Anda di halaman 1dari 19

KONSEP JIHAD DALAM ISLAM

MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Seminar Pendidikan Agama Islam
Dosen Pengampu :
Dr. H. Syahidin, M.Pd.

Disusun oleh:

Ahmad Septian Said (1307178)

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2015
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji dan syukur marilah kita panjatkan kepada Allah Swt
karena berkat rahmat dan kuasanya kami selaku penulis dapat menyelesaikan
makalah ini. Terimakasih pula penulis panjatkan kepada Dr. Syahidin, M.Pd. selaku
dosen mata kuliah Seminar Pendidikan Agama Islam dan kepada teman-teman serta
semua pihak yang telah banyak membantu terselesaikannya makalah ini.

Makalah ini berisi mengenai pembahasan tentang makna Jihad dalam Islam.
Kami selaku penulis berharap semoga karya kami ini dapat bermanfaat untuk
menambah wawasan mengenai Konsep Jihad juga bisa menjadi salah satu referensi
memahami Jihad. Penulis tentunya menyadari masih banyaknya kekurangan dalam
menyusun makalah ini, maka dari itu kritik dan saran yang bersifat membangun
sangatlah kami harapkan untuk kemajuan kedepannya.

Bandung, Desember 2015

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ i


DAFTAR ISI...................................................................................................................... ii
BAB I .................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN ............................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ...................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................ 1
C. Tujuan .................................................................................................................... 2
BAB II ................................................................................................................................ 3
ISI ....................................................................................................................................... 3
A. Pengertian Jihad ................................................................................................... 3
B. Dalil Jihad .............................................................................................................. 4
C. Macam-macam Jihad dan Tingkatannya ........................................................... 6
D. Perbedaan Jihad dengan Terorisme ................................................................... 7
E. Proporsi Jihad ..................................................................................................... 10
BAB III............................................................................................................................. 14
PENUTUP........................................................................................................................ 14
A. Kesimpulan .......................................................................................................... 14
B. Saran .................................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 16

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perjuangan merupakan keniscayaan hidup manusia, terlepas apa pun yang
diperjuangkan. Awal dari usaha manusia mencari kebenaran juga sebagai semangat
hidup menunjang keberhasilan. Orientasi perjuangan setiap orang pastilah berbeda,
namun di dalam agama Islam khususnya, Allah telah menjelaskan di dalam firman-
Nya QS. Al-Baqarah ayat 218 bahwa perjuangan hidup hanyalah untuk meraih
rahmat Allah. Dewasa ini nilai-nilai perjuangan telah dinodai dengan gerakan
semacam kekerasan dan ancaman, seperti munculnya kelompok ISIS, teror di Paris
dan sebagainya. Tentu perjuangan dalam Islam bukanlah menebar ketidaktenangan.

Islam sangat menghargai perdamaian dan mengajarkan cinta kepada


sesama. Terbukti dalam firman Allah QS. Al-Anbiya ayat 107 yang berbunyi Dan
tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam. Seperti itulah Allah sangat menghargai makhluknya. Beberapa kasus
kekerasan yang mengatasnamakan agama tidak bisa dipungkiri, beberapa
kemungkinan dapat disimpulkan salah satunya pemahaman tentang makna jihad
yang parsial.

Maka dari itu saya mencoba mengkaji satu term tersebut sebagai bentuk
ketakwaan terhadap Allah untuk selalu menjaga citra agama yang Allah turunkan
ke muka bumi. Mudah-mudahan tulisan yang saya buat dapat menjadi acuan
sederhana dalam memahami jihad sebenarnya yang bersumber dari Al-Quran,
Al-Sunnah dan pendapat para ulama.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan jihad?
2. Apa saja yang menjadi dalil jihad?
3. Adakah jenis-jenis jihad?
4. Apa yang membedakan jihad dengan terorisme?
5. Sampaimanakah proporsi jihad?

1
C. Tujuan
1. Mengetahui makna jihad.
2. Memahami dalil jihad.
3. Mengetahui jenis-jenis jihad.
4. Dapat membedakan antara jihad dengan terorisme.
5. Mengetahui proporsi jihad.

