Anda di halaman 1dari 29

COORPORATE TAX RISK MANAGEMENT

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mata kuliah Seminar Perpajakan

Disusun Oleh:

Windawaty chandra 1451013


Catherine Tanugraha 1451089
Aleika syaira nastiti 1451149
Sonya Kristina Herianto 1451138
Vincentius Adhi Irawan 1451227

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
BANDUNG
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat, rahmat, dan
anugerahnya yang diberikan kepada peneliti, sehingga peneliti dapat
menyelesaikan Tugas Seminar Perpajakan dengan judul Corporate Tax Risk
Management. Tugas ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat tugas mata
kuliah Seminar Perpajakan semester Genap 2016/2017 jurusan Akuntansi,
Universitas Kristen Maranatha Bandung.
Dalam penyusunan tugas ini, peneliti banyak mendapat bantuan dan
dukungan. Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Dr. Nur Hidayat, S.E.,
M.E., Ak., BKP. yang telah memberikan dukungan, refrensi, dan waktu kepada
peneliti dalam pengerjaan tugas ini.
Peneliti menyadari masih terdapat beberapa kekurangan dalam penelitian
ini karena berbagai keterbatasan yang dimiliki. Oleh karena itu, peneliti sangat
terbuka atas kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga hasil penelitian
ini dapat bermanfaat bagi semua pembacanya.

Bandung, 27 Maret 2017

Peneliti

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... i


DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii
BAB I .................................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................ 1
1.2 Identifikasi Masalah ........................................................................................ 3
1.3 Maksud dan Tujuan ......................................................................................... 3
BAB II ................................................................................................................... 4
2.1 Risiko .............................................................................................................. 4
2.2 Manajemen Risiko .......................................................................................... 4
2.2.1 Manajemen Risiko Perpajakan ............................................................. 5
2.2.2 Risiko Perpajakan yang Ada di Perusahaan ......................................... 6
2.2.3 Pengelolaan Risiko Perpajakan ............................................................ 11
2.2.4 Bentuk Pengurangan Risiko ................................................................ 11
2.2.5 Pemindahan Risiko ............................................................................... 12
2.2.6 Penanganan Risiko ............................................................................... 12
2.3 Sanksi Pajak yang Berlaku di Indonesia ......................................................... 13
BAB III ................................................................................................................. 17
3.1 Penerapan Tax Planning secara umum ........................................................... 18
3.2 Penerapan Tax Planning dalam Memaksimalkan Biaya-biaya Fiskal ............ 21
BAB IV ................................................................................................................. 29
4.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 29
4.2 Saran ................................................................................................................ 30

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Setiap organisasi tentu mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Namun
dalam menggapai tujuan tersebut, banyak hal yang mungkin terjadi dan bisa
menghambat, menunda atau menggagalkan tercapainya tujuan. Dalam
mencapai tujuan, setiap organisasi pasti berhadapan dengan risiko. Risiko
dalam berbagai wujud dan sumber menciptakan tantangan dan sekaligus
ketidakpastian. Kesadaran untuk mengelola risiko menjadi sebuah peluang
adalah impian semua instansi, tetapi risiko menjadi sangat tidak sederhana
karena memiliki kecenderungan ketidakpastian yang tinggi. Oleh karena itu,
perlunya manajemen risiko untuk membantu organisasi dalam mengelola
setiap risiko yang mungkin terjadi dan berdampak pada pencapaian tujuan
organisasi.
Setiap perusahaan mempunyai strategi manajemen untuk
memaksimalkan nilai usahanya dengan efektif dan efisien. Tidak dapat
dipungkiri, pajak merupakan indikator aktifitas perusahaan dalam peningkatan
nilai usaha. Oleh sebab itu dibutuhkan strategi manajemen pajak sebagai
sarana untuk memenuhi kewajiban perpajakan secara benar, tanpa melanggar
ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku dengan risiko pajak
yang minimal sehingga perusahaan dapat memaksimalkan seluruh potensi
usaha yang ada untuk meraih keuntungan dan likuiditas sesuai dengan tujuan
perusahaan.
Fakta yang terjadi dalam pemenuhan kewajiban perpajakan saat ini,
masih banyak Wajib Pajak menggunakan cara penghindaran pajak secara
ilegal yang berdampak pada risiko keuangan, reputasi, operasional, dan
kelangsungan usaha. Risiko berhubungan dengan ketidakpastian terjadi karena
kurang atau tidak tersedianya cukup informasi tentang apa yang akan terjadi.
Sesuatu yang tidak pasti dapat berakibat menguntungkan atau merugikan.
Menurut Wideman ketidakpastian yang menimbulkan kemungkinan
menguntungkan dikenal dengan istilah peluang (opportunity), sedangkan

1
ketidakpastian yang menimbulkan akibat yang merugikan disebut dengan
istilah risiko (risk). Dalam beberapa tahun terakhir, manajemen risiko menjadi
trend utama baik dalam perbincangan, praktik, maupun pelatihan kerja. Hal ini
secara konkret menunjukkan pentingnya manajemen risiko dalam bisnis pada
masa kini Risiko dapat dikurangi dan bahkan dihilangkan melalui manajemen
risiko. Peran dari manajemen risiko diharapkan dapat mengantisipasi
terjadinya risiko yang sangat berlebihan yang dapat membuat perusahaan
gulung tikar, oleh sebab itu kita perlu melakukan ha-hal yang lebih terarah,
salah satunya dengan mengukur dimensi risiko yang akan terjadi pada diri
sendiri pada khususnya dan pada perusahaan pada umunya.
Manajemen risiko sebenamya dapat pula diterapkan di berbagai bidang
termasuk perpajakan. Dalam perpajakan nasional, risiko operasional
(operational risk) paling relevan untuk diterapkan dibandingkan dengan risiko
pasar (market risk) risiko kredit (credit risk), dan risiko likuiditas (liquidity
risk Lalu, apa itu risiko operasional? Michel Crouhydan Galai & Robert Mark
(2000) mendefinisikan risiko operasional sebagai risiko yang berkaitan dengan
operasional bisnis Risiko ini meliputi dua komponen risiko. Pertama, risiko
kegagalan operasional (operational failure risk) atau risiko intern terdiri dari
risiko yang bersumber dari sumber daya manusia, proses, dan teknologi.
Kedua, risiko strategi operasional (operational strategic risk) atau risiko
ekstern yang berasal dari faktor-faktor antara lain politik, pajak, regulasi,
pemerintah, masyarakat, kompetisi. Yang jadi pertanyaan, risiko operasional
apa saja yang dihadapi perpajakan nasional? Ada beberapa risiko yang
dihadapi, seperti risiko karyawan (people risk Konkretnya, persis seperti kasus
pajak yang diduga melibatkan Gayus Halomoan Tambunan.
Salah satu potensi risiko adalah pada sengketa pajak, Sengketa pajak
adalah sengketa yang timbul dalam bidang perpajakan antara wajib pajak atau
penanggung pajak dengan pejabat yang berwenang sebagai akibat
dikeluarkannya keputusan yang dapat diajukan banding atau gugatan kepada
Pengadilan Pajak.

