Anda di halaman 1dari 12

REKAYASA POLITIK

(A-5)

KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN


MASYARAKAT PESISIR

(Studi Kasus di Serang, Banten)

PENYUSUN :
RIO PRATAMA (155120500111029)

PROGRAM STUDI ILMU POLITIK

JURUSAN PEMERINTAHAN POLITIK DAN HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2016
PENDAHULUAN

Kemiskinan merupakan fenomena sosial yang sering terjadi, Kemiskinan pada


umumnya ditandai dengan derita keterbelakangan, ketertinggalan, rendahnya produktivitas,
selanjutnya meningkat menjadi rendahnya pendapatan yang diterima. Hampir di setiap
negara, kemiskinan selalu terpusat di tempat-tempat tertentu, yaitu biasanya di pedesaan atau
daerah-daerah yang kekurangan sumber daya alam.

Berdasarkan data World Bank mengenai kemiskinan (2015), bahwa 121,76 juta orang
atau 46 persen dari total penduduk Indonesia dalam kondisi miskin dan rentan menjadi
miskin. Badan Pusat Statistik (BPS 2015), dengan perhitungan berbeda dari Bank dunia,
mengungkapkan angka kemiskinan di Indonesia sebesar 35,83 juta orang (15,27 persen).
Angka tersebut diperoleh berdasarkan ukuran garis kemiskinan ditetapkan sebesar 1,55 dollar
AS. Sebagian besar (62,52 persen) penduduk miskin di Indonesia berada di daerah pesisir dan
pedesaan.

Salah satu komunitas bangsa Indonesia yang teridentifikasi sebagai golongan miskin
saat ini adalah nelayan, dimana sedikitnya 14,58 juta jiwa atau sekitar 90 persen dari 16,2 juta
jumlah nelayan di Indonesia masih berada dibawah garis kemiskinan.1 Padahal negara
Indonesia adalah negara bahari yang pulau-pulaunya di kelilingi oleh lautan yang di
dalamnya mengandung berbagai potensi ekonomi khususnya di bidang perikanan, namun
sampai saat ini kehidupan nelayan tetap saja masih berada dalam jurang kemiskinan.

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan 75% wilayahnya berupa perairan laut
dengan panjang pantai mencapai 81.000 Km dan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) seluas
5.800.000 Km2. Dengan demikian, jika dibandingkan dengan negara-negara lain, maka luas
perairan Indonesia merupakan terbesar kedua setelah Amerika Serikat (Sipuk, 2004). Potensi
perikanan nasional hingga tahun 2007 berkisar 6,4 juta ton, 70% di antaranya berasal dari
perikanan tangkap.2

Menurut Kusnadi menyatakan secara geografis masyarakat nelayan adalah


masyarakat yang hidup, tumbuh, dan berkembang di kawasan pesisir, yakni suatu kawasan
transisi antara wilayah darat dan laut. Sebagai suatu sistem, masyarakat nelayan terdiri atas

1
Martadiningrat, 90% Nelayan Masih di Bawah Garis Kemiskinan. (Perum LKBN Antara: Harian
Antara, 2008)
2
http://www.academia.edu/8932529/PEMANFAATAN_SDIkan_SEBAGAI_MODEL_PERCEPATAN_PEM
BANGUNAN_DAERAH_KEPULAUAN diakses pada 29 oktober 2017
kategori-ketegori sosial yang membentuk kesatuan sosial. Mereka juga memiliki sistem nilai
dan simbol-simbol kebudayaan sebagai referensi perilaku mereka sehari-hari3

RUMUSAN MASALAH

1. Sejauh mana kebijakan pemerintah dapat menanggulangi kemiskinan bagi


masyarakat pesisir Serang, Banten?

