Anda di halaman 1dari 15

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Hidup


Hidup adalah pertalian antara roh dan badan serta hubungan interaksi
antara keduanya. Hidup juga dapat diartikan suatu sifat yang dengan sifat itu
sesuatu menjadi berpengetahuan dan memiliki kekuatan (Rohiman,
1996:221). Jadi, hidup merupakan kenikmatan dari Allah, sebab dengan
adanya hidup, maka seseorang dapat merasakan kenikmatan dan tanpa
kehidupan maka tidak seorangpun dapat menikmati arti kehidupan di dunia
serta merasakan pembalasan baik dan buruk di akhirat nanti.
Allah menciptakan dunia ini sebagai tempat kehidupan dan kematian,
sedangkan alam akhirat dijadikan Allah sebagai tempat pembalasan yang
kekal abadi. Allah telah menciptakan hamba-hamba-Nya di dunia ini untuk
menyembah hanya kepada-Nya serta menguji mereka, sehingga dengan
demikian dapat dapat diketahui siapa diantara mereka yang beramal baik dan
nanti akan diberi balasan pahala, atau siapa yang durhaka diantara mereka
yang nantinya mendapat siksa.
Kehidupan di dunia menurut islam adalah untuk menguji siapa diantara
manusia yang terbaik amalnya. Kehidupan dunia ini adalah ladang yang harus
digarap dengan amal saleh. Sebab kalau tidak, kehidupan ini akan berakhir
dengan kesia-siaan, dan di akhirat kita tidak akan memperoleh sesuatu apapun
kalau di dunia ini kita tidak beramal yang baik. Namun amal yang baik saja
tidak cukup bagi islam, sebab amal yang baik itu harus amal yang didasarkan
atas iman kepada Allah.

2.2 Asal Usul Kehidupan


Hingga saat ini, masih terjadi perdebatan panjang antara para ahli
mengenai asal usul kehidupan. Para ahli telah memberikan beberapa defenisi
atau teori tentang kehidupan berdasarkan bidang bidang keilmuan mereka,
antara lain :

3
1. Teori Abiogenesis
Menurut teori ini, kehidupan terjadi secara spontan dan berasal dari
materi tak hidup. Teori ini beranggapan bahwa kehidupan berawal dari
benda mati. Contohnya, seekor cacing yang keluar dari dalam tanah, maka
cacing tersebut berasal dari tanah. Contoh lainnya, katak yangkeluar dari
lumpur, maka kataktersebut berasal dari lumpur.
Teori ini pertama kali dikemukakan oleh aristoteles, seorang ahli
lsafat Yunani, kemudian didukung oleh John Needham yang
merupakan ahli biologi.
2. Teori Biogenesis
Teori ini merupakan kebalikan dari teori abiogenesis bahkan ia
merupakan bantahan dari teori tersebut. Menurut teori ini kehidupan
berasal dari kehidupan sebelumnya. Pendapat ini didukung oleh Lazzaro
Spazzalani, ia membuktikan dengan percobaan yang serupa dengan
percobaan needham. Hanya saja spazzalani membuat dua tabung reaksi,
pada satu tabung ia biarkan terbuka dan pada tabung lainnya ia tutup
dengan kain kasa yang dipanaskan, berbeda dengan tabung needham yang
ditutup dengan gabus.
Teori ini juga didukung oleh Francesco Redi dengan percobaan
sekerat dagingnya dan didukung pula oleh Louis Pasteur dengan
percobaan tabung leher angsanya yang mana mereka semua adalah
merupakan Pakar Biologi Italia.
3. Teori Evolusi
Pada teori ini para Ilmuwan menyatakan bahwa kehidupan berasal
dari senyawa organik dan kimia di atsmosfer yang kemudian berkumpul
membentuk materi hidup (berevolusi). Pendapat ini pertama kali diajukan
oleh A.I Oparin , seorang ahli biokimia Rusia. A. I. Oparin menyatakan
bahwa makhluk hidup terjadi dari senyawa kimia, dan pada waktu itu di
atmosfer belum ada oksigen bebas. Pendapat Oparin mendapat dukungan
dari J. B. S. Haldane ahli biologi berkebangsaan Inggris. Oparin
berpendapat bahwa makhluk hidup terjadi dari hasil reaksi kimia antara

