Anda di halaman 1dari 31

KEPERAWATAN JIWA

DISTRESS SPIRITUAL

Disusun Oleh:

Kelompok V
Resi Salsuda 04021181320021
Yola Lupita 04021181320032
Umiarti Meilina 04021181320035
Nia Lara Sari 04021181320037
Nyayu Tania Windasari 04021181320052
Herdina Ningsih Anggraini 04021281320010
Tri Anggraini 04021281320011
Rosalina Mulyawati 04021281320016
Yulianty Nanda Saputri 04021281320020
Elsa Desfania 04021281320023
Dela Nuraini 04021281320026

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah swt. Yang mana telah melancarkan
kami dalam proses pembuatan tugas makalah Keperawatan Jiwa Distress Spiritual.
Sholawat beiring salam tak lupa kami curahkan kepada Nabi Muhammad saw. Yang mana
telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang seperti
sekarang ini.
Pada makalah yang kami susunini, kami menjelaskan secara keseluruhan tentang
sistem penglihatan. Tidak lupa kami berterima kasih kepada dosen yang membimbing dalam
penyusunan makalah ini.
Dengan tersusunnya makalah ini, kami berharap pembaca dapat mendapatkan manfaat
dari makalah ini. Dalam pembuatan makalah ini kami mohon maaf bila ada salah kata. Atas
perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.

Indralaya, Oktober 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................................2
DAFTAR ISI..............................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................4
1.1. Latar Belakang.............................................................................................................4
1.2. Rumusan Masalah.......................................................................................................5
1.3. Tujuan..........................................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN...........................................................................................................6
2.1. Definisi Distress Spiritual............................................................................................6
2.2. Batasan Karakteristik...................................................................................................6
2.3. Etiologi........................................................................................................................7
2.4. Mekanisme Koping.....................................................................................................8
2.5. Asuhan Keperawatan.................................................................................................10
2.6. Distress Spiritual Menurut Buku Karangan Budi Anna Keliat.................................16
BAB III PENUTUP..................................................................................................................26
3.1 Kesimpulan................................................................................................................26
3.2 Saran..........................................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................27
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Spiritualitas adalah dimensi manusia, dan dengan demikian dimensi praktek


Keperawatan (Burkhart & Solari-Twadell,tahun 2001; McSherry, uang tunai, & Ross,
2004). Fokus pada tanggung jawab perawat untuk menyediakan kerohanian meliputi
penilaian, diagnosis, perencanaan, intervensi dan evaluasi. Ini adalah langkah-langkah
yang mendefinisikan proses keperawatan, yang merupakan scien- tific metode
pelayanan keperawat adalah diterapkan dalam praktek. Dalam spiritualitas, penelitian
telah cenderung berfokus pada Fase pertama dan ketiga proses keperawatan, yaitu
penilaian spiritual (Murray, Kendall, Boyd Worth, & Benton, 2004; Oldnall, 1996;
Taylor, 2006) dan perawatan spiritual, masing-masing kedua dipahami sebagai
intervensi keperawatan untuk memenuhi kebutuhan spiritual(Chan, 2010; Kociszewski,
2003, Narayanasamy et al., 2004; Sawatzky & Pesut, 2005). Menurut Pesut (2008),
pemahaman yang lebih jelas tentang kebutuhan spiritualitas, dimana tanpa
memperhatikan kebutuhan spiritual dan perawatan spiritual tidak akan tercapai.
Spiritualitas telah terbukti kompleks untuk menentukan. Itu hadir diantara penganut
dan agnostics (McSherry, 2000), mengintegrasikan semua dimensi individu (Reed,
1992), yang meliputi lebih dari agama (Narayanasamy, 2001), melibatkan hubungan
interpersonal, dan berkaitan dengan arti kehidupan, terutama pada saat krisis dan
penyakit (Baldacchino, 2006).
Distress spiritual telah diterima sebagai diagnosis keperawatan di NANDA sejak
tahun 1978 dan direvisi pada tahun 2002 (Herdman, 2009). Dalam taksonomi I,
diagnosis ini diklasifikasikan dalam domain menilai sebagai gangguan dalam prinsip
hidup yang meliputi seluruh keberadaan seseorang, dan yang terintegrasi dan
melampaui satu sifat biologis dan psikososial.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari Distress Spiritual?
2. Apa batasan karakteristik dari Distress Spiritual?
3. Apa etioogi dari Distress Spiritual?
4. Bagaimana mekanisme dari Distress Spiritual?
5. Bagaimana asuhan keperawatan untuk pasien dengan Distress Spiritual?
6. Bagaimana Distress Spiritual menurut buku karangan Budi Anna Keliat?

1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari Distress Spiritual
2. Untuk mengetahuibatasan karakteristik dari Distress Spiritual
3. Untuk mengetahuietiologi dari Distress Spiritual
4. Untuk mengetahuimekanisme dari Distress Spiritual
5. Untuk mengetahuiasuhan keperawatan untuk pasien dengan Distress Spiritual
6. Untuk mengetahui Distress Spiritual menurut buku karangan Budi Anna Keliat
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Definisi Distress Spiritual


Monod (2012) menyatakan distress spiritual muncul ketika kebutuhan spiritual
tidak terpenuhi, sehingga dalam menghdapi penyakitnya pasien mengalami depresi,
cemas, dan marah kepada tuhan. Distress spiritual dapat menyebabkan
ketidakharmonisan dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan dan Tuhannya
(Mesnikoff, 2002 dalam Hubbell et al, 2006).
Distress spiritual dapat berkembang sejalan dengan seseorang mencari makna
tentang apa yang terjadi, dan dapat mengakibatkan seseorang merasa sendiri dan
terasing. Untuk itu diharapkan perawat mengintegrasikan perawatan spiritual kedalam
proses keperawatan (Potter & Perry, 2004).
Distress spiritual adalah hambatan kemampuan untuk mengalami dan
mengintegrasikan makna dan tujuan dalam hidup melalui hubungan dengan diri sendiri,
orang lain, music, seni, buku, alam, ataupun dengan tungan yang maha esa (Judith,
2016).