2
BAB II
ISI

A. Pengertian Jihad
Mnurut Yusuf Qardhawi (2010, hal. Ixxv), jihad adalah bentuk isim
masdhar dari kata jahada-yujahidu-jihadan-mujahadah. Secara etimologi, jihad
berarti mencurahkan usaha, kemampuan dan tenaga. Jihad secara bahasa berarti
menanggung kesulitan. Kata jihad kemudian lebih banyak digunakan dalam arti
peperangan untuk menolong agama dan membela kehormatan umat. Dalam Al-
Quran dan Sunnah, jihad memiliki makna yang lebih luas dari pada peperangan.

Mahad Aly (2005, hal. 103), berpendapat mengenai makna jihad yang
memiliki banyak varian penafsiran. Al-Qur`an menyebutkan sebanyak 41 kali dan
memberikan penafsiran yang selalu berbeda dalam setiap ruang dan waktu (korelasi
ayat). Namun demikian, setidaknya perlu diketahui makna dasarnya, yang berasal
dari kata juhd dan jahd, artinya kekuatan, kemampuan, kesulitan dan kelemahan.

Kata juhd bisa dilihat dalam QS:9:79 yang menerangkan sikap dan
penghinaan orang munafik kepada orang-orang mukmin yang memberikan sedekah
dengan sukarela sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Sedangkan kata jahd
dapat ditemukan dalam QS:5:53, QS:6:109, QS:16:38, QS:24:53, QS:35:42 yang
memberikan petunjuk tentang kesungguhan orang dalam bersumpah walau belum
tentu benar. Kata Jihad yang berarti berjuang di jalan Allah disebutkan 33 kali, 13
kali dalam bentuk fiil madli, 5 kali dalam bentuk fiil mudlari, 7 kali dalam bentuk
amr, 4 kali dalam bentuk isim fail. Di bagian lain kata jihad senantiasa
berdampingan dengan Ridla., seperti QS:2:218, QS:5:35, QS:8:72,74,
QS:9:19,24,41, QS:22:78, QS:49:15, QS:61:11. Berarti jihad di jalan Allah mesti
harus disertai dengan niatan mencari ridla Allah. (Aly, 2005, hal. 103)

Sayyid Quthb (1984, hal. 140), berpendapat mengenai jihad yaitu menerima
sikap lahir kaum munafik dan menyerahkan sikap batin mereka kepada Allah SWT.
Di samping itu, Allah memerintahkan kepada kaum muslimin agar memerangi
mereka dengan menggunakan argumentasi (hujjah) dan ilmu, menjauhkan
kekerasan terhadap mereka dan mengajak mereka agar tersentuh hatinya.

3
Penjelasan tersebut merupakan cuplikan pembahasan mengenai jihad dalam
Islam, yang tampak dalam dan teliti bagi pengaturan sistem pergerakan yang
dilakukan, sehingga pantas dijadikan perhatian tersendiri. Tetapi kali ini saya hanya
bisa menganalisa dan menyimpulkan secara garis besar bagi sistem pergerakan di
dalam Islam yang dikenal dengan istilah jihad.

B. Dalil Jihad
Menurut Sutan Mansur (1982, hal. 28), nilai jihad terletak pada firman
Allah yang berbunyi:




Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya
Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.(QS. Muhammad
: 7)
Penjelasan ayat ini sangatlah sederhana, merupakan sebab akibat dari
perjuangan untuk menolong Allah yang berakibat kepada Allah akan menolong
orang-orang yang telah menolong-Nya. Menurut Sutan (1982, hal. 29), corak
berfikir seperti ini sangatlah umum.