4
molekul- molekul di dalam lautan yang panas.Lautan yang terbentuk pada
mulanya bersuhu tinggi sehingga energinya dapat digunakan untuk
berlangsungnya reaksi kimia.
Hasil reaksi kimia membentuk semacam uap yang terdiri atas
bahan organik, yaitu sebagai bahan pembentuk sel. Kemudian seorang
peneliti berkebangsaan Amerika, Stanley Miller berhasil membuktikan
teori tersebut, ia menyatakan bahwa asal-usul kehidupan diawali dengan
adanya senyawa organik di atmosfer yang berupa gas-gas seperti metana
(CH4), Hidrogen(H2), Uap air (H2O), dan amonia (NH3) yang bereaksi
dengan bantuan energi dari sinar kosmis dan kilatan listrik halilintar
sehingga terbentuk asam amino. Ia membuktikannya dalam laboratorium
dengan menggunakan seperangkat alat dengan nama Stanley Miller -
Harold Urey. Alat ini disimpan pada suatu kondisi yang diperkirakan
sama dengan kondisi pada waktu sebelum ada kehidupan. Ke dalam alat
tersebut dimasukkan bermacam gas, seperti uap air yang dihasilkan dari
air yang dipanaskan, hidrogen , metana, dan amonia. Selanjutnya pada
alat tersebut diberikan aliran listrik75.000 volt (sebagai pengganti kilatan
halilintar yang selalu terjadi di alam padawaktu itu). Setelah
seminggu,ternyata Miller mendapatkan zat organik yang berupa asam
amino. Zat ini merupakan bahan dasar pembangunan kehidupan.
Berdasarkan percobaan ini Ilmuwan menyebutnya sebagai Teori Evolusi
Kimia. Teori evolusi pada awalnya juga telah dikembangkan para
ilmuwan seperti mutasi makhluk hidup dan seleksi alam. Seorang.
Ilmuwan yang mengembangkan teori ini ialah Charles Darwin. Ia
merupakan seorang Naturalis berkebangsaan Inggris. Menurut Darwin
manusia dan semua makhluk hidup berasal dari nenek moyang yang sama
yang berupa makhluk bersel satu. Makhluk bersel satu tersebut terus
berevolusi hingga menjadi kera, dari kera menjadi manusia dalam waktu
yang lama.
Teori evolusi inilah yang banyak diterima oleh Pakar Biologi
Modern. Akan tetapi teori ini dibantah oleh seorang Ilmuwan muslim

5
kebangsaan Turki yang bernama Adnan Oktar atau lebih dikenal dengan
nama Harun Yahya. Beberapa bantahannya ialah :
1. Darwin berasumsi bahwa makhluk hidup yang ada sekarang berasal
dari hal yang sama, yaitu makhluk bersel satu. Setelah mengalami
berbagai variasi kecil dan bertahap, ia berevolusi menjadi makhluk
yang lebih kompleks, hingga menjadi seperti makhluk yang ada saat
ini. Jika Darwin berkata bahwa makhluk hidup, termasuk manusia
adalah hasil evolusi yang berasal dari makhluk bersel satu, dengan
sendirinya ia menakan kepercayaan bahwa manusia sebenarnya
adalah ciptaan Tuhan yang disempurnakan sendiri oleh-Nya, terbuat
dari tanah yang lantas turun ke Bumi karena melakukan sebuah
kesalahan. Itu secara keyakinan agama.
2. Secara ilmiah, bukti tentang makhluk hidup bersel satu yang sedang
berevolusi menjadi makhluk hidup lain yang lebih kompleks
(seharusnya sampai saat ini pun makhluk itu harus terus berevolusi),
tidak pernah ditemukan. Sampai saat ini belum ada ilmuwan dari
pihak pembela teori evolusi yang berhasil membuat sel tunggal yang
dipercaya terjadi secara kebetulan oleh teori Darwin. Dengan bukti ini
saja telah meyakinkan kita bahwa sebenarnya teori evolusi adalah
kesalahan dalam memahami fakta sebenarnya tentang alam dan
kehidupan. Belum ada orang yang mampu menghidupkan kembali
yang mati terkecuali atas kehendak Allah lewat para Nabi-nya.
3. Sebuah tengkorak "Manusia Piltdown" yang diklaim sebagai bentuk
peralihan dari monyet ke manusia oleh pendukung teori evolusi,
ternyata setelah melalui "uji uorin" diketahui umurnya baru beberapa
ratus tahun saja. Dan yang mengejutkan, terungkap bahwa tengkorak
itu rekayasa tengkorak manusia yang dipadukan dengan rahang
tengkorak monyet. Sebuah penipuan untuk mendukung teori sesat.
4. Teori evolusi menurut Harun Yahya adalah dasar lsafat
"Materialisme", tentang menuhankan materi dan tidak mempercayai
adanya Tuhan di segala bidang kehidupan manusia. Karena teori itu