2.2. Batasan Karakteristik


2.2.1. Hubungan dengan diri sendiri

1. Marah

2. Mengungkapkan kurangnya motivasi

3. Mengungkapkan kurang dapat memaafkan diri sendiri

4. Mengungkapkan kekurangan harapan

5. Mengungkapkan kekurangan cinta

6. Mengungkapkan kurangnya makna hidup

7. Mengungkapkan kekurangan tujuan hidup

8. Mengungkapkan kurangnya ketenangan (mis., kedamaian)

9. Merasa bersalah

10. Koping tidak efektif


2.2.2. Hubungan dengan orang lain

1. Mengungkapkan rasa terasing

2. Menolak interaksi dengan orang yang dianggap penting

3. Menolak interaksi dengan pemimpin spiritual

4. Mengungkapkan dengan kata-kata telah terpisah dari sistem pendukung

2.2.3. Hubungan dengan seni, musik, literatur, alam

1. Tidak berminat pada alam

2. Tidak berminat membaca literatur spiritual

3. Ketidakmampuan mengungkapkan kondisi kreativitas sebelumnya (mis.,


menyanyi/ mendengarkan musik/ menulis)

2.2.4. Hubungan dengan kekuatan yang lebih besar dari pada dirinya sendiri

1. Mengungkapkan kemarahan terhadap kekuatan yang lebih besar dari


dirinya

2. Mengungkapkan telah diabaikan

3. Mengungkapkan ketidakberdayaan

4. Mengungkapkan penderitaan

5. Ketidakmampuan berintrospeksi

6. Ketidakmampuan mengalami pengalaman religiositas

7. Ketidakmampuan berpartisipasi dalam aktivitas keagamaan

8. Ketidakmampuan berdoa

9. Meminta menemui pemimpin keagamaan

10. Perubahan yang tiba-tiba dalam praktik spiritual


2.3. Etiologi
1. Ketidaksiapan menghadapi kematian dan pengalaman kehidupan setelah kematian,
Kehilangan agama yang merupakan dukungan utama ( merasa ditinggalkan oleh
Tuhan), Kegagalan individu untuk hidup sesuai dengan ajaran agama,
Ketidakmampuan individu untuk merekonsiliasi penyakit dengan keyakinan
spiritual(Achir Yani H, 2008)
2. Ketakutan terhadap nyeri fisik, ketidaktahuan, kematian dan ancaman terhadap
integritas(Potter & Perry, 2005 dalam Grace Yopi, 2013).
3. Tidak terpenuhinya kebutuhan spiritual individu (Craven &Hirnle,2009 dalam
Hendra saputra,2014)
4. Terkait dengan patofisiologi tantangan pada sistem keyakinan atau perpisahan dari
ikatan spiritual sekunder karena berbagai akibat, misalnya kehilangan bagian atau
fungsi tubuh; penyakit terminal; penyakit yang membuat kondisi
lemah;nyeri;trauma; dan keguguran atau kelahiran mati. (Rahayu Winarti,2016)
5. Hal hal terkait dengan konflik antara program atau tindakan yang ditentukan oleh
keyakinan, meliputi : aborsi, isolasi, pembedahan, amputasi, tranfusi darah,
pengobatan, pembatasan diet, dan prosedur medis. (Rahayu Winarti,2016)
6. Hal yang berkaitan dengan situasional, kematian atau penyakit dari orang terdekat;
keadaan yang memalukan pada saat melakukan ritual keagamaan ( seperti
pembatasan perawatan intensif, kurangnya privasi, kurang tersedianya makanan
atau diet khusus), keyakinan yang ditentang keluarga, teman sebaya; dan yang
berhubungan dengan perpisahan orang yang dicintai. (Rahayu Winarti,2016)

2.4. Mekanisme Koping


Menurut Safarino (2002) terdapat lima tipe dasar dukungan sosial bagi distres
spiritual:
1. Dukungan emosi yang terdiri atas rasa empati, caring, memfokuskan pada
kepentingan orang lain.
2. Tipe yang kedua adalah dukungan esteem yang terdiri atas ekspresi positif
thingking, mendorong atau setuju dengan pendapat orang lain.
3. Dukungan yang ketiga adalah dukungan instrumental yaitu menyediakan
pelayanan langsung yang berkaitan dengan dimensi spiritual.
4. Tipe keempat adalah dukungan informasi yaitu memberikan nasehat, petunjuk dan
umpan balik bagaimana seseorang harus berperilaku berdasarkan keyakinan
spiritualnya.
5. Tipe terakhir atau kelima adalah dukungan network menyediakan dukungan
kelompok untuk berbagai tentang aktifitas spiritual. Taylor, dkk (2003)
menambahkan dukungan apprasial yang membantu seseorang untuk meningkatkan
pemahaman terhadap stresor spiritual dalam mencapai keterampilan koping yang
efektif.
Menurut Mooss (1984) yang dikutip Brunner dan Suddarth menguraikan yang
positif (Teknik Koping) dalam menghadapi stress, yaitu:
1. Pemberdayaan Sumber Daya Psikologis (Potensi diri)
Sumber daya psikologis merupakan kepribadian dan kemampuan individu
dalam memanfaatkannya menghadapi stres yang disebabkan situasi dan lingkungan
(Pearlin & Schooler, 1978:5). Karakterisik di bawah ini merupakan sumber daya
psikologis yang penting, diantaranya adalah:
1. Pikiran yang positif tentang dirinya (harga diri)
Jenis ini bermanfaat dalam mengatasi situasi stres, sebagaimana teori
dari Colleys looking-glass self: rasa percaya diri, dan kemampuan untuk
mengatasi masalah yg dihadapi.
2. Mengontrol diri sendiri
Kemampuan dan keyakinan untuk mengontrol tentang diri sendiri dan
situasi (internal control) dan external control (bahwa kehidupannya
dikendalikan oleh keberuntungan, nasib, dari luar) sehingga pasien akan
mampu mengambil hikmah dari sakitnya (looking for silver lining).

