Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH TERMODINAMKA

(ENTROPI)

Penyusun :

Abdul Hafiz Al Bajiri

Jackson Roberto Wonata

Teuku Rizki

Teknik Sistem Perkapalan

Email : humas@unsada.ac.id ,
Jl.Raden Inten II (Terusan Casablanca) Pondok Kelapa Jakarta 13450 Telp. : (021)
8649051 Fax. : (021) 86490
Entropi
A. Konsep Entropi

Dalam suatu sistem dengan sejumlah koordinat termodinamik sembarang, semua


keadaan yang dapat dicapai dari suatu keadaan mula tertentu melalui proses
adiabatik terbalikkan, terletak pada suatu permukaan.

Kita tinjau sistem yang mengalami proses reversibel dri keadaan 1 ke keadaan 2
melalui lintasan A, dan kembali ke keadaan semula melalui lintasan B yang juga
reversibel, ditunjukkan gambar (hal 170)

Karena siklus reversibel, maka dapat dituliskan :


2 1

Q
T
=0=
Q
T ( ) + ( QT ) (5-27)
1 A 2 B

Sekarang kita pandang siklus reversibel yang lain, dengan keadaan awal yang
sama tetapi kembali melalui lintasan C. Untuk siklus ini dapat kita tulis:

2 1

Q
T
=0=
Q
T ( ) + ( QT ) (5-28)
1 A 2 C

Dengan mengurangkan persamaan (5-27) dengan persamaan (5-28), diperoleh:


2 1
Q Q
( ) ( )
+
T A 2 T
(5-29)
1 B

Q
Karena T
sama untuk semua lintasan antara 2 dan 1, besaran ini hanya
bergantung pada keadaan awal dan akhir saja. Besaran ini dapat digolongkan
sebagai sifat sistem dan disebut sebagai entropi yang dinyatakan dengan S.
Entropi didefinisikan sebagai:
dS ( )
Q
T rev
(5-30)

perubahan entropi sistem yang mengalami perubahan keadaan 1 dan 2 reversibel


adalah :
2

S2-S1 = ( Q
T )
(5-31)
1 rev

Entropi adalah besaran ekstensif sistem dan dalam sistem yang homogen
sebanding dengan massa atau jumlah mol sistem. Entropi jenis s adalah:
S
s= (5-32)
m

dan entropi jenis molal s


S
s= (5-33)
n

B. Entropi Gas Ideal

Pada gas ideal, energi dalam hanya merupakan fungsi suhu atau dapat kita
tuliskan sebagai:
p R
du c v dT dan =
T v

dari hubungan penting pertama

Tds=du+ pdv

Sehingga

dT dv
ds=c v +R (5-50)
T v

Entalpi untuk gas ideal juga hanya merupakan fungsi suhu atau

v R
dh=c p dT Dan =
T p

Dari hubungan termodinamika

Tds=dhvdp

Sehingga
dT dp
ds=c v R (5-51)
T p

C. Diagram TS

Untuk setiap jumlah kalor infinitesimal yang memasuki sistem dalam bagian
infinitesimal suatu proses terbalikkan, persamaannya ialah

dQ R=T ds

Jadi jumlah total kalor yang dipindahkan dalam proses terbalikkan ialah
f
Q R = T ds
i

Integral ini dapat ditafsirkan secara grafis sebagai luas di bawah kurva pada
diagram T yang dirajah sepanjang sumbu Y dan S sepanjang sumbu X. Sifat kurva
pada diagram TS ditentukan oleh jenis proses terbalikkan yang dilaksanakan oleh
sistem itu. Proses isoterm digambarkan sebagai garis horisontal.

Dalam kasus proses adiabat terbalikkan, kita dapatkan:

dQ R
dS=
T

Dan dQ R=0

Sehingga jika T tidak nol,

dS=0

Dan S adalah tetapan. Jadi selama proses adiabat terbalikkan berlangsung, entropi
sistem tetap, atau dengan perkataan lain sistem mengalami proses isentrop.
Jelaslah bahwa proses isotrop dalam diagram TS digambarkan sebagai garis
vertikal.

Jika dua keadaan setimbang berdekatan infinitesimal, maka

dQ=T ds ,

dQ dS
Dan =T
dT dT

Pada volume tetap,


( dQ
dT )v
=C =T (v
S
T ) v

Dan pada tekanan tetap,

( dQ
dT )p
=C =T (p
S
T ) p

Untuk proses reversibel internal, perubahan entropi dinyatakan oleh:

dS= ( TQ ) rev

Persamaan ini juga dapat dituliskan dengan bentuk, (persamaan 5-34)


2
( Q )rev= TdS
1

Persamaan (5-34) menyatakan bahwa perpindahan kalor pada sistem tertutup


selama proses reversibel internal dapat digambarkan dalam diagram suhu-entropi.
Suhu merupakan besaran yang tidak bergantung pada massa dan menyebabkan
perpindahan kalor, karena itu suhu kita pilih sebagai ordinat pada diagram.
Besaran entropi kita pilih sebagai absis karena sebanding dengan massa dan
merupakan besaran ekstensif. Diagram dengan T sebagai ordinat dan s sebagai
absis, disebut diagram T-s, ditunjukkan gambar 5-14. Luasan yang diarsir
menyatakan sejumlah kecil kalor yang dipindahkan dan sama dengan Tds

Gambar hal 172 gambar 5-14

Diagram T-s mempunyai aplikasi yang paling luas dibandingkan dengan beberapa
diagram yang digunakan dalam termodinamika karena daerah di bawah
sembarang garis proses reversibel menyatakan jumlah kalor. Diagram ini dapat
diterapkan untuk problem aliran maupun non aliran, dan kalor selalu memegang
peranan penting.

