Anda di halaman 1dari 36

BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP

Kelompok 18
KOROSI

BAB II
PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP KOROSI

2.1 Tujuan
1. Mengetahui cara pengukuran potensial korosi dalam berabagai larutan
(lingkungan)
2. Mengetahui dan memahami penggunaan diagram Poeurbaix
(diagram potensial pH) dalam proses korosi
3. Mengetahui pengaruh berbagai larutan terhadap laju korosi
4. Mengetahui larutan yang dapat mengkorosikan dan yang tidak
mengkorosikan baja
5. Mengetahui cara menggunakan alat pH meter dan potensio meter

2.2 Dasar Teori


Pada lingkungan air laut, dengan konsentrasi garam NaCl atau jenis garam-
garam yang lain seperti KCl akan menyebabkan laju korosi logam cepat. Sama
halnya dengan kecepatan alir dari air laut yang sebanding dengan peningkatan laju
korosi, akibat adanya gesekan, tegangan dan temperatur yang mendukung
terjadinya korosi.
Pada larutan basa seperti NaOH (caustic soda), baja karbon akan tahan
terhadap serangan korosi pada media ini dengan suhu larutan 75 oF (24 oC) dan
konsentrasi 45% berat. Pada larutan asam seperti asam kromat (Cr2O3), dengan
konsentrasi asam kromat 10% pada suhu 60oC, tidak akan menyerang baja tahan
karat. Dan tingkat korosi akan naik sebanding dengan temperatur dan konsentrasi
yang juga meningkat.
Sedangkan pada larutan asam seperti H2SO4, proses terjadinya perkaratan
pada permukaan baja yang terbuka keseluruhannya terhadap hujan lebih baik dari
pada sebagian saja terkena hujan atau sebagian terlindungi.
Senyawa kromat mampu sebagai pemasif yang efektif terhadap laju korosi
pada logam. Dalam kenyataannya dapat tereduksi menjadi Cr2O3 yang membentuk
serpih yang berwarna hijau kecoklatan. Cr2O3 banyak digunakan sebagai abrasive

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 6


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

pada pemolesan karena Cr2O3 keras, tajam sehingga mampu mengikis atau
mengasah logam menjadi mengkilap.
Penggunaan larutan garam natrium kromat atau sodium kromat (Na2CrO4) dengan
kadar tertentu mampu menghambat laju korosi. karena natrium kromat sebagai
inhibitor kimia, yaitu suatu zat kimia yang dapat menghambat atau memperlambat
suatu reaksi kimia. Secara khusus, inhibitor korosi merupakan suatu zat kimia yang
bila ditambahkan ke dalam suatu lingkungan tertentu, dapat menurunkan laju
penyerangan lingkungan itu terhadap suatu logam.
Korosi merupakan kerusakan suatu material karena bereaksi dengan
lingkungannya. Reaksi ini menghasilkan oksida logam, sulfida logam atau hasil
reaksi lain. Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi cepat atau
lambatnya suatu proses korosi adalah:
a. Air dan kelembapan udara
Air merupakan salah satu faktor penting untuk berlangsungnya proses korosi.
Udara yang banyak mengandung uap air (lembap) akan mempercepat proses
korosi.
b. Elektrolit
Elektrolit (asam atau garam) merupakan media yang baik untuk melangsungkan
transfer muatan. Hal itu mengakibatkan elektron lebih mudah untuk dapat diikat
oleh oksigen di udara. Oleh karena itu, air hujan (asam) dan air laut (garam)
merupakan penyebab korosi yang utama.
c. Adanya oksigen
Pada peristiwa korosi adanya oksigen mutlak diperlukan.
d. Permukaan logam
Permukaan logam yang tidak rata memudahkan terjadinya kutub-kutub muatan,
yang akhirnya akan berperan sebagai anoda dan katoda. Permukaan logam yang
licin dan bersih akan menyebabkan korosi sukar terjadi, sebab sukar terjadi
kutub-kutub yang akan bertindak sebagai anoda dan katoda.
e. Letak logam dalam deret potensial reduksi
Korosi akan sangat cepat terjadi pada logam yang potensialnya rendah,
sedangkan logam yang potensialnya lebih tinggi justru lebih awet.

