Anda di halaman 1dari 15

Tauhid

1. Nama-nama Ilmu Tauhid


Sebelum kita mengenal nama lain dari Ilmu Tauhid, alangkah baiknya jika kita
terlebih dahulu membahas tentang Ilmu Tauhid itu sendiri.
Perkataan "Tauhid" berasal dari bahasa Arab (), sebagai bentuk mashdar dari kata
( -( . Secara etimologis, Tauhid berarti ke-Esaan. Maksudnya, keyakinan bahwa Allah
SWT adalah Esa; satu. Mentauhidkan berarti mengakui ke-Esaan Allah SWT.
Menurut istilah, KH. Imam Zarkasyi menyebutkan:
"Ilmu mengesakan, atau ilmu kepercayaan bahwa hanya satu (Esa) Tuhan yang harus
kita percayai".
Abdul Rohim Manaf menyebutkan:
""
Husain Affandi al-Jasr menyebutkan senada dengan Abdul Rohim Manaf:
"Ilmu Tauhid adalah ilmu yang membahas hal-hal yang menetapkan akidah dengan
dalil-dalil yang meyakinkan".
Ibnu Khodun menyebutkan:
"Ilmu yang berisi alasan-alasan dari aqidah keimanan dengan dalil-dalil aqliyah dan
berisi pula alasan-alasan bantahan terhadap orang-orang yang menyelewengkan aqidah
salaf dan ahli sunnah".
Disamping definisi-definisi di atas masih banyak definisi lain yang dikemukakan oleh
para ahli. Namun, walau demikian ruang lingkup dari Ilmu Tauhid tidak akan jauh dari
pembahasan masalah Allah SWT, Rasul, atau Nabi dan hal-hal yang berkenaan dengan
suesuatu yang ghaib seperti kehidupan manusia setelah meninggal.
Mengenai alasan penamaannya, jelas karena ilmu ini membahas tentang ke-Esaan
Allah SWT.
Telah banyak kitab-kitab yang diterangkan oleh para ahli untuk memberikan
keterangan yang tepat, sesuai dengan tingkat-tingkat fikiran manusia. Karena itu Ilmu Tauhid
mempunyai banyak pula nama-nama yang timbul dari pengarang-pengarang tadi, dan timbul
dari kepentingan yang diutamakannya.
Nama-nama itu adalah sebagai berikut:
1) Ilmu Ushuluddin
2) Ilmu 'Aqoid
3) Ilmu Kalam
4) Fiqh Akbar
5) Ilmu Teologi Islam
6) Ilmu Hakekat
7) Ilmu Ma'rifat
Berikut ini akan membahas tentang pengertian dan sebab penamaannya secara lebih
terperinci:

a. Ilmu Ushuludin
Ushuluddin berasal dari dua kata, ushul dan ad-din. Ushul merupakan bentuk plural
dari kata ashl yang berarti: asal, pokok, dasar, fundamen. Sedangkan ad-din berarti agama.
Jadi, perkataan Ushuluddin menurut bahasa berarti pokok-pokok atau dasar-dasar agama.
Secara istilah dapat diartikan: Ilmu Ushuluddin ialah ilmu yang membahas tentang
prinsip-prinsip kepercayaan agama dengan dalil-dalil naqli (al-Qur'an dan as-Sunnah) dan
dalil-dalil 'aqli (akal).
Dinamakan demikian karena Ilmu Ushuluddin pembahasannya adalah dasar-dasar
agama yang merupakan masalah esensial dalam ajaran agama islam.

b. Ilmu 'Aqoid/'Aqoidul-Iman
Kata 'Aqoid berasal dari bahasa Arab, bentuk plural dari kata 'aqidah, berasal dari
kata al-'aqdu yang berarti mengikat sesuatu. Namun, yang dimaksud dengan 'aqidah disini
adalah sesuatu yang diimani oleh seseorang )( .
Secara istilah diterangkan dalam kitab Bajuri dan Jam'u al-Jawami' sebagai:
"pengetahuan yang terikat dalam masalah kejakinan keagamaan yang diambil dari
dalil-dalil syara".
Dalam kitab at-Tauhid Pon-Pes Darussalam disebutkan:

.
Adapun guna mempelajari ilmu Aqo'id adalah untuk membetulkan dan meneguhkan
iman manusia kepada Tuhan Allah SWT. Iman yang benar akan mengesahkan segala amal
ibadah seperti, sholat, puasa, zakat, haji dan lain-lain. Dan surga menjadi pahala balasan di
akhirat nanti. Namun jika iman seseorang tidak dalam posisi yang benar, maka semua amal
itu akan sia-sia. Dan di akhirat nanti neraka sebagai ganjarannya.
Ilmu Aqo'id dinamakan demikian karena pengetahuan ini berisi satu ikatan mengenai
sahnya iman dan islam yang jumlahnya 50, yang terkenal dengan aqo'id seket. Dengan
perincian 20 sifat wajib bagi Allah, 20 sifat mustahil bagi Allah, satu sifat jaiz bagi Allah, 4
sifat wajib bagi Rasul, 4 sifat mustahil bagi Rasul dan satu sifat mustahil bagi Rasul.
Semuanya itu tercantum di dalam kalimat "la ilaha illa allah".

c. Ilmu Kalam
Kata Kalam berasal dari bahasa Arab sebagai bentuk mashdar dari kata )(
yang berarti perkataan atau kata-kata. Secara bahasa dapat berarti ilmu tentang kata-kata.
Sedangkan menurut istilah, al-Farabi mendefinisikan:

"ilmu kalam adalah disiplin ilmu yang membahas zat dan sifat Allah SWT beserta
eksistensi semua yang mungkin, mulai yang berkenaan dengan masalah dunia sampai
masalah sesudah mati yang berlandaskan doktrin Islma. Stressing akhirnya adalah
memproduksi ilmu ketuhanan secara filosofis".
Ibnu Khodun mendefinisikan:

