juga mendefinisikan pengertian Sistem

Informasi Akuntansi sebagai sistem pengumpulan dan pemrosesan dan

memberikan informasi keuangan untuk pengambilan keputusan. Efisiensi

dan efektivitas sistem informasi akuntansi tergantung pada prinsip-prinsip

dasar yaitu: (1) efektivitas biaya, (2) kegunaan, (3) flexibility.

Sistem Informasi Akuntansi merupakan suatu set sumber daya

manusia

dan

modal

dalam

suatu

organisasi

yang

bertugas

untuk

menyediakan informasi keuangan dan juga informasi yang diperoleh dari

kegiatan

pengumpulan

Baridwan, 2002).

dan

pengolahan

transaksi

(Caushing

dalam

Dari definisi di atas dapat diuraikan bahwa Sistem Informasi

Akuntansi memiliki beberapa unsur yang saling berkaitan, yaitu:

15

a. Kumpulan aktivitas dari sumberdaya

Sumber daya disini meliputi orang-orang, peralatan dan dana yang

cukup dan terkoordinasi untuk menjalankan tugas.

b. Tujuan

Tujuan Sistem Informasi Akuntansi adalah menyediakan informasi

keuangan yang akan digunakan untuk mengambil keputusan.

c. Pemakai informasi

Informasi yang dihasilkan akan dipakai oleh pihak intern maupun

ekstern.

Suatu Sistem Informasi Akuntansi menganalisis bagaimana suatu

peristiwa atau transaksi yang mempengaruhi suatu organisasi dicatat,

diikhtisarkan

dan dilaporkan. Transaksi tersebut dicatat menggunakan

sistem

manusia

mengikhtisarkannya

dan

komputer

yang

menggunakan

metode

dan

dimiliki

organisasi,

tujuan

akuntansi

dan

melaporkannya sebagai informasi untuk menarik orang-orang, baik di

dalam maupun di luar organisasi.

B. Persediaan

1.

Pengertian

Definisi menurut Mulyadi (2001) persediaan merupakan unsur

aktiva yang disimpan dengan tujuan untuk dijual dalam kegiatan bisnis

yang normal atau barang-barang yang akan dikonsumsi dalam pengolahan

produk yang dijual.

16

Sedangkan Menurut Weygandt et al. (2010) “inventory have two

common characteristics: (1) they are owned by the company, and (2) they

are in a form ready for sale to customers in ordinary course of business”.

Menurut Standar Akuntansi Keuangan (SAK) No 14, persediaan

adalah aktiva:

a. Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal.

b. Dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan.

c. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan

dalam proses produksi atau pemberian jasa.

2. Metode Penghitungan Persediaan

Ada empat metode penentuan harga persediaan menurut GAAP

yang biasa digunakan yaitu:

a. Specific Unit Cost.

Beberapa bisnis yang berkaitan dalam pembelian berbeda dari unit ke

unit,

seperti

mobil,

perhiasan,

dan

real

estate.

Bisnis-bisnis

ini

biasanya memberi harga persediaan pada harga barang pas dari barang

tertentu. Metode ini disebut juga metode identifikasi detail dan tidak

praktis

diterapkan

untuk

persediaan

barang

yang

mempunyai

karakteristik umum seperti karung gandum, kaleng .

b. Weighted Average Cost

Weighted

average

cost

sering

disebut

metode

harga

rata-rata

tertimbang didasarkan pada harga rata-rata pada persediaan selama

periode. Weighted Average Cost ditentukan sebagai berikut:

17

1)

Menentukan harga rata-rata tertimbang dengan membagi harga

barang tersedia (persediaan awal ditambah pembelian) dengan

jumlah unit yang tersedia (persediaan awal ditambah pembelian).

2)

Menghitung persediaan akhir dari harga pokok penjualan dengan

mengalikan jumlah unit dengan harga rata-rata tertimbang per unit.

c. Last In First Out

Metode

LIFO

juga

tergantung

pada

harga

pembelian

persediaan

tertentu. LIFO ditentukan sebagai berikut:

1)

Harga terakhir dari persediaan adalah harga pertama yang keluar

pada harga barang yang dijual.

 

2)

Persediaan

terakhir

didasarkan

pada

harga

paling

lama

yaitu

persediaan awal ditambah pembelian paling awal pada periode

tersebut.

d. First In First Out

Dengan metode FIFO perusahaan harus mempunyai catatan harga dari

tiap unit persediaan yang dijual. Harga unit pada harga barang terakhir

bisa saja berbeda dari harga unit yang digunakan untuk menghitung

harga barang yang dijual. Penghitungan FIFO adalah sebagai berikut:

1)

Harga pertama pada persediaan adalah harga pertama yang keluar

untuk harga barang yang dijual.

2)

Persediaan terakhir didasarkan pada pembelian terbanyak pada saat

terakhir.

18

3. Sistem Pencatatan Persediaan

Untuk mengontrol persediaan yang dimiliki, perusahaan dapat

melakukan

pencatatan

terhadap

persediaan

yang

tersedia.

Menurut

Mulyadi (2001) ada dua metode pencatatan persediaan yaitu:

a. Metode Mutasi Persediaan

Dalam

metode

ini

setiap

mutasi

persediaan

dicatat

dalam

kartu

persediaan. Metode ini cocok digunakan dalam penentuan biaya bahan

baku dalam perusahaan yang harga pokok produknya dikumpulkan

dengan metode harga pokok pesanan.

b. Metode Persediaan Fisik

Dalam metode ini harga tambahan persediaan dari pembelian saja

yang

dicatat,

sedangkan

mutasi

berkurangnya

persediaan

karena

pemakaian tidak dicatat dalam kartu persediaan. Untuk mengetahui

harga pokok persediaan yang dipakai atau dijual harus dilakukan

penghitungan fisik persediaan yang masih ada di gudang pada akhir

periode akuntansi. Metode ini cocok digunakan dalam penentuan

 

biaya

bahan

dalam

perusahaan

yang

harga

pokok

produknya

dikumpulkan dengan metode harga pokok proses.