Gambar 5-14 memperlihatkan diagram T-s untuk uap. Daerah berbentuk kubah
yang terdiri dari dua fase cair-uap disebut kubah uap. Kubah uap dibatasi pada
sebelah kiri oleh garis cairan jenuh dan di sebelah kanan oleh garis uap jenuh.
Puncak kubah merupakan titik kritis. Di sebelah kiri garis cairan jenuh merupakan
daerah cair. Daerah tepat dibawah kubah merupakan daerah uap basah yang
berupa campuran cairan air dan uap dan disebelah kanan garis uap jenuh
merupakan daerah uap. Pada suhu diatas titik kritis sudah tidak ada perbedaan
antara cairan dan uap. Untuk penyederhaan gambar, garis-garis horisontal dan
garis-garis vertikal yang menyatakan garis isotermal dan garis isentropik tidak
digambarkan.

Garis panas lanjut (superheated) menyerupai bentuk garis uap jenuh. Dengan
meningkatnya nilai panas lanjut, garis ini bergerak menjauh dalam daerah panas
lanjut.

Garis isokhorik terlihat khas pada gambar dengan karakteristik tajam pada
perubahan kemiringan setelah memotong garis uap jenuh.

Pada gambar terdapat tiga jenis garis isentalpi. Jenis pertama, pada daerah panas
lanjut, garis isentalpi seluruhnya terletak pada daerah ini. Jenis kedua garis
isentalpi datang dari daerah panas lanjut masuk daerah basah pada suhu tinggi dan
terakhir masuk lagi ke daerah panas lanjut pada suhu yang sedikit lebih rendah.
Jenis ketiga garis isentalpi memotong garis kubah jenuh dan masuk daerah basah
dan tidak meninggalkan daerah basah pada suhu lebih rendah. Hal ini
menunjukkan bahwa entalpi nyaris hanya merupakan fungsi suhu dalam daerah
ini.

Gambar 5-15
D. Daur Carnot

Ketika sistem dalam suatu mesin menjalani sebagian daurnya, sejumlah kalor
diserap dari tandon panas. Pada bagian lain daur itu, kalor yang jumlahnya lebih
sedikit dibuang ketandon yang lebih dingin. Jadi boleh dikatan bahwa mesin
bekerja di antara sepasang tandon ini. Menurut kenyataan yang didapat dari
pengalaman, sejumlah kalor selalu dibuang ketandon yang lebih dingin, sehingga
efisiensi mesin yang sebenarnya tidak pernah 100%.

Sebuah mesin yang bekerja dalam daur carnot disebut mesin carnot. Mesin carnot
bekerja antara dua tandon dengan cara khusus yang sederhana. Semua kalor yang
diserapnya terjadi pada suatu temperatur tinggi yang tepap, yaitu pada
temperatur tandon panas, dan semua kalor yang dibuangnya terjadi pada
temperatur yang tetap yang lebih rendah, yaitu pada temperatur tetap yang lebih
rendah, yaitu pada temperator tandon dingin. Proses yang menghubungkan
isoterm temperatur tinggi dan rendah adalah keterbalikan dan adiabat. Karena
keempat proses itu keterbalikan, daur carnot merupakan daur keterbalikan.

Jika sebuah mesin bekerja hanya antara dua tandon dan menurut daur
keterbalikan, mesin itu tentu mesin carnot.

Sebuah mesin carnot yang menyerap kalor QH dari tandon panas pada temperatur
TH dan membuang kalor QH ketandon yang lebih dingin pada temperatur TC
memiliki efisiensi yang sama dengan 1- 1| Qc|/|QH | . Karena berlangsung
antara dua garis isotrop yang sama maka

|Qc| Tc
=
|Q H | TH
Tc
( carnot )=1
TH

Supaya mesin carnot efisisen 100 persen, Tc harus nol. Karena alam tidak
menyediakan tandon bertemperatur mutlak nol, maka mesin kalor yang
efisiensinya 100 persen secara praktis mustahil ada.

Diagram temperatur-entropi sangat cocok untuk meperliahatkan karakteristik daur


carnot. Kedua proses adiabat terblikkan digambarkan oleh dua garis vertikal,
sehingga daur carnot digambarkat oleh sebuah segiempat seperti yang
diperlihatkan dalam gambar 8.3. Hal ini benar, tidak bergantung pada sifat sistem
dan banyaknya koordinat termodinamik yang bebas.

E. Entropi dan keterbalikan

Supaya kita mengerti arti fisis entropi dan peranannya dalam dunia ilmu, kita
perlu mempelajari semua perubahan entropi yang timbul ketika sistem mengalami
suatu proses. Jika kita menghitung perubahan entropi sistem dan menambahkan
pada perubahan entropi ini, perubahan entropi lingkungan lokalnya, kita dapat
kuantitas yang merupakan jumlah dari semua perubahan entropi yang timbul
dalam proses khusus itu. Kita boleh menamakannya

Bila jumlah kalor yang berhingga diserap atau dibuang oleh sebuah tandon, maka
perubahan koordinatnya tandon persatuan massa sangat kecil. Jadi, perubahan
entropi persatuan massanya sangat kecil. Namun, karena massaa total tandon
sangat besar, perubahan entropi totalnya berhingga. Misalkan tandonnya
bersentuhan dengan sebuah sistem dan kalor Q diserap oleh tandon pada
temperatur T. Tandon itu mengalami perubahan non disipatif yang ditentukan
sepenuhnya oleh kuantitas kalor yang diserap. Perubahan yang tepat sama dalam
tandon akan terjadi jika jumlah kalor Q dipindah secara terbalikkan. Jadi,
perubahan entropi tandon itu ialah Q/T. Ini berarti, bila mana sebuah tandon
menyerap kalor Q pada temperatur T dalam suatu sistem dalam proses apa saja,
perubahan entropi tandon ialah Q/T.