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 7


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

f. Material korosi
Material yang dipakai untuk membuat benda konstruksi sangat berpengaruh
terhadap laju korosi, dengan demikian harus dipilih sejeli mungkin untuk
mengurangi dampak negatif korosi.
g. Kondisi lingkungan/media
Lingkungan di mana benda konstruksi akan dibuat dan digunakan juga
merupakan salah satu faktor dalam proses dan kecepatan korosi. Material di
lingkungan air laut akan sangat berbeda dengan material di lingkungan air
tawar. Korosi yang timbul akan dipengaruhi oleh media korosif yang
terkandung pada lingkungan tersebut.
h. Bentuk konstruksi/susunan
Bentuk konstruksi yang oleh sebagian orang diabaikan efeknya terhadap proses
korosi, sebenarnya tidak sedikit dampak negatifnya. Karena bentuk ini sedikit
banyak juga akan berpengaruh terhadap kecepatan korosi. Sebagai contoh pipa
yang dibengkokkan dengan radius 180o akan sangat berlainan korosinya jika
dibandingkan dengan pipa yang lurus.
i. Fungsi konstruksi
Konstruksi baja yang digunakan untuk operasi suhu panas akan berlainan jika
dibandingkan dengan suhu operasi rendah. Dengan demikian dapat diambil
kesimpulan jika konstruksi tersebut akan dibuat harus dipertimbangkan untuk
apa alat tersebut dibuat atau untuk operasi yang bagaimana konstruksi tersebut
dipakai.
Diagram Pourbaix
Diagram ini telah digunakan secara luas untuk menerangkan mekanisme
korosi logam dan cara pengendaliannya berdasarkan thermodinamika.
Proses korosi besi terjadi bila potensial antar muka naik ke dalam daerah
predominan ion Fe. Apabila potensial antar muka berada dalam daerah kestabilan
Fe2O3. Korosi baja mungkin berlangsung dengan lambat karena berbentuk film
oksida/hidroksida yang memperlambat laju korosi baja.
Dengan memperhatikan diagram ini juga dapat diterangkan mekanisme passivator
dalam mempasifkan logam baja dilingkungannya. Diagram Pourbaix juga dikenal
sebagai pH/diagram potensial, peta keluar mungkin stabil (keseimbangan) tahap

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 8


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

sistem elektrokimia berair. Batas ion utamanya diwakili oleh baris. Dengan
demikian diagram Pourbaix bisa dibaca seperti standar diagram fasa dengan sumbu
yang berbeda. Diagram Pourbaix juga dikenal sebagai diagram potensial-pH karena
pelabelan dari dua sumbu. Sumbu vertikal diberi label Eh untuk potensi tegangan
sehubungan dengan elektroda hidrogen standar (SHE) yang dihitung oleh
persamaan Nerst . The "H" singkatan dari Hydrogen, meskipun standar lain dapat
digunakan.

Gambar 2. 1 Diagram Pourbaix

Bila suatu logam berada dalam suatu lingkungan, ada tiga kemungkinan bisa
terjadi yaitu Imun, Aktif, dan Pasif.
a. Imun/Kebal :tidak terjadi apa-apa: Logam berada dalam kondisi imun
terhadap lingkungan korosif.
b. Aktif: terjadi reaksi korosi: Logam berada dalam kondisi aktif terhadap
lingkungan (korosif)-nya.
Pasif : terbentuk lapisan film di permukaan logam: Logam dalam kondisi pasif di
lingkungan korosif karena terbentuk lapisan pasif di permukaan logam yang
melindungi logam dari serangan korosi (lingkungan korosif di sekitarnya). Korosi
atau Perkaratan berasal dari bahasa latin Corrodere yang berarti perusakan
logam. Adapun definisi korosi sebagai berikut.
- Korosi adalah proses degradasi perusakan material yang terjadi disebabkan
oleh pengaruh lingkungan sekelilingnya.
- Korosi adalah perusakan material tanpa perusakan mekanis.
- Korosi adalah Kebalikan dari metalurgi ekstraktif.
- Korosi adalah proses elektrokimia dalam mencapai kesetimbangan

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 9


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

thermodinamika suatu sistem.