 

C.

Sistem Pengendalian Intern

 

1.

Definisi Sistem Pengendalian Intern

 
 

Salah

satu

fungsi

sistem

akuntansi

adalah

membantu

mengendalikan jalannya kegiatan perusahaan. Suatu sistem informasi yang

19

baik harus mempunyai pengendalian internal yang baik, maka setiap

penyimpangan akan dapat segera terdeteksi dengan baik.

Commite of sponsoring organization of the tread way commission

atau

kita

kenal

dengan

COSO

dalam

Wilkinson

et

al.

(2000)

mendefinisikan pengendalian intern sebagai suatu sistem, terstruktur atau

proses

yang

diimplementasikan

oleh

jajaran

direksi

perusahaan,

manajemen dan personil lain, yang dimaksudkan untuk menyediakan

jaminan

kelayakan

mengenai

pencapaian

tujuan

pengendalian

yang

meliputi:

a. Keefektifan dan efisiensi operasi perusahaan

b. Realibilitas laporan keuangan

c. Pemenuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku

Definisi pengendalian menurut AICPA adalah Sistem pengendalian

intern meliputi organisasi semua metode dan ketentuan yang terkoordinasi

yang dianut dalam suatu perusahaan untuk melindungi harta miliknya,

mengecek

kecermatan

dan

keandalan

data

akuntansi,

meningkatkan

efisiensi usaha dan mendorong ditaatinya kebijakan manajemen yang telah

digariskan.

Menurut

Widjajanto

(1989)

pengendalian

intern

adalah

suatu

fungsi manajemen yang bertujuan untuk mengusahakan agar aktifitas

dapat berjalan selaras dengan perencanaan dan pengarah pada sasaran

yang ditetapkan.

20

Dari

definisi

di

atas

dapat

diambil

suatu

kesimpulan

bahwa

keberadaan sistem pengendalian intern bertujuan untuk meningkatkan

kinerja perusahaan dan melindungi perusahaan dari kerugian, baik yang

disebabkan oleh faktor manusia maupun faktor lain. Bahkan keberadaan

sistem

pengendalian

intern

yang

baik

akan

mampu

mengarahkan

perusahaan agar senantiasa berada pada jalur pencapaian tujuan yang

ditetapkan.

2. Tujuan Sistem Pengendalian Intern

Sistem pengendalian intern meliputi struktur organisasi, metode

dan

ukuran-ukuran

yang

dikoordinasikan

untuk

menjaga

kekayaan

organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong

efisiensi

dan

mendorong

dipatuhinya

kebijakan

manajemen.

Definisi

sistem pengendalian intern di atas menekankan tujuan yang hendak dicapai

dan bukan pada unsur-unsur yang membentuk sistem.

Menurut

Mulyadi

(2001)

menjadi dua macam, yaitu:

tujuan

pengendalian

intern

dibagi

a. Pengendalian akuntansi (internal accounting control), yang meliputi

kebijakan prosedur

terutama untuk menjaga kekayaan dan catatan

organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi.

b. Pengendalian

administratif

(internal

administrative

control),

yang

meliputi

kebijakan dan prosedur terutama untuk mendorong efisiensi

dan dipatuhinya kebijakan manajemen.

21

Tujuan sistem pengendalian intern menurut Wilkinson et al. (2000)

adalah:

a. Melindungi aset perusahaan (yaitu sumber

informasi).

daya, termasuk data dan

b. Memastikan ketepatan dan keandalan data dan informasi akuntansi

(artinya menjaga agar data dan informasi bebas dari kesalahan dan

menyediakan hasil yang konsisten bila memproses data yang serupa).

c. Mendorong efisiensi di semua operasi perusahaan.

d. Mendorong

kepatuhan

ditetapkan manajemen.

terhadap

kebijakan

dan

prosedur

yang

Lebih lanjut, pengendalian intern mempunyai tiga fungsi penting

yaitu:

a. Preventive control

Pengendalian preventif adalah suatu pengendalian yang menghalangi

atau mencegah suatu masalah sebelum masalah tersebut muncul.

Pengendalian preventif ini biasanya dilakukan dengan penggunaan

personal dengan kualitas tinggi, pemisahan tugas pegawai yang sesuai,

dan pengawasan aset fisik, fasilitas, dan informasi secara efektif.

b. Detective control

Jika tidak semua masalah dapat dicegah, maka pengendalian detektif

ini

diperlukan

untuk

menutup

masalah

secepat

masalah

tersebut

timbul.

Misalnya;

menduplikasikan

penghitungan,

mempersiapkan

rekonsiliasi bank dan neraca tiap bulan.

22

c. Corrective control

Pengendalian ini memperbaiki masalah-masalah yang telah ditutup

oleh

pengendalian

detektif.

Pengendalian

ini

meliputi

prosedur-

prosedur

yang

diambil

untuk

mengidentifikasikan

sebab

suatu

masalah, memperbaiki kesalahan atau kesulitan, dan memodifikasi

sistem sehingga masalah-masalah dimasa depan dapat diminimalisasi

atau

dikurangi.

Misalnya;

membuat

back

up

transaksi kunci dan file master.

penggandaan

dari

3. Unsur-unsur Sistem Pengendalian Intern

Menurut Mulyadi (2001) sistem pengendalian intern mempunyai

unsur-unsur pokok sebagai berikut.

a.

Struktur

organisasi

secara tegas.

yang

memisahkan

tanggung

jawab

fungsional

Struktur organisasi merupakan kerangka pembagian tanggung

jawab fungsional kepada unit-unit organisasi yang dibentuk untuk

melaksanakan

kegiatan-kegiatan

pokok

perusahaan.

