Anda di halaman 1dari 12

I.

PETA DASAR

A. DEFINISI

Peta dasar adalah suatu gambaran dari berbagai komponen yang terpilih didalam
suatu daerah pemetaan. Atau merupakan kerangka untuk penempatan unsur-unsur,
ataupun obyek yang dipetakan.

Komponen atau kerangka tersebut harus memiliki hubungan dengan topografi,


sehingga jika komponen - komponen tersebut tidak memiliki hubungan, maka menjadi
tidak bermanfaat dan informasi yang dipetakan tersebut menjadi tidak berguna karena
tidak dapat dilokalisasi (diplot) dan dievaluasi terhadap kondisi - kondisi yang
diharapkan dan akhirnya hanya digunakan sebagai dasar perbandingan pada suatu
daerah saja.

Peta dasar ini memuat berbagai macam unsur geografi, seperti: grid dan graticul, pola
aliran, relief, komunikasi: seperti: jalan, jalan kereta api, unit administrasi.

Unsur-unsur ini tidak semua secara bersama-sama termuat dalam suatu peta dasar
untuk pemetaan data tertentu, tetapi unsur yang terkait saja dengan tema yang
digambarkan.

Oleh karenanya elemen-elemen topografi alami seperti pola aliran, garis kontur lebih
erat hubungannya dengan tema peta fisik/geologi.

Sedangkan untuk peta-peta yang bertema sosial ekonomi, misalnya: industri,


pendidikan, pertanian lebih erat hubungannya dengan kenampakan topografi buatan
manusia, sehingga unsur-unsur ini dimasukkan dalam peta dasar.

Dengan demikian peta dasar yang baik untuk suatu tema tertentu tidak pasti baik
untuk tema yang lain.

B. UNSUR UTAMA PETA DASAR


Penentuan lokasi yang baik dan tepat merupakan unsur utama didalam menyusun
peta dasar yang baik, misalnya :
- Posisi titik kontrol geodetik
- Posisi konstruksi (bangunan, jalan raya, rel KA atau saluran)
- Posisi danau dan sungai
- Rincian topografi (batasan topografi, seperti tebing, lembah, bukit- bukit kecil,
punggungan dan sebagainya).

Peta dasar dapat diturunkan dari peta topografi, peta dunia, peta navigasi udara, dan
peta dunia lain dengan berbagai variasi skala. Dokumen lain yang dapat dipakai
sebagai peta dasar adalah foto udara dan peta foto. Untuk yang disebut terakhir ini
apabila tidk ada peta lain yang tersedia.

C. KOMPONEN PETA

1. Judul Peta

Judul peta menunjukkan data dan daerah yang tergambar dalam peta
tersebut.
Contoh:
Peta penyebaran penduduk pulau Jawa.
Peta bentuk muka bumi Asia.
Peta Indonesia.

Judul peta merupakan komponen yang sangat penting. Biasanya, sebelum


pembaca memperhatikan isi peta, pasti terlebih dahulu judul yang dibacanya.
Judul peta hendaknya memuat/mencerminkan informasi yang sesuai dengan isi
peta. Selain itu, judul peta jangan sampai menimbulkan penafsiran ganda pada
peta.

Judul peta biasanya diletakkan di bagian tengah atas peta. Tetapi judul peta
dapat juga diletakkan di bagian lain dari peta, asalkan tidak mengganggu
kenampakan dari keseluruhan peta.

2. Skala Peta

Skala pada peta adalah perbandingan jarak antara dua titik di peta dengan
jarak sebenarnya di permukaan bumi.
Contoh:
Skala 1 : 500.000 artinya 1 cm jarak di peta sama dengan 500.000 cm ( 5Km)
jarak sebenarnya di permukaan bumi.
Bila ingin menyajikan data secara rinci, maka gunakanlah skala besar, (1 : 5.000
sampai 1 : 250.000). Sebaliknya bila ingin menunjukkan data secara umum,
gunakanlah skala kecil (1 : 500.000 sampai 1 : 1.000.000 atau lebih).

