Anda di halaman 1dari 6

JKK, tahun 2014, volume 3 (1), halaman 1- 6 ISSN 2303-1077

PENENTUAN KADAR TIMBAL (II) PADA AIR SUNGAI KAPUAS SECARA


SPEKTROFOTOMETRI ULTRA VIOLET-VISIBLE

Rocky Aldinomera*, Lia Destiarti1, Puji Ardiningsih1


1
Progam Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura, Jl. Prof. Dr. H. Hadari Nawawi,
*email: rockyaldinomera@gmail.com

ABSTRAK

Timbal merupakan salah satu logam yang sangat berbahaya yang mungkin terdapat dalam badan
perairan, salah satunya di Sungai Kapuas. Oleh karena sifat timbal yang berbahaya bagi manusia maka
perlu dilakukan penentuan kadar timbal dengan menggunakan metode analisis yang tepat sehingga
diperoleh hasil yang tepat pula. Menurut SNI 6989-8-2009, penentuan kadar timbal dilakukan dengan
Spektrofotometri Serapan Atom (SSA). Meskipun metode ini sudah tervalidasi, namun ketersediaan
Spektrofotometer Serapan Atom masih terbatas. Dengan demikian, diperlukan metode alternatif lain
untuk pengukuran logam timbal selain Spektrofotometri Serapan Atom. Metode alternatif lain yang dapat
digunakan untuk menentukan kadar timbal adalah spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini dilakukan
untuk memvalidasi metode penentuan Pb dengan spektrofotometri UV-Vis. Validasi metode pengujian
timbal dengan spektrofotometri UV-Vis mempunyai linearitas yang baik dengan koefisien korelasi
sebesar 0,9962, akurasi sebesar 0,15%-26,1%, presisi sebesar 3,03%-18,33%, limit deteksi dan limit
kuantifikasi berturut-turut sebesar 0,46 ppm dan 1,54 ppm. Berdasarkan hasil uji parameter validasi
tersebut, dapat disimpulkan bahwa metode pengujian kadar timbal secara spektrofotometri UV-Vis
memenuhi kriteria yang ditetapkan.

Kata kunci : timbal, validasi metode analisis, spektrofotometri UV-Vis

PENDAHULUAN

Timbal merupakan salah satu logam berat motor yang banyak digunakan sebagai sarana
yang sangat berbahaya dan dapat transportasi masyarakat (Deri, dkk., 2013). Oleh
menyebabkan keracunan pada makhuk hidup karena sifat timbal yang berbahaya bagi
serta tidak dapat terurai oleh proses alam (Deri,
dkk., 2013). Timbal dapat masuk ke dalam manusia maka perlu untuk dilakukan
tubuh manusia melalui pernapasan, makanan, pengukuran kadar timbal yang terdapat pada
dan air yang terkontaminasi oleh logam timbal, perairan Sungai Kapuas. Salah satu metode
serta absorpsi melalui kulit (Supriharyono, yang digunakan untuk menentukan kadar timbal
2000). Secara alamiah timbal dapat berada menurut Standar Nasional Indonesia (SNI)
dalam badan perairan dengan kadar adalah dengan menggunakan Spektrofotometri
0,0020,010 ppm. Timbal ini diperoleh dari Serapan Atom (SSA).
aktivitas manusia dan berasal dari pembakaran Spektrofotometri serapan atom digunakan
bahan bakar motor serta emisi mobil (Mahmoud, untuk penentuan konsentrasi suatu unsur logam
et al., 2010). Kadar maksimum timbal pada yang terkandung dalam larutan dengan
perairan yang dibatasi oleh World Health konsentrasi sangat kecil. Metode SSA
Organization (WHO) adalah kurang dari 0,01 digunakan karena ketelitian yang cukup tinggi,
ppm (Ensafi and Shiraz, 2008). Salah satu cepat dan relatif mudah (Gandjar dan Rohman,
perairan yang mengandung logam timbal ialah 2009). Meskipun metode ini telah tervalidasi,
perairan sungai kapuas. namun ketersediaan instrumennya masih
Sungai Kapuas merupakan sungai di terbatas. Metode lain yang dapat digunakan
Kalimantan Barat yang airnya digunakan untuk untuk mengukur kadar timbal adalah dengan
keperluan sehari-hari seperti mandi, mencuci menggunakan spektrofotometri Ultra Violet-
dan jalur transportasi antar daerah. Peran Visible (UV-Vis). Pengukuran kadar timbal
Sungai Kapuas sebagai jalur transportasi yang dengan spektrofotometri UV-Vis dilakukan
menghubungkan berbagai daerah di Kalimantan dengan menggunakan reagen pengompleks
Barat dapat menyebabkan pencemaran timbal Alizarin Red S (ARS) sehingga dihasilkan
pada air sungai. Sumber timbal tersebut dapat senyawa kompleks timbal yang dapat
berasal dari pembakaran bahan bakar kapal mengabsorpsi radiasi pada panjang gelombang

