Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Pembangunan dibidang yang berhubungan dengan tempat tinggal

beserta sarana dan prasarananya memang perlu mendapatkan prioritas

mengingat tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia.

Pembangunan perumahan dan kawasan permukiman merupakan indikator

penting dalam menyangga peradaban manusia. Ini karena kondisi

masyarakat dalam bermukim dapat menjadi tolak ukur kesejahteraan

masyarakat. Pemerintah juga menjadikan pembangunan perumahan dan

kawasan permukiman sebagai program nasional untuk mewujudkan rumah

layak huni bagi setiap keluarga di Indonesia. Hal itu dikarenakan

pemenuhan hak dasar atas rumah merupakan amanat Undang-Undang

Republik Dasar 1945 Pasal 28 H dan Undang-Undang Republik Indonesia

No.1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman bahwa

setiap penduduk Indonesia berhak untuk hidup sejahtera lahir dan batin,

bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Selain itu, perumahan merupakan kebutuhan dasar manusia dan mempunyai

peran strategis dalam pembentukan watak serta kepribadian bangsa.

Realisasi permukiman berwawasan lingkungan adalah bentuk mutu

pelayanan dari pemerintah kota kepada masyarakatnya. Namun untuk

mencapai hal tersebut, bertumpu pada peran pemerintah kota dan partisipasi

1
2

masyarakat luas dan perencanaan permukiman penduduk harus

bertumpu pada pendekatan - pendekatan ekologis guna menjamin

keberkelanjutannya.

Sarana dan prasarana pada suatu perumahan adalah merupakan

infrastruktur yang harus tersedia dan harus sesuai standar, terutama jalan,

drainase dan tempat pembuangan sampah. Hal ini apabila diabaikan maka

akan berdampak buruk bagi lingkungan perumahan tersebut. Namun dalam

kenyataannya masih banyak perumahan yang tidak atau kurang dapat

memenuhi kebutuhan akan sarana dan prasana tersebut, dan yang sering

dijumpai adalah jalan yang rusak, drainase dengan dimensi yang kecil dan

tersumbat, tempat pembuangan sampah tidak ada dan lain sebagainya.

Hal ini terjadi pula pada kawasan perumahan Star Borneo Recidence

8, dimana drainase/saluran tersumbat dan dimensinya sangat kecil yaitu

lebar 0,30 m dan tinggi 0,20 m, sehingga apabila hujan air akan tergenang

bahkan sampai masuk kedalam rumah.

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka penulis

mengidentifikasi permasalahan pada kondisi kawasan lingkungan

perumahan Star Borneo Recidence 8 yaitu dimensi saluran/drainase

sehingga membuat judul Penataan Drainase Pada Perumahan Star Borneo

Recidence 8 Kelurahan Parit Gadoh ,Kecamatan Sei.Kakap, Kabupaten

Kubu Raya.
3

1.2 RUMUSAN MASALAH

Dengan berpedoman pada latar belakang tersebut diatas, permasalahan

dalam kajian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimana Merencanakan dimensi drainase pada Perumahan Star

Borneo Recidence 8 ?

2. Belum tersedianya air besih dari PDAM

3. Dimensi saluran yang kecil dan tertutup rumput serta pendangkalan

oleh sedimen

1.3 PEMBATASAN MASALAH

Sesuai dengan kesepakatn bersama, maka dalam penulisan Tugas Akhir ,

penulis membatasi masalah pada :

Bagaimana memperbaiki atau membangun kembali Drainase atau saluran

dengan dimensi yang sesuai, sehingga air tidak akan menggenangi kawasan

tersebut.

1.4 TUJUAN PENULISAN

Mendapatkan yang terbaik bagi penghuni perumahan tersebut guna

menjalankan aktifitas sehari-hari. Bagi Mahasiwa, untuk menyelesaikan

tugas akhir .

1. Tujuan Umum

Adapun tujuan umum untuk penyusunan Tugas Akhir ini adalah

sebagai salah satu persyaratan penyelesaian Program Pendidikan


4

Diploma IV pada Jurusan Teknik Perencanaan Perumahan dan

Permukiman di Politeknik Negeri Pontianak, untuk menerapkan dan

mengembangkan ilmu yang telah diperoleh dari perkuliahan serta

diharapkan dapat mengaplikasikannya dilapangan.

2. Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus penulisan Tugas Akhir ini adalah dapat:

Merencanakan Drainase dengan Dimensi yang benar atau sesuai

Standar.