- Korosi adalah reaksi antara logam dengan lingkungannya
Korosi adalah suatu penyakit dalam dunia teknik, walaupun secara langsung
bukan merupakan produk teknik. Adanya studi tentang korosi adalah usaha untuk
mencegah dan mengendalikan kerusakan supaya serangannya serendah mungkin
dan dapat melampaui nilai ekonomisnya, atau umur tahannya material lebih lama
untuk bisa dimanfaatkan. Caranya dengan usaha prefentif atau pencegahan dini
untuk menghambat korosi. Dan hal ini lebih baik dari pada harus mengeluarkan
biaya perbaikan yang tidak sedikit akibat serangan korosi.

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 10


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

2.3 Metodologi Praktikum


2.3.1 Skema Proses

Persiapan alat dan bahan

Spesimen dibersihkan dengan menggunakan amplas

Ukur dimensi dan timbang berat awal spesimen

Buat larutan NaCl 0,1 M NaOH 0,1 M HCl 0,1 M K2CrO4 Aqua dm

Celupkan spesimen pada masing masing larutan

Amati secara visual, ukur pH dan Potensial spesimen setiap 1x 24 jam


selama 7 hari

Ukur dimensi dan timbang berat spesimen akhir

Plot hasil pengamatan ke diagram pourbaix

Analisa dan pembahasan

kesimpulan

Gambar 2.2 Skema Proses Pengaruh Berbagai Larutan Terhadap Korosi

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 11


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

2.3.2 Penjelasan Skema Proses


1. Persiapan alat dan bahan
2. Spesimen dibersihkan dengan menggunakan amplas 240,600, dan 800
mesh
3. Spesimen diukur dimensinya dan ditimbang berat awal dengan
menggunakan neraca digital dan jangka sororng
4. Buat larutan NaCl 0,1 M, NaOH 0,1 M HCl 0,1 M K2CrO4 0,1 M dan
Aqua dm
5. Celupkan spesimen ke dalam masing masing larutan sebelumnya
disemprot dengan alkohol untuk menghilangkan kotoran
6. Amati secara visual, ukur pH larutan dengan menggunakan pH meter dan
ukur potensial spesimen menggunakan potensiometer setiap 1x24 jam
selama 7 hari
7. Bersihkan spesimen dengan Aqua dm dan keringkan mengunakan tisu
8. Ukur dimensi spesimen dengan jangka sorong dan timbang berat akhir
spesimen
9. Plotkan hasil pengamatan ke diagram pourbaix
10. Analisa hasil percobaan
11. Hasil analisa disimpulkan

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 12


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

2.3.3 Gambar Proses

Spesiem dibersihkan terlebih dahulu


dengan menggunakan amplas
340,600,800 mesh

Masing masing spesimen diukur


dimensi dan ditimbang berat awal,
dengan menggunakan neraca digital
dan jangka sorong

NaCl HCl NaOH K2CrO4 Aqua


DM

Buat larutan NaCl 0,1 M,


Celupkan spesimen ke
NaOH 0,1 M, HCl 0,1 M,
masing masing larutan
K2CrO4

NaCl HCl NaOH K2CrO4 Aqua


DM

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 13


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

Ukur pH larutan dan


potensial spesimen serta
amati perubahan secara
visual 1x24 selama 7 hari

Spesimen dibersihkan
dengan aqua dm dan
dikeringkan dengan
menggunakan tisu

Spesimen diukur dimensi


dan timbang berat akhir
dengan menggunakan
jangka sorong dan neraca
digital

Gambar 2.3 Pengaruh Berbagai Larutan Terhadap Korosi

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 14


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

2.4 Alat Dan Bahan


2.4.1 Alat :
1. Neraca digital : 1 buah
2. PH meter : 1 buah
3. Potensiometer : 1 buah
4. Refference electrode : 1 buah
5. Gelas kimia : 5 buah
6. Kaca arloji : 1 buah
7. Jangka sorong : 1 buah
8. Batang pengaduk : 1 buah
9. Jangka sorong : 1 buah
2.4.2 Bahan :
1. Aqua dm (secukupnya)
2. Spesimen logam ST37 (5 buah)
3. HCl 0,1 M
4. Amplas (240,600, & 800 mesh) (1 lembar)
5. NaCl 0,1 M
6. NaOH 0,1 M
7. Alkohol 96% (secukupnya)
8. K2CrO4 0,1 M
9. Kutek (secukupnya)
10. Kawat tembaga (5 buah)