Tinjaulah sekarang perubahan entropi semesta yang ditimbulkan oleh proses


terbalikkan. Pada umumnya proses ini akan disertai alairan kalor antara sistem
dan sekumpulan tandon yang kisaran temperaturnya antara Ti dan Tf. Selama
berlangsungnya bagian infinitesimal dari proses, yang manapun, sejumlah kalor
QR dipindahkan antara sistem dan salah satu tandon yang bertemperatur T.
Misalkan QR bilangan positif. Jika QR diserap oleh sistem maka

+dQR
dS sistem=
T

dQR
dS tandon=
T

Dan perubahan entropi semester dS adalah nol. Jika QR dibuang oleh sistem,
jelaslah

dQR
dS sistem=
T

+dQR
dS tandon=
T

Dan perubahan entropi semesta dS juga nol. Jika QR nol, baik sistem maupun
tandon tidak mengalami perubahan entropi, dan perubahan entropi semesta tetap
nol. Karena hal ini berlaku untuk bagian infinitesimal proses terbalikkan yang
mana pun, tentulah berlaku juga untuk semua bagian seperti itu. Jadi kita dapat
mengambil kesimpulan bahwa bila proses terbalikkan berlangsung, maka entropi
semesta tidak berubah. Namun, proses alamiah tak terbalikkan.
F. Entropi dan Ketakterbalikan

Bila sistem mengalami proses keterbalikan antara keadaan setimbang awal dan
keadaan setimbang akhir, perubahan entropi sistem ialah
f
dQ
S ( sistem )=sf Si=R
i T

dengan R menyatakan proses terbalikkan sebarang yang dipilih, yang dijalani


sistem dari keadaan awal ke keadaan akhir. Integrasi tidak dilakukan pada
balikkan. Hal ini dapat dilakukan dengan mudah bila keadaan awal dan akhir
adalah keadaan setimbang. Bila keadaan awal atau keadaan akhirnya keadaan
taksetimbang, harus dipakai metode khusus. Mula-mula kita akan membatasi diri
pada proses takterbalikkan yang menyangkut keadaan awal dan akhir yang
setimbang.

Proses yang menunjukkan ketakterbalikkan mekanis eksternal

( ) Poses yang menyangkut lesapan isoterm dari kerja melalui sistem (yang
tidak tetap tidak berubah) menjadi energi internal sebuah tandon, misalnya:

1. pengaduan tak teratur dari cairan kental yang bersentuhan dengan sebuah
tandon;

2. berhentinya cairan yang sedang bergetar atau berputar, yang bersentuhan


dengan sebuah tandon;

3. deformasi takelastik dari zat padat yang bersentuhan dengan sebuah tandon;

4. pemindahan listrik melalui hambat yang bersentuhan dengan sebuah tandon;

5. histeresismagnetik dari bahan yang bersentuhan dengan sebuah tandon.

Dalam hal proses yang menyangkut transformasi isoterm kerja W melalui sistem
menjadi energi internal sebuah tandon, tidak ada perubahan entropi sistem, karena
koordinat termodinamikanya tidak berubah. Terdapat aliran kalor Q ke dalam
tandon dengan Q=W. Karena tandon menyerap Q satuan kalor pada temperatur T,
Q W
perubahan entropinya ialah + atau + . Perubahan entropi semestanya
T T
W
ialah dan ini akan merupakan kuantitas yang positif.
T
(b) Proses yang menyangkut lesapan adiabat dari kerja menjadi energi internal
sistem, misalnya :

1. pengadukan takteratur dari cairan kental yang tersekat secara termal;

2. berhentinya cairan yang sedang berputar atau bergetar, yang tersekat secara
termal;

3. deformasi takelastik dari zat padat yang tersekat secara termal;

4. pemindahan listrik melalui hambat yang tersekat secara termal;

5. histeresis magnetik bahan yang tersekat secara termal.

Dalam proses yang menyangkut transformasi adiabat dari kerja menjadi energi
internal sistem yang temperaturnya naik dari Ti ke Tf pada tekanan tetap, tidak ada
aliran kalor dari atau ke lingkungannya, sehingga perubahan entropi lingkunan
lokalnya adalah nol. Untuk menghitung perubahan entropi sistem , proses
terbalikkan semula harus diganti oleh proses terbalikkan yang membawa sistem
dari keadaan mula (temperatur Ti, tekanan Pi) ke keadaan akhir (temperatur Tf,
tekanan Pf). Marilah kita ganti pelaksanaan takterbalikkan dari kerja itu dengan
aliran kalor isobar terbalikkan dari sederetan tandon yang temperaturnya berkisar
antara Ti sampai dengan Tf. Jadi perubahan entropi sistem ialah
f
dQ
S ( sistem )=sf Si=R
i T

Untuk proses isobar,

R= C pdT
dQ

dan
Tf

S ( sistem )= C dT
p
Ti T

Proses yang menunjukkan keterbalikan mekanis internal

proses yang menyangkut transformasi energi internal suatu sistem menjadi energi
mekanis, kemudian dikembalikan menjadi energi internal lagi, misalnya:

1. gas ideal yang menerjang masuk ke ruang hampa (pemuaian bebas)


2. gas yang menerobos yang melewati sumbat porus (proses sernak)

3. membingkasnya kawat teregang ketika dipotong

4. pecahnya selaput sabun ketika ditusuk.

