Anda di halaman 1dari 13

PENGARUH TERAPI TAWA TERHADAP KUALITAS TIDUR

LANSIA DI UNIT PELAYANAN UMUM (UPT) PELAYANAN


SOSIAL LANJUT USIA (PSLU) PUGER
KABUPATEN JEMBER

PROPOSAL SKRIPSI

Oleh:
Ananta Erfrandau
NIM 122310101015

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2016
PENGARUH TERAPI TAWA TERHADAP KUALITAS TIDUR
LANSIA DI UNIT PELAYANAN UMUM (UPT) PELAYANAN
SOSIAL LANJUT USIA (PSLU) PUGER
KABUPATEN JEMBER

PROPOSAL SKRIPSI

diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi salah satu syarat
umtuk menyelesaikan Program Studi Ilmu Keperawatan (S1) dan
mencapai gelar Sarjana Keperawatan

Oleh:
Ananta Erfrandau
NIM 122310101015

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2016

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Menurut World Health Organisation (WHO) lansia adalah seseorang yang

telah memasuki usia 60 tahun keatas. Lansia merupakan kelompok umur pada

manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya. Kelompok

yang dikategorikan lansia ini akan terjadi suatu proses yang disebut aging process

atau proses penuaan.

Menurut WHO (2016) populasi lansia di dunia pada tahun 2015 sebesar

901 juta, jumlah tersebut meningkat dari 48 % dari tahun 2000 atau dengan

jumlah 607 juta. Tahun 2030 diprediksikan meningkat sebesar 56 % atau 4,1

miliar, dan pada tahun 2050 diprediksikan akan meningkat menjadi 2,1 miliar.

Tujuh negara dengan lansia terbanyak adalah Amerika Latin, Karibia, Asia,

Afrika, Oceania, Northern America, dan Eropa. Jumlah lansia Amerika Latin dan

Karibia diprediksikan 71 persen, diikuti oleh Asia 66 persen, Afrika 64 persen,

Oceania 47 persen, Northern America 41 persen dan Eropa 23 persen. Menurut

WHO total populasi penduduk di Asia Tenggara pada tahun 2010 jumlah Lansia

24 juta (9,77%), dan diprediksikan pada tahun 2020 jumlah lansia akan mencapai

28.8 juta (11,34%) (Kementerian Kesehatan RI, 2013)

Penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2007 sejumlah 18,7 juta jiwa,

tahun 2009 sejumlah 20,5 juta, dan pada tahun 2010 meningkat menjadi 23,9 juta

jiwa (9,77 %) dengan usia harapan hidup 67,4 tahun (Kementerian Kesehatan RI,

2013). Tahun 2011 usia harapan hidup lansia di Indonesia meningkat menjadi

69,95 tahun (Dewi, 2014:2). Tahun 2014 meningkat menjadi 26,8 juta dan tahun

2020 diprediksikan jumlah lanjut usia mencapai 28,8 juta jiwa (11,34 %) dengan

usia harapan hidup 73,7 tahun (Kementerian Kesehatan RI, 2013). Menurut
laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), usia harapan hidup di Indonesia pada

tahun 2045-2050 mencapai 77,6 tahun (dengan persentase lansia di Indonesia

mencapai 28,68%) (Dewi, 2014:2).

Provinsi di Indonesia yang paling banyak penduduk lanjut usia adalah

Daerah Istimewa Yogyakarta (12,48%), Jawa Timur (9,36%), Jawa Tengah

(9,26%), Bali (8,77%), Jawa Barat (7,09%) (Dewi, 2014:3). Menurut Dinas

Kesehatan Kabupaten Jember (2011) Kabupaten Jember adalah salah satu

kabupaten di Jawa Timur dengan jumlah penduduk sebesar 2.332.726 jiwa dan

10,9% diantaranya adalah lansia, atau sekitar 254.350 jiwa (Rohmawati, 2013)

Pada tahun 2011 Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat

menyatakan bahwa jumlah lansia yang banyak di Indonesia haruslah ditangani

secara keseluruhan dengan memperhatikan kebutuhan lansia. Kebutuhan fisiologis

dasar manusia yang harus dipenuhi, yaitu higiene, nutrisi, kenyamanan,

oksigenasi, cairan elektrolit, eliminasi urin, eliminasi fekal, dan tidur (Potter &

Perry, 2005:1332). Kebutuhan dasar yang sering kali tidak disadari peranannya

adalah kebutuhan istirahat dan tidur (Erliana, et al 2009).