1
JKK, tahun 2014, volume 3 (1), halaman 1- 6 ISSN 2303-1077

UV-Vis (Alsamarrai, 2011; Rajni and Usha, menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada
2012). panjang gelombang 400-800 nm.
Pada penelitian ini akan dilakukan
penentuan pH optimum reaksi Pb(II) dengan Penentuan Kadar Timbal + Alizarin Red S
ARS, validasi metode spektrofotometri UV-Vis menggunakan Spektrofotometri UV-Vis
untuk pengukuran logam timbal dan penentuan (Alsamarrai, 2011)
kadar timbal (II) pada air Sungai Kapuas. Sejumlah volume tertentu larutan standar
Proses validasi dilakukan dengan mengukur Pb(II) 10 ppm dimasukkan kedalam labu ukur 50
beberapa parameter yaitu presisi, akurasi, ml dengan variasi konsentrasi 1, 2, 3, 4 dan 5
linearitas, limit deteksi dan kuantifikasi. ppm. Masing-masing larutan dengan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan konsentrasi tersebut diambil sebanyak 10 mL
informasi mengenai kemampuan metode dan ditambahkan ARS sebanyak 1 mL serta
spektrofotometri UV-Vis dalam pengukuran NaOH sebanyak 0,13 mL. Lalu ditambahkan
kadar logam timbal pada sampel air Sungai buffer sesuai dengan pH optimum yang
Kapuas. diperoleh. Selanjutnya dilakukan penentuan
absorbansi dari larutan standar menggunakan
METODOLOGI PENELITIAN panjang gelombang maksimum, masing-masing
pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali.
Alat dan Bahan Pengukuran yang diperoleh dari larutan standar
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian tersebut kemudian dibuat kurva kalibrasi.
ini diantaranya adalah peralatan gelas standar,
botol sampel, corong plastik, kertas saring, labu Validasi Metode Spektrofotometri UV-Vis
semprot, mikropipet, neraca analitik dengan Uji Presisi (Sukorini dkk, 2010)
ketelitian 0,0001 g, dan Spektrofotometer UV- Uji presisi dilakukan dengan menggunakan
Vis Genesys 6 . konsentrasi dari larutan standar timbal.
Bahan-bahan yang digunakan adalah Absorbansi dari standar tersebut digunakan
akuades, Alizarin RED S (C14H8O4), asam borat untuk mencari standar deviasinya. Uji presisi
(H3BO3), asam nitrat (HNO3), asam sitrat, ditentukan dengan menghitung nilai koefisien
natrium karbonat (NaHCO3), natrium hidrogen variasi (KV).
posfat (Na2HPO4), natrium tetra borat (Na2BO7),
gas asetilen (C2H2), natrium hidroksida (NaOH), KV % = x 100%
timbal nitrat Pb(NO3)2, indikator pH universal
dan Sampel air Sungai Kapuas.
Keterangan :
SD = standar deviasi
Pengambilan Sampel Air Sungai Kapuas
KV = koefisien variasi
Sampel berasal dari air sungai kapuas yang
x = kadar analit
diambil di beberapa titik menggunakan teknik
sampling cairan. Titik pengambilan sampel pada
Uji Akurasi (Sukorini dkk, 2010)
badan air yang harus representatif (hulu, tengah
Uji akurasi dapat dinilai dari hasil
dan hilir) dengan kedalaman 4 meter. Cara yang
pemeriksaan bahan kontrol dan dihitung
dilakukan ialah dengan menyelam pada
sebagai nilai biasnya (d%). Keakuratan metode
kedalaman 4 meter dan botol dibenamkan pada
dapat diperoleh .
kedalaman yang akan diperiksa. Pengambilan
pertama digunakan untuk membersihkan botol
sampling untuk kemudian dibuang kembali lalu Akurasi d(%) =
diulang untuk beberapa kali. Pengambilan
kedua merupakan sampel air yang akan Keterangan :
diperiksa diisikan kedalam botol sampel untuk x = konsentrasi standar
kemudian ditutup. = konsentrasi standar yang terukur