1.5 MANFAAT

Dari hasil Tugas Akhir ini diharapkan dapat menambah wawasan penulis

serta dapat digunakan sebagai masukan bagi masyarakat di Perumahan Star

Borneo Recidence 8 untuk meperbaiki saluran yang ada pada perumahan

tersebut.

1.6 GAMBARAN UMUM

Lokasi Perumahan Star Borneo Risidence 8 terletak Jln. Raya Sei Kakap

tepatnya kelurahan Parit Gadoh, kecamatan Sei Kakap, Kabupaten Kubu

Raya. Perumahan Star Borneo Recidence 8 terdiri dari 15 Blok dibagi

menjadi :

A dan B dengan Type 45, sedangkan C sampai dengan O type 36

Blok A terdiri dari 23 unit , Blok B terdiri dari 23 unit


5

Blok C terdiri 35 Unit,Blok D terdiri 10 unit, Blok E terdiri 20 unit,Blok F

terdiri 20 unit,Blok G terdiri 20 unit,Blok H terdiri 10 unit,Blok I terdiri 4

unit,Blok J terdiri 8 unit,Blok K terdiri 4 unit, Blok L terdiri 12 unit, Blok M

terdiri 24 unit, Blok N terdiri 24 unit, Blok O terdiri 24 unit.

Lokasi
Perumahan
Star Borneo
Recidence 8

Sumber: Google Map, 2016

Gambar 1.1 Lokasi Pengamatan


6

DENAH LOKASI
SeD.Sentarumial

Jln. Raya PS. Parit


Sei.Kakap Gadoh

Jln.masuk
Komplek
+- 200 m

Ps.Parit

Gadoh

Sumber: Olahan Pribadi, 2016

Gambar 1.2 Sket Lokasi Perumahan Star Borneo Recidence 8


7

1.7 METODELOGI

Metode yang digunakan untuk penyusunan Tugas Akhir ini dilakukan

dengan beberapa pendekatan perencanaan yang dipakai yaitu:

1. Study Literatur

Study Literatur merupakan metode pengumpulan data yang berkaitan

dengan objek yang dibahas, serta memperbanyak teori teori yang dapat

menunjang dalam penulisan Tugas Akhir ini, terutama untuk melakukan

perencanaan drainase.

2. Observasi

Observasi merupakan metode pendekatan langsung ke lapangan untuk

mengetahui sistim drainase yang tersumbat (pendangkalan oleh sedimen

) dan di tumbuhi rumput agar dapat dijadikan data untuk penyusunan

Tugas Akhir ini. Tahapan - tahapan dalam penyusunan Tugas Akhir ini

untuk lebih jelas dapat dilihat pada diagram alir.

1.8 SISTEMATIKA PENULISAN

Dalam menyusunan Tugas Akhir ini penulis menggunakan sistematika

penyusunan dalam beberapa bab, yang dapat diuraikan sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini berisikan latar belakang masalah, permasalahan,

pembatasan masalah, tujuan, metodelogi, dan sistematika

penulisan.
8

BAB II: DASAR TEORI

Dalam bab ini menguraikan teori yang berhubungan dengan

judul dan permasalahan yang ada dan bersumber dari buku -

buku referensi. Serta masalah di lapangan( lokasi Perumahan ).

BAB III: DATA DAN ANALISA

Bab ini berisikan Data perencanaan penampang yang akan di

gunakan sesuai dengan lahan dan analisa adalah suatu data yang

diperluas dalam suatu proses perhitungan, dalam hal ini adalah

perhitungan perencanaan dimensi saluran

BAB IV: PEMBAHASAN

Bab ini berisikan dari hasil pengamatan dilokasi Perumahan

Star Borneo Recidence 8 , maka direncanakan dimensi drainase

yang sesuai dengan lokasi tersebut, serta diharapkan drainase

yang direncanakan akan berfungsi dengan baik, sehingga

perumahan tersebut tidak lagi tergenang air.

BAB V : PENUTUP

Bab ini bertuliskan dari hasi analisa dan perhitungan, maka pada

Perumahan Star Borneo Recidence 8 dapat dibuat saluran

dengan type persegi panjang ( type U ).

LAMPIRAN : Yang berisikan gambar dan foto serta data - data yang

mendukung dalam penulisan Tugas Akhir ini.


9

DIAGRAM ALIR PERENCANAAN DRAINASE

Mulai

Survey
Identifikasi Permasalahan pada Perumahan Star Borneo
Recidence 8 dan lingkungan sekitar lokasi perumahan.