2. Rasionalisasi (Teknik Kognitif)


Upaya memahami dan mengiterpretasikan secara spesifik terhadap stres
dalam mencari arti dan makna stres (neutralize its stressfull). Dalam menghadapi
situasi stres, respons individu secara rasional adalah dia akan menghadapi secara
terus terang, mengabaikan, atau memberitahukan kepada diri sendiri bahwa
masalah tersebut bukan sesuatu yang penting untuk dipikirkan dan semuanya akan
berakhir dengan sendirinya. Sebagaian orang berpikir bahwa setiap suatu kejadian
akan menjadi sesuatu tantangan dalam hidupnya. Sebagian lagi menggantungkan
semua permasalahan dengan melakukan kegiatan spiritual, lebih mendekatkan diri
kepada sang pencipta untuk mencari hikmah dan makna dari semua yang terjadi.
3. Teknik Perilaku
Teknik perilaku dapat dipergunakan untuk membantu individu dalam
mengatasi situasi stres. Beberapa individu melakukan kegiatan yang bermanfaat
dalam menunjang kesembuhannya. Misalnya, pasien HIV akan melakukan
aktivitas yang dapat membantu peningkatan daya tubuhnya dengan tidur secara
teratur, makan seimbang, minum obat anti retroviral dan obat untuk infeksi
sekunder secara teratur, tidur dan istirahat yang cukup, dan menghindari konsumsi
obat-abat yang memperparah keadan sakitnya.

2.5. Asuhan Keperawatan


2.5.1. Pengkajian
1. Untuk pasien yang mengindikasikan adanya ketaatan beragama, kaji adanya
indikator langsung status spiritual pasien dengan mengajukan pertanyaan
sebagai berikut :
1. Apakah anda merasa keimanan anda dapat membantu anda? Dengan
cara apa keimanan tersebut penting bagi anda saat ini?

2. Bagaiman saya dapat membantu anda menjalankan keimanan anda?


Misalnya, apakah anda ingin saya membacakan buku doa untuk anda?

3. Apakah anda menginginkan kunjungan dari penasihat spiritual atau


layanan keagamaan dari rumah sakit?

4. Tolong beri tahu saya tentang aktivitas agama tertentu yang penting
bagi anda?

2. Lakukan pengkajian tidak langsung terhadap status spiritual pasien dengan


melakukan langkah berikut :

1. Tentukan konsep ketuhanan pasien dengan mengamati buku-buku yang


ada disamping tempat tidur atau program telivisi yang dilihat pasien.
Juga catat apakah kehidupan pasien tampak memiliki arti, nilai, dan
tujuan.
2. Tentukan sumber-sumber harapan dan kekuatan pasien. Apakah Tuhan
dalam arti tradisional, anggota kluarga, atau kekuatan bersumber dari
dalam dirinya? Catat siapa yang paling banyak diperbincangkan oleh
pasien, atau tanyakan, Siapa yang penting bagi anda?

3. Amati apakah pasien sedang berdoa ketika anda memasuki ruangan,


sebelum makan, atau saat tindakan.

4. Amati barang-barang, seperti litratur keagamaan,rosario, kartu ucapan


semoga lekas sembuh yang bersifat keagamaan disamping tempat tidur
pasien.

5. Dengarkan pandangan-pandangan pasien tentang hubungan antara


kepercayaan spiritual dan kondisi kesehatannya, terutama untuk pernyataan
seperti, mengapa Tuhan membiarkan hal ini menimpa saya? atau Jika
saya beriman, saya pasti akan sembuh.
2.5.2. Rencana tindakan keperawatan