Penentuan pH Optimum (Alsamarrai, 2011) Uji Linearitas


Larutan standar Pb(II) dengan konsentrasi 2 Preparasi deret kalibrasi dibuat
ppm divariasikan pada pH 4-12 menggunakan menggunakan blanko matriks yang didalamnya
NaOH 0,1 M, lalu ditambahkan 1 mL ARS 0,01 ditambahkan secara kuantitatif analit standar
M pada masing-masing larutan dan 1 mL larutan yang telah diketahui konsentrasinya.
buffer yang sesuai dengan pH. Larutan standar Konsentrasi deret kalibrasi yang dibuat meliputi
yang telah dicampur dengan ARS dibiarkan lima konsentrasi yang melingkupi 1, 2, 3, 4 dan
selama 30 menit, lalu dilakukan pengukuran 5 ppm. Analisis dilakukan pada masing-masing

2
JKK, tahun 2014, volume 3 (1), halaman 1- 6 ISSN 2303-1077

preparat menggunakan metode yang akan panjang gelombang maksimum yang diperoleh
divalidasi dengan jumlah pengulangan disajikan pada Gambar 2.
sebanyak 3 kali. Korelasi antara respon analitik
rerata yang didapat dengan konsentrasi teoritis
SO3Na
analit dalam preparat dapat dihitung. O

Limit Deteksi dan Limit Kuantifikasi


Penentuan limit deteksi (LD) dan limit
kuantifikasi (LK) dapat dilakukan dengan OH
menghitung kadar yang didapat dari respons O OH O
O
blanko matriks tersebut dari deret standar.
Pb
Selanjutnya dihitung rerata dan standar deviasi OH

O O + 2H+
dari kadar-kadar tersebut. 2 + Pb2+

OH
Limit Deteksi y = yb + 3 sb
Limit Kuantifikasi y = yb + 10 sb O SO3Na

Keterangan :
LD = Limit deteksi O SO3Na
LK = Limit Kuantifikasi Gambar 1. Reaksi Pb(II) dan Alizarin RED S
sb = Simpangan Baku (Sumber: Alsamarrai, 2011)
yb = intersep (a)

Pengukuran Kadar Pb (II) Sampel Air Sungai


Kapuas Secara Spektrofotometer UV-Vis
(Alsamarrai, 2011)
Analisa sampel air Sungai Kapuas
menggunakan spektrofotometer UV-Vis
dilakukan dengan cara mengambil sebanyak 10
mL masing-masing sampel yang ditambahkan 1
mL reagen ARS, ditambahkan NaOH sebanyak
0,13 mL dan 1 mL buffer. Larutan didiamkan
selama 30 menit dan diukur absorbansi pada
panjang gelombang 563 nm. Masing-masing
sampel diukur sebanyak 3 kali.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Gambar 2. Grafik pH optimum
Penentuan pH Optimum
Penentuan pH optimum ini dilakukan Grafik di atas menyatakan bahwa pH
dengan tujuan mendapatkan pH yang paling optimum yang diperoleh ialah pH 8 dengan
stabil untuk terbentuknya kompleks Pb(II) dan absorbansi sebesar 0,072 dan panjang
ARS. Alizarin Red S digunakan sebagai reagen gelombang maksimum yang diperoleh ialah
untuk penentuan dari sejumlah logam (Sharda, pada 563 nm. Pada pH 8 ini terbentuk kompleks
et al., 2010; Rajni and Usha, 2012). Sharda, et stabil antara Pb dengan ARS, dimana kompleks
al. (2010) menyatakan bahwa ARS digunakan yang stabil dikarenakan terjadinya asosiasi ion
untuk mengikat ion logam dibawah kondisi yang dalam jumlah banyak sehingga dapat
tepat dan struktur ARS bisa membentuk cincin menyebabkan tereksitasinya logam dengan
kompleks dengan ion logam. Reaksi sempurna (Alfian, 2007). Panjang gelombang
pembentukan kompleks Pb-ARS ditunjukkan maksimum yang diperoleh pada pH tersebut
pada Gambar 1. digunakan untuk mendapatkan hasil analisa
Senyawa kompleks Pb-ARS ini dibuat yang peka dan teliti.
dengan mereaksikan larutan Pb2+ dengan
larutan ARS pada pH 4-12. Nilai penyerapan Pembuatan Kurva Kalibrasi menggunakan
maksimum tergantung dari pH yang digunakan Spektrofotometri UV-Vis
(Sharda, et al., 2010). Masing-masing larutan Pembuatan kurva kalibrasi dilakukan
dengan pH yang berbeda diukur pada rentang dengan menggunakan variasi konsentrasi
panjang gelombang 400-800 nm. Pada masing- larutan standar Pb. Konsentrasi yang digunakan
masing pH diperoleh panjang gelombang ialah 1, 2, 3, 4 dan 5 ppm, dimana masing-
maksimum yang berbeda. Nilai pH optimum dan masing larutan standar ditambahkan reagen

