Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Sindrom insufisiensi korteks adrenal terjadi akibat defisiensi sekresi kortisol

dan aldosterone. Apabila tidak diobati, maka penyakit ini dapat menyebabkan

kematian. Penyebaba utama insufisiensi korteks adrenal adalah (1) penyakit primer

korteks adrenal atau (2) defisiensi sekresi hormone adrenokortikotropik

(ACTH).defisisensi corticotropin-realising-hormone (CRH) saja dapat meyebabkan

defisiensi ACTH dan kortisol. Tetapi penyakit ini hanya dijumpai pada pajajn kronik

glukookortikoid dosis farmakologik atau setelah pengangkatan adenoma

adrenokorteks penghasil kortisol.

Apabila penyebab insufisiensi korteks adrenal adalah suatu proses patologik

dikorteks adrenal, maka penyakit ini disebut penyakit Addison. Pasien dengan

penyakit Addison memperlihatkan ketiga zona korteks sehingga terjadi difisiensi

semua sekresi korteks adrenal: kortisol, aldosterone, dan androgen. Kadang-kadang

pasien datang dengan defisiensi parsial sekresi hormone korteks adrenal. Defisiensi

ini dijumpai pada kasus-kasus hipoaldesteronisme-hiporeninemik, yang hanya

mengenai sekresi aldesteron, atau hiperplasi adrenal konginetal, dengan suatu defek

enzim persial yang hanya menghambat sekresi kortisol.

Penyakit Addison jarang dijumpai dan memiliki prevalensi 4 dari 100.000

orang; dua pertiga pasien adalah perempuan. Diagnose ditegakkan antara usia 20 dan
1
50 tahun. Dahulu, tuberkolosis adalah penyabab utama penyaki Addison. Saat ini,

dengan kemoterapi yang lebih baik, hanya sedikit pasien tuberkolosis yang

mempunyai insufisiensi adrenal. Kerusakan korteks adrenal merupakan akibat dari

proses autoimun pada lebih dari 50% pasien penyakit Addison. Autoantibodi adrenal

ditemukan dalam titer tinggi pada sebagian pasien dengann penyakit Addison.

Antibody ini bereaksi dengan antigen dikorteks adrenal, termasuk enzim 21

hidroksilase dan menyebabkan reaksi peradangan yang akhirnya menghancurkan

kelenjar adrenal. Biassanya lebih dari 80% dari kedua kelenjar harus rusak sebelum

timbul gejala dan tanda insufisiensi. Penyakit Addison dapat timbul bersaam dengan

penyakit endokrin lain yang memiliki dasar autoimuitas. Diantaranya adalah tiroiditis

hashimoto, beberapa kasus diabetes mellitus type 1, dan hipoparatiroidisme. Juga

tampaknya terdapat predisposisi familial untuk penyakit endrokin autoimun, yang

mungkin berkaitan dengan kelainan reaktifitas system imun pasien. Penyebab

penyakit Addison yang lebih jarang adalah pendarahan yang disebabkan oleh

pemakaina antikoogulan jangka panjang terutama heparin, penyakit granulomatosa

non perkijuan, infeksi sitomegalovirus (CMV) pada pasien dengan sindrom

imonodefisiensi didapat (AIDS), dan neuplasma metastatic yang mengenai kedua

kelenjar adrenal. Pernah dilaporkan kasus-kasus jarang yaitu, insufisiensi korteks

adrenal primer terjadi akibat mutasi di gen-gen yang mengode protein yang

mengendalikan perkembangan adrenal atau steroidogenesis.( Price, Sylvia. 2006)

2
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana konsep teori penyakit krisis adrenal?
2. Bagaimana asuhan keperawatan penyakit krisisi adrenal?

C. TUJUAN
Untuk mengetahui dan memahami bagaimana konsep teori dan asuhan

keperawatan penyakit krisis adrenal.

3
BAB II

KONSEP TEORI

A. DEFINISI KRISIS ADRENAL (ADDISON)

Krisis Adrenal atau krisis Addison atau Acute Adrenal Insuffiency adalah

suatu insufisiensi adrenal akut yang biasanya ditemukan dalam keadaan syok pada

seseorang yang menderita insufisiensi adrenal yang sebelumnya tidak diketahui atau

pada penderita insufisiensi adrenal yang kenudian mendapat suatu infeksi bakteri,

tindakan operasi, diare atau penyakit berat lainnya.

Krisis adrenal adalah suatu keadaan gawat darurat yang berhubungan dengan

menurunnya atau kekurangan hormon yang relatif dan terjadinya kolaps sistem

kardiovaskuler dan biasanya gejala gejalanya non spesifik, seperti muntah dan nyeri

abdomen.

B. ETIOLOGI

Penyebab primer adalah perdarahan kelenjar adrenal bilateral, trombosis atau

nekrosis selama terjadi sepsis atau ketika mendapat antikoagulan. Bila kehilangan

kelenjar adrenal unilateral tidak akan menyebabkan insufisiensi adrenal.