Sifat orang-orang yang membela agama Allah itu terletak pada kesucian diri
dan kesucian untuk lainnya. Hal ini diibaratkan Sutan seperti sifat air mutlak bukan
air campuran seperti air limun meski ia bersih namun tidak dapat menyucikan
kepada yang lain. Ia hanya suci pada dirinya sendiri. Sedangkan Mujahid menurut
Sutan ialah orang yang diibaratkan seperti air mutlak yaitu suci dan menyucikan.
(Mansur, 1982, hal. 29)

Abul Ala Maududi (1984, hal. 37), berpendapat mengenai dalil jihad dalam
konteks Revolusi Dunia, dimana tidak boleh ada sebagian umat manusia yang
menikmati kebenaran (sistem kekuasaan) melainkan harus semua. Di mana pun
umat manusia tertindas, tersentuh diskriminasi dan pemerasan, di situlah orang-
orang saling berkewajiban mengulurkan bantuannya. Konsepsi yang sama telah
disebutkan oleh Al-Quran:

4








Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-
orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang
semuanya berdoa: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini
(Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi
Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau! (QS. Al-Nisa : 75)
Jihad bagi para mustadhafin yang ditimpa dan dicoba dalam agama mereka,
disiksa di negeri sendiri yaitu Makkah. Bukanlah jihad qital (perang), hal itu
dikarenakan belum dapatnya izin dari Allah SWT. Maka, jihad yang seharusnya
dilakukan ialah menyampaikan dakwah dan bersabar serta menanggung kesulitan
ketika menjalankan perintah tersebut. (Qardhawi, 2010, hal. 76) Seperti dalam
firman Allah:




Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-
benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan
sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
(QS. Al-Ankabut : 69)
Yusuf Qardhawi (2010, hal. 76), berpendapat mengenai dalil yang
menunjukkan bahwa jihad tidak selamanya bermakna qital. Yaitu dua firman Allah
SWT. yang hampir mirip redaksinya namun berbeda surahnya. Sebagai berikut:






Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang
munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah
jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (QS.
Al-Taubah : 73)




5
Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan
bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan
itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. (QS. Al-Tahrim : 9)
Orang-orang munafik tidak boleh diperangi. Berbeda dengan orang kafir
yang dengan terang menyatakan kekafirannya. Seandainya jihad yang dimaksud
pada ayat tersebut adalah qital, tentu hal itu sudah dilakukan oleh Rasul sebagai
bentuk ketaatannya kepada Allah. Tetapi beliau tidak memerangi orang-orang
munafik, karena darah dan harta mereka terjaga dengan lidah mereka yang
mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah. (Qardhawi, 2010, hal. 76)

C. Macam-macam Jihad dan Tingkatannya


Menurut Yusuf Qardhawi dalam karyanya Fiqih Jihad (2010, hal. 82),
Ibnu Qayyim membagi jihad secara global menjadi empat bagian beserta
tingkatannya masing-masing:

1. Jihad melawan hawa nafsu, jihad ini memiliki empat tingkatan:


Melakukan jihad terhadap diri untuk mempelajari kebaikan, petunjuk
dan agama yang benar.
Berjihad terhadap diri untuk mengamalkan ilmu yang sudah didapat.
Berjihad terhadap diri untuk mendakwahkan dan mengajarkan ilmu
kepada orang-orang yang belum mengetahuinya.
Berjihad dengan kesabaran ketika mengalami kesulitan dan siksaan dari
makhluk dalam berdakwah di jalan Allah dan menanggung semuanya
dengan hanya mengharapkan ridla Allah.
2. Jihad melawan setan, jihad ini memiliki dua tingkatan:
Berjihad melawan setan dengan membuang segala kebimbangan dan
keraguan dalam keimanan seorang hamba yang diberikan olehnya.
Jihad ini bisa dilakukan dengan persiapan keyakinan.
Berjihad melawan setan dengan menangkis keinginan berbuat
kerusakan dan memenuhi syahwat yang diberikan olehnya. Jihad ini
bisa dilakukan dengan persiapan kesabaran.
3. Jihad memerangi kaum kafir dan kaum munafik, jihad ini memiliki empat
tingkatan:
Jihad dengan hati.

6
Jihad dengan lidah.
Jihad dengan jiwa.
Jihad dengan harta.
4. Jihad melawan kedzaliman dan kefasikan, jihad ini memiliki tiga
tingkatan:
Jihad dengan kekuatan jika memiliki kemampuan untuk melakukannya.
Jihad dengan lisan.
Jihad dengan hati.

