Anda di halaman 1dari 14

ARSITEK LINGKUNGAN

DI SUSUN:

ANDRYA PUTRA PRATAMA (1622011)


KOMANG YUDHA TRI ADMAJA (1622016)
STEFANUS HERDIANTO KAHA

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR S-1


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN (FTSP)
ITN MALANG 2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang MAha Esa atas terselesaikan tugas
makalah ini, makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Arsitek Lingkungan. Kami
berharap hasil penyusunan makalah ini