Penyebab sekunder adalah peripartum pituitary infark (Sheehan`s syndrom),

Pituitary apoplexy ( perdarahan pada kelenjar pituitary), trauma kepala dengan

gangguan batang kelenjar pitutari, tetapi biasanya tidak seberat pada keadaan adrenal

insuficiency primer karena sekresi aldosteron tidak dipengaruhi.


4
Beberapa hal yang dapat juga menyebabkan krisis adrenal:

1. Infeksi pada kelenjar adrenal


2. Tb
3. Perdarahan
4. Thrombosis
5. Trauma
6. Insufisiensi ACTH Hipofise
7. Tindakan pembedahan
8. Anastesi umum

9. Keadaan hipermetabolik

Terdapat beberapa faktor resiko terhadap terjadinya adrenal krisis, yaitu

Penggunaan steroid , kurang lebih 20 mg sehari dari prednison atau persamaannya

sekurang kurangnya 5 hari pada 1 tahun terahir, penderita menerima dosis yang

mendekati kadar fisiologis yang dibutuhkan selama 1 bulan untuk memulihkan fungsi

dari kelenjar adrenal.

Stres fisiologik yang berat seperti sepsis, trauma, luka bakar, tindakan

pembedahan. Berikut ini adalah keadaan yang terjadi pada hipotalamik-

pituitaryadrenal axis pada keadaan normal, keadaan stress fisiologis yang berat dan

dalam keadaan critical illness.

Organisme yang berhubungan dengan krisis adrenal yaitu haemophilus

Influenza, staphilokokus aureus, streptokokus pneumonia, jamur. Selain itu

penggunaan obat inhalasi fluticasone, setelah injeksi steroid intra artikular, dan pada

pengguna obat-obatan ketokonazole, phenitoin, rifampisin.

C. PATOFISIOLOGI

5
Kortek adrenal memproduksi 3 hormon steroid yaitu hormon glukokortikoid

(kortisol), mineralokortikoid (aldosteron, 11-deoxycoticosterone) dan androgen

(dehydroepiandrosterone). Hormon utama yang penting dalam kejadian suatu krisis

adrenal adalah produksi dari kortisol dan adrenal aldolteron yang sangat sedikit.
Kortisol meningkatkan glukoneogenesis dan menyediakan zat - zat melalui

proteolisis, penghambat sintesis protein, mobilisasi asam lemak,dan meningkatkan

pengambilan asam amino di hati. Kortisol secara tidak langsung meningkatkan

sekresi insulin untuk mengimbangi hperglikemi tetapi juga menurunkan sensitivitas

dari insulin. Kortisol juga mempunyai efek anti inflamasi untuk mestabilkan lisosom,

menurunkan respon leukositik dan menghambat produksi sitokin. Aktivitas fagositik

dipertahankan tetapi sel mediated imunity hilang pada keadaan kekurangan kortisol

dan mensupresi sintesis adrenokortikotropik hormon ( ACTH).


Aldosteron di keluarkan sebagai respon terhadap stimulasi dari angiotensin II

melalui system renin angiotensin, hiperkalemi, hiponatremi dan antagonis dopamin.

Efek nya pada target organ primer. Ginjal meningkatkan reabsorpsi dari natrium dan

sekresi dari kalium dan hidrogen. Mekanismenya masih belum jelas, peningkatan dari

natrium dan kalium mengaktivasi enzim adenosine triphosphatase ( Na/K ATPase).

yang bertangung jawab untuk trasportasi natrium dan juga meningkatkan aktivitas

dari carbonic anhidrase, efek nya adalah meningkatkan volume intravaskuler. System

renin angiotensin-aldosteron tidak dipengaruhi oleh glukokortikoid eksogen dan

kekurangan ACTH mempuyai efek yang sangat kecil untuk kadar aldosteron

kekurangan hormon adrenokortikal menyebabkan efek yang berlawanan dengan

hormon ini dan menyebabkan gejala klinis yang dapat ditemukan pada krisis adrenal.
6
D. MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinis yang mendukung suatu diagnosis krisis adrenal adalah sebagai berikut:
1. Syok yang sulit dijelaskan etiologinya biasanya tidak ada pengaruh dengan

pemberian resusitasi cairan atau vasopresor.


2. Hipotermia atau hipertermia
3. Yang berhubungan dengan kekurangan kortisol yaitu cepat lelah, lemah badan,

anoreksia, mual mual dan muntah , diare, hipoglikemi, hipotensi, hiponatremi.


4. Yang berhubungan dengan kekurangan hormon aldosteron yaitu hiperkalemia

dan hipotensi berat yang menetap


5. Lain lain tergantung dari penyebab, mungkin didapatkan panas badan, nyeri,

abdomen dan pinggang yang berhubungan dengan perdarahan kelenjar adrenal.