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

1. Tujuan penelitian

Mengetahui peranan kebijakan pemerintah dalam menanggulangin kemiskinan bagi


masyarakat pesisir kabupaten lebak

2. Manfaat Penelitian
Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan bahan masukan dan
informasi yang sangat penting bagi pemerintah daerah dalam usaha
menanggulangi kemiskinan khususnya bagi masyarakat pesisir.
Manfaat Ilmiah
Hasil penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan kontribusi bagi
pengembangan ilmu khususnya ilmu pemerintahan yang berkaitan dengan
kebijakan pemerintah dalam usaha menanggulangi kemiskinan penduduk
khususnya bagi masyarakat pesisir.

KERANGKA TEORI

A. Konsep Kebijakan Pemerintah

Kebijakan pada hakekatnya terdiri dari tindakan yang saling terkait an berpola yang
mengarah pada tujuan tertentu yang dilakukan oleh seseorang. Miriam Budiardjo menulis
bahwa kebijakan (policy) merupakan hasil dari keputusan setelah melalui pemilihan alternatif
yang tersedia dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan
tertentu secara efektif.4

3
Kusnadi, Keberdayaan Nelayan dan Dinamika Ekonomi Pesisir. (Jember, 2008), 27.
4
Miriam Budiardjo, Partisipasi Politik, (PT Gramedia Jakarta, 1996)
Bayu Suryaningrat5 memberikan pengertian kebijakan sebagai berikut :

Hal bijaksana, kepandaian menggunakan akal budinya (pengalaman dan


pengetahuan)
Pimpinan dan cara bertindak (mengenai pemerintahan, perkumpulan dan
sebagainya)
Kecakapan bertindak bila menghadapi orang lain (kesulitan dan sebagainya).

Glasfell dan Kaplan dalam Hoogerwerf6 memberikan batasan dari kebijakan, yaitu
program mencapai tujuan, nilai-nilai dan tindakan-tindakan yang terarah. Sedangkan Frederik
mengartikan kebijakan adalah serangkaian tindakan yang diusulkan oleh seseorang,
kelompok, pemerintah, dalam suatu lingkungan tertentu dengan menunjukkan kesulitan
kesulitan dan kemungkinan-kemungkinan usulan kebijaksanaan tersebut dalam mencapai
tujuan.

B. Konsep Kemiskinan

Kemiskinan adalah suatu kondisi ketidakmampuan secara ekonomi untuk memenuhi


standar hidup rata-rata masyarakat di suatu daerah. Kondisi ketidakmampuan ini ditandai
dengan rendahnya kemampuan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan pokok baik berupa
pangan, sandang, maupun papan. Kemampuan pendapatan yang rendah ini juga akan
berdampak berkurangnya kemampuan untuk memenuhi standar hidup rata-rata seperti
standar kesehatan masyarakat dan standar pendidikan.

Kondisi masyarakat yang disebut miskin dapat diketahui berdasarkan kemampuan


pendapatan dalam memenuhi standar hidup.7 Pada prinsipnya, standar hidup di suatu
masyarakat tidak sekedar tercukupinya kebutuhan akan pangan, akan tetapi juga tercukupinya
kebutuhan akan kesehatan maupun pendidikan. Tempat tinggal ataupun pemukiman yang
layak merupakan salah satu dari standar hidup atau standar kesejahteraan masyarakat di suatu
daerah. Berdasarkan kondisi ini, suatu masyarakat disebut miskin apabila memiliki
pendapatan jauh lebih rendah dari rata-rata pendapatan sehingga tidak banyak memiliki
kesempatan untuk mensejahterakan dirinya.8

5
Bayu Suryaningrat, Pengantar Ilmu Pemerintahan (CV Rajawali Jakarta, 1989)
6
Hoogerwerf, Ilmu Pemerintahan, (Pradnya Paramita, 1983)
7
Heru Nugroho. Kemiskinan, Ketimpangan, dan Pemberdayaan. (Yogyakarta: Aditya Media, 1999)
8
Suryawati, C. Memahami Kemiskinan Secara Multidimensional. (http://www.jmpk-online.net, 2005)
METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu jenis penelitian yang memberikan
gambaran atau uraian suatu keadaan pada objek yang diteliti. Data yang terkumpul akan
dianalisa secara kualitatif. Jenis data kualitatif adalah data yang dinyatakan dalam bentuk.