6
percaya bahwa segalanya berjalan dengan sendirinya. Teori itu dapat
menyesatkan pemikiran orang awam yang tidak mengetahui tujuan
adanya teori tersebut.Teori evolusi menurut Harun Yahya hakikatnya
adalah perang terhadap kepercayaan tentang adanya Tuhan pencipta
alam semesta. Dari beberapa bantahan tersebut, maka beragam teori
diatas, belum dapat menunjukkan bukti bukti yang konkrit tentang
asal mula kehidupan.

2.3 Makna dan Tujuan Hidup


Allah menciptakan manusia dengan tujuan yang mulia, dan sama sekali
bukan untuk main-main sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Imran
[3]:191 dan Q.S. Sad [38]:27. Pada dasarnya tujuan hidup manusia adalah
memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat, sementara kewajiban atau
tugas hidup manusia menurut Al-Quran adalah mengabdi atau berbadah
kepada Allah, tidak lain adalah agar mengabdikan dirinya kepada-Nya. Allah
berfirman dalam Al-Quran surah Az-Zariyat [51]:56.




Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku.
(Q.S. Az-Zariyat [51]:56)

Ayat di atas secara tegas menolak pernyataan lain bahwa kehadiran


manusia di dunia bersifat kebetulan (ada dengan sendirinya dan karenanya
tidak memiliki tujuan khusus). Begitu pula, ayat di atas menolak pandangan
bahwa manusia diciptakan untuk mengeksploitasi alam semesta beserta
isinya, sehingga merasa biasa saja saat manusia berbuat kerusakan di muka
bumi.
Allah menghendaki agar khidupan manusia di dunia ini diarahkan
untuk mengabdi kepada-Nya. Guna mewujudkan kehendaknya itu, Allah
telah megokohkan dalam diri manusia kesediaan untuk menyembah-Nya

7
(Q.S. Al-Araf [7]:172), yang secara implisit berisi kesanggupan manusia
untuk tunduk kepada-Nya. Dalam dimensi diri manusia yang paling dalam
(roh) tertanam keyakinan bahwa Allahlah pusat kehidupan.
Supaya dasar-dasar yang terbentuk dalam diri manusia tersebut tetap
terpelihara, maka Allah memberikan bimbingan melalui teks ayat-ayat Al-
Quran, bagaimana dasar-dasar keimanan kepada Allah dalam diri manusia
tersebut diamankan atau diwujudkan dalam kehidupan aktual manusia.
Bimbingan Allah melalui kitab suci adalah cara yang digunakan Allah
agar manusia selalu dalam posisi mengembangkan sifat-sifatasalnya dalam
bentuk beribadah kepada-Nya.

2.4 Cara Mencapai Tujuan Hidup


Tujuan hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan (kebaikan) di
dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak (Q.S. Al-Baqarah [2]:201). Untuk
mencapai tujuan hidup tersebut, manusia harus beribadah dengan mengikuti
semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Kebahagiaan di
dunia adalah kehidupan yang berkah atau diberkati (Al-Mubarak). Sedangkan
kebahagiaan di akhirat digambarkan dengan surga (Al-Jannah), suatu
kebahagiaan yang sebenarnya sulit digambarkan dengan kata-kata. Meski
demikian, Al-Quran (Q.S. Al-Hajj [22]:14) menggambarkan surga sebagai
kebun indah yang mengalir di dalamnya sungai-sungai.
Islam menekankan sebuah sistem keidupan yang seimbang antara dunia
dan akhirat. Al-Quran mengingatkan kita untuk mencari kehidupan akhirat,
tetapi jangan melupakan bagian dunia (Q.S. Al-Qasas [28]:77).
Kita harus hidup sesuai dengan tuntunan agama, yaitu beribadah
kepada Allah. Oleh karena itu, dalam Islam kriteria untuk menilai keutamaan
atau kemuliaan seseorang bukan terletak pada kekayaan dan bukan pula pada
kekuasaan, tetapi Allah menilai seseorang karena ketakwaannya. Al-Quran
menyatakan, Sesungguhnya yang termulia di sisi Allah adalah yang paling
bertakwa (Q.S. Al-Hujurat [49]:13).