2
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang dari penjelasan sebelumnya, maka identifikasi
masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian dan konsep dari manajemen resiko dan manajemen
resiko perpajakan ?
2. Apa saja resiko yang ada di dalam perusahaan ?
3. Bagaimana cara perusahaan menghadapi resiko yang dihadapi ?

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian


Maksud dan tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian dan konsep manajemen resiko dan
manajemen resiko perpajakan.
2. Untuk mengetahui resiko yang berada di dalam perusahaan.
3. Untuk mengetahui cara perusahaan menghadapi risiko yang dihadapi.

3
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian Risiko


1. Pengertian risiko menurut ISO 31000:2009 risiko adalah dampak dari
ketidakpastian terhadap pencapaian objektif. Dampak yang terjadi
menurut ISO 31000 adalah deviasi dari apa yang bisa diharapkan, bisa
bersifat positif dan atau negative.
2. Vaughan (1978) mengemukan beberapa definisi risiko adalah sebagai
berikut:
a. Risk is the chance of loss (Risiko adalah kesempatan dari kerugian)
Chance of loss biasanya dipergunakan untuk menunjukkan suatu
keadaan dimana terdapat suatu keterbukaan (exposure) terhadap
kerugian atau suatu kemungkinan kerugian. Sebaliknya jika
disesuaikan dengan istilah yang dipakai dalam Statistik,
maka chance sering dipergunakan untuk menunjukkan tingkat
probabilitas akan munculnya situasi tertentu.
b. Risk is the possibility of loss (Risiko adalah kemungkinan kerugian)
Istilah possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa
berada di antara nol dan satu. Definisi ini barangkali sangat mendekati
dengan pengertian risiko yang dipakai sehari-hari. Akan tetapi definisi
ini agak longgar, tidak cocok dipakai dalam analisis secara kuantitatif.
c. Risk is uncertainty (Risiko adalah ketidakpastian)
Tampaknya ada kesepakatan bahwa risiko berhubungan dengan
ketidakpastian (uncertainty) yaitu adanya risiko, karena adanya
ketidakpastian

2.2.Manajemen Risiko
Manajemen risiko merupakan suatu usaha untuk mengetahui, menganalisis
serta mengendalikan risiko dalam setiap kegiatan perusahaan dengan tujuan
untuk memperoleh efektivitas dan efisiensi yang lebih tinggi. Memahami

4
konsep risiko secara luad, akan merupakan dasar yang esensial untuk
memahami konsep dan teknik manajemen risiko.
Manejemen risiko menurut Noshworthy adalah identifikasi dari ancaman
dan implementasi dari pengukuran yang ditujukan pada mengurangi kejadian
ancaman tersebut dan meminimalisi setiap kerusakan. Analisa risiko dan
pengontrolan risiko membentuk dasar manajemen risiko dimana pengontrolan
risiko adalah aplikasi dari pengelolaan yang cocok untuk memperoleh
keseimbangan antara keamanan, penggunaan dan biaya.
National Instituate of Standard and Technology mendefinisikan
manajemen risiko adalah proses dari mengidentifikasi, mengontrol, dan
mendistribusikan informasi yang terkait risiko melalui suatu system dan
melingkupi pengkajian risiko, analisis manfaat biaya, dan pemilihan,
implementasi, pengetesan dan evaluasi keamanan dari usaha perlindungan.
Jadi manajemen risiko merupakan suatu system pengawasan risiko. Dan
perlindungan atas harta benda, keuntungan, serta keuangan suatu badan usaha
atau perorangan atas kemungkinan timbulnya suatu kerugian karena adanya
risiko tersebut.

2.2.1 Manfaat Manajemen Risiko


1. Mampu memberikan informasi dan perspektif kepada manajemen
tentang semua profil risiko, perubahan mendasar mengenai produk
dan pasar, serta lingkungan bisnis dan perubahan yang diperlukan
dalam proses manajemen risiko.
2. Mampu menyampaikan isu sentral tentang formulasi kebijakan
manajemen risiko dan review-nya.
3. Mampu menghitung dan mengukur besarnya risk exposure.
4. Mampu menetapkan alokasi sumber-sumber dana sekaligus limit
risiko dengan lebih tepat.
5. Mampu membuat cadangan yang memadai untuk mengantisipasi
risiko yang sudah diukur dan dihitung.
6. Mampu menghindari potensi kerugian yang relatif lebih besar.