Rasulullah Saw. bersabda, Barang siapa yang mati, sedangkan dia tidak pernah
berperang atau tidak pernah terlintas dalam hatinya untuk berperang, maka dia
mati dengan membawa satu cabang kemunafikan. (HR. Abu Daud dari Abu
Hurairah r.a.)

D. Perbedaan Jihad dengan Terorisme


Terror berasal dari bahasa latin yaitu terror yang berarti menciptakan
kengerian. Dalam istilah umum, teror berarti usaha menciptakan ketakutan,
kengerian dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Sementara yang dimaksud
terorisme adalah penggunaan kekerasan untuk menciptakan ketakutan dalam usaha
mencapai suatu tujuan (biasanya tujuan politik). (Aly, 2005, hal. 71)

Jika mengacu pada pengertian di atas, maka cakupan teror sangat luas.
Dengan demikian, aksi teror berbentuk gertakan atau ancaman yang disertai
pelaksanaan isi ancaman. Tetapi, ada juga bentuk teror yang sekaligus disertai
bentuk kekerasan, tanpa harus ada ancaman terlebih dahulu. Namun, yang
terpenting ialah bahwa setiap aksi teror yang dilakukan, selalu disertai motivasi
untuk mencapai tujuan tertentu. (Aly, 2005, hal. 71)

Menurut Mahad Aly (2005, hal. 71-72), dalam pandangan hukum Islam
tentang aksi teror. Dalam istilah Arab, teror sering diistilahkan dengan irhab.
Tetapi, persoalan teror ini belum pernah disebutkan secara eksplisit dalam fiqih
jinayah (pidana). Karena itulah kita harus bisa mengonseptualisasikannya.

7
Dalam konteks fiqih jinayat, aksi teror ini dapat dikategorikan dalam
hirabah. Yakni, segala bentuk tindakan yang dapat mengancam harta ataupun jiwa
orang lain. Konsep hirabah berangkat dari firman Allah SWT:

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah


dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka
dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan
bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang
demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di
akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (Al-Maidah : 33)
Dalam memahami ayat di atas para ulama berselisih pendapat dan telah
menjadi dua kelompok. Pertama dipelopori oleh Said bin Musayyab, Umar bin
Abdul Aziz, Mujahid, Dahhak dan sejumlah ulama lainnya. Mereka berpendapat
bahwa arah ayat di atas tertuju pada segala bentuk tindakan kriminal. Sehingga,
orang yang melakukan praktik riba pun tercakup dalam ayat ini. Menurut kelompok
ini, berdasar ayat di atas, seorang imam atau hakim punya hak untuk menentukan
hukuman yang pantas dijatuhkan kepada pelaku kejahatan. Jadi, bentuk-bentuk
sanksi hanya bersifat alternatif. (Aly, 2005, hal. 73)

Beda halnya dengan kelompok kedua. Kelompok ini didukung oleh jumhur
ulama. Mereka menegaskan bahwa ayat di atas berlaku khusus bagi qathi at-thariq
(begal/perampok). Karena tingkat kejahatannya bermacam-macam, maka kadar
sanksinya pun bertingkat-tingkat. Kadar sanksi yang dipatok dalam ayat ini
dijatuhkan berdasarkan besar kecilnya tindak kejahatan yang dilakukan. (Aly, 2005,
hal. 73)

Melihat bentuk kejahatan yang dilakukan, maka pelaku qathi at-thariq


menjadi empat macam. Pertama, pelaku yang hanya menakut-nakuti, tanpa
bermaksud membunuh dan mengambil hartanya. Dalam hal ini semua ulama
sepakat bahwa sanksinya adalah diasingkan dari tempat tinggalnya. Kedua, pelaku
yang membunuh korban tanpa mengambil harta bendanya. Dalam kasus ini ulama
juga sepakat bahwa sanksinya berupa hukuman mati. Ketiga, pelaku yang
mengambil harta tanpa membunuh korbannya. Semua ulama lagi-lagi sepakat harus
dipotong tangan dan kakinya secara selang-seling. Keempat, pelaku yang
mengambil harta sekaligus membunuh korbannya. Menurut as-Syafii dan Ahmad,