"ilmu kalam adalah disiplin ilmu yang mengandung berbagai argumentasi tentang
aqidah imani yang diperkuat dalil-dalil rasional".
Syekh Muhammad Abduh mendefinisikan:
"ilmu yang membahas tentang wujud Allah SWT, tentang sifat-sifat yang wajib tetap
bagi-Nya, sifat-sifat yang jaiz disifatkan kepada-Nya, dan tentang sifat-sifat yang wajib
ditiadakan daripada-Nya. Juga membahas tentang Rasulullah untuk menetapkan kebenaran
risalahnya, apa yang wajib ada padanya, hal-hal yang jaiz dihubungkan pada diri mereka
dan hal-hal yang terlarang menghubungkan pada diri mereka".
Mushtofa Abdul Raziq memberikan definisi:
"ilma kalam adalah yang berkaitan dengan aqidah imani ini sesungguhnya dibangun
di atas argumentasi argumentasi rasional. Atau ilmu yang berkaitan dengan aqidah Islami
ini bertolak atas bantuan nalar".
Apabila kita perhatikan dengan seksama definisi-definisi yang dikemukakan oleh para
ahli tersebut tentang Ilmu Kalam, ternyata pendapat mereka tidak jauh beda. Maka penyusun
dapat menarik kesimpulan bahwa Ilmu Kalam itu adalah sebuah disiplin ilmu yang
membahas segala macam masalah ketuhanan dengan menggunakan logika.
Sedangkan mengenai kenapa dinamakan dengan Ilmu Kalam, yaitu dikarenakan:
- Dalam membahas masalah-masalah ketuhanan tidak lepas daripada dalil-dalil akal yang
sesuai dengan logika, dimana penampilannya melalui perkataan (kalam) yang jitu dan tepat.
Ahli-ahli Ilmu Kalam adalah orang-orang yang ahli dalam berbicara, ahli dalam
mengemukakan argumentasi dalam persoalan yang dibahasnya.
- Persoalan yang terpenting dan ramai dibicarakan serta diperbincangkan pada masa-masa
pertama Islam, terutama di awal pertumbuhan Ilmu Kalam ialah firman Allah SWT (kalam
Allah SWT) yaitu al-Qur'an. Apakah kalam Allah SWT itu qodim atau hadis.
Prof. Dr. T. M. Hasbi ash-Shiddiqy menyebutkan alasan ilmu ini disebut ilmu kalam
karena problema yang diperselisihka oleh para ulama' dalam ilmu ini yang menyebabkan
umat islam terpecah kedalam beberapa golongan adalah masalah kalam Allah atau al-Quran,
apakah ia diciptakan (makhluk) atau tidak (qodim).

d. Fiqh Akbar
Penamaan ini datang dari Abu Hanifah, menurut pendapatnya, hukum Islam yang
dikenal dengan istilah fiqh terbagi atas dua bagian, pertama fiqh al-akbar yang membahas
masalah keyakinan atau pokok-pokok agama atau ilmu tauhid. Kedua fiqh al-ashghor yang
membahas masalah hal-hal yang berkaitan dengan masalah muamalah, bukan pokok-pokok
agama, tetapi hanya cabangnya saja.