Data Primer Data Sekunder


Hasil survey/pengamatan Data tata guna lahan
Data jumlah penduduk Data luas lahan
Literatur-literatur

Pengolahan Data dan Pembahasan

Output
Pembuatan Drainase/Saluran type persegi panjang / type U

Selesai

Sumber: Dokumen Pribadi, 2016

Gambar : 1.8 Digram Alir


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 PENGERTIAN DRAINASE / SALURAN.

Menurut Dr. Ir. Suripin, M.Eng. (2004;7) Drainase mempunyai arti

mengalirkan, menguras dan membuang.

Dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor

12 /PRT/M/2014 Tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan.

Secara umum, drainase didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang

berfungsi untuk mengurangi dan / atau membuang kelebihan air dari suatu

kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal.

Drainase juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah

dalam kaitannya dengan sanitasi.

Jaringan drainase adalah prasarana yang berfungsi mengalirkan air

permukaan kebadan penerima air dan atau kebangunan resapan buatan, yang

harus disediakan pada lingkungan perumahan diperkotaan.

Sebagai salah satu sistem dalam perencanaan perkotaan, maka sistem

drainase yang ada dikenal dengan istilah sistem drainase perkotaan.

Drainase perkotaan yaitu ilmu drainase yang mengkhususkan pengkajian

pada kawasan perkotaan yang erat kaitannya dengan kondisi lingkungan

sosial-budaya yang ada di kawasan kota. (H.A.Halim Hasmar. 2002:1)

Drainase perkotaan merupakan sistem pengeringan dan pengaliran air

dari wilayah perkotaan yang meliputi :

15
16

1. Permukiman.

2. Kawasan Industri dan Perdagangan.

3. Kampus dan sekolah.

4. Rumah sakit dan fasilitas umum.

5. Lapangan olah raga

6. Lapangan parkir

7. Instalasi militer, listrik dan telekomunikasi

8. Pelabuhan udara.

Tabel 2.1 Bagian Dari Jaringan Drainase

Sarana Prasarana

Sumber air dipermukaan tanah


Badan penerima air
(laut,sungai,danau)

Sumber air di bawah permukaan

tanah (air tanah akifer)

Bangunan pelengkap Gorong - gorong

Pertemuan saluran

Bangunan terjunan

Jembatan

Street inlet

Pompa

Pintu air

Sumber : SNI 03-1733-2004 Tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan


Diperkotaan.
17

2.2 PEMAHAMAN UMUM DRAINASE

Drainase yang berasal dari kata to drain yang berarti mengeringkan

atau mengalirkan air , merupakan suatu sistem pembuangan air bersih dan

air limbah dari daerah pemukiman, industri, pertanian, badan jalan dan

permukaan perkerasan lainnya, serta berupa penyaluran kelebihan air pada

umumnya, baik berupa air hujan, air limbah maupun air kotor lainnya yang

keluar dari kawasan yang bersangkutan baik di atas maupun di bawah

permukaan tanah ke badan air atau ke bangunan resapan buatan.

Pemahaman secara umum mengenai drainase perkotaan adalah suatu ilmu

dari drainase yang mengkhususkan pengkajian pada kawasan perkotaan,

yaitu merupakan suatu sistem pengeringan dan pengaliran air dari wilayah

perkotaan yang meliputi pemukiman, kawasan industri dan perdagangan,

sekolah, rumah sakit, lapangan olahraga, lapangan parkir, instalasi militer,

instalasi listrik dan telekomunikasi, pelabuhan udara, pelabuhan laut, serta

tempat-tempat lainnya yang merupakan bagian dari sarana kota yang

berfungsi mengendalikan kelebihan air permukaan, sehingga menimbulkan

dampak negatif dan dapat memberikan manfaat bagi kegiatan kehidupan

manusia.

Untuk mendapatkan pemahaman tentang drainase secara umum, maka

kita perlu mengetahui latar belakang diperlukannya suatu drainase, tujuan

dan manfaat dari pembuatan drainase tersebut, jenis drainase yang umum

digunakan, sejarah perkembangan, prinsip-prinsip sistem drainase dan

kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah berhubungan dengan


18

pencapaian lingkungan yang baik, asri dan nyaman bagi masyarakat.