3
JKK, tahun 2014, volume 3 (1), halaman 1- 6 ISSN 2303-1077

pengompleks ARS sebanyak 1 mL. Pada pengukuran larutan standar Pb-ARS dengan
pembentukan kompleks dengan ARS terbentuk variasi konsentrasi 1, 2, 3, 4 dan 5 ppm. Validasi
larutan kompleks berwarna kuning. Hal ini metode spektrofotometri UV-Vis seperti yang
dikarenakan ARS berubah warna tergantung ditampilkan pada Tabel 1.
pada pH larutan dan memberikan warna kelat
dengan ion logam dalam larutan (Sharda, et al., Tabel 1. Parameter Analisis Metode Penentuan
2010; Anonim, 2013). Pb(II) dengan Spektrofotometri UV-Vis
Selanjutnya ditambahkan NaOH 0,1 M Parameter Nilai
sebanyak 0,13 mL menggunakan mikropipet Akurasi 0,15%-26,1%
untuk mengkondisikan pH menjadi 8. Presisi 3,03%-18,33%
Penambahan NaOH 0,1 M menyebabkan warna Linearitas 1-5 ppm
larutan berubah menjadi ungu. Warna ungu ini Limit Deteksi 0,46 ppm
merupakan warna komplementer (warna yang Limit Kuantisasi 1,54 ppm
terlihat) sehingga diukur pada panjang Persamaan Regresi y = 0,0062 x + 0,0013
gelombang 563 nm. Setelah diperoleh pH Koefisien Korelasi 0,9962
tertentu dilanjutkan dengan menambahkan 1 mL Metode analisis spektrofotometri UV-Vis
buffer sesuai pH yang diperoleh. Buffer menggunakan variasi konsentrasi memperoleh
ditambahkan agar kondisi pH tetap stabil. akurasi sebesar 0,15%-26,1%. Hasil
Larutan tersebut kemudian didiamkan selama pengukuran menunjukkan nilai akurasi pada
30 menit agar terjadinya kestabilan kompleks konsentrasi 2, 3, 4 dan 5 ppm memenuhi kriteria
Pb-ARS. batas penerimaan yaitu 20%, hanya pada
Menurut Alsamarrai (2011), setelah larutan konsentrasi 1 ppm nilai akurasi melebihi dari
dicampurkan dengan reaktan maka kompleks kriteria batas penerimaan. Hal ini diindikasikan
akan terlihat secara langsung dan intensitas adanya galat sistematis yang mempengaruhi
warna akan meningkat hingga waktu 30 menit tingat akurasi pengukuran pada konsentrasi 1
dan akan konstan sampai 90 menit. Oleh karena ppm. Nilai akurasi dapat diperoleh dengan
itu, waktu 30 menit merupakan waktu optimum mencari nilai biasnya (e%). Semakin kecil bias,
terjadinya kompleks yang stabil. Pengukuran semakin tinggi akurasi pemeriksaan (Sukorini,
dilakukan dengan membuat larutan uji dari awal dkk., 2010). Menurut Purwanto, dkk, (2007)
prosedur sehingga dapat memvalidasi metode hasil uji yang absah adalah hasil uji dengan
analisis yang digunakan. Kurva kalibrasi larutan akurasi dan presisi yang baik.
standar Pb yang diperoleh disajikan pada Nilai presisi pengukuran sampel pada
Gambar 3. metode analisis dilihat dari koefisien variasi
yang diperoleh yaitu sebesar 3,03%-18,33%,
dimana nilai presisi pada konsentrasi 2,3,4 dan
5 memenuhi kriteria batas penerimaan KV
Horwitz yaitu 16%. Nilai presisi pada
konsentrasi 1 ppm saja yang melebihi dari
kriteria yang ditetapkan dengan batas
penerimaan. Semakin kecil nilai KV (%) semakin
teliti metode tersebut dan sebaliknya (Sukorini
dkk, 2010).
Linearitas suatu metode analisis diperoleh
dengan membuat lima konsentrasi yang
berbeda dari standar timbal sehingga dapat
menggambarkan hubungan antara konsentrasi
Gambar 3. Kurva Kalibrasi Standar Pb terhadap absorbansinya. Meningkatnya
konsentrasi larutan standar akan menghasilkan
Validasi Metode Penentuan Pb(II) dengan absorbansi yang semakin besar pula (Diana,
Spektrofotometri UV-Vis 2012).
Suatu metode analisis harus divalidasi agar Variasi konsentrasi yang digunakan ialah 1,
dapat mengevaluasi kerja suatu metode 2, 3, 4 dan 5 ppm, dimana masing-masing
analisis, menjamin prosedur analisis, menjamin konsentrasi dilakukan pengukuran sebanyak 3
keakuratan dan keterulangan hasil analisis kali. Pengukuran yang dilakukan memperoleh
(Wulandari, 2007). Validasi metode analisis regresi linear kurva yaitu y = 0,0062x + 0,0013
spektrofotometer UV-Vis berdasarkan dengan nilai r sebesar 0,9962. Metode analisis
parameter-parameter uji yaitu akurasi, presisi, tersebut memenuhi syarat linearitas yang
linearitas, limit deteksi dan kuantisasi. Nilai diterima karena lebih besar dari 0,9950 (AOAC,
parameter tersebut diperoleh dari hasil

