Anda di halaman 1dari 12

AKUMULASI UNSUR HARA MINERAL DALAM

SEL TUMBUHAN

LAPORAN

disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Fisiologi Tumbuhan yang
diampu oleh:

Dr. Hj. Sri Anggraeni, M.Si

Dr. Hj. Sariwulan Diana, M. Si

disusun oleh:

Kelompok 8

Anna Nurul Alfiyah 1405664

Rifal Firmansyah 1405063

Rima 1404937

Vidia Damayanti 1405319

Yayang Yuliani 1401308

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN


ALAM

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

A. Judul
Akumulasi Hara Mineral dalam Sel Tumbuhan

B. Waktu Pelaksanaan
1. Hari, Tanggal : 13 September 2017
2. Waktu : 07.00 10.30 WIB
3. Tempat : Laboratorium Fisiologi Gedung JICA UPI

C. Tujuan Percobaan
Menentukan ratio akumulasi ion Cl- dalam sel dengan Cl- dalam air kolam
tempat hidup.

D. Dasar Teori
1. Hara dan Mineral
Nutrien esensial yang dibutuhkan oleh tanaman tingkat tinggi secara
eksklusif inorganik, sebuah fitur pembeda organisme ini dari manusia,
binatang, dan banyak spesies mikroorganisme yang mana membutuhkan
bahan makanan organik untuk menghasilkan energi (Campbell et al.,
2012).
Sebagian dari nutrien esensial adalah makronutrien, yang mana
dibutuhkan tumbuhan dalam jumlah yang besar, dan yang lain adalah
mikronutrien, yang mana dibuthkan dalam jumlah yang kecil. Tujuh
unsur mikronutrien besi, klorin, tembaga, mangan, seng, molibdenum,
dan boron kurang dari 1 sampai beberapa ribu bagian per sejuta pada
kebanyakan tumbuhan. Fungsi utama mikronutrien di dalam tumbuhan
adalah sebagai kofaktor, yaitu pembantu non-protein dalam reaksi
enzimatik (Raven et al., 2001).
Adsorpsi hara mineral oleh akar tumbuhan dapat dibagi tiga fase. Fase
pertama adalah difusi, meliputi pergerakan hara mineral (ion) dari daerah-
daerah lebih jauh sampai ke sel-sel pada permukaan akar. Fase kedua
disebut fase pertukaran ion, meliputi masuknya ion-ion hara mineral ke
sel melalui dinding sel. Fase ketiga adalah akumulasi ion, adalah fase
aktif yang membutuhkan energi. Energi yang dibutuhkan untuk fase ini
berasal dari proses respirasi (Tim Fisiologi Tumbuhan, 2017).
2. Klorida
Lebih dari 120 bahan oraganik berklorin telah teridentifikasi pada
tumbuhan tingkat tinggi. Klorida disimpan sebagian dalam vakuola sel
daun dan muatan negatifnya dinetralkan oleh Ca2+ dan Mg2+. Klorida
dibutuhkan oleh tumbuhan untuk tekanan turgor daun dan fotosintesis.
Kemampuan Cl untuk bergerak cepat melintasi membran sel terhadap
gradien elektrokimia dan aktivitas biokimia yang relatif rendah adalah
dua sifat penting yang membuat Cl sesuai berfungsi sebagai zat terlarut
osmotik kunci pada tumbuhan. Akumulasi Cl oleh tumbuhan
berkontribusi besar dalam peningkatan hidrasi sel dan tekanan turgor,
yang keduanya penting untuk pemanjangan sel (McCauley et al., 2011).
3. Titrasi
Titrasi adalah teknik di mana larutan konsentrasi dikenal digunakan
untuk menentukan konsentrasi larutan yang tidak diketahui. Biasanya,
titran (larutan yang diketahui) ditambahkan dari sampai reaksi selesai.
Mengetahui volume titran yang ditambahkan memungkinkan penentuan
konsentrasi yang tidak diketahui. Seringkali, indikator yang digunakan
untuk biasanya menandakan akhir dari reaksi.
Untuk mengetahui keberadaan klorida dalam suatu larutan digunakan
titrasi menggunakan AgNO3 atau metod Mohr.
4. Metode Mohr
Metode Mohr yang terkenal adalah di mana alkali atau alkali tanah
klorida bereaksi dengan perak nitrat dengan adanya beberapa tetes larutan
kalium kromat sebagai indikator, adalah metode sederhana, langsung, dan
akurat untuk penentuan klorida (Korkmaz, tanpa tahun).
Metode ini menentukan konsentrasi ion klorida dari solusi dengan
titrasi dengan perak nitrat. Sesaat larutan perak nitrat ditambahkan secara
perlahan, endapan klorida perak terbentuk.