Dalam hal pemuaian bebas gas ideal, perubahan entropi lingkungan lokalnya nol.
Untuk menghitung perubahan entropi sistem, pemuaian bebas harus diganti
dengan proses terbalikkan yang membawa gas itu dari keadaaan semula (volum Vi
, temperatur T) ke keadaan akhir (volum Vf, temperatur T). Jelaslah proses
terbalikkan yang paling memudahkan ialah pemuaian isoterm trbalikkan pada
temperatur T dari volum Vi menjadi volum Vf. Jadi perubahan entropi sistem ialah
f
dQ
S ( sistem )=sf Si=R
i T

Untuk proses isoterm dari gas ideal,

dQ R=Pd V

Dan

dQ R dV
=nR
T V

Sehingga

Vf
S ( sistem )=nR ln
Vi

Vf
Jadi perubahan entropi sesta ialah nR ln ( ), dan ini merupakan bilangan
Vi
positif.

Proses yang menunjukkan ketidakterbalikkan termal eksternal

Proses yang menyangkut pemindahan kalor yang ditimbulkan oleh perbedaan


temperatur yang berhingga, misalnya:

1. penghantaran atau radiasi kalor dari suatu sistem ke lingkungannya yang lebih
dingin

2. penghantaran atau radiasi kalor melalui suatu sistem (yang tidak berubah) dari
tandon panas ke tandon panas ke tandon yang lebih dingin.
Dalam hal penghantar Q satuan kalor melalui suatu sistem (yang tidak berubah)
dari tandon pada temperatur Ti ke tandon yang lebih dingin pada T2 , maka
langkah berikut ini jelas:

S ( sistem )=0

Q
S ( tandon panas ) =
T1

+Q
S ( tandondingin ) =
T2

dan

Q Q
S= S ( semesta )=
T2 T1

Proses yang menunjukkan ketakterbalikan kimiawi

Proses yang menyangkut perubahan spontan struktur internal, komposisi kimia,


kerapatan, dari seterusnya misalnya:

1. Reaksi kimia
2. Difusi dua macam gas ideal yang lembam
3. Pencampuran alkohol dan air
4. Membekunya cairan sangat dingin
5. Pengembunan uap sangat jenuh
6. Pelarutan zat padat dalam air
7. Osmosis

Anggaplah difusi dua macam gas ideal yang lembam setara dengan dua proses
pemurnian bebas yang terpisah, yang utuk salah satu proses berlaku,

Vf
S=nR ln
Vi

Dengan mengambil satu mol masing-masing gas dengan Vi = v dan Vf = 2v, kita
dapatkan

S=2 R ln 2
Kuantitas ini merupakan bilangan positif. Semua hasil dirangkum dalam tabel 8.1.
Tabel 8.1 Perubahan entropi semesta akibat proses alamiah

Jenis ke tak Proses Perubahan Perubahan Perubahan


terbalikkan takterbalikkan entropi entropi entropi
sistem lingkungan semesta
S( sis) lokal S
S(lokal)
Ketakterbalikka Lesapan 0 W
n mekanis isoterm dari W T
eksternal kerja melaui T
sistem menjadi
energi internal
sebuah tandon
Lesapan T 0 Tf
adiabat dari C p ln f C p ln
Ti Ti
kerja menjadi
energi internal
sistem
Ketakterbalikka Pemuaian Vf 0 Vf
n mekanis bebas gas ideal nR ln nR ln
Vi Vi
internal
Ketakterbalikka Pemindahan 0 Q Q Q Q

n termal kalor melalui T2 T1 T2 T1
eksternal medium dari
tandon panas
ke tandon lebih
dingin
Ketakterbalikka Difusi dua 2R ln 2 0 2 R ln 2
n kimia macam gas
ideal yang
lembam

G. Entropi dan keadaan takseimbang

Perhitungan perubahan yang berkaitan dengan proses takterbalikan yang dibahas


dalam pasal 8.6 tidak menimbulkan kesukaran khusus karena, lam semua hal
sistem tidak berubah sama sekali (dalam hal ini hanya perubahan entropi tandon
yang harus dihitung). Atau juga pada keadaan akhir sistem itu adalah keadaan
setimbang yang dapat dihubungkan dengan proses terbalikan yang sesuai. Namun,
tinjaulah proses yang menyangkut ketakterbalikan termal internal berikut ini.
Sebatang penghantar termal yang pada mulanya mempunyai distribusi temperatur
takmerata karena ujungnya bersentuhan dengan tandon panas dan ujung lain
bersentuhan dengan tandon dingin, kita pisahkan dari tandon, disekat secara
termal, dan dijaga supaya tekanannya tetap. Aliran internal kalor akan menjadikan
batang itu bertemperatur serbasama, tetapi transisinya berlangsung dari keadaan
awal yang takseimbang ke keadaan akhir yang setimbang. Jelaslah bahwa kita
tidak bisa menemukan satu proses terbalikan yang dapat membawa sistem dari
keadaan awal ke keadaan akhir yang semula.

Temperatur akhir yang sama untuk semua potongan. Cara ini mendefinisikan
proses isobar terbalikan yang takterhingga banyaknya, yang bisa dipakai untuk
membawa sistem dari keadaan tekseimbang awal keadaan setimbang akhir. Jika
tidak ada suatu proses terbalikan yang bisa membawa sistem dari i ke f, kita bisa
mengambil proses terbalikan yang tak terhingga banyaknya satu untuk setiap
elemen volum.