Siklus keberadaan air di suatu lokasi dimana manusia bermukim, pada masa

tertentu akan mengalami keadaan berlebih, sehingga dapat mengganggu

kehidupan manusia. Selain itu semakin kompleksnya kegiatan manusia

dapat menghasilkan limbah berupa air buangan yang dapat mengganggu

kelangsungan hidupnya, dan dengan adanya keinginan untuk meningkatkan

kenyamanan dan kesejahteraan hidup maka manusia mulai berusaha untuk

mengatur lingkungannya dengan cara melindungi daerah pemukimannya

dari air berlebih dan air buangan.

Didalam daerah yang belum berkembang/pedesaan, drainase terjadi

secara alamiah sebagai bagian dari siklus hidrologi. Drainase alami ini

berlangsung tidak secara statis melainkan terus berubah secara konstan

menurut keadaan fisik lingkungan sekitar. Seiring dengan berkembangnya

kawasan perkotaan yang ditandai dengan banyak didirikannya bangunan-

bangunan yang dapat menunjang kehidupan dan kenyamanan masyarakat

kota, maka sejalan dengan itu diperlukan pula suatu sistem pengeringan dan

pengaliran air yang baik untuk menjaga kenyamanan masyarakat kota.

Sehingga drainase perkotaan harus saling padu dengan sampah, sanitasi dan

pengendalian banjir perkotaan.

Drainase perkotaan bertujuan untuk mengalirkan air lebih dari suatu

kawasan yang berasal dari air hujan maupun air buangan, agar tidak terjadi

genangan yang berlebihan pada suatu kawasan tertentu. Karena suatu kota

terbagi-bagi menjadi beberapa kawasan, maka drainase di masing-masing


19

kawasan merupakan komponen yang saling terkait dalam suatu jaringan

drainase perkotaan dan membentuk satu sistem drainase perkotaan.

Dengan adanya suatu sistem drainase di perkotaan maka akan diperoleh

banyak manfaat pada kawasan perkotaan yang bersangkutan, yaitu akan

semakin meningkatnya kesehatan, kenyamanan dan keasrian daerah

pemukiman khususnya dan daerah perkotaan pada umumnya, dan dengan

tidak adanya genangan air, banjir dan pembuangan limbah yang tidak

teratur, maka kualitas hidup penduduk di wilayah bersangkutan akan

menjadi lebih baik sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan

ketentraman seluruh masyarakat.

2.3 JENIS JANIS DRAINASE / SALURAN

2.3.1 Menurut Sejarah Terbentuknya.

1. Drainase alamiah (natural drainage)

yaitu sistem drainase yang terbentuk secara alami dan tidak ada unsur

campur tangan manusia.

2. Drainase buatan.

yaitu sistem drainase yang dibentuk berdasarkan analisis ilmu drainase,

untuk menentukan debit akibat hujan, dan dimensi saluran.

2.3.2 Menurut Letak Saluran


1. Drainase permukaan tanah (Surface Drainage)

yaitu saluran drainase yang berada di atas permukaan tanah yang

berfungsi mengalirkan air limpasan permukaan/ analisa open channel

flow.
20

2. Drainase bawah tanah (Sub Surface Drainage)

yaitu saluran drainase yang bertujuan mengalirkan air limpasan

permukaan melalui media di bawah permukaan tanah (pipa-pipa),

dikarenakan alasan-alasan tertentu. Alasan tersebut antara lain tuntutan

artistik, tuntutan fungsi permukaan tanah yang tidak membolehkan

adanya saluran di permukaan tanah seperti lapangan olah raga, lapangan

terbang, taman, dan lain-lain.

2.3.3 Menurut Konstruksi

1. Saluran terbuka, yaitu sistem saluran yang biasanya direncanakan hanya

untuk menampung dan mengalirkan air hujan (sistem terpisah), namun

kebanyakan sistem saluran ini berfungsi sebagai saluran campuran. Pada

pinggiran kota, saluran terbuka ini biasanya tidak diberi lining (lapisan

pelindung). Akan tetapi saluran terbuka di dalam kota harus diberi lining

dengan beton, pasangan batu (masonry) ataupun dengan pasangan bata.

2. Saluran tertutup, yaitu saluran untuk air kotor yang mengganggu

kesehatan lingkungan. Siste ini cukup bagus digunakan di daerah

perkotaan terutama dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi

seperti kota Metropolitan dan kota-kota besar lainnya.