4
JKK, tahun 2014, volume 3 (1), halaman 1- 6 ISSN 2303-1077

2002). Hal ini menunjukkan bahwa metode penerimaan. Namun, pada pengaplikasiannya
tersebut menghasilkan kelinearan yang baik. pada sampel air sungai kapuas kemampuan
Limit deteksi (LD) yang diperoleh dari metode ini masih perlu dilakukan perbandingan
metode ini ialah sebesar 0,463 ppm, nilai dengan metode yang sudah tervalidasi (SSA).
tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi
terendah yang dapat dideteksi dengan metode SIMPULAN
ini. Jika nilai konsentrasi analit berada diatas
limit deteksi suatu metode maka keberadaan Berdasarkan penelitian maka dapat diperoleh
analit dapat terdeteksi. Limit kuantifikasi (LK) kesimpulan sebagai berikut :
yang diperoleh sebesar 1,54 ppm. Nilai tersebut 1. Nilai pH optimum yang diperoleh pada
menjelaskan bahwa konsentrasi analit terendah pengukuran Pb dengan spektrofotometri UV-
dalam sampel yang dapat diukur secara tepat Vis adalah pada pH 8.
dan teliti. 2. Validasi metode analisis untuk pengukuran
Pb dengan parameter akurasi sebesar
Penentuan Kadar Pb dalam Air Sungai 0,15%-26,1%, presisi sebesar 3,03%-
Kapuas menggunakan Spektrofotometri UV- 18,33%, lineritas dengan nilai r= 0,9962, limit
Vis deteksi sebesar 0,46 ppm dan limit
Pengukuran konsentrasi Pb pada air Sungai kuantifikasi 1,54 ppm.
Kapuas dilakukan menggunakan 3. Kadar logam Pb dalam air Sungai Kapuas
spektrofotometri UV-Vis menghasilkan nilai dengan spektrofotometri UV-Vis yaitu
konsentrasi yang disajikan pada Tabel 2. berkisar 2,16 ppm-4,79 ppm.