Pembagian

tanggung jawab fungsional dalam organisasi didasarkan pada prinsip-

prinsip berikut.

1)

Fungsi-fungsi

operasi

fungsi akuntansi.

dan

penyimpanan

harus

dipisahkan

dari

Fungsi operasi adalah fungsi yang memiliki wewenang untuk

melaksanakan suatu kegiatan. Fungsi penyimpanan adalah fungsi

yang memiliki wewenang untuk menyimpan aktiva perusahaan.

23

Fungsi akuntansi adalah fungsi yang memiliki wewenang untuk

mencatat

peristiwa

keuangan

perusahaan.

Jadi

apabila

terjadi

perangkapan fungsi, hal ini akan membuka suatu kemungkinan

terjadinya

pencatatan

transaksi

yang

seharusnya

tidak

terjadi,

sehingga data akuntansi yang dihasilkan tidak dapat dipercaya

kebenarannya, dan sebagai akibatnya kekayaan perusahaan tidak

2)

terjamin kekayaannya.

Suatu fungsi tidak boleh diberikan tanggung jawab penuh untuk

melaksanakan semua tahap suatu transaksi.

b.

Sistem

wewenang

dan

prosedur

pencatatan

yang

memberikan

perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan dan

biaya.

Dalam

organisasi,

setiap

transaksi

hanya

terjadi

atas

dasar

otorisasi dari pejabat yang memiliki wewenang untuk menyetujui

terjadinya transaksi tersebut. Oleh karena itu, dalam organisasi harus

dibuat sistem yang mengatur pembagian wewenang untuk memberikan

otorisasi

atas

terlaksananya

setiap

transaksi.

Formulir

merupakan

media yang digunakan untuk merekam penggunaan wewenang dalam

memberikan

otorisasi

terlaksananya

transaksi

dalam

organisasi.

Penggunaan formulir harus diawasi sedemikian rupa guna mengawasi

pelaksanaan otorisasi.

Di

lain

pihak,

formulir

merupakan

dokumen

yang

dipakai

sebagai dasar untuk pencatatan transaksi dalam catatan akuntansi.

24

Prosedur yang baik akan menjamin data yang direkam dalam formulir

dicatat

dalam

catatan

akuntansi

dengan

tingkat

ketelitian

dan

keandalan (reliability) yang tinggi. Dengan demikian sistem otorisasi

akan

menjamin

dihasilkannya

dokumen

pembukuan

yang

dapat

dipercaya sehingga akan menjadi masukan yang dapat dipercaya bagi

perusahaan.

c. Praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit

organisasi.

Cara-cara yang umum dipakai peruahaan dalam menciptakan

praktik yang sehat yaitu:

1)

Penggunaan formulir urut cetak yang pemakaiannya harus dapat

dipertanggungjawabkan oleh yang berwenang untuk terlaksananya

transaksi.

2)

Pemeriksaaan

(surprised

audit)

yang

dilaksanakan

tanpa

pemberitahuan terlebih dahulu kepada pihak yang akan diperiksa.

Hal ini akan mendorong karyawan melaksanakan tugasnya sesuai

dengan aturan yang telah ditetapkan.

 

3)

Setiap transaksi tidak boleh dilaksanakan dari awal sampai akhir

oleh satu orang atau unit organisasi tanpa ada campur tangan dari

orang

atau

unit

organisasi

lain.

Karena

setiap

transaksi

dilaksanakan dengan campur tangan pihak lain sehingga terjadi

internal checking terhadap pelaksanaan tugas setiap unit organisasi

terkait.

25

4)

Perputaran jabatan (job rotation) yang diadakan secara rutin akan

dapat menjaga independensi pejabat dalam melaksanakan tugasnya,

sehingga persekongkolan di antara mereka dapat dihindari.

 

5)

Keharusan mengambil cuti bagi karyawan yang berhak. Selama

cuti, jabatan karyawan yang bersangkutan digantikan sementara

oleh

pejabat

lain

sehingga

apabila

terjadi

kecurangan

dalam

departemen yang bersangkutan dapat diungkap oleh pejabat yang

menggantikannya.

6)

Secara

periodik

diadakan

pencocokan

fisik

kekayaan

dengan

catatannya.

7)

Pembentukan unit organisasi yang bertugas mengecek efektivitas

unsur-unsur sistem pengendalian intern. Unit organisasi ini disebut

dengan satuan pengawas intern atau staf pemeriksa intern.

d. Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggung jawabnya.

Kapabilitas karyawan merupakan unsur sistem pengendalian

intern yang paling penting. Karyawan yang jujur dan ahli dalam

bidang yang menjadi tanggung jawabnya akan dapat melaksanakan

tugasnya secara efektif dan efisien.

D. Sistem Informsi Akuntansi Persediaan

Sistem informasi akuntansi atas persediaan barang terdiri dari dua

bagian yaitu:

26

1. Sistem Informasi Akuntansi Pembelian atau Pengadaan Barang

Siklus pembalian meliputi transaksi-transaksi yang terkait dengan

pembelian dan pembayaran. Pengendalian yang dilakukan ditujukan pada

aktivitas seperti pemesanan dan penerimaan barang serta pengeluran kas.

Aktivitas pembelian diselenggarakan untuk menyediakan bahan baku,

persediaan

maupun

aktiva

tetap

yang

dibutuhkan

untuk

operasi

perusahaan.

Menurut Mulyadi (2001) sistem pembelian digolongkan menjadi

dua macam yaitu pembelian lokal dan pembelian impor. Pembelian lokal

adalah pembelian yang berasal dari pemasok dalam negeri, sedangkan

pembelian impor adalah pembelian dari pemasok luar negeri.