2.3.4 Menurut Fungsinya

1. Single Purpose, yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan satu jenis air

buangan saja.
21

2. Multy Purpose, yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan beberapa jenis

buangan, baik secara bercampur maupun bergantian.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan dan pelaksanaan

pekerjaan drainase adalah :

1. Harus dapat diatasi dengan biaya ekonomis.

2. Pelaksanaannya tidak menimbulkan dampak social.

3. Dapat dilaksanakan dengan teknologi sederhana.

4. Memanfaatkan semaksimal mungkin saluran yang ada.

5. Mudah pengoperasian dan pemeliharaannya.

6. Mengalirkan air hujan ke badan sungai yang terdekat.

2.4 PENAMPANG SALURAN / DRAINASE.

Yang dimaksud dengan Penampang Saluran adalah penampang yang

diambil tegak lurus arah aliran, sedang penampang yang diambil vertikal

disebut dengan penampang vertikal.

Dengan demikian apabila dasar saluran terletak horisontal maka

penampang saluran akan sama dengan penampang vertikal.

2.4.1 Bentuk-Bentuk Penampang Drainase

A. Bentuk Penampang Trapesium.

Bentuk penampang trapezium adalah bentuk yang biasa digunakan untuk

saluran-saluran irigasi atau saluran-saluran drainase, karena mempunyai


22

bentuk saluran alam, dimana kemiringan tebingnya menyesuaikan

dengan sudut lereng alam dari tanah yang digunakan untuk saluran

tersebut.

B. Bentuk Penampang Persegi Empat atau Segitiga.

Bentuk ini merupakan penyederhanaan dari bentuk trapezium yang

biasanya digunakan untuk saluran-saluran drainase yang melalui lahan-

lahan yang sempit.

C. Bentuk Penampang Lingkaran.

Bentuk ini biasanya digunakan pada perlintasan jalan, saluran ini biasa

disebut gorong-gorong.

2.5 ELEMEN GEOMETRI

1. Luas penampang (A)

2. Lebar permukaan (B)

3. Keliling basah (P), dan

4. Jari-jari Hydraulik (R)

Persamaan untuk saluran persegipanjang (rectangle), trapezium

(trapezoidal), dan lingkaran (Circle) terlihat pada gambar berikut ini:


23

Sumber: Internet, 2016

Gambar 2.1 Bentuk-Bentuk Saluran

Yang dimaksud dengan penampang saluran adalah penampang yang

diambil tegak lurus arah aliran, sedang penampang yang diambil vertikal

disebut dengan penampang vertikal. Dengan demikian apabila dasar saluran

terletak horisontal maka penampang saluran akan sama dengan penampang

vertikal.

2.6 DRAINASE PERMUKAAN

Drainase permukaan adalah sistem drainase yang dibuat untuk

mengalirkan air(limpasan) akibat hujan. drainase ini untuk memelihara agar

jalan tidak tergenang air hujan dalam waktu yang lama(mengakibatkan

kerusakan). Saluran drainase permukaan tediri dari tiga jenis yaitu :


24

1. Saluran penangkap (Catch Ditch)

2. Saluran Samping (Side Ditch)

3. Saluran Alam (sungai yang memotong)

Agar aliran air hujan dapat ditampung dan dialirkan ke tempat pembuangan,

maka kapasitas drainase perumahan dimensinya harus di rencanakan

terlebih dahulu agar tidak mengenangi perumahan. Demensi saluran

drainase ditentukan berdasarkan kapasitas yang diperlukan (Qs) yaitu haras

dapat menampung besarnya debit aliran air rencana (Qr) yang timbul akibat

hujan pada daerah aliran,dengan melalui proses sehingga di peroleh

Qs Qr. Proses perhitungan rencana sampai dengan debit rencana ini

adalah analisa hidrologi.

QR adalah debit limpasan rencana akhir curah hujan pada tangkapan dalam

waktu tertentu. Jadi untuk mendapatkan besaran Qr harus diketahui

besarnya curah hujan rencana dalam waktu (lt) dan faktor-faktor lain yang

mempengaruhinya.

Banyak cara atau metode untuk menentukan Qr akibat hujan, tetapi yang

banyak digunakan dan disarankan oleh JICA, The Asphalt Intitute,

AASHTO maupun SNI yaitu model nasional yang merupakan rumus

empiris dari hubungan antara curah hujan dengan limpasan(debit) seperti

dibawah ini:

Q = C.I.A
3,6
25

Q = Debit limpasan dalam (m3/detik)

C= Koofisen limpasan atau pengaliran (tak berdemensi)

I = Intensitas hujan dalam waktu konsentrasi (mm/jam)

A = Luas daerah tangkapan hujan(km2)

K
Q = C.I.A. 2
A

Penggunaan rumus ini menurut AASHTO, disarankan untuk (A) < 0,8 km2

dengan asumsi intensitas curah hujan dianggap seragam untuk daerah seluas

< 0,8 km2 sedangkan untuk luasan tangkapan (A)> 4 km2, The Asphalt

Intitute menyarankan untuk menggunakan rumus Burkli Ziegler yang

merupakan rumus semi rasional.

