Anda di halaman 1dari 3

KARAKTERISTIK MASALAH KEBIJAKAN PENDIDIKAN

A. KARAKTERISTIK KEBIJAKAN PENDIDIKAN


1. Memiliki tujuan pendidikan.
2. Memenuhi aspek legal-formal
3. Memiliki konsep operasional
4. Dibuat oleh yang berwenang
5. Dapat dievaluasi
6. Memiliki sistematika

1. Memiliki tujuan pendidikan.


Kebijakan pendidikan harus memiliki tujuan, namun lebih khusus, bahwa ia harus
memiliki tujuan pendidikan yang jelas dan terarah untuk memberikan kontribusi pada
pendidikan.
2. Memiliki aspek legal-formal.
Kebijakan pendidikan tentunya akan diberlakukan, maka perlu adanya pemenuhan atas
pra-syarat yang harus dipenuhi agar kebijakan pendidikan itu diakui dan secara sah
berlaku untuk sebuah wilayah. Maka, kebijakan pendidikan harus memenuhi syarat
konstitusional sesuai dengan hirarki konstitusi yang berlaku di sebuah wilayah hingga ia
dapat dinyatakan sah dan resmi berlaku di wilayah tersebut. Sehingga dapat
dimunculkan suatu kebijakan pendidikan yang legitimat.
3. Memiliki konsep operasional.
Kebijakan pendidikan sebagai sebuah panduan yang bersifat umum, tentunya harus
mempunyai manfaat operasional agar dapat diimplementasikan dan ini adalah sebuah
keharusan untuk memperjelas pencapaian tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Apalagi
kebutuhan akan kebijakan pendidikan adalah fungsi pendukung pengambilan keputusan.
4. Dibuat oleh yang berwenang.
Kebijakan pendidikan itu harus dibuat oleh para ahli di bidangnya yang memiliki
kewenangan untuk itu, sehingga tidak sampai menimbulkan kerusakan pada pendidikan
dan lingkungan di luar pendidikan. Para administrator pendidikan, pengelola lembaga
pendidikan dan para politisi yang berkaitan langsung dengan pendidikan adalah unsur
minimal pembuat kebijakan pendidikan.
5. Dapat dievaluasi.
Kebijakan pendidikan itu pun tentunya tak luput dari keadaan yang sesungguhnya untuk
ditindaklanjuti. Jika baik, maka dipertahankan atau dikembangkan, sedangkan jika
mengandung kesalahan, maka harus bisa diperbaiki. Sehingga, kebijakan pendidikan
memiliki karakter dapat memungkinkan adanya evaluasi terhadapnya secara mudah dan
efektif.
6. Memiliki sistematika.
Kebijakan pendidikan tentunya merupakan sebuah sistem juga, oleh karenanya harus
memiliki sistematika yang jelas menyangkut seluruh aspek yang ingin diatur olehnya.
Sistematika itu pun dituntut memiliki efektifitas, efisiensi yang tinggi agar kebijakan
pendidikan itu tidak bersifat pragmatis, diskriminatif dan rapuh strukturnya akibat
serangkaian faktor yang hilang atau saling berbenturan satu sama 20 lainnya. Hal
iniharus diperhatikan dengan cermat agar pemberlakuannya kelak tidak menimbulkan
kecacatan hukum secara internal. Kemudian, secara eksternal pun kebijakan pendidikan
harus bersepadu dengan kebijakan lainnya seperti kebijakan politik, kebijakan moneter,
bahkan kebijakan pendidikan di atasnya atau disamping dan dibawahnya (Ali Imron,
1995: 20).
Tahun 2005 adalah tonggak sejarah penghargaan dan perlindungan terhadap profesi
guru. Pada tahun ini Pemerintah mengesahkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005
tentang Guru dan Dosen (UUGD). Dalam undang-undang ini dinyatakan bahwa guru
adalah suatu profesi.
UUGD Pasal 1 (1) dinyatakan bahwa Guru adalah pendidik profesional dengan tugas
utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal,
pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Penyiapan guru sebagai profesi dinyatakan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 (PP
No. 74) Tahun 2008 tentang Guru. Di samping guru harus berkualifikasi S1, guru harus
memiliki sertifikat profesi pendidik yang diperoleh melalui pendidikan profesi. PP No. 74
tahun 2008 Pasal 2 menyatakan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik,
kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan
untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Selanjutnya Pasal 4 ayat (1) Sertifikat
Pendidik bagi guru diperoleh melalui program pendidikan profesi yang diselenggarakan
oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang
terakreditasi, baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah maupun Masyarakat, dan
ditetapkan oleh Pemerintah. Pada ayat (2) dinyatakan bahwa Program pendidikan profesi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya diikuti oleh peserta didik yang telah memiliki
Kualifikasi Akademik S-1 atau D-IV sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Secara umum model kurikulum Program PPG dapat digambarkan sebagai berikut:

Tabel 1. Model Kurikulum Program PPG


No Isi Kurikulum Proporsi
1 Pemantapan akademik pedagogik atau bidang studi dan keprofesian; 60%
dan lokakarya pengembangan perangkat pembelajaran dan rencana
penelitian tindakan
2 Praktik Pengalaman Lapangan 40%
Model ini selanjutnya akan dikembangkan ke dalam struktur kurikulum yang disesuaikan
dengan luaran lulusan Program Studi PPG oleh LPTK penyelenggara Program Studi PPG,
sesuai dengan UU Pendidikan Tinggi No. 12/2012 pasal 35 dan 36.
Kegiatan akademik semester pertama berupa lokakarya pengembangan perangkat
pembelajaran, presentasi hasil pengembangan perangkat pembelajaran, dan
peerteaching, serta pendalaman atau penguatan materi bidang studi/keahlian. Kegiatan
akademik semester kedua berupa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), Penelitian
Tindakan Kelas (PTK), dan bagi PPG kejuruan ada kegiatan praktik di industri.
Kegiatan kehidupan di asrama atau sarana lain berupa beberapa kegiatan untuk mendukung
pengembangan kompetensi sosial dan kepribadian. Kegiatan kehidupan di asrama atau sarana
lain diatur dalam pedoman tersendiri.

Pendidikan Profesi Guru (PPG) adalah pendidikan tinggi setelah program pendidikan sarjana yang
mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus dalam
menjadi guru. Pendidikan profesi guru harus ditempuh selama 1-2 tahun setelah seorang calon lulus dari
program sarjana kependidikan maupun non sarjana kependidikan. PPG (Program Pendidikan Profesi
Guru) merupakan program pengganti akta IV yang tidak berlaku muali tahun 2005 [1].
PPG (Program Pendidikan Profesi Guru) diharapkan kompetensi dan profesionalisme guru
benar-benar lebih terjamin dengan menjalani masa pendidikan selama 2 semester atau 1
tahun. PPG (Program Pendidikan Profesi Guru) berlaku bagi yang ingin menjadi guru baik
sarjana dari fakultas pendidikan, maupun non pendidikan.

Implementasi Kebijakan Dalam proses kebijakan pendidikan implementasi kebijakan


adalah sesuatu yang penting, bahkan jauh lebih penting dari pada pembuatan kebijakan.
Implementasi kebijakan merupakan jembatan yang menghubungkan formulasi
kebijakan dengan hasil (outcome) kebijakan yang diharapkan. Menurut Anderson dalam
bukunya abdul wahab, ada 4 aspek yang perlu dikaji dalam implementasi kebijakan
yaitu: 1. Siapa yang mengimplementasikan 2. Hakekat dari proses administrasi 3.
Kepatuhan, dan 4. Dampak dari pelaksanaan kebijakan (Abdul Wahab, 1991: 45).
Sementara itu menurut Ripley & Franklin ada dua hal yang menjadi fokus perhatian
dalam implementasi, yaitu compliance (kepatuhan) dan Whats happening ? (Apa yang
terjadi). Kepatuhan menunjuk pada apakah para implementor patuh terhadap prosedur
atau standard aturan yang telah ditetapkan. Sementara untuk whats happening
mempertanyakanbagaimana proses implementasi itu dilakukan, hambatan apa yang
muncul, apa yang berhasil dicapai, mengapa dan sebagainya. Guna melihat keberhasilan
implementasi, dikenal beberapa model implementasi, antara lain model yang
dikembangkan Mazmanian dan Sabatier yang menyatakan bahwa Implementasi
kebijakan merupakan fungsi dari tiga variabel, yaitu 1) Karakteristik masalah, 2)
Struktur manajemen program yang tercermin dalam berbagai macam peraturan yang
mengoperasionalkan kebijakan, 3) Faktor-faktor di luar peraturan (Wibowo, 1994: 25).
B. Kebij

Anda mungkin juga menyukai