Anda di halaman 1dari 32

REFERAT

ILMU KEDOKTERAN FISIK DAN REHABILITASI

FROZEN SHOULDER
(ADHESIVE CAPSULITIS)

Oleh:
Kadek Wisnu Segara Karya 1522316039

Mengesahkan:
Pembimbing,

dr. Marcus Anthonius, Sp. KFR

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat, rahmat dan anugerah-
Nya, penyusun dapat menyelesaikan referat yang berjudul Frozen Shoulder.

Tujuan pembuatan referat ini untuk memenuhi syarat kelulusan kepaniteraan klinik
bagian Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Fakultas Kedokteran Universitas Katolik
Widya Mandala Surabaya di Rumah Sakit Angkatan Laut Dr. Ramelan Surabaya.

Terima kasih penyusun ucapkan kepada semua pihak yang telah banyak membantu
dalam penyusunan referat ini, khususnya kepada dr. Marcus Antonius, Sp. KFR sebagai
pembimbing yang telah memberikan saran, bimbingan, serta dukungan dalam penyusunan
referat ini.

Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa referat ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran sebagai masukan demi kesempurnaan
referat ini. Semoga apa yang telah disusun dalam referat ini dapat bermanfaat untuk para
pembaca.

Surabaya, 5 Oktober 2017

Penyusun

2
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................................1


KATA PENGANTAR .....................................................................................................2
DAFTAR ISI ....................................................................................................................3
DAFTAR TABEL ............................................................................................................4
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................................5
BAB 1 (PENDAHULUAN) .............................................................................................6
1.1. Latar Belakang ...................................................................................6
1.2. Tujuan dan Manfaat ...........................................................................7
BAB 2 (TINJAUAN PUSTAKA) ....................................................................................8
2.1. Definisi Frozen Shoulder ...................................................................8
2.2. Anatomi Fungsional Sendi Bahu........................................................8
2.3. Etiologi Frozen Shoulder ....................................................................13
2.4. Klasifikasi Frozen Shoulder ...............................................................14
2.5. Patofisiologi Frozen Shoulder ............................................................14
2.6. Manifestasi Klinis Frozen Shoulder ...................................................15
2.7. Diagnosa Frozen Shoulder ..................................................................17
2.8. Diagnosa Banding dari Frozen Shoulder ............................................19
2.9. Komplikasi Frozen Shoulder ..............................................................20
2.10. Tatalaksana Komprehensif Frozen Shoulder ......................................21
2.11. Prognosis Frozen Shoulder .................................................................29
BAB 3 (KESIMPULAN) .................................................................................................30
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................31

3
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Pemeriksaan luas gerak sendi bahu ............................................................12

Tabel 2.2 Tahap-tahap perkembangan frozen shoulder ..............................................16

4
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 : Inflamasi kapsul sendi glenohumeral ........................................................8

Gambar 2.2 : Tampak anterior sendi glenohumeral........................................................9

Gambar 2.3 : Tampak anterior potongan koronal sendi glenohumeral ............................ 10

Gambar 2.4 : Otot otot rotator cuff ..............................................................................11

Gambar 2.5 : Bagan patogenesis dan temuan klinis frozen shoulder .............................15

Gambar 2.6 : Timeline pada tahap perkembangan penyakit frozen shoulder..................16

Gambar 2.7 : Apley scratch test ......................................................................................18

Gambar 2.8 : Codmans pendulum exercise ...................................................................23

Gambar 2.9 : Pulley exercise ..........................................................................................24

Gambar 2.10 : Towel exercise (internal rotasi) .................................................................24

Gambar 2.11 : Anterior shoulder stretch ..........................................................................25

Gambar 2.12 : Advanced anterior shoulder stretch ..........................................................25

Gambar 2.13 : Wand exercise ...........................................................................................26

Gambar 2.14 : Manipulasi bahu .......................................................................................27

Gambar 2.15 : Hierarki tatalaksana frozen shoulder.........................................................28

Gambar 2.16 : Titik penjaruman lokal dan distal pada frozen shoulder ...........................29

5
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Frozen shoulder adalah istilah awam mengenai kumpulan gejala berupa kekakuan
dan nyeri pada sendi bahu yang menyebabkan keterbatasan luas gerak sendi baik aktif
maupun pasif. Dalam bahasa kedokteran, frozen shoulder disebut sebagai adhesive capsulitis
atau kapsulitis adhesiva. Istilah adhesive capsulitis menggambarkan adanya perlekatan serta
pembengkakan (inflamasi) kapsul sendi bahu atau glenohumeral, yang menyebabkan kapsul
tersebut menjadi mengkerut dan membentuk jaringan parut (mengalami fibrosis) sehingga
membatasi gerak bahu. Berdasarkan data epidemiologi, frozen shoulder terjadi pada 2%
populasi dunia, seringkali terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki, pada bahu yang
tidak mendominasi gerakan dibandingkan bahu yang mendominasi gerakan, serta
prevalensinya lebih sering terjadi setelah usia 40 tahun, umumnya usia 40-60 tahun.(1,2)
Patofisiologi frozen shoulder belum diketahui secara jelas. Beberapa peneliti
menyebutkan bahwa faktor genetik, autoimun, trauma pada sendi bahu atau area sekitarnya,
kompresi radiks saraf servikal, kerusakan atau gangguan nervus asesorius (N. XI), imobilisasi
lama pada sendi bahu akibat penyakit dasar apapun, diabetes mellitus, serta gangguan
hormonal seperti berkurangnya jumlah estrogen, hipotiroid, hiperparatiroid, dan sebagainya
dapat mendasari timbulnya frozen shoulder. Diagnosis dari penyakit ini biasanya didapatkan
dari gejala klinis (anamnesa dan pemeriksaan fisik), sedangkan pemeriksaan penunjang
seperti pemeriksaan laboratorium dan radiologis digunakan untuk menentukan penyakit
dasar, menyingkirkan diangnosa banding, atau jika terdapat kecurigaan kuat adanya penyakit
lain yang menyebabkan tidak maksimalnya efek terapi yang didapat.(1,2,3)
Masalah aktivitas yang sering ditemukan pada penderita frozen shoulder adalah
tidak mampu menyisir rambut, kesulitan dalam berpakaian, kesulitan memakai breastholder
(BH) bagi wanita, mengambil dan memasukkan dompet di saku pakaian, serta gerakan-
gerakan lainnya yang melibatkan sendi bahu. Ketidakmampuan tersebut timbul karena
adanya nyeri dan kekakuan dalam menggerakkan sendi bahu. Selain itu, luas gerak sendi
bahu penderita frozen shoulder juga terbatas ketika digerakkan oleh orang lain (secara pasif).
Secara keseluruhan, dapat dikatakan bahwa penderita frozen shoulder akan mengalami
gangguan dalam melaksanakan fungsinya, baik dalam fungsi activity daily living (ADL)
maupun dalam fungsi sosial dan pekerjaan.(2)