No Diagnosa Tujuan/Kriteria Hasil Hasil NOC Intervensi NIC Rasionalisasi


. Keperawatan
1. Distress spiritual 1. Klien menunjukkan 1. Kualitas hidup: tingkat 1. Meningkatan koping 1. Membantu pasien
harapan, yang dibuktikan persepsi positif tentang klien untuk beradaptasi
oleh indikator berikut situasi hidup saat ini dengan stressor,
(sebutkan 1-5: tidak perubahan, atau
2. Harapan: optimisme
pernah, jarang, kadang- ancaman yang
yang secara pribadi
kadang, sering, atau dialami dan
memuaskan serta
selalu): mengungkapkan menggangu
mendukung hidup
keyakinan, arti hidup, pemenuhan tuntutan
2. Memberi dukungan
kedamaian diri dan peran dalam
3. Pengakhiran kehidupan
kepada klien dan
kehidupan
2. Klien menunjukkan yang bermartabat:
keluarga dalam
kesehatan spiritual, yang tindakan pribadi untuk
membuat keputusa
2. Memberikan
dibuktikan oleh indikator mempertahankan kendali
informasi dan
berikut (sebut-kan 1-5: dan kenyamanan dalam
dukungan untuk
gangguan ekstrem, berat, mendekati akhir
3. Mengklarifikasi nilai pasien yang membuat
sedang, ringan, atau kehidupan
dalam pengambilan keputusan terkait
tidak ada gangguan):
4. Keterlibatan sosial:
1. Arti dan tujuan hidup keputusan perawatan kesehatan
2. Pencapaian interaksi sosial dengan
pandangan dunia individu, kelompok, atau
spiritual organisasi 3. Membantu orang lain
3. Kemampuan untuk
mengklarifikasi nilai
mencintai dan
5. Kesehatan spiritual: yang mereka anut
4. Memberi dukungan
memaafkan
hubungan dengan diri untuk memfasilitasi
4. Kemampuan untuk emosi kepada klien
sendiri, orang lain, pengambilan
berdoa dan beribadah
5. Interaksi dengan Tuhan, seluruh keputusan yang
pimpinan spiritual kehidupan, alam, dan 5. Memfasilitasi efektifv
6. Hubungan dengan diri
semesta, yang penumbuhan harapan
sendiri
meningkatkan pada klien 4. Memberi ketenangan,
3. Klien akan: transendensi diri serta penerimaan, dan
1. Klien akan
memberdayakan diri dukungan saat stres
memahami bahwa
6. Melakukan perawatan
penyakit adalah suatu
5. Memfasilitasi
menjelang ajal
tantangan terhadap
perkembangan sikap
sistem keyakinan
positif pada situasi
2. Memhami bahwa
tertentu
terapi bertentangan
dengan sistem 7. Memfasilitasi
kepercayaan peningkatan
6. Meningkatkan
3. Menunjukkan teknik
sosialisasi pada klien
kenyamanan fisik dan
koping untuk
kedamaian psikologis
menghadapi distress
8. Memfasilitasi pada tahap akhir
spiritual
4. Mengungkapkan pertumbuhan spiritual hidup
penerimaan terhadap pada klien
keterbatasan ikatan 7. Memfasilitasi
budaya atau kemampuan orang
keagamaan lain untuk
5. Mendisuksikan
berinteraksi dengan
praktik dan keluhan
orang lain
spiritual
9. Memberikan
4. Klien yang menjelang 8. Memfasilitasi
dukungan spiritual
ajal akan: pertumbuhan
1. Mengungkapkan pada klien
kapasitas pasien
penerimaan atau
untuk
kesiapan menghadapi
mengidentifikasi,
kematian
berhubungan dengan,
2. Berbahagia dengan
dan memanggil
hubungan sebelumnya
3. Mengungkapkan sumber makna,
kasih sayang terhadap tujuan, kenyamanan,
orang terdekat kekuatan, dan harapan
dalam hidup mereka

9. Membantu pasien
untuk merasakan
seimbang dan
terhubung dengan
tuhan
2.5.3. Evaluasi
1. Pasien selalu menujukkan harapan, yang dibuktikan dengan
mengungkapkan keyakinan, arti hidup, kedamaian diri.
2. Pasien menunjukkan tidak ada gangguan kesehatan spiritual yang
dibuktikan dengan mampu untuk mencintai dan memaafkan, mampu untuk
berdoa dan beribadah.
3. Pasien mampu memahami bahwa penyakit adalah suatu tantangan terhadap
sistem keyakinan.
4. Pasien mampu memahami bahwa terapi bertentangan dengan sistem
kepercayaan.
5. Pasien mampu menunjukkan teknik koping untuk menghadapi distress
spiritual.
6. Pasien mampu mengungkapkan penerimaan terhadap keterbatasan ikatan
budaya atau keagamaan.
7. Pasien mampu mendiskusikan praktik dan keluhan spiritual.
8. Pasien yang menjelang ajal mampu mengungkapkan penerimaan atau
kesiapan menghadapi kematian.
9. Pasien yang menjelang ajal mampu berbahagia dengan hubungan
sebelumnya.
10. Pasien yang menjelang ajal mampu mengungkapkan kasih sayang terhadap
orang terdekat.
2.6. Distress Spiritual Menurut Buku Karangan Budi Anna Keliat

2.6.1. Distress Spiritual


Spiritualitas adalah suatu aktivitas individu untuk mencari arti dan
tujuan hidup yang berhubungan dengan kegiatan spiritual atau keagamaan.
Distres spritual merupakan respons akibat suatu kejadian yang traumatis baik
fisk maupun emosional yang tidak sesuai dengan keyakinan atau kepercayaan
pasien dalam menerima kenyataan yang terjadi.
Masalah bencan atau stresor yang dihadapi individu mungkin akan
menimbulkan pertanyaan bagi individu mungkin akan menimbulkan pertanyaan
bagi individu tentang apa yang telah dilakukan atau apa yang akan terjadi
selanjutnya terhadap dirinya. Individu terkadang ragu, bimbang atau antipati
dengan spiritual atau agama yang dianutnya. Menurut Rousseau (2003), distres
spiritual harus pula diperhatikan atau dipertimbangkan bila individu-individu
mengeluh gejala-gejala fisik dan tidak berespons terhadap intervensi yang
afektif.
Distres spiritual adalah suatu gangguan yaang berhubungan dengan
prinsip kehidupan, keyakinan, kepercayaan atau keagamaan pasien yang
menyebabkan gangguan pada aktivitas spiritual akibat masalah-masalah fisik
atau psikososial yan dialami (Dochterman, 2004).