PEMBAHASAN

Kemiskinan merupakan suatu kondisi hidup yang merujuk pada keadaan kekuangan.
Sering pula dihubungkan dengan kesulitan dan kekurangan dalam memenuhi kebutuhan
hidup. Seseorang dikatakan miskin, bila sudah kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya.
Selama ini, sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara
yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya
dari sudut ilmiah yang telah mapan.9 Selain itu kemiskinan sering juga didefinisikan sebagai
situasi serba kekurangan dari penduduk yang terwujud dalam dan disebabkan oleh
terbatasnya modal yang dimiliki, rendahnya pengetahuan dan keterampilan, rendahnya
produktivitas, rendahnya pendapatan, lemahnya nilai tukar hasil produksi orang miskin dan
terbatasnya kesempatan berperan serta dalam pembangunan.10

Kusnadi menyatakan kemiskinan yang diderita oleh masyarakat nelayan bersumber


dari faktor-faktor sebagai berikut:11

Pertama; faktor alamiah, yakni yang berkaitan dengan fluktuasi musim-musim


penangkapan dan struktur alamiah sumberdaya ekonomi desa. Kedua; faktor non-alamiah,
yakni berhubungan dalam sistem bagi hasil dan tidak adanya jaminan sosial tenaga kerja
yang pasti, lemahnya penguasaan jaringan pemasaran dan belum berfungsinya lembaga
koperasi nelayan yang ada serta dampak negatif kebijakan modernisasi perikanan yang telah
berlangsung sejak seperempat abad terakhir.

Selanjutnya kusnadi menyatakan kesulitan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan


tradisional dipengaruhi oleh sejumlah faktor internal dan eksternal. Adapun faktor-faktor
tersebut adalah:

Faktor Internal, yakni:

9
Situmorang, C. Penanganan Masalah Kemiskinan di Sumatera Utara. Jurnal Pembangunan.
Universitas Sumatera Utara Medan. 2008
10
Bachtiar Chamsyah, Teologi Penanggulangan Kemiskinan, (Jakarta: Rmbooks, 2006)
11
Kusnadi, Akar Kemiskinan Nelayan. (Yogyakarta: LKIS, 2002),
1. Keterbatasan kualitas sumber daya manusia
2. Keterbatasan kemampuan modal usaha dan teknologi penangkapan
3. Hubungan kerja dalam organisasi penangkapan yang seringkali kurang
menguntungkan buruh.
4. Kesulitan melakukan diversifikasi usaha penangkapan
5. Ketergantungan yang sangat tinggi terhadap okupasi melaut
6. Gaya hidup yang dipandang boros, sehingga kurang berorientasi ke masa depan.

Faktor eksternal, yakni:

1. Kebijakan pembangunan perikanan yang lebih berorientasi kepada produktivitas


untuk menunjang pertumbuhan ekonomi nasional dan parsial
2. Sistem pemasaran hasil perikanan yang lebih menguntungkan pedagang perantara
3. Kerusakan akan ekosistem pesisir dan laut karena pencemaran dari wilayah darat,
praktek penangkapan ikan dengan bahan kimia, perusakan terumbu karang dan
konservasi hutan bakau di kawasan pesisir
4. Penggunaan peralatan tangkap ikan yang tidak ramah lingkungan
5. Penegakan hukum yang lemah terhadap perusak lingkungan
6. Terbatasnya teknologi pengolahan pasca panen
7. Terbatasnya peluang kerja disektor non perikanan yang tersedia di desa nelayan
8. Kondisi alam dan fluktuasi musim yang tidak memungkinkan nelayan melaut
sepanjang tahun
9. Isolasi geografis desa nelayan ang mengganggu mobilitas barang, jasa, modal dan
manusia

Wilayah Banten merupakan salah satu jalur laut potensial, Panjang pesisir pada garis
pantai wilayah Banten mencapai 1.876 km. Selat Sunda merupakan salah satu jalur yang
dapat dilalui kapal besar yang menghubungkan Australia, Selandia Baru, dengan kawasan
Asia Tenggara misalnya Thailand, Malaysia dan Singapura. Disamping itu Banten
merupakan jalur perlintasan/penghubung dua pulau besar di Indonesia, yaitu Jawa dan
Sumatera.