8
sanksinya dibunuh kemudian disalib. Sedangkan menurut Ibnu Abbas, an-Nakhai,
Atha, pelakunya harus dipotong tangan dan kakinya secara berselang-seling,
kemudian disalib. Beda halnya dengan Abu Hanifah, ia berpendapat bahwa
sanksinya adalah diserahkan sepenuhnya pada imam (hakim). Artinya, bisa
memilih potong tangan dan kakinya terlebih dahulu, atau langsung dijatuhi
hukuman mati dan salib. Yang patut dicatat di sini bahwa sanksi-sanksi tersebut
bukan termasuk kategori qishas. Sebaliknya, ia merupakan bagian dari had. Oleh
karena itu, sanksi ini tidak dapat digugurkan oleh siapa pun. (Aly, 2005, hal. 73-74)

Pandangan Islam mengenai aksi teror menurut Mahad Aly (2005, hal. 74-
75), Allah mengizinkan untuk melakukan perang perlawanan. Setiap hendak
berangkat ke medan laga Rasulullah selalu mewanti-wanti tidak merusak pohon dan
memerangi orang-orang lemah. Namun, tercatat bahwa rasul pernah menebang
sekaligus membakar pohon milik Bani Nadhir. Penyebabnya karena pohon tersebut
disinyalir sebagai sumber kekuatan logistik musuh. Hal tersebut tercantum dalam
firman Allah SWT:

Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir)
atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua
itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan
kehinaan kepada orang-orang fasik. (Al-Hasyr : 5)
Menanggapi persoalan ini, jumhur ulama berpendapat tentang kebolehan
melakukan perusakan terhadap perusakan kekuatan logistik musuh. Akan tetapi
harus selalu didasarkan pada kebijakan pemimpin bangsa. Sehingga secara strategis
dapat dipertimbangkan nilai kemaslahatannya. Dengan demikian, dalam kondisi
defensif (al-difai) tampaknya Islam membolehkan penyerangan terhadap kekuatan
musuh, dengan catatan sebisa mungkin menghindari korban dari rakyat tak
bersalah. (Aly, 2005, hal. 75-76)

Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang
sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu
bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang
sabar. (Al-Nahl : 126)
Dari sini, jelas bahwa Islam membolehkan aksi perlawanan sebagai
tindakan balasan. Tapi bentuk balasan itu harus setimpal. Tidak boleh sampai
melampaui batas. Dalam konteks ini, perlawanan yang dilakukan tidak bisa disebut

9
terorisme. Sebaliknya, ia merupakan sebuah upaya mempertahankan diri dari
cengkraman kekuatan lalim yang pongah. (Aly, 2005, hal. 76)

E. Proporsi Jihad
Mengenali ruang lingkup jihad Mahad Aly membaginya ke dalam dua
bagian, pertama jihad dengan diri (hati, jenis, nyawa dan totalitas manusia). Hal ini
mencakup jihad dengan nyawa emosi, pengetahuan, tenaga dan pikiran, bahkan
juga waktu dan tempat. Kedua, jihad dengan harta yang merupakan modal dasar.
(Aly, 2005, hal. 103)

Menurut terminologi Islam jihad berarti perjuangan sungguh-sungguh


dengan mengerahkan segala potensi dan kemampuan yang dimiliki untuk mencapai
tujuan, khususnya dalam mempertahankan kebenaran, kebaikan dan keluhuran.
Atau mengajak kepada agama yang benar. Ibnu Rusyd berpendapat bahwa jihad
adalah mencurahkan segala kemampuan yang dimiliki untuk mencapai ridla Allah.
Lain halnya dengan Al-Barusuwi yang mengatakan bahwa jihad fi sabilillah
merupakan usaha menghilangkan sifat egoisme untuk menciptakan kedamaian.
(Aly, 2005, hal. 103)