E. KOMPLIKASI

1. Syok, (akibat dari infeksi akut atau penurunan asupan garam)

2. Kolaps sirkulasi

3. Dehidrasi

4. Hiperkalemiae

5. Sepsis

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Data laboratorium memperlihatkan kadar glukosa darah yang rendah.

Biasanya kadar natrium plasma juga rendah tetapi jarang dibawah 120 meq/L dan

kadar kaliumdalah meningkat, tetapi jarang diatas 7 meq.L. Penderita biasanya

7
mengalami asidosis dengan kadar bikarbonat plasma antara 15-20 meq /L. Kadar

ureum juga meningkat.

Kemungkinan diagnosa juga dapat di lihat dari adanya eosinofilia dan

limpositosis pada SADT, dan adanya gangguan kadar serum tiroid.

Diagnosa paling spesifik yaitu dengan memeriksa kadar ACTH dan kortisol,

jika terdapat banyak waktu. Serum kotisol biasanya kadarnya kurang dari 20 mcg/dl

tetapi kita dapat menunggu untuk melakukan pemeriksaan ini bila pasien sudah dapat

distabilkan. Jika akan dilakukan test untuk menstimulasi ACTH setelah memulai

stess dose steroid, pastikanlah steroid sudah diganti ke dexametason karena tidak

akan mempengaruhi test.

Cara melakukan ACTH test adalah pertama tetapkan kadar kortisol plasma

baseline, kemudian berikan ACTH 250 mcg intavena yang diberi tekanan kemudian

pantau serum kortisol 30-60 menit setelah diberikan ACTH. Kenaikan kurang dari 9

mcg dapat dipikirkan sebagai insuficiensi adrenal.

Pada foto thorax harus dicari tanda tanda tuberculosis, histoplasmosis,

keganasan, sarkoid dan lymphoma. Pada pemeriksaan CT scan abdomen

menggambarkan kelenjar adrenal mengalami perdarahan, atropi, gangguan infiltrasi,

penyakit metabolik. Perdarahan adrenal terlihat sebagai bayangan hiperdens, dan

terdapat pembesaran kelenjar adrenal yang bilateral. Pada pemeriksaan EKG

mempelihatkan adanya pemanjangan dari interval QT yang dapat mengakibatkan

8
ventikular aritmia, gelombang t inverted yang dalam dapat terjadi pada akut adrenal

krisis.

Pemeriksaan histologis tergantung dari penyebab kegagalan adrenal. Pada

kegagalan adrenokotikal yang primer, terlihat gambaran infeksi dan penyakit

infiltratif.

Pada kegagalan adrenokotikal yang sekunder dapat menyebabkan atrofi

kelenjar adrenal. Gambaran dari perdarahan adrenal bilateral mungkin hanya

ditemukan gambaran darah saja.

G. PENTALAKSANAAN

1. Cairan isotonik seperti NaCl 9% diberikan untuk menambah volume dan garam.

2. Jika penderita hipoglikemi dapat di berikan cairan dextrose 50%

3. Steroid IV secepatnya : dexametason 4 mg atau hydrokortisone 100 mg.

4. Setelah penderita stabil lanjutkan dengan dexametasone 4 mg IV tiap 12 jam atau

hydrokortison 100 mg IV tiap 6-8 jam.

5. Obati penyakit dasarnya seperti infeksi dan perdarahan, untuk infeksi dapat

diberikan antibiotik..

6. Untuk meningkatkan tekanan darah dapat diberikan dopamin atau norepineprin.

7. Terapi pengganti mineralokortikoid dengan fludricortisone

9
8. Penderita harus dikonsultasikan dengan endokrinologist, spesialis penyakit

Infeksi, ahli critical care, kardiologis, ahli bedah.

10
H. PENYIMPANGAN KDM

Perdarahan, trombosis, autoimun, stress, TB, Disfungsi korteks adrenal


Hipo
infeksi, tumor, trauma

Aldostren Adrenal Krisis


ACTH & CRH

Reabsobrsi Enzim pd Fungsi Liver


Korsisol MCH
kalium pncernaan
Kadar gula Glikoneogenesis
Sekresi hiponatremia rendah Hiperpigmentasi
Mual,
natrium muntah, Glikogen hati
Hipotensi: diare, Kadar gula darah Kurang informasi mengenai
Air & pusing keram sangat rendah pnyakit & pengobatan
Hipoglikemia
Volume
plasma Volume Mempngaruhi Kelemahan DX:
cairan jantung, koma Defisiensi
Dehidrasi DX: Intoleransi Pengetahuan
aktivitas

DX: Kekurangan DX: Resiko


volume cairan Penurunan Perubahan
dan elektrolit Curah Jantung status kesehatan

DX: Resiko Ancaman


Syok kematian
DX: Resiko
perubahan nutrisi
COP kurang dari DX: Ansietas
kebutuhan tubuh

