Anda di halaman 1dari 23

KOMPOSISI ION KOMPLEKS

DENGAN METODA JOBS

I. TUJUAN
Menentukan komposisi ion kompleks dengan menggunakan metoda jobs.

II. TEORI
Senyawa koordinasi adalah salah satu senyawa yang memegang peranan penting
dalam kehidupan manusia. Senyawa ini terbentuk karena adanya ikatan antara
ligan yang berperan sebagai donor pasangan elektron (basa lewis) dengan ion
pusat (logam) yang berperan sebagai akseptor pasangan elektron (asam lewis) [1].
Senyawa kompleks dapat digunakan dalam analisis kualitatif sebagai
pengembangan prosedur analisis logam berat. Logam-logam tersebut contohnya
logam kadmium dapat diubah menjadi suatu senyawa kompleks dan diikuti
ekstraksi dalam pelarut organik yang sesuai, sehingga konsentrasi logam dapat
dianalisis secara spektrofotometri. Sebagai contoh, campuran ion logam
bervalensi dua, tiga, dan empat dipisahkan melalui pembentukan senyawa
kompleks dengan kupferon, kompleks kupferon dari logam bervalensi dua dapat
diekstraksi dengan pelarut organik contohnya etanol dan eter, dan valensi tiga dan
empat dapat diekstraksi dari pelarut air. Senyawa kompleks merupakan senyawa
yang tersusun dari atom pusat dan ligan. Atom pusat bisa berupa logam transisi,
alkali atau alkali tanah. Ion atau molekul netral yang memiliki atom - atom donor
yang dikoordi nasikan dengan atom pusat disebut dengan ligan. Senyawa
kompleks terbentuk akibat terjadinya ikatan kovalen koordinasi antara ion logam
atom pusat dengan suatu ligan [2].
Ion logam transisi memiliki sifat-sifat unik yang berbeda dari ion logam-
logam lainnya seperti berbilangan oksidasi lebih dari satu, sifat katalitik, sifat
magnet dan spektrum elektronik. Ion ini berperan besar dalam pembentukan
senyawa kompleks karena memiliki orbital d yang belum seluruhnya terisi penuh
dengan elektron sehingga mampu menerima pasangan elektron dari ligan untuk
berikatan [3].
Nikel merupakan logam transisi berwarna keperakan atau berupa serbuk
logam hitam. Pertama kali dimurnikan oleh CROUSTED pada tahun 1751.
Terdapat secara alamiah di alam sebagai sulfida dan silikatnya (misal :
pendandit/FeS.NiS). Satu-satunya keadaan oksidasi Ni yang penting yang terdapat
dalam larutan berair adalah +2. Ni (II) dapat membentuk ion kompleks, salah
satunya adalah dengan ligan bidentat, etilen diamin (en).
Nikel (Ni) memiliki :