e. Ilmu Teologi Islam


Kata Teologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu "theos" yang berarti Tuhan dan
"logos" yang berarti ilmu. Oleh karena itu teologi bermakna ilmu tentang tuhan atau ilmu
tentang ketuhanan. Kata Teologi Islam digunakan oleh penulis-penulis ataupun orientalis
barat untuk menyebut Ilmu Tauhid.
Menurut istilah, William L. Reese mendefinisikan dengan "discourse or reason
concerning God" (diskursus atau pemikiran tentang Tuhan). Dengan mengutip kata-kata
William Ochaman, Reese lebih jauh mengatakan: "Theology to be discripline resting of on
revealed truth and independent of both philosophy and science". (teologi merupakan disiplin
ilmu yang berbicara tentang kebenaran wahyu serta independensi filsafat dan ilmu
pengetahuan).
Sementara itu, Gove menyatakan bahwa teologi adalah penjelasan tentang keimanan,
perbuatan dan pengalaman agama secara rasional.
Dalam encyclopedia everyman's disebutkan: "science of religion, dealing therefore
with God, and man in his relation to God" (pengetahuan tentang agama yang hanya
membicarakan Tuhan dan manusia dalam pertaliannya dengan Tuhan.
Sebenarnya Ilmu Teologi Islam ini pengertiannya sama dengan Ilmu Tauhid. Hanya
saja, kata inilah yang sering digunakan oleh penulis ataupun para orientalis barat.
f. Ilmu Hakekat dan Ilmu Ma'rifat
Penyusun sengaja menggabungkan pembahasan dua ilmu ini kerana selain untuk lebih
ringkas juga pada pembahasannya, dua ilmu ini saling terikat.
Ilmu Hakekat bisa diartikan secara etimologis sebagai ilmu sejati. Karena dengan
ilmu ini, dapat mengetahui benar-benar akan Tuhan Allah SWT denga segala sifat-sifat-Nya,
dan dengan keyakinan yang teguh.
Ilmu Ma'rifat diartikan sebagai ilmu sejati. Karena ilmu ini menjelaskan hakekat
(kesejatian) segala sesuatu, sehingga dapat meyakini akan kepercayaan yang benar (hakiki).
Ilmu Hakikat itu bidang kajiannya ialah tentang alam rohani atau hati nurani manusia
atau mengkaji tentang sifat-safat nafsu. Sifat-sifat nafsu yang terdiri daripada nafsu amarah,
nafsu lawwamah, nafsu malhamah, nafsu muthmainnah, nafsu radhiyah, nafsu mardhiyah dan
nafsu kamilah. Termasuk juga dalamnya perihal sifat-sifat gerakan serta dorongan hati.
Defisini ilmu hakikat ialah rasa-rasa hati atau zauq (syu'ur) yang ada di dalam hati atau jiwa
manusia yang sifatnya berubah-ubah dari satu bentuk rasa kepada rasa yang lain. Bergantung
kepada bentuk-bentuk rangsangan-rangsangan lahir yang artinya kita mulakan dengan
bersyari'at, kemudian bertharikat, seterusnya berhakikat dan akhirnya berma'rifat.
Semuanya saling berhubungan. Hubungan antara satu dengan yang lain seolah-olah
anak tangga pertama dengan berikutnya, hinggalah selesai di anak tangga tertinggi sekali.
Maksudnya, mula-mula kita memahami syari'at yaitu peraturannya, yakni mengetahui
hukum-hukum. Mana yang halal, mana yang haram, yang sunah, makruh dan mubah. Juga
sah dan batal sama ada yang mengenai sembahyang, puasa, jihad, dakwah, ekonomi,
pendidikan dan lain-lain. Kemudian apabila kita mengamalkannya bersungguh-sungguh dan
istiqomah. Artinya, jika telah menempuh jalannya yaitu yang dikatakan ilmu tharikat. Yakni
mengamalkan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang secara serius. Jadi
tidaklah salah kalau syari'at itu disebut jalan. Hanya jalan itu belum ditempuh. Hanya sekedar
mengetahuinya terlebih dahulu. Bila jalan tadi telah ditempuh atau dijalankan, maka
dinamakan tharikat.
Orang yang mendapat ahwal (perubahan jiwa) secara istikomah (tetap, tidak turun
naik), inilah yang dikatakan telah mendapat maqom. Ini ia mendapat derajat mengikut sifat
mahmudah yang diperolehnya. Biasanya ia berlaku bertahap-tahap. Umpamanya maqom
sabar, maqom tawakal, maqom ridho, sehingga kesemua sifat-sifat mahmudah itu diperoleh
secara tetap atau istiqomah. Boleh jadi ada yang mendapat secara serentak sifat-sifat
mahmudah itu. Inilah yang dikatakan ia telah mendapat hakikat.
Arti lain maksud hakikat itu ialah batin islam atau intipati islam (lubbun). Bilamana
hal-hal hakikat tadi dapat dialami secara kekal (istiqomah) berterus, bahkan makin menebal
dan subur, maka akan terbukalah nanti rahasia-rahasia ghaib atau rahasia Allah SWT. Ini
sangat sulit untuk digambarkan kecuali dirasai oleh orang-orang yang mengalami dan
merasainya.
Hasil berhakikat pula, kita akan mendapatkan ma'rifat. Yaitu sampai ke peringkat hal-
hal hakikat dapat dialami secara istiqomah. Allah SWT akan karuniakan satu peringkat
puncak yang mana dapat mencapai satu tahap keyakinan yang tertinggi. Di waktu itu, dia
telah sampai ke peringkat ma'rifat, yakni dapat benar-benar mengenal Allah SWT dan
rahasia-rahasia-Nya. Gelaran untuk mereka ini lebih dikenali sebagai al-'arif billah.
perumpamaannya adalah seperti berikut. Mula-mula kita semai sebiji benih.
Kemudian ia tumbuh menjadi sebatang pokok. Pokok itu akhirnya berbuah dan buah itu bila
masak memberikan kesedapan rasanya yang tidak dapat kita ceritakan pada orang yang tidak
memakannya. Maka:
- Biji benih itu umpama syari'at
- Menanam pokok itu umpama thariqot
- Buah itu umpama hakikat
- Rasa buah itu umpama ma'rifat.
Sebab itu dikatakan syari'at menghasilkan thariqot. Tarekat membuahkan hakikat.
Hakikat buahnya adalah ma'rifat. Semuanya saling melengkapi, perlu-memerlukan, sandar-
menyandarkan dan mesti berjalan seiring. Yang lahir menggambarkan batin. Maka kalau
dipisah-pisahkan, akan cacat dan rusaklah keislaman seseorang itu.

MACAM MACAM TAUHID

1. 1. Tauhid Rububiyah.

Tauhid Rububiyah yaitu mengesakan Allah dalam segala perbuatan-Nya, dengan meyakini
bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk-Nya. Dan alam semesta ini diatur
oleh Mudabbir (Pengelola), Pengendali Tunggal, Tak disekutui oleh siapa dan apapun dalam
pengelolaan-Nya. Allah menciptakan semua makhluk-Nya di atas fitrah pengakuan terhadap
rububiyah-Nya. Bahkan orang-orang musrik yang menyekutukan Allah dalam ibadahnya juga
mengakui keesaan rububiyah-Nya. Jadi jenis tauhid ini diakui semua orang. Bahkan hati
manusia sudah difitrahkan untuk mengakui-Nya, melebihi fitrah pengakuan terhadap yang
lainnya. Adapun orang yang paling dikenal pengingkarannya adalah Firaun. Namun
demikian di hatinya masih tetap meyakini-Nya.

Alam semesta dan fitrahnya tunduk dan patuh kepada Allah. Sesungguhnya alam semesta ini
(langit, bumu, planet, bintang, hewan, pepohonan, daratan, lautan, malaikat, serta manusia)
seluruhnya tunduk dan patuh akan kekuasaan Allah. Tidak satupun makhluk yang
mengingkari-Nya. Semua menjalankan tugas dan perannya masing-masing, serta berjalan
menurut aturan yang sangat sempurna. Penciptanya sama sekali tidak mempunyai sifat
kurang, lemah, dan cacat. Tidak satupun dari makhluk ini yang keluar dari kehendak, takdir,
dan qadha-Nya. Tidak ada daya dan upaya kecuali atas izin Allah. Dia adalah Pencipta dan
Penguasa alam, semua adalah milik-Nya. Semua adalah ciptaan-Nya, diatur, diciptakan,
diberi fitrah, membutuhkan, dan dikendalikan-Nya.