Kolaps sirkulasi

DX: Gangguan
perfusi jaringan

11
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian Primer

a. Airway (jalan nafas) dengan control servikal

Kaji:

1) Bersihan jalan nafas

2) Adanya/tidaknya sumbatan jalan nafas

3) Distress pernafasan

4) Tanda tanda pendarahan di jalan nafas, muntahan, ederma laring.

b. Breathing dan ventilasi

Kaji:

1) Frekuensi nafas, usaha dan pergerakan dinding dada

2) Suara pernafasan melalui hidung atau mulut

3) Udara yang di keluarkan dari jalan nafas

c. Circulation

Kaji:

1) Denyut nadi karotis

2) Tekanan darah

3) Warna kulit, kelembaban kulit

12
4) Tanda tanda pendarahan ekternal dan internal

d. Disability

Kaji:

1) Tingkat kesadaran

2) Gerakan ekstremitas

3) Glasgow Coma Scale (GCS), atau pada anak tentukan: Alert (A), respon

verbal (V), respon nyeri/pain (P), tidak berespon/unresponsip (U).

4) Ukuran pupil dan respons pupil terhadap cahaya

e. Exposure

Kaji: Tanda-tanda trauma yang ada

2. Pengakajian Sekunder

a. Fahrenheit/Suhu

Kaji: Perubahan suhu pasien

b. Get Vital Sign/Tanda-tanda vital secara kontinyu

Kaji:

1) Tekanan darah

2) Irama dan kekuatan nadi

3) Irama, kekuatan dan penggunaan otot bantu

4) Saturasi oksigen

c. Head to toe

1) Pengkajian kepala, leher dan wajah

13
a) Periksa wajah, adakah luka dan laserasi, perubahan tulang wajah dan

jaringan lunak, adakah perdarahan serta benda asing.

b) Periksa mata, ukuran pupil isokor/anisokor, pupil mengalami

miosis/medriasis, ketajaman mata, ptosis, diplopia.

c) Hidung, periksa ada perdarahan, perasaan nyeri, krepitasi.

d) Telinga, periksa adanya nyeri, tinitus, keutuhan membran timpani,

adanya hemotimpanum.

e) Mulut, faring, mukosa mulut, warna, kelembabab, lesi, tonsil

meradang, adanya nyeri.

f) Kaji adanya kaku leher

2) Pengkajian dada

a) Pernafasan: irama, kedalaman dan karakter pernafasan

b) Pergerakan dinding dada anterior dan posterior

c) Amati penggunaan otot bantu nafas

3) Abdomen dan pelvis

a) Struktur tulang pelvis dan keadaan dinding abdomen

14
b) Tanda-tanda cedera eksternal, adanya luka tusuk, laserasi, abrasi,

distensi abdomen, jejas.

c) Nadi femoralis

d) Bising usus

e) Distensi abdomen

4) Ekstremitas

Pengkajian di ekstremitas meliputi:

a) Tanda-tanda injuri eksternal

b) Nyeri

c) Pergerakan dan kekuatan otot ekstremitas

d) Iskemia jaringan

e) Warna kulit

f) Denyut nadi perifer

5) Inspect the posterior surface: Kaji tanda-tanda adanya jejas.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

15
1. Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan

ketidakseimbangan input dan output.

2. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan kolaps sirkulasi.

3. Resiko syok berhubungan dengan kekurangan volume cairan dan elektrolit,

hipotensi, kadar gula darah rendah.

4. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan hipotensi.

5. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

anoreksia.

6. Ansietas berhubungan dengan ancaman kematian.

7. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.

8. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajan/kurang informasi

mengenai prognosis penyakit, perawatan dan pengobatan.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

1. Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan

ketidakseimbangan input dan output.

Intervensi:

a. Monitor tanda-tanda vital

16
Rasional: Perubahan parameter tanda-tanda vital mengindikasikan

perubahan status cairan.

b. Ukur berat badan pasien setiap hari sebelum sarapan.

Rasional: unruk memberikan pembacaan yang konsisten.

c. Pantau kecepatan pemberian cairan IV secara cermat.

Rasional: Mencegah kelebihan volume cairan.

d. Monitor turgor kulit dan adanya kehausan

Rasional: Untuk mencegah dehidrasi mukosa

e. Timbang berat badan pasien pada waktu yang sama setiap hari

Rasional: memberikan data yang lebih akurat dan konsisten, berat badan

merupakan indikator yang tepat untuk status cairan.

f. Priksa berat jenis urine setiap 8 jam.

Rasional: Peningkatan berat jenis urine dapat mengndikasikan dehidrasi.

g. Instruksikan pasien untuk tidak duduk atau berdiri ika sirkulasi terganggu.

Rasional: menghindari hipotensi ortostatik dan kemungkinan sinkop.

h. Jelaskan alasan kehilangan cairan dan ajarkan kepada klien dan keluarga

cara memantau volume cairan.