6
Gangguan fungsi ADL, sosial, dan pekerjaan yang dialami penderita frozen shoulder
merupakan suatu kecacatan, sehingga diperlukan penatalaksanaan komprehensif berupa
pencegahan timbulnya penyakit maupun progresivitas penyakit, pemberian obat-obatan anti-
inflamasi, edukasi kesehatan, serta rehabilitasi berupa fisioterapi dengan modalitas maupun
terapi latihan. Tindakan operatif tidak mutlak diperlukan kecuali ditemukan deformitas yang
berat dengan keluhan nyeri yang sangat, atau jika terapi konservatif adekuat dalam 3 bulan
tidak memperbaiki atau mengurangi gejala klinis pasien.(2,3)

1.2. Tujuan dan Manfaat


Untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman, sekaligus mendiskusikan perihal
salah satu penyakit yang sering ditemui di masyarakat, yaitu frozen shoulder atau adhesive
capsulitis, mengenai definisi, etiologi, klasifikasi, patofisiologi, gejala dan tanda klinis,
tatalaksana komprehensif, serta prognosis. Pengetahuan dan pemahaman frozen shoulder ini
diharapkan dapat diaplikasikan, sehingga menumbuhkan tindakan preventif, serta
penatalaksanaan yang cepat dan tepat.

7
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Frozen Shoulder


Frozen shoulder atau adhesive capsulitis adalah suatu sindrom atau kumpulan gejala
berupa kekakuan dan nyeri pada sendi bahu, yang digambarkan dengan adanya perlekatan
serta pembengkakan (inflamasi) kapsul sendi glenohumeral, yang menyebabkan kapsul
tersebut menjadi mengkerut dan membentuk jaringan parut (mengalami fibrosis) sehingga
membatasi luas gerak sendi, baik aktif maupun pasif.(1,4)

Gambar 2.1 : Inflamasi kapsul sendi glenohumeral(4)

2.2. Anatomi Fungsional Sendi Bahu


Secara anatomi, 3 tulang utama yang membentuk bahu adalah humerus, scapula,
dan clavicula, serta beberapa sendi yang terlibat dalam gerakan bahu adalah sendi
glenohumeral, acromioclavicular, sternoclavicular, dan intervertebral C5-T1. Sendi
glenohumeral terdiri dari fossa glenoidalis scapulae dan caput humeri. Fossa glenoidalis
scapulae berperan sebagai mangkuk sendi glenohumeral yang terletak di anterosuperior
angulus scapulae, yaitu pertengahan antara acromion dan processus coracoideus. Sedangkan
caput humeri berperan sebagai kepala sendi yang berbentuk bola dengan diameter 3 cm
dan menghadap ke superior, medial, dan posterior. Berdasarkan bentuk permukaan tulang
pembentuknya, sendi glenohumeral termasuk dalam tipe ball and socket joint.(4,5)
Sudut bulatan caput humeri 180, sedangkan sudut cekungan fossa glenoidalis
scapulae hanya 160, sehingga 2/3 permukaan caput humeri tidak dilingkupi oleh fossa
glenoidalis scapulae. Hal ini mengakibatkan sendi glenohumeral tidak stabil. Oleh karena

8
itu, stabilitasnya dipertahankan oleh stabilisator yang berupa ligamen, otot, dan kapsul.
Ligamen pada sendi glenohumeral antara lain ligamen coracohumeral dan ligamen
glenohumeral. Ligamen coracohumeral terbagi menjadi 2, berjalan dari processus
coracoideus sampai tuberculum mayor humeri dan tuberculum minor humeri. Sedangkan
ligamen glenohumeral terbagi menjadi 3, yaitu superior band yang berjalan dari tepi atas
fossa glenoidalis scapulae sampai caput humeri; middle band yang berjalan dari tepi atas
fossa glenoidalis scapulae sampai ke depan humeri; inferior band yang berjalan
menyilang dari tepi depan fossa glenoidalis scapulae sampai bawah caput humeri.(5)

Gambar 2.2 : Tampak anterior sendi glenohumeral(5)

Kapsul sendi glenohumeral merupakan pembungkus sendi yang berasal dari


ligamen glenohumeral pada fossa glenoidalis scapulae sampai collum anatomicum humeri.
Kapsul sendi dibagi menjadi dua lapisan, yaitu:(5,6)

1. Kapsul synovial (lapisan dalam)


Kapsul synovial mempunyai jaringan fibrocolagen agak lunak dan tidak
memiliki saraf reseptor dan pembuluh darah. Fungsinya menghasilkan cairan synovial
dan sebagai transformator makanan ke tulang rawan sendi. Cairan synovial normalnya
bening, tidak berwarna, dan jumlahnya ada pada tiap-tiap sendi antar 1 sampai 3 ml.

2. Kapsul fibrosa (lapisan luar)


Kapsul fibrosa berupa jaringan fibrous keras yang memiliki saraf reseptor dan
pembuluh darah. Fungsinya memelihara posisi dan stabilitas sendi, serta regenerasi
kapsul sendi.

9
Gambar 2.3 : Tampak anterior potongan koronal sendi glenohumeral(5)

Otot-otot pembungkus sendi glenohumeral terdiri dari otot-otot rotator cuff, yaitu
m. supraspinatus, m. infraspinatus, m. teres minor, dan m.subscapularis. Fungsi otot-otot
tersebut yaitu:(5,6)

1. M. supraspinatus
M. supraspinatus berorigo di fossa supraspinatus scapulae, berinsertio di
bagian atas tuberculum mayor humeri dan capsula articulation humeri, serta disarafi
oleh n. suprascapularis. Fungsi otot ini adalah membantu m.deltoideus melakukan
abduksi bahu dengan memfiksasi caput humeri pada fossa glenoidalis scapulae.

2. M. infraspinatus
M. infraspinatus berorigo di fossa infraspinata scapulae, berinsertio di
bagian tengah tuberculum mayor humeri dan capsula articulation humeri, serta
disarafi oleh n. suprascapularis. Fungsi otot ini adalah melakukan eksorotasi bahu dan
menstabilkan articulatio glenohumeral.

10
3. M. teres minor
M. teres minor berorigo di 2/3 bawah pinggir lateral scapulae, berinsertio di
bagian bawah tuberculum mayor humeri dan capsula articulatio humeri, serta disarafi
oleh cabang n. axillaris. Otot ini berfungsi membantu m. infraspinatus melakukan
eksorotasi bahu dan menstabilkan articulatio glenohumeral.

4. M. subscapularis
M. subscapularis berorigo di fossa subscapularis pada permukaan anterior
scapula dan berinsersio di tuberculum minor humeri, yang disarafi oleh n. subscapularis
superior dan inferior serta cabang fasciculus posterior plexus brachialis. Fungsi otot ini
adalah melakukan endorotasi bahu dan membantu menstabilkan articulatio glenohumeral.

