Anda di halaman 1dari 9

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah. Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini . sholawat srta salam
semoga dapat tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, mudah-mudahan kita selalu
mendapat syafaat nya.
Kami sebagai mahasiswa sangat berterima kasih kepada dosen pembimbing selama
ini. Dan penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan di dalam penulisan makalah
ini. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Matangglumpang dua, 02 November 2017


Penulis

FERI IRMAWAN

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 1
DAFTAR ISI .. 2
BAB I : PENDAHULUAN ................... 3
LATAR BELAKANG................. ........... 3
TUJUAN ....................... 3
BAB II : PEMBAHASAN . 4
PENGERTIAN SIFAT HURUF........... ...................................................... 4
MACAM-MACAM SIFAT HURUF ......................................................... 5
BAB III : PENUTUP . 9
KESUMPULAN ........................ 9
SARAN ......................... 9
DAFTAR PUSTAKA 10

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Al-Quran sebagai kitab suci rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam yang
didalamnya mengandung berbagai macam ilmu, hukum, teologi, sosial, dan sebagainya.
Untuk itu perlu mengetahui dan memahami perbedaan bacaan al-quran serta implikasinya
terhadap makna dari lafal itu sendiri.
Al-Quran dipelajari untuk memahami makna atau pesan dibalik teks. Maka untuk
mendapatkan makna yang sesuai dengan Al-Quran perlu memahami qiraat dan cara
membaca Al-Quran dengan benar, cara membaca Al-Quran dengan baik dan benar bisa
dipelajari dengan ilmu tajwid.

B. Rumusan Masalah
Disusunnya makalah ini yang berjudul Sejarah dan Perkembangan Ilmu Tajwid
bertujuan untuk :
1. Mengetahui tentang sejarah munculnya ilmu tajwid.
2. Mengetahui tentang perkembangan ilmu tajwid sejak zaman dahulu
(zamanRasulullah SAW) sampai zaman sekarang.
3. Mengetahui pengertian ilmu tajwid.

3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Ilmu Tajwid
Jika dibincangkan kapan bermulanya ilmu Tajwid, maka kenyataan menunjukkan
bahwa ilmu ini telah bermula sejak dari al-Quran itu diturunkan kepada Rasulullah SAW.
Ini kerena Rasulullah SAW sendiri diperintah untuk membaca al-Quran dengan tajwid
dan tartil seperti yang disebut dalam surat al-Muzammil ayat 4.