Sistem akuntansi pembelian digunakan dalam perusahaan untuk

menyediakan barang dan jasa yang diperlukan oleh perusahaan. Pembelian

adalah transaksi bisnis yang meliputi perolehan barang atau jasa yang

diperlukan dalam proses produksi atau untuk dijual pada tertentu yang

menimbulkan kewajiban.

a. Sistem Pengendalian Intern Pembelian

Sistem pengendalian intern pembelian adalah suatu sistem yang

meliputi

rencana

organisasi,

semua

metode

dan

ketentuan

yang

ditujukan untuk melindungi dan menjaga kekayaan, meliputi ketepatan

sejauh mana data akuntansi yang berkaitan dengan sistem pembelian

dapat

dipercaya,

mendorong

efisiensi

penggunaan

aktiva

dan

27

menunjang dipatuhinya kebijakan manajemen yang telah ditetapkan

dalam kaitannya dengan pembelian.

Menurut Mulyadi (2001) fungsi yang terkait dalam sistem pembelian

adalah

1)

Fungsi gudang

Bertanggung

jawab untuk mengajukan permintaan pembelian

sesuai dengan posisi persediaan yang ada di gudang dan untuk

menyimpan barang yang telah diterima oleh fungsi penerimaan.

2)

Fungsi pembelian

 

Bertanggung jawab untuk memperoleh informasi mengenai harga

barang, menentukan pemasok dan mengeluarkan order pembelian

kepada pemasok yang dipilih.

 

3)

Fungsi penerimaan barang

Bertanggung jawab untuk melakukan pemeriksaan terhadap jenis,

mutu, dan kuantitas barang yang diterima dari pemasok guna

menentukan

dapat

atau

tidaknya

barang

tersebut

diterima

perusahaan. Fungsi ini juga bertanggung jawab untuk menerima

barang dari pembeli yang berasal dari transaksi retur.

 

4)

Fungsi pencatatan utang

 

Bertanggung jawab mencatat transaksi pembelian ke dalam register

bukti kas keluar dan untuk menyelenggarakan arsip dokumen

sumber

(bukti

kas

keluar)

sebagai

bukti

membuat buku pembantu utang.

catatan

utang

atau

28

b. Pengendalian Intern yang Sebaiknya Dilakuan

Untuk

melakuan

pengawasan

pada

siklus

pembelian

serta

pengendalian intern di dalamnya, maka harus diperhatikan elemen

pengendalian

intern

siklus

pembelian.

Menurut

Mulyadi

(1997)

elemen-elemen sistem pengendalian intern itu adalah:

1)

Organisasi

a) Fungsi pembelian harus terpisah dari fungsi penerimaan

b) Fungsi pembelian harus terpisah dari fungsi akuntansi

c) Fungsi pembelian harus terpisah dari fungsi penyimpanan

d) Transaksi pembelian harus dilaksanakan oleh fungsi gudang,

fungsi pembelian, fungsi penerimaan, dan fungsi akuntansi.

2)

Sistem otorisasi dan prosedur pencatatan

a) Surat permintaan pembelian diotorisasi oleh fungsi gudang,

untuk barang yang disimpan dalam gudang, atau oleh fungsi

pemakaian barang untuk barang yang langsung dipakai.

b) Surat order pembelian diotorisasi oleh fungsi pembelian atau

pejabat yang lebih tinggi.

c) Laporan penerimaan barang diotorisasi oleh fungsi penerimaan

barang.

d) Bukti kas keluar diotorisasi oleh fungsi akuntansi atau pejabat

yang lebh tinggi.

29

e) Pencatatan terjadinya utang didasarkan pada bukti kas keluar

yang didukung oleh surat order pembelian, laporan penermaan

barang, dan faktur dari pemasok.

f) Pencatatan ke dalam kartu utang dan registrasi bukti kas keluar

(voucher register) diotorisasi oleh fungsi akuntansi.

3)

Praktik yang sehat

a) Surat

permintaan

pembelian

bernomor

urut

tercetak

dan

pemakaiannya dipertanggungjawabkan oleh fungsi gudang.

b) Surat

order

pembelian

bernomor

urut

tercetak

dan

pemakaiannya dipertanggungjawabkan oleh fungsi pembelian.

c) Laporan

penerimaan

barang

bernomor

urut

tercetak

dan

pemakaiannya dipertanggungjawabkan oleh fungsi penerimaan.

d) Pemasok

dipilih

berdasarkan

bersaing dari pemasok.

jawaban

penawaran

harga

e) Barang hanya diperiksa dan diterima oleh fungsi penerimaan

jika fungsi ini telah menerima tembusan surat order pembelian

dari fungsi pembelian.

f) Terdapat pengecekan terhadap harga, syarat pembelian, dan

ketelitian dalam faktur dari pemasok dengan cara menghitung

dan menginspeksi barang tersebut dan membandingkan dengan

tembusan surat order pembelian.

30

2. Sistem Informasi Akuntansi Penjualan atau Pengeluaran Barang

Aktivitas penjualan atau pengeluaran barang terkait dengan siklus

pendapatan. Aktivitas penjualan diselenggarakan untuk pengeluaran bahan

baku, persediaan maupun aktiva tetap yang tersedia untuk dijual.

Dalam transaksi penjualan tunai, barang diserahan oleh fungsi

pengiriman

kepada

customer

atau

jasa

baru

diserahkan

jika

fungsi

penerimaan kas telah menerima uang dari customer.

a. Sistem Pengendalian Intern Penjualan

Menurut Mulyadi (2001) fungsi yang terkait dengan sistem

pengeluaran barang adalah:

1)

Fungsi penjualan

 

Fungsi ini bertanggung jawab untuk membuat faktur penjualan

tunai yang memungkinkan fungsi penerimaan kas menerima kas

dari

customer

dan

yang

merupakan

perintah

kepada

fungsi

pengiriman untuk menyerahkan barang kepada customer.