Gambar 2.4 : Otot otot rotator cuff(5)

Sendi glenohumeral memiliki beberapa karakteristik, antara lain: (1) perbandingan


antara mangkok sendi dan kepala sendi tidak sebanding; (2) kapsul sendinya relatif lemah;
(3) otot-otot pembungkus sendi relatif lemah; (4) gerakanya paling luas; dan (5)
stabilitas sendi relatif kurang stabil. Gerakan yang dapat dilakukan oleh sendi
glenohumeral antara lain fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, eksorotasi (eksternal rotasi), dan
endorotasi (internal rotasi). Berikut ini adalah tabel mengenai luas gerak sendi bahu, serta otot
dan saraf yang terlibat:(6)

11
Tabel 2.1 Pemeriksaan luas gerak sendi bahu(6)
Pemeriksaan Muskulus Nervus, Radiks Gambar
Deltoideus
Axillaris, C5-6
(anterior portion)
Pectoralis medial
Pectoralis mayor
dan lateral, C5-T1
Fleksi
Musculocutaneus,
Biceps brachii
C5-6
Musculocutaneus,
Coracobrachialis
C5-7
Deltoideus
(posterior Axillaris, C5-6
portion)
Thoracodorsal,
Ekstensi Latissimus dorsi
C6-8

Lower
Teres mayor
subscapular, C5-6

Deltoideus
Axillaris, C5-6
(middle portion)

Abduksi

suprascapular,
Supraspinatus
C5-6

Pectoralis medial
Pectoralis mayor
dan lateral, C5-T1

Thoracodorsal,
Adduksi Latissimus dorsi
C6-8

Lower
Teres mayor
subscapular, C5-6

suprascapular,
Infraspinatus
C5-6

Ekstenal Teres minor dan


rotasi deltoideus
Axillaris, C5-6
(posterior
portion)

Upper atau lower


Subscapularis
subscapular, C5-6
Pectoralis medial
Pectoralis mayor
dan lateral, C5-T1
Internal Thoracodorsal,
Latissimus dorsi
Rotasi C6-8
Deltoideus
Axillaris, C5-6
(anterior portion)
Lower
Teres mayor
subscapular, C5-6

12
2.3. Etiologi Frozen Shoulder
Berbagai mekanisme yang memicu timbulnya frozen shoulder belum sepenuhnya
jelas. Berdasarkan penelitian, yang diketahui hingga saat ini hanya faktor risikonya saja.
Faktor risiko frozen shoulder tersebut yaitu:(1,2,4,7)
1. Usia di atas 40 tahun, umumnya 40-60 tahun.
Orang dengan usia di atas 40 tahun memiliki aktivitas yang lebih rendah
dibandingkan orang dengan usia di bawah 40 tahun, sehingga orang dengan usia di atas 40
tahun memiliki kemungkinan inaktivitas yang lebih lama pada sendi bahu, yang dapat
menimbulkan frozen shoulder.
2. Jenis kelamin
Prevalensi frozen shoulder pada perempuan lebih besar dibandingkan laki-laki.
Perempuan rawan mengalami frozen shoulder karena faktor hormonal (menopause)
maupun pekerjaan. Banyaknya wanita yang hanya bekerja dirumah, misalnya mencuci
baju, menyapu, menggendong anak, dan sebagainya, dengan posisi yang monoton setiap
hari, dapat meningkatkan risiko mengalami frozen shoulder.
3. Gangguan endokrin
Penyakit frozen shoulder mengenai 10-20% penderita diabetes mellitus tanpa
penyebab yang jelas. Beberapa peneliti memperkirakan bahwa neuropati motorik dan
gangguan vaskular akibat diabetes mellitus mendasari penyakit frozen shoulder tersebut.
Frozen shoulder juga dapat didasari oleh adanya penyakit hormonal lainnya, seperti
hipotiroid dan hiperparatiroid.
4. Trauma atau pasca pembedahan daerah bahu
Trauma, baik yang tidak disengaja maupun berupa tindakan operatif medis dapat
menyebabkan frozen shoulder. Proses inflamasi disertai penyembuhan yang melibatkan
pertumbuhan jaringan fibrous berlebih di daerah bahu mendasari adanya rasa nyeri dan
keterbatasan luas gerak sendi pada pasien post trauma atau post operasi tersebut.
5. Imobilisasi lama daerah bahu
Berbagai etiologi dasar yang menyebabkan imobilisasi lama seperti stroke,
kelumpuhan karena cidera medula spinalis, fraktur, dan sebagainya dapat menimbulkan
frozen shoulder akibat statis vena dan kongesti sekunder, sehingga terjadi edema dan
penimbunan protein, dan pada akhirnya memicu reaksi fibrosis.
6. Gangguan maupun inflamasi pada otot, saraf, dan tulang yang berkaitan dengan bahu
Proses inflamasi pada sendi bahu dan jaringan sekitarnya dapat disebabkan oleh
trauma dan infeksi. Proses inflamasi ini akan memicu reaksi fibrosis, sehingga kapsul

13
menebal dan pada akhirnya menyempitkan luas gerak sendi. Penekanan radiks saraf
servikal juga dapat mempengaruhi fungsi sensorik dan motorik otot bahu, sehingga terjadi
gangguan mobilisasi dan pada akhirnya memudahkan proses inflamasi.
7. Penyakit Parkinson
Rigiditas pada otot penderita penyakit Parkinson menyebabkan mobilitasnya
terganggu. Penyakit ini tampaknya juga menyebabkan imobilisasi pada sendi bahu,
sehingga mudah terjadi frozen shoulder.

2.4. Klasifikasi Frozen Shoulder


Terdapat dua klasifikasi dari frozen shoulder berdasarkan penyebabnya, yaitu:(1)
1. Frozen shoulder primer
Frozen shoulder dengan penyebab yang tidak dapat diidentifikasi (idiopatik).
2. Frozen shoulder sekunder
Frozen shoulder yang terjadi akibat injuri atau trauma, pembedahan, maupun
penyakit dasar lainnya.

2.5. Patofisiologi Frozen Shoulder


Patofisiologi frozen shoulder masih belum jelas, tetapi beberapa peneliti menyatakan
bahwa dasar terjadinya frozen shoulder yaitu imobilisasi yang lama. Setiap nyeri yang timbul
pada bahu dapat merupakan awal kekakuan sendi bahu. Keadaan ini sering timbul bila sendi
tidak digunakan terutama pada pasien yang pasif, atau memiliki nilai ambang nyeri yang
rendah dimana pasien tidak tahan terhadap nyeri yang ringan, sehingga pasien akan
memposisikan tangannya pada posisi tergantung dan enggan untuk menggerakkannya.(1,2,4)
Bahu yang immobile terlalu lama akan menyebabkan statis vena dan kongesti
sekunder, disertai dengan vasospastik. Keadaan tersebut menyebabkan hipoksia hingga
anoksia jaringan, reaksi timbunan protein, dan edema, sehingga terjadi kematian atau
nekrosis sel fungsional (otot, tendon, ligamen) dan digantikan dengan jaringan ikat fibrous.
Fibrosis tersebut dapat menyebabkan perlekatan (adhesi) kapsul sendi sehingga luas gerak
sendi menjadi terbatas. Gangguan luas gerak sendi juga timbul karena kekentalan dan jumlah
cairan synovial yang berubah akibat adanya penebalan dan perlekatan kapsul sendi, timbunan
protein, edema, serta inflamasi membran synovial. Adanya kematian sel akan melepaskan
berbagai mediator kimia pro-inflamasi yang akan memberikan sinyal nyeri ke triggers local
nociceptors, sehingga timbul nyeri. Nyeri tersebut bersifat lokal, dan lebih berat dirasakan
apabila sendi bahu bergerak, baik aktif maupun pasif.(1,2,4,8)

