Anda di halaman 1dari 7

Al-Kindi (( ) lahir: 801 - wafat: 873), bisa dikatakan merupakan filsuf pertama

yang lahir dari kalangan Islam. Semasa hidupnya, selain bisa berbahasa Arab, ia mahir
berbahasa Yunani pula. Banyak karya-karya para filsuf Yunani diterjemahkannya dalam bahasa
Arab; antara lain karya Aristoteles dan Plotinus. Sayangnya ada sebuah karya Plotinus yang
diterjemahkannya sebagai karangan Aristoteles dan berjudulkan Teologi menurut Aristoteles,
sehingga di kemudian hari ada sedikit kebingungan.

Al-Kindi berasal dari kalangan bangsawan, dari Irak. Ia berasal dari suku Kindah, hidup di Basra
dan meninggal di Bagdad pada tahun 873. Ia merupakan seorang tokoh besar dari bangsa Arab
yang menjadi pengikut Aristoteles, yang telah mempengaruhi konsep al Kindi dalam berbagai
doktrin pemikiran dalam bidang sains dan psikologi.

Al Kindi menuliskan banyak karya dalam berbagai bidang, geometri, astronomi, astrologi,
aritmatika, musik(yang dibangunnya dari berbagai prinip aritmatis), fisika, medis, psikologi,
meteorologi, dan politik.

Ia membedakan antara intelek aktif dengan intelek pasif yang diaktualkan dari bentuk intelek itu
sendiri. Argumen diskursif dan tindakan demonstratif ia anggap sebagai pengaruh dari intelek
ketiga dan yang keempat. Dalam ontologi dia mencoba mengambil parameter dari kategori-
kategori yang ada, yang ia kenalkan dalam lima bagian: zat(materi), bentuk, gerak, tempat,
waktu, yang ia sebut sebagai substansi primer.

Al Kindi mengumpulkan berbagai karya filsafat secara ensiklopedis, yang kemudian diselesaikan
oleh Ibnu Sina (Avicenna) seabad kemudian. Ia juga tokoh pertama yang berhadapan dengan
berbagai aksi kejam dan penyiksaan yang dilancarkan oleh para bangsawan religius-ortodoks
terhadap berbagai pemikiran yang dianggap bid'ah, dan dalam keadaan yang sedemikian tragis
(terhadap para pemikir besar Islam) al Kindi dapat membebaskan diri dari upaya kejam para
bangsawan ortodoks itu.

RIWAYAT HIDUP

Al-Kindi merupakan nama yang diambil dari suku yang menjadi asal cikal bakalnya, yaitu Banu
Kindah. Banu Kindah adalah suku keturunan Kindah yang sejak dulu menempati daerah selatan
Jazirah Arab yang tergolong memiliki apresiasi kebudayaan yang cukup tinggi dan banyak
dikagumi orang.

Sedangkan nama lengkap Al-Kindi adalah Abu Yusuf Yaqub bin Ishaq As-Shabbah bin imron
bin Ismail al-Asyad bin Qays al-Kindi. Lahir pada tahun 185 H (801 M) di Kuffah. Ayahnya Ishaq
As-Shabbah adalah gubernur Kuffah pada masa pemerintahan al-Mahdi dan Harun ar-Rasyid
dari bani Abbas. Ayahnya meninggal beberapa tahun setelah al-Kindi lahir.