3. Proyeksi Peta

Bumi kita merupakan bentuk tiga dimensi, tetapi peta merupakan bentuk dua
dimensi. Walaupun demikian terdapat tiga aspek yang harus
dipenuhi oleh sebuah peta yaitu sebagai berikut.
Conform, berarti bentuk yang digambarkan di peta harus sesuai
dengan aslinya.
Equivalent, berarti daerah yang digambar di peta harus sama luas
dengan aslinya.
Equidistant, berarti jarak yang digambar pada peta harus tepat
perbandingannya dengan jarak sesungguhnya
Untuk menghindari terjadinya kesalahan yang lebih besar, dalam ukuran (luas,
jarak) bentuk permukaan bumi pada peta, maka dalam pembuatan peta digunakan
proyeksi peta. Proyeksi peta adalah teknik pemindahan bentuk permukaan bumi yang
lengkung (bulat) ke bidang datar.

Macam-macam proyeksi peta adalah sebagai berikut.


a. Proyeksi azimuthal (zenithal projection), adalah bidang proyek
berupa suatu bidang datar yang menyinggung bola, pada kutub ekuator
atau sembarang tempat yang terletak antara ekuator dan kutub.
Proyeksi ini paling baik untuk menggambar daerah di sekitar ekuator.
b. Proyeksi silinder (Mercator projection), adalah semua garis
horizontal,meridian berupa garis lurus vertikal. Proyeksi ini paling
tepat menggambarkan daerah ekuator sebab ke arah kutub terjadi
pemanjangan garis.
c. Proyeksi kerucut (conical projection), adalah garis yang memo
tong ataumenyinggung globe dan bentangannya ditentukan oleh sudut
puncaknya. Proyeksi ini menggambarkan daerah dilintang 45

4. Legenda/Keterangan Peta

Legenda merupakan keterangan peta, memudahkan pembacaan dan


penafsiran peta karena legenda menerangkan arti dari simbol-simbol yang terdapat
dalam peta.
Legenda biasanya diletakkan di pojok kiri bawah peta. Selain itu legenda peta
dapat juga diletakkan pada bagian lain peta, sepanjang tidak mengganggu
kenampakan peta secara keseluruhan.

5. Petunjuk Arah/Tanda Orientasi

Petunjuk arah untuk menunjukkan arah Utara, Selatan, Timur dan Barat.
Tanda orientasi perlu dicantumkan pada peta untuk menghindari kekeliruan.
Petunjuk arah pada peta biasanya berbentuk tanda panah yang menunjuk ke arah
Utara. Petunjuk ini diletakkan di bagian mana saja dari peta, asalkan tidak
menganggu kenampakan peta.

6. Simbol dan Warna

Gambar atau tanda untuk mewakili obyek agar penyajian informasi


lebih sederhana dan sistematik.

a. Simbol peta.

a) Simbol titik, digunakan untuk menyajikan tempat atau


data posisional, seperti simbol kota, titik trianggulasi (titik ketinggian)
tempat dari permukaan laut. Contoh: simbol titik.
b) Simbol garis, digunakan untuk menyajikan data geografis
seperti simbol sungai, batas wilayah, jalan, dsb. Contoh: simbol garis.
c) Simbol luasan (area), digunakan untuk menunjukkan
kenampakan area seperti: padang pasir, rawa, hutan. Contoh: simbol
luasan (area).

b. Warna

Perhatikanlah peta yang ada di sekolah Anda, warna apa saja


yang ada pada peta tersebut? Peta yang berwarna akan lebih indah
dilihat dan kenampakan yang ingin disajikan juga kelihatan lebih jelas.