14
Gambar 2.5 : Bagan patogenesis dan temuan klinis frozen shoulder(8)

2.6. Manifestasi Klinis Frozen Shoulder


Secara umum, tanda dan gejala dari frozen shoulder yaitu:(1)
Nyeri bahu, memberat bila sendi bahu digerakkan
Berkurangnya luas gerak sendi atau range of motion/ROM bahu
Berkurangnya ayunan atau swing lengan atas ketika berjalan
Memegang lengan atas mendekati tubuh dengan tujuan proteksi dari rasa nyeri
Menampilkan postur sedikit menunduk atau membungkuk pada daerah bahu yang sakit
Nyeri punggung atas dan leher

Terdapat beberapa kondisi bahu yang menyebabkan nyeri dan terbatasnya gerakan.
Diagnosis frozen shoulder dapat ditegakkan dengan tepat oleh tenaga medis yang

15
berpengalaman dalam membedakan berbagai penyakit bahu yang ada. Gejala utama frozen
shoulder adalah nyeri dan kekakuan sendi bahu. Nyeri dapat lebih parah di malam hari, yang
dipicu oleh peletakan atau penekanan bahu yang sakit. Saat bahu kehilangan luas gerak sendi,
aktivitas normal seperti berpakaian, menelepon, atau melakukan pekerjaan lainnya akan
menjadi sulit. Frozen shoulder memiliki tiga stadium atau tahap berdasarkan perkembangan
penyakitnya. Setiap tahap umumnya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk maju ke
tahap berikutnya. Perkembangan normal frozen shoulder melalui ketiga tahap tersebut adalah
antara enam bulan hingga dua tahun. Tanpa usaha terencana untuk mengembalikan luas
gerakan sendi bahu melalui tatalaksana koprehensif, efek dari frozen shoulder dapat menjadi
permanen, walaupun sifat dari frozen shoulder itu sendiri adalah self limiting disease. Tiga
tahap perkembangan penyakit frozen shoulder, yaitu:(1)

Tabel 2.2 Tahap-tahap perkembangan frozen shoulder(1,4)


Stadium Manifestasi Klinis
Nyeri pada bahu adalah tanda utama pada stadium ini. Nyeri muncul secara bertahap dan
Stadium freezing
semakin lama semakin memburuk. Ketika nyeri memburuk, luas gerak sendi bahu mulai
(painful stage)
berkurang. Stadium ini berlangsung 6 minggu hingga 9 bulan.
Nyeri mungkin berkurang pada stadium ini, atau muncul hanya ketika sendi digerakkan.
Stadium stiffness Tetapi, kekakuan dan restriksi bahu meningkat. Keadaan ini menyebabkan luas gerak
(frozen stage) sendi bahu sangat terbatas. Stadium ini berlangsung 4-6 bulan, dan selama itu pula
aktivitas sehari-hari akan terganggu, sehingga otot bahu berisiko mengalami atrofi.
Stadium ini ditandai dengan berkurangnya rasa nyeri yang nyata, disertai gerakan sendi
Stadium recovery bahu yang meningkat secara bertahap. Pada stadium ini, bahu akan lebih responsif
(thawing stage) terhadap terapi latihan. Untuk mencapai stadium ini, dibutuhkan waktu 6-24 bulan, atau
bahkan lebih, terhitung mulai stadium freezing dan stiffness.

Gambar 2.6 : Timeline pada tahap perkembangan penyakit frozen shoulder(1)

16
2.7. Diagnosa Frozen Shoulder
Diagnosa frozen shoulder ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit sesuai stadium
perkembangan penyakit yang didapatkan pada anamnesis, dikombinasikan dengan
pemeriksaan fisik berupa pemeriksaan fisik umum dan pemeriksaan fisik spesifik mengenai
luas gerak sendi bahu. Luas gerak sendi bahu yang diperiksa adalah pada bahu yang sakit,
lalu dibandingkan dengan luas gerak sendi bahu sisi yang sehat, diawali dengan gerakan
pasif, lalu dibandingkan pula dengan gerakan aktif. Pemeriksaan penunjang laboratorium
dapat menentukan faktor risiko dan/atau penyakit dasar dari frozen shoulder, contoh:
pemeriksaan gula darah, darah lengkap, hormon tiroid, dan sebagainya. Frozen shoulder
sering tidak tampak pada X-ray, kecuali terdapat deformitas yang berat pada sendi bahu. CT-
scan dan MRI terkadang dapat mengkonfirmasi berbagai temuan pada frozen shoulder, tetapi
seringkali tidak dibutuhkan.(7)
1. Anamnesa(1,7)
Keluhan nyeri bahu bertahap yang semakin lama semakin memberat, dapat mencapai
hitungan bulan, disertai keterbatasan luas gerak sendi bahu.
Keluhan nyeri bahu terutama saat malam hari, muncul ketika bahu yang sakit menjadi
penopang atau mengalami tekanan.
Keluhan nyeri bahu memberat apabila sendi bahu digerakkan, baik aktif maupun pasif,
sehingga pasien mengatakan lebih nyaman memegangi lengan atas mendekati tubuh
dengan tujuan proteksi dari rasa nyeri.
Keluhan nyeri leher dan punggung atas dapat menyertai nyeri maupun keterbatasan luas
gerak sendi bahu.
Keluhan kaku dan kesulitan menggerakkan sendi bahu bertahap yang semakin lama
semakin berat, diikuti rasa nyeri bahu yang berkurang dibanding sebelumnya.
Kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari seperti mengkancingkan kemeja, mengambil
sesuatu di saku celana belakang, mengangkat telepon, mengambil barang diatas lemari,
menjemur pakaian, dan sebagainya.
2. Pemeriksaan fisik(4,6,7)
Inspeksi
- Pasien dengan frozen shoulder sering datang dengan posisi adduksi dan internal
rotasi pada sendi bahu.
- Pasien tampak memegang lengan atas mendekati tubuh dengan tujuan proteksi dari
rasa nyeri.

17
- Terkadang pasien menampilkan postur sedikit menunduk atau membungkuk pada
daerah bahu yang sakit.
- Dapat terlihat adanya atrofi otot bahu (deltoid dan rotator cuff) pada sisi yang sakit
(dibandingkan dengan sisi yang sehat dan pertimbangkan tangan dominan yang
digunakan pasien).
Palpasi
- Penekanan pada daerah bahu yang sakit atau kaku akan menimbulkan nyeri atau
bertambah beratnya nyeri dibandingkan sebelum penekanan.
- Otot bahu sisi yang sakit, terutama otot deltoid dan otot-otot rotator cuff, terasa lebih
kecil dibandingkan otot bahu sisi yang sehat karena mengalami atrofi.
Luas gerak sendi (ROM)
- Tanda yang patognomonik pada frozen shoulder yaitu sangat terbatasnya (hampir
sepenuhnya) gerakan eksternal rotasi, baik aktif maupun pasif. Tanda ini dapat
membedakan frozen shoulder dengan ruptur atau robeknya otot-otot rotator cuff.
- Seluruh luas gerak sendi glenohumeral akan berkurang pada frozen shoulder.
Pemeriksaan spesifik
- Apley scratch test : tes spesifik untuk mengevaluasi luas gerak sendi bahu aktif
pasien. Pasien diminta menggapai daerah angulus medialis scapula dengan tangan
sisi kontralateral dari atas melewati belakang kepala (abduksi dan eksternal rotasi)
dan dari bawah (adduksi dan internal rotasi). Pada frozen shoulder, pasien tidak
dapat melakukan gerakan ini, baik secara aktif maupun pasif. Apabila secara pasif
pasien dapat melakukan gerakan ini, tetapi secara aktif tidak bisa, maka
kemungkinan bukan frozen shoulder, melainkan terdapat kelemahan otot bahu.