Rasional: Tindakan ini mendorong keterlibatan pasien dalam perawatan

personal.

i. Kolaborasi: Cairan NaCl 0,9 %

17
Rasional: Mungkin kebutuhan cairan pengganti 4 6 liter, dengan

pemberian cairan NaCl 0,9 % melalui IV 500 1000 ml/jam, dapat

mengatasi kekurangan natrium yang sudah terjadi.

2. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan kolaps sirkulasi.

Intervensi:

a. Kaji kesadaran klien.

Rasional: Untuk menentukan tindakan yang tepat yang harus dilakukan.

b. Lakukan pengkajian secara komprehensif terhadap sirkulasi perifer.

Rasional: Mengetahui tindakan selanjutnya untuk meningkatkan sirkulasi

arteri dan vena.

c. Pantau pembedaan ketajaman atau ketumpulan atau panas atau dingin.

Rasional: Untuk mencegah dan meminimalkan cedera atau ketidaknyamanan

pasien yang mengalami perubahan sensasi.

d. Selidiki perubahan tiba-tiba atau gangguan mental kontinu seperti cemas,

bingung, letargi.

Rasional: perfusi serebral secara langsung berhubungan dengan surah

e. Kaji warna kulit, suhu, sianosi, nadi perife, dan deforesis secara teratur.

Rasional: Mengetahui derajat hipoksemia dan peningkatan tahanan perifer.

f. Catat adanya keluhan pusing.

Rasional: Keluhan pusing merupakan manifestasi penurunan suplai darah ke

jaringan otak yang parah.

g. Pantau laju pernapasan dan suara napas pasien.


18
Rasional: Peningkatan laju pernapasan dapat mengindikasikan bahwa pasien

sedang berkompensasi terhaap hipoksia jaringan.

h. Letakkan ekstremitas pada posisi menggantung jika perlu.

Rasional: Untuk meningkatkan sikulasi arteri.

i. Pantau pernapasan, auskultasi bunyi paru.

Rasional: Pompa jantung gagal dapat mencetuskan distress pernapasan.

j. Dorong pasien untuk sering beristrahat.

Rasional: Untuk menghemat energi dan memaksimalkan perfusi jaringan.

k. Berikan obat antitrombosit atau antikoagulan, jika diperlukan.

Rasional: Meningkatkan sirkulasi vena.

l. Anjurkan pasien atau keluarga untuk memerikasa kulit setiap hari untuk

mengetahui perubahan kulit.

Rasional:Untuk mengumpulkan dan menganalisa data pasien untuk

mempertahankan integritas kulit.

m. Pantau data laboratorium: GDA, BUN, kreatinin, elektorlit.

Rasional: Indikator perfusi/fungsi organ.

3. Resiko syok berhubungan dengan kekurangan volume cairan dan elektrolit,

hipotensi, kadar gula darah rendah.

Intervensi:

a. Monitor status sirkulasi BP, warna kulit, suhu kulit, denyut jantung, HR, dan

ritme, nadi perifer, dan kapiler refill.

Rasional: Untuk mengetahui perubahan yang mungkin mengancam jiwa.


19
b. Monitor tanda inadekuat oksigenasi jaringan.

Rasional Oksigenasi ke jaringan penting agar tidak terjadi hipoksia jaringan.

c. Pantau adanya hipovolemia, hipotensi, kulit dingin, nadi yang lemah,

kekacauan mental, dan kegelisahan.

Rasional: Tanda tersebut mengindikasikan terjadinya syok.

d. Pantau adanya tanda dan gejala syok

Rasional: Mencegah terjadinya syok.

e. Dorong pasien untuk sering beristrahat.

Rasional: Untuk menghemat energi dan memaksimalkan perfusi jaringan.

f. Monitor input dan output

Rasional: Membantu memberikan tindakan awal yang tepat.

g. Ajarkan keluarga dan pasien tentang tanda dan gejala datangnya syok.

Rasional: Membantu tenaga kesehatan untuk mengetahui tanda dan gejala

awal syok.

4. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan hipotensi.

Intervensi:

a. Ukur tekanan darah dan bandingkan tekanan darah kedua lengan. Ukur

dalam keadaan duduk, berbaring dan berdiri bila memungkinkan.

Rasional: Hipotensi dapat terjadi akibat disfungsi ventrikel. Hipertensi juga

factor yang berhubungan dengan nyeri cemas yang mengakibatkan

terjadinya pengeluaran katekolamin.

b. Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac output


20
Rasional: penurunan curah jantung menyebabkan darah teroksigenasi tidak

adekuat untuk memenuhi kebutuhan.

c. Selama periode akut pertahankan tirah baring total dan minimalkan semua

stressor yang dapat dikendalikan.