Pada masa kecilnya al-Kindi sempat merasakan masa pemerintahan khalifah Harun ar-Rasyid
yang terkenal kepeduliannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan bagi kaum muslim. Ilmu
pengetahuan berpusat di Baghdad yang sekaligus menjadi pusat perdagangan. Pada masa
pemerintahan ar-Rasyid sempat didirikan lembaga yang disebut bayt al-Hikmah (Balai Ilmu
Pengetahuan). pada waktu al-Kindi berusia 9 tahun ar-Rasyid wafat dan pemerintahan diambil
alih oleh putranya al-Amin yang tidak melanjutkan usaha ayahnya ar-Rasyid untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan. Namun setelah beliau wafat pada tahun 185 H (813 H)
kemudian saudaranya al-Makmun menggantikan kedudukannya sebagai khalifah (198-228 H)
ilmu pengetahuan berkembang pesat. Fungsi Bayt al-hikmah lebih ditingkatkan, sehingga pada
masa pemerintahan al-Makmun berhasil dipadukannya antara ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu
asing khususnya dari Yunani. Dan pada waktu inilah al-Kindi menjadi sebagai salah seorang
tokoh yang mendapat kepercayaan untuk menterjemahkan kitab-kitab Yunani ke dalam bahasa
Arab, bahkan dia memberi komentar terhadap pikiran-pikiran pada filosuf Yunani.

Masa kecil al-Kindi mendapat pendidikan di Bashrah. Tentang siapa guru-gurunya tidak dikenal,
karena tidak terekam dalam sejarah hidupnya. Setelah menyesaikan pendidikannya di Bashrah
ia melanjutkan ke Baghdad hingga tamat, ia banyak mengusai berbagai macam ilmu yang
berkembang pada masa itu seperti ilmu ketabiban (kedokteran), filsafat, ilmu hitung, manthiq
(logika), geometri, astronomi dan lain-lain. Pendeknya ilmu-ilmu yang berasal dari Yunani juga ia
pelajari dan sekurang-kurangnya salah satu bahasa ilmu pengetahuan kala itu ia kuasai dengan
baik yaitu bahasa Suryani. Dari buku-buku Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Suryani inilah Al-Kindi menterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Pada masa pemerintahan al-Mutashim yang menggantikan al-Makmun pada tahun 218 H (833
M) nama al-Kindi semakin menanjak karena pada waktu itu al-Kindi dipercaya pihak istana
menjadi guru pribadi pendidik putranya yaitu Ahmad bin Mutashim. Pada masa inilah al-Kindi
mempunyai kesempatan untuk menulis karya-karyanya, setelah pada masa al-Mamun
menterjemahkan kitab-kitab Yunani ke dalam bahasa Arab.

KARYA-KARYA AL-KINDI

Karya yang telah dihasilkan oleh al-Kindi kebanyakan hanya berupa makalah-makalah. Ibnu
Nadim, dalam kitabnya Al-Fihrits, menyebutkan lebih dari 230 buah.[1] George N. atiyeh
menyebutkan judul-judul makalah dan kitab-kitab karangan al-Kindi sebanyak 270 buah.[2]

Dalam bidang Filsafat, karangan al-Kindi pernah diterbitkan oleh Prof. Abu Ridah (1950) dengan
judul Rosail al-Kindi al-Falasifah (Makalah-makalah filsafat al-Kindi) yang berisi 29 makalah.
Prof. Ahmad Fuad Al-Ahwani pernah menerbitkan makalah al-Kindi tentang filsafat pertamanya
dengan judul Kita al-Kindi ila al-Mutashim Billah fi al-Falsafah al-Ula (Surat al-Kindi kepada
Mutashim Billah tentang filsafat pertama).

Karangan-karangan al-Kindi mengenai filsafat menunjukkan ketelitian dan kecermatannya dalam


memberikan batsasan-batasan makna istilah-istilah yang digunakan dalam terminologi ilmu
filsafat. Ilmu-ilmu filsafat yang ia bahas mencakup epistemologi, metafisika, etika dan
sebagainya. Sebagaimana halnya para penganut Phytagoras, al-Kindi juga mengatakan bahwa
dengan matematika orang tidak bisa berfilsafat dengan baik.