Gambar 2.7 : Apley scratch test(1)

18
- Active and passive shoulder flexion test : tes ini dilakukan untuk mengetahui
keterbatasan luas gerak fleksi sendi bahu. Fleksikan kedua sendi bahu pasien secara
pasif, lalu nilai dan bandingkan derajatnya. Setelah itu, minta pasien untuk
memfleksikan sendiri kedua sendi bahunya, lalu nilai dan bandingkan derajatnya.
Pada frozen shoulder, gerakan fleksi sendi bahu, baik aktif maupun pasif, akan
mengalami keterbatasan (kurang atau sama dengan 90o, dapat pula lebih dari 90o,
tetapi tidak dapat maksimal, tergantung pada stadium apa pasien saat pemeriksaan).
- Drop-arm test atau moseley test : tes ini dilakukan untuk mengetahui ada
tidaknya kerusakan otot-otot serta tendon yang menyusun rotator cuff. Pemeriksa
mengabduksikan sendi bahu pasien sampai 90o, dan meminta pasien menurunkan
lengannya secara perlahan-lahan pada sisi tersebut. Tes ini positif jika pasien tidak
dapat menurunkan lengannya perlahan-lahan (langsung jatuh) atau timbul nyeri pada
saat mencoba melakukan gerakan tersebut. Hasil positif menunjukkan adanya
kerusakan pada kompleks rotator cuff.
3. Pemeriksaan penunjang(7)
Pemeriksaan penunjang laboratorium dapat menentukan faktor risiko dan/atau penyakit
dasar dari frozen shoulder, contoh: pemeriksaan gula darah, darah lengkap, hormon
tiroid, dan sebagainya.
Frozen shoulder sering tidak tampak pada X-ray, kecuali terdapat deformitas yang berat
pada sendi bahu. CT-scan dan MRI terkadang dapat mengkonfirmasi berbagai temuan
pada frozen shoulder, tetapi seringkali tidak dibutuhkan.

2.8. Diagnosa Banding dari Frozen Shoulder


Diagnosa banding frozen shoulder berdasarkan manifestasi klinis yang timbul adalah
sebagai berikut:
1. Dislokasi humerus posterior
Suatu keadaan dimana caput humerus keluar dari cavitas glenoidale ke bagian
posterior. Keadaan ini menimbulkan nyeri yang berat pada bahu dan keterbatasan luas
gerak sendi. Pada keadaan ini, pasien tidak merasa kaku pada persendian bahu. Pada
pemeriksaan fisik, caput humerus sering dapat teraba dari luar, atau tidak terabanya caput
humerus ditempat yang seharusnya, sehingga temuan tersebut dapat membedakan
penyakit ini dengan frozen shoulder selain temuan dari riwayat penyakit pasien.

19
2. Ruptur atau robeknya rotator cuff
Rupturnya rotator cuff akan menyebabkan nyeri yang hebat (bila total) atau nyeri
yang ringan (bila parsial). Luas gerak sendi pasien dengan rupturnya rotator cuff akan
mengalami keterbatasan, terutama gerakan abduksi aktif atau dengan kata lain drop-arm
test positif (secara pasif, gerakan abduksi dapat lebih luas).
3. Tendinitis rotator cuff
Gejala rotator cuff tendinitis mirip dengan frozen shoulder fase awal karena
terdapat keterbatasan gerakan eksternal rotasi. Pada tendinitis rotator cuff, gerakan
eksternal rotasi secara pasif tidak didapatkan keterbatasan yang signifikan, berbeda dengan
frozen shoulder. Pada tendinitis rotator cuff, juga ditemukan nyeri serta keterbatasan
gerakan abduksi aktif atau dengan kata lain drop-arm test positif. Tendinitis rotator cuff
ini sering mengenai tendon otot supraspinatus dan biceps brachii caput longum
(bisipitalis).
4. Inflamasi bursa pada daerah bahu (bursitis)
Gejala utama bursitis ini adalah nyeri pada daerah bahu. Dapat dijumpai
keterbatasan luas gerak sendi, tetapi tidak sesempit dan sekompleks frozen shoulder.
Keterbatasan luas gerak sendi pada bursitis tergantung bagian bursa mana yang mengalami
inflamasi. Bursa yang sering mengalami inflamasi adalah bursa subakromion dan
subdeltoid, sehingga menimbulkan keterbatasan gerak abduksi sendi bahu.
5. Thoracic outlet syndrome
Thoracic outlet syndrome adalah kumpulan gejala berupa rasa nyeri dan sensasi
seperti ditusuk-tusuk jarum atau baal pada bagian leher dan/atau bahu yang menjalar ke
lengan atas, lengan bawah, hingga tangan dan bagian tubuh lain, yang disebabkan oleh
penekanan cabang-cabang saraf servikal oleh tulang-tulang penyusun dinding toraks,
seperti clavicula, costae, dan sebagainya. Keterbatasan gerak sendi tidak umum dijumpai
pada sindrom ini, tetapi dapat saja terjadi.

2.9. Komplikasi Frozen Shoulder


Kontraktur dan atrofi otot-otot bahu, sehingga kekuatan otot menurun
Deformitas sendi glenohumeral, serta sendi-sendi lain pada daerah bahu
Kerusakan struktur kapsul sendi glenohumeral yang ireversibel

20
2.10. Tatalaksana Komprehensif Frozen Shoulder
Tatalaksana utama frozen shoulder adalah stretching, disertai terapi latihan lainnya.
Tatalaksana lain untuk frozen shoulder adalah pemberian obat anti-inflamasi (NSAID),
injeksi kortikosteroid intra-artikular, manipulasi, mobilisasi, fisioterapi dengan modalitas, dan
acupuncture. Pada kasus frozen shoulder dengan gejala persisten, manipulation under
anesthesia (MUA) atau tindakan operatif (pembedahan) mungkin diperlukan untuk
mengembalikan luas gerak sendi bahu. Tatalaksana komprehensif pada pasien frozen
shoulder bertujuan untuk mengurangi nyeri; meningkatkan luas gerak sendi bahu; mencegah
komplikasi; mengembalikan fungsi pasien dalam kehidupan sehari-hari, sosial, dan
pekerjaan; serta mencegah timbulnya kekambuhan. Tatalaksana komprehensif tersebut
berupa:(1,4,9,10)

1. Preventif
Lakukan aktifitas sederhana (jangan terlalu berat) yang melibatkan sendi bahu setiap
hari seperti senam, jogging sambil mengayunkan lengan secukupnya, dan aktivitas lain
yang bertujuan menghindari imobilisasi sendi bahu, tetapi juga tidak overuse.
Apabila mengalami keadaan post-fraktur yang memerlukan imobilisasi yang cukup
lama, atau kelumpuhan anggota gerak seperti pada stroke yang sudah tidak akut,
sedapat mungkin segera ke pusat rehabilitasi untuk mendapatkan edukasi, fisioterapi
dengan modalitas, latihan gerak sendi, mobilisasi, dan sebagainya.
Apabila mengalami penyakit diabetes mellitus, hipotiroid, dan sebagainya, segera terapi
sesuai indikasi dokter sebelum timbul komplikasi.