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 15


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

2.5 Pengumpulan Dan Pengolahan Data


2.5.1 Pengumpulan Data
Tabel 2.1 Pengamatan pengukuran dimensi dan berat
Panjang
Lebar (mm) Tebal (mm) Berat
No (mm)
larutan
W0 W1 W
P0 P1 L0 L1 T0 T1
(gr) (gr) (mg)
1 NaCl 59,8 59,6 40,20 40,35 1,24 1,20 21,24 21,18 60
2 HCl 59,20 59,10 40,70 40,55 1,22 1,10 21,24 20,74 500
3 NaOH 59,50 59,85 39,74 39,8 1,10 1,20 21,28 21,28 0
4 K2CrO4 60,90 60,75 40,04 40,2 1,22 1,30 22,38 22,37 10
Aqua
5 58,90 59,20 40,92 40,95 1,14 1,10 21,41 21,31 100
DM

Tabel 2.2. Data Pengamatan Secara Visual Pada Larutan Nacl 0,1 M
Gambar intensitas dalam larutan Pengamatan
No Tanggal Potensial pH
Depan Belakang secara visual

Terdapat
endapan
Larutan
berwarna
1 28-11-16 -0,64 7,92
kuning
Spesimen
berwarna
coklat

Terdapat
endapan
Larutan
berwarna
2 29-11-16 -0,61 7,07
kuning
Spesimen
berwarna
coklat

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 16


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

Terdapat
endapan
Larutan
berwarna
3 30-11-16 -0,55 6,99 kuning
Spesimen
terkorosi
pada bagian
tertentu
Terdapat
endapan
Larutan
berwarna
4 1-12-16 -0,13 7,24 kuning
Spesimen
terkorosi
pada bagian
tertentu
Terdapat
endapan
Larutan
berwarna
5 2-12-16 -0,58 7,01 kuning keruh
Spesimen
terkorosi
pada bagian
tertentu
Terdapat
endapan
Larutan
berwarna
6 3-12-16 -0,60 6,90 kuning keruh
Spesimen
terkorosi
pada bagian
tertentu

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 17


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

Terdapat
endapan
Larutan
berwarna
kuning
7 4-12-16 -0,64 6,98
bening
Spesimen
terkorosi
pada bagian
tertentu

Tabel 2.3. Data Pengamatan Secara Visual Pada Larutan HCl 0,1 M
Gambar intensitas dalam larutan Pengamatan
No Tanggal Potensial pH
Depan Belakang secara visual

Terdapat
gelembung
Larutan
berwarna
1 28-11-16 -0,51 1,93
bening
Spesimen
berwarna
coklat

Terdapat
gelembung
Larutan
berwarna
2 29-11-16 -0,54 4,20 bening
Spesimen
terkorosi
pada bagian
tertentu
Terdapat
gelembung

3 30-11-16 -0,54 5,32 Larutan


menjadi
keruh

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 18


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

Spesimen
terkorosi
pada bagian
tertentu

Terdapat
gelembung
Larutan
keruh
4 1-12-16 -0,50 5,46
Spesimen
terkorosi
pada bagian
tertentu
Terdapat
gelembung
Larutan
berwarna
kuning
5 2-12-16 -0,01 5,15
bening
Spesimen
terkorosi
pada bagian
tertentu
Terdapat
gelembung
Larutan
berwarna
6 3-12-16 -0,04 5,57 bening
Spesimen
terkorosi
pada bagian
tertentu
Terdapat
gelembung

7 4-12-16 -0,58 5,65 Larutan


berwarna
bening

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 19


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

Spesimen
terkorosi
pada bagian
tertentu

Tabel 2.4. Data Pengamatan Secara Visual Pada Larutan NaOH 0,1 M
Gambar intensitas dalam larutan Pengamatan
No Tanggal Potensial pH
Depan Belakang secara visual