Kalau dilihat dari karangannya al-Kindi adalah penganut aliran eklektisisme.[3] Dalam metafisika
dan kosmologi ia mengambil pendapat-pendapat Aristoteles, dalam Psikologi ia mengambil
pendapat Plato, dalam bidang etika ia mengambil pendapat-pendapat Socrates dan Plato.
Namun kepribadian al-Kindi sebagai filosuf Muslim tetap bertahan. Misalnya dalam
membicarakan tentang kejadian alam al-Kidi tidak sependapat dengan Aristoteles yang
mengatakan bahwa alam itu abadi, ia tetap berpegang pada keyakinannya bahwa alam adalah
ciptaan Allah, diciptakan dari tiada dan akan berakhir menjadi tiada pula.

Sebagai seorang filosuf yang mempelopori mempertemukan agama dengan filsafat Yunani, al-
Kindi menghadapi banyak tantangan para ahli agama. Ia dianggap telah meremehkan bahkan
membodoh-bodohi ulama yang tidak mengetahui filsafat Yunani. Fitnah-fitnah yang ditujukan
kepadanya semakin deras dan keras, terutama pada masa pemirantahan Mutawakkil. Al-Kindi
mengatakan bahwa filsafat adalah semulia-mulianya ilmu dan yang tertinggi martabatnya, dan
filsafat menjadi kewajiban setiap ahli pikir (ulul albab) untuk memiliki filsafat itu. Pernyataan ini
terutama tertuju kepada ahli-ahli agama yang mengingkari filsafat dengan dalih sebagai ilmu
syirik, jalan menuju kekafiran dan keluar dari agama. Menurut al-Kindi, berfilsafat tidaklah
berakibat mengaburkan dan mengorbankan keyakinan agama. Filsafat sejalan dan dapat
mengabdi kepada agama.

DEFINISI FILSAFAT AL-KINDI

Al-Kindi menyajikan banyak definisi filsafat tanpa menyatakan bahwa definisi mana yang menjadi
miliknya. yang disajikan adalah definisi-definisi terdahulu, itupun tanpa mengaskan dari siapa
definisi tersebut ia peroleh. Mungkin hal ini dimaksudkan bahwa pengertian sebenarnya tercakup
dalam semua definisi yang ada, tidak hanya pada salah satunya. Menurut al-Kindi untuk
memperoleh pengertian lengkap tentang apa filsafat itu harus memperhatikan semua unsur yang
terdapat dalam semua definisi tentang filsafat. Definisi-definisi al-Kindi sebagai berikut :

1. Filsafat terdiri dari gabungan dua kata, Philo, Sahabat dan Sophia, Kebijaksanaan. Filsafat
adalah cinta terhadap kebijaksanaan. Definisi ini berdasar atas etimologo Yunani dari kata-kata
itu.

2. Filsafat adalah upaya manusia meneladani perbuatan-perbuatan Tuhan sejauh dapat


dijangkau oleh kemampuan akal manusia. Definisi ini merupakan definisi fungsional, yaitu
meninjau filsafat dari segi tingkah laku manusia.

3. Filsafat adalah latihan untuk mati. Yang dimaksud dengan mati adalah bercerainya jiwa dan
badan. Atau mematikan hawa nafsu adalah mencapai keutamaan. Oleh karenanya, banyak
orang bijak terdahulu yang menyatakan bahwa kenikmatan adalah kejahatan. Definisi juga
merupakan definisi fungsional, yang bertitik tolak pada segi tingkah laku manusia pula.

4. Filsafat adalah pengetahuan dari segala pengetahuan dan kebijaksanaan. Definisi ini bertitik
tolak dari segi kausa.

5. Filsafat adalah pengetahuan manusia tentang dirinya. Definisi ini menitik beratkan pada fungsi
filsafat sebagai upaya manusia untuk mengenal dirinya sendiri. Para filosuf berpendapat bahwa
manusia adalah badan, jiwa dan aksedensial manusia yang mengetahui dirinya demikian itu
berarti mengetahui segala sesuatu. Dari sinilah para filosuf menamakan manusia sebagai
mikrokosomos.

6. Filsafat adalah pengetahuan tentang segala sesuatu yang abadi dan bersifat menyeluruh
(umum), baik esensinya maupun kausa-kausanya. Definisi ini menitikberatkan dari sudut
pandang materinya.