Allah Taala berfirman

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam (Q.S. Al-Fatihah : 1)

Dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Engkau adalah Rabb di langit dan di
bumi (Mutafaqqun Alaih)

Tauhid Rububiyah mengharuskan adanya Tauhid Uluhiyah. Hal ini berarti siapa yang
mengakui tauhid rububiyah untuk Allah, dengan mengimani tidak ada pencipta, pemberi
rizki, dan pengatur alam kecuali Allah, maka ia harus mengakui bahwa tidak ada yang berhak
menerima ibadah dengan segala macamnya kecuali Allah. Dan itulah yang disebut Tauhid
Uluhiyah. Jadi tauhid rububiyah adalah bukti wajibnya tauhid uluhiyah. Jalan fitri untuk
menetapkan tauhid uluhiyah adalah berdasarkan tauhid rububiyah. Maka tauhid rububiyah
adalah pintu gerbang dari tauhid uluhiyah.
1. 2. Tauhid Uluhiyah.

Tauhid Uluhiyah yaitu ibadah. Tauhid Uluhiyah adalah mengesakan Allah dengan perbuatan
para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyariatkan seperti doa, nadzar, kurban, raja
(pengharapan), takut, tawakal, raghbah (senang), rahbah (takut), dan inabah (kembali atau
taubat). Dan jenis tauhid ini adalah inti dakwah para rasul. Disebut demikian, karena tauhid
uluhiyah adalah sifat Allah yang ditunjukkan oleh nama-Nya, Allah yang artinya dzul
uluhiyah (yang memiliki uluhiyah), dan juga karena tauhid uluhiyah merupakan pondasi dan
asas tempat dibangunnya seluruh amal. Juga disebut sebagai tauhid ibadah karena ubudiyah
adalah sifat abd (makhluknya) yang wajib menyembah Allah secara ikhlas, karena
ketergantungan mereka kepada-Nya.

Allah Taala berfirman

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah)
melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (Q.S. Al-Baqarah : 163)

Dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Maka hendaklah apa yang kamu
dakwahkan kepada mereka pertama kali adalah syahadat bahwa tiada Tuhan yang berhak
diibadahi kecuali Allah (Mutafaqqun Alaih). Dalam riwayat Imam Bukhari,Sampai
mereka mentauhidkan Allah.

Manusia ditentukan oleh tingkatan din. Din sendiri berarti ketaatan. Di bawah ini adalah
tingkatan din :

Islam

Islam menurut bahasa adalah masuk dalam kedamaian. Sedangkan menurut syara, Islam
berarti pasrah kepada Allah, bertauhid dan tunduk kepada-Nya, taat, dan membebaskan diri
dari syirik dan pengikutnya.

Iman

Iman menurut bahasa berarti membenarkan disertai percaya dan amanah. Sedangkan menurut
syara, iman berarti pernyataan dengan lisan, keyakinan dalam hati, dan perbuatan dengan
anggota badan.

Ihsan

Ihsan menurut bahasa berarti kebaikan, yakni segala sesuatu yang menyenangkan dan terpuji.
Sedangkan menurut syara adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh baginda Nabi yang
artinya Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bias
melihay-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu. Syaikh Ibnu Taimiyah berkata Ihsan itu
mengandung kesempurnaan ikhlas kepada Allah dan perbuatan baik yang dicintai oleh
Allah.
Rasulullah menjadikan din itu adalah Islam, Iman, dan Ihsan. Maka jelaslah bahwa din itu
bertingkat, dan sebagian tingkatannya lebih tinggi dari yang lainnya. Tingkatan yang pertama
adalah Islam, tingkatan yang kedua adalah Iman, dan tingkatan yang paling tinggi adalah
Ihsan.

1. Tauhid Asma Wa Sifat.

Tauhid Asma Wa Sifat yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya,
sebagaimana yang diterangkan dalam Al Quran dan Sunah Rasul-Nya. Maka barang siapa
yang mengingkari nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya atau menamai Allah dan menyifati-
Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluk-Nya atau menakwilkan dari maknanya yang
benar, maka dia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan
Rasulnya.

Allah Taala berfirman

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi
Maha Melihat (Q.S. Asy-Syuura : 11)

Dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Allah tabaraka wa taala turun ke langit
dunia pada setiap malam (Mutafaqqun Alaih). Di sini turunnya Allah tidak sama dengan
turunnya makhluk-Nya, namun turunnya Allah sesuai dengan kebesaran dan
keagungan dzat Allah.

Dari hasil pengkajian terhadap dalil-dalil tauhid yang dilakukan para ulama sejak dahulu hingga
sekarang, mereka menyimpulkan bahwa ada tauhid terbagi menjadi 3 aspek: Tauhid Rububiyah,
Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Nama dan Sifat Allah (Asma Wash-Shifat).

Yang dimaksud dengan Tauhid Rububiyyah adalah mentauhidkan Allah dengan amalan dan
penyataan yang tegas bahwa Allah Taala adalah Tuhan, Raja, Pencipta semua makhluk. Dan Allah-
lah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. (Lihat Al Jadid Syarh Kitab Tauhid).