5
2.2.2 Manajemen Risiko Perpajakan
Menurut Sophar Lumbantoruan dalam bukunya Akuntansi Pajak
(1994:354) secara umum Manajemen Perpajakan dapat didefinisikan
sebagai sarana untuk memenuhi ketentuan perpajakan dengan benar
tetapi jumlah pajak yang dibayar dapat ditekan serendah mungkin untuk
memperoleh laba dan likuiditas yang diharapkan.
Tujuan manajemen pajak dapat dicapai melalui fungsi-fungsi
manajemen pajak yang terdiri atas:
1). Perencanaan Pajak (Tax Planning)
Perencanaan pajak adalah langkah awal dalam manajemen
pajak. Pada tahap ini, dilakukan pengumpulan dan penelitian
terhadap peraturan-peraturan perpajakan, dengan maksud dapat
menyeleksi jenis tindakan penghematan pajak yang akan dilakukan.
Tax Planning disini sama dengan Tax Avoidance karena secara
hakekat ekonomis keduanya berusaha untuk memaksimalkan
penghasilan setelah pajak, karena pajak merupakan beban
pengurang laba yang tersedia, baik untuk dibagikan kepada
pemegang saham maupun untuk diinvestasikan kembali.
2). Kewajiban Perpajakan (Tax Implementation)
Apabila pada tahap perencanaan pajak telah diketahui
faktor-faktor yang akan dimanfaatkan untuk melakukan
penghematan pajak, maka langkah selanjutnya adalah
mengimplementasikannya baik secara formal maupun materil.
Untuk mencapai tujuan manajemen pajak ada dua hal yang perlu
dikuasai dan dilaksanakan yaitu:
Memahami ketentuan dan peraturan perpajakan.
Menyelenggarakan pembukuan yang memenuhi syarat.
3). Pengendalian Pajak (Tax Control)
Pengendalian pajak bertujuan untuk memastikan bahwa
kewajiban pajak telah dilaksanakan sesuai dengan yang telah
direncanakan dan telah memenuhi persayaratan formal maupun
materil.Dalam pengendalian pajak yang penting adalah pengecekan

6
pembayaran pajak.Oleh sebab itu pengendalian dan pengaturan
arus kas sangat penting dalam strategi penghematan
pajak.Pengendalian pajak termasuk pemeriksaan jika perusahaan
telah membayar pajak lebih besar dari jumlah pajak terutang.
Tax planning yang sampai saat ini menjadi sandaran utama
untuk mengefisienkan beban pajak ternyata tidak cukup untuk
menjawab perkembangan dunia bisnis dan perpajakan yang terus
berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di
lingkungannya.Diperlukan perpaduan Tax Planning dan Tax Risk
Management untuk lebih mengoptimalkan upaya-upaya
meningkatkan nilai perusahaan.

2.2.3 Risiko Perpajakan yang Ada di Perusahaan


Menurut Hdaya (2013b) hasil identifikasi risiko perpajakan yang sering
muncul diperusahaan terdiri atas:
1). Risiko PPh Badan
Risiko Pajak Penghasilan (PPh) Badan adalah risiko yang ada di
setiap perusahaan, PPh Badan terkait dengan aktivitas utama
perusahaan yang bertujuan mencari laba (profit orientid), oleh karena
itu hampir setiap perusahaan yang bertujuan mencari laba akan
terkait dengan transaksi organisasi dan akuntansi secara keseluruhan,
meliputi:
a. Penerimaan/pendapatan
Setiap transaksi pembelian maupun penjualan yang
memiliki bukti pembelian/ penjualan akan menghasilkan
pendapatan/penerimaan yang memengaruhi pajak penghasilan
perusahaan. Jika semakin bayak pendapatan/penerimaan
perusahaan, dapat berakibat menambah pajak penghasilan
perusahaan. Sebaiknya, jika semakin sedikit
pendapatan/penerimaan perusahaan, akan mengurangi pajak
penghasilan perusahaan.
b. Pembayaran beban operasional

7
Setiap transaksi pasti ada bukti pendukung yang
memberikan daftar beban operasional yang harus dibayar
perusahaan. Jika semakin banyak beban operasional yang
dibayar perusahaan, akan menjadi pengurang pajak pengahsilan
perusahaan, tetapi harus memenuhi syarat-syarat pembebanan
yang diatur dalam UU PPh. Sebaliknya jika semakin kecil beban
operasional perusahaan, akan memperbesar pajak penghasilan
perusahaan.
c. Perhitungan penyusutan
Setiap aset tetap yang dimiliki perusahaan pasti mengalami
penyusutan, perhitungan penyusutan tersebut memiliki beberapa
metode perhitungan yang hasilnya dapat memengaruhi besarnya
laba atau rugi perusahaan Laporan laba rugi perusahaan
memengaruhi pajak penghasilan perusahaan.
d. Penjualan barang/jasa yang bukan aktivitas utama
Penjulalan barang/jasa yang dilakukan perusahaan di samping
aktivitas utama perusahaan memiliki tarif pajak yang berbeda
dengan penjualan pada aktivitas utama perusahaan. Sehingga
penjualan tersebut dapat memengaruhi pajak penghasilan
perusahaan.
e. Laba/rugi usaha/selisih anatara penerimaan dengan beban
Jumlah laba/rugi usaha/selisih antara penerimaan dengan beban
perusahaan memengaruhi jumlah akhir penghasilan kena pajak
perusahaan pada perhitungan koreksi fiskal perusahaan,
sehingga memengaruhi ke pajak penghasilan perusahaan.

2). Risiko PPh Pasal 21


Adanya risiko PPh Pasal 21 pada perusahaan disebabkan karena
perusahaan memiliki kewajiban untuk menghitung dan memotong
pajak untuk seluruh karyawannya. Terdapat sebuah sistem
pemungutan yang diberlakukan di Indonesia yakni sistem
pemungutan pajak yang melibatkan pihk ketiga atau serig disebut

8
dengan with holding system. Jika ada kesalahan dalam pemotongan,
peyetoran, dan pelaporan pajak karyawan merupakan tanggung
jawab perusahaan sebagai pemotong.Risiko PPh Pasal 21 memiliki
variabel antara lain:
a. Status pegawai
Setiap pegawai harus dijelaskan status kepegawaiannya di
dalam perusahaan. Jenis status pegawai yaitu pegawai tetap,
pegawai tidak tetap, dan bukan pegawai. Setiap status pegawai
memiliki metode perhitungan PPh pasal 21 yang berbeda-beda.
b. Kebijakan pembayaran
PPh Perusahaan harus memberi kebijakan pembayaran PPh
para karyawannya dengan cara dibayar pegawai itu sendiri atau
ditanggung oleh perusahaan atau diberikan tunjangan.
c. Bukti potong dan kuitansi gaji
Setelah perusahaan memotong PPh pasal 21 para karyawan,
harus memberikan bukti potong PPh pasal 21 tersebut. Bukti
potong tersebut dapat berupa kuitansi atau bukti potong tersendiri
atau dalam daftar gaji karyawan.
d. SPT Masa dan SPT Masa Desember
Perusahaan harus melaporkan PPh pasal 21 dalam SPT
masa Januari sampai dengan November, SPT pembayaran
bonus/THR, dan SPT Masa Desember