Dari bebrapa definisi yang amat beragam di atas, tampaknya al-Kindi menjatuhkan pada definisi
terakhir dengan menambahkan suatu cita filsafat, yaitu sebagai upaya mengamalkan nilai
keutamaan. Menurut al-Kindi, filosuf adalah orang yang berupaya memperoleh kebenaran dan
hidup mengamalkan kebenaran yang diperolehnya yaitu orang yang hidup menjunjung tinggi
nilai keadilan atau hidup adil. Dengan demikian, filsafat yang sebenarnya bukan hanya
pengetahuan tentang kebenaran, tetapi disamping itu juga merupakan aktualisasi atau
pengamalan dari kebenaran itu. Filosuf sejati adalah yang mampu memperoleh kebijaksanaan
dan mengaktualisasikan atau mengamalkan kebijaksanaan itu. Hal yang disebut terakhir
menunjukkan bahwa konsep al-Kindi tentang filsafat merupakan perpaduan antara konsep
Socrates dan aliran Stoa. Tujuan terakhir adalah dalam hubungannya dengan moralita.

Al-Kindi menegaskan juga bahwa filsafat yang paling tinggi tingkatannya adalah filsafat yang
berupaya mengetahui kebenaran yang pertama, kausa daripada semua kebenaran, yaitu filsafat
pertama. Filosuf yang sempurna dan sejati adalah yang memiliki pengetahuan tentang yang
paling utama ini. Pengetahuan tentang kausa (illat) lebih utama dari pengetahuan tentang akibat
(malul, effact). Orang akan mengetahui tentang realitas secara sempurna jijka mengetahui pula
yang menjadi kausanya.

EPISTEMOLOGI AL-KINDI

PENDAHULUAN

Pada kesempatan sebelumnya kita telah memaparkan biografi salah seorang tokoh filsafat Islam
yang cukup berpengaruh dan mempunyai peranan penting dalam perkembangan ilmu
pengetahuan di dalam dunia Islam, yaitu al-Kindi yang mempunyai nama lengkap Abu Yusuf
Yaqub bin Ishaq As-Shabbah bin imron bin Ismail al-Asyad bin Qays al-Kindi[4]. Dalam
kesempatan kali ini kita akan mencoba untuk memaparkan pemikiran al-Kindi tentang
epistemologi.

Namun sebelumya kita ingin memberikan gambaran umum tentang epistemologi tersebut,
epistemologi yang merupakan nyawa dari filsafat membahas tentang seluk beluk pengetahuan
manusia, akan selalu menjadi bahan yang menarik untuk dikaji, karena disinilah dasar-dasar
pengetahuan maupun teori pengetahuan yang diperoleh manusia menjadi bahan pijakan dan
tentunya sangat banyak pembahasan tentang pengetahuan. Apa yang dimaksud dengan
pengetahuan? Apakah yang menjadi dasar ataupun sumber dari pengetahuan? Dan masih
banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang menjadi cakupan dalam Epistemologi.

Seperti yang telah kita ketahui bahwasannya konsep-konsep ilmu pengetahuan yang
berkembang pesat dewasa ini beserta aspek-aspek praktis yang ditimbulkannya dapat dilacak
akarnya pada struktur pengetahuan yang membentuknya. Dari epistemologi, juga filsafat dalam
hal ini filsafat modern terpecah berbagai aliran yang cukup banyak, seperti empirisme,
rasionalisme, pragmatisme, positivisme, maupun intuisionisme.

PENGERTIAN

Secara etimologi (baca: bahasa), epistemologi merupakan kata gabungan yang diangkat dari
dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme artinya pengetahuan,
sedangkan logos lazim dipakai untuk menunjukkan adanya pengetahuan sistematik. Dengan
demikian epistemologi berarti pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Sedangkan
Runes dalam kamusnya (1971) menjelaskan bahwa epistemologi is the branch of philoshophy
which investigates the origin, stucture, methods and validity of knowledge.[5] Karena itulah
epistemologi sering dikenal sebagai filsafat pengetahuan.