Tidak
Terdapat
endapan
12,1 Larutan
1 28-11-16 -1,09
9 berwarna
bening
Spesimen
bersih

Tidak
Terdapat
endapan
Larutan

2 29-11-16 -0,51 10,5 berwarna


bening
Spesimen
bersih

Tidak
Terdapat
endapan
Larutan

3 30-11-16 -1,01 9,92 berwarna


bening
Spesimen
bersih

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 20


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

Tidak
Terdapat
endapan
Larutan

4 1-12-16 0,95 9,61 berwarna


bening
Spesimen
bersih

Tidak
Terdapat
endapan
Larutan

5 2-12-16 -0,19 9,02 berwarna


bening
Spesimen
bersih

Tidak
Terdapat
endapan
Larutan

6 3-12-16 -0,04 9,13 berwarna


bening
Spesimen
bersih

Tidak
Terdapat
endapan
Larutan

7 4-12-16 -0,08 9,02 berwarna


bening
Spesimen
bersih

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 21


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

Tabel 2.5. Data Pengamatan Secara Visual Pada Larutan K2CrO4 0,1 M
Gambar intensitas dalam larutan Pengamatan
No Tanggal Potensial pH
Depan Belakang secara visual
Hanya
Terdapat
endapan

Larutan
1 28-11-16 -0,02 8,29 berwarna
kuning

Spesimen
bersih

Hanya
Terdapat
endapan

Larutan
2 29-11-16 -0,06 7,67 berwarna
kuning

Spesimen
bersih

Hanya
Terdapat
endapan

Larutan
3 30-11-16 -0,03 7,64 berwarna
kuning

Spesimen
bersih

Hanya
Terdapat
endapan
4 1-12-16 -0,14 7,60
Larutan
berwarna
kuning

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 22


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

Spesimen
bersih

Hanya
Terdapat
endapan
Larutan
5 2-12-16 -0,21 7,68 berwarna
kuning
Spesimen
bersih

Hanya
Terdapat
endapan
Larutan
6 3-12-16 -0,05 7,59 berwarna
kuning

Spesimen
bersih

Hanya
Terdapat
endapan

Larutan
7 4-12-16 -0,52 7,61 berwarna
kuning

Spesimen
bersih

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 23


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

Tabel 2.6. Data Pengamatan Secara Visual Pada Larutan Aqua dm 0,1 M
Gambar intensitas dalam larutan Pengamatan
No Tanggal Potensial pH
Depan Belakang secara visual

Larutan
berwarna
kuning
bening
1 28-11-16 -,056 7,87
Spesimen
berwarna
coklat

Larutan
berwarna
kuning
bening

2 29-11-16 -0,16 7,20 Spesimen


terdapat
endapan

Larutan
berwarna
kuning keruh

Spesimen
3 30-11-16 -0,12 6,80
terkorosi
pada bagian
tertentu

Larutan
berwarna
kuning keruh
4 1-12-16 -0,18 7,15 Spesimen
terkorosi
pada bagian
tertentu

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 24


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

Terdapat
banyak
endapan

Larutan
berwarna
kuning keruh

Spesimen
terkorosi
5 2-12-16 -0,12 7,02
pada bagian
depan

Terdapat
endapan

Larutan
berwarna
kuning keruh

Spesimen
terkorosi
pada bagian
depan

Terdapat
6 3-12-16 -0,10 7,08 banyak
endapan

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 25


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

Larutan
berwarna
kuning keruh

Spesimen
terkorosi
7 4-12-16 -0,45 7,08 pada bagian
depan

Terdapat
banyak
endapan

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 26


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

2.5.2. Pengolahan Data


- Diagram pourbaix

Gambar 2.4 Diagram Pourbaix pada Larutan NaCl

Keterangan :
Hari pertama
Hari kedua
Hari ketiga
Hari ke empat
Hari kelima
Hari keenam
Hari ketujuh

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 27


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

Gambar 2.5 Diagram Pourbaix pada Larutan NaOH


Keterangan :