3). Risiko PPh Badan


Risiko PPh Badan adalah risiko yang ada di setiap perusahaan
untuk membayar Pajak Penghasilan. Pajak Penghasilan dari tiap
perusahaan yaitu pajak yang terkait dengan transaksi organisasi dan
akuntansi secara keseluruhan, meliputi:
a. Penerimaan/pendapatan
Setiap transaksi pembelian maupun penjualan yang
memiliki bukti pembelian/penjualan akan menghasilkan
pendapatan/penerimaan yang mempengaruhi pajak penghasilan

9
perusahaan. Jika semakin banyak pendapatan/penerimaan
perusahaan, akan menambah pajak penghasilan perusahaan.
Sebaliknya jika semakin sedikit pendapatan/penerimaan
perusahaan, akan mengurangi pajak penghasilan perusahaan.
b. Pembayaran beban operasional
Setiap transaksi pasti ada bukti pendukung yang memberikan
daftar beban operasional yang harus dibayar perusahaan. Jika
semakin banyak beban operasional yang dibayar perusahaan, akan
menambah pajak penghasilan perusahaan. Sebaliknya jika
semakin banyak beban operasional perusahaan, akan mengurangi
pajak penghasilan perusahaan.
c. Perhitungan penyusutan
Setiap aset tetap yang dimiliki perusahaan pasti mengalami
penyusutan,
perhitungan penyusutan tersebut memiliki beberapa metode perhit
ungan yang hasilnya dapat mempengaruhi laporan laba rugi
perusahaan. Laporan laba rugi perusahaan mempengaruhi pajak
penghasilan perusahaan.
d. Penjualan barang/jasa yang bukan aktivitas utama
Penjualan barang/jasa yang dilakukan perusahaan disamping
aktivitas utama perusahaan memiliki tarif pajak yang berbeda
dengan penjualan pada aktivitas utama perusahaan. Sehingga
penjualan tersebut dapat mempengaruhi pajak penghasilan
perusahaan.
e. Laba/rugi usaha/selisih antara penerimaan dengan beban
Jumlah laba/rugi usaha/selisih antara penerimaan dengan beban
perusahaan mempengaruhi jumlah akhir penghasilan kena pajak
perusahaan pada perhitungan koreksi fiskal perusahaan, sehingga
mempengaruhi ke pajak penghasilan perusahaan.

4). Risiko Pemotongan/ Pemungutan Pihak Ketiga


a. PPh Pasal 22 Bendaharawan Tidak tepat waktu dan tercecer.

10
b. PPh Pasal 23 Kesalahan pemotongan dan Tidak tepat waktu
dan tercecer.
c. PPh Pasal 4 (2) Kesalahan pemotongan dan Tidak tepat waktu
dan tercecer.

5). Risiko Pajak Pertambahan Nilai


Dari setiap transaksi penjualan dan pembelian akan terkena PPN.
Sedangkan di dalam perusahaan pasti ada transaksi penjualan dan
pembelian dari Barang Kena Pajak maupun Jasa Kena Pajak.
sehingga perusahaan pasti memiliki risiko PPN.

6). Risiko Pemeriksaan Pajak


Setiap Wajib Pajak orang pribadi maupun badan perusahaan
memiliki risiko pemeriksaan, karena sistem pajak di Indonesia
menganut Self Assessment. Sistem tersebut yang dapat
menimbulkan adanya sengketa pajak antara fiskus dan wajib pajak,
sehingga menimbulkan adanya pemeriksaan pajak. Namun bobot
risiko pemeriksaan tergantung pada jenis pemeriksaannya, antara
lain:
a. Pemeriksaan Pengujian
Kepatuhan Pemeriksaan yang dilakukan pengujian terhadap
bukti-bukti pembukuan yang mendukung transaksi yang terjadi,
sudah diproses dan dicatat sesuai dengan sistem dan prosedur
yang ditetapkan manajemen. Pemeriksaan ini bertujuan untuk
menilai efektivitas dari pengendalian intern dan sistem
pengendalian manajemen dengan melakukan pemeriksaan secara
sampling atas bukti-bukti pembukuan, sehingga bisa diketahui
apakah transaksi bisnis perusahaan dan pencatatan akuntansinya
sudah dilakukan sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan
manajemen perusahaan.

11
b. Pemeriksaan Tujuan Lain
Pemeriksaan pajak yang dilaksanakan sebagai bentuk
pelaksanaan ketentuan tertentu dalam aturan perpajakan yang
bukan untuk menguji kepatuhan wajib pajak dan produk hukum
yang dihasilkan dari pemeriksaan pajak untuk tujuan lain
bukanlah selalu surat ketetapan pajak seperti pemeriksaan untuk
menguji kepatuhan WP. Artinya, bisa juga diterbitkan SKP atau
STP kepada WP tersebut.

c. Pemeriksaan Bukti Permulaan


Pemeriksaan yang dilakukan untuk mendapatkan bukti
permulaan tentang adanya dugaan telah terjadi tindak pidana di
bidang perpajakan.
d. Pemeriksaan yang dilakukan apabila telah terbukti melakukan
tindakan pidana di bidang perpajakan.
Menurut Hidayat (2011) penyebab dilakukannya
pemeriksaan pajak terhadap wajib pajak antara lain karena
pemeriksa pajak akan melaksanakan tugas (kewajiban) nya untuk
menguji kepatuhan wajib pajak dalam melaksanakan ketentuan
perpajakan. Menguji kepatuhan wajib pajak mengandung arti
bahwa wajib pajak sudah memenuhi kewajibannya, tetapi dalam
pemenuhan kewajiban perajakan tersebut wajib pajak masih
selalu diragukan kepatuhannya, karena self assessment system
yang diberlakukan di Indonesia.