2.6.2. Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala yang dapat ditemukan pada pasien distres spiritual
(melalui wawancara) adalah:
1. Selalu menanyakan kebenaran keyakinan yang dianutnya (contohnya pasien
kurang atau tidak yakin lagi dengan nilai yang selama ini dianutnya).
2. Merasa tidak nyaman terhadap keyakinan atau nilai yang dianutnya

3. Ketidakmampuan melakukan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukannya


secara rutin

4. Perasaan ragu terhadap nilai atau keyakinan yang dimilikinya

5. Menyatakan perasaan tidak ingin hidup

6. Merasakan kekosongan jiwa yang berkaitan dengan keyakinan yang


dimilikinya
7. Mengatakan putus hubungan dengan orang lain atau Tuhan

8. Mengekspresikan perasaan marah, takut, cemas terhadap arti hidup ini,


penderitaan atau kematian.

2.6.3. Penyebab dari gangguan ini meliputi


1. Faktor fisik: kecacatan akibat kecelakaan atau bencana alam atau buatan
manusia
2. Faktor psikologis: kehilangan orang yang berarti atau harta benda akibat
bencana

3. Faktor lingkungan: gangguan akibat kerusakan atau hilangnya potensi atau


situasi lingkungan yang selama ini akrab dengan pasien

2.6.4. Diagnosis Keperawatan


Diagnosis keperawatan pada pasien yang mengalami gangguan berkaitan
dengan prinsip dan aktivitas kehidupan spiritual atau keagamaan akibat masalah
fisik atau psikososial yang dialami oleh pasien adalah Distres spiritual.

2.6.5. Tindakan Keperawatan


Tujuan intervensi keperawatan untuk pasien:
1. Mampu membina hubungan saling percaya dengan perawat
2. Mampu mengungkapkan penyebab distres spiritual
3. Mampu mengungkapkan perasaan dan pikiran tentang keyakinannya
4. Mampu mengembangkan kemampuan mengatasi masalah dan perubahan
keyakinan
5. Mampu melakukan kegiatan keagamaan

Tindakan keperawatan untuk pasien distres spitual :


1. Bina hubungan saling percaya dengan pasien
2. Kaji faktor penyebab distres spiritual pada pasien
3. Bantu pasien mengungkapkan perasaan dan pikirian tentang keyakinannya
4. Bantu klien mengembangkan keterampilan untuk mengatasi perubahan
spiritual dalam kehidupan
5. Fasilitasi pasien dengan alat alat ibadah sesuai dengan agamanya
6. Fasilitasi pasien untuk menjalani ibadah sendiri atau dengan orang lain
7. Bantu pasien untuk ikut serta dalam kegiatan keagamaan
8. Bantu pasien mengevalusi perasaan setelah melakukan kegiatan keagamaan

SP 1-P. Bina hubungan saling percaya dengan pasien, Kaji faktor penyebab distres
spiritual pada pasien, Bantu pasien mengungkapkan perasaan dan pikirian
terhadap aama yang diyakininya, bantu klien mengembangkan kemampuan
mengatasi perubahan spiritual dalam kehidupan.
Orientasi
Selamat pagi, Pak. Nama saya suster .... suka dipanggil .... Nama Bapak siapa ?
suka dipanggil siapa ? saya perawat puskesmas .... yang akan merawat Bapak, saya
akan datang secara berkala ke rumah Bapak. Bapaimana perasaan Bapak pagi ini ?
bagaimana kalu kita bercakap cakap tentang masalah yang Bapak alami, kita
ngobrol selama 30 menit, ya ? Dimana menurut Bapak tempat yang cocok untuk
kita ngobrol bersama ? Oh, disana ? Mari, pak kalau begitu.

Kerja
Apa masalah yang bapak rasakan saat ini.
Coba bapak sampaikan apa yang meneybabkan bapak tidak aktif sholat dan
pengajian yang diadakan di masjid seperti dahulu. Oh,ya!
Pak, masih adakan faktor-faktor lain yang meneyebabkan bapak tidak aktif lagi
untuk mengikuti kegiatan dan sosial yang biasa bapak lakukan?
Apa saja kegiatan ibadah dan sosial yang dapat bapak jalankan?
Mana kira-kira yangingin bapak coba jalankan? Bagus sekali. Mari Bapak coba ya.

Terminasi
Bagaimana perasaan bapak setelah berbincang-bincang?
Tampaknya bapak semangat menjawab pertanyaan suster,ya!
Coba bapak ulangi apa yang sudah kita diskusikan bersama-sama hari ini! Bagus
sekali, jadi bapak sudah tahu penyebab masalah bapak ya? Selain itu, bapak juga
telah mengungkapkan perasaan dan pikiran bapak tentang agama dan tau kegiatan
yang bapak bisa lakukan.
Seminggu lagi, kita bertemu untuk mengetahui manfaat kegiatan yang bapak
lakukan serta belajar cara lain. Sampai jumpa, selamat pagi.

SP 2-P. Fasilitasi klien dengan alat-alat ibadan sesuai keyakinannya, fasilitasi klien
untuk menjalankan ibadah sendiri atau dengan orang lain. Bantu pasien untuk
ikut serta dalam kegiatan keagamaan.
Orientasi
Selamat pagi, pak. Bagaimana keadaan dan perasaan bapak saat ini? Sudah dicoba
melakukan ibadah? Bagaimana perasaan bapat setelah mencobanya. Hari ini kita
akan mendiskusikan tentang persiapan alat-alat sholat dengan cara menjalankan
shoolat baik sendiri maupun berjamaah bersama orang lain. Bagaimana kalau kita
ngobrol selama 30 menit? Dimana bapak mau ngobrol? Atau abagaimana kalau
disini saja. (jika ditempat bencana, bawakan alat-alatnya).