Gambar 1. Reaksi Pembentuka Perak Klorida

Titik akhir titrasi terjadi ketika semua ion klorida diendapkan.


Kemudian ion perak tambahan bereaksi dengan ion kromat dari indikator,
kalium kromat, untuk membentuk endapan merah-coklat kromat perak.

Gambar 2. Reaksi Pembentuka Perak Kromat

E. Alat dan Bahan


1. Alat
Tabel 1. Alat yang digunakan
No Nama Alat Jumlah
1. Gelas Erlenmeyer 250mL 3
2. Buret 3
3. Mortar dan pestel 1
4. Kain kassa Secukupnya
5. Pipet 3
6. Corong 3
2. Bahan
Tabel 2. Bahan yang digunakan
No Nama Bahan Jumlah
1. Tumbuhan Eichorma sp. secukupnya
2. Air Kolam tempat Eichorma hidup Secukupnya
3. NaCl 0,05N Secukupnya
4. Indikator K2CrO4 5% Secukupnya
5. Larutan AgNO3 0,02N Secukupnya
6. Aquades Secukupnya
7. CaCO3 Secukupnya

F. Langkah Kerja
1. Mencari konsentrasi (Cl-) dalam jaringan/sel daun Eichorma sp.

1 2 3
1mL ekstrak daun Larutan kemudian Mentitrasi larutan
Eichorma sp diberi 1mL dengan AgNO3
diencerkan dengan K2CrO4 5% 0,02N sampai
aquades hingga berubah warna
50mL menjadi coklat

4
Mencatat dan
menghitung
kosentrasi (Cl-)
pada ekstrak
daun Eichorma
sp.
2. Mencari konsentrasi (Cl-) dalam air tempat hidup Eichorma sp.

1 2 3
1 mL air kolam Larutan kemudian Mentritrasi larutan
tempat hidup diberi 1 mL dengan AgNO3
Eichorma sp. K2CrO4 5% 0,02N sampai
diencerkan dengan berubah warna
aquades hingga menjadi coklat
50mL

6 5
4
Hasilnya dibuat Menghitung ratio
Mencatat dan
laporan perbandingan
menghitung
kosentrasi (Cl-)
kosentrasi (Cl-)
pada ekstrak
pada air kolam
dengan
tempat hidup
kosentrasi (Cl-)
Eichorma sp.
pada air tempat
hidup Eichorma
sp.

G. Hasil dan Pembahasan


1. Hasil
a. Perhitungan data kelompok 7
Keterangan:
AgNO3 : 0,084
V1 : 50 ml
V2 (daun) : 7,2 ml
V2 (air) : 0,7 ml
1) Konsentrasi Cl- di dalam daun
M1 x V1 = M2 x V2
M1 x 50 = 0,084 x 7,2
50 M1 = 0,50 x 7,2
M1 = 7,2/50
= 0.012
2) Konsentrasi Cl- di dalam air
M1 x V1 = M2 x V2
M1 x 50 = 0,084 x 0,7
50 M1 = 0,0588
M1 = 0,0588/50
= 0.001

Ratio = 0,012/0,001

= 12

b. Perhitungan data kelompok 8


Keterangan:
AgNO3 : 0,084
V1 : 50 ml
V2 (daun) : 11,3 ml
V2 (air) : 1,2 ml
1) Konsentrasi Cl- di dalam daun
M1 x V1 = M2 x V2
M1 x 50 = 0,084 x 11,3
50 M1 = 0,95
M1 = 0,95/50
= 0.019
2) Konsentrasi Cl- di dalam air
M1 x V1 = M2 x V2
M1 x 50 = 0,084 x 1,2
50 M1 = 0,100
M1 = 0,100/50
= 0.002