Penggunaan warna pada peta harus sesuai maksud/tujuan si


pembuat peta dan kebiasaan umum.
Contoh:
laut, danau digunakan warna biru.
temperatur (suhu) digunakan warna merah atau coklat.
curah hujan digunakan warna biru atau hijau.
dataran rendah (pantai) ketinggian 0 sampai 200 meter dari
permukaan laut digunakan warna hijau.
daerah pegunungan tinggi/dataran tinggi (2000 sampai 3000
meter) digunakan warna coklat tua.
Warna berdasarkan sifatnya, ada dua macam yaitu warna
bersifat kualitatif dan bersifat kuantitatif.

7. Sumber dan Tahun Pembuatan Peta

Bila Anda membaca peta, perhatikan sumbernya. Sumber memberi


kepastian kepada pembaca peta, bahwa peta tersebut bukan hasil rekaan dan
dapat dipercaya. Selain sumber, perhatikan juga tahun pembuatannya.
Pembaca peta dapat mengetahui bahwa peta itu masih cocok atau tidak untuk
digunakan pada masa sekarang atau sudah kadaluarsa karena sudah terlalu
lama.

8. Inset

Inset adalah peta kecil tambahan dan memberikan kejelasan yang


terdapat di dalam peta. Inset bersifat menjelaskan wilayah pada peta utama.
Berdasarkan fungsinyanya, inset di bedakan menjadi 3 macam yaitu :
a. Inset yang berfungsi untuk menunjukkan lokasi
relatif wilayah yang tergambar pada peta utama.
Inset ini memiliki skala lebih kecil dari peta utama, untuk menjelaskan
letak/hubungan antara wilayah pada peta utama dengan wilayah lain di
sekelilingnya. Misalnya : lokasi relatif Pulau Kalimantan sebagai peta utama
terlihat posisinya dengan pulau-pulau lain di sekitarnya pada inset peta
wilayah Indonesia
b. Inset yang berfungsi memperbesar/memperjelas sebagian kecil
wilayah pada peta utama.
Inset ini memiliki skala lebih besar dari peta pokok, mempunyai kegunaan
untuk menjelaskan bagian dari peta pokok yang dianggap penting. Misalnya : lokasi
permukiman yang penting pada suatu kota diperbesar sehingga menjadi lebih jelas.

c. Inset yang berfungsi untuk menyambung wilayah pada peta


utama.
Inset ini memiliki skala sama besar dengan peta utama dan juga merupakan peta
utama yang disambung. Fungsi menyambung ini bertujuan untuk :
Menggambarkan wilayah pada peta utama yang terpotong karena
keterbatasan pada media kertas/halaman.
Menggambar wilayah yang terpencar

9. Lettering (Tata Cara Penulisan pada Peta)

Untuk membuat tulisan pada peta ada kesepakatan di antara para ahli
(kartografer) yaitu sebagai berikut:
1. Nama geografi ditulis dengan bahasa dan istilah yang digunakan penduduk
setempat.Contoh: Sungai ditulis Ci (Jawa Barat), Kreung (Aceh), Air (Sumatera
Utara).Nama sungai ditulis searah dengan aliran sungai dan menggunakan
huruf miring.
2. Nama jalan ditulis harus searah dengan arah jalan tersebut, dan ditulis dengan
huruf cetak kecil.
3. Nama kota ditulis dengan 4 cara yaitu:
di bawah simbol kota.
di atas simbol kota.
di sebelah kanan simbol kota.
di sebelah kiri simbol kota.

KOMPONEN PETA
1. Judul peta
2. Skala angka
3. Nomor lembar peta seri
4. Daerah yang dicakup
5. Edisi (tahun), petunjuk letak peta
6. Keterangan proyeksi peta
7. Pengarang/penerbit
8. Petunjuk orientasi utara
9. Skala grafis
10. Pembagian daerah administrasi
11. Petunjuk pembacaan koordinat geografis
12. Grid lintang
13. Grid bujur
KOMPOSISI PETA YANG BAIK

Keterangan:
1. Judul peta tematik
2. Daerah yang dicakup
3. Skala angka dan grafis
4. Orientasi utara
5. Legenda/keterangan
6. Peta inset/peta lokasi
7. Pengarang/penerbit
8. Sumber data
9. Grid lintang dan bujur

Peta dasar Jawa Timur


(sumber : http://appejawa.navperencanaan.com/peta/viewmap?prov_code=jatim)
II. PETA TOPOGRAFI

A. DEFINISI

Peta topografi yaitu peta yang menggambarkan bentuk relief (tinggi rendahnya
permukaan bumi. Dalam peta topografi digunakan garis kontur (countur line) yaitu
garis khayal yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai ketinggian sama.