Tidur adalah keadaan saat terjadinya proses pemulihan bagi tubuh dan otak

serta sangat penting terhadap pencapaian kesehatan yang optimal (Maas, 2011).

Kebutuhan tidur merupakan kebutuhan primer yang menjadi syarat dasar bagi

kelangsungan hidup manusia (Asmadi, 2008:132). Kebutuhan tidur setiap orang

berbeda-beda, usia lanjut membutuhkan waktu tidur 6 jam perhari (Asmadi,

2008:138). Kebutuhan untuk tidur pada usia 60 tahun yaitu enam setengah jam

dan pada usia 80 tahun yaitu 6 jam (Amir, 2007). Pada kelompok lanjut usia (60

tahun), ditemukan 7% kasus yang mengeluh mengenai masalah tidur (hanya dapat

tidur tidak lebih dari lima jam sehari. Hal yang sama ditemukan pada 22% kasus
pada kelompok usia 70 tahun, kelompok lanjut usia lebih banyak mengeluh

terbangun lebih awal dan 30% dari kelompok lanjut usia tersebut banyak yang

terbangun di malam hari. Angka ini ternyata tujuh kali lebih besar dibandingkan

dengan kelompok usia 20 tahun (Nugroho, 2008:53).

Proses penuaan membuat lansia lebih mudah mengalami gangguan tidur,

selain mengakibatkan perubahan normal pada pola tidur dan istirahat lansia

(Maas, 2011). Secara individu, pengaruh proses menua juga menimbulkan

berbagai masalah baik secara fisik, biologis mental maupun sosial ekonomi

(Maas, 2011). Hal ini menyebabkan lansia mudah sekali mengalami stress dan

depresi, yang akan berdampak pada tidur lansia. Lansia lebih mudah terjaga oleh

stimulasi internal atau eksternal, perubahan siklus sirkadian dan perubahan

keadaan hormonal juga menyebabkan jam biologik lansia lebih pendek, fase tidur

lebih maju, sehingga lansia memulai tidur lebih awal dan bangun lebih awal pula

(Prayitno, 2002).

Prevalensi gangguan tidur pada lansia cukup tinggi yaitu sekitar 67%.

Insomnia merupakan gangguan tidur yang paling sering ditemukan. Setiap

tahun diperkirakan sekitar 20%-50% orang dewasa melaporkan adanya

gangguan tidur dan sekitar 17% mengalami gangguan tidur yang serius.

Walaupun demikian, hanya satu dari delapan kasus yang menyatakan bahwa

gangguan tidurnya telah didiagnosis oleh dokter (Amir, 2007). Penelitian

Erliana, et al (2009) menyatakan lansia sering mengeluh gangguan tidur, setiap

hari lansia sudah mulai melakukan aktivitas (mandi jam 3 pagi), mengeluh pusing

dan lemas. Hasil wawancara dari 10 orang lansia, 7 diantaranya tidak bisa tidur.