7). Risiko Pengajuan Keberatan


Wajib pajak mempunyai hak untuk mengajukan keberatan atas
suatu ketetapan pajak dengan mengajukan keberatan secara tertulis
kepada DJP paling lambat tiga bulan sejak tanggal dikirim surat
ketetapan pajak atau sejak tanggal pomotongan atau pemungutan
kecuali apabila wajib pajak dapat menunjukan bahwa jangka waktu
tersebut tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya

12
(Gunadi,2010). Atas keberatan tersebut DJP akan memberikan
keputusan paling lama dalam jangka waktu 12 bulan sejak surat
keberatan diterima.
Risiko yang melekat dengan pengajuan keberatan adalah, adanya
kemungkinan keputusan keberatan yang berbeda:
a) Diterima
b) Diterima Sebagian
c) Ditolak
d) Ditambah Jumlah Pajak Terutang
e) Keputusan keberatan akan menimbulkan sanksi yang dapat
mengganggu cash flow perusahaan.

8). Risiko Pengajuan Banding


Apabila wajib pajak masih belum puas dengan surat keputusan
keberatan atas keberatan yang diajukannya, maka wajib pajak masih
dapat mengajukan banding ke Badan Peradilan Pajak (Saidi, 2007).
Pengadilan pajak harus menetapkan putusan paling lambat 12 bulan
sejak surat bandig diterima. Dalam hal permohonan banding ditolak
atau dikabulkan sebagian, wajib Pajak dikenai sanksi administrasi
berupa denda sebesar 100% dari jumlah pajak berdasarkan Putusan
Banding dikurangi dengan pembayaran pajak yang telah dibayar
sebelum mengajukan keberatan (Pudyatmoko, 2004; Saidi, 2007).

2.2.4 Potensi Risiko Pajak


Salah satu potensi risiko sektor perpajakan adalah pada sengketa
pajak. Sengketa pajak adalah sengketa yang timbul dalam bidang
perpajakan antara wajib pajak atau penanggung pajak dengan pejabat
yang berwenang sebagai akibat dikeluarkannya keputusan yang dapat
diajukan banding atau gugatan kepada Pengadilan Pajak. Dalam hal ini,
dituntut karyawan yang bukan hanya ahli dalam bidangnya tetapi juga
berintegritas tinggi. Mengapa? Karena, di sana tersimpan berlaksa
godaan yang bisa timbul dari wajib pajak dan/atau pejabat pajak.

13
Selain itu, ada risiko reputasi yang antara lain disebabkan publikasi
atau persepsi negatif terkait dengan aktivitas bisnis. Risiko tersebut
tidak terkait langsung dengan kerugian finansial. Tetapi, lebih sulit
diselesaikan dan makan waktu lama. Tanpa disadari, Ditjen Pajak kini
sedang menderita risiko reputasi yang berawal dari risiko operasional,
berupa main mata beberapa karyawannya. Risiko reputasi juga dapat
berbentuk keengganan wajib pajak untuk mengisi surat pemberitahuan
tahunan (SPT). Hal itu merupakan penurunan tingkat kepercayaan
masyarakat luas terhadap kinerja instansi tersebut. Sejatinya, Ditjen
Pajak sudah menyadarinya dengan slogannya, Lunasi Pajaknya, Awasi
Penggunaannya.
Agar semua risiko terkait perpajakan itu bisa dihindari, maka
diperlukan pegukuran dampak risiko, juga usaha untuk meminimalisir
dampak dari risiko yang dihadapi. Perusahan juga bisa melakukan
pemindahan risiko perpajakan, bila memang dirasa terlalu memberatkan
untuk menghadapi langsung urusan penanganan risiko ini. Bisa
memberikan tugas ini ke konsultan pajak, kata Nur, yang juga
berprofesi sebagai kuasa hukum dalam persengkataan perpajakan di
pengadilan perpajakan

2.2.5 Pengukuran Risiko


Pengukuran risiko adalah usaha untuk mengetahui besar/kecilnya
risiko yang akan terjadi dan merupakan tahap lanjutan setelah
pengidentifikasian risiko. Terdapat 2dimensi yang perlu diukur:
Pertama, frekuensi atau jumlah aktivitas yang berpotensi merugikan.
Kedua, jumlah kerugian yang dapat diderita oleh perusahaan.

2.2.6 Pengelolaan Risiko Perpajakan


Terdapat beberapa teknik dalam mengelola risiko diantaranya:
1). Penghindaran Risiko (Risk Advoidance)
Penghindaran risiko merupakan strategi dan taktik yang dirancang
untuk menghindari atau menghilangkan risiko keuangan dan risiko

14
lainnya yang potensial. Penghindaran risiko dilakukan dengan cara
perusahaan tidak mengambil tindakan yang dapat memunculkan
risiko tertentu.
Adapun risiko yang perlu dihindari yaitu:

a) Dampak social terlalu besar, seperti perusahaan dapat dituduh


melakukan tindak pidana perpajakan yang dapat diekspos di
media massa, yang dapat mempengaruhi kepercayaan pasar dan
kepercayaan investor.
b) Peraturan yang tidak kondusif, peraturan yang memberatkan
perusahaan dan tidak adanya alternative pilihan yang dapat
digunakan untuk melakukan tax planning, dan
c) Total risiko melebihi ambang batas, semua risiko perpajakan
hamper selalu terkait dengan alas an ekonomi, beban pajak yang
terlampau besar dapat mengganggu cashflow atau bahkan dapat
mengganggu going concern (keberlangsungan) perusahaan.
2). Pengurangan risiko
Untuk mengelola risiko, perusahaan bisa melakukan pengurangan
risiko, yaitu dengan cara:
a. Menghindari penyebab timbulnya risiko, seperti :
Menyusun SPT LB dengan benar
Menyusun Laporan Keuangan Rugi dengan benar
Pengajuan Restitusi
b. Mengambil berbagai tindakan berisiko yang saling
menghilangkan secara alamiah
Pembetulan SPT p pembetulan dapat dilakukan sebelum
lewat waktu 2 tahun dan atau belum dilakukan pemeriksaan.
Kompensasi Lebih Bayar Kompensasi kelebihan
pembayaran dalam hal terjadi PPN lebih bayar, kelebihan
pembayaran tersebut dapat ditunda pengajuan restitusinya
sampai dengan PKP elah benar-benar siap menghadapi
pemeriksaan, atau dengan kata lain menggeser restitusi

15
dengan cara dikompensasikan pada masa pajak/tahun pajak
berikutnya.
Menggeser Kerugian Kompensasi kelebihan pembayaran
dalam hal terjadi PPN lebih bayar, kelebihan pembayaran
tersebut dapat ditunda pengajuan restitusinya sampai
dengan PKP elah benar-benar siap menghadapi
pemeriksaan, atau dengan kata lain menggeser restitusi
dengan cara dikompensasikan pada masa pajak/tahun pajak
berikutnya.
c. Meminimalisasi dampak dari risiko seandainya terjadi
Persiapkan Back Up secara lengkap
Menyewa konsultan yang dapat mendampingi.