Hari pertama
Hari kedua
Hari ketiga
Hari keempat
Hari kelima
Hari keenam
Hari ketujuh

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 28


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

Gambar 2.6 Diagram Pourbaix pada Larutan K2CrO4


Keterangan :

Hari pertama
Hari kedua
Hari ketiga
Hari keempat
Hari kelima
Hari keenam
Hari ketujuh

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 29


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

Gambar 2.7 Diagram Pourbaix pada Larutan HCl


Keterangan :

Hari pertama
Hari kedua
Hari ketiga
Hari keempat
Hari kelima
Hari keenam
Hari ketujuh

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 30


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

Gambar 2.8 Diagram Pourbaix pada Larutan Aqua dm

Keterangan :

Hari pertama
Hari kedua
Hari ketiga
Hari keempat
Hari kelima
Hari keenam
Hari ke tujuh

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 31


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

Pembuatan larutan
NaCl 0,1 M
gr 1000
M= x
Mr V
MxMrxV
gr =
1000
0,158,5250
=
1000
= 1, 463 gr
NaOH 0,1 M
gr 1000
M= x
Mr V
MxMrxV
gr =
1000
0,1x40x250
gr =
1000
= 1 gr

K2CrO4 0,1 M
gr 1000
M= x
Mr V
MxMrxV
gr =
1000
0,1x194rx250
gr =
1000
= 4,85 gr
Pengenceran HCl
x%x1000
M=
Mr
1,19x0,37x1000
M=
36,5

= 12,06
M1.V1 = M2.V2
12,06.V1 = 0,1.250
V1= 2,07 ml

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 32


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

Perhitungan larutan NaCl


Luas penampang awal
Dik : P = 59,8 mm
L = 40,20 mm
T =1,24 mm
Dit : A0 ?
Jawab :
A0 = 2 (P x L) + 2 (P x T) + 2 (T x L)
= 2 (59,8 x 40,20) + 2 (59,8 x 1,24) +2 (40,20 x 1,24)
= 5055,92 mm2
Luas penampang akhir
Dik : P = 59,6 mm
L = 40,35 mm
T =1,20 mm
Dit : A1 ?
Jawab :
A1 = 2 (P x L) + 2 (P x T) + 2 (T x L)
= 2 (59,6 x 40,35) + 2 (59,6 x 1,20) +2 (1,20 x 40,35)
= 5050,080 mm2
Laju korosi
Dik : = 7,8 gr/cm3
A = 7,8 in2
t = 168 jam
w = 60 mg
Dit : laju korosi ?
Jawab :
534 60
Laju korosi =
7,8 7,8 168

= 3,13 MPY

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 33


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

Perhitungan larutan HCl


Luas penampang awal
Dik : P = 59,20 mm
L = 40,70 mm
T =1,22 mm
Dit : A0 ?
Jawab :
A0 = 2 (P x L) + 2 (P x T) + 2 (T x L)
= 2 (59,20 x 40,70) + 2 (59,20 x 1,22) +2 (1,22 x 40,70)
= 5062,64 mm2
Luas penampang akhir
Dik : P = 59,10 mm
L = 40,55 mm
T =1,10 mm
Dit : A1 ?
Jawab :
A1 = 2 (P x L) + 2 (P x T) + 2 (T x L)
= 2 (59,10 x 40,55) + 2 (59,10 x 1,10) +2 (1,10 x 40,55)
= 5012,24 mm2
Laju korosi
Dik : = 7,8 gr/cm3
A = 7,84 in2
t = 168 jam
w = 500 mg
Dit : laju korosi ?
Jawab :
534 500
Laju korosi =
7,8 7,84 168