Rasional: tindakan ini mengurangi kebutuhan metabolik.

d. Bantu pasien dengan tindakan untuk mengurangi kekuatan, seperti istrahat

sebelum dan setelah aktivitas.

Rasional: istrahat yang cukup mengurangikonsumsi oksigen dan mengurangi

resiko hipoksia).

a. Auskultasi dan catat adanya murmur

Rasional: Menunjukkan gangguan aliran darah dalam jantung akibat

kelainan katup, kerusakan septum, atau vibrasi otak papilaris.

e. Evaluasi kualitas dan kesamaan nadi sesuai indikasi

Rasional: penurunan curah jantung mengakibatkan menurunnya

kelemahan/kekuatan nadi.

f. Catat terjadinya S3, S4.

Rasional: S3 biasanya dihubungkan dengan GJK tetapi juga terlihat pada

gagal mitral dan kelebihan kerja ventrikel kiri. S4 mungkin berhubungan

dengan iskemia miokard, kekakuan ventrikel.

g. Monitor adanya murmur/gesekan

Rasional: menunjukkan aliran darah normal dalam jantung.

h. Auskultasi bunyi napas


21
Rasional: krekels menunjukkan kongesti paru mungkin terjadi karena

penurunan fungsi miokard.

i. Berikan oksigen sesuai instruksi.

Rasional: Meningkatkan suplai oksigen ke miokardium.

j. Instruksikan pasien untuk menghindari straining selama defekasi.

Rasional: mengakibatkan bradikardia dan menurunkan curah jantung.

k. Identifikasi penyebab dan perubahan vital sign

Rasional: memberikan informasi sehubungan dengan kemajuan/perbaikan

infark status fungsi ventrikel, keseimbangan elektrolit dan efek terapi obat.

l. Catat respon terhadap aktivitas dan peningkatan instrahat dengan tepat.

Rasional: kelebihan latihan meningkatkan konsumsi/kebutuhan oksigen dan

mempengaruhi fungsi miokard.

m. Pantau frekuensi dan irama jantung

Rasional: Perubahan frekuensi dan irama jantung dapat menunjukkan adanya

komplikasi distritmia.

n. Kaji ulang EKG

Rasional: Memberikan informasi sehubungan dengan kemajuan/perbaikan

infark, status fungsi ventrikel, keseimbangan elektrolit, dan efek terapi obat.

o. Berikan makanan dengan posisi sedikit tapi sering dan mudah dikunyah dan

batasi asupan kafein.

22
Rasional: Makan dengan posisi besar dapat meningkatkan kerja miokardium.

Kafein dapat merangsang langsung pada jantung sehingga meningkatkan

frekuensi jantung.

p. Berikan agens intropik dan vasoaktif (seperti digoskin, dopamin dan

dobutamin)

Rasional: untuk meningkatkan kontraktilitas jantung.

q. Pantau data labortorium: seperti enzim jantung, GDA, alektolit.

Rasional: Enzim memantau perbaikan/perluasan infark. Adanya hipoksia

menunjukkan kebutuhan tambhana oksigen.

5. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

anoreksia.

Intervensi:

a. Kaji adanya alergi makanan

Rasional: Alergi makanan dapat berpengaruh pada perburukan kesehatan

pasien.

b. Berikan air dan jus bila diperlukan

Rasional: Untuk mempertahankan hidrasi yang adekuat

c. Berikan makanan yang terpilih (suda dikonsultasikan dengan ahli gizi)

Rasional: Menambah nafsu makan dan menghindari mual dan muntah.

d. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi.

Rasional: Informasi mengenai kebutuhan gizi membantu pasien dan keluarga

untuk berusaha memenuhinya.


23
e. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.

Rasional: Membantu mengetahui perkembangan pasien.

f. Monitor adanya penurunan berat badan.

Rasional: Penurunan berat badan mengindikasikan nutrisi kurang dari

kebutuhan tubuh.

g. Monitor kekeringan, rambut kusam dan mudah patah.

Rasional: kekeringan, rambut kusam, mudah patah merupakan indikasi

kekurangan protein.

h. Monitor mual dan muntah.

Rasional: Mengetahui perkembangan kondisi pasien

i. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi

yang dibutuhkan pasien.

Rasional: Untuk menentukan kebutuhan gizi sesuai keadaan pasien.

6. Ansietas berhubungan dengan ancaman kematian.

Intervensi:

a. Bantu klien mengekspresikan perasaan marah, kehilangan dan takut

Rasional: Cemas berkelanjutan memberikan dampak serangan jantung yang

berkelanjutan.

b. Kaji dan dokumentasi tingkat kecemasan pasien, termasuk reaksi fisik.

Rasional: Menurunkan rasa cemas dan takut terhadap diagnosa dan

prognosis.

c. Hindari konfrontasi
24
Rasional: Konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah, menurunkan

kerjasama, dan mungkin memperlambat penyembuhan.

d. Dampingi pasien pada saat ansietas berat, bicara dengan tenang dan berikan

ketenangan serta rasa nyaman.