Provinsi Banten memiliki sumberdaya kelautan dan perikanan yang sangat beragam,
baik jenis dan potensinya. Potensi sumberdaya tersebut terbagi menjadi sumberdaya yang
dapat diperbaharui dan tidak dapat diperbaharui, sumberdaya yang dapat diperbaharui
diantaranya sumberdaya perikanan, baik perikanan tangkap maupun budidaya laut dan pantai,
energi non konvensional. Sedangkan potensi yang tidak dapat diperbaharui diantaranya
adalah sumberdaya minyak dan gas bumi dan berbagai jenis mineral. Selain dua jenis
sumberdaya tersebut, terdapat pula berbagai macam jenis jasa lingkungan kelautan yang
dapat dikembangkan untuk meningkatkan peran pembangunan kelautan dan perikanan seperti
pariwisata bahari, industri maritim, jasa angkutan dan sebagainya12

Provinsi Banten memiliki potensi kelautan dan perikanan dengan potensi besar. Hal
ini terlihat dari potensi perikanan pantai, maupun samudera yang dimilikinya. Provinsi
Banten memiliki garis pantai sepanjang 517,42 km dengan luas wilayah perairan laut yang
berhak dikelola sekitar 11.500 dengan 61 buah pulau-pulau kecil didalamnya. Apabila
dibandingkan luas laut yang dimiliki Provinsi Banten lebih luas dari daratannya. Seperti
diketahui luas daratan Banten hanya sekitar 8.800,83 km2. Dengan demikian sudah
sepantasnya potensi kelautan dan perikanan Provinsi Banten memberikan sumbangsih yang
besar bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Banten.13

Secara geografis Provinsi Banten memiliki tiga wilayah perairan yang mempunyai
tiga karakter yang berbeda, yaitu sebelah utara dengan Laut Jawa, sebelah barat Selat Sunda,
dan sebelah selatan dengan Samudera Indonesia. Karakteristik sumberdaya ikan pada
perairan utara Banten adalah umumnya kelompok ikan pelagis kecil dan perairan selatan
mempunyai karakteristik sumberdaya ikan pelagis besar. Sedangkan di Selat Sunda
merupakan kombinasi antara keduanya (memiliki karakteristik sumberdaya ikan pelagis besar
dan kecil). Besarnya potensi kelautan dan perikanan di wilayah Provinsi Banten seperti telah
dikemukakan di atas, merupakan sebuah tantangan besar bagi Pemerintah Propinsi Banten
dalam hal ini instansi Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten untuk mengelolanya
sehingga mampu meningkakan kesejahteraan masyarakat pesisir Banten.14

Berdasarkan urusan pokok yang ditangani Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi
Banten, maka kondisi atau potensi kelautan dan perikanan dapat digambarkan dalam
beberapa sub sektor meliputi :

1. Perikanan tangkap.
2. Perikanan budidaya.

12
Rencana strategis dinas kelautan dan perikanan propinsi banten tahun 2001-2012 hal 16
13
Sirojuzilam. 2005. Regional Planning and Development. Wahana Hijau. Jurnal Perencanaan dan
Pengembangan Wilayah. Vol.1 Nomor 1. Agustus 2005.
14
M. Imron. Kemiskinan dalam Masyarakat Nelayan, dalam Jurnal Masyarakat dan Budaya (Jakarta:
Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, 2003)
3. Pengawasan dan Pengendalian sumber daya Kelautan dan Perikanan.
4. Pembinaan usaha bidang kelautan dan perikanan, serta pesisir dan pulau pulau kecil.