2.2.7 Bentuk Pengurangan Risiko


1). Pencegahan risiko
Mengusahakan supaya penyebab tidak terjadi.
Mengkondisikan SPT tidak lebih bayar atau tidak mengajukan
restitusi.
2). Pengendalian kerugian
Mengusahakan meminimalisasi kerugian seandainya risiko
tersebut benar-benar terjadi.
Sprinkler system, menyebarkan risiko dalam berbagai periode
(tahun pajak), atau menyebarkan pada unit (wajib pajak yang
berbeda tetapi bagian dari grup perusahaan)
Stop-loss order, menghentikan sama sekali kegiatan yang
berisiko tinggi yang tidak seimbang antara biaya risiko (cost)
dengan keuntungan (benefit), atau risiko yang tidak dapat
dikelola dengan biaya yang wajar.

16
2.2.8 Pemindahan Risiko
Pemindahan risiko dilakukan dengan cara:
1). Mempekerjakan pegawai yang kompeten yang memiliki integritas,
loyalitas, dan kapabilitas sehingga menghasilkan pegawai yang ideal
untuk bekerja dalam perusahaan.
2). Mempekerjakan konsultan pajak yang tertutup, yaitu konsultan pajak
yang dapat menjadi creative accounting perusahaan dan dapat
merencakan pajak dengan baik (tax planning).
3). Mempekerjakan konsultan pajak yang terbuka, yaitu dapat menjadi
membantu perusahaan bila ada sengketa pajak yang terjadi,
konsultan pajak terbukalah mendapat pelimpahan kuasa dari
perusahaan, dan menjadi perlindungan hukum/UU untuk Perusahaan.

2.2.9 Penanganan Risiko


Penangan risiko dilakukan dengan cara :
2.1 Penanganan risiko terencana
Sengaja menangani/ menanggung risiko
Berdasarkan profit cost-benefit
2.2 Penanganan risiko tidak terencana
Ketidakmampuan mengidentifikasi risiko
Kelalaian mengidentifikasi risiko
Risiko yang diabaikan

2.3 Sanksi Pajak yang Berlaku di Indonesia


Ada dua macam sanksi perpajakan di Indonesia yang terdiri dari :
1). Sanksi administrasi yang terdiri dari :
a. Sanksi Administrasi Berupa Denda
Sanksi denda adalah jenis sanksi yang paling banyak ditemukan
dalam UU perpajakan. Terkait besarnya denda dapat ditetapkan
sebesar jumlah tertentu, persentase dari jumlah tertentu, atau suatu
angka perkalian dari jumlah tertentu.

17
b.Sanksi Administrasi Berupa Bunga
Sanksi administrasi berupa bunga dikenakan atas pelanggaran yang
menyebabkan utang pajak menjadi lebih besar. Jumlah bunga
dihitung berdasakan persentase tertentu dari suatu jumlah, mulai dari
saat bunga itu menjadi hak/kewajiban sampai dengan saat diterima
dibayarkan. Perhitungan sanksi bunga dalam ketentuan pajak adalah
besarnya bunga akan dihitung secara tetap dari pokok pajak yang
tidak/kurang dibayar.
c. Sanksi Administrasi Berupa Kenaikan
Sanksi adminitrasi berupa kenaikan adalah sanksi yang paling
ditakuti oleh wajib pajak. Karena pada dasarnya sanksi berupa
kenaikan dihitung dengan angka persentase tertentu dari jumlah
pajak yang tidak kurang dibayar yang menyebabkan jumlah pajak
yang harus dibayar bias menjadi berlipat ganda.

2). Sanksi Pidana


UU KUP menyatakan bahwa pada dasarnya, pengenaan sanksi
pidana merupakan upaya terakhir untuk meningkatkan kepatuhan
Wajib Pajak.
1. Setiap orang yang karena kealpaannya :
a. Tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) atau
b. Menyampaikan SPT, tetapi isinya tidak benar atau tidak
lengkap, atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar,
sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara
dan perbuatan tersebut merupakan perbuatan setelah perbuatan
yang pertama kali, didenda paling sedikit 1 (satu) kali jumlah
pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling
banyak 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau
kurang dibayar, atau dipidana kurungan paling singkat 3 (tiga)
bulan atau paling lama 1 (satu) tahun.
2. Setiap orang yang dengan sengaja :

18
a. Tidak mendaftarkan diri untuk diberikan Nomor Pokok Wajib
Pajak atau tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan
sebagai Pengusaha Kena Pajak; atau
b. Menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok
Wajib Pajak atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak;
c. Tidak menyampaikan SPT; atau
d. Menyampaikan SPT dan atau keterangan yang isinya tidak
benar atau tidak lengkap; atau
e. Menolak untuk dilakukan pemeriksaan; atau - memperlihatkan
pembukuan, pencatatan, atau dokumen lain yang palsu atau
dipalsukan seolah-olah benar, atau tidak menggambarkan
keadaan yang sebenarnya; atau
f. Tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan, tidak
memperlihatkan atau tidak meminjamkan buku, catatan, atau
dokumen lainnya; atau
g. Tidak menyimpan buku, catatan, atau dokumen yang menjadi
dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk
hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara
elektronik atau diselenggarakan secara program aplikasi on-line
di Indonesia ; atau
h. Tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut,
sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan
dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2
(dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar
dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang
tidak atau kurang dibayar.
i. Apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang
perpajakan sebelum lewat 1 (satu) tahun, terhitung sejak
selesainya menjalani pidana penjara yang dijatuhkan,
dikenakan pidana 2 (dua) kali lipat dari ancaman pidana yang
diatur sebagaimana butir 2.