Rasional: Membantu perhatian mengarahkan kembali dan meningkatkan

relaksasi meningkatkan kemampuan koping.

e. Berikan dorongan terhadap pasien untuk mengungkapkan secara verbal

pikirian dan perasaan untuk mengeksternalisasikan perasaan.

Rasional: Pasien dapat takut mati dan/atau cemas tentang lingkungan. Cemas

berkelanjutan memungkinkan terjadi dalam berbagai derajat selama

beberapa waktu dan dapat memanifestasikan oleh gejala depresi.

f. Bantu pasien untuk memfokuskan pada situasi saat ini, sebagai cara untuk

mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi

ansietas.

Rasional: Keterlibatan akan membantu memfokuskan perhatian pasien

dalam arti positif dan memberikan rasa kontrol.

g. Berikan penguatan positif ketika pasien mampu meneruskan aktivitas sehari-

hari dan aktivitas lainnya meskipun mengalami ansietas.

Rasional: Membantu perhatian mengarahkan kembali dan meningkatkan

relaksasi, meningkatkan kemampuan koping.

h. Yakinkan kembali melalui sentuhan dan sikap empatik secara verbal dan

nonverbal secara bergantian.


25
Rasional: Membantu perhatian mengarahkan kembali dan meningkatkan

relaksasi, meningkatkan kemampuan koping.

i. Dorong pasien untuk mengekspresikan kemarahan dan iritasi, serta izinkan

pasien untuk menangis.

Rasional: Perasaan tidak di ekspresikan dapat meninmbulkan kekacauan

internal dan efek gambaran diri. Pernyataan masalah menurunkan

ketegangan, mengklarifikasi tingkat koping, dan memudahkan pemahaman

perasaan.

j. Kurangi rasangan yang berlebihan dengan menyediakan lingkungan yang

tenang.

Rasional: Sebagai penyimpanan energi dan meningkatkan kemampuan

koping.

k. Nyatakan dengan jelas tentang harapan terhadap perilaku pasien.

Rasional: Pasien dan orang terdekat dapat dipengaruhi oleh cemas/

ketidaktenangan anggota tim kesehatan. Penjelasan yang jujur dapat

menghilangkan kecemasan.

l. Sediakan informasi factual menyangkut diagnosis, terapi dan prognosis.

Rasional: Informasi yang tepat tentang situasi menurunkan takut, hubungan

yang asing antara perawat-pasien, dan membantu pasien/orang terdekat

untuk menerima situasi secara nyata.

m. Instruksikan pasien tentang penggunaan tehnik relaksasi.

26
Rasional: Memberikan arti penghilangan respon ansietas, menurunkan

perhatian, meningkatkan relaksasi dan meningkatkan kemampuan koping.

n. Jelaskan semua prosedur termasuk sensasi yang dialami selama prosedur.

Rasional: Meningkatkan rasa kepercayaan pasien, dan mempermudah

melaksanakan intervensi selanjutnya.

o. Kolaborasi pemberian obat untuk menurunkan ansietas bila perlu.

Rasional: Meningkatkan relaksasi/istrahat dan menurunkan rasa cemas.

7. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.

Intervensi:

a. Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas.

Rasional: Menentukan tindakan selanjutnya.

b. Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan terhadap keterbatasan.

Rasional: Meningkatkan motivasi kepada klien agar lebih aktif.

c. Kaji adanya faktor yang menyebabkan kelelahan

Rasional: Membantu menentukan tindakan yang tepat untuk dilakukan.

d. Jelaskan pola peningkatan bertahap dari tingkat aktivitas. Contoh : bangun

dari kursi, bila tidak ada nyeri, ambulasi, dan istirahat selama 1 jam setelah

makan

Rasional: Aktivitas yang maju memberikan kontrol jantung, meningkatkan

regangan dan mencegah aktivitas yang berlebihan.

e. Lakukan modifikasi lingkungan.

Rasional: Membantu aktivitas yang mandiri.


27
f. Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan

Rasional: Mencegah penurunan metabolisme selular dan kebutuhan oksigen.

g. Diskusikan dengan pasien tentang perlunya beraktivitas

Rasional: Mengkomunikasikan kepada pasien bahwa aktivitas akan

meningkatkan kesejahteraan fisik dan psikososial.

h. Instruksikan dan bantu pasien untuk beraktivitas diselingi istrahat.

Rasional: Menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan mencegah keletihan.

i. Beri dukungan dan dorongan pada aktivitas pasien yang dapat ditoleransi

Rasional: Membantu pasien membangun kemandirian.

j. Bantu untuk mendapatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda.

Rasional: Mengajarkan metode penghematan energi dan kemandirian.

k. Bantu untuk mengidentivikasi aktivitas yang disukai.