Meyakini rububiyah yaitu meyakini kekuasaan Allah dalam mencipta dan mengatur alam semesta,
misalnya meyakini bumi dan langit serta isinya diciptakan oleh Allah, Allahlah yang memberikan
rizqi, Allah yang mendatangkan badai dan hujan, Allah menggerakan bintang-bintang, dll. Di
nyatakan dalam Al Quran:
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan Mengadakan gelap dan terang
(Al Anam: 1)

Dan perhatikanlah baik-baik, tauhid rububiyyah ini diyakini semua orang baik mukmin, maupun kafir,
sejak dahulu hingga sekarang. Bahkan mereka menyembah dan beribadah kepada Allah. Hal ini
dikhabarkan dalam Al Quran:
Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), Siapa yang telah
menciptakan mereka?, niscaya mereka akan menjawab Allah . (Az Zukhruf: 87)
Oleh karena itu kita dapati ayahanda dari Rasulullah shallallahualaihi wasallam bernama
Abdullah,yang artinya hamba Allah. Padahal Abdullah diberi nama demikian, Rasulullah tentunya
belum lahir.

Adapun yang tidak mengimani rububiyah Allah adalah kaum komunis yang atheis. Syaikh
Muhammad bin Jamil Zainu berkata: Orang-orang komunis tidak mengakui adanya Tuhan. Dengan
keyakinan mereka yang demikian, berarti mereka lebih kufur daripada orang-orang kafir jahiliyah
(Lihat Firqotun Najiyyah)

Pertanyaan, jika orang kafir jahiliyyah sudah menyembah dan beribadah kepada Allah sejak dahulu,
lalu apa yang diperjuangkan oleh Rasulullah dan para sahabat? Mengapa mereka berlelah-lelah
penuh penderitaan dan mendapat banyak perlawanan dari kaum kafirin? Jawabannya, meski orang
kafir jahilyyah beribadah kepada Allah mereka tidak bertauhid uluhiyyah kepada Allah, dan inilah
yang diperjuangkan oleh Rasulullah dan para sahabat.

Tauhid Uluhiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam segala bentuk peribadahan baik yang zhahir
maupun batin (Lihat Al Jadid Syarh Kitab Tauhid). Dalilnya:
Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan (Al
Fatihah: 5)

Sedangkan makna ibadah adalah semua hal yang dicintai oleh Allah baik berupa perkataan maupun
perbuatan. Apa maksud yang dicintai Allah? Yaitu segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh
Allah dan Rasul-Nya, segala sesuatu yang dijanjikan balasan kebaikan bila melakukannya. Seperti
shalat, puasa, bershodaqoh, menyembelih. Termasuk ibadah juga berdoa, cinta, bertawakkal,
istighotsah dan istianah.

Maka seorang yang bertauhid uluhiyah hanya meyerahkan semua ibadah ini kepada Allah semata,
dan tidak kepada yang lain. Sedangkan orang kafir jahiliyyah selain beribadah kepada Allah mereka
juga memohon, berdoa, beristighotsah kepada selain Allah. Dan inilah yang diperangi Rasulullah, ini
juga inti dari ajaran para Nabi dan Rasul seluruhnya, mendakwahkan tauhid uluhiyyah. Syaikh DR.
Shalih Al Fauzan berkata: Dari tiga bagian tauhid ini yang paling ditekankan adalah tauhid uluhiyah.
Karena ini adalah misi dakwah para rasul, dan alas an diturunkannya kitab-kitab suci, dan alasan
ditegakkannya jihad di jalan Allah. Semua itu adalah agar hanya Allah saja yang disembah, dan agar
penghambaan kepada selainNya ditinggalkan (Lihat Syarh Aqidah Ath Thahawiyah).

Maka perhatikanlah, sungguh aneh jika ada sekelompok ummat Islam yang sangat bersemangat
menegakkan syariat, berjihad dan memerangi orang kafir, namun mereka tidak memiliki perhatian
serius terhadap tauhid uluhiyyah. Padahal tujuan ditegakkan syariat, jihad adalah untuk ditegakkan
tauhid uluhiyyah. Mereka memerangi orang kafir karena orang kafir tersebut tidak bertauhid
uluhiyyah, sedangkan mereka sendiri tidak perhatian terhadap tauhid uluhiyyah??

Sedangkan Tauhid Nama dan Sifat Allah adalah mentauhidkan Allah Taala dengan nama dan sifat
yang telah Ia tetapkan bagi dirinya dalam Al Quran dan Hadits Rasulullah shallallahualaihi wasallam.
Bertauhid nama dalam dan sifat Allah ialah dengan cara menetapkan nama dan sifat yang Allah
tetapkan bagi dirinya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari dirinya, dengan tanpa
tahrif, tanpa tathil dan tanpa takyif (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul). Allah Taala berfirman yang
artinya:
Hanya milik Allah nama-nama yang husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut
nama-nama-Nya (Al Araf: 180)

Tahrif adalah memalingkan makna ayat atau hadits tentang nama atau sifat Allah dari makna
zhahirnya menjadi makna lain yang batil. Sebagai misalnya kata istiwa yang artinya bersemayam
dipalingkan menjadi menguasai.

Tathil adalah mengingkari dan menolak sebagian sifat-sifat Allah. Sebagaimana sebagian orang yang
menolak bahwa Allah berada di atas langit dan mereka berkata Allah berada di mana-mana.

Takyif adalah menggambarkan hakikat wujud Allah. Padahal Allah sama sekali tidak serupa dengan
makhluknya, sehingga tidak ada makhluk yang mampu menggambarkan hakikat wujudnya. Misalnya
sebagian orang berusaha menggambarkan bentuk tangan Allah,bentuk wajah Allah, dan lain-lain.

Adapun penyimpangan lain dalam tauhid asma wa sifat Allah adalah tasybih dan tafwidh.