Sebagai contoh, tinjaulah batang serbasama yang panjangnya L seperti yang


dilukiskan dalam gambar 8.4. suatu bagian volum pada x bermassa

dm= A dx

Dengan menyatakan kerapatan dan A luas penampang. Kapasitas kalor


potongan ini adalah

C p dm=C p A dx

Anggaplah distribusi temperatur awalnya linier, sehingga potongan pada x


memiliki temperatur awal

T 0+ T L
T f=
2
Jika tidak ada kalor yang hilang dan, supaya sederhana kita anggap, bahwa
konduktifitas termal, kerapatan, dan kapasitas kalor semua potongan tersebut
tetap, maka temperatur akhirnya ialah

T 0T L
T f=
2

Dengan mengintergrasikan Q/T ke seluruh perpindahan kalor secara isobar


terbalikan, antara elemen volum dan sederetan tandon yang temperaturnya antara
Ti hingga Tf untuk perubahan entropi satu elemen volum kita dapatkan

Tf
dT T
C p A dx =C p A dx ln f
Ti
T Ti

Tf
C p A dx
T T L
T o 0 x
L

Setelah diintegrasikan untuk seluruh panjang batang, kita dapatkan perubahan


entropi totalnya,
L
T 0 T 0T L
S=C p ln
0
( Tf

LTf
x dx )
Yang setelah diintegrasi dilakukan, kemudian disederhanakan maka

TL T0
S=Cp ( 1+ lnT f +
T 0T L
ln T L
T 0 T L
ln T 0 )
Untuk menunjukkan bahwa perubahan entropi positif marilah kita amabil harga
menarik untuk temperatur berikut : T0 = 400 K, TL = 200 K, maka temperatur
akhirnya ialah Tf = 300K, jadi

1
S=2,30 Cp ( 2,30 + 2,477+2,3012 2,602 )=0,019 Cp

Metode yyang sama dapat dipakai untuk menghitung perubahan entropi sebuah
sistem yang mengalami proses dari keadaan awal yang tak setimbang, yang
dikarakterisasi oleh distribusi tekanan yang tak merata, ke keadaan akhir yang
setimbang, yang tekanannya merata.
H. Prinsip pertambahan entropi

Perubahan entropi semesta yang berkaitan dengan setiap proses takterbaliakn yang
kita tinjau sampai sekarang ternyata positif. Jadi, kita dipaksa untuk percaya
bahwa bila mana proses takterbalikan terjadi, maka entropi semesta bertambah.
Untuk menegakkan dalil yang di kenal sebagai prinsip entropi ini secara umum,
kita cukup membatasi perhatian pada proses adiabat saja, karena telah kita lihat
bahwa prinsip entropi berlaku untuk semua proses yang menyangkut pemindahan
kalor takterbalikkan. Kita mulai bukti ini dengan meninjau kasus khusus dari
proses takterbalikkan adiabat di antara dua keadaan setimbang dari suatu system.

1
ln ( a+bx ) dx= b ( a+ bx ) ln ( a+ bx )x
Konsep dasar

1. Sebagaimana lazimnya, misalkan system ini memiliki tiga koordinat bebas


T, X, dan XI dan keadaan awalnya di gambarkan oleh titik i pada diagram yang di
perlihatkan dalam gambar 8.5. misalkan system itu mengalami proses adiabat tak
terbalikkan ke keadaan f, maka perubahan entropinya ialah

S=S f - Si

Perubahan temperature bisa terjadi, bisa juga tidak. Untuk kedua kemungkinan
itu, marilah kita buat system itu mengalami proses adiabat terbalikkan f k
dalam arah sedemikian sehingga temperaturnya menjadi sama dengan temperature
tendon yang telah kita pilih, misalnya temperature T. Sekarang misalkan system di
sentuhakan pada tendon itu, system mengalami proses isotherm terbalikkan k
j , sehingga entropinya sama dengan semula. Proses adiabat terbalikkan
akhir j i akan membawa system itu ke keadaan awalnya.
Perubahan entropi neto daur ulang ini adalah nol dan hanya terjadi ketika dua
proses i f dan k j berlangsung. Akibatnya

(Sf Si) + (Sj - Sk ) = 0

Jika S menyatakan perubahan entropi yang berkaitan dengan bagian


takterbalikkan dari daur

( S=S f - Si ), maka

S=S f - Sj

Satu-satunya pemindahan QR dalam daur ini terjadi selama proses isotherm


k j dengan

QR = TI(Sj Sk)

Jumlah kerja neto W (neto) telah di lakukan dalam suatu daur dengan

W (neto) = QR

Jelaslah dari hokum kedua termodinamika bahwa kalor Q R tidak bisa masuk ke
dalam system ini berarti QR tidak bisa positif karena jika hal ini terjadi kita akan
mempunyai proses daur yang tidak menghasilkan efek neto, melainkan hanya
penyerapan kalor dari suatu tendon dan kinerja sejumlah kerja yang setara dengan
itu. Jadi, QR 0, dan

T(Sj Sk) 0,
Dan akhirnya S0

2. Jika dianggap bahwa proses adiabat terbalikkan semula terjadi tanpa


perubahan entropi, kita bisa membawa system itu kembali ke i melalui satu proses
adiabatic terbalikkan. Lebih lanjut lagi, karena pemindahan kalor neto dalam daur
ini nol, maka kerja netonya nol. Jadi dalam kondisi ini, system dan lingkungannya
dapat di pulihkan ke keadaan semula tanpa menimbulkan perubahan apapun. Ini
berarti proses semula terbalikkan. Karena ini bertentangan dengan pernyataan
semula, entropi system harus berubah. Jadi,

S>0
3. Dimisalkan sistem tidak homogen dan temperatur maupun tekanannya tidak
serba sama, dan sistem mengalami proses adiabatik reversible. Dianggap sistem
bisa dibagi menjadi beberapa bagian dan kita bisa menentukan temperatur,
tekanan, komposisi, dan seterusnya untuk masing-masing bagian tergantung
koordinatnya, maka kita dapat mendefinisikan entropi sistem keseluruhan sebagai
jumlahan dari entropi masing-masing bagian. Jika dianggap bahwa kita dapat
mengembalikan masing-masing bagian kembali ke keadaan semula maka S
sistem keseluruhan adalah positif.