Kerja
Pak, sepengetahuan bapak, apa saja persiapan alat sholat, baik alat maupun diri
kita? Bagus sekali! Menyiapkan kopiah, sajadah dan sarung, dan sebelum sholat
bapak harus mandi dan berwudhu.
Coba bapak sebutkan sholoat 5 waktu sehari semalam, sholat subuh jam berapa,
bagaimana ucapannya, sampai dengan sholat isya.
Selain itu, bapak dapat melakukan sholat jamaah dirumah.
Bagaimana kalau kita membuat tempat sholat dirumah bapak ini setuju kan,pak?
Baik kalau begitu kamar depan ini bapak siapkan untuk melakukan sholat lima
waktu nanti dan dapat bersama-sama.
Mulai hari ini, bapak sudah bisa mulai melakukan sholat dan berdoa secara teratur
agar diberi ketenangan oleh Tuhan dalam menghadapi masalah hidup ini.
Pada hari Jumat nanti, bapak bisa pergi bersama dengan warga lain untuk sholat
Jumat di Masjid AL-Manaar. Bagaimana, pak?

Terminasi
Bagaimana perasaan bapak setelah kita diskusi tentang cara-cara mempersiapkan
alat sholat dan mengajarkan sholat di rumah berapa kali sehari bapak mencobanya?
Mari kita buat jadwalnya, kalau sudah di lakukan, beri tanda ya, tiga hari lagi saya
akan dating untuk mendiskusikan tentang perasaan bapak dalam melakukan sholat
serta membahas kegiatan ibadah lain, kalau begitu saya permisi dulu. Sampai
jumpa. Salam pagi.
.
Tujuan tindakan keperawatan untuk keluarga dengan pasien distress spiritual
agar keluarga mampu:
1. Mengidentifikasi masalah yang dihadapi dalam merawat pasien dengan masalah
spiritual
2. Mengetahui proses terjadinya distress spiritual yang di hadapi oleh pasien
3. Mengetahui cara merawat anggota keluarga yang mengalami masalah spiritual
4. Melakukan rujukan pada tokoh agama apabila diperlukan.

Tindakan keperawatan untuk keluarga:


1. Mendiskusikan masalah yang dihadapi dalam merawat pasien
2. Jelaskan proses terjadinya masalah spiritual yang dihadapi pasien
3. Jelaskan pada keluarga cara merawat anggota keluarga yang mengalami masalah
spiritual
4. Bantu keluarga untuk membantu pasien melaksanakan kegiatan spiritual
5. Beri pujian jika keluarga mampu melakukan kegiatan yang positif

SP 1.K. Bantu keluarga mengidentifikasi masalah yang dihadapi dalam merawat


pasien. Bantu keluarga untuk mengetahui proses terjadinya masalah spiritual
yang dihadapi dan perawatannya.

Orientasi
Selamat pagi pak, bagaimana keadaan bapak hari ini > hari ini kita akan
mendiskusikan tentang masalah yang bapak hadapi dalam merawat atau membantu
anak bapak, selama 30 menit. Disini saja ya pak.

Kerja
Menurut bapak apa masalah yang bapak hadapi dalam merawat atau membantu
anak bapak?
jadi A malas sholat dant idak mau mengikuti pengajian?
Apakah hal tersebut terjadi setelah gempa atau akibat terjadi tsunami yang lalu. Oh,
jadi masalah yang bapak hadapi adalah susah member tahu dan mengajak A untuk
sholat lima waktuya?
Bagaimana dengan kegiatan keagamaan lainnya, apakah anak Bapak mau
melakukannya? Jadi, Bapak kewalahan membantu A agar dapat melakukan ibadah
dan ini terjadi sesudah tsunami.
Pak, biasanya kalau ada kejadian bencana seperti gempa tsunami, terkadang
seseorang akan mengalami kejadian seperti anak Bapak tersebut. Oleh karena itu,
mari saya bantu Bapak untuk bersama-sama dan merawat anak Bapak, ya.
Pak, cara untuk membantu anak Bapak yang malas sholat atau ke masjid adalah
dengan selalu mengingatkan mengajak atau memberi contoh sholat pada waktunya.
Selain itu, Bapak menyiapkan perlengkapan sholat untuk anak Bapak, misalnya
kopiah, sarung, dan sajadah. Lalu, Bapak bersamma-sama satu keluarga melakukan
sholat jamaah, ya Pak? Jangan lupa mengajak anak-anak untuk bersama-sama
sholat berjamaah.
Setelah sholat. Bapak ajak anak Bapak untuk berdoa semoga diberi kekuatan dan
ketabahan dalam menghadapi masalah akibat adanya bencana yang dialami
tersebut.
Jangan lupa, agar Jumat depan Bapak mengajak anaknya untuk sholat Jumat
berjamaah di masjid bersama warga lainnya, ya Pak?
Kemudian, Bapak jangan segan-segan untuk meminta nasihat dan bantuan kepada
ustadz Arsyad bin Jalil. Saya yakin beliau akan senang hati membantu Bapak dan
terutama memberi nasihat keagamaan kepada anak Bapak.
Bagaimana kalau minggu depan pengajian di masjid Al Manaar, Bapak minta untuk
diadakan di rumah ini? Saya kira dengan cara tersebut, anak Bapak akan aktif
mengikuti kegiatan pengajian! Betul kan, Pak?
Bagus sekali, Bapak sudah bisa mengerti cara merawat dan membantu anak Bapak
yang mengalami masalah tersebut. Dengan demikian, Bapak bisa membantu dia
untuk aktif dan rajin sholat lima waktu serta mengikuti pengajian, ya kan, Pak?