Jika diperhatikan, batasan-batasan di atas nampak jelas bahwa hal-hal yang hendak
diselesaikan epistemologi ialah tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula
pengetahuan, validitas pengetahuan, dan kebenaran pengetahuan.

Al-Kindi telah mengadopsi ilmu-ilmu filsafat dari pemikiran tokoh filsafat Yunani, namun sebagai
seorang filosuf Muslim, ia mempunyai kepribadian seorang Muslim sejati yang tak tergoda dan
tetap mayakini prinsip-prinsip di dalam Islam. Al-Kindi mempunyai pandangan tersendiri tentang
pengetahuan, menurutnya pengetahuan manusia itu pada dasarnya terbagi menjadi tiga bagian
besar, yaitu :

a) Pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan indera disebut pengetahuan inderawi,

b) Pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan akal disebut pengetahuan rasional, dan

c) Pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan disebut dengan pengetahuan isyraqi atau
iluminatif.

a. Pengetahuan Inderawi

Pengetahuan inderawi terjadi secara langsung ketika orang mengamati terhadap obyek-obyek
material (sentuhan, penglihatan, pendengeran, pengcapan dan penciuman). Kemudian dalam
proses yang sangat singkat tanpa tenggang waktu dan tanpa berupaya, obyek-obyek yang telah
ditangkap oleh indera tersebut berpindah ke imajinasi (musyawwiroh), kemudian diteruskan ke
tempat penampungannya yang disebut hafizhah

(recolection). Pengetahuan yang diperoleh dengan jalan ini (Inderawi) tidak tetap dan akan
selalu berubah; karena obyek yang diamati pun tidak tetap, selalu dalam keadaan menjadi,
berubah setiap saat, bergerak, berlebih-berkurang kuantitasnya, dan berubah-ubah pula
kualitasnya.

Pada dasarnya pengetahuan inderawi ini mempunyai kelemahan yang cukup banyak, sehingga
pengetahuan yang didapatkan belum tentu benar. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain
Indera terbatas, benda yang jauh terlihat kecil berbeda ketika benda tersebut berada di dekat
kita, lalu apakah benda tersebut memang berubah menjadi kecil? tidak, keterbatasan
kemampuan indera ini dapat memberikan pengetahuan yang salah. Kelemahan kedua adalah
Indera menipu, gula yang rasanya manis akan terasa pahit ketika dirasakan oleh orang yang
sakit, begitu juga udara yang yang panas akan terasa dingin. Sehingga hal ini akan memberikan
pengetahuan yang salah juga. Kelemahan ketiga ialah Obyek yang menipu, seperti ilusi,
fatamorgana. Di sini Indera menangkap obyek yang sebenarnya tiada. Kelemahan keempat
berasal dari indera dan obyek sekaligus, indera misalnya mata tidak dapat melihat obyek secara
keseluruhan dan begitu juga obyek yang tidak memperlihatkan dirinya secara keseluruhan,
sehingga hal ini akan memberikan informasi pengetahuan yang salah pula.

b. Pengetahuan Rasional

Pengetahuan tentang sesuatu yang diperoleh dengan jalan menggunakan akal bersifat
universal, tidak parsial dan bersifat immaterial. Obyek pengetahuan rasional bukan individu;
tetapi genus dan spesies. Orang mengamati manusia sebagai yang berbadan tegak dengan dua
kaki, pendek, jangkung, berkulit putih atau berwarna, yang semua ini akan menghasilkan
pengetahuan inderawi. tetapi orang yang mengamati manusia, menyelidiki hakikatnya sehingga
sampai pada kesimpulan bahwa manusia adalah makhluk berfikir (rational animal = hewan
nathiq), telah memperoleh pengetahuan rasional yang abstrak universal, mencakup semua
individu manusia. Manusia yang telah ditajrid (dipisahkan) dari yang inderawi tidak mempunyai
gambar yang telukis dalam perasaan.