2)

Fungsi gudang

 

Fungsi ini bertanggung jawab untuk menyimpan dan menyiapkan

barang yang dipesan oleh customer serta menyerahkan barang ke

fungsi pengiriman.

 

3)

Fungsi akuntansi

 

Fungsi ini bertanggung jawab untuk mencatat transaksi penjualan

ke dalam jurnal penjualan.

31

Fungsi ini bertanggung jawab terhadap penerimaan uang dari

customer atas barang yang telah dibeli.

Dokumen yang digunakan dalam sistem pengeluaran barang

adalah

1)

Bukti permintaan dan pengeluaran barang

Berfungsi sebagai bukti pengeluaran barang dari gudang.

2)

Bukti pengembalian barang ke gudang

Digunakan untuk mengembalikan barang ke gudang apabila barang

tidak jadi dibeli.

3)

Kartu gudang

Kartu ini digunakan untuk mencatat kuantitas bahan baku yang

dikeluarkan dari gudang.

4)

Kartu persediaan

Digunakan

untuk

mencatat

berkurangnya

kuantitas

barang.

Laporan

yang

digunakan

adalah

laporan

pengeluaran

barang,

laporan ini dibuat oleh fungsi gudang untuk menunjukkan bahwa

barang

yang

dikeluarkan

dari

gudang

telah

memenuhi

jenis,

spesifikasi mutu dan kuantitas seperti yang tercantum dalam bukti

permintaan pengeluaran barang.

b. Kesalahan yang Mungkin Terjadi dalam Aktivitas Penjualan

1)

Barang diserahkan ke pembeli sebelum pembeli membayar harga

barang.

32

2)

Kas yang diterima oleh fungsi penerimaan kas digunakan untuk

kepentingan pribadi.

3)

Barang yang diserahkan ke pembeli tidak sama dengan barang

yang dipesan.

4)

Harga barang dicantumkan salah pada faktur penjualan tunai.

5)

Penyerahan barang tidak diotorisasi oleh pejabat yang berwenang.

6)

Catatan akuntansi diisi dengan transaksi penjuanlan fiktif.

c. Aktivitas pengendalian yang sebaiknya dilakukan

1)

Organisasi

a) Fungsi penjualan harus terpisah dari fungsi penerimaan kas.

b) Fungsi penjualan harus terpisah dari fungsi akuntansi.

c) Fungsi penyerahan barang harus terpisah dari fungsi akuntansi.

d) Fungsi akuntansi harus terpisah dari fungsi operasi dan fungsi

2)

gudang.

Sistem otorisasi dan prosedur pencatatan

a) Penerimaan

order

dari

pembeli

diotorisasi

oleh

fungsi

penjualan

dengan

menggunakan

formulir

faktur

penjualan

tunai.

b) Penerimaan kas diotorisasi oleh fungsi penerimaan kas dengan

membubuhkan cap “lunas” pada faktur penjualan tunai.

c) Penempelan pita register pada kas pada faktur penjualan tunai

setelah faktur tersebut dicap “lunas”.

33

d) Pencatatan ke dalam catatan akuntansi harus didasarkan pada

dokumen sumber yang dilampiri dokumen pendukung yang

3)

lengkap.

Praktik yang sehat

a) Jumlah kas dari transaksi penjualan tunai segera disetor ke

bagian pencatatan.

b) Penghitungan saldo kas yang ada di tangan fungsi penerimaan

kas dilakukan secara periodik dan secara mendadak sewaktu-

waktu oleh fungsi audit intern.

c) Pencatatan ke dalam catatan akuntansi harus dilakukan oleh

karyawan yang diberi wewenang untuk itu.

34

Tahap Transaksi

Fungsi/Bagian

Formulir/Dokumen

Aktivitas Pengendalian Intern

Kerugian/Kecurangan yang

 

Mungkin Timbul

Pembelian

Faktur dari pemasok Surat Permintaan Penawaran Harga Surat Permintaan Pembelian

 

Permintaan

Fungsi gudang bertanggung jawab untuk mengajukan permintaan pembelian sesuai dengan posisi persediaan yang ada. Dilakukan oleh Bagian Gudang. Fungsi pembelin bertanggung jawab untuk memperoleh informasi mengenai harga barang, menentukan pemasok, dan mengeluarkan order pembelian. Dilakukan oleh Bagian Pembelian. Fungsi penerimaan barang bertanggung jawab melakukan pemeriksaan terhadap jenis, mutu, dan kuantitas barang yang diterima dari pemasok. Dilakukan oleh Bagian Penerimaan Barang.

Otorisasi umum dan khusus untuk setiap barang yang akan dibeli.

Barang dapat diminta untuk tujuan dan kuantitas yang tidak semestinya.

Pembelian dapat terjadi dengan tujuan yang tidak semestinya.

pembelian barang

Pembuatan surat

Surat Order Pembelian Setiap order pembelian harus didasarkan pada surat permintaan pembelian yang telah diotorisasi.

order pembelian

Penerimaan barang

Laporan Penerimaan Barang

Setiap penerimaan barang harus terdapat surat order pembelian yang telah diotorisasi. Fungsi penerimaan barang menghitung dan membandingkan barang yang diterima dengan surat order pembelian.

Barang yang diterima kemungkinan tidak dipesan sebelumnya. Perusahaan kemungkinan menerima barang yang rusak, kuantitas dan jenis barang salah.

Penyimpanan

Fungsi gudang bertanggung jawab untuk menyimpan barang yang telah diterima oleh fungsi penerimaan. Dilakukan oleh Bagian Gudang.

Setiap kali terjadi penyerahan barang dari fungsi penerimaan ke fungsi gudang harus didokumentasikan dalam “tanda terima barang”.

Fungsi gudang dapat memungkiri telah menyimpan barang.

barang

Tahap Transaksi

Fungsi/Bagian

Formulir/Dokumen

Aktivitas Pengendalian Intern

Kerugian/Kecurangan yang Mungkin Timbul

Pencatatan utang

Fungsi pencatat utang bertanggung jawab untuk mencatat transaksi pembelian ke dalam register bukti kas keluar dan untuk menyelenggarakan arsip dakumen sumber (bukti kas keluar) yang berfungsi sebagai catatan utang atau menyelenggarakan buku

Kartu Utang Bukti Kas Keluar

Setiap pencatatan harus dilandasi dokumen sumber bukti kas keluar dan dokumen pendukung yang lengkap.

Bukti kas keluar bisa tidak dicatat

35

pembantu utang. Dilakukan oleh Bagian Utang.

Persediaan

Penghitungan fisik

Fungsi penghitungan fisik bertanggung

Kartu Penghitungan

Pemisahan penghitungan dengan

Sediaan salah dihitung.

jawab menghitung, mengukur dan

Fisik

pengecekan.

Sediaan dihitung lebih dari satu

mengecek mutu barang. Dilakukan oleh Bagian Tim Penghitungan Fisik Sediaan

Bukti Memorial

Penggunaan peralatan dan penghitungan yang andal. Pemisahan antara fungsi penghitung dan fungsi pengecek.

kali. Laporan yang dihasilkan kurang akurat.

Fungsi akuntansi umum bertanggung jawab untuk mencatat jurnal adjustmen sebagai hasil penghitungan fisik persediaan ke dalam jurnal umum. Dilakukan oleh Bagian Akuntansi. Fungsi gudang bertanggung jawab untuk melakukan adjustmen data kuantitas persediaan yang dicatat dalam kartu gudang berdasarkan hasil penghitungan fisik persediaan.

Jurnal Umum

Penggunaan kartu penghitungan fisik sediaan bernomor urut.

Tahap Transaksi

Fungsi/Bagian

Formulir/Dokumen

Aktivitas Pengendalian Intern

Kerugian/Kecurangan yang Mungkin Timbul

Penjualan

Penerimaan order

Fungsi penjualan berfungsi menerima order dari customer, membuat faktur penjualan tunai yang memungkinkan fungsi penerimaan kas menerima kas dari dari customer dan yang merupakan perintah kepada fungsi pengiriman untuk menyerahkan barang kepada customer. Dilakukan oleh Bagian Order Penjualan.

Faktur Penjualan Tunai

Fungsi penjualan harus terpisah dari fungsi penerimaan kas. Penerimaan order dari pembeli diotorisasi oleh fungsi penjualan dengan menggunakan formulir faktur penjualan tunai. Faktur prnjualan tunai bernomor urut cetak dan pemakaiannya dipertanggungjawabkan oleh fungsi penjualan.

 

dari customer

Penjualan dilakukan kepada orang yang tidak sah.

Penerimaan kas

Fungsi kas bertanggung jawab sebagai

Pita Register

Penerimaan kas diotorisasi oleh

Barang diserahkan pembeli

36

 

penerima kas dari pembeli. Dilakukan oleh Bagian Kasa.

fungsi penerimaan kas dengan membubuhkan cap “lunas” pada faktur penjualan tunai dan penempelan pita register kas pada faktur tersebut. Jumlah kas yang diterima dari penjualan tunai disetor seluruhnya dengan segera ke bank. Fungsi penerimaan kas harus terpisah dari fungsi akuntansi. Memisahkan antara fungsi gudang dan fungsi pengiriman.

sebelum pembeli membayar harga barang. Kas yang diterima oleh fungsi penerimaan kas digunakan untuk kepentingan pribadi. Terjadi kecurangan dan salah saji.

Pengambilan

Fungsi gudang bertanggung jawab menyiapkan barang/obat sesuai dengan pesanan, serta menyerahkan ke fungsi pengiriman. Dilakukan oleh Bagian

Gudang.

Kartu Gudang

Terjadi kecurangan dan salah saji.

barang

 

Tahap Transaksi

Fungsi/Bagian

Formulir/Dokumen

Aktivitas Pengendalian Intern

Kerugian/Kecurangan yang

 

Mungkin Timbul

Pengiriman barang

Fungsi pengiriman barang bertanggung jawab untuk membungkus barang dan

Fungsi penyerahan barang harus terpisah dari fungsi akuntansi.

Barang yang diserahkan kepada

menyerahkan barang yang telah dibayar. Dilakukan oleh Bagian Pengiriman

Penyerahan barang diotorisasi oleh fungsi pengiriman barang dengan cara membubuhkan cap “sudah diserahkan” pada faktur penjualan tunai.

pembeli tidak sama dengan barang yang dipesan.

Penyerahan barang yang tidak diotorisasi oleh yang berwenag.

Pencatatan

Fungsi akuntansi bertanggung jawab sebagai pencatat transaksi penjualan dan

Jurnal Penjualan

Fungsi akuntansi harus terpisah dari fungsi operasi dan fungsi penyimpanan uang dan barang. Pencatatan akuntansi harus didasarkan atas dokumen sumber yang dilampiri dengan dokumen pendukung yang lengkap. Pencatatan ke dalam catatan akuntansi harus dilakukan oleh

Faktur penjualan dicatat dalam akun yang salah.

Transaksi

Juranal Penerimaan

 

Kas

 
 

penerimaan kas, dan pembuat laporan penjualan. Dilakukan oleh Bagian Jurnal

Jurnal Umum

37

karyawan yang diberi wewenang untuk itu.

38

E. Kerangka Teoritis

Guna memudahkan dalam memahami inti pemikiran penulis, maka

perlu dibuat kerangka teoritis dari permasalahan yang akan diangkat oleh

penulis yaitu sebagai barikut.

Tidak Terdapat Kelemahan

Evaluasi Evaluasi Evaluasi Evaluasi
Evaluasi
Evaluasi
Evaluasi
Evaluasi
Sistem Informasi Sistem Informasi Sistem Informasi Sistem Informasi Akuntansi dan Akuntansi dan Akuntansi dan
Sistem Informasi
Sistem Informasi
Sistem Informasi
Sistem Informasi
Akuntansi dan
Akuntansi dan
Akuntansi dan
Akuntansi dan
Pengendalian Intern
Pengendalian Intern
Pengendalian Intern
Pengendalian Intern
Persediaan Obat RSUD
Persediaan Obat RSUD
Persediaan Obat RSUD
Persediaan Obat RSUD
Kab. Kebumen
Kab. Kebumen
Kab. Kebumen
Kab. Kebumen

Terdapat Kelemahan

Terdapat Kelemahan

Kab. Kebumen Terdapat Kelemahan Terdapat Kelemahan Rekomendasi Perbaikan SIA dan Pengendalian Intern Gambar

Rekomendasi Perbaikan SIA

dan Pengendalian Intern

Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran

Adapun penjelasan kerangka teoritis di atas adalah sebagai berikut.

1. Mengevaluasi

Sistem

Informasi

Akuntansi

dan

Pengendalian

Intern

Persediaan Obat RSUD Kab. Kebumen dengan cara membandingkan

dengan teori yang ada.

2. Hasil evaluasi ini kemudian dilihat apakah terdapat kelemahan atau tidak

dalam Sistem Informasi Akuntansi dan Pengendalian Intern Persediaan

Obat yang digunakan.

3. Memberikan rekomendasi bila terdapat kelemahan dan kebaikannya akan

tetap dipertahankan.

BAB III

39
39

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian mengenai Sistem Informasi Akuntansi Persediaan Obat

Rumah

Sakit

Umum

Daerah

Kabupaten

Kebumen,

dilakukan

dengan

menggunakan

pendekatan

studi

kasus.

Studi

kasus

merupakan

metode

pengumpulan

data

yang

dilakukan

dengan

cara

melakukan

peninjauan

langsung ke objek penelitian yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten

Kebumen untuk memperoleh data-data sesuai dengan teknik pengumpulan

data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Kemudian data-data yang

sudah

ada

akan

digunakan

untuk

mengevaluasi

siklus

pembelian

dan

pengeluaran obat serta sistem pengendalian internnya. Data-data tersebut

dievaluasi dengan cara membandingkan dengan teori-teori mengenai siklus

pembelian dan penjualan barang sebagai landasan dalam penelitian.

B. Data dan Sumber Data

Dalam penelitian ini diperlukan adanya data dari Rumah Sakit Umum

Daerah Kabupaten Kebumen yang dapat membantu penelitian yang nantinya

akan

disusun

dan

diolah

untuk

memperkuat

analisis.

Data

yang

akan

digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer merupakan

data

yang

diperoleh

secara

langsung

dari

pihak

perusahaan

melalui

wawancara, selanjutnya data tersebut diolah dan disimpulkan.

39
39

40

Adapun data yang akan digunakan adalah sebagai berikut.

1. Sejarah

berdirinya

dan

berkembangnya

Rumah

Kabupaten Kabupaten Kebumen.

Sakit

Umum

Daerah

2. Struktur organisasi yang diterapkan dan bagian-bagian terkait.

3. Sumberdaya di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kebumen.

4. Sistem dan prosedur yang dibagi dalam siklus pengadaan dan pengeluaran

obat.

5. Dokumen-dokumen

yang

berhubungan

dengan

siklus

pembelian

dan

pengeluaran obat di RSUD Kab. Kebumen. Dokumen tersebut antara lain:

a. Dokumen pembelian obat.

b. Dokumen penjualan obat.

C. Metode Pengumpulan Data

1. Interview

Interview merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan

dengan wawancara atau tanya jawab, serta diskusi secara langsung dengan

pihak perusahaan yang berhubungan objek penelitian. Pada penelitian kali

ini, interview dilakukan dengan pihak perusahaan yaitu pada bagian-

bagian terkait dengan siklus pembelian dan penjualan obat RSUD Kab.

Kebumen. Interview dilakukan untuk mengetahui bagaimana alur siklus

akuntansi pembelian dan penjualan barang farmasi dan medis khususnya

obat yang dilaksanakan RSUD Kab. Kebumen, sehingga peneliti dapat

menggambarkan flowchart dari siklus tersebut.

41

2. Observasi

Merupakan

teknik

pengumpulan

data

yang

dilakukan

dengan

pengamatan secara langsung pada aktivitas yang diteliti. Pengamatan akan

dilakukan langsung pada objek penelitian yaitu RSUD Kab. Kebumen di

bagian yang terkait dengan siklus pembelian obat yaitu bagian instalasi

farmasi.

3. Dokumentasi

Merupakan

teknik

pengumpulan

data

yang

dilakukan

dengan

mengumpulkan

data-data

atau

dokumen-dokumen

yang

dimiliki

perusahaan yang berhubungan dengan siklus pembelian obat yaitu sistem

dan prosedur akuntansi yang berupa surat permintaan pembelian bagian

farmasi dan medis, surat order pembelian obat serta penerimaan barang

farmasi dan medis.

D. Analisis Data

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis secara

kualitatif

yaitu

analisis

yang

dilakukan

dengan

mencari

kelebihan

dan

kelemahan Sistem Informasi Akuntansi Prsediaan Obat yang ada di RSUD

Kab. Kebumen.

Analisis terhadap data yang telah diperoleh dilakukan dengan langkah-

langkah sebagai berikut:

1. Melakukan penelitian untuk memperoleh gambaran umum perusahaan

secara menyeluruh meliputi hal-hal sebagai berikut.

42

a) Gambaran umum perusahaan.

b) Struktur organisasi.

c) Sistem dan prosedur pembelian serta penjualan obat.

d) Dokumen-dokumen yang digunakan, termasuk yang terkait dengan

Sistem Informasi Akuntansi Persediaan Obat.

2.

Mengevaluasi

kelayakan

elemen

Sistem

Informasi

Akuntansi

Pengendalian Obat pada RSUD Kab. Kebumen.

 

3.

Mengevaluasi sistem dan prosedur siklus persediaan obat berdasarkan

kelayakan elemen sistem pengendalian intern.

 

4.

Menarik kesimpulan.

 

Merupakan

langkah terakhir dalam

analisis data, apakah sistem dan

prosedur pembelian dan penjualan obat pada RSUD Kab. Kebumen sudah

sesuai dengan sistem pengendalian intern

Setelah

itu

memberikan

rekomendasi

yang diterapkan perusahaan.

mengenai

Sistem

Informasi

Akuntansi Pengendalian Obat yang efektif bagi perusahaan.

BAB IV

43
43

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Sejarah dan Berkembangnya RSUD Kabupaten Kebumen

Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kebumen berdiri sejak tahun

1916, dikelola oleh misi Zending Belanda. Resmi menjadi milik Pemerintah

Daerah Kabupaten Kebumen tahun 1953. Berdasarkan Perda No.3 th 2002,

Rumah Sakit Umum Daerah Kebumen berubah menjadi Badan Pengelolaan

(Esselon II) kemudian Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kebumen

berubah lagi berdasarkan Perda No.14 th 2008 menjadi Rumah Sakit Umum

Daerah (Esselon III). SK Menteri Kesehatan RI No.233/Menkes/SK/VI/ 1983

Tentang Penetapan Tambahan Beberapa Rumah Sakit Umum Pemerintah

Sebagai Rumah Sakit Umum Pemerintah Kelas B dan C yang menetapkan

Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kebumen termasuk kelas C. Rumah

Sakit Umum Daerah Kabupaten Kebumen dipimpin oleh seorang direktur

mempunyai luas lahan: 3,2 Ha dan luas bangunan: 6000 M2.

1. Visi

Visi Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kebumen adalah

Sebagai Rumah Sakit terbaik di bidang Trauma di Propinsi Jawa Tengah

Bagian Selatan.

2. Misi

Misi Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kebumen antara lain:

43
43

44

a. Meningkatkan mutu dan cakupan pelayanan sehingga dapat memenuhi

kebutuhan masyarakat, sebagai rumah sakit rujukan Propinsi Jawa

Tengah Bagian Selatan.

b. Mengembangkan pelayanan dan sarana prasarana menjadi rumah sakit

Tipe B non pendidikan.

c. Mewujudkan

pelayanan

rumah

sakit

yang

bermutu

dan

dapat

memuaskan pasien dan efisien dalam pengelolaannya.

d. Meningkatkan pembinaan SDM dalam peningkatan kompetensi tinggi

dan karakter yang berperhatian terhadap pasien .

e. Merestrukturisasi organisasi dan manajemen menjadi Badan Layanan

Umum.

3. Fasilitas Pelayanan

Fasilitas pelayanan yang ada di RSUD Kab. Kebumen adalah

pelayanan

pasien

rawat

jalan,

pelayanan

rawat

inap,

penunjang pelayanan medis 24 jam.

dan

fasilitas

a. Fasilitas pelayanan pasien rawat jalan meliputi:

1)

Poliklinik gigi

2)

Pelayanan psikologi

3)

Pelayanan spesialis rawat jalan, meliputi:

a) Spesialis bedah

b) Spesialis penyakit dalam

c) Spesialis penyakit obsgyn

d) Spesialis penyakit Anak

45

e) Spesialis penyakit mata

f) Spesialis penyakit syaraf

g) Spesialis penyakit kulit dan kelamin

h) Spesialis THT

i) Spesialis penyakit jiwa

j) Spesialis orthopedi

b. Fasilitas pelayanan pasien rawat jalan meliputi:

1)

Bangsal anggrek

2)

Bangsal terate

3)

Bangsal cempaka

4)

Bangsal dahlia

5)

Bangsal melati

6)

Bangsal bougenville

7)

Bangsal peristi

8)

Instalasi gawat darurat

c. Fasilitas penunjang pelayanan medis meliputi:

1)

Instalasi fisioterapi

2)

Instalasi radiologi /elektromedis diagnostik

3)

Instalasi farmasi (apotek)

4)

Instalasi bedah sentral

5)

Laboratorium klinik

6)

Ambulance & mobil jenasah

46

B. Kondisi Umum Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kebumen

1. Kepegawaian

Untuk meningkatkan ketertiban, kelancaran dan memperoleh hasil

yang memuaskan maka diadakan pengawasan terhadap karyawan oleh

Bagian

Kepagawaian

karyawan.

yang

diberi

kepercayaan

Tugas kepegawaian antara lain:

dalam

mengawasi

a. melaksanakan perencanaan kebutuhan pegawai dengan menganalisis

kebutuhan pegawai yang disesuaikan antara standar ideal dengan

keadaan riil untuk mencukupi kebutuhan pegawai.

b. melaksanakan

mutasi

pegawai

berdasarkan

kebutuhan

unit

kerja

pegawai untuk bahan rapat dengan Tim Mutasi Internal Pegawai

RSUD Kab. Kebumen agar terwujud kebutuhan pegawai di unit-unit

kerja.

c. melaksanakan pelatihan pegawai berdasarkan analisis kebutuhan diklat

dengan

cara

swakelola,

kerjasama

dengan

pihak

ketiga,

untuk