"Bacalah al-Quran itu dengan tartil (perlahan-lahan)."
Kemudian Nabi Muhammad SAW mengajar ayat-ayat tersebut kepada para sahabat
dengan bacaan yang tartil. Sayyidina Ali r.a apabila ditanya tentang apakah maksud
bacaan al-Quran secara tartil itu, maka beliau menjawab "adalah membaguskan sebutan
atau pelafalan bacaan pada setiap huruf dan berhenti pada tempat yang betul.
Ini menunjukkan bahwa pembacaan al-Quran bukanlah suatu ilmu hasil dari
Ijtihad (fatwa) para ulama' yang diolah berdasarkan dalil-dalil dari al-Quran dan Sunnah,
tetapi pembacaan al-Quran adalah suatu yang Taufiqi (diambil terus) melalui riwayat dari
sumbernya yang asli, yaitu sebutan dan bacaan Rasulullah SAW.
Para sahabat r.a adalah orang-orang yang amanah dalam mewariskan bacaan ini
kepada generasi umat Islam selanjutnya. Mereka tidak akan menambah atau mengurangi
apa yang telah mereka pelajari itu, karena rasa takut mereka yang tinggi kepada Allah
SWT dan begitulah juga generasi setelah mereka.
Walau bagaimanapun, apa yang dikira sebagai penulisan ilmu Tajwid yang paling
awal ialah apabila bermulanya kesadaran perlunya Mushaf Utsmaniah yang ditulis oleh
Sayyidina Utsman itu diletakkan titik-titik kemudiannya, baris-baris bagi setiap huruf dan
perkataannya. Gerakan ini telah diketuai oleh Abu Aswad Ad-Duali dan Al-Khalil bin
Ahmad Al-Farahidi. Apabila pada masa itu Khalifah umat Islam memikul tugas untuk
berbuat demikian ketika umat Islam mulai melakukan-kesalahan dalam bacaan.
Ini karena semasa Sayyidina Utsman menyiapkan Mushaf al-Quran dalam enam
atau tujuh buah itu. beliau telah membiarkannya tanpa titik-titik huruf dan baris-barisnya
karena memberi keluasan kepada para sahabat dan tabiin pada masa itu untuk
membacanya sebagaimana yang mereka telah ambil dari Rasulullah SAW sesuai dengan
Lahjah (dialek) bangsa Arab yang bermacam-macam.
4
Tetapi setelah berkembang luasnya agama Islam ke seluruh tanah Arab serta
jatuhnya Roma dan Parsi ke tangan umat Islam pada tahun 1 dan 2 Hijriah, bahasa Arab
mulai bercampur dengan bahasa penduduk-penduduk yang ditaklukkan umat Islam. Ini
telah menyebabkan berlakunya kesalahan yang banyak dalam penggunaan bahasa Arab
dan begitu juga pembacaan al-Quran. Maka al-Quran Mushaf Utsmaniah telah
diusahakan untuk menghindari kesalahan-kesalahan dalam membacanya dengan
penambahan baris dan titik pada huruf-hurufnya bagi karangan ilmu qiraat yang paling
awal sepakat, yang diketahui oleh para penyelidik ialah apa yang telah dihimpun oleh Abu
'Ubaid Al-Qasim Ibnu Salam dalam kitabnya "Al-Qiraat" pada kurun ke-3 Hijriah.
Akan tetapi ada yang mengatakan, apa yang telah disusun oleh Abu 'Umar Hafs
Ad-Duri dalam ilmu Qiraat adalah lebih awal. Pada kurun ke-4 Hijriah pula, lahir Ibnu
Mujahid Al-Baghdadi dengan karangannya "Kitabus Sab'ah", dimana beliau adalah orang
yang mula-mula mengasingkan qiraat kepada tujuh imam bersesuaian dengan tujuh
perbedaan dan Mushaf Utsmaniah yang berjumlah tujuh naskah. Kesemuanya pada masa
itu karangan ilmu tajwid yang paling awal, barangkali tulisan Abu Mazahim Al-Haqani
dalam bentuk qasidah (puisi) ilmu tajwid pada akhir kurun ke-3 Hijriah adalah yang
terulung.
Selepas itu lahirlah para ulama yang tampil memelihara kedua ilmu ini dengan
karangan-karangan mereka dari masa ke masa seperti Abu 'Amr Ad-Dani dengan kitabnya
At-Taysir, Imam Asy-Syatibi Tahani dengan kitabnya "Hirzul Amani wa Wajhut Tahani"
yang menjadi tonggak kepada karangan-karangan tokoh-tokoh lain yang sezaman dan
yang setelah mereka. Tetapi yang jelas dari karangan-karangan mereka ialah ilmu tajwid
dan ilmu qiraat senantiasa bergandengan, ditulis dalam satu kitab tanpa dipisahkan
pembahasannya, penulisan ini juga diajarkan kepada murid-murid mereka. Kemudian lahir
pula seorang tokoh yang amat penting dalam ilmu tajwid dan qiraat yaitu Imam (ulama)
yang lebih terkenal dengan nama Ibnul Jazari dengan karangan beliau yang masyhur yaitu
"An-Nasyr", "Toyyibatun Nasyr" dan "Ad-Durratul Mudhiyyah" yang mengatakan
ilmu qiraat adalah sepuluh sebagai pelengkap bagi apa yang telah dinyatakan Imam Asy-
Syatibi dalam kitabnya "Hirzul Amani" sebagaiqiraat tujuh. Imam Al-Jazari juga telah
mengarang karangan yang berasingan bagi ilmu tajwid dalam kitabnya "At-Tamhid" dan
puisi beliau yang lebih terkenal dengan nama "Matan Al-Jazariah".

5
Imam Al-Jazari telah mewariskan karangan-karangannya yang begitu banyak
berserta bacaannya, yang kemudian menjadi ikutan dan panduan bagi karangan-karangan
ilmu tajwid dan qiraat serta bacaan al-Quran hingga hari ini.