Peta topografi dapat juga diartikan sebagai representasi grafis dari bagian
permukaan bumi yang ditarik ke skala, seperti yang terlihat dari atas. Menggunakan
warna, simbol, dan label untuk mewakili fitur yang ditemukan pada permukaan bumi.
Representasi yang ideal akan terwujud jika setiap fitur dari daerah yang dipetakan
dapat ditunjukkan dalam bentuk yang benar. Untuk dapat dimengerti, peta harus
diwakili dengan tanda konvensional dan simbol

Pada peta topografi sendiri, garis kontur digmbar dengan warna coklat muda.
Kontur berguna untuk memberikan informasi relatif tentang relief. Relief ini
merupakan suatu bentuk yang memperlihatkan perbedaan dalam ketinggian dan
kemiringan dari bentuk-bentuk yang tidak sama di permukaan bumi. Relief
dihubungkan dengan suatu bentuk atau model keseluruhan muka bumi dalam bentuk
tiga dimensi.

Selain itu peta topografi juga digunakan sebagai dasar dalam pembuatan peta-
peta tematik seperti,peta kehutanan, peta pariwisata, peta penggunaan lahan,dan
sebagainya.

Di Indonesia pemetaan topografi dikerjakan oleh Jawatan Topografi (jantop)


Angkatan Darat dengan koordinasi Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional
(Bakosurtanal). Peta yang dihasilkan setelah jadi dapat diperjualbelikan secara bebas.
Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) merupakan peta yang sejenis dengan peta topografi.
Peta ini dibuat dan dikoordinasi oleh Bakosurtanal. Peta tersebut mempunyai isi dan
sifat yang sama dengan peta topografi. Perbedaan kedua peta tersebut hanya pada
sistem proyeksi serta pengambilan data di lapangan. Peta topografi dalam perolehan
data di lapangan lebih banyak menggunakan survei dan pengukuran lapangan,
sedangkan peta RBI dengan cara kompilasi dari foto udara.

B. OBJEK YANG DISAJIKAN PADA PETA POTOGRAFI

a. Unsur buatan manusia

Unsur-unsur perhubungan, meliputi jalan dan jalur kereta api


Gedung-gedung, meliputi perumahan dan bangunan lain seperti
mesjid, kantor, dan sebagainya
Konstruksi-konstruksi lain,seperti : bendungan, jalur pipa, waduk
penyimpanan air, dan lain-lain
Unsur luasan atau daerah khusus,meliputu daerah yang ditanami
seperti perkebunan dan taman
Batas-batas,meliputu batas adminstratif seperti batas provinsi,
kabupaten, sampai batas terkecil yang bisa dilihat

b. Unsur alam

Unsur hidrografi,termasuk sungai,danau,dan garis pantai


Tanaman (vegetasi),pada umumnya dikelompokkan menurut jenis
atau faktor lain yang berhubungan
Unsur lain seperti: permukaan es,salju,pasir,dan lain-lain

Selain menggambarkan unsur-unsur di atas, peta topografi maupun juga


menggambarkan titik-titik ketinggian. Titik ketinggian ini di peta ditulis dengan harga
atau angka yang digunakan untuk memperlihatkan ketinggian suatu tempat di atas
atau di bawah permukaan laut.

Pengukuran hanya dilakukan pada tempat-tempat penting saja,misalnya:


puncak bukit, pertemuan sungai, dasar lembah, perubahan lereng, dan sebagainya.