2. Kuratif
Non-steroid anti-inflammatory drug (NSAID) seperti aspirin dan ibuprofen dapat
mengurangi nyeri dan pembengkakan. Obat-obatan ini digunakan jangka pendek dan
hanya jika perlu. Obat-obatan ini dapat digunakan sebagai pereda nyeri sebelum
memulai terapi latihan.
Muscle relaxant seperti diazepam dapat digunakan untuk mengurangi kekakuan dan
nyeri dengan menghilangkan spasme pada otot-otot bahu.

21
3. Promotif-edukatif
Jelaskan mengenai apa itu frozen shoulder, serta beri pengertian bahwa penyakit ini
dapat sembuh sendiri tetapi diperlukan penanganan di bidang rehabilitasi medik (selain
obat-obatan) berupa fisioterapi dengan modalitas, latihan luas gerak sendi dan
mobilisasi untuk menghindari komplikasi, serta mempercepat penyembuhan dan
pemulihan.
Edukasi pasien untuk melaksanakan simple exercise pada sendi bahu di rumah, serta
bagaimana gerakan-gerakannya. Kegiatan ini dilaksanakan dengan bantuan keluarga
karena membutuhkan gerakan pasif apabila pasien belum bisa melaksanakan gerak
aktif.
Edukasi pasien bahwa penyembuhan umumnya dapat dicapai dalam 6 bulan hingga 2
tahun, dimana pemulihan akan lebih cepat apabila pasien mau menjalani rehabilitasi.
Setelah pasien sembuh, edukasi pasien untuk mencegah imobilitas sendi bahu, dengan
cara melanjutkan simple exercise pada sendi bahu secara teratur.
Edukasi pasien untuk menghindari penggunaan obat anti-inflamasi jangka panjang.
Edukasi pasien untuk memperbaiki pola hidup dan perilaku.

4. Rehabilitatif
a. Fisioterapi dengan modalitas
Terapi dingin (ice packs atau cold gel packs)
- Terapi dingin berguna untuk mengurangi reaksi inflamasi fase akut, nyeri, dan
spasme otot.
- Diberikan selama 10-20 menit, 2-3 kali sehari, evaluasi setelah melewati fase
akut sebagai pertimbangan untuk menggantinya dengan terapi panas.
Terapi diathermy (USD)
- Tujuan diberikan terapi panas adalah untuk mengurangi spasme otot, mengurangi
nyeri, melancarkan aliran darah, menimbulkan efek anti-inflamasi, meningkatkan
permeabilitas membran sel sehingga transfer cairan dan nutrisi kedalam sel
meningkat, serta digunakan sebagai terapi pendahuluan sebelum memulai terapi
latihan maupun stimulasi listrik.
- USD dipilih karena memiliki daya tembus hingga ke kapsul persendian, tendon,
dan ligamen, serta baik dalam mengurangi adhesi jaringan lunak, nyeri, spasme
otot, kontraktur otot, kekakuan sendi, kalsifikasi bursitis dan tendinitis.

22
- Diberikan setelah fase akut, yaitu beberapa hari (2-3 hari) setelah dimulainya
pemberian obat-obatan anti-inflamasi dan/atau terapi dingin, dengan tujuan untuk
menghindari perburukan proses inflamasi.
- Diberikan 1 kali dalam 2 hari hingga 10-12 kali, tiap kali lamanya kurang lebih
10 menit.
Stimulasi listrik (transcutaneus electrical nerve stimulation/TENS)
Diberikan dengan tujuan menghilangkan nyeri (akut maupun kronis) dan
mengurangi spasme otot, mempertahankan kekuatan otot, memperbaiki sirkulasi,
serta memperlambat terjadinya atrofi otot.
b. Terapi latihan
Codmans pendulum exercise
Tahap awal, penderita menggunakan berat lengannya tanpa menambahkan beban,
lalu secara bertahap menggunakan dumbbells ringan. Lengan yang terkena
mengikuti gerak tubuh. Jaga punggung lurus dan kaki selebar bahu. Gunakan
gerakan tubuh untuk membuat gerakan bahu. Latihan ini dimulai dengan lingkaran
kecil secara bertahap menjadi lingkaran besar. Lakukan 20-25 lingkaran setiap
latihan.

Gambar 2.8 : Codmans pendulum exercise(1)

Pulley exercise
Latihan menggunakan pulley atau katrol ini dapat dilakukan dengan berbagai
gerakan. Latihan ini dilakukan 2-3 siklus setiap hari, tiap siklusnya mengandung 10-
20 kali tarikan total dari kedua tangan. Setiap tarikan tidak boleh dilakukan terlalu
cepat, serta setiap lengan yang tidak sedang menarik tidak boleh memberikan
tahanan yang berlebihan kepada lengan yang sedang menarik.

23
Gambar 2.9 : Pulley exercise(1)

Towel exercise
Towel exercise biasanya dilakukan dengan gerakan internal rotasi dalam posisi
berdiri. Tangan pada bagian bahu yang sakit memegang handuk di belakang
punggung, sedangkan tangan lain memegang handuk di depan. Tangan yang sehat
menarik handuk tersebut secara perlahan ke arah bawah depan, sedangkan tangan
yang sakit harus relaks dan mampu perlahan-lahan mengikuti gerakan ke atas dari
handuk. Ketika regangan yang nyaman dirasakan, tahan posisi tersebut selama 10-30
detik, diulang 5-10 kali atau sampai lelah.

Gambar 2.10 : Towel exercise (internal rotasi)(1)

Anterior shoulder stretch dan advanced anterior shoulder stretch


Latihan ini bertujuan untuk meregangkan otot-otot anterior bahu. Pada anterior
shoulder stretch, diawali dengan meletakkan siku pasien di dekat tubuhnya dengan
tangan pasien menyentuh pintu atau dinding, perlahan-lahan putar tubuh bagian
bawah hingga mencapai peregangan dalam tingkat toleransi yang nyaman,

24
pertahankan siku pasien di dekat tubuhnya, lalu tahan selama 10-30 detik, diulang 5-
10 kali setiap latihan. Dengan kata lain, latihan anterior shoulder stretch
mengandung gerakan eksternal rotasi bahu. Pada advanced anterior shoulder
stretch, pasien mencoba peregangan bahu dengan prinsip yang mirip dengan
anterior shoulder stretch, tetapi posisi lengan 90o, siku ditempatkan ke pintu atau
dinding, posisi salah satu kaki pada sisi bahu yang sakit menerjang maju, dan
gerakan yang dilakukan adalah bersandar ke depan perlahan-lahan hingga terasa
regangan yang nyaman pada daerah anterior bahu.