Kita harus mengambil dua anggapan, yaitu:

1. Entropi sistem boleh didefinisikan dengan cara membagi sistem menjadi


bagian-bagiannya dan menjumlah semua entropi dari bagian sistem ini,

2. Proses terbalikkan bisa diperoleh atau campuran dapat dipisahkan kembali


serta reaksi dapat berlangsung dalam arah yang berlawanan.

Kelakuan entropi semesta sebagai hasil proses jenis apapun.

Dapat dinyatakan: s 0

I. Penerapan Prinsip Entropi dalam Teknik

Bila proses irreversible terjadi, entropi semesta bertambah.


1. Kita tinjau mesin kalor yang menjalani suatu daur sembarang seperti
terlihat pada gambar di bawah ini. Mesin mengambil kalor Q dari tandon pada
temperatur TH memberikan sejumlah kerja W, dan membuang kalor Q-W ke
tandonyang lebih dingin pada temperatur Tc. Menurut prinsip entropi,

s (semesta) = Q-W - Q 0
Tc TH

atau W Q Tc Q ;
TH

Tc
Sehingga W maks = Q ( 1
TH ( )
Karena W maks/Q adalah efisiensi maksimum mesin yang mengambil sebuah
kalor Q dari tandon TH dan yang membuang kalor ke sebuah tandon pada Tc, dan
karena 1- Tc/TH adalah efisiensi mesin carnot maka didapat bahwa efisiensi
maksimum setiap mesin yang bekerja diantara sepasang tandon adalah efisiensi
mesin efisiensi mesin Carnot yang bekerja di antara pasangan tandon yang sama.

Tandon pada TH Tandon pada T

Q Q+W

W Pesawat
W
Pendingin

Q-W Q
Benda yang
Tandon pada Tc
temperaturnya akan
diturunkan dari T1 ke
T2

2. Misalkan kita ingin membekukan air atau mencairkan udara, maka kita
turunkan temperatur benda yang massanya berhingga dari T1 = T
lingkungan ke T2 yang dikehendaki.
Kita buat daftar perubahan entropi berikut:
s benda = S2 S1
s zat pendingin = 0

Dan s tandon = Q+W


T1
Dengan menerapkan prinsip entropi,

S2 S1 + Q + W 0
T1
Sehingga W T1 (S1 S2) Q

Dapat disimpukan bahwa harga W terkecil adalah

W (min) = T1 (S1 S2) Q

J. Entropi dan energi tak tersedia

Misalkan sejumlah kalor Q dapat diambil dari sebuah tandon pada


temperature T. Dan kita ingin mengkonversikan kalor ini sebanyak mungkin
menjadi kerja. Jika T0 temperature tandon terdingin yang kita miliki, maka

T0
W ( maks )=Q (1 )
T

Menyatakan jumlah energi maksimum yang tersedia untuk dijadikan kerja bila Q
satuan kalor diambil dari tandon bertemperature T. Jadi jelaslah bahwa setiap
energi yang tinggal dalam tandon T0 dan hanya bisa diambil dalam bentuk kalor.
Kita dapat menegakkan dalil bahwa bilamana proses tak terbalikkan terjadi, efek
pada semesta sama dengan efek yang ditimbulkan jika sejumlah energi tertentu
dikonversikan dari bentuk yang sepenuhnya tersedia untuk dijadikan kerja
menjadi bentuk yang sama sekali tak tersedia untuk dijadikan kerja. Jumlah
energi E ini ialah T0 kali perubahan entropi semesta yang ditimbulkan oleh proses
tak terbalikan ini.

Misalkan kalor Q dihantarkan sepanjang batang dari daerah bertemperature T 1 ke


daerah bertemperature T2. Setelah terjadi penghantaran, kita mempunyai kalor Q
yang tersedia pada temperature yang lebih rendah T 2, dan jumlah kalor ini yang
tersedia untuk kerja:
T0
Kerja maksimum setelah penghantaran = Q 1 ( T2 )
Jika penghantaran tidak terjadi, kalor Q akan tersedia pada temperature yang lebih
tinggi T1, dan jumlah maksimum kerja yang bisa diperoleh ialah

T0
Kerja maksimum sebelu penghantaran = Q(1 )
T1

Jelas, jumlah energi E yang menjadi tak tersedia untuk kerja ialah selisihnya

T0 T0
E=Q 1( T1 ) (
Q 1
T2 )
T 0 ( TQ2 TQ1 )
= T0 S

Kebenaran dalil itu telah untuk hal khusus mengenai penghantaran kalor. Karena
kita tidak bisa menangani semua proses takterbalikkan dengan cara yang
sederhana, kita harus mengambil pandangan yang lebih abstrak untuk
menegakkan dalil itu secara umum.