8
Karena hanya dengan bertakwa, yang dipahami sebagai rasa takut untuk
melakukan larangan-larangan-Nya manusia dapat diharapkan melaksanakan
ibadah dengan baik. Dengan demikian, diharapkan manusia dapat mencapai
tujuan hidupnnya dengan baik.

2.5 Kehidupan Setelah Kematian


Roh yang bersifat immaterial tidak hancur setelah kematian, tetapi akan
terus hidup dan menjalani kehidupannya melalui beberapa tahap, sebelum
akhirnya mendapatkan balasan sesuai dengan amal perbuatannya ketika di
dunia (masuk surga atau neraka).
Dalam pandangan Islam, dunia bukanlah satu-satunya alam sebab
menurut Islam, pertama kali kita berada di alam arwah (rohani), kemudian
masuk ke alam arham (rahim ibu), kemudian baru terlahir ke alam dunia.
Setelah kematian kita akan masuk ke alam barzakh (kubur), untuk kemudian
dibangkitkan nanti pada hari kebangkitan atau qiyamah. Selanjutnya
dikumpulkan di Padang Makhsyar, lalu dihisab atau dihitung dan pada
akhirnya ditentukan nasib kita apakah masuk surga atau neraka.
Alam barzakh adalah alam perantara, yaitu antara dunia fisik dan dunia
rohani (Spiritual). Sebagian orang menyamakan antara alam barzakh dengan
alam kubur. Namun secara spiritual, alam barzah dapat juga merujuk pada
salah satu alam gaib yang terletak antara alam dunia yang bersifat fisik dan
alam yang bersifat spiritual (Mulyadhi,2007:42).

2.6 Hari Akhir


Hari akhir adalah berakhirnya alam kita sekarang, dimana segala
sesuatu yang ada di alam menjadi binasa dan mati kecuali Dzat Allah.
Kemudian Allah membangkitkan manusia dari kematiannya (alam kubur) ke
alam lain, yaitu alam akhirat untuk diperlihatkan (mempertanggungjawabkan)
semua amal perbuatannya dan kemudian diadakan perhitungan amal baik dan
amal buruknya yang pada kahirnya diberikan balasan sesuai dengan amalnya

9
tersebut. Yaitu amal baik akan memperoleh kenikmatan atau surga,
sedangkan amal buruk akan memperoleh siksaan atau neraka.
Al-Quran menggunakan beberapa istilah untuk menyebutkan hari
akhir, diantaranya adalah :
1. Al-Saah (Waktu), yaitu waktu berakhirnya alam kita, sekaligus waktu
dimulainya kehidupan di alam akhirat.
2. Al-Akhirah (Kehidupan yang akhir), ialah suatu alam kehidupan setelah
mati.
3. Yaum al-Qiyamah (Hari Kebangkitan), yaitu suatu hari dimana manusia
dibangkitkan dari alam kubur.
4. Yaum al-Baas (Hari Kebangkitan), yaitu suatu hari dibangkitannya
manusia dari alam kubur.
5. Yaum al-Hisab (Hari Perhitungan), yaitu hari dimana manusia
diperhitungkan amal perbuatannya.
6. Yaum al-Fasl (Hari Keputusan atau Kepastian), yaitu hari dimana manusia
menerima keputusan dari Allah, apakah akan memperoleh nikmat atau
siksa.
7. Yaum ad-Din (Hari Pembalasan), yaitu hari dimana manusia memperoleh
pembalasan atas segala amal perbuatannya.
8. Yaum al-Khulud (Hari Kekekalan), yaitu hari dimana manusia hidup dalam
alam yang kekal.