Peta topografi dikategorikan berdasarkan skala dan jenis. Dan skala peta
topografi dibagi ke dalam tiga kategori. Yaitu skala kecil, menengah dan besar.

1. Kecil. Peta dengan skala 1:1.000.000 dan lebih kecil digunakan untuk
perencanaan umum dan untuk studi strategis. Peta skala kecil standar
memiliki skala 1:1.000.000. Peta ini meliputi area yang sangat besar
dengan mengorbankan detail.
2. Menengah. Peta dengan skala lebih besar dari 1:1.000.000 tetapi lebih
kecil dari 1:75.000 digunakan untuk perencanaan operasional. Peta ini
mengandung detail dengan jumlah sedang. Peta skala menengah standar
memiliki skala 1:250.000. Ada juga peta dengan skala 1:100.000.
3. Besar. Peta dengan skala 1:75.000 dan lebih besar digunakan untuk
perencanaan taktis, administrasi, dan logistik. Peta jenis inilah yang sering
ditemukan dan digunakan pihak militer. Peta skala besar standar
1:50.000, namun banyak daerah telah dipetakan dengan skala 1:25.000.

Peta pilihan untuk navigator adalah peta topografi skala 1:50.000. Standar
akurasi peta topografi adalah derajat yang sesuai dengan posisi horizontal dan
vertikal yang mewakili nilai-nilai di peta dengan suatu standar yang ditetapkan.
Standar ini ditentukan direktorat terkait berdasarkan kebutuhan pengguna.

C. KELEBIHAN PETA TOPOGRAFI

Untuk mengetahui ketinggian suatu tempat.


Untuk memperkirakan tingkat kecuraman atau kemiringan lereng
D. KETENTUN PADA PETA POTOGRAFI

1. Makin rapat jarak kontur yang satu dengan yang lainnya menunjukkan
daerah tersebut semakin curam. Sebaliknya semakin jarang jarak antara
kontur menunjukkan daerah tersebut semakin landai.
2. Garis kontur yang diberi tanda bergerigi menunjukkan depresi
(lubang/cekungan) di puncak, misalnya puncak gunung yang berkawah.
3. Peta topografi menggunakan skala besar, antara 1 : 50.000 sampai 1 :
100.000.

Berikut ini beberapa contoh peta topografi.

Garis kontur dengan interval (jarak antara 2 kontur) 40 meter.

Jarak kontur.

Berdasarkan jarak antara kontur dan tanda pada kontur, Anda dapat menyimpulkan bahwa:
Pada peta 1A adalah daerah curam karena jarak antara garis konturnya rapat dan B adalah
daerah landai karena jarak konturnya jarang. Sedangkan pada peta 2,D adalah daerah curam
karena jarak konturnya rapat,E adalah daerah landai karena jarak konturnya jarang, dan C
adalah daerah depresi (lubang/cekungan) di puncak karena diberi tanda bergerigi.
Pada gambar 1.4:
Menunjukkan kenampakan gunung dengan puncaknya yang digambarkan menjadi peta
kontur. Pada gambar tersebut, A daerah curam, B daerah landai dan C daerah cekungan di
puncak.
PETA DASAR DAN PETA TOPOGRAFI
INFRASTRUKTUR TAPAK

NAMA:
MARIA RATU S. 1622029

JURUSAN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL
MALANG
SUMBER

Sumber: http://pinterdw.blogspot.co.id/2012/03/peta-dasar-base-map.html

Sumber : http://materiilmugeografi.blogspot.co.id/2016/01/peta-dasar.html

Sumber : https://ilmugeografi.com/kartografi/jenis-jenis-peta

Sumber:https://belajar.kemdikbud.go.id/SumberBelajar/tampilajar.php?ver=1
2&idmateri=122&lvl1=1&lvl2=1&lvl3=0&kl=7

Sumber : http://geobelajar.blogspot.co.id/2011/09/komponen-peta.html

Anda mungkin juga menyukai