Dalam sehari hanya tidur 2-3 jam pada waktu siang hari saja, mata nampak merah

dan sering menguap. Penelitian Mading (2015) berdasarkan hasi penelitian l43
orang lansia yang mengalami insomnia. Responden penelitian semuanya adalah

lansia yang mengalami insomnia. Salah satu perubahan yang paling sering

dijumpai adalah kesulitan memulai tidur, kesulitan menahan tidur, sering terjaga

dipertengahan malam dan sering terbangun diawal pagi. Sebuah survei di

Amerika Serikat yang dikutip oleh yang dilakukan pada 428 lansia yang

tinggal dalam masyarakat, sebanyak 19% subjek mengaku bahwa

mereka sangat mengalami kesulitan tidur, 21% merasa mereka tidur terlalu

sedikit, 24% melaporkan kesulitan tertidur sedikitnya sekali seminggu, dan 39%

melaporkan mengalami mengantuk yang berlebihan di siang hari (Maas,

2011) Penelitian Kusuma, et al (2013) prevalensi lansia sejumlah 66 orang lansia

yang tinggal di Panti Werda Pelkris Pengayoman Semarang. Terdapat 11 orang

lansia laki-laki dan lansia perempuan yang berjumlah 55 orang mmengalami

gangguan tidur (insomnia).

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti, diperoleh

informasi dari petugas kesehatan klinik Panti Sosial Lanjut Usia (PSLU) Jember

mengatakan bahwa lansia di PSLU Jember berjumlah 140 orang lansia dengan

rentang usia 60-90 tahun. Karakteristik lansia di UPT PSLU Jember dibagi

menjadi tiga yaitu perawatan mandiri, perawatan partial, dan perawatan total.

Jumlah lansia dengan perawatan mandiri adalah sejumlah 70 lansia. Masalah

kesehatan yang terjadi pada lansia tidak hanya masalah fisik tetapi juga masalah

psikologis. Masalah kesehatan fisik yang dialami lansia seperti hipertensi,

rematoid artritis, gatal-gatal, dan stroke. Masalah psikologis yang terjadi pada

lansia antara lain demensia, stres, kesepian dan lain sebagainya.

Petugas tersebut juga menyampaikan banyak lansia yang mengalami

gangguan tidur seperti sulit tidur, bangun lebih awal, dan terlalu banyak tidur pada
siang hari. Wawancara terhadap 15 orang lansia didapatkan 11 lansia mengaku

bahwa mengalami sulit tidur di malam hari, bangun lebih awal, dan sering tidur

pada siang hari. Para lansia mengaku bahwa sering tidur malam dan bangun

terlalu pagi. Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas kesehatan di UPT

PSLU Jember, penatalaksanaan gangguan tidur pada lansia sampai saat ini belum

ada, baik dari sisi farmakologi maupun nonfarmakologis.

Terapi farmakologi yang biasa digunakan dan dianggap paling efektif

adalah obat tidur, dimana jika digunakan secara terus- menerus akan mengalami

ketergantungan (Soemardini, et al 2013). Terapi nonfarmakologi yang dapat

dilakukan adalah dengan mind-body therapy yaitu memberikan intervensi dengan

berbagai teknik untuk memfasilitasi kapasitas berpikir yang mempengaruhi gejala

fisik dan fungsi tubuh yaitu salah satunya adalah terapi tawa (Suardi, 2011).

Terapi tawa merupakan metode terapi dengan menggunakan humor dan

tawa untuk membantu individu menyelesaikan masalah, baik dalam bentuk

gangguan fisik maupun gangguan mental. Penggunaan tawa dalam terapi akan

menghasilkan perasan lega pada individu. Ini disebabkan tawa secara alami meng

hasilkan pereda stres dan rasa sakit (Dumbro , 2012). Pemberian stimulasi humor

dalam pelaksanaan terapi diperlukan untuk membantu beberapa orang yang

mengalami kesulitan memulai tertawa tanpa adanya alasan yang jelas. Stimulasi

humor yang dimaksud dapat diberikan dalam bentuk berbagai media, seperti

VCD, notes, badut, dan komik. Apabila stimulasi humor tersebut diberikan

sebagai satu-satunya stimulus untuk menghasilkan tawa dalam setting terapi,

maka terapi yang diberikan akan disebut sebagai terapi humor, namun jika

dikombinasikan dengan hal-hal lain dalam rangka menciptakan tawa alami


(misalnya dengan yoga atau meditasi) akan disebut sebagai terapi tawa (Kataria,

2004:).