Dengan : Q = Debit limpasan dalam (m3/detik)

K= Kemiringan permukaan daerah tangkapan hujan (km2)

I = Intensitas hujan dalam waktu konsentrasi (mm/jam)

A= Luas daerah tangkapan hujan (km2)

2.7 MENENTUKAN DEBIT ALIRAN

2.7.1 Data Curah Hujan

Data curah hujan harian maksimum dalam setahun dinyatakan dalam

mm/hari. Data ini diperoleh dari Lembaga Meterologi dan Geofisika, untuk

stasiun curah hujan yang terdekat dengan lokasi sistem drainase dan jumlah

data curah hujan paling sedikit dalam jangka waktu 10 tahun.


26

2.7.2 Periode Ulang

Kerakteristik hujan menunjukan, bahwa hujan yang besar tertentu

mempunyai periode ulang tertentu, periode ualang rencana untuk saluran

samping ditentukan dalam 5 tahun sekali.

2.7.3 Lamanya Waktu Curah Hujan

Di tentukan berdasarkan hasil penyelidikan Van Beern, bahwa hujan harian

terkonsentrasi selama 4 jam dengan jumlah hujan sebesar 90% dari jumlah

hujan selama 24 jam. Rumus menghitung intensitas curah hujan (I)

menggunakan analisa distribusi frekwensi menurut rumus sebagai berikut:

Xr - +Sx (Yt-Yn) I = 90 % Xr
Sn 4

Dimana :

xr = Besarnya curah hujan untuk periode ulang T tahun (mm)/24 jam

= Nilai rata-rata arimatik hujan kumulatif

Sx = Standar deviasi

Yt = Variasi yang merupakan fungsi periode ulang

Yn = Nilai tegantung pada n

Sn = Standar deviasi merupakan fungsi n

I = Intensitas curah hujan (mm/jam)


27

Tabel 2.2 Nilai Variasi Yt

Sumber : CD. Soemarto, 1999

Tabel 2.3 Nilai Variasi Yn

Sumber : CD. Soemarto, 1999

Tabel 2.4 Nilai Variasi Sn

Sumber : CD. Soemarto, 1999


28

2.8 MENGHITUNG WAKTU KONSENTRASI

Waktu konsentrasi (Tc),dihitung dengan rumus :

Tc = t1 +t2

T1= ( x 3,28xlo md)


s
T2 = L
60 V

dengan :

Tc = Waktu konsentrasi (menit)

t1 = Waktu Inlet (menit)

t2 = Waktu aliran (menit)

Lo = jarak dari titik terjauh ke fasilitas drainase (menit)

nd = Koofisen hambatan pengaliran

s = Kemiringan daerah pengaliran

V = Kecepatan air rata-rata di bawah saluran

L = Panjang saluran

2.9 MENENTUKAN INTENSITAS HUJAN RENCANA

Menentukan intensitas hujan rencana (I), dilakukan dengan cara

memplotkan harga Tc pada waktu konsentrasi kura Basis,kemudian tarik

garis lurus ke atas sampai memotong garis lengkung intensitas hujan

rencana dan tarik garis lurus ke kiri sampai memotong garis intensitas hujan

(mm / jam).
29

2.10 MENGHITUNG DEBIT AIR ( Q)

1. Koofisien Pengaliran (C )

Bila daerah pengaliran terdiri dari beberapa tipe kondisi p

Ermukaan yang menpunyai nilai C yang berbeda, maka harga C yang

berbeda.

Harga C rata-rata ditentukan dengan persamaan.

C = C1.A1+C2.A2+C3.A3+......
A1+A2+A3+.

Keterangan :

C1,C2,C3 = Koofisien pengaliran yang sesuai dengan tipe kondisi

Permukaan.

A1,A2,A3 = Luas Daerah pengaliran yang dipertimbangkan sesuai

dengan kondisi permukaan.