Kelihatannya sudah cukup jelas bahwa pengetahuan hanya terbagi menjadi dua, karena
keduanya sudah saling melengkapi, tapi ternyata hal tersebut belum cukup. Indera (empiris) dan
akal (rasio/logis) yang bekerjasama belum mampu mendapatkan pengetahuan yang lengkap dan
utuh. Indera hanya mampu mengamati bagian-bagian tertentu tentang obyek. Dibantu oleh akal,
manusia juga belum mapu memperoleh pengetahuan yang utuh. Akal hanya sanggup
memikirkan sebagian dari obyek.[6]

Al-Kindi memperingatkan agar orang tidak mengacaukan metode yang ditempuh untuk
memperoleh pengetahuan, karena setiap ilmu mempunyai metodenya sendiri yang sesuai
dengan wataknya. Watak ilmulah yang menentukan metodenya. Adalah suatu kesalahan jika kita
menggunakan suatu metode suatu ilmu untuk mendekati ilmu lain yang mempunyai metodenya
sendiri. Adalah suatu kesalahan jika kita menggunakan metode ilmu alam untuk metafisika.
c. Pengetahuan Isyraqi

Al-Kindi mengatakan bahwa pengetahuan inderawi saja tidak akan sampai pada pengetahuan
yang hakiki tentang hakikat-hakikat. Pengetahuan rasional terbatas pada pengetahuan tentang
genus dan spesies. Banyak filosof yang membatasi jalan memperoleh pengetahuan pada dua
macam jalan ini. Al-Kindi, sebagaiman halnya banyak filosof isyraqi, mengingatkan adanya jalan
lain untuk memperoleh pengetahuan lewat jalan isyraqi (iluminasi), yaitu pengetahuan yang
langsung diperoleh dari pancaran Nur Ilahi. Puncak dari jalan ini adalah yang diperoleh para
Nabi untuk membawakan ajaran-ajaran yang berasal dari wahyu kepada umat manusia. Para
Nabi memperoleh pengetahuan yang berasal dari wahyu tuhan tanpa upaya, tanpa bersusah
payah untuk memperolehnya.

Pengetahuan mereka terjadi atas kehendak Tuhan semata-mata. Tuhan mensucikan jiwa
mereka dan diterangkan-Nya pula jiwa meraka untuk memperoleh kebenaran dengan jalan
wahyu. Akal meyakinkan pengetahuan pengetahuan mereka berasal dari tuhan, karena
pengetahuan itu ada ketika manusia tidak mampu mengusahakannya, karena hal itu memang di
luar kemampuan manusia. Bagi manusia tidak ada jalan lain kecuali menerima dengan penuh
ketaatan dan ketundukan mereka kepada kehendak tuhan, membenarkan semua yang
dibawakan para nabi.

Untuk memberi contoh perbedaan pengetahuan manusia yang diperoleh dengan jalan upaya
dan pengetahuan para nabi yang diperoleh dengan jalan wahyu, Al-Kindi mengemukakan
pertanyaan orang-orang kafir tentang bagaimana mungkin tuhan akan membangkitkan kembali
manusia dari dalam kuburnya setelah tulang-belulangnya hancur menjadi tanah; sebagaimana
termaktub dalam Al-Quran surah Yasin ayat 78-82. Keterangan yang terdapat dalam ayat-ayat
Al-Quran ini amat cepat diberikan oleh nabi Muhammad saw. karena berasal dari wahyu tuhan,
dan tidak yakin akan dapat dijawab dengan cepat dan tepat serta jelas oleh filosuf.