Terminasi
Bagaimana perasaan Bapak setelah kita diskusi tentang masalah yang dihadapi
dalam merawat anak Bapak?
Bisa Bapak ulangi kembali apa saja masalah yang Bapak hadapi dalam merawat
anak Bapak tersebut?
Nah, sekarang bagaimana kalau Bapak mengulangi menyampaikan proses
terjadinya masalah yang dihadapi oleh anak Bapak tersebut!
Bagus sekali, Pak. Bapak sudah mengetahui semua permasalahan yang terjadi, ya?
Kalau begitu saya pamit dulu. Selamat pagi.
2.6.6. Evaluasi
PENILAIAN PASIEN DAN KELUARGA
DENGAN DISTRES SPIRITUAL

Nama Pasien:___________________
Alamat:________________________
Nama Perawat:__________________
Petunjuk pengisian:
1. Berikan tanda ( jika pasien dan keluarga mampu melakukan kemampuan
dibawah ini

2. Tuliskan tanggal setiap dilakukan penilaian


Kemampuan Tanggal
Pasien
1. Membina hubungan saling
percaya
2. Mengetahui penyebab distress
spiritual pada pasien
3. Mengungkapkan perasaan dan
pikiran tentang keyakinan
4. Mengembangkan kemampuan
untuk mengatasi masalah dan
perubahan keyakinan
5. Melakukan kegiatan
keyakinan
Keluarga
1. Mengidentifikasi masalah
yang dihadapi
2. Mengetahui proses terjadinya
masalah spiritual
3. Mengetahui cara merawat

4. Melakukan rujukan
PENILAIAN KEMAMPUAN PERAWAT DALAM MERAWAT PASIEN
DENGAN DISTRES SPIRITUAL

Petunjuk pngisian:
1. Berilah tanda ( ) jika perawat mampu melakukan kemampuan di bawah ini.
2. Tuliskan tanggal setiap dilakukan penilaian
Kemampuan Tanggal
Pasien
SP 1p
1. Membina hubungan saling percaya
2. Mengetahui faktor penyebab distress
spiritual pada pasien
3. Mengungkapkan perasaan dan
pikiran tentang keyakinan
Nilai SP 1p
SP 2p
1. Mengembangkan keterampilan
untuk mengatasi penyakit dan
perubahan dalam kehidupan
2. Membuat rencana keperawatan
selanjutnya
Nilai SP 2p
SP 3p
1. Mengungkapakan perasaan untuk
berduka
Nila SP 3p
SP 4p
1. Menyiapkan alat-alat ibadah sesuai
keyakinan klien
2. Menjalankan ibadah sendiri atau
dengan orang lain
3. Ikut serta dalam kegiatan keagamaan
Keluarga
SP 1K
1. Mengidentifikasi masalah yang
dihadapi dalam merawat pasien
2. Mengetahui pross terjadinya
masalah spiritual yang dihadapi
3. Mengetahui cara merawat
anggota keluarga yang
mengalami masalah spritual
4. Membantu pasien melaksanakan
kegiatan spiritual
Nilai SP 3k
Total nilai SPp + SPk

2.6.7. Dokumentasi
Dokumentasi asuhan keperawatan dengan distres
spiritual adalah berfokus pada kemampuan pasien, keluarga,
dan perawat yang menangani pasien dan keluarganya. Berikut
ini adalah format dokumentasi asuhan keperawatan kesehatan
jiwa masyarakat pasien dan keluarga dengan distres spritual.

CATATAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA MASYARAKAT

Nama Pasien:_______________________
Nama Puskesmas:___________________
No RM:___________________________
Tanggal:___________________________

Data
___________________________________________________________________
___________________________________________________________________
Diagnosis Kerawatan
Distress Spiritual

Tindakan Keperawatan
1. Pasien
___________________________________________________________________
___________________________________________________________________
___________________________________________________________________

2. Keluarga
___________________________________________________________________
___________________________________________________________________
___________________________________________________________________

Evaluasi
1. Pasien
S :_______________________________________________________________
O:_______________________________________________________________
A:_______________________________________________________________
P :_______________________________________________________________

2. Keluarga
S :_______________________________________________________________
O:_______________________________________________________________
A:_______________________________________________________________
P:________________________________________________________________

3. Perawat
S :_______________________________________________________________
O:_______________________________________________________________
A:_______________________________________________________________
P:________________________________________________________________

__________________________
Tanda Tangan & Nama Perawat
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Spiritualitas adalah dimensi manusia, dan dengan demikian dimensi praktek


Keperawatan. Fokus pada tanggung jawab perawat untuk menyediakan kerohanian
meliputi penilaian, diagnosis, perencanaan, intervensi dan evaluasi. Ini adalah langkah-
langkah yang mendefinisikan proses keperawatan, yang merupakan scien- tific metode
pelayanan keperawat adalah diterapkan dalam praktek.
Distres spiritual adalah suatu gangguan yaang berhubungan dengan prinsip
kehidupan, keyakinan, kepercayaan atau keagamaan pasien yang menyebabkan
gangguan pada aktivitas spiritual akibat masalah-masalah fisik atau psikososial yan
dialami (Dochterman, 2004).