= 25,9 MPY

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 34


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

Perhitungan larutan NaOH


Luas penampang awal
Dik : P = 59,50 mm
L = 39,74 mm
T =1,10 mm
Dit : A0 ?
Jawab :
A0 = 2 (P x L) + 2 (P x T) + 2 (T x L)
= 2 (59,50 x 39,74) + 2 (59,50 x 1,10) +2 (39,74 x 1,10)
= 4947,38 mm2
Luas penampang akhir
Dik : P = 59,85 mm
L = 39,80 mm
T =1,20 mm
Dit : A1 ?
Jawab :
A1 = 2 (P x L) + 2 (P x T) + 2 (T x L)
= 2 (59,85 x 39,80) + 2 (59,85 x 1,20) +2 (1,20 x 39,80)
= 5003,22 mm2
Laju korosi
Dik : = 7,8 gr/cm3
A = 7,68 in2
t = 168 jam
w = 0 mg
Dit : laju korosi ?
Jawab :
534 0
Laju korosi =
7,8 7,68 168

= 0 MPY

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 35


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

Perhitungan larutan K2CrO4


Luas penampang awal
Dik : P = 60,90 mm
L = 40,04 mm
T =1,22 mm
Dit : A0 ?
Jawab :
A0 = 2 (P x L) + 2 (P x T) + 2 (T x L)
= 2 (60,90 x 40,04) + 2 (60,90 x 1,22) +2 (40,04 x 1,22)
= 5123,16 mm2
Luas penampang akhir
Dik : P = 60,75 mm
L = 40,20 mm
T =1,30 mm
Dit : A1 ?
Jawab :
A1 = 2 (P x L) + 2 (P x T) + 2 (T x L)
= 2 (60,75 x 40,20) + 2 (60,75 x 1,30) +2 (1,30 x 40,20)
= 5146,77 mm2

Laju korosi
Dik : = 7,8 gr/cm3
A = 7,94 in2
t = 168 jam
w = 10 mg
Dit : laju korosi ?
Jawab :
534 10
Laju korosi =
7,8 7,94 168

= 0,51 MPY

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 36


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

Perhitungan larutan Aqua dm


Luas penampang awal
Dik : P = 58,90 mm
L = 40,92 mm
T =1,14 mm
Dit : A0 ?
Jawab :
A0 = 2 (P x L) + 2 (P x T) + 2 (T x L)
= 2 (58,90 x 40,92) + 2 (58,90 x 1,14) + 2 (40,92 x 1,14)
= 5047,97 mm2
Luas penampang akhir
Dik : P = 59,20 mm
L = 40,95 mm
T =1,10 mm
Dit : A1 ?
Jawab :
A1 = 2 (P x L) + 2 (P x T) + 2 (T x L)
= 2 (59,20 x 40,95) + 2 (59,20 x 1,10) +2 (1,10 x 40,95)
= 5068,81 mm2
Laju korosi
Dik : = 7,8 gr/cm3
A = 7,82 in2
t = 168 jam
w = 100 mg
Dit : laju korosi ?
Jawab :
534 100
Laju korosi =
7,8 7,82 168

= 5,21 MPY

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 37


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

Persamaan Reaksi
1. Reaksi kimia pada spesimen didalam larutan asam
Anoda : Fe Fe2+ + 2e- (x4)
Fe2+ Fe3+ + e- (x4)
Katoda : O2 + 4H+ + 4e- 2H2O (x3)
4Fe + 3O2 + 12H+ 4Fe3+ + 6H2O

2. Reaksi kimia pada spesimen didalam larutan basa


Anoda : Fe Fe2+ + 2e- (x4)
Fe2+ Fe3+ + e- (x4)
Katoda : O2 + 2H2O + 4e- 4OH- (x3)
4Fe + 3O2 + 6H2O 12OH- + 4Fe3+