Menurut Mahad Aly (2005, hal. 103-104), dari pengertian di atas, jihad
dapat dipetakan menjadi empat bagian:

Pertama, jihad bi al-Qalb, yaitu berperang melawan hawa nafsu


untuk memerangi hal-hal yang dilarang Allah.
Kedua, jihad bi al-Lisan, yaitu mengajak manusia untuk melakukan
perintah Allah dan mencegah segala bentuk kemungkaran. Seperti
berbicara lantang ketika melihat ketimpangan-ketimpangan sosial
serta memberikan solusinya.
Ketiga, jihad bi al-Yad, yakni usaha yang dilakukan oleh pihak-
pihak yang memiliki kekuasaan untuk memberantas berbagai
macam kemaksiatan dengan cara memberlakukan undang-undang
secara adil.
Keempat, jihad bi al-Sauf. Yakni memerangi orang-orang yang
membangkang terhadap agama Islam, seperti orang kafir atau
musyrik.

10
Klasifikasi jihad ini memberikan kesimpulan bahwa jihad sebenarnya tidak
serta merta harus dengan senjata tajam, yakni perang. Akan tetapi mengangkat
senjata untuk berperang melawan musuh-musuh Islam merupakan varian dari
makna dan tujuan jihad, bukan bentuk jihad satu-satunya. (Aly, 2005, hal. 104)

Dengan demikian, bagaimana mekanisme jihad fi sabilillah (perang) yang


sesungguhnya. Dalam hal ini, ulama berbeda pendapat dalam menetapkan apa yang
menjadi motivasi berperang. Menurut jumhur (Hanabilah, Malikiyah dan
Hanafiyah), bahwa perintah perang dalam Islam bersifat defensif. Orang Islam
tidak boleh memulai perang, jika tidak ada genderang peperangan dari orang kafir.
Karena, menurut jumhur illat (alasan) dari jihad adalah dar al-harabah
(mempertahankan diri dengan perang). (Aly, 2005, hal. 104-105) Salah satu dalil
yang mereka pakai adalah:

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu,


(tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Al-Baqarah : 190)
Sementara menurut Mahad Aly (2005, hal. 105), kalangan Syafiiyah yang
didukung kelompok Dhahiriyah dan Ibn Hazm berpendapat bahwa jihad itu bersifat
ofensif. Orang Islam harus memulai untuk berperang ketika bertemu dengan orang
kafir kapan dan dimana saja. Sebab illat-nya adalah kekufuran. Alasan mereka
adalah firman Allah:

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang


musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka.
Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka
bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah
kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi maha Penyayang. (Al-Taubah : 5)
Kedua pendapat di atas sama-sama kuat karena didukung oleh Al-Quran.
Namun, manakah pendapat yang lebih relevan? Aksentuasi (titik tekan) dari ayat
Al-Taubah adalah pada lafadz haitsu wajadtumuhum (di mana saja kalian jumpa
mereka). Redaksi haitsu yang dalam kolokasi bahasa Arab merupakan kata yang
bersifat umum. Maka ayat ini berlaku pada keumumannya. Sedangkan ayat tentang
jihad pada surat Al-Baqarah memiliki batasan-batasan tertentu, yaitu jika ada
serangan dari musuh. Ayat inilah yang bersifat khusus. Dalam teori ushul fiqh,

11
lafadz yang khas bisa mentakhsis (mengkhususkan) lafadz yang am (umum). Maka
jika ketetapan yang diambil mengikuti alur ushul fiqh, jihad dengan perang itu tidak
boleh dipraktikkan secara serampangan. Perang akan diperbolehkan jika
menemukan serangan dari musuh. Jika tidak, maka umat Islam haram memerangi
orang kafir. (Aly, 2005, hal. 106)

Selain itu para ulama madzhab sepakat bahwa orang kafir yang dimaksud
ialah kafir harbi (orang kafir yang menentang dan memusuhi Islam). Tidak hanya
itu, perang baru bisa dimulai jika berada di dar al-harby (negara kafir) atau dar al-
Islam (negara islam). Dapat ditarik kesimpulan bahwa jihad fi sabilillah baru bisa
dilakukan jika memenuhi tiga syarat. Pertama, diserang musuh. Kedua, yang
diperangi adalah kafir harbi. Ketiga, berada di negara Islam atau negara kafir. (Aly,
2005, hal. 106-107)