3.2 Saran
Dalam keterbatasan pengetahuan yang kami miliki, tentu dalam penulisan
makalah ini masih banyak kekurangan dan kejanggalan. Untuk itu kami mengharapkan
saran agar kami dapat meningkatkan kualitas makalah yang akan dibuat selanjutnya.
Semoga makalah ini berguna bagi pembaca, khususnya mahasiswa ilmu keperawatan
dalam mempelajari keperawatan jiwa mengenai distress spiritual.
DAFTAR PUSTAKA

Baldacchino, D. (2006). Nursing competencies for spiritual care. Journal of Clinical Nursing,
15 (7), 885896
Burkhart, L., & Solari-Twadell, A. (2001). Spirituality and religiousness: Dif-ferentiating the
diagnoses through a review of the nursing literature.Nursing Diagnosis,12(2), 4554.
Caldeira ,Slvia, dkk. 2013. Spiritual DistressProposing a New Definition and Defining
Characteristics.

Chan, M. (2010). Factors affecting nursing staff in practicing spiritual care.Journal of Clinical
Nursing,19(1516), 21282136.

Grace Yopi Dkk. 2013. Hubungan Peran Perawat Dalam Pemberian Terapi Spiritual
Terhadap Perilaku Pasien Dalam Pemenuhan Kebutuhan Spiritual Di Ruang Icu Rsm
Ahmad Dahlan Kota Kediri.
Herdman, T. (Ed.). (2009). North American Nursing Diagnosis Association International
Nursing Diagnoses: Definitions and classification 2009 2011 . Oxford: Wiley-
Blackwell.
Hubbell et al. 2012. Spiritual Care Practices of Nurse Practitioners in Federally Designated
non Metropolitan Areas of North Carolina. Journal of The American Academy of
Nurse Practitioners, 18, 85-91.
Internasional, NANDA, Herman, T, Heather. (2012). Diagnosis Keperawatan dan Klasifikasi.
(2012-2014). Jakarta : EGC.

Keliat, Budi Anna. 2011. Manajemen Kasus Gangguan Jiwa. Jakarta: EGC

Kociszewski, C. (2003). A phenomenological pilot study of the nurses expe-rience providing


spiritual care.Journal of Holistic Nursing,21(2), 131148
McSherry, W. (2000).Spirituality in nursing practice: An interactiveapproach. London:
Churchill Livingstone.
McSherry, W., Cash, K., & Ross, L. (2004). Meaning of spirituality: Implicationsfor nursing
practice. Journal of Clinical Nursing,13 (8), 934941.
Murray, S., Kendall, M., Boyd, K., Worth, A., & Benton, T. (2004). Exploring thespiritual
needs of people dying of lung cancer or heart failure: A prospec- tive qualitative
interview study of patients and their careers. Palliative Medicine, 18 (1), 3945.
Model Holistik Berdasar Teori Adaptasi (Roy dan PNI) Sebagai Upaya Modulasi Respons
Imun (Aplikasi Pasien HIV/AIDS). Makalah dipresentasikan pada Seminar Nasional
Keperawatan, 16 Mei 2009, Surabaya.

Monod et al. 2010. Instrumen Measuring Spirituality in Clinical Research: A Sistematic


Review. Journal General Internal Medicine, 26, 1345-1357.
Narayanasamy, A. A., Clissett, P., Parumal, L., Thompson, D., Annasamy, S., &Edge, R.
(2004). Responses to the spiritual needs of older people.Journal of Advanced
Nursing,48(1), 616.
Narayanasamy, A. (2001). Spiritual care: A practical guide for nurses and health care
practitioners . Wilshire: Quay Books.
Oldnall, A. (1996). A critical analysis of nursing: Meeting the spiritual needs
ofpatients.Journal of Advanced Nursing,23(1), 138144.
Pesut, B. (2008). A conversation on diverse perspectives of spirituality innursing
literature.Nursing Philosophy,9(2), 98109.
Potter, P.A., & Perry, A.G. 2004. Buku Ajar Fundamental Keperawatan, Edisi 4. Jakarta:
EGC.

Rahayu Winarti. 2016. Pengaruh Penerapan Asuhan Keperawatan Spiritual Terhadap


Kepuasan Pasien Di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. Tesis Untuk
memenuhi persyaratan mencapai Magister Keperawatan, Universitas Diponegoro.

Reed, P. G. (1992). An emerging paradigm for the investigation of spirituality in nursing.


Research in Nursing and Health, 15 (5), 349357.

Saputra Hendra. 2014. Hubungan Penerapan Asuhan Keperawatan dengan Pemenuhan


Kebutuhan Spiritual Pasien Di Ruang Rawat Inap Kelas III RS PKU Muhammadiyah
Yogyakarta. Skripsi Publikasi, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Aisyiyah Yogyakarta.
Sarafino, Edward. P. 2002. Health Psychology Biophychological Interaction. 2nd Ed. New
John Wiley and Sons Inc.
Sawatzky, R., & Pesut, B. (2005). Attributes of spiritual care in nursingpractice.Journal of
Holistic Nursing,23(1), 1933
Taylor, E. (2006). Prevalence and associated factors of spiritual needsamong patients with
cancer and family caregivers.Oncology NursingForum,33(4), 730735.
Wilkinson, Judith M. (2016). Diagnosis Keperawatan: Diagnosis NANDA-I, Intervensi NIC,
Hasil NOC, Ed. 10. Jakarta: EGC

Yani S Achir. 2009. Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC Diakses 15
Oktober 2016 dari google ebook.