Tasybih adalah menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya. Padahal Allah berfirman
yang artinya: Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar
Lagi Maha Melihat (Asy Syura: 11)

Kemudian tafwidh, yaitu tidak mau menetapkan pengertian sifat-sifat Allah, misalnya sebagian
orang menolak bahwa Allah bersemayam (istiwa) di atas Arsy kemudian berkata kita serahkan
makna istiwa kepada Allah. Pemahaman ini tidak benar karena Allah Taala telah mengabarkan
sifat-sifatNya dalam Quran dan Sunnah agar hamba-hambaNya mengetahui. Dan Allah telah
mengabarkannya dengan bahasa Arab yang jelas dipahami. Maka jika kita berpemahaman tafwidh
maka sama dengan menganggap perbuatan Allah mengabarkan sifat-sifatNya adalah sia-sia karena
tidak dapat dipahami oleh hamba-Nya.

BAB II RUANG LINGKUP AQIDAH

A. Aqidah Pokok
Aqidah Islam berawal dari keyakinan kepada zat mutlak yang Maha Esa yang disebut Allah.
Allah Maha Esa dalam zat, sifat, perbuatan dan wujudnya. Kemaha-Esaan Allah dalam zat,
sifat, perbuatan dan wujdunya itu disebut tauhid. Tauhid menjadi inti rukun iman.(1)
Menurut sistematika Hasan Al-Banna maka ruang lingkup Aqidah Islam meliputi :
1. Ilahiyat, yaitu pembahasan tentang segala susuatu yang berhubungan dengan Tuhan
(Allah), seperti wujud Allah, sifat Allah dll
2. Nubuwat, yaitu pembahsan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi dan
Rasul, pembicaraan mengenai kitab-kitab Allah dll
3. Ruhaniyat, yaitu tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik seperti
jin, iblis, setan, roh dll
4. Sam'iyyat, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat
sam'i, yakni dalil Naqli berupa Al-quran dan as-Sunnah seperti alam barzkah, akhirat dan
Azab Kubur, tanda-tanda kiamat, Surga-Neraka dsb. (2)
Tidak hanya diatas namun pembahasan Aqidah juga dapat mengikuti Arkanul iman yaitu :
1. Kepercayaan akan adanya Allah dan segala sifat-sifatNya
2. Kepercayaan kepada Malaikat (termasuk pembahasan tentang makhluk rohani lainnya
seperti Jin, iblis dan Setan)
3. Kepercayaan kepada kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada rasul
4. Kepercayaan kepada Nabi dan Rasul
5. Kepercayaan kepada hari akhir serta peristiwa-peristiwa yang terjadi pada saat itu
6. Kepercayaan kepada takdir (qadha dan qadar) Allah (2)

Adapun penjelasan ruang lingkup pembahasan aqidah yang termasuk dalam Arkanul Iman,
yaitu:
1. Iman kepada Allah
Pengertian iman kepada Allah ialah:
Membenarkan dengan yakin akan adanya Allah
Membenarkan dengan yakin keesaan-Nya, baik dalam perbuatan-Nya menciptakan alam,
makhluk seluruhnya, maupun dalam menerima ibadat segenap makhluknya.
Membenarkan dengan yakin, bahwa Allah bersifat dengan segala sifat sempurna, suci dari
sifat kekurangan yang suci pula dari menyerupai segala yang baru (makhluk). (3)
Dengan demikian setelah kita mengimani Allah, maka kita membenarkan segala perbuatan
dengan beribadah kepadanya, melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala
larangannya, mengakui bahwa Allah swt. bersifat dari segala sifat, dengan ciptaan-Nya di
muka bumi sebagai bukti keberadaan, kekuasaan, dan kesempurnaan Allah. (4)

2. Iman Kepada Malaikat


Beriman kepada malaikat ialah mempercayai bahwa Allah mempunyai makhluk yang
dinamai malaikat yang tidak pernah durhaka kepada Allah, yang senantiasa melaksanakan
tugasnya dengan sebaik-baiknya dan secermat-cermatnya. Lebih tegas, iman akan malaikat
ialah beritikad adanya malaikat yang menjadi perantara antara Allah dengan rasul-rasul-Nya,
yang membawa wahyu kepada rasul-rasul-Nya. (5)
Di dalam Al-Quran banyak ayat yang menyeru kita mengimankan sejenis makhluk yang
gaib, yang tidak dapat dilihat oleh mata, tidak dapat dirasa oleh panca indera, itulah makhluk
yang dinamai malaikat. Malaikat selalu memperhambakan diri kepada Allah dan patuh akan
segala perintah-Nya, serta tidak pernah berbuat maksiat dan durhaka kepada Allah swt.
BAB I

1. Jelaskan pengertian dan ruang lingkup islam?

Islam adalah agama allah yang bersifat mutlak. ruang lngkupnya meliputi
seluruh alam semesta.

2. Jelaskan dan sebutkan sumber ajaran islam?

kitabullah (Alquran) yaitu kitab allah yang berisi tuntunan hidup umat
manusia. Dan menurut para ulama klasik, Alquran adalah Kalamulllah yang
diturunkan pada rasulullah dengan bahasa arab, merupakan mukjizat dan
diriwayatkan secara mutawatir serta membacanya adalah ibadah
as- sunnah (hadist) yaitu Sunnah menurut syari adalah segala sesuatu yang
berasal dari Rasulullah SAW baik perbuatan, perkataan, dan penetapan
pengakuan. Sunnah berfungsi sebagai penjelas ayat-ayat Alquran yang
kurang jelas atau sebagai penentu hukum yang tidak terdapat dalam Alquran.

3. Jelaskan pengertian syahadatain dan realisasinya?

Syahadatain Yaitu beritikad dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak
disembah dan menerima ibadah kecuali Allah Subhanahu wa Taala,
mentaati hal terse-but dan
mengamalkannya. La ilaaha menafikan hak penyembahan dari selain Allah,
siapa pun orangnya. Illallah adalah penetapan hak Allah semata untuk
disembah. selain itu Syahadatain, artinya konsekuensi yang harus dipikul
oleh orang yang mengucapkan dan mengimani dua kalimah syahadat
realisasinya:Yaitu mentaatinya, membenarkannya, meninggalkan apa yang
dilarangnya, mencukupkan diri dengan mengamalkan sunnahnya, dan
meninggalkan yang lain dari hal-hal bidah dan muhdatsat (baru), serta
mendahulukan sabdanya di atas segala pendapat orang.