2.7 Argumentasi Iman Kepada Hari Akhir


Iman kepada Allah sangat berkaitan erat dengan iman kepada hari
akhir. Bahkan sering kali Al-Quran dan Hadist menyebutkan keduanya hal
tersebut untuk mewakili rukun-rukun iman lainnya. Misalnya redaksi hadist
yang berbunyi Man kana yuminu billahi walyaumil akhiri.... Artinya :
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir... maka hendaknya
dia menghormati tamunya, kemudian pada hadist lain maka hendaknya dia
menghormati tetangganya.

10
Ada dua substansi yang penting pada redaksi hadist diatas, Pertama,
beriman kepada Allah menarik kita untuk meyakini adanya yang menjadi
sebab pertama (kausa prima) bagi segala sesuatu. Kedua, beriman kepada hari
akhir kita akan ditarik untuk meyakini adanya tujuan terakhir atau kesudahan
bagi segala sesuatu.
Islam menghendaki agar keyakinan adanya hari akhir mengantarkan
manusia untuk melakukan aktifitas positif dalam kehidupan. Demikian pula ia
akan berusaha untuk memanfaatkan secara optimal segala karunia Allah
(diantaranya ilmu dan harta) untuk kepentingan umat. Hal tersebut
disebabkan keimanan kepada Allah menurut ditegakkannya amal perbuatan,
sedangkan amal perbuatan baru sempurna motivasinya dengan keyakinan
tentang adanya hari akhir.
Akhirnya, karena manusia dijadikan Allah mengemban amanah dan
berfungsi sebagai khalifah (Khalifatullah) dan abdi atau hamba (Abdullah)
(Q.S. Al-Baqarah [2]:30;Al-Zariyat [51]:56), serta memperoleh anugrah yang
sangat istimewa, Pertama yaitu struktur boilogis dan psikologis yang
sempurna dibanding makhluk lain; Kedua kebebasan bertindak (Free Will);
Ketiga, Petunjuk kebenaran wahyu (melalui utusan Allah) maka sebagai
konsekuensi logis dikenai sistem Reward dan Punishament. Dengan
demikian, sudah semestinya bila dia harus mempertanggungjawabkan segala
sesuatunya yang berkaitan dengan tugas dan anugrahnya tersbeut kepada
Allah. Pelaksanaan itu bukan di dunia ini, melainkan pada saat yang telah
ditentukan Allah, yaitu di hari akhir nanti. Inilah inti kehidupan di akhirrat
kelak.
Kesadaran akan adanya hari akhir banyak mempengaruhi perilaku
manusia di dunia. Dengan menyadari sepenuhnya keberadaan kehidupan
akhirat, seseorang dapat bertindak baik. Karena apa yang dilakukan seseorang
didalam kehidupannya di dunia ini memiliki konsekuensi jangka panjang,
yakni balasan yang akan diterimanya di akhirat nanti. Sehingga kesadaran
akan konsekuensi atas perbuatannya itu menjadikan manusia dalam

11
kehidupannya lebih dipenuhi kehati-hatian dan pertimbangan dalam
bertindak.

2.8 Argumentasi Hari Akhir (Naqli dan Aqli)


Pada umumnya manusia yang ingkar terhadap adanya hari akhir
bermula dari keyakinan mereka bahwa tidak ada hidup setelah mati. Menurut
mereka hidup ini hanya kehidupan di dunia saja, setelah mati selesai dan
tamat sudah riwayatnya. Hal tersebut sebagaimana ditegaskan dalam Al-
Quran surah Al-Anam [6] ayat 29 dan surah Al-Jatsiyah [45] ayat 24.




Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): "Hidup hanyalah kehidupan
kita di dunia Ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan."
(Q.S. Al-Anam [6] ayat 29).







Dan mereka berkata: "Kehidupan Ini tidak lain hanyalah kehidupan di
dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan
kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan
tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.
(Q.S. Al-Jatsiyah [45] ayat 24).

Kayakinan tersebut, kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan apakah


tulang belulang dan tubuh yang sudah hancur dapat dibangkitkan lagi? Hal
tersebut sebagaimana diinformasikan dalam surah Al-Isra [17] ayat 49 :

12




Dan mereka berkata: "Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan
benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan
kembali sebagai makhluk yang baru?." (Q.S. Al-Isra [17] ayat 49).