B. Pengertian Tajwid
Tajwd ( )secara harfiah bermakna melakukan sesuatu dengan elok dan indah
atau bagus dan membaguskan, tajwid berasal dari kata Jawwada (-
-)
dalam
bahasa Arab. Dalam ilmu Qiraah, tajwid berarti mengeluarkan huruf dari tempatnya
dengan memberikan sifat-sifat yang dimilikinya. Jadi ilmu tajwid adalah suatu ilmu yang
mempelajari bagaimana cara membunyikan atau mengucapkan huruf-huruf yang terdapat
dalam kitab suci al-Quran maupun bukan.
Sebagian besar ulama mengatakan, bahwa tajwid itu adalah suatu cabang ilmu
yang sangat penting untuk dipelajari sebelum mempelajari ilmuqiraat alquran.
Ilmu tajwid adalah pelajaran untuk memperbaiki bacaanalquran. Ilmu iajwid itu diajarkan
sesudah pandai membaca huruf Arab dan telah dapat membaca alquran sekedarnya.
Adapun masalah-masalah yang dikemukakan dalam ilmu ini adalah makharijul
huruf (tempat keluar-masuk huruf), shifatul huruf (cara pengucapan huruf), ahkamul huruf
(hubungan antar huruf), ahkamul maddi wal qasr (panjang dan pendek ucapan), ahkamul
waqaf wal ibtida (memulai dan menghentikan bacaan) dan al-Khat al-Utsmani.
Pengertian lain dari ilmu tajwid ialah menyampaikan dengan sebaik-baiknya dan
sempurna dari tiap-tiap bacaan ayat al-Quran. Para ulama menyatakan bahwa hukum bagi
mempelajari tajwid itu adalah fardhu kifayah tetapi mengamalkan tajwid ketika membaca
al-Quran adalah fardhu ain atau wajib kepada lelaki dan perempuan yang mukallaf atau
dewasa.
Untuk menghindari kesalahpahaman antara tajwid dan qiraat, maka perlu
diketahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan tajwid, pendapat sebagaian ulama
memberikan pengertian tajwid sedikit berbeda namun pada intinya sama sebagaimana
yang dikutip Hasanuddin.
Secara bahasa, tajwid berarti al-tahsin atau membaguskan. Sedangkan menurut
istilah yaitu, mengucapkan setiap huruf sesuai dengan makhrajnya menurut sifat-sifat
huruf yang mesti diucapkan, baik berdasarkan sifat asalnya maupun berdasarkan sifat-
sifatnya yang baru.Sebagian ulama yang lain mendefinisikan tajwid sebagai berikut :
6
Tajwid ialah mengucapkan huruf (al-Quran) dengan tertib menurut yang
semestinya, sesuai dengan makhraj serta bunyi asalnya, serta melembutkan bacaannya
sesempurna mungkin tanpa belebihan ataupun dibuat-buat.
Rasulullah bersabda : "Bacalah olehmu Al-Qur'an, maka sesungguhnya ia akan datang
pada hari kiamat memberi syafaat/pertolongan ahli-ahli Al-Qur'an (yang membaca dan
mengamalkannya)." (HR. Muslim)
Rasulullah bersabda : "Orang yang paling baik di antara kamu ialah orang yang
belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya kepada orang lain." (HR. Bukhori) Sebelum mulai
mempelajari ilmu tajwid sebaiknya kita mengetahui lebih dahulu bahwa setiap ilmu ada
sepuluh asas yg menjadi dasar pemikiran kita. Berikutnya dikemukakan 10 asas Ilmu
Tajwid :

1. Pengertian tajwid menurut bahasa : Memperelokkan sesuatu. Menurut


istilah ilmu tajwid : Melafazkan setiap huruf dari makhrajnya yang betul serta
memenuhi hak-hak setiap huruf.
2. Hukum mempelajari ilmu tajwid adalah Fardhu Kifayah danmengamalkannya
yakni membaca Al-Quran dengan bertajwid adalah Fardhu Ain bagi setiap
muslimin dan muslimat yang mukallaf.
3. Tumpuan perbincangannya : Pada kalimah-kalimah Al-Quran.
4. Kelebihannya : Ia adalah semulia mulia ilmu karena ia langsung berkaitan dengan
kitab Allah (Al-Quran).
5. Penyusunnya : Imam-Imam Qiraat
6. Faedahnya : Mencapai kejayaan dan kebahagiaan serta mendapat rahmat dan
keridhaan Allah di dunia dan akhirat, Insya-Allah.
7. Dalilnya : Dari Kitab Al-Quran dan Hadis Nabi SAW
8. Nama Ilmu : Ilmu Tajwid
9. Masalah yang diperbaincangkan : Mengenai kaedah-kaedah dan cara-cara
bacaannya secara keseluruhan yang memberi pengertian hukum-hukum cabangan.
10. Matlamatnya : Memelihara lidah daripada kesalahan membaca ayat-ayat
11. suci Al-Quran ketika membacanya, membaca sejajar dengan penurunannya yang
sebanarnya dari Allah SWT.

7
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian singkat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tajwid telah dikenal
pada masa Rasulullah SAW, karena pada saat itu masyarakat sudah tahu cara membaca al-
Quran dengan benar. Adapun hubungan qiraat dengan tajwid ialah, tajwid lebih bersifat
teknis dengan upaya memperindah bacaan al-Quran dengan cara membunyikan huruf-
huruf al-Quran sesuai dengan makhraj serta sifat-sifatnya. Adapun qiraat lebih
substansial, yaitu pengucapan lafaz-lafaz al-Quran, kalimat ataupun dialek kebahasaan.
Jadi berbicara tentang tajwid tidak turut pula ketinggalan untuk berbicara qiraat juga.

8
DAFTAR PUSTAKA

Tarib Moh.Sejarah Ilmu Tajwid.http://referensia-ku.blogspot.com: Diakses pada


tanggal 10 November 2011, Pukul 09.00
Wales Jimmy.Tajwid.http://www.wikipedia.com, Diakses pada tanggal10
November 2011, Pukul 09.10
AF. Hasanuddin.1995.Perbedaan Qiraat dan Pengaruhnya Terhadap Istinbath
Hukum dalam Al-Quran.Jakarta:PT Raja Grafindo Persada
Zulfidar Akaha. Abduh.1996.Al-Quran dan Qiroat.Jakarta:Pustaka Al-Kautsar