BAB II

1. Sebutkan pengertian sistem ajaran islam?

Cara memahami dan meyakini agama islam dengan akal dan hati.

2. sebutkan 3 pokok dari karakteristik ajaran islam?

1. Rabbaniyyah (Ketuhanan), yaitu:


a. Aspek Tujuan: mendapatkan ridla Allah swt.
b. Aspek Sumber dan Metode: berdasarkan petunjuk dan wahyu ilahi
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. sebagaimana
termaktub dalam al-Quran dan sunnah.
2. Insaniyyah (humanisme): Tidak ada pertentangan antara konsep ketuhanan
dan humanisme, karena salah satu ajaran ketuhanan adalah untuk
menjunjung tinggi derajat manusia dan memuliakannya.
3. Syumul (bersifat umum, holistik), yaitu: Ajaran yang aplicatable untuk
segala zaman, tempat , sekaligus untuk semua manusia.
4. Wasatiyyah atau Tawazun (keseimbangan), yaitu: antara spiritual (ruhiyah)
dan material (madiyah), antara individualisme (fardiyyah) dan sosialisme
(jamaiyyah), antara realitas (waqiiyyah) dan idealisme/utopia (mitsaliyyah),
antara ketegasan (tsabat) dan fleksibilitas (taghayyur), dsb.Artinya, tidak
mengabaikan aspek-aspek di atas dan memberikan porsi masing-masing
secara adil.
5. Waqiiyyah (Realistis), yaitu: Ajaran yang sesuai dengan:
a. Realitas alam semesta yang menunjukkan akan adanya Allah, Tuhan
alam semesta,
b. Realitas kehidupan manusia dengan sifat baik buruknya, yang berakhir
dengan kematian dan dilanjutkan dengan kehidupan akhirat yang
abadi,
c. Realitas manusia sebagai makhluk yang komplek (terbuat dari unsur
materi dan rohani, laki-laki dan perempuan, sebagai makhluk sosial,
dsb)
6. Wudluh (Kejelasan), yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
a. Kejelasan pokok-pokok dan prinsip ajaran.
b. Kejelasan sumber ajaran
c. Kejelasan maksud dan tujuan
7. Kombinasi antara tsabat (ketegasan prinsip) dan murunah (fleksibilitas)
dalam ajarannya, misalnya:
a. Ketegasan dalam tujuan, dan fleksibilitas dalam strategi
pelaksanaannya
b. Ketegasan dalam pokok dan prinsip ajaran, dan fleksibilitas dalam
masalah yang bukan prinsip (furuiyyah)
c. Ketegasan dalam moral dan etika, dan fleksibilitas dalam masalah
duniawi dan kajian ilmiah.

3. Jelaskan pengertian aqidah, ibadah dan akhlak

Aqidah / Akidah
Aqidah adalah ilmu yang mengajarkan manusia mengenai kepercayaan yang
pasti wajib dimiliki oleh setiap orang di dunia. Alquran mengajarkan akidah
tauhid kepada kita yaitu menanamkan keyakinan terhadap Allah SWT yang
satu yang tidak pernah tidur dan tidak beranak-pinak. Percaya kepada Allah
SWT adalah salah satu butir rukun iman yang pertama.
Ibadah
Ibadah adalah taat, tunduk, ikut atau nurut dari segi bahasa. Dari pengertian
fuqaha ibadah adalah segala bentuk ketaatan yang dijalankan atau
dkerjakan untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT.
Akhlaq / Akhlak
Akhlak adalah perilaku yang dimiliki oleh manusia, baik akhlak yang terpuji
atau akhlakul karimah maupun yang tercela atau akhlakul madzmumah.

4. Jelaskan prebedaan dari aqidah,ibadah dan akhlak?

aqidah adalah ilmunya


ibadah adalah perbuatan / cara meyakini
akhlak adalah perilakunya
5. Jelaskan keistimewaan dari agama islam?

1. Kamal yang berarti sempurna : Syariah Islam dapat dinyatakan sempurna,


pertama karena Pembuatnya memiliki sifat sempurna. Sedang kedua adanya
syariah Islam itu, bila dihadapkan dengan berbagai hukum buatan manusia,
memiliki berbagai kelebihan. Selain karena dua pengertian tersebut, dalam
ajaran Islam didapatkan kaidah-kaidah dasar yang dapat digali dari al-Quran
dan as-Sunnah, yang dapat melahirkan berbagai teori dan dapat diterapkan.
Dari pengertian tersebut mampu menampung seluruh persoalan pada setiap
zamannya; kini maupun masa datang. Tak terbatas ruang dan waktu serta
tidak ada satu pun persoalan yang dapat lepas dari hukum dan pernilaiannya.

1. Sumuu yang berarti tinggi : Keistimewaan syariah Islam kedua, dapat


ditandai
2. dengan ketinggian persamaan jamaahnya. Di dalamnya terdapat kaidah-
kaidah dasar dan berbagai pengertian lain yang dapat memelihara ketinggian
jamaahnya. Ketinggian lain juga dapat diperhatikan pada kekuatan
hukumnya. Balasan dan iqab (sanksi hukumnya) berlaku di dunia dan dapat
menembus ke alam ghaib di akhirat. Hal ini jelas merupakan perbedaan
nyata, apabila dibanding dengan undang-undang dan peraturan yang dibuat
manusia, pada hukum wadhinya.