Peraturan yang mengatur perikanan di Provinsi Banten bersumber pada Undang-


undang Perikanan Nomor 45 tahun 2009 sehingga daerah mempunyai wewenang untuk
mengeluarkan peraturan yang menyangkut dengan daerahnya terkait masalah pengelolaan
perikanan yang diharapkan pemerintah dan segenap komponen masyarakat di Propinsi
Banten dapat memanfaatkan potensi yang ada dengan optimal tanpa harus mengakibatkan
ekploitasi yang berlebihan.

Dari penjabaran diatas tentang sektor kelautan di Provinsi Banten, terdapat beberapa
masalah di wilayah Pesisir Banten. Masalah yang timbul dalam upaya peningkatkan
kesejahteraan masyarakat nelayan atau pesisir di Provinsi Banten terdiri dari beberapa aspek
yang diuraikan melalui hasil penelitian pada dua diwilayah pelabuhan Karangantu,
Kabupaten Serang. Yaitu sebagai berikut:

Dalam aspek kebijakan, melihat dari Undang-undang perikanan bagi masyarakat


nelayan Karangantu dirasa dapat menaungi dan mewadahi serta memberikan rasa aman bagi
masyarakat setempat, namun terhadap aturan dan kebijakan daerah baik itu provinsi maupun
Kabupaten perlu adanya keterlibatan pemerintah baik Provinsi maupun Kabupaten dalam
memberikan pemahaman tentang perikanan modern seperti pemahaman kepada masyarakat
nelayan tentang sosialisasi mengenai Ekologi, tehnik membaca peta laut dengan benar,
bagaimana mengatasi bila terjadi bencana alam dilaut dan bagaiamana tehnik mengatasi bila
terjadi perampokan di daerah operasi para nelayan.

Dalam hal kebijakan retribusi yang di keluarkan oleh para nelayan dan Bakul (juragan
ikan) kepada TPI adalah sebesar 5% dengan alokasi dana tersebut adalah 3% untuk kas
daerah Kabupaten Serang dan 2 % untuk kas pengelola TPI Karangantu, sedangkan untuk
dana sukarela dipungut dari para Nelayan dan para Bakul (juragan ikan) oleh TPI sebesar 3%
yang alokasi dana tersebut adalah diperuntukan dana social dan operasional nelayan di TPI
Karangantu. Melihat dari kebijakan tersebut dengan adanya retribusi yang demikian
pemerintah kabupaten masih belum bisa mendukung sarana dan prasarana penangkapan ikan
yang ada di Kecamatan Karangantu.

Dalam hal kebijakan perizinan sebagaimana yang diatur dalam Perda Propinsi Banten
Nomor 6 tahun 2004 tentang perizinan usaha perikanan, kebijakan yang berlaku di wilayah
Serang khususnya mengenai SIB (surat ijin berlaya ) bagi kapal-kapal ikan yang akan melaut,
masih sama halnya dengan yang terjadi di Labuhan yaitu terjadi tumpang tindih kewenangan
antara syahbandar perikanan dan syehbandar perhubungan. Yang seharusnya izin berlayar
bagi kapal-kapal penangkap ikan dikeluarkan oleh syahbandar perikanan, sedangkan izin
berlayar bagi kapal-kapal niaga dikeluarkan oleh syahbandar perhubungan laut, namun
demikian syahbandar pehubungan laut tetap melaksanakan proses penerbitan SIB bagi kapal-
kapal penangkap ikan, sehingga dengan demikian biaya perizinan yang harus dikeluarkan
oleh para nelayan akan lebih banyak karena para nelayan harus mengeluarkan biaya retribusi
perizinan kepada syahbandar perikanan, syahbandar perhubungan laut dan pihak keamanan
setempat.