Al-Quran disebut sebagai ajakan atau undangan bagi manusia; serta


petunjuk dan pembimbing bagi pembangunan karakter mulia pada diri manusia.
Begitu pun Nabi Muhammad Saw. yakni perjuangannya dalam hidup adalah untuk
mendidik manusia; supaya manusia beriman (dengan mengenali Tuhannya), lalu
berserah diri kepada-Nya dengan jalan mengingat-Nya dan beribadah; juga supaya
manusia menyadari posisinya dalam lintasan kosmos sebagai keberadaan yang
kecil, yang merupakan hamba Tuhan, yang kembali kepada-Nya setelah mati; dan
supaya manusia berperilaku berdasarkan titah suci-Nya, baik yang dilihat mata lahir
dalam kitab-kitab suci, maupun yang dilihat mata batin di dalam akal. (Luthfi, et
al., 2015)

Dalam konteks tujuan dan bentuk tugas seperti itulah Nabi Muhammad
berjihad. Dengan demikian, tatkala kita umat Islam hendak meneladaninya, maka
dalam bentuk yang sama pula seharusnya kita berjihad. Sehingga langsung
dipahami bahwa jihadnya Nabi adalah usaha dan perjuangan menyadarkan manusia
dan menghidupkan manusia dari kelalaiannya. Kemudian, dalam konsep yang
mudah kita pahami saat ini, semua usaha jihad itu adalah demi mendidik manusia.
Bukan dalam usaha membunuh manusia. (Luthfi, et al., 2015)

Momen hijrah adalah yang paling penting di antara semuanya. Sebab dalam
usaha menjalankan amanah langit untuk membebaskan manusia dari kebodohan,

12
migrasi ini bukan sekadar aksi melarikan diri dari kejaran musuh, atau sekadar
upaya pencarian pengikut baru. Melainkan, dalam perpindahan ke tanah baru ini,
Nabi dan komunitasnya menemukan sebuah tempat, Tanah Air, bahkan negara.
(Luthfi, et al., 2015)

Perangnya Nabi kala itu, adalah untuk melawan halangan yang datang dari
orang-orang yang mengingkari kebenaran, yang merintangi upaya edukatif
menyelamatkan manusia dari kebodohan. Begitu pula dengan episode-episode
perang setelah era Nabi yang disebut oleh kutub al-tawarikh (kitab-kitab sejarah)
sebagai futuh (pembebasan atau conquer). Secara garis besar perang-perang yang
seperti itu bisa dianggap dilakukan dalam rangka melenyapkan rintangan yang
menghalangi kebebasan mendidik umat manusia. (Luthfi, et al., 2015)

Dengan demikian, sesungguhnya perang-perang itu dilakukan bukan untuk


dirinya sendiri (binafsihi). Atau, meminjam terminologi ilmu gramatika Arab
klasik, Nahwu, perang itu la yadullu ala manan mustaqillin; ia tidak memiliki
makna pada dirinya sendiri, bal alatu li ghairihi; melainkan hanya sebuah alat untuk
terlaksananya hal lain; yakni untuk terbukanya jalan bagi kebebasan dan
keleluasaan mendidik umat manusia. Pada situasi saat itu, hanya perang dan segala
teknologi sederhanyalah yang bisa digunakan untuk melawan upaya orang-orang
yang menginginkan status quo, alias mereka yang menjaga warisan kebodohan. Jika
demikian, perang pada hakikatnya bukanlah perwujudan jihad. (Luthfi, et al., 2015)

13
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pengertian jihad yang selama ini hanya disempitkan menjadi kekerasan dan
peperangan ternyata hanya sebagian dari varian jihad menurut pembahasan saya
dalam makalah ini. Jihad merupakan usaha mencurahkan seluruh tenaga, hati,
fikiran bahkan harta demi menuju pada sikap yang lebih baik dan mendapat rahmat
juga ridla Allah. (Qardhawi, 2010)