NA = 28

Berat molekul = 58 g/mol

Titik leleh = 1445 oC

Titik didih = 2730 oC

Diameter = 6,802

Jari-jari ion Ni2+ = 972 A

Hhid Ni2+ = 507 Kkal

Jari-jari atom = 1,149 A

Hf (atom) = 103 Kkal

EII = 176 Kkal

EIII = 419 Kkal

EIII = 811 Kkal

Konfigurasi elektron = 3d8 4s2
Prosedur yang dipakai untuk menarik kesimpulan komposisi dari spesi
komplek Ni2+ etilen diamin dalam percobaan ini dikenal dengan metoda jobs dari
variasi yang kontiniu dimana bentuk kesetimbangan secara umum :
Z + nL ZnL
Dimana :
Z = Ni2+
L = etilen diamin (en)
n = jumlah total en dalam larutan
Baik Ni2+ maupun beberapa kompleks Ni(en)n2+ mempunyai serapan pada
daerah sinar tampak dalam spektrum elektromagnetik tetapi spektranya berubah
atau berbeda. Secara eksperimen, salah satunya mengukur intensitas serapan pada
suatu panjang gelombang dari sederetan larutan yang mengandung sejumlah Ni 2+
dan en yang bervariasi. Adsorban berhubungan langsung dengan konsentrasi spesi
Ni(en)n2+ dalam larutan.
Variasi kontiyu merupakan suatu cabang ilmu kimia yang sangan penting
karena dapat menentukan dan melakukan suatu proses perubahan-perubahan
secara fisika maupun kimia yang dapat kita amati melalui variasi kontiyu. Metoda
variasi kontinyu yang dikemukakan oleh Job dapat menimbulkan kondisi
optimum pembentukan dan konstanta kestabilan senyawa kompleks yang
mengandung konsentrasi ion logam maupun konsentrasi ligan divariasikan
(Ewing, 1985). Metoda job dilakukan dengan pengamatan terhadap kuantitas
molar pereaksi yang berubah-ubah. Namun molar totalnya sama. Sifat fisika
(massa, volume, suhu, daya serap) diperiksa dan perubahannya digunakan untuk
meramal stoikiometri system. Dari grafik aluran sifat fisik terhadap kuantitas
pereaksi, akan diperoleh titik maksimal atau minimal yang sesuai dengan titik
stoikiometri system yang menyatakan perbandingan pereaksi dalam senyawa [4].
Metoda jobs digunakan untuk menentukan beberapa banyak ligan yang
terikat pada ion pusat. Dalam percobaan ini ditentukan kompleks sesungguhnya
yang terdapat dalam larutan. Kesetimbangan yang mungkin ada, yaitu :
Ni2+ + en Ni(en)2+
Ni(en)2+ + en Ni(en)22+
Ni(en)22+ + en Ni(en)32+
Ni(en)32+ + en Ni(en)42+
Jika sederetan pengukuran hanya pada satu panjang gelombang maka sistem harus
berada hanya pada satu bentuk kompleks. Bila pengukuran dibuat beberapa
panjang gelombang menghasilkan memberikan hasil yang sama. Dapat
disimpulkan bahwa hanya pada satu kompleks yang terbentuk. Untuk sistem
kompleks yang lebih banyak perlu dibuat pengukuran-pengukuran pada panjang
gelombang yaitu sebanyak adanya spesi.
Dalam metoda ini untuk membandingkan larutan Ni2+ dan en, masing-masing
disiapkan pada konsentrasi m yang sama. Jadi, tidak ada masalah berapa volume
masing-masing yang dicampurkan.
Hukum yang mendasari pengukuran serapan ini adalah hukum Lambert Beer.
A=.b.c

Dimana :
A = Absorben
= koefisien ekstingsi
b = panjang gelombang
c = konsentrasi molar
Kemampuan ion kompleks melakukan reaksi penggantian satu atau lebih ligan
dalam lingkungan koordinasinya oleh ligan yang lain disebut kelabilan. Kompleks
yang reaksinya sangat cepat disebut labil sedangkan yang reaksinya berlangsung
lambat atau sama sekali tidak mengacu kepada laju reaksi disebut inert. Perlu
ditekankan bahwa kedua istilah ini mengacu pada laju reaksi dan jangan
dibaurkan dengan istilah stabil dan tidak stabil yang mengacu pada
kecenderungan termodinamika dari spesies yang berada dalam kondisi
kesetimbangan.
III. PROSEDUR PERCOBAAN
III.1 Alat dan Bahan
III.1.1 Alat dan fungsi
No Alat Fungsi
Spektrofotometer sinar Alat untuk mengukur adsorban
Tampak sampel
Labu ukur Wadah untuk mengencerkan
larutan dengan teliti
Gelas ukur Untuk mengukur volume larutan
Tabung reaksi Untuk Wadah larutan
Pipet hisap Untuk mengambil zat dengan teliti

3.1.2 Bahan dan Fungsi


No Bahan Fungsi
NiSO4.6H2O Sebagai sumber atom pusat
Etilen diamin Sebagai ligan pengikat
Akuades Sebagai pelarut dan blanko
3.2 Cara Kerja
1. Sebanyak 5,25 g NiSO4.6H2O ditimbang dan dilarutkan dengan sedikit
akuades di dalam gelas piala.
2. Kemudian dimasukkan ke labu ukur 50 mL dan diencerkan hingga tanda
batas.
3. Di dalam labu ukur 50 mL lainnya dimasukkan etilendiamin sebanyak 1,2 mL
dan diencerkan hingga tanda batas.
4. Setelah itu, masing-masing larutan (Ni2+ : etilendiamin) dicampurkan di
dalam tabung reaksi dimana volume total campuran selalu konstan (10 mL)
dan variasi campuran dibuat berdasarkan tabel di bawah ini :