3. Reaksi kimia pada spesimen Aqua DM


Anoda : Fe Fe2+ + 2e-
Katoda : 4H2O+ 2e- 2H2
4Fe + 4H2O Fe2+ + 2H2O + 4OH

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 38


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

2.6 Analisa Dan Pembahasan


Pada praktikum kali ini ada 5 macam larutan yang digunakan yaitu NaCl,
HCl, NaOH, K2CrO4, dan aqua dm. Dilihat dari pH larutannya ada yang asam kuat
yait HCl, dan basa kuat yaitu NaOH, serta ada pula pH yang berkisaran antara 7
yaitu NaCl, aqua DM dan K2CrO4. Spesimen terlebih dahulu dibersihkan dengan
menggunakan amplas dengan tujuan membersihkan kotoran berupa debu, minyak,
karat dan lainnya, sedangkan penambahan alkohol pada saat sebelum spesimen
dimasukkan kedalam larutan bertujuan untuk menghilangkan pengotor seperti
minyak dan lemak setelah proses pengamplasan. Penggunaan kawat tembaga
sebagai penghantar listrik yang baik juga mempermudah pada saat pengukuran
potensial, Serta penambahan kutek untuk mencegah terjadinya korosi galvanik
antara tembaga dan spesimen.
Secara teoritis apabila dilihat dari larutan yang digunakan larutan asam dan
garam akan lebih cepat terjadi korosi, kemudian untuk larutan yang bersifat basa
akan sulit terkorosi. Hal ini dapat dibuktikan atau dapat digambarkan pada diagram
pourbaix apabila pH dan potensial maka terdapat pada zona imun atau bisa
dikatakan spesimen dalam zona proteksi (tidak terkorosi). Namun apabila pH dalam
keadaan asam tetapi potensial (-) atau dibawah garis korosi maka spesimen akan
berada pada zona imun.
Hasil dari pengamatan selama 7 hari dapat dibandingkan pengamatan secara
visual dari berbagai, apabila dibandingkan anatara larutan asam dan basa. Spesimen
pada larutan basa cenderung bersih atau tidak terkorosi, keadaan larutannya pun
cenderung bersih atau bening tanpa adanya endapan atau gelembung sedangkan
spesiman pada larutan asam cenderung terkorosi, larutan berwarna kecoklatan dan
terdapat gelmbung untuk larutan yang pHnya berkisar antara 7 spesimen terkorosi

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 39


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

pada bagian tertentu saja, larutan berwarna kuning bening dan terdapat banyak
endapan.
Untuk spesimen HCl setalah 7 hari pengamatan spesimen terlihat gosonng.
Apabila dilihatpada diagram pourbaix spesimen menjadi gosong adala reaksi
perpindahan antara daerah korosi menjadi oksidasi.
Setelah percobaan selesai hasil analisa dan lainnya di plotkan ke diagram
pourbaix dan hasilnya, hampir semua berada pada zona korosi terkecuali spesimen
pada larutan NaOH konsisten pada zona imun. Hanya spesimen pada larutan HCl
yang konsisten pada zona korosi sedangkan spesimen pada larutan berkisar 7
signifikan awalnya saja terdapat pada zona imun atau pasivasi, pada akhirnya akan
pada zona korosi. Fenomena ini dipengaruhi oleh lingkungan yang terbuka atau
bebas oksigen.
Hasil dari perhitungan dari laju korosi NaCl = 3,135 MPY, HCl = 25,9
MPY, NaOH = 0 MPY, K2CrO4 = 0,514 MPY, Aqua dm = 5,21 MPY. Dilihat dari
hasil perhitungan laju korosi, laju korosi paling tinggi yaitu spesimen pada larutan
HCl karena larutan bersifat asam kuat, sedangkan laju korosi paling rendah yaitu
spesimen pada larutan NaOH karena bersifat basa kuat.

2.7 Kesimpulan dan Saran


2.7.1 Kesimpulan
1. Hasil dari percobaan laju korosi :
Spesimen dalam larutan NaCl = 3,135 MPY
Spesimen dalam larutan HCl = 25,9 MPY
Spesimen dalam larutan NaOH = 0 MPY
Spesimen dalam larutan K2CrO4 = 0,514 MPY
Spesimen dalam larutan Aqua DM = 5,21 MPY
2. Salah satu aspek yang mempengaruhi laju koroi yaitu larutan elektrolit
3. Larutan yang membuat spesimen terkorosi yaitu HCl karena bersifat asam
kuat, sedanglan larutan yang tidak membuat spesimen tidak terkorosi yaitu
NaOH karena bersifat basa kuat.

2.7.2 Saran

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 40


BAB II PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP
Kelompok 18
KOROSI

1. Sebaiknya, sebelum praktikum praktikan terlebih dahulu diberikan


penjelesan mengenai mekanisme dan penggunaan alat ukur

Laporan Akhir Praktikum Korosi T.A 2016/2017 41