19
3. Setiap orang yang melakukan percobaan untuk melakukan tindak
pidana menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak NPWP
atau Pengukuhan PKP, atau menyampaikan Surat Pemberitahuan
dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap
dalam rangka mengajukan permohonan restitusi atau melakukan
kompensasi pajak atau pengkreditan pajak, dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 2
(dua) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah restitusi
yang dimohonkan dan/atau kompensasi atau pengkreditan yang
dilakukan dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah restitusi yang
dimohonkan dan/atau kompensasi atau pengkreditan yang
dilakukan.
4. Setiap orang yang dengan sengaja :
a. Menerbitkan dan/atau menggunakan faktur pajak, bukti
pemungutan pajak, bukti pemotongan pajak, dan/atau bukti
setoran pajak yang tidak berdasarkan transaksi yang
sebenarnya; atau
b. Menerbitkan faktur pajak tetapi belum dikukuhkan sebagai
Pengusaha Kena Pajak dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 6 (enam) tahun serta
denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak dalam faktur
pajak, bukti pemungutan pajak, bukti pemotongan pajak,
dan/atau bukti setoran pajak dan paling banyak 6 (enam) kali
jumlah pajak dalam faktur pajak, bukti pemungutan pajak,
bukti pemotongan pajak, dan/atau bukti setoran pajak.
5. Sanksi tindak pidana berlaku juga bagi wakil, kuasa, atau pegawai
dari Wajib Pajak, yang menyuruh melakukan, yang turut serta
melakukan, yang menganjurkan, atau yang membantu melakukan
tindak pidana di bidang perpajakan.

20
BAB III
PEMBAHASAN

Perusahaan-perusahaan secara berkesinambungan menciptakan dan menerapkan


strategi-strategi baru untuk memperbaiki arus kas mereka dalam rangka
meningkatkan kekayaan pemegang saham. Sejumlah strategi mengharuskan
dilakukannya ekspansi dalam pasar local. Strategi-strategi lain mengharuskan
penetrasi ke dalam pasar asing. Pasar luar negeri bisa sangat berbeda dari pasar
lokal. Pasar luar negeri menciptakan kesempatan timbulnya peningkatan arus kas
perusahaan.

Banyaknya hambatan masuk ke dalam pasar luar negeri yang telah dicabut atau
berkurang, mendorong perusahaan-perusahaan untuk memperluas perdagangan
internasional. Konsekuensinya, banyak perusahaan nasional berubah menjadi
perusahaan multinasional (multinasional corporation) yang didefinisikan sebagai
perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam suatu bentuk bisnis internasional.

Tujuan MNC sendiri secara umum adalah memaksimumkan kekayaan pemegang


saham. Penentuan tujuan sangat penting bagi sebuah MNC, karena semua
keputusan yang akan dilakukan harus memberikan kontribusi bagi pencapaian
tujuan tersebut. Setiap usulan kebijakan korporasi tidak hanya perlu
mempertimbangkan laba potensial, tetapi juga risiko-risikonya. Sebuah MNC
harus membuat keputusan-keputusan berlandaskan tujuan yang sama dengan
tujuan perusahaan domestik murni. Tetapi di sisi lain, perusahaan MNC memiliki
kesempatan yang jauh lebih luas, yang membuat keputusannya menjadi lebih
kompleks.
Ada beberapa kendala yang dialami oleh perusahaan MNC seperti, kendala
lingkungan, kendala regulatori, dan kendala etika. Kendala lingkungan dapat
dilihat dari perbedaan karakteristik tiap negara. Kendala regulatori berupa
perbedaan peraturan setiap negara yang ada seperti, pajak, aturan-aturan konversi
valuta, serta peraturan-peraturan lain yang dapat mempengaruhi arus kas anak
perusahaan. Kendala etika sendiri digambarkan sebagai suatu praktek bisnis yang
berbeda-beda di tiap Negara.

21
MNC, dalam melakukan bisnis internasionalnya, secara umum dapat
menggunakan metode-metode berikut:

Perdagangan internasional
Licensing
Franchising
Usaha patungan
Akuisisi perusahaan
Pembentukan anak perusahaan baru di luar negeri

Metode-metode bisnis internasional meminta investasi langsung dalam operasi-


operasinya di luar negeri atau lebih dikenal dengan sebutan Direct Foreign
Invesment (DFI). Perdagangan internasional dan pemberian lisensi biasanya tidak
dianggap sebagai DFI karena keduanya tidak melibatkan investasi langsung dalam
operasi di luar negeri. Franchising dan usaha patungan cenderung meminta
investasi langsung, tetapi dalam jumlah relatif kecil. Akuisisi dan pendirian anak
perusahaan baru merupakan elemen DFI yang paling besar.
Berbagai peluang serta keuntungan sebuah MNC tidak lepas dari risiko yang akan
muncul. Walaupun bisnis internasional dapat mengurangi exposure sebuah MNC
terhadap kondisi-kondisi ekonomi negara asalnya, bisnis internasional biasanya
juga meningkatkan exposure MNC terhadap pergerakan nilai tukar, kondisi
ekonomi luar negeri, dan risiko politik. Sebagian besar bisnis internasional
meminta pertukaran satu valuta dengan valuta yang lain untuk melakukan
pembayaran. Karena nilai tukar terus berfluktuasi, jumlah kas yang dibutuhkan
untuk melakukan pembayaran juga tidak pasti. Konsekuensinya, jumlah unit
valuta negara asal yang dibutuhkan untuk membayar bisa berubah walaupun
pemasoknya tidak mengubah harga. Selain itu, ketika perusahaan multinasional
memasuki pasar asing untuk menjual produk, permintaan atas produk tersebut
tergantung pada kondisi-kondisi ekonomi dalam pasar tersebut. Jadi, arus kas
perusahaan multinasional dipengaruhi oleh kondisi-kondisi ekonomi luar negeri.