Tabel . Perbandingan Volume Pencampuran Larutan Ni2+ dengan Larutan


Etilendiamin

Volume etilendiamin
Campuran Volume Ni2+ (mL)
(mL)
1 7 3
2 6 4
3 5 5
4 4 6
5 3 7
6 2 8
7 1 9
5. Absorban larutan Ni2+, larutan etilendiamin dan masing-masing campuran
diukur dengan menggunakan UV-Vis spectrophotometer pada panjang
gelombang 530 nm, 545 nm, 578 nm, 622 nm, 650 nm dan 660 nm.
3.3 Skema Kerja

5,25 g NiSO4.7H2O 20 mL en 1M
+ akuades + akuades

50 mL larutan Ni2+ 50 mL larutan en


0,4 M 0,4 M
-
Dicampurkan kedua larutan dengan
perbandingan komposisi:
Ni2+ 7 6 5 4 3 2 1
en 3 4 5 6 7 8 9
-
Diukur serapan pada panjang
Gelombang 530, 545, 578, 622, 650
dan 660 nm

Absorban
-
Ditentukan nilai Y dan plot Y
terhadap X

Harga X
-
Ditentukan nilai n dari [Ni(en)2]
2+

Harga n untuk
kompleks [Ni(en)2] 2+

IV. DATA DAN PERHITUNGAN


4.1 Data
Massa NiSO4.6H2O : 5,25 g
Massa molar NiSO4.6H2O : 262,4 g.mol-1
Volume en pekat : 1,25 mL
Persentase en pekat : 99%
Massa molar en : 60,1 g.mol-1
Massa jenis en : 0,9 g.mL-1
4.1.1 Pengamatan Warna
NiSO4.6H2O : kristal berwarna emerald-green
Etilendiamin (en) : larutan bening
Tabel . Hasil Pengamatan Campuran Larutan Ni2+ dengan Larutan en
4.2 Perhitungan
Volume Volume
Campuran Ni2+ etilendiamin Warna yang diamati
(mL) (mL)
1 7 3 Hijau kebiruan
2 6 4 Biru +
3 5 5 Biru ++
4 4 6 Biru +++
5 3 7 Biru +++
6 2 8 Ungu ++
7 1 9 Ungu +
Tabel . Data Pengukuran Absorban pada Panjang Gelombang yang Berbeda
(nm)
No Ni2+:en
530 545 578 622 650 660
1 7;3 0,151 0,236 0,471 0,756 0,769 0,731
2 6;4 0,184 0,291 0,555 0,795 0,742 0,690
3 5;5 0,241 0,388 0,634 0,765 0,661 0,604
4 4;6 0,430 0,556 0,714 0,686 0,474 0,415
5 3;7 0,600 0,606 0,626 0,352 0,236 0,211
6 2;8 0,547 0,577 0,428 0,193 0,118 0,110
7 1;9 0,350 0,367 0,284 0,138 0,098 0,089
Ni2+ 0,100 0,112 0,167 0,507 0,770 0,791
en 0,057 0,057 0,057 0,057 0,057 0,057

4.2.1 Konsentrasi Larutan Ni2+


0,4 mol NiSO 4 .6H 2 O 1 L larutan
Massa 50 mL larutan
1 L larutan 1000 mL larutan
237,66 g NiSO 4 .6H 2 O

1 mol NiSO 4 .6H 2 O
4,7532 g NiSO 4 .6H 2 O

4.2.2 Konsentrasi Larutan en


99 g en 0,9 g larutan 1000 mL larutan
Volume
100 g larutan 1 mL larutan 1 L larutan
1 mol en 1 L larutan
50 mL larutan
60,1 g en 0,4 mol en
1,25 mL larutan