Terapi tawa (laughter therapy) mampu menghambat sekresi ACTH dan

kortisol (Simanungkalit dan Pasaribu, 2007). Terapi tawa (laughter therapy)

mengakibatkan detak jantung menjadi lebih cepat, tekanan darah meningkat dan

kadar oksigen dalam darah akan bertambah akibat nafas bertambah cepat,

menurunkan sekresi ACTH dan kadar kortisol dalam darah, sekresi ACTH yang

menurun akan merangsang peningkatan produksi serotonin dan endorfin otak

yang mengakibatkan perasaan yang nyaman rileks, dan senang (Kataria, 2004).

Menurut penelitian Joseph dan Riaz (2015) dengan terapi tawa lansia

sebanyak 81% lansia depresi menjadi tidak mudah marah, dapat mengatasi

kecemasan, ketegangan dan gangguan tidur dengan baik. Menurut Kim et al.

(2015) dalam penelitiannya terapi tawa efektif dalam menurunkan kecemasan,

depresi, dan stres yang diukur dengan Numerical Rating Scale (NRS) pada pasien

kanker payudara yang menjalani pengobatan radiasi dibandingkan dengan

kelompok kontrol. Penelitian Bannett et al. (2015) menemukan ada perubahan

signifikan pada skor Mean Arterial Pressure ( MAP) pasca dialisis pada pasien

dengan End Stage Kidney Disease (ESKD) terkait dengan pemberian terapi tawa

dibandingkan dengan kelompok kontrol. Penelitian ini telah menunjukkan bahwa

terapi tawa aman, murah, dan mudah dilakukan. Terapi tawa juga berguna untuk

meningkatkan mood dan mengurangi kecemasan pasien dengan ESKD dalam

terapi hemodialisis. Penelitian Iting et al. (2012) menjelaskan bahwa rata-rata

gejala depresi sebelum terapi tertawa adalah 28.27 dengan standar deviasi

3.863. Rata-rata gejala depresi sesudah terapi tertawa 24.50 dengan standar

deviasi 3.901 dengan kata lain terapi tertawa efektif menurunkan gejala depresi
pada lansia. Hal ini diketahui berdasarkan analisa kuantitatif yang menunjukkan

bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada skor gejala depresi pada lansia

sebelum dan sesudah diberikan terapi tertawa. Penelitian Sari (2014) menyebutkan

hasil sebelum diberi terapi tertawa menunjukkan bahwa mayoritas usia lanjut di

PSTW Yogyakarta Unit Budi Luhur yang memiliki insomnia yaitu masuk dalam

kategori insomnia sedang sebanyak 6 orang (42,9%) dan pada kategori insomnia

berat sebanyak 8 orang (57,1%). Hasil yang didapatkan setelah dilakukan terapi

tawa menunjukkan bahwa mayoritas usia lanjut di PSTW Yogyakarta Unit Budi

Luhur yang memiliki insomnia menurun secara keseluruhan yaitu dalam kategori

tidak insomnia terdapat sebanyak 4 orang (28,6%), pada kategori insomnia ringan

sebanyak 8 orang (57,2%), dan pada insomnia sedang terdapat 2 orang (14,3%).

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah pengaruh

terapi tawa terhadap kualitas tidur pada lansia di UPT PSLU Jember?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dalam penelitian ini yaitu menganalisis pengaruh terapi tawa

terhadap kualitas tidur pada lansia di UPT PSLU Jember.