(1)
Gambar 2.11 : Anterior shoulder stretch

(1)
Gambar 2.12 : Advanced anterior shoulder stretch

25
Wand exercise
Wand exercise adalah latihan pada sendi bahu dengan bantuan tongkat. Tongkat
tersebut akan digenggam oleh kedua tangan, lalu akan dibentuk posisi tertentu sesuai
dengan gerakan yang akan dilakukan. Pada latihan ini, gerakan yang dapat dilakukan
adalah fleksi, ekstensi, internal rotasi, eksternal rotasi, abduksi, dan adduksi sendi
bahu. Wand exercise dapat dilakukan baik pasif maupun aktif, dengan gerakan yang
perlahan-lahan, dilakukan selama beberapa siklus selama pasien dapat mentoleransi.

Gambar 2.13 : Wand exercise(1)

Terapi latihan lainnya


Terapi latihan lain yang dimaksud adalah latihan tanpa menggunakan alat bantu
maupun beban. Latihan ini disesuaikan dengan luas gerak sendi bahu (ROM bahu),
berupa gerakan fleksi, ekstensi, internal rotasi, eksternal rotasi, abduksi, dan
adduksi, diawali dengan gerakan pasif (dibantu pemeriksa atau dirinya sendiri
menggunakan sisi yang sehat), lalu diikuti oleh gerakan aktif, baik pada posisi
berdiri, duduk, maupun tidur.

26
c. Manipulasi bahu
Manipulasi manual pada bahu yang terkena frozen shoulder harus dilakukan
oleh praktisi yang terampil. Tujuannya adalah untuk membebaskan adhesi atau
perlekatan secara manual, serta untuk mengembalikan luas gerak sendi. Tetapi,
manipulasi ini berisiko merobek kapsul sendi bahu sehingga dapat menyebabkan
gangguan struktur internal ataupun pendarahan.

Gambar 2.14 : manipulasi bahu(1)

5. Tindakan invasif
Injeksi steroid intra-articular (seperti triamcinolone acetonide, dan sebagainya) dapat
mengurangi bahkan menghilangkan nyeri dan reaksi inflamasi lainnya dengan cepat,
sehingga dapat digunakan sebagai terapi awal sebelum menjalankan tatalaksana
lainnya. Ijeksi ini berisiko menyebabkan ruptur dari tendon dan ligamen, sehingga
penyuntikan dilakukan maksimal 2 kali dalam setahun, dianjurkan hanya 1 kali dalam
setahun, dan tidak dianjurkan untuk injeksi ulangan bila tidak berindikasi.
Manipulation under anesthesia (MUA) dilakukan pada kasus frozen shoulder dengan
gejala persisten yang tidak memberikan perbaikan setelah terapi konservatif adekuat.
Selama prosedur MUA, pasien akan diberikan general anesthesiaI sehingga tertidur,
lalu dokter yang bersangkutan akan menggerakan sendi bahu pasien secara paksa
hingga mengalami peregangan. Tindakan tersebut akan melepaskan perlekatan kapsul
sendi dan meningkatkan ruang gerak sendi.
Operatif (shoulder arthroscopy) juga dilakukan pada kasus frozen shoulder dengan
gejala persisten yang tidak memberikan perbaikan setelah terapi konservatif adekuat.
Tindakan ini dilakukan dengan insisi minimal di daerah bahu yang sakit, lalu
melepaskan perlekatan kapsul sendi yang ada. Tindakan ini sering dikombinasikan
dengan manipulasi (didahului manipulasi) untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Fase pemulihan post-operasi bervariasi antara 6 minggu hingga 3 bulan. Selama waktu
tersebut, diperlukan terapi latihan luas gerak sendi untuk mencegah komplikasi operasi.

27
Gambar 2.15 : Hierarki tatalaksana frozen shoulder(1)

6. Acupuncture
Pada terapi acupuncture, metode yang dipakai untuk frozen shoulder melibatkan
bermacam-macam pendapat tentang pemilihan titik, namun titik yang dipilih biasanya titik
lokal dan titik distal, sesuai dengan stadium perkembangan penyakit frozen shoulder.
Kebanyakan titik lokal yang dipilih adalah yang terdapat pada atau sekitar sendi bahu yang
mengalami kelainan. Titik-titik yang dapat dipilih antara lain: Jianyu LI-15, Jianjing GB-
21, Jianliao SJ-14, dan Jianzhen SI-19. Penjaruman titik lokal akan menyebabkan otot-otot
yang spasme mengalami relaksasi. Keadaan tersebut disebabkan karena perbaikan
sirkulasi dan berkurangnya inflamasi yang terjadi.(11)
Titik distal yaitu titik-titik yang jauh dari pusat kelainan, tetapi terhubung secara
refleksi dengan pusat kelainan. Titik-titik distal yang dapat dipilih antara lain: Waiguan Sj-
5, Hegu LI-4, Quchi LI-11, Yanglingquan GB-34, Tiaokou ST-38, dan Chengsan BL-57.
Pada beberapa penelitian, hanya dengan menggunakan titik Tiaokou ST-38 ke arah
Chengsan BL-57 ipsilateral dapat memberikan hasil yang baik. Pada penelitian lain yang

28
menggunakan titik Yanglingquan GB-34 ipsilateral, ternyata juga dapat menangani frozen
shoulder. Pada frozen shoulder yang sudah kronis, dapat digunakan dengan metode
INMAS yaitu dengan pengambilan titik-titik homeostatik bahu [H3 (Jianjing), H8
(Tianzong), H13 (Jianwaishu), H17 (Wuyi)], titik-titik paravertebral (C4-T1), dan titik-
titik simptomatik (pada titik nyeri tekan daerah sendi bahu).(11)
Penanganan frozen shoulder secara umum dengan pemberian obat-obatan anti-
inflamasi (NSAID) terus-menerus akan menimbulkan banyak efek samping, demikian
juga dengan penyuntikan steroid intra-artikular. Acupuncture sebagai terapi komplementer
untuk nyeri ternyata memberikan hasil yang baik, sehingga dosis obat dapat dikurangi
bahkan akhirnya dapat dihentikan. Terapi kombinasi obat-obatan, fisioterapi dan
acupuncture dapat mempercepat penyembuhan, sehingga kualitas hidup penderita dapat
segera meningkat.(11)

Gambar 2.16 : Titik penjaruman lokal dan distal pada frozen shoulder(11)