Disamping adanya pengeluaran retribusi yang demikian, proses pengesahan perizinan


yang dilakukan oleh instansi yang menanganinya masih tergolong lambat. Dengan desakan
waktu dan pengaruh cuaca diwilayah pesisir sementara proses pengesahan SIB berlangsung
lambat, sehingga nelayan akhirnya meninggalkan SIB yang sedang dalam proses tersebut
selesai, yang tentunya akan merugikan nelayan juga karena terkadang nelayan harus
berhadapan dengan petugas karena kelengkapan surat izin berlayar dari kapal yang
digunakannya tidak lengkap.

Dalam hal penggunaan alat penagkapan ikan oleh para nelayan, masih banyak nelayan
Karangantu yang menggunakan alat tangkap dengan jenis jaring yang dilarangan oleh
ketentuan daerah seperti jaring jenis Trowl atau Arad. Memang nelayan Karengantu dalam
penggunaan alat tangkap sudah sesuai dengan yang dianjurkan yaitu jenis jarring Dogol,
namun oleh nelayan jaring tersebut dimodifikasinya menyerupai jarring Trowl yeitu dengan
menambahkan swing/sayap pembuka pada bagian jaring. Hal ini dilakukan karena harapan
nelayan setempat dapat mencapai hasil tangkapan yang maksimal.

Melihat permasalahan yang ada pada masyarakat diwilayah pesisir Banten


sebagaiamana yang diuraikan diatas. Dapat digaris bawahi bahwa nelayan Banten yang ada
pada umumanya berpeluang untuk menciptakan usaha dalam pemenuhan kebutuhan hidup
masyarakat nelayan cukup besar, namun dalam usaha yang mereka lakukan terbentur pada
masalah permodalan atau biaya. Bahwa dalam hal bantuan kredit dari pihak Bank, pihak bank
akan melihat secara fisik apa yang bisa dijadikan jaminan atas pinjaman dana bagi usaha
nelayan sementara sarana rumah tinggal saja para nelayan setempat masih menggunakan
lahan milik instansi pemerintah yaitu Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten.
Sehingga mereka akan mengalami kesulitan dalam pengembangan usahanya karena tidak
dapat menerima bantuan pinjaman modal dari pihak Bank. Dengan ketidak mampuan mereka
dalam memberikan jaminan kepada pihak Bank atas bantuan pinjaman modal usaha, maka
mereka dapat dikatakan masyarakat yang tidak layak kredit dalam dunia perbankan.

Sementara melihat potensi usaha perikanan dilingkungan pesisir wilayah Banten


cukup mempunyai peluang yang besar. Melihat dari kondisi yang ada perlunya adanya
keijakan pemerintah yang memberikan kemudahan para nelayan dalam penyediaan
kebutuhan pokok kegiatan usaha perikanan nelayan yang sesuai dengan standarisasi
pelabuhan kapal ikan. Sebagimana adanya sarana dan prasarana SPBU khusus kapal kapal
nelayan, sarana TPI yang layak digunakan oleh para nelayan pada saat menjual hasil
tangkapannya, pengadaan pabrik es dilingkungan pelabuhan untuk sarana pengawetan hasil
tangkapan ikan nelayan.

Sampai saat ini belum adanya kebijakan secara tegas baik pusat maupun daerah yang
akan melakukan pembinaan dan pengawasan dalam rangka pengembalian struktur ekologi
wilayah laut Banten terhadap pengelolaan wilayah dari pantai hingga sejauh 7 mil.
Diharapkan pemerintah daerah dapat memanfaatkan kewenangan instansi penegak hukum
dalam pembinaan dan pengawasan atas gagasan ini.

Berdasarkan program pokok yang ditangani Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi
Banten, terhadap kondisi atau potensi kelautan dan perikanan yang digambarkan dalam
beberapa sub sektor meliputi: Perikanan tangkap; Perikanan budidaya; Pengawasan dan
Pengendalian sumber daya Kelautan dan Perikanan; Pembinaan usaha bidang kelautan dan
perikanan, serta pesisir dan pulau pulau kecil yang diharapkan dapat terjadi percepatan
pertumbuhan ekonomi, khususnya masyarakat pesisir melalui pengembangan
agrobisnis/argoindustri.