1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus dalam penelitian ini meliputi:
a. Mengidentifikasi karakteristik lansia di UPT PSLU Jember yang meliputi jenis

kelamin dan usia;


b. Mengidentifikasi kualitas tidur lansia di UPT PSLU Jember sebelum dan

setelah dilakukan terapi tawa;


c. Mengidentifikasi kualitas tidur lansia di UPT PSLU Jember pada observasi

awal dan akhir yang tidak mendapatkan terapi tawa;


d. Mengidentifikasi perbedaan kualitas tidur lansia di UPT PSLU Jember sebelum

dan sesudah pemberian terapi tawa;


e. Mengidentifikasi perbedaan kualitas tidur lansia di UPT PSLU Jember pada

observasi awal dan akhir yang tidak mendapatkan terapi tawa;


f. Menganalisis perbedaan kualitas tidur lansia di UPT PSLU Jember yang

mendapatkan terapi tawa dan yang tidak mendapatkan terapi tawa.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Bagi Institusi Kesehatan
Manfaat yang bisa diperoleh bagi instansi kesehatan adalah data dan hasil

yang diperoleh dapat dijadikan sumber informasi dan masukan untuk optimalisasi

program pencegahan dan penanganan gangguan tidur pada lansia. Data yang

didapatkan dari penelitian terkait dengan kualitas tidur pada lansia dapat dijadikan

masukan pada instansi kesehatan setempat bahwa kebutuhan tidur pada lansia juga

penting untuk dipenuhi selain kebutuhan dasar lansia lainnya.

1.4.2 Bagi Peneliti

Memberikan tambahan pengetahuan mengenai pengaruh terapi tawa

terhadap kualitas tidur pada lansia dan memberikan pengalaman mengenai cara

memberikan aplikasi praktik keperawatan yang baik terhadap klien lansia.

1.4.3 Bagi Keperawatan

Manfaat penelitian ini bagi keperawatan yaitu hasil penelitian ini diharapkan

dapat memberikan peningkatan terhadap kualitas asuhan keperawatan khususnya

pada keperawatan gerontik. Peran perawat gerontik dalam penatalaksanaan

kualitas tidur pada lansia dapat lebih optimal dengan mengetahui pengaruh terapi

tawa terhadap kualitas tidur. Hal ini menjadi penting bagi lansia, karena kualitas

tidur yang baik dapat menunjang dalam peningkatan kualitas hidup lansia.

1.4.4 Bagi Instansi Pendidikan


Manfaat yang bisa diperoleh bagi instansi pendidikan adalah sebagai

tambahan referensi dan pengembangan penelitian, serta sebagai pedoman untuk

melakukan intervensi pada keperawatan gerontik.

1.5 Keaslian Penelitian

Penelitian terdahulu yang mendasari penelitian yang peneliti lakukan adalah

penelitian yang dilakukan oleh Ika Novita ari (2014) dengan judul Pengaruh

Pemberian Terapi Tertawa Terhadap Kejadian Insomnia pada Usia Lanjut Di

PSTW Yogyakarta Unit Budi Luhur. Penelitian pre eksperimen yang tidak

menggunakan kelompok kontrol. Metode pengambilan sampel dengan

menggunakan metode purposive sampling. Usia lanjut diberikan terapi tertawa

pada siang hari selama 7 hari berturut-turut. Metode pengumpulan data dengan

menggunakan kuesioner KSPBJ Insomnia Rating Scale. Hasil peneitian

berdasarkan uji statistik paired t-test didapatkan hasil nilai p = 0,000(p <0,05),

dengan taraf signifikansi sebesar 0,05, sehingga Ha diterima dan Ho ditolak

artinya terdapat pengaruh pemberian terapi tertawa terhadap kejadian

insomnia pada usia lanjut di PSTW Yogyakarta Unit Budi Luhur. Penelitian

terdahulu berbeda dengan penelitian saat ini. Perbedaan dengan penelitian saat ini

terletak pada variabel dependen yaitu kualitas tidur, variabel dependen pada

penelitian terdahulu adalah insomnia. Desain penelitian pada penelitian

sebelumnya menggunakan metode pre eksperimen design dengan one group

pretet postest design, sedangkan penelitian sekarang menggunakan quasy

experimental design dengan rancangan pretest posttest with control group. Metode

pengambilan sampel pada penelitian sebelumnya menggunakan purposive

sampling, sedangkan pada penelitian sekarang menggunakan simple random


sampling. Penelitian terdahulu dan sekarang mempunyai persamaan yaitu terletak

pada variabel independen yaitu terapi tawa.