Menentukan luas daerah pengaliran sebagai berikut :

A1 = L1 x L A = A1+A2 +A3

A2 = L2 x L A3 = L3 x L

2. Debit Air ( Q )

Q= 1.C.I.A
36
Keterangan :

Q = Debit air (m3/detik)

C = Koofisien pengaliran

I = Intensitas hujan(mm/jam)

A= Luas daerah pengaliran (km2)


30

2.11 MENENTUKAN DIMENSI SALURAN DRAINASE

Untuk menentukan dimensi / ukuran saluran drainase harus

mempertimbangkan antara lain :

1. Besarnya debit air

2. Fungsi saluran

3. Jenis / bahan saluran

4. Lokasi saluran

Prosedur penempatan dimensi adalah, sepert langkah-langkah berikut ini :

1. Penentuan Luas Penampang Basah ( Fd)

Penampang basah didasarkan pada debit air dan kecepatan ( V )

Rumus : Fd = Q
V
Keterangan :

Fd = Luas Penampang

Q = Debit air (m3/detik)

V = Kecepatan aliran (m/detik)

2. Penentuan Luas Penampang basah Ekonomis (F e)

Demensi saluran ditentukan atasvdasar :

Fe = Fd

Keterangan :

Fe = Luas Penampang Ekonomis ( m2 )

Fd = Luas yang didasarkan pada debit air yang ada (m2 )


31

Untuk garong-gorong yang berbentuk metal gelombang, hanya

diperhitungkan debit dan penentuan penampang ba sah yang disesuaikan

dengan spesipikasi yang telah ditentukan.

2.12 PERENCANAAN DRAINASE / SALURAN

2.12.1 Penampang persegi empat

Penampang Persegi Empat Saluran terbuka berpenampang persegi

empat pada umumnya merupakan saluran buatan terutama banyak

digunakan untuk saluran drainase di perkotaan atau untuk flume (talang

untuk jaringan irigasi).Dibanding dengan penampang trapesium,

penggunaan saluran berpenampang persegi empat

cenderung dihindari karena tebingnya yang tegak (vertikal). Dinding

tegak memerlukan konstruksi yang lebih mahal daripada dinding yang

mengikuti garis-garis kemiringan lereng alam tanah dimana saluran

ditempatkan. Untuk keperluan saluran drainase perkotaan bentuk

penampang persegi empat ini makin dipertimbangkan penggunaannya

karena dua hal berikut:

a. Terbatasnya lahan

b. Estetika

Untuk pertimbangan ekonomi perlu dicari penampang yang paling

baik.

dibawah ini dapat dirumuskan penampang persegi empat terbaik sebagai

berikut :
32

B=2y

Sumber: Dokumen Pribadi, 2016

Gambar 2.2 Penampang hidrolik terbaik saluran terbuka

berpenampang persegi empat

- Luas penampang : A = B.y

- Keliling basah : P = B + 2y

- Jari-jari hidrolik : R = A = BY
P B+2y

- Debit aliran : Q = 1 AR 2/3 i manning


n

Q=CARif chezy

Dari persamaan debit aliran tersebut dapat dilihat bahwa apabila harga A, C,

dan if (Chezy), atau A, n, dan if (Manning) tetap maka debit aliran akan

maksimum apabila harga R (jari jari hidrolik) adalah maksimum. Karena :

R = A / P, maka untuk mencapai harga R maksimum dengan luas

penampang A tetap maka harga keliling basah P harus minimum. Untuk

mencapai harga P minimum dapat dilakukan sebagai berikut :

P = B + 2y
33

karena : A = B x y

B=A/y

maka : P = A + 2 Y
y

untuk harga A tetap maka P hanya merupakan fungsi dari h saja {P = f (h)}.

Harga P minimum dicapai apabila dp = 0


dy
Dari persamaan (5.1) tersebut diatas dapat dicari harga dP
dy
sebagai berikut :

P = A + 2y = A ( y-1) + 2y .(2.1)
y

dP = A ( -y-2) +2 = - A + 2
dy y2

P minimum apabila dP = 0 dP
Dy dy

Jadi dP = - A + 2=0 atau : A = 2y2.....(2.2)

Dy y2

Kembali ke persamaan (5.1), dengan memasukkan

persamaan (5.2) didapat:

P = A + 2y = 2y2 + 2y = 4 y(2.3)
y y

Karena : P = B + 2y

maka : 4y = B + 2y

atau : B = 4y - 2y

B = 2y ..(2.4)
34

Dengan demikian maka penampang persegi empat terbaik adalah

penampang yang mempunyai lebar sama dengan dua kali kedalaman

alirannya. Selanjutnya elemen geometris lainnya dapat dinyatakan sebagai

berikut :

Lebar permukaan : T = B = 2y (2.5)

Kedalaman hidrolik : D = A = 2y2 = y (2.6)


T 2y
Penampang saluran untuk aliran kritis :

Z = AD = 2yy

Z = 2y2,5 (2.7)

Dengan diketahuinya elemen geometri tersebut, perencanaan dimensi

saluran dapat dilakukan untuk Q dan if diketahui.