1. Dawam yang berarti tetap : Keistimewaan syariah Islam ketiga, baik yang
jelas maupun kaidah-kaidah yang dapat dimunculkan sebagai dasar bagi
hukum wadhiyahnya, dapat diperhatikan pada tetap atau kelanggengannya.
Mengingat berlakunya syariah Islam itu akan tetap dan terus berlaku,
kapanpun dan dimanapun. Nushush atau dali-dalilnya akan tetap dan tidak
menerima perubahan dan pergantian, sejak dinyatakan Nabi sampai
datangnya hari akhir. Dengan demikian syariah Islam akan tetap dapat
memelihara kemaslahatan, sekaligus menjauhkan segala bentuk pengertian
yang negatif.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka cakupan syariah Islam yang


dinyatakan sempurna itu, mencakup seluruh aspek kehidupan. Pengertian ini
sesuai dengan pendapat para pakar Muslim yang dinyatakan bahwa ajaran
Islam itu kaffah, syumul dan universal. Berangkat dari pengertian tersebut
maka seluruh persoalan hidup manusia, baik yang timbul dari niat, perkataan,
perbuatan; berupa ibadah, muamalah, tindakan dan pelanggaran hukum,
tingkah laku dan akhlaq, dalam berbagai bentuknya memiliki nilai hukum.
Termasuk dalam kehidupan bermasyarakat, berpartai, bernegara, dan lain-
lain. Berbagai pengertian tersebut sebagian hukumnya telah ditegaskan oleh
al-Quran dan as-Sunnah dengan jelas, sedang sebagian yang lain bahkan
lebih banyak- dapat dipahami dari dalil-dalil umum yang kaidah-kaidahnya
telah dirumuskan para ulama ushul fiqih. Dengan demikian seluruh persoalan
hukum dapat tertampung . Ringkasnya, tidak ada satu pun persoalan hukum
yang dapat lepas dari Islam.

BAB III

1. Jelaskan pengertian dari akidah dan tauhid?


Tauhid
Secara bahasa:Tauhid merupakan masdar/kata benda dari kata wahhada
yuwahhidu, yang artinya menunggalkan sesuatu.
Secara istilah syari:Mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi
kekhususan diri-Nya. Kekhususan itu meliputi perkara rububiyah, uluhiyah
dan asma wa shifat
Aqidah
Secara bahasa: Diambil dari kata dasar al-aqdu yaitu ikatan
Secara istilah syari: Aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada
keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.

2. Jelaskan kedudukan dan fungsi tauhid?

Kedudukan tauhid dalam ajaran Islam adalah paling sentral dan paling
esensial. fungsinya untuk memperkuat iman.

3. Sebutkan contoh tauhid Rububiyah, Asma wa Sifat dan Uluhiyah?

Allah adalah Esa tidak ada sekutu bagi-Nya meliputi tiga jenis tauhid
sekaligus, karena
Allah Esa dalam Rububiyyah-Nya, dalam Uluhiyyah, dan dalam Al-Asma wa
Ash-Shifat -Nya.
Tidak ada sesuatupun yang setara dengan-Nya ini adalah Tauhid Al-Asma`
wa Ash-Shifat
Tidak ada sesuatupun yang bisa mengalahkannya, ini adalah Tauhid Ar-
Rububiyyah.
Tidak ada tuhan selain Dia ini adalah Tauhid Al-Uluhiyyah.

4. Sebutkan kalimat tauhid la ilaha illa Allah dan syahadatain?

ASYHADU ANLAA ILAAHA ILLALLAAH WA ASYHADU ANNA


MUHAMMADAR -RASUULULLAAH

BAB IV

1. Jelaskan pengertian iman, islam, dan ikhsan?

Iman, yaitu membenarkan dalam hati dan mengikrarkan dalam lisan dan dan
mengamalkan dengan perbuatan.
Islam, yaitu agama allah yang di turunkan melalui Nabi Muhammad s.a.w
ikhsan, makhluk allah yang menyembah-nya Yaitu engkau beribadah kepada
Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya, maka apabila kamu tidak bisa
(beribadah seolah-olah) melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu

2. sebutkan rukun iman dan rukun islam?

rukun iman:

1. iman kepada allah


2. iman kepada malaikat allah
3. iman kepada kitab-kitab allah
4. iman kepada rasul-rasul allah
5. iman kepada hari kiamat
6. iman kepada qada dan qadar

rukun islam:

1. syahadat
2. shalat
3. puasa
4. zakat
5. ibadah haji bila mampu

3. Jelaskan konsep ikhsan dalam kehidupan muslim?

berbuat sesuatu yang bermanfaat baik untuk diri sendiri, sesama manusia,
maupun untuk makhluk lainnya. Semua perbuatan tersebut dilakukan semata-
mata karena Allah

4. Sebutkan ciri-ciri orang yang beriman?

mematuhi dan menjalankan segala perintah allah dan menjauhi semua yang
dilarang allah

5. Sebutkan hubungan iman, ihsan, dan islam?

Antara iman, islam dan ihsan, ketiganya tak bisa dipisahkan, diibaratkan
hubungan diantara ketiganya adalah seperti segitiga sama sisi yang sisi satu
dan sisi lainya berkaitan erat. Segitiga tersebut tidak akan terbentuk kalau
ketiga sisinya tidak saling mengait. Jadi
manusia yang bertaqwa harus bisa meraih dan menyeimbangkan antara
iman, islam dan ihsan.Disamping adanya hubungan diantara ketiganya, juga
terdapat perbedaan diantaranya sekaligus merupakan identitas masing-
masing.
Iman lebih menekankan pada segi keyakinan dalam hati.
Islam merupakan sikap untuk berbuat dan beramal dan,
Ihsan merupakan pernyataan dalam bentuk tindakan nyata.