Manajemen dapat menggunakan pengendalian terhadap nilai tukar mata uang


asing dengan lindung nilai. Namun, setiap strategi manajemen risiko keuangan

22
harus mengevaluasi efektivitas program lindung nilai tersebut. Umpan balik dari
sistem evaluasi yang berjalan akan membantu untuk menyusun pengalaman
kelembagaan dalam praktek menajamen risiko. Penilaian kinerja program
manajemen risiko juga memberikan informasi mengenai kapan strategi yang ada
sudah tidak lagi tepat untuk digunakan. Jadi intinya, pengendalian keuangan yang
efektif adalah dengan sistem evaluasi kinerja.

Sistem evaluasi kinerja terbukti bermanfaat dalam berbagai sektor. Sektor ini
mencakup, tetapi tidak terbatas pada, bagian treasuri perusahaan, pembelian dan
anak perusahaan luar negeri. Kontrol terhadap bagian treasuri perusahaan
mencakup pengukuran kinerja seluruh prodram manajemen risiko nilai tukar,
mengidentifikasikan lindung nilai yang digunakan, dan pelaporan hasil lindung
nilai. Sistem evaluasi tersebut juga mencakup dokumentasi atas bagaimana dan
sejauh apa bagian trasuri perusahaan membantu unit usaha lainnya dalam
organisasi itu.

Dalam banyak organisasi, manajemen risiko valuta asing tersentralisasi pada


kantor pusat perusahaan. Hal ini memungkinkan para manajer anak perusahaan
untuk berkonsentrasi pada usaha intinya. Namun demikian, ketika
membandingkan hasil actual dan hasil yang diperkirakan, sistem evaluasi harus
memiliki acuan yang digunakan untukmembandingkan keberhasilan perlindungan
risiko perusahaan.

Pembahasan :

Perusahaan-perusahaan secara berkesinambungan menciptakan dan menerapkan


strategi-strategi baru untuk memperbaiki arus kas mereka dalam rangka
meningkatkan kekayaan pemegang saham. Sejumlah strategi mengharuskan
dilakukannya ekspansi dalam pasar local. Strategi-strategi lain mengharuskan
penetrasi ke dalam pasar asing. Pasar luar negeri bisa sangat berbeda dari pasar
lokal. Pasar luar negeri menciptakan kesempatan timbulnya peningkatan arus kas
perusahaan.

Dengan adanya strategi MNC untuk bersaing dengan pasar luar negeri akan
menimbulkan risiko yakni pada Risiko PPh:

23
a. Penjualan barang/jasa yang bukan aktivitas utama
Penjualan barang/jasa yang dilakukan perusahaan disamping aktivitas
utama perusahaan memiliki tarif pajak yang berbeda dengan penjualan
pada aktivitas utama perusahaan. Sehingga penjualan tersebut dapat
mempengaruhi pajak penghasilan perusahaan.
b. Laba/rugi usaha/selisih antara penerimaan dengan beban
Jumlah laba/rugi usaha/selisih antara penerimaan dengan beban
perusahaan mempengaruhi jumlah akhir penghasilan kena pajak
perusahaan pada perhitungan koreksi fiskal perusahaan, sehingga
mempengaruhi ke pajak penghasilan perusahaan.
c. Penerimaan/pendapatan
Setiap transaksi pembelian maupun penjualan yang memiliki bukti
pembelian/penjualan akan menghasilkan pendapatan/penerimaan yang
mempengaruhi pajak penghasilan perusahaan. Jika semakin banyak
pendapatan/penerimaan perusahaan, akan menambah pajak penghasilan
perusahaan.

24
Bab IV
Kesimpulan

Kesimpulan: Risiko dapat diidentifikasi pertama kali saat terciptanya strategi


atau perencanaan perusahaan. Maka dalam merencanakan perencanaan lebih baik
pengambil keputusan melihat dahulu risiko apa saja yang dapat terjadi di
kemudian hari dan bila risiko itu tetap akan diambil nantinya lebih baik sudah
mengetahui cara menanggulanginya bila risiko itu datang. Risiko dapat diukur
dengan perhitungan probabilitas atau berdasarkan nilai eksposur. Sehingga risiko
dapat ditangani dengan baik.

Saran: Untuk perusahaan sebaiknya melihat baik-baik risiko yang ada bila
perencanaan ditentukan karena lebih baik menghindari risiko daripada mencari
penanggulangan dari risiko yang ada.

25
Daftar Pustaka

Darmawi, herman, 2002. Manajemen Risiko, Jakarta : Bumi Aksara


Gunadi. (ed) 2010 Panduan Komprehensif Ketentuan Umum Perpajakan, Jakarta:
MUC
Hidayat, Nur 2005a, Ketetapan Pajak Mungkinkah Ditolak ?; Harian Bisnis
Indonesia edisi 03 Oktober 2005
Hidayat, nur 2005b, Menghadapi Pemeriksaan Pajak, Harian Bisnis Indonesia,
edisi 25 April 2005
Hidayat, Nur 2011, Substansi Akuntansi: Prioritas dalam Pemeriksaan Pajak.
Prociding Simposium Nasional Perpajakan 3, Universitas Trunojoyo Madura
Hidayat, Nur, 2013a. Pemeriksaan Pajak; Menghindari dan Menghadapi, Jakarta:
Elex Media Komputindo Gramedia Group
Hidayat, Nur 2013b, Menerapkan Manajemen Risiko dalam mengelola Perpajakn
Perusahaan, Jurnal Akuntansi Keuangan Vol. No. Desember 2013
Hidayat, Nur 2015, Corporate Tax Risk Management; Jakarta, PT. Elex Media
Komputindo - KOMPAS GRAMEDIA
Mardiasmo, 2012. Perpajakan, Yogyakarta ; ANDI
Siti Resmi. Perpajakan Teori & Kasus. (Yogyakarta : Salemba Empat, 2007);
Wirawan B.Ilyas. Pajak Penghasilan, (Jakarta : Lembaga Penerbit UI, 2007);

26