2.12.2 Menghitung Kemiringan Saluran yang Diijinkan

Menghitung kemiringan saluran yang diijinkan menggunakan rumus :

V = 1n R2/3 I1/2

Saluran direncanakan dari pasangan batu, kondisi sedang harga n = 0,025

dan kecepatan air = 1,50 m/detik.

Menentukan kemiringan saluran yang diijinkan menggunakan rumus:

V.n 2
i = ( 2/3 )
R
2
1,50 . 0,025
i=( 2 ) = 0,0089
0,253
35

Kemiringan yang diijinkan i = 0,0089 ~ 0,89%

2.12.3 Periksa Kemiringan Tanah di Lapangan

Setelah didapat kemiringan yang diijinkan, maka dilanjutkan menghitung

kemiringan lapangan yaitu dengan menggunakan rumus :

STA : 2 + 000 ; t1 = 1,83

STA : 2 + 800 ; t2 = 1,67

Gambar 2.3 Kemiringan Tanah

t1 t 2
i Lapangan =
L
1,83 1,67
i Lapangan = x 100%
500

i Lapangan = 0,032%

i Diijinkan = 0,89% > i lap = 0,032%

2.13 TINGGI JAGAAN ( FREE BARD )

Setelah tinggi permukaan air yang perlu untuk pengaliran debit rencana

sudah ditetapkan, masih diperlukan lagi suatu ruang untuk menampung

gelombang karena angin dan fluktuasi permukaan air agar tidak terjadi
36

luapan (over topping). Fluktuasi permukaan air dapat terjadi karena

penutupan pintu air di hilir secara tiba-tiba akibat air laut pasang, akibat

loncatan air, sedimentasi, perubahan koefisien kekasaran atau kesalahan

operasi bangunan air yang ada di saluran tersebut.

Jadi penyediaan ruang jagaan tidak dimaksud untuk tambahan debit tetap

untuk keperluan tersebut diatas dengan debit tetap seperti yang

direncanakan.

Puncak tanggul Puncak tanggul

Jagaan W

Sumber: Dokumen Pribadi, 2016

Gambar 2.4 Saluran Persegi Empat Serta Tinggi Jagaan

Tinggi jagaan ini diukur dari elevasi permukaan air rencana sampai ke

elevasi puncak tanggul, seperti tampak pada Gambar .

Tinggi jagaan pada suatu penampang saluran seperti dijelaskan di

atas bahwa tinggi jagaan dari suatu penampang saluran diperhitungkan

untuk beberapa macam keperluan (tidak termasuk tambahan debit) maka

tidak ada satu perumusan yang berlaku umum. Untuk hal ini USBR (United

States Bureau of Raclamation) memberi perkiraan harga W sebagai berikut :


37

W = c . y ....(2.8)

dimana :

W = Tinggi jagaan dalam (ft)

c = Koefisien yang bervariasi dari

1,5 ft pada Q = 20 cfs sampai

2,5 ft pada Q = 3000 cfs

y = Kedalaman air dalam (ft)

Untuk keperluan perencanaan irigasi di Indonesia. Standarisasi Perencanaan

Irigasi Departemen Pekerjaan Umum RI, mensyaratkan tinggi jagaan

minimum seperti tertera di dalam. Besarnya tinggi jagaan minimum untuk

saluran dari tanah dan dari pasangan batu.

Tabel 2.5 Besaran Debit dan Rencana Tinggi Jagaan


Besar Debit Tinggi Tinggi jagaan ( m ) Tinggi Jagaan ( m )
Q (m3 / det) Untuk pasangan batu Saluran dari tanah

< 0.50 0.20 0.40


0.50 1.50 0.20 0.50
1.50 5.00 0.25 0.60
5.00 10.00 0.30 0.75
10.00 15.00 0.40 0.80
> 15.00 0.50 1.00
Sumber: Standarisasi Perencanaan Irigasi Departemen Pekerjaan
Umum RI