4.2.3 Penentuan Nilai x


(V.M)en
X en
(V.M)en (V.M)Ni 2
X Ni 2 1 - Xen
Untuk perbandingan volume campuran 7:3
(3 0,4)
Xen 0,3
(3 0,4) (7 0,4)
X Ni 2 1 - 0,3 0,7
Untuk perbandingan volume campuran selanjutnya dilakukan dengan cara yang
sama :
Tabel . Nilai Fraksi Mol Ni2+ dengan en
VNi2+ (mL) Ven (mL) XNi2+ Xen
7 3 0,7 0,3
6 4 0,6 0,4
5 5 0,5 0,5
4 6 0,4 0,6
3 7 0,3 0,7
2 8 0,2 0,8
1 9 0,1 0,9

4.2.4 Penentuan Nilai y


Y = Apengukuran - (1 - Xen)ANi2+
1. = 530 nm
y1 = 0,151 - (0,7x0,1) = 0,081
y2 = 0,184 - (0,6x0,1) = 0,124
y3 = 0,241 - (0,5x0,1) = 0,191
y4 = 0,430 - (0,4x0,1) = 0,390
y5 = 0,600 - (0,3x0,1) = 0,570
y6 = 0,547 - (0,2x0,1) = 0,527
y7 = 0,350 - (0,1x0,1) = 0,340
2. = 545 nm
y1 = 0,236 - (0,7x0,112) = 0,1576
y2 = 0,291 - (0,6x0,112) = 0,2238
y3 = 0,388 - (0,5x0,112) = 0,3220
y4 = 0,556 - (0,4x0,112) = 0,5156
y5 = 0,606 - (0,3x0,112) = 0,6524
y6 = 0,577 - (0,2x0,112) = 0,5546
y7 = 0,367 - (0,1x0,112) = 0,3538
3. = 578 nm
y1 = 0,471 - (0,7x0,167) = 0,3541
y2 = 0,555 - (0,6x0,167) = 0,4598
y3 = 0,634 - (0,5x0,167) = 0,5505
y4 = 0,714 - (0,4x0,167) = 0,6472
y5 = 0,626 - (0,3x0,167) = 0,5859
y6 = 0,428 - (0,2x0,167) = 0,4046
y7 = 0,284 - (0,1x0,167) = 0,2673
4. = 622 nm
y1 = 0,756 - (0,7x0,507) = 0,4011
y2 = 0,795 - (0,6x0,507) = 0,4901
y3 = 0,765 - (0,5x0,507) = 0,5115
y4 = 0,686 - (0,4x0,507) = 0,4032
y5 = 0,352 - (0,3x0,507) = 0,1999
y6 = 0,193 - (0,2x0,507) = 0,0916
y7 = 0,138 - (0,1x0,507) = 0,0877
5. = 650 nm
y1 = 0,769 - (0,7x0,770) = 0,230
y2 = 0,742 - (0,6x0,770) = 0,280
y3 = 0,661 - (0,5x0,770) = 0,276
y4 = 0,474 - (0,4x0,770) = 0,166
y5 = 0,236 - (0,3x0,770) = 0,005
y6 = 0,118 - (0,2x0,770) = -0,026
y7 = 0,098 - (0,1x0,770) = 0,016
6. = 660 nm
y1 = 0,731 - (0,7x0,791) = 0,1759
y2 = 0,690 - (0,6x0,791) = 0,2142
y3 = 0,604 - (0,5x0,791) = 0,2085
y4 = 0,415 - (0,4x0,791) = 0,1078
y5 = 0,211 - (0,3x0,791) = -0,0259
y6 = 0,110 - (0,2x0,791) = -0,0426
y7 = 0,089 - (0,1x0,791) = 0,0097
4.2.5 Penentuan Nilai ymaks untuk Menentukan Nilai n