Tinjaulah suatu gawai mekanis, misalnya benda yang tergantung atau pegas yang
tertekan, yang mampu melakukan kerja pada suatu sistem. Misalkan sistemnya
bersentuhan dengan sebuah tandon pada temperatur T merupakan lingkungan
lokal dari sistem itu. Misalkan suatu proses takterbalikkan terjadi sehingga gawai
mekanis melakukan kerja W pada sistem, energi internal sistem berubah dari Ui ke
Uf dan kalor Q dipindahkan dari tandon ke sistem itu. Menurut hukum pertama

Q=U f U tW

Dan hukum kedua,

S f Si (sistem dan lingkungan lokal)>0

Sekarang kita ingin menimbulkan perubahan yang tepat sama dalam sistem dan
lingkungan lokal yang timbul akibat terjadinya proses takterbalikkan, tetapi hanya
dengan proses terbalikkan saja. Untuk melakukan hal itu, perlu pelayanan dari
mesin carnot dan pesawat pendingin yang harus dijalankan dalam hubungannya
dengan gawai mekanis yang khusus serta tandon yang khusus. Sebagai gawai
mekanis yang khusus ini sebagaimana biasa kita ambil benda yang bergantung
atau pegas yang tertekan. Untuk tandon khusus, pilih temperatur yang terendah
katakan To. Ini meruoakan lingkungan bantunya. Dengan pertolongan mesin
Carnot yang cocok dan pesawat pendingin Carnot yang cocok yang bekerja dalam
daur, sehubungan dengan lingkungan bantunya, kita dapat menimbulkan pada
sistem dan lingkungan lokalnya, dengan proses terbalikkan saja, perubahan yang
sama dengan perubahan yang terjadi dalam proses takterbalikkan semula. Jika
halini terlaksanakan, perubahan entropi sistem dan lingkungan lokal sama saja
dengan semula, karena prosesnya berlangsung dari keadaan awal ke keadaan akhir
yang sama. Namun lingkungan bantunya mengalami perubahan entropi semesta
selama proses terbalikkan berlangsung adalah nol.

Karena perubahan enropi sistem dan lingkungan lokalnya adalah positif,


perubahan entropi lingkungan bantunya negatif. Jadi tandon temperatur T0 harus
memberikkan sejumlah kalor, katakan E. Karena tidak ada energi tambahan yang
muncul dalam sistem dan lingkungan lokal, maka enregi E telah diubah menjadi
kerja pada gawai mekanis bantu. Jadi kita dapatkan hasil bahwa bila perubahan
yang sama dengan perubahanyang dihasilkan dalam sistem dan lingkungan lokal
melalui proses tak terbalikkan dilaksanakansecara terbalikkan, sejumlah energi E
meninggalkan tandon bantu yang bertemperatur To dalam bentuk kalor, dan
muncul dalam bentuk kerja pada gawai mekanis bantunya. Dengan kata lain
energi E dikonversikan dari bentuk yang sama sekali tak tersedia ke dalam bentuk
yang sepenuhnya tersedia untuk kerja. Karena proses semula tidak dilakukan
secara terbalikkan, energi E tidak diubah menjadi kerja, jadi E adalah energi yang
taktersedia-untuk-kerja yang timbulkan akibat dilaksanakannya proses
takterbalikkan.

Dengan mudah kita dapat menghitung energi yang menjadi taktersedia selama
proses takterbalikkan. Jika perubahan yang sama dilaksanakan secara
terbalikkan, perubahan entropi sistem dan lingkungan lokalnya sama seperti
sebelumnya, yaitu S f Si . Perubahan entropi lingkungan bantu sama dengan
perubahan entropi tandon bantu yang timbul karena pembuangan E satuan kalor
pada temperatur T0 , yaitu E/T0. Karena jumlah perubahan entropi dari sistem,
lingkungan lokal, dan lingkungan bantuannya nol, maka:

E
S f Si =0 ;
T0

Sehingga E=T 0 ( S f Si )

Jadi energi yang menjadi taktersedia-untuk-kerja ketika proses tak terbalikkan


berlangsung adalah T0 kali perubahan entropi semesta yang ditimbulkan oleh
proses tak terbalikkan itu. Karena tiak ada energi yang menjadi taktersedia-untuk-
kerja ketika proses terbalikkan berlangsung maka kerja maksimum diperoleh
ketika proses terbalikkan berlangsung.

karena proses takterbalikkan terus menerus berlangsung dalam alam, maka energi
terus menerus berubah menjadi bentuk yang tersedia-untuk-kerja. Kesimpulan
yang dikenal sebagai prinsip degradasi energi yang mula-mula dikembangkan
oleh Kelvin menyajikan tafsiran fisis penting mengenai perubahan entropi
semesta. Perlu dipahami bahwa energi yang menjadi tak tersedia-untuk-kerja
bukanlah energi yang hilang. Hukum pertama selalu berlaku. Energi hanya
ditransformasi dari satu bentuk ke bentuk lainnya.

K. Entropi dan ketakteraturan

Seperti yang telah diketahui konsep kerja yang dipakai dalam


termodinamika adalah konsep mikroskopik, jadi harus berkesinambungan dengan
koordinat makroskopik. Ketidakteraturan gerak molekul yang melawan gaya
antar molekul tidak termasuk dalam sistem kerja karna sistem kerjanya hanya
mengangkut gerak yang teratur saja. Jika energi dibebaskan menjadi energi
internal maka gerak yang tak beraturan molekul semakin bertambah. Jadi, saat
lesapan isoterm atau adiabat menjadi energi internal berlangsung, gerak rambat
molekul dari tandon akan bertambah. Dengan demikian proses tersebut terjadi
pengangkutan transisi dari keteraturan menuju ketidakteraturan. Dapat kita
simpulkan bahwa semua proses alamiah didapatkan kecenderungan alam untuk
mengikuti proses menuju ke keadaan yang ketidakteraturannya lebih besar.
Dengan kata lain, dapat dinyatakan pula bahwa entropi sistem atau tandon adalah
ukuran derajat kerambangan molekular yang ada dalam sistem atau tandon. Dan
kerambangan suatu sistem dapat dihitung dari teori peluang dan diungkapkan
sebagai kuantitas yang dikenal sebagai peluang termodinamik.