Rasional: meningkatkan motivasinya agar lebih aktif.

l. Bantu pasien/keluarga untuk mengidentivikasi kekurangan dalam

beraktivitas.

Rasional: membantu pasien membangun kemandirian

8. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajan/kurang informasi

mengenai prognosis penyakit, perawatan dan pengobatan.

Intervensi:

a. Kaji tingkat pengetahuan pasien/orang terdekat dan kemampuan/ keinginan

untuk belajar.

Rasional: Perlu untuk pembuatan rencana instruksi individu.


28
b. Jelaskan penyebab dan tindakan mandiri yang dapat dilakukan terhadap

penyakit.

Rasional: Membantu pasien maupun keluarga memahami penyakit yang

diderita.

c. Tumbuhkan sikap saling percaya dan perhatian.

Rasional: untuk meningkatkan kemauan belajar pasien.

d. Diskusikan dengan pasien tantang usaha mengembangkan tujuan

pembelajaran.

Rasional: Keterlibatan pasien dalam perencanaan tujuan yang berarti

mendukung kontinuitas.

e. Pilih strategi pengajaran.

Rasional: Meningkatkan keefektifan pengajaran.

f. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk

mencegah komplikasi dimasa yang akan datang atau pengontrolan penyakit.

Rasional: Membantu proses penyembuhan dan meminimalkan resiko

komplikasi.

g. Diskusikan pilihan terapi dan penanganan.

Rasional: Keterlibatan pasien mengenai proses pengobatan menambah

pengetahuan pasien mengenai pengobatan.

h. Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion.

Rasional: Membuat pasien merasa dibutuhkan serta menambah rasa percaya

diri,
29
i. Instruksikan pasien mengenali tanda dan gejala untuk melaporkan pada

pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat.

Rasional: Mencegah terjadinya resiko yang fatal akibat pengobatan yang

tidak tepat.

j. Kaji ulang program meningkatkan tingkat aktivitas.

Rasional: Meningkatkan sirkulasi koleteral dan memungkinkan kembalinya

pla hidup normal.

k. Tekankan pentingnya mengikuti perawatan

Rasional: Memberi tekanan bahwa ini adalah masalah kesehatan yang dapat

berlanjut dimana membutuhkan dukungan/bantuan setelah pulang.

l. Evaluasi pemberian pengetahuan terhadap pasien dan keluarga.

Rasional: Mengidentifikasi apakah terjadi peningkatan pengetahuan terhadap

penyakit yang diderita.

30
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Krisis Adrenal atau krisis Addison atau Acute Adrenal Insuffiency adalah

suatu insufisiensi adrenal akut yang biasanya ditemukan dalam keadaan syok pada

seseorang yang menderita insufisiensi adrenal yang sebelumnya tidak diketahui atau

pada penderita insufisiensi adrenal yang kenudian mendapat suatu infeksi bakteri,

tindakan operasi, diare atau penyakit berat lainnya.

Etiologi adrenal krisis:

1. Penyebab primer adalah perdarahan kelenjar adrenal bilateral, trombosis atau

nekrosis selama terjadi sepsis atau ketika mendapat antikoagulan. Bila

kehilangan kelenjar adrenal unilateral tidak akan menyebabkan insufisiensi

adrenal.

2. Penyebab sekunder adalah peripartum pituitary infark (Sheehan`s syndrom),

Pituitary apoplexy ( perdarahan pada kelenjar pituitary), trauma kepala dengan

gangguan batang kelenjar pitutari, tetapi biasanya tidak seberat pada keadaan

adrenal insuficiency primer karena sekresi aldosteron tidak dipengaruhi.

Beberapa diagnosa yang kemungkinan muncul pada penyakit adrenal krisis,

yaitu:

1. Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan

ketidakseimbangan input dan output.


31
2. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan kolaps sirkulasi.

3. Resiko syok berhubungan dengan kekurangan volume cairan dan elektrolit,

hipotensi, kadar gula darah rendah.

4. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan hipotensi.

5. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

anoreksia.

6. Ansietas berhubungan dengan ancaman kematian.

7. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.

8. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajan/kurang informasi

mengenai prognosis penyakit, perawatan dan pengobatan.

B. SARAN

1. Bagi Institusi Pendidikan, Peningkatan terhadap suatu pembelajaran seharusnya

harus lebih didukung oleh sumber daya manusia yang lebih tinggi dari para

pendidiknya, sehingga dalam melakukan kegiatan pembelajaran dapat lebih

meningkatkan prestasi mahasiswa khususnya mahasiswa keperawatan.

2. Bagi mahasiswa/pembaca, aktiflah dalam menambah wawasan ilmu pengetahuan

dalam bidang ilmu kegawatdaruratan, dengan menggunakan sarana dan prasarana

yang disediakan oleh institusi pendidikan serta belajar mandiri demi

keberhasilan pendidikan, dan menjadi tenaga yang profesional

32

Anda mungkin juga menyukai