Untuk memberikan pembuktian tentang adanya hari akhir dapat


dilakukan dengan cara menyentuh emosi dan logika, menggugah hati dan
pikiran manusia agar mau merasakan dan memikirkan kejadian manusia itu
sendiri.
Manusia berasal dari benda mati menjadi makhluk hidup diatas bumi
dan melakukan berbagai macam aktifitas (amal perbuatan). Perbuatan yang
baik ada yang sudah dirasakan buahnya di dunia, ada pula yang belum.
Demikian pula yang buruk ada yang sudah mendapatkan hukumannya di
dunia, ada juga yang belum. Jadi di dunia ini tidak ada keadilan mutlak. Oleh
karena itu, harus ada alam lain dimana setiap manusia akan menerima balasan
yang seimbang dan adil sesuai dengan amal perbuatannya selama di dunia.
Dengan demikian, adanya hari akhir merupakan suatu keniscayaan.

2.9 Hari Akhir Versi Al-Quran


Al-Quran banyak menginformasikan tentang kiamat beserta fenomena
yang terjadi didalamnya. Lebih dari dua ratus ayat yang berbicara tentang hari
akhir tersebar dibeberapa surah dalam Al-Quran. Beberapa diantaranya
berkaitan dengan fenomena alam, yakni :
1. Q.S. At-Takwir [81]:1-3, artinya Apabila matahari digulung. Dan
apabila bintang-bintang berjatuhan dan apabila gunung-gunung
dihancurkan.
2. Q.S. Al-Insyiqaq [84]:1, artinya Apabila langit dibelah.
3. Q.S. Al-Haqqah [69]:13-16, artinya Maka apabila sangkakala ditiup
sekali tiup.dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung lalu dibenturkan

13
keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat. Dan
terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah.
4. Q.S. Az-Zalzalah [99]:1-2, artinya Apabila bumi diguncangkan dengan
guncangan (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban
yang berat (yang dikandungnya).
5. Q.S. Al-Waqiah [56]:4-6, artinya Apabila bumi diguncangkan
sedahsyat-dahsyatnya. Dan gunung-gunung dihancur leburkan
sehancur-hancurnya. Maka jadilah ia debu yang beterbangan.

Dari ayat-ayat tersebut diatas ada enam fenomena alam yang dapat kita
susun secara berurutan kaitannya dengan kejadian hari kiamat, sebagai
berikut.
a. Bintang dan planet (mungkin pecahannya, meteor dan komet) berjatuhan
membombardir bumi.
b. Langit (dalam hal ini atmosfir bumi) terbela dan berubah.
c. Jatuhnya meteor dan komet menyebabkan bumi goncang dan
berhamburan isi perutnya.
d. Gunung-gunung seperti diangkat lalu dibanting sehingga hancur menjadi
debu.
e. Debu berhamburan memenuhi atmosfir sehingga matahari tidak
kelihatan.
f. Samudera dan lautan meluap.

2.10 Fase Perjalanan Kehidupan di Akhirat


Perjalanan kehidupan di akhirat melalui fase-fase sebagai berikut.
1. Jagat raya dengan seluruh makhluk yang ada didalamnya hancur lebur
dan binasa. Hanya Dzat Allah yang masih tetap dengan sempurna
sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran surah Ar-Rahman [55]:26-27
yang artinya Semua yang ada di bumi akan binasa. Dan tetap kekal
Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Q.S. Al-
Maidah [5]:26-27).