Tabel . Nilai Absorban


Campura (nm)
n 530 545 578 622 650 660
1 0,081 0,1576 0,3541 0,4011 0,2300 0,1759
2 0,124 0,2236 0,4598 0,4901 0,2800 0,2142
3 0,191 0,3220 0,5505 0,5115 0,2760 0,2085
4 0,390 0,5156 0,6472 0,4032 0,1660 0,1078
5 0,570 0,6524 0,5859 0,1999 0,0050 0,0259
6 0,527 0,5546 0,4046 0,0916 0,026 0,0426
7 0,340 0,3538 0,2673 0,0877 0,0160 0,0097

Xen
n
1 - Xen
a) maks en
= 530 nm ; y = 0,570 ; X = 0,7

0,7
n 2,33
1 0,7

b) maks en
= 545 nm ; y = 0,6524 ; X = 0,7

0,7
n 2,33
1 0,7

c) maks en
= 578 nm ; y = 0,6472 ; X = 0,6

0,6
n 1,5
1 0,6

d) maks en
= 622 nm ; y = 0,5115 ; X = 0,5

0,5
n 1
1 0,5

e) maks en
= 650 nm ; y = 0,28 ; X = 0,4

0,4
n 0,67
1 0,4

f) maks en
= 660 nm ; y = 0,2142 ; X = 0,4

0,4
n 0,67
1 0,4
Tabel . Penelusurann Nilai n
(nm) ymaks (A) XNi2+ Xen n Pembulatan
530 0,570 0,3 0,7 2,33 2
545 0,6524 0,3 0,7 2,33 2
578 0,6472 0,4 0,6 1,5 2
622 0,5115 0,5 0,5 1 1
650 0,2800 0,6 0,4 0,67 1
660 0,2142 0,6 0,4 0,67 1
2 2 2 111
n 1,5 2
6
4.3 Grafik

Hubungan Fraksi Mol Etilen terhadap Absorban


dengan Variasi Panjang Gelombang
0.7
0.6 545 nm
0.5
530 nm
0.4
Absorban (A)

0.3 578 nm
0.2 622 nm
0.1
650 nm
0
-0.1 660 nm

-0.2
0.2 0.4 0.6 0.8 1
Fraksi Mol
V. PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Pengamatan Setiap Langkah Kerja

No Cara Kerja dan reaksi Foto Pengamatan Analisa


1. Ni2+ dan en diencerkan Ni2+ berwarna hijau dan en Pengenceran larutan bertujuan
dalam labu 50 mL berwarna bening untuk membuat konsentrasinya
Larutan menjadi lebih encer. menjadi lebih kecil dan juga
NiSO4.6H2O + H2O Ni2+ untuk mengionkan Ni2+ dari
+ SO42- + 7H2O NiSO4.6H2O .