2.11. Prognosis Frozen Shoulder


Frozen shoulder adalah self limiting disease dalam waktu 6 bulan hingga 2 tahun.
Tetapi, tanpa usaha terencana untuk mengembalikan luas gerak sendi bahu serta fungsi pasien
dalam kehidupan sehari-hari, sosial, dan pekerjaan melalui tatalaksana koprehensif, efek dari
frozen shoulder dapat menjadi permanen, sembuh tetapi tidak sempurna, atau sembuh
sempurna tetapi kembali mengalami frozen shoulder pada bahu sisi berlawanan. Berdasarkan
data epidemiologi, 41% pasien dengan frozen shoulder tidak sembuh sempurna, 6-17%
mengalami frozen shoulder kembali pada bahu sisi berlawanan dalam 5 tahun, dan
kekambuhan pada bahu sisi yang sama tidak umum terjadi. Tetapi, dengan penatalaksanaan
komprehensif yang tepat, prognosa pasien dengan frozen shoulder tanpa komplikasi dalam
hal kesembuhan dan pengembalian fungsi adalah baik.(1,4,7)

29
BAB 3
KESIMPULAN

Frozen shoulder atau adhesive capsulitis adalah suatu sindrom berupa nyeri dan
kekakuan pada sendi bahu, yang manifestasinya terbagi menjadi 3 stadium (painful, frozen,
thawing), digambarkan dengan adanya perlekatan serta pembengkakan kapsul sendi
glenohumeral, yang menyebabkan kapsul tersebut menjadi mengkerut dan mengalami
fibrosis, sehingga membatasi luas gerak sendi aktif maupun pasif. Etiologi dan patofisiologi
frozen shoulder belum sepenuhnya jelas, diperkirakan karena stasis vena dan kongesti
sekunder akibat imobilisasi bahu yang lama. Faktor risiko frozen shoulder yaitu: usia diatas
40 tahun; perempuan; memiliki gangguan endokrin; trauma atau pasca pembedahan daerah
bahu; imobilisasi bahu yang lama; inflamasi otot, tulang, saraf daerah bahu; serta memiliki
penyakit parkinson.
Diagnosa frozen shoulder ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit yang didapatkan
pada anamnesis, dikombinasikan dengan pemeriksaan fisik umum dan spesifik (terutama
Apley scratch test). Pemeriksaan penunjang laboratorium dapat menentukan faktor risiko
dan/atau penyakit dasar dari frozen shoulder. Frozen shoulder sering tidak tampak pada X-
ray, kecuali terdapat deformitas yang berat pada sendi bahu. CT-scan dan MRI terkadang
dapat mengkonfirmasi berbagai temuan pada frozen shoulder, tetapi seringkali tidak
dibutuhkan. Anamnesis dan pemeriksaan yang baik diperlukan untuk membedakan frozen
shoulder dengan dislokasi posterior humerus, ruptur dan tendinitis rotator cuff, bursitis, serta
thoracic outlet syndrome.
Tatalaksana utama frozen shoulder adalah stretching, disertai terapi latihan lainnya.
Tatalaksana lain untuk frozen shoulder adalah pemberian obat anti-inflamasi (NSAID),
injeksi kortikosteroid intra-artikular, manipulasi, mobilisasi, dan fisioterapi dengan modalitas.
Pada kasus frozen shoulder dengan gejala persisten, MUA dan/atau pembedahan mungkin
diperlukan. Tatalaksana komprehensif pada pasien frozen shoulder bertujuan untuk
mengurangi nyeri; meningkatkan luas gerak sendi; mencegah komplikasi kontraktur, atrofi,
deformitas sendi, dan kerusakan struktur kapsul permanen; mengembalikan fungsi pasien
dalam kehidupan sehari-hari, sosial, dan pekerjaan; serta mencegah timbulnya kekambuhan.
Frozen shoulder adalah self limiting disease yang sering tidak sembuh sempurna, walaupun
terdapat risiko menjadi permanen atau mengalami kekambuhan, dengan tatalaksana yang
komprehensif yang cepat dan tepat, maka prognosis penderita frozen shoulder adalah baik.

30
DAFTAR PUSTAKA

1. Morgan WE, Potthoff S. Managing the Frozen Shoulder. US: Walter Reed National
Military Medical Center; 2016 [diakses pada 26 September 2017]. Diunduh dari
http://drmorgan.info/data/documents/frozen-shoulder-ebook.pdf

2. Suharto, Suriani, Leksonowati SS. Pengaruh Teknik Hold Relax terhadap


Penambahan Jarak Gerak Abduksi Sendi Bahu pada Frozen Shoulder di Ratulangi
Medical Center Makassar. Makassar, Jurusan Fisioterapi Politeknik Kesehatan
Kemenkes: Buletin Penelitian Kesehatan; 2016 [diakses pada 27 September 2017]; 44
(2): 103-108. Diunduh dari http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/
BPK/article/view/5453

3. Sianturi GP. Studi Komparatif Injeksi dan Oral Triamcinolone Acetonide pada
Sindroma Frozen Shoulder di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Semarang, Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro; 2003 [diakses pada 27 September 2017].
Diunduh dari http://eprints.undip.ac.id/12305/

4. AAOS. Frozen Shoulder. US: American Academy of Orthopaedic Surgeons; 2013


[diakses pada 28 September 2017]. Diunduh dari
http://orthoinfo.aaos.org/PDFs/A00071.pdf

5. Netter FH. Atlas of Human Anatomy. Ed. 5. Editor: Hansen JT, Beninger B,
Brueckner JK, Carmichael SW, granger NA, Tubbs RS. US: Saunders; 2011. hal.
407-418.

6. Wirawan RP, Wahyuni LK, Hamzah Z, et al. Asesmen dan Prosedur Kedokteran
Fisik dan Rehabilitasi. Jakarta: Perhimpunan Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik
Indonesia (PERDORSI); 2012. hal. 17-18, 29.

31
7. Wolf BR. Frozen Shoulder. US: The American Orthopaedic Society for Sports
Medicine; 2016 [diakses pada 28 September 2017]. Diunduh dari
http://www.sportsmed.org/aossmimis/STOP/Downloads/SportsTips/FrozenShoulder.p
df

8. Yu Y. Adhesive capsulitis (frozen shoulder): Pathogenesis and Clinical Findings.


Canada: The Calgary Guide to Understanding Disease; 2013 [diakses pada 29
September 2017]. Diunduh dari http://calgaryguide.ucalgary.ca/wp-
content/uploads/image.php?img=2015/05/Adhesive-Capsulitis1.jpg

9. Laswati H, Andriati, Pawana A, Arfianti L.Buku Ajar Ilmu Kedokteran Fisik dan
Rehabilitasi. Ed. 3. Surabaya: Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga; 2015. hal.
39-56.

10. Soebadi RD, Subagyo, Wulan SMM, Putra HL, Andriati, Subadi I, et al. Pedoman
Diagnosis dan Terapi Bagian/SMF Rehabilitasi Medik. Ed. 1. Surabaya: Rumah Sakit
Umum Dokter Soetomo; 2008. hal. 12-14.

11. Dewi K. Akupunktur sebagai Terapi pada Frozen Shoulder. Bandung, Bagian
Akupunktur/Biologi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha: JKM; 2011
[diakses pada 1 Oktober 2017]; 11 (1): 92-101. Diunduh dari
http://repository.maranatha.edu/3365/1/Akupunktur%20sebagai%20Terapi%20pada%
20Frozen%20Shoulder.pdf

32

Anda mungkin juga menyukai