Dampak dari kebijakan ini terdapat pada Pembinaan usaha bidang kelautan dan
perikanan. Sebagaimana pemerintah telah mengalokasikan anggaran yang dikeluarkan dari
APBD untuk pembinaan usaha bidang kelautan dan perikanan melalui instansi yang terkait
dalam hal ini Dinas Kelautan dan Perikanan, yaitu :

a. Adanya dukungan pemberian bantuan kapal-kapal ikan kepada para nelayan,


b. Adanya dukungan alat tangkap setiap tahunnya kepada masyarakat nelayan
kabupaten/kota.
c. Adanya bantuan pinjaman modal kepada para nelayan yang mebutuhkan dapat
melalui Bank, Koperasi dan Unit-unit pelaksana tugas di wilayah
Kabupaten/Kota.

KESIMPULAN

Permasalahan umum yang dijumpai dalam upaya pemberdayaan masayarakat pesisir


di Provinsi banten adalah kurangnya modal usaha masyarakat nelayan; rendahnya kualitas
sumberdaya manusia yang ada; kurangnya pemahaman terhadap nilai sumberdaya kelautan;
kurangya peran aktif kelembagaan yang ada dibeberpa wilayah pesisir; masalah lain dalam
pembangunan dan pengembangan wilayah pesisir adalah kurangnya pelibatan instansi yang
menbidangi tehnis pemberdayaan masyarakat, sehingga program-program diwilayah pesisir
tidak berjalan secara optimal.

Zona perairan diwilayah Banten pasca otonomi daerah tingkat kerawanan terhadap
konflik-konflik antar daerah semakin meningkat seperti perbatasan wilayah penangkapan
ikan antar kabupaten. Sebagaimana yang terjadi pada wilayah Karangantu dan pulau Panjang;
konflik yang disebabkan karena adanya jaring yang masuk dalam wilayah perbataan
penangkapan ikan oleh nelayan karangantu.
DAFTAR PUSTAKA

Buku-buku

Budiarjo, Miriam. 1996. Partisipasi Politik, PT Gramedia Jakarta.

Chamsyah,Bachtiar. 2006. Teologi Penanggulangan Kemiskinan. Rmbooks. Jakarta

Hoogerwerf, 1983, Ilmu Pemerintahan, Pradnya Paramita

Kusnadi, 2002, Akar Kemiskinan Nelayan. LKIS. Yogyakarta

Kusnadi, 2008, Keberdayaan Nelayan dan Dinamika Ekonomi Pesisir. Jember.

Martadiningrat, 2008, 90% Nelayan Masih di Bawah Garis Kemiskinan. Perum


LKBN Antara: Harian Antara.

Nugroho, Heru. 1999. Kemiskinan, Ketimpangan, dan Pemberdayaan. Aditya Media.


Yogyakarta.

Suryaningrat, Bayu. 1989, Pengantar Ilmu Pemerintahan. CV Rajawali Jakarta.

Dokumen dan Jurnal

Imron. M. 2003. Kemiskinan dalam Masyarakat Nelayan, dalam Jurnal Masyarakat


dan Budaya Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI. Jakarta

Rencana strategis dinas kelautan dan perikanan propinsi banten tahun 2001-2012

Sirojuzilam. 2005. Regional Planning and Development. Wahana Hijau. Jurnal


Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Vol.1 Nomor 1. Agustus 2005.

Situmorang, C. 2008. Penanganan Masalah Kemiskinan di Sumatera Utara. Jurnal


Pembangunan. Universitas Sumatera Utara Medan

Suryawati, C. 2005. Memahami Kemiskinan Secara Multidimensional.


http://www.jmpk-online.net

http://www.academia.edu/8932529/PEMANFAATAN_SDIkan_SEBAGAI_MODEL
_PERCEPATAN_PEMBANGUNAN_DAERAH_KEPULAUAN diakses pada 29 oktober
2017