Pertanyaan yang diajukan pada nabi Muhammad saw. adalah sebagai berikut: Siapakah yang
dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah membusuk? Segeralah tuhan menurunkan
wahyu jawabannya: Katakanlah yang memberinya hidup adalah penciptanya yang pertama kali
yang mengetahui segala kejadian, Dia yang menjadikan bagimu api dari kayu yang hijau,
kemudian kamu menyalakan api darinya. Tiadakah yang telah menciptakan langit dan bumi
sanggup menciptakan yang serupa itu? Tentu saja karena Dia maha Pencipta, maha Tahu. Bila
Dia menghendaki sesuatu, cukuplah Dia perintahkan, jadilah, maka iapun menjadi.

Al-Kindi memberikan penjelasannya tentang ilmu yang berasal dari Tuhan sebagaimana
dicerminkan dalam ayat-ayat Al-Quran tersebut sebagai berikut:

Tidak ada bukti bagi akal yang terang dan bersih yang lebih gamblang dan ringkas daripada
yang tertera dalam ayat-ayat Al-Quran tersebut, yaitu bahwa tulang-belulang yang benar-benar
telah terjadi setelah tiada sebelumnya, adalah sangat mungkin apabila telah rusak dan busuk
ada kembali. Mengumpulkan barang yang berserakan lebih mudah daripada membuatnya dari
tiada, meskipun bagi Tuhan tidak ada hal yang dapat dikatakan lebih mudah ataupun lebuh sulit.
Kekuatan yang telah menciptakan mugkin menumbuhkan sesuatu yang telah dihancurkan.

Al-Quran menyebutkan bahwa tuhan telah menjadikan kayu hijau dan dapt dibakar menjadi api;
hal ini mengandung ajaran bahwa sesuatu mungkin bisa terjadi dari lawannya. Tuhan
menjadikan api dari bukan api dan menjadikan panas dari bukan panas. Jika sesuatu mungkin
terjadi dari lawannya, maka akan lebih mungkin lagi sesuatu terjadi dari dirinya sendiri.

Al-Quran yang menyebutkan bahwa tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi berkuasa
pula menciptakan yang serupa itu, karena Dia adalah tuhan yang maha pencipta lagi maha
mengetahui. Al-Kindi menjelaskan bahwa hal tersebut dapat diyakini kebenarannya secara amat
jelas tanpa memerlukan argumentasi apapun. Orang-orang kafir mengingkari penciptaan langit,
karena mereka mengira bagaimana langit itu diciptakan, berapa lama waktu yang diperlukan jika
dibandingkan dengan perbuatan manusia melakukan suatu pekerjaan. Sangkaan mereka itu
tidak benar, tuhan tidak memerlukan waktu jika menghendakiuntuk menciptakan sesuatu. Tuhan
berkuasa menciptakan sesuatu dari yang bukan sesuatu dan mengadakan sesuatu dari tiada.
Sesuatu ada bersamaan dengan kehendak-Nya.

Al-Kindi mengakhiri penjelasannya tentang ayat-ayat Al-Quran yang dijadikan contoh-contoh di


atas sebagai beriku: "Tak ada manusia yang dengan filsafat manusia sanggup menerangkan
sependek huruf-huruf yang tercantum dalam ayat-ayat al-Quran yang diwahyukan kepada
Rasul-Nya itu, yang menerangkan bahwa tulang-belulang akan hidup setelah membusuk dan
hancur, bahwa kekuasaan tuhan seperti menciptakan langit dan bumi, bahwa sesuatu dapat
terjadi dari lawannya. Kata-kata manusia tidak sanggup menuturkannya, kemampuan manusia
tidak sanggup melakukannya; akal manusia yang bersifat parsial tidak terbuka untuk sampai
pada jawaban yang demikian itu."[7]

Pengetahuan Isyraqi ini, selain didapatkan oleh para nabi. Ada kemungkinan juga didapatkan
oleh orang-orang yang beris, suci jiwanya, walaupun tingkatan atau derajatnya berada dibawah
dari pengetahuan yang dipeoleh para nabi. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan para nabi
yang diperoleh dengan wahyu lebih meyakinkan kebenarannya daripada pengetahuan para
filosuf yang tidak dari wahyu.