14
2. Yaum al-Bas wa al-Hasyr (Hari Kebangkitan dan Pengumpulan). Semua
manusia setelah mati dibangkitkan dan dihidupkan lagi, untuk kemudian
dikumpulkan di Padang Mahsyar sebagaimana diinformasikan dalam Al-
Quran surah Yasin [36]:51-52 dan surah Al-Nisa[4]:87 yang artinya
Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera
dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. Mereka berkata, Aduh
celakalah kami ! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur
kami (kubur)?. Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah
dan benarlah Rasul-rasul-Nya (Q.S. Yasin [36]:51-52). Allah, tidak
ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan
mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya.
Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah? (Q.S.
An-Nisa [4]:87).
3. Yaum al-Ard (Hari Pertunjukan), yaitu hari dipertunjukkannya seluruh
amal perbuatan manusia secara transparan selama hidup di dunia.
Informasi tentang hal ini dapat diperoleh dari surah Az-Zalzalah [99] ayat
6-8 yang artinya Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam
keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka
(balasan) pekerjaan mereka. Dan barangsiapa yang mengerjakan
barang kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat
(balasan)nya pula. (Q.S. Az-Zalzalah [99]:6-8).
4. Yaum al-Hisab (Hari Perhitungan), yaitu hari dimana semua amal
perbuatan baik dan buruk manusia akan diperhitungkan, yakni direkap
secara akurat dan ditimbang dengan adil, sebagaimana yang dinyatakan
dalam surah Al-Anbiya [21] ayat 47 yang artinya, Kami akan memasang
timbangan yang tepat di hari kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang
barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti
kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat
perhitungan (Q.S. Al-Anbiya [21]:47).
5. Yaum al-Jaza (Hari Pembalasan), yaitu hari pembalasan dimana setelah
melalui proses pengadilan dihadapan mahkamah Tuhan, manusia

15
mendapat pembalasan sesuai dengan amal perbuatannya. Balasan amal
yang baik adalah surga, sebaliknya untuk balasan amal buruk adalah
neraka. Inilah pada hakikatnnya kehidupan ukhrawi yang kekal.
Penjelasan ini sebagaimana terdapat dalam surah Al-Mumin [40] ayat 17
dan surrah Al-Qariah [101] ayat 6-11 yang artinya : Pada hari ini tiap-
tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang
dirugikan pada hari ini. SesungguhnyaAllah amat cepat hisabnya. (Q.S.
Al-Mumin [40]:17). Dan adapun orang-orang yang berat timbangan
(kebaikan)nya; maka ia berada dalam kehidupan yang memuaskan; dan
adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat
kembalinya adalah neraka Hawiyah; Tahukan kamu apakah neraka
Hawiyah itu?; yaitu api yang sangat panas (Q.S. Al-Qariah [101]:6-
11).

2.11 Surga dan Neraka


Setelah kematian, manusia akan masuk ke alam kubur (barzakh), untuk
kemudian dibangkitkan pada hari kebangkitan (qiyamah), dihimpun di
Padang Mahsyar, lalu dihitung (hisab) dan kemudian ditentukan nasib kita
untuk masuk surga (bila lebih banyak amal baiknya) atau masuk neraka
(bila amal buruknya lebih banyak).
Karena itu, dalam Islam dikenal adanya surga yang disebut (al-Jannah)
dan neraka (an-Nar). Implikasinya adalah bahwa tidak akan sama akibat
yang dihadapi orang yang beramal saleh dengan orang yang berbuat
maksiat. Setiap perbuatan akan memiliki konsekuensi dan akan
diperlihatkan nanti di akhirat. Al-Quran menyebutkan, sekecil apapun
perbuatan baik manusia akan diperlihatkan akibatnya, demikian pula
perbuatan jahat (Q.S. Az-Zalzalah [99]:7).
Al-Quran dan hadist menyebutkan bahwa manusia yang amal
kebaikannya lebih banyak akan memperoleh hidup yang sempurna di
akhirat dengan mendapat tempat di surga. Surga adala tempat yang

16
dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa. Adapun untuk mencapainya
adalah dengan beribadah kepada Allah semata.
Sebaliknya bagi mereka yang amal buruknya lebih banyak, maka akan
mengalami hidup sengsara dan mendapat tempat di neraka. Bila neraka
adalah tempat kehidupan yang menyengsarakan dengan segala macam
siksaannya, maka kehidupan surga adalah kebalikannya, yakni sebuah
kehidupan yang sempurna, semuanya serba baik, nyaman, tentram dan
bahagia. Penghuni surga adalah orang-orang yang beriman dan beramal
saleh, mereka dijamin kekal didalamnya (Q.S. Al-Baqarah [2]:82).
Surga dan neraka termasuk hal-hal yang gaib, maka pengetahuan kita
tentangnya hanyalah sebatas dari apa yang dijelaskan oleh nash Al-Quran
maupun hadist saja. Informasi tentang surga dan neraka dapat kita peroleh
dari (Q.S. Al-Sajdah [32]:17; Muhammad [47]:15; Al-Kahfi [18]:31-32;
An-Nisa [4]:56;Al-Hajj [22]:19-22).

17