2. Kedua larutan dicampurkan Larutan menghasilkan warna Perubahan warna menunjukkan


dengan bebrapa variasi yang berbeda-beda. bahwa komplek telah terbentuk.
volume. Adanya perbedaan warna
disebabkan karena jumlah ligan
Ni2+ + en [Ni(en)n] 2+ en yang terikat pada en juga
berbeda-beda.
3. Absorban diukur dengan Didapatkan nilai absorban yang Dengan mengetahui berapa
menggunakan berbeda-beda. absorban maksimal dari larutan
spektrofotometer dengan dapat digunakan untuk
panjang gelombang menentukan jumlah en yang
bervariasi. terikat pada atom pusat.
5.2 Pengamatan Sifat Fisik Rendemen Hasil Akhir
No Senyawa dan struktur Foto Pengamatan Analisa
1. [Ni(en)2]2+. Warna larutan berbeda-beda Perubahan warna menunjukkan
tergantung berapa jumalh ligan bahwa komplek telah terbentuk.
en yang terikat pada atom pusat. Adanya perbedaan warna
disebabkan karena jumlah ligan
en yang terikat pada en juga
berbeda-beda.
5.3 Pembahasan
Setelah melakukan percobaan komposisi ion kompleks ion kompleks dengan
metoda Jobs, kita dapat mengetahui berapa buah ligan yang terikat pada suatu
kompleks. Metoda Jobs yaitu suatu metoda yang digunakan untuk penentuan
komposisi ion kompleks dengan menvariasikan jumlah volume dari kedua
komponen menggunakan spektrofotometer.
Kompleks yang digunakan yaitu kompleks antara Ni2+ sebagai atom pusat
dan etilen diamin (en) sebagai ligan. Volume campurannya yaitu 10 mL dengan
menvariasikan volume tertentu. NiSO4.6H2O diencerkan dalam labu 50 mL,
Pengenceran larutan bertujuan untuk membuat konsentrasinya menjadi lebih kecil
dan juga untuk mengionkan Ni2+ dari NiSO4.6H2O .
Perlakuan dilakukan sebanyak tujuh kali. Untuk larutan Ni saja diperoleh
warna hijau toska. Sedangkan setelah penambahan en kedalam larutan Ni2+
diperoleh perubahan warna hijau menjadi ungu/lembayung muda.
Dari data dan hasil perhitungan yang diperoleh, nilai n yang didapat dari
nilai Y maksimum pada panjang gelombang 530, 545, 578, 622, 650 dan 660 nm.
Nilai n didapat bervariasi pada berbagai panjang gelombang tersebut, dimana n
maksimum yang didapat yaitu 2,22 yang dibulatkan menjadi dua (2). Variasi nilai
n ini mungkin disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut ;
1. Kuvet yang digunakan kurang bersih, sehingga mempengaruhi nilai
serapannya.
2. Pengisian kuvet yang kurang merata volumenya.
3. Kurang teliti dalam penimbangan dan pengenceran larutan
4. Kurang teliti dalam penambahan Ni2+ dan etilen diamin
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan ini dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu
sebagai berikut :
1. Komposisi suatu kompleks dapat ditentukan dengan menggunakan metoda
Jobs.
2. Metoda Jobs yaitu suatu metoda penentuan ion kompleks dengan
menvariasikan volume dari dua komponen yaitu atom pusat dan ligan dengan
mengukur absorbannya dengan menggunakan spektrofotometer.
3. Kompleks Ni dan etilen diamin yang didapatkan yaitu : Ni(en)22+.
4. Untuk mencari nilai n (jumlah ligan yang terikat pada atom pusat) yaitu
dengan menentukan nilai Y maksimumnya, sehingga dapat diketahui rumus
kompleksnya.
5. Perubahan warna setelah penambahan en (etilen diamin) yaitu dari hijau
toska ke warna ungu (+) artinya ungu muda.

6.2 Saran
Untuk mendapatkan hasil yang lebih bagus dan sukses disarankan untuk
pratikan selanjutnya untuk lebih memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Teliti dalam penimbangan zat yang akan dipakai serta dalam pelakuan
penambahan volume en dari buret.
2. Teliti dalam pengenceran larutan etilen diamin dan Ni.
3. Kuvet harus sebersih mungkin dan larutannya merata volumenya serta
stabilkan spektrofotometer terlebih dahulu
JAWABAN PERTANYAAN

1. Struktur kompleks Ni(en)n2+ adalah :


2+
NH2 NH2

Ni2+ + n (en) CH2 CH2


`Ni
CH2 CH2

NH2 NH2 n

2. Rumus molekul Ni2+ yang terdapat dalam larutan yaitu Ni(en)n2+


Dimana : n = jumlah ligan yang terkoordinasi di dalam atom pusat.
Lampiran 2. Analisa Artikel Ilmiah
I. JUDUL
A new spectrophotometric method for the determination of fluvoxamine
maleate in pure form and in pharmaceutical formulation

II. TUJUAN
Untuk menentukan kadar fluvoxamine moleat dengan metode
spektrofotometri yang lebih murah, mudah, dan tidak melibatkan kondisi
reaksi kritis pada persiapan sampel.