Tabel 2. Konsentrasi Pb pada air Sungai DAFTAR PUSTAKA


Kapuas dengan spektrofotometer UV-Vis
Csampel Analisis ke- C (ppm) Alfian, 2007, Pengaruh pH dan Penambahan
Sampel
1 2 3 Rata-rata Asam terhadap Penentuan Kadar Unsur
1 2,42 2,27 1,81 2,16 Krom dengan menggunakan Metode
2 4,84 4,68 4,84 4,79 Spektrofotometri Serapan Atom. J.Sains
3 4,23 4,23 4,23 4,23 Kimia, Vol. 11 (1): 37-41.
4 3,93 3,93 3,93 3,93 Alsamarrai, K.F., 2011, Spectrophotometric
5 4,23 3,93 4,23 4,13 Assay of Lead in Human Hair Samples
6 3,32 3,47 3,78 3,53 by Using Alizarin RED (S) in Samarra
7 4,23 4,23 4,38 4,28 Area, Samarra. J. of University of Anbar
8 3,78 3,78 3,78 3,78 for Pure Science, Vol 5 (3).
9 3,47 3,47 3,47 3,47 Anonim, 2013, Alizarin, URL:
http://en.wikipedia.org/wiki/Alizarin. the
Data di atas menunjukkan bahwa hasil free encyclopedia. html. diakses tanggal
pengukuran kadar Pb pada beberapa titik 6 Oktober 2013.
sampling air Sungai Kapuas mengandung Association of Official Analytical Chemist
konsentrasi sebesar 2,16-4,79 ppm. Meskipun (AOAC)., 2002, International Methods
demikian, data ini masih perlu dibandingkan Committee Guidelines for Validation of
dengan metode yang sudah tervalidasi atau Qualitative and Quantitative Food
penggunaan bahan acuan. Microbiological Official Methods of
Salah satu indikasi yang mempengaruhi Analysis.
pengukuran konsentrasi Pb ialah dengan Chen, Y., Magen, H and Clapp, C.E., 2001,
adanya proses pengompleksan sehingga Plant Growth Stimulation by Humic
kondisi analit akan tergantung terhadap Subtance and Their Complexes with
kestabilan kompleks. Analit yang dianalisis Iron, Paper Presented to the
dalam air sungai diindikasikan terikat kuat oleh International Fertilizer Society, Lisbon.
matrik-matrik lain yang terdapat pada sampel. Deri., Emiyarti dan Afu L.O.A., 2013, Kadar
Ikatan yang diperkirakan terbentuk ialah ikatan Logam Berat Timbal (Pb) pada Akar
kompleks koordinasi, pembentukan senyawa Mangrove Avicennia marina di Perairan
khelat (Chen et al., 2001). Ikatan timbal dengan Teluk Kendari. J.Mina Laut Indonesia,
senyawa lainnya akan berpengaruh dalam Vol.1(1): 38-48.
proses penetapan analit. Diana, 2012, Determinasi Kadar Logam Timbal
Berdasarkan hasil validasi metode analisis (Pb) dalam Makanan Kaleng
yang diperoleh menunjukkan bahwa metode menggunakan Destruksi Basah dan
spektrofotometri UV-Vis memenuhi kriteria batas Destruksi Kering. J. Alchemy, Vol. 2 (1):
12-25

5
JKK, tahun 2014, volume 3 (1), halaman 1- 6 ISSN 2303-1077

Ensafi, A.A and Shiraz, A.Z., 2008. On-line Analysis of Binary Mixtures of Vanadium
Separation and Preconcentration of Lead and Lead in Water Samples and Alloys.
(II) by Solid Phase Extraction using J.Chem.Sci, Vol. 2 (9): 22-29.
Activated Carbon Loaded with Xylanol Sharda, S.S., Laljee, Y., Preyas A., and
Orange and Its Determination by Flame Mahesh, C.C., 2010, Simultaneous
Atomic Absorption Spectrofotometry. Determination of Stability Constant and
J.Hazard Mater, 150 : 554559. Molar Absorptivity Coefficient of the
Gandjar, I.G dan Rohman, A., 2009, Kimia Charge-Transfer Complexes of Metal
Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Alizarin Red S. J.Der Pharma Chemica,
Yogyakarta. Vol. 2 (3): 114-121.
Mahmoud, M.E., Osman, M.M., Hafez, O.F., Sukorini, U., Nugroho, D.K., Rizki, M dan
Hegazi, A.H and Elmelegy, E., 2010, Hendrawan, P.J.B, 2010, Pemantapan
Removal and Preconcentration of Lead Mutu Internal Laboratorium Klinik,
(II) and Other Heavy Metals from Water Kanalmedika dan Alfamedia,
by Alumina Adsorbents Developed by Yogyakarta.
Surface adsorbed -Dithizone. Supriharyono, M.S., 2000. Pelestarian dan
J.Desalination, 251: 123130. Pengelolaan Sumber Daya Alam di
Purwanto, A., Supriyanto,C., Samin, P., 2007, Wilayah Pesisir Tropis, Gramedia,
Validasi Pengujian Cr, Cu dan Pb Jakarta.
dengan Metode Spektrometri Serapan Wulandari, N., 2007, Validasi Metode
Atom, Pustek Akselerator dan Proses Spektrofotometri Derivatif Ultraviolet
Bahan, BATAN, Yogyakarta. Prosiding untuk Penentuan Reserpin dalam Tablet
PPI PDIPTN. Obat, Departemen Kimia FMIPA IPB,
Rajni, R and Usha,G., 2012, Mean Centering of Bogor. (Skripsi).
Ratio Spectra as A New
Spectrophotometric Method for the