Kemudian diperkuat kembali dengan adanya macam jihad menurut


pendapat ulama khususnya Ibnu Qayyim, yaitu jihad melawan hawa nafsu, jihad
melawan setan, jihad memerangi kaum kafir dan munafik dan jihad melawan
kedzaliman dan kefasikan yang masing-masing jihad tersebut memiliki tingkatan
yang berbeda-beda. Jadi, ada beberapa tahapan menurut saya untuk dapat dikatakan
benar bahwa jihad dengan cara berperang itu diperbolehkan. Jihad adalah usaha
defensif atau merupakan tameng agar Islam tetap terlihat tangguh dari segala aspek,
baik intelektualitas, keyakinan bahkan lahiriyah (kekuatan fisik).

Hal yang membedakan antara jihad dengan terorisme ialah niat awal. Pada
intinya jihad bukan hanya usaha memperjuangkan yang dijadikan cita-cita atau
idealisme tertentu. Namun, jihad usaha yang bermuara pada keridla-an Allah.
Sedangkan terorisme merupakan sebuah paham yang mencoba membangun
pemikiran manusia ke arah perjuangan yang bersifat kepentingan dunia dengan
tidak memperdulikan nilai-nilai ketuhanan.

Ada nilai-nilai yang dapat diambil dari konsep jihad yang ditulis oleh Ibnu
Rusyd dalam artikelnya di IslamLib.com. yaitu, demi membebaskan belenggu
manusia dari keterpurukan jahiliyah sebelum turunnya Nabi Muhammad Saw.
perintah jihad juga turun tidak secara utuh maka ada beberapa pelajaran yang harus
ditempuh sebelum berjuang, yaitu mencoba bersabar menghadapi apa yang telah
Allah uji.

14
B. Saran
Dalam memahami nilai-nilai keagamaan, mestinya seseorang tidak harus
terburu-buru berkesimpulan. Hal itu akan menyebabkan pemahaman yang parsial
atau sebagian yang dipahami, sedang sebagian lainnya terlupakan atau tak terjamah.
Maka sikap pertama ketika mengenal satu wacana ialah rasa ingin tahu untuk
mempelajarinya. Dengan demikian sesuatu yang belum didapat akan menjadi
pelengkap pengetahuan sebelumnya.

Terbukti dalam kajian Konsep Jihad dalam Islam kali ini. Allah tidak
memerintahhkan secara implisit dan eksplisit yang sesuai dengan konteks kasus
terorisme saat ini, yaitu untuk saling merusak dan menyakiti sesama. Satu hal yang
harus selalu diingat untuk menjadi prinsip awal ialah Islam tetap harus
dipegangteguh namun bukan untuk membela Allah, karena logikanya makhluk
takkan mungkin membela khalik.

Dan perjuangan yang mengatasnamakan agama pada intinya hanya sebagai


tragedi pencatutan nama Tuhan untuk meraih kepentingan-kepentingan politik atau
lainnya, jika perjuangan tersebut tidak dibalut dengan rasa kasih-sayang untuk
seluruh alam semesta demi mendapatkan rahmat Allah dan mencapai ridha-Nya.

15
DAFTAR PUSTAKA

Abul, M. A., Hasan, A.-B., & Sayyid, Q. (1984). JIHAD (Perang Suci). Bandung:
Risalah.
Aly, M. (2005). Fiqh Realitas. Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR.
Luthfi, A., Ulil, A. A., Nong, M. D., Novriantoni, K., Saidiman, A., & Evi
Rahmawati. (2015, Desember Senin). Abaout Us: ISLAM Lib. Dipetik
Desember Selasa, 2015, dari ISLAM Lib Web site:
http://islamlib.com/gagasan/jihad-kebebasan-dan-pendidikan/
Mansur, S. (1982). JIHAD. Jakarta: Panji Masyarakat.
Qardhawi, Y. (2010). Fiqih Jihad. Bandung: Mizan.

16