III. CARA KERJA


1. Larutan standar dibuat dengan melarutkan 10 mg obat air murni kedalam
air suling dan diencerkan dalam labu 100 mL.
2. BCG, MO, dan BTB sebagi larutan disiapkan dengan mengencerkan
0,0698; 0,0372; dan 0,0624 g masing-masing pada aseton 100 mL.
3. Penyangga kalium hidrogen Phthalate-HCl (pH = 3,0-3,7) dibuat dengan
melarutkan 1.020 g kalium hidrogen ftalat dalam air dan sampai 50 mL
dengan air suling dan pH diatur dengan penambahan larutan HCl 0,1M.
4. Prosedur analitik untuk analisis obat bius Aliquot (0,2-1,6 mL BCG; 0,2-
1,5 mL MO; 0,2-2,0 mL BTB) larutan obat kerja (100 g / mL)
dipindahkan ke labu pengukur 10 mL dan ditambahkan 3,0 mL buffer
kalium hidrogen phthalate pH 3,3, 3,6 dan 3,4 menggunakan BCG, MO
dan BTB, kemudian menambahkan 1,0 mL BCG, MO dan BTB.
5. Campuran diekstraksi dua kali dengan kloroform 5,0 mL dengan
pengocok selama 2,0 menit dan kemudian dibiarkan berdiri untuk
pemisahan yang jelas dari dua fase dan lapisan kloroform dilewatkan
melalui natrium sulfat anhidrat.
6. Penyerapan kompleks berwarna kuning diukur pada 420, 420 dan 410 nm
untuk BCG, MO dan BTB, masing-masing terhadap yang sesuai.
7. Reagen kosong juga disiapkan. Semua pengukuran dilakukan pada suhu
kamar (25 2 C). Prosedur diulang untuk analisis aliquot dan plot
kalibrasi lainnya untuk menghitung jumlah obat dalam sampel analisis
yang tidak diketahui.

IV. ANALISA HASIL


Metode spektrofotometri yang sederhana, akurat dan sangat sensitif diusulkan
untuk penentuan fluvoxamine maleate (FXA) yang cepat dan akurat dengan
menggunakan bromocressol green (BCG), metil orange (MO) dan
bromothymol blue (BTB). Metode yang dikembangkan melibatkan
pembentukan kompleks ion-associate ion klorida tipe kuning stabil dari
turunan amino (nitrogen dasar) dari FXA dengan tiga pewarna asam
sulfonphthalein, yaitu; BCG, MO dan BTB, dalam buffer kalium hidrogen
phthalate pH 3,3, 3,6 dan 3,4 masing-masing. Rekan-ion tersebut
menunjukkan absorpsi absorpsi pada 420, 420 dan 410 nm untuk BCG, MO
dan BTB. FXA dapat ditentukan hingga 2,0-16, 2,0 15 dan 2,0-20 gmL-1
untuk BCG, MO dan BTB. Pengaruh kondisi optimum melalui pH terhadap
pembentukan ion pasangan, konsentrasi reagen, waktu dan suhu, dan pelarut
dipelajari. Komposisi pasangan ion ditemukan 1: 1 dengan metode Job. Nilai
deviasi standar relatif rendah menunjukkan presisi yang baik dan nilai
pemulihan yang tinggi.

V. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN JURNAL


Pembahasan metode yang digunakan sangat jelas. Abstrak jelas, sehingga
dengan membaca abstraknya saja pembaca dapat mengetahui hasil dari
penelitian tersebut. Tetapi Background yang digunakan masih kurang begitu
bevariasi dan juga terlalu panjang.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Fathiana , Dini Zakiah dan Djulia Onggo. 2005. Sintesis dan karakterisasi
senyawa kompleks besi(II) dengan ligan 3,6-di-2-piridil-1,2,4,5-tetrazin
(DPTZ). Jurnal Sains Materi Indonesia Indonesian Journal of Materials
Science.
[2] Lailis, Nur Chamimmah. 2010. Sintesis dan karakterisasi senyawa kompleks
nikel(II) dengan ligan etilendiamintetraasetat (edta). Jurusan Kimia Its
Surabaya.
[3] Lestari, Intan. Afrida. Aulia Sanova. 2014.Sintensis dan karakterisasi
senyawa kompleks logam kadmium (II) dengan ligan kufperon. Fakultas
Sains Dan Teknologi Universitas Jambi.
[4] Martuti, Desi Eka. Suci Amalsari. Siti Nurul Handini. Nurul Aini. 2015.
Penentuan rumus ion kompleks besi dengan asam salisilat. Jurusan
Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Jenderal Achmad Yani.