Ratio = 0,02/0,002

= 9,5

c. Perhitungan data kelompok 9


Keterangan:
AgNO3 : 0,084
V1 : 50 ml
V2 (daun) : 8 ml
V2 (air) : 0,7 ml
1) Konsentrasi Cl- di dalam daun
M1 x V1 = M2 x V2
M1 x 50 = 0,084 x 8
50 M1 = 0,672
M1 = 0,672/50
= 0,013
2) Konsentrasi Cl- di dalam air
M1 x V1 = M2 x V2
M1 x 50 = 0,084 x 0,7
50 M1 = 0,0588
M1 = 0,0588/50
= 0,001
Ratio = 0,013/0,001
= 13

Rata-rata ratio Cl- di dalam daun (7,8,9)

Cl di dalam
=

0,012+0,019+0,013
= 3

= 0,014

Rata-rata ratio Cl- di dalam air (7,8,9)

Cl di dalam
=

0,001+0,002+0,001
= 3

= 0,0013

0,014
Rata-rata ratio Cl- = 0,0013 = 10,77

Tabel 3. Hasil Perhitungan Ratio Eichhornia sp.

No Nama kelompok N Cl- N Cl- Ratio


Tumbuhan Daun Air
1 Eichhornia 7 0,012 0,014 0,001 0,0013 10,77
sp. 8 0,019 0,002
9 0,013 0,001

2. Pembahasan
Eichornia yang merupakan tanaman air merupakan tumbuhan yang
berhabitat di air, sehingga nutrisi yang diperoleh berasal dari air tersebut. Pada
praktikum ini, dilakukan titrasi dengan 3 untuk mengetahu akumulasi
Cl pada sel tumbuhan dan air habitat Eichornia hidup.
+ 3 + 3
Selain itu, digunakan indikator 2 4 untuk melihat adanya reaksi
dengan 3 sehingga larutan titrasi akan berubah warna menjadi cokelat.
2 4 + 3 2 4 + 3
Setelah air sel Eichornia dan air habitat tumbuhan tersebut diencerkan
hingga 50 ml dengan aquades yang telah diberi indikator, kemudian dititrasi
dengan 3 kemudian warna titran akan berubah menjadi cokelat.
Kemudian diperoleh hasil rerata N Cl pada sel daun yaitu 0,014.
Sedangkan hasil rerata N Cl pada air habitat adalah 0,0013, sehingga
diperoleh rasio dengan nilai 10,77. Nilai tersebut menunjukan adanya
akumulasi Cl pada sel tumbuhan yang lebih banyak daripada di air habitat
Eichornia. Akumulasi Cl yang tinggi pada daun terjadi karena Cl yang
merupakan unsur mikronutrien berperan dalam fotosintesis untuk melepaskan
2 (Taiz & Zeinger, 1998). Sehingga, akumulasi Cl pada daun yang tinggi
karena Cl memiliki peran yang penting pada proses fotosintesis yang terjadi di
daun.
H. Simpulan
Akumulasi hara berupa Cl lebih besar pada sel daun Eichornia
daripada dalam air habitatnya.
DAFTAR PUSTAKA
Campbell et al.. 2012. BIOLOGI (eight ed.). Jakarta: Penerbit Erlangga
Korkmaz, D. Tanpa Tahun. Precipitation Titration: Determination of Chloride by the
Mohr Method. [Online]. Tersedia di : .
www.academic.brooklyn.cuny.edu/esl/gonsalves/tutorials/Writing_a_Lab_Rep
ort/xPrecipitation%20Titration%20edited%203.pdf.
McCauley et al.. 2011. Plant Nutrient Functions and Deficiency and Toxicity
Symptoms. [Online]. Tersedia di :
www.landresources.montana.edu/nm/documents/NM9.pdf.
Raven et al., 2001. BIOLOGY (six ed.). [Online]. Tersedia di :
www.mhhe.com/biosci/genbio/raven6b/graphics/raven06b/other/raven06_39.pd
f.
Taiz, L., & Zeinger, E. (1998). Plant Physiology , 3rd Edition. Massachusetts:
Sinauer Ass. Inc. Pub.
Tim Fisiologi Tumbuhan. 2017. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Bandung :
Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA-UPI.