Hubungan antara entropi dan kerambangan :

S = Tetapan In

Dengan persamaan diatas menunjukkan bahwa entropi dalam keadaan tak


setimbang yang bersesuaian dengan derajat kerambangan tertentu, jadi
bersesuaian dengan entropi tertentu.

L. Entropi dan arah ; entropi mutlak

Suatu proses selalu berlangsung dalam arah yang menimbulkan


pertambahan entopi semesta. Dalam sistem terisolasi , entropi sistem cenderung
bertambah. Jadi untuk mencari keadaan setimbang sistem yang terisolasi kita
hanya perlu menjadikan entropi sebagai fungsi koordinat tertentu . dan bila sistem
tidak terisolasi, maka ia harus mempertahankan temperatur dan tekanannya tetap
sehingga nantinya akan terjadi perubahan entropi lain. Kita juga dapat membuat
tabel entropi karna didalamnya nanti terdapat banyak gambar keadaan sistem yang
bermacam macam dengan bilangan yang sesuai dan nantinya akan didapatkan
keadaan baku mutlak dari suatu sistem sehingga dalam keadaan itu entropinya nol
dan didapatkan perubahan entropi dari keadaan nol ke setiap keadaan lain yang
menggambarkan keadaan mutlak dari entropi.

Plank mengemukakan bahwa entropi kristal tunggal suatu unsur murni pada
temperatur nil harus diambil nol. Namun, entropi nol mempunyai implikasi
statistik yang menyatakan secara kasar bahwa dalam keadaan itu tidak ada
ketakteraturan molekular , anatomik, elektronik, dan nuklir.
M. Aliran entropi dan produksi entropi

Tinjaulah penghantar kalor sepanjang kawat tembaga yang terletak antara tandon
yang panas pada temperatur T1 dan tandon yang lebih dingin pada T 2 .

Andaikanlah arus kalor atau laji aliran kalor di lambangkan dengan I Q . Dalam
tiap satuan waktu , tendon yang panas mengalami entropi I Q / T 1 dan kawat
tembaga mengalami perubahan entropi. Hal ini di sebutkan karena sekali kawat
itu mencapai keadaan tunak, koordinat termodinamikanya tidak mengalami
perubahan , dan tendon yang lebih dingin mengalami kenaikan entropi I Q /
T 1 . Perubahan entropi semeata tiap satuan waktu ialah I Q / T 2 -
I Q /T 1 yang tentu saja positif.

Namun, proses ini dapat dilihat dari sudut pandang yang perhatiannya terpusat
pada kawat, dan buka pada semesta. Karena tendon yang panas mengalami
penurunan entropi,k ita dapat mengatakan bahwa tendon kehilangan entropi
melalui kawat, atau terjadi aliran entropi melalui kawat sebesar I Q / T 1 per
satuan waktu. Karena tendon yang lebih dingin mengalami kenaikan entropi ,
dapat dinyatakan tendon ini mengambil entropi dari kawat , atau terdapat aliran
entropi yang keluar dari kawat yang sama dengan I Q / T 2 per satuan
waktu. Tetapi I Q / T 2 lebih besar dari I Q /T 1 , sehingga pandangan ini
membawa pada suatu situasi yang menyatakan bahwa aliran entropi yang keluar
dari kawat melebihi yang masuk. Jika kita dapat menganggap entropi sebagai
kuantitas yang dapat mengalir, kita perlu mengaggap bahwa entropi dihasilkan
atau ditimbulkan di dalam kawat tersebut dengan laju yang cukup untuk
mengimbangi perbedaan antara laju keluar dan laju masuk. Jika laju produksi
entropi didalam kawat dapat ditulis ds / d , kita dapatkan

IQ IQ T 1T
ds 2

= - = IQ T 1 .T 2
d T2 T1

Jika temperature tandonnya T+ T dan T , sehingga hanya terdapat pada


perbedaan temperature yang kecil antara kedua ujung kawat itu, maka,

ds T IQ T
=I Q =
d T2 T T

Karena I Q menyatakan arus kalor, kita dapat menafsirkan I Q / T sebagai


arus entropi , atau

IQ
Is =
T
Jika, dapatkan hasil yang menyatakan bahwa jika kalor di hantarkan sepanjang
kawat yang perbedaan temperature kedua ujungnya T entropi mengalir
melalui kawat dengan laju I s dan timbul didalam kawat dengan laju

ds T
= Is
d T

Sekarang andaikan ada beda potensial, , antara kedua ujung kawat yang
menyebabkan arus listrik I tetap mengalir pada kawat yang sama yang
bersentuhan dengan tendon bertemperatur T. Energi listrik I dibuang
dalam kawat tiap satuan waktu dank kalor keluar dari kawat dengan laju I .
I
Perubahan entropi semesta per satuan waktu ialah yang merupakan
T
bilangan positif. Produksi entropi dalam kawat terjadi dengan laju

ds
=I
d T

Entropi di timbulkan dalam kawat oleh aliran kalor dan aliran listrik dengan laju

ds T
= Is +I
d T T