Anda di halaman 1dari 8

PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTANIAN

A. TUJUAN

1. Mengetahui permasalahan lingkungan yang ada di lingkungan pertanian dan pihak-pihak


yang terlibat dalam permasalahan/konflik tersebut
2. membandingkan antara pengelolaan lingkungan pertanian secara konvensional dan
pengelolaan lingkungan pertanian yang ramah lingkungan
3. mencoba menentukan pendekatan/instrumen yang sesuai untuk mengelola lingkungan
pertanian.

B. CARA KERJA

1. Tentukan lokasi yang mempunyai sistem pengelolaan konvensional


2. Observasi wilayah kajian, amati kondisi fisik, biotik maupun sosial yang terjadi di kedua
lingkungan itu. Jika perlu, gunakan kamera untuk merekamnya. Amati maalah-
maalah/konflik yang ada
3. Siapkan pedoman wawancara/daftar pertanyaan yang akan ditanyakan kepada pihak-
pihak/orang-orang yang terlibat dalam konflik lingkungan pertanian tersebut. Daftar
pertanyaan sesuaikan dengan tujuan praktikum. Jangan lupa tuliskan status responden,
apakah ia sebagai petani, buruh tani, pedagang/pembeli hasil panen, masyarakat non
petani yang tinggal dilingkungan pertanian, atau konsumen hasil pertanian.
4. Tabulasikan data tentang masalah lingkungan fisik dan biotik yang didapat dari hasil
observasi lapangan atau wawancara, serta masalah sosial yang didapat dari hasil
wawancara dengan responden. Untuk semua masalah yang ditemukan, berilah bobot
berdasarkan wawancara dengan responden. Bobot tertinggi diberikan untuk masalah yang
paling urgen untuk diselesaikan.
5. Analisislah hasil yang didapat, cobalah untuk mengambil keputusan mengenai
pendekatan/instrumen/cara apa yang paling sesuai diterapkan untuk mengatasi
permasalahan/konflik yang terjadi pada lingkungan pertanian tersebut.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
Konsep dasar dari pertanian adalah untuk pemenuhan kebutuhan pangan manusia. Dalam
rangka memenuhi kebutuhan tersebut, maka dilakukan upaya melalui berbagai cara agar pangan
yang ada di dunia ini tetap lestari dan berkesinambungan. Dengan daratan yang cukup luas yang
tersusun rapi oleh ribuan pulau yang ada seolah menetapkan bahwa negara kita adalah negara
agraris. Memang tak dapat dipungkiri, namun hal tersebut lah yang menjadi sumber mata
pencaharian dari sekitar 60 % rakyatnya yang kemudian menjadi salah satu sektor rill yang
memiliki peran sangat nyata dalam membantu penghasilan devisa negara. Sejarah Indonesia pun
tidak terlepas dari sektor pertanian (menghasilkan bahan baku seperti padi, jagung, sagu, dll) dan
perkebunan (menghasilkan buah-buahan) terutama pada masa kolonial penjajahan Belanda
kegiatan pertanian dan perkebunan menjadi penentu tingkat sosial dan perekonomian seseorang.
Indonesia memiliki potensi besar di bidang pertanian. Sektor pertanian di Indonesia
termasuk industri pengolahannya merupakan sektor strategis karena menyumbang 27% PDB
nasional, selain menyumbang PDB nasional sektor pertanian di Indonesia juga merupakan mata
pencaharian sebagian besar masyarakat Indonesia. Tenaga kerja di sektor pertanian yaitu sebesar
47 % dari total tenaga kerja nasional, belum termasuk yang bekerja pada industri-industri
pengolahan. (Nuhung,
Peranan sektor pertanian juga dapat dilihat secara lebih komperhensif, antara lain : (a)
sebagai penyediaan pangan masyarakat sehingga mampu berperan secara strategis dalam
penciptaan ketahanan pangan nasional (food security) yang sangat erat kaitannya dengan
ketahanan sosial (socio security), stabilitas ekonomi, stabilitas politik, dan keamanan atau
ketahanan nasional (national security); (b) sektor pertanian menghasilkan bahan baku untuk
peningkatan sektor industri dan jasa, (c) sektor pertanian dapat menghasilkan atau menghemat
devisa yang berasal dari ekspor atau produk subtitusi impor, (d) sector pertanian merupakan
pasar yang potensial bagi produk-produk sektor industri, (e) transfer surplus tenaga kerja dari
sektor pertanian ke sektor industri merupakan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi, dan (f)
sektor pertanian mampu menyediakan modal bagi pengembangan sektor-sektor lain (a net
outflow of capital for invesment in other sectors), serta (g)peran pertanian dalam penyediaan
jasa-jasa lingkungan.
Pembangunan sektor pertanian bukan suatu hal mudah. Ada banyak hal sesungguhnya
yang menjadi permasalahan, misalnya masih rendahnya pengetahuan petani atas akses informasi
dan teknologi, permasalahan lemahnya akses modal, juga dapat berupa investasi yang dimiliki
oleh petani yang kurang. Hal ini menjadi sangat kontras sementara pertanian mendominasi
hampir setiap segi perekonomian, misalnya dalam penyerapan tenaga kerja. Sebenarnya
permasalahan tersebut diatas bukan temuan baru, masalah ini sudah sejak lama ada sejalan
dengan keberadaan pertanian itu sendiri. Terkait dengan hal tersebut sesungguhnya pemerintah
telah meluncurkan berbagai program yang mendukung petani. Misalnya dalam hal peningkatan
produksi pangan dikembangkan lewat balai pengkajian dan penelitian pertanian tentang
teknologi tepat guna dan pengembangan benih-benih unggulan berpotensi. Salah satu solusinya
adalah penyuluhan bertani sistem modern dengan menggunakan teknologi yang mendukung.
Keunggulan pertanian modern, antara lain menggunakan teknologi canggih, menggunakan bibit
unggul, lebih menghemat waktu, lebih menghemat biaya, hasil yang dihasilkan lebih besar.
Napitupulu (2000) menyatakan bahwa pertanian modern sebagai pertanianyang tangguh dan
efisien apabila dikelola secara professional dan memiliki keunggulan untuk memenangkan
persaingan.Pertanian modern seperti itu, memiliki ciri-ciri:
1. Usahanya merupakan industri/perusahaan pertanian, memenuhi skala
ekonomi,menerapkan teknologi maju dan spesifik lokasi, menghasilkan produk segar
danolahan yang dapat bersaing di pasar global, dikelola secara profesional.
2. Petani mampu mengambil keputusan rasional dan inovatif, memiliki jiwa
kewirausahawan, memiliki menajemen yang modern dan profesional, memiliki informasi
ke pasar global.
3. Organisasinya memiliki asosiasi diantara petani yang kuat dan berjenjang dari
tingkatdesa ke tingkat nasional, bisa mengakses lembaga keuangan dan lembaga
bisnislainnya.
4. Aturan mainnya memncerminkan adanya kesadaran tingkat makro dan mikro
sertaoperasional berpihak kepada petani, khususnya konteks perdagangan global.
Sedangkan pertanian modern yang maju, efisien dan tangguh itu mempunyai
kemampuan(Rasahan, 200):
1. Memanfaatkan sumberdaya pertanian secara berkelanjutan
2. Mengelola keterkaitan ke belakang dan kedepan yang erat dengan kegiatan
ekonomilainnya.
3. Menyerap dan mendiversifikasikan tenaga-tenaga produktif di pedesaan
sekaligus pemerataan kesejahteraan pedesaan.
4. Antisipasi terhadap perubahan-perubahan lingkungan strategis baik tingkat
domestik,regional dan internasional
Jadi, usaha tani modern merupakan usaha tani yang sifatnya komersial, yang selalu dinamis dan
luwes dan produktivitasnya selalu meningkat. Usaha tani yang modern,memerlukan
keterampilan, sarana produksi, alat-alat pertanian dan kredit untuk menerapkan teknologi yang
selalu berkembang itu didalam usaha taninya. Untuk mengembangkan usaha tani modern, akan
memerlukan bantuan dari pihak luar, memerlukan agri support yang berupa penyuluhan,
penyediaan sarana produksi, alat-alat pertanian dan kredit, kesempatan pemasaran dari hasil
usaha taninya (Hadisapoetro, 1972).
Namun bukan tidak mungkin setelah petani sudah menerapkan pertanian sistem modern
tidak terdapat masalah masalah atau konflik, salah satu contohnya seperti banyak petani
indonesia yang belum paham tentang pertanian modern yang lebih ramah lingkungan. Pertanian
yang lebih ramah lingkungan ini menggunakan bahan-bahan organik dalam pengelolaannya.
Dimungkinkan karna kurangnya penyuluhan menyebabkan pertanian modern diindonesia masih
banyak yang bertumpu pada pasokan eketernal berupa bahan-bahan kimia buatan (pupuk dan
pestisida), menimbulkan kekhawatiran berupa pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup
abiotik maupun biotik. Kerugian lainnya berupa timbulnya dampak buruk penggunaan pestisida, dapat
dikelompokkan atas 3 bagian : (1). Pestisida berpengaruh negatip terhadap kesehatan manusia, (2).
Pestisida berpengaruh buruk terhadap kualitas lingkungan, dan (3). Pestisida meningkatkan
perkembangan populasi jasad penganggu tanaman. Oleh karena itu kami melakukan observasi dan
wawancara lebih lanjut terhadap pihak-pihak yang menggunakan sistem pertanian modern untuk
mengetahui berbagai permasalahan-permasalahan atau konflik yang terjadi.
Berikut ini adalah daftar responden yang kami wawancarai pada tanggal 18 september
2017 terkait dengan pertanian berbasis sistem modern:
1. Nama responden : Bapak Suyono
Umur : 87 tahun
Status : Buruh Tani
Lokasi : Desa Baturan
2. Nama responden : Bapak Suwito Atmojo
Umur : tahun
Status :
Lokasi : Desa Baturan
3.
4. G
Data yang dapat ditabulasikan sebagai berikut
Tabel 1. Masalah/sumber konflik yang ditemukan berdasarkan observasi lapangan
Permasalahan Sistem pertanian konvensional
Lingkungan fisik Kondisi tanah yang gersang,
Lingkungan biotik banyak rumput atau gulma yang tumbuh di area pertanian, hewan yang
terdapat disekitar area pertanian yaitu semut,

Tabel 2. Masalah/sumber konflik yang ditemukan berdasarkan wawancara dengan responden


Sistem pertanian konvensional
No. Status Masalah yang dirasakan Masalah yang dirasakan harus
Responden responden segera diatasi
1 Buruh Tani Mahalnya harga pupuk dan
peptisida
Rendahnya harga jual beras ke
tengkulak, tidak sebanging
dengan masa produksi dan biaya
produksi yang dikeluarkan petani
Hama yang kebal dengan
peptisida; contohnya seperti hama
Meningkatnya jumlah gulma
Pengairan yang kurang lancar
karna sumber pengairan yang
bersumber pada selokan mataram
tidak dapat selalu memasok
kebutuhan air saat musim panas
pemasokan pupuk organik yang
lebih mahal dari pupuk kimia,
sehingga petani masih banyak
menggunakan pupuk kimia
Pembebanan penyewaan traktor
diluar koperasi, karna koperasi
pertanian didaerah tersebut alat
operasional traktor mengalami
kerusakan
Belum mampunya petani
memproduksi bibit padi yang
bagus
Hasil produksi dirasa kurang
meningkat akibat kondisi tanah
yang lengket dan nutrisi
didalam tanah yang kurang
optimal akibat pemakaian bahan
kimia
Pembasmian hama tikus yang
masih menggunakan alat seperti
gas belerang/peluru plastik dan
pada saat pembasmian rentan
terjadi human eror yang berakibat
rusaknya lahan pertanian
2. Koperasi Kekurangan tenaga kerja buruh
Swadaya tani
Masih melakukan pengoptimalan
kondisi dan nutrisi tanah lahan
pertanian
Masih mengusahakan alat
operasional pertanian yang belum
lengkap seperti traktor,

Tabel 3. Pembobotan (scoring) mengenai permasalahan yang didapatkan di lapangan


Sistem pertanian konvensional
Nomor Permasalahan Bobot

D. KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
Mardikanto, Totok. 2007. Pengantar Ilmu Pertanian.Pusat PengembanganAgrobisnis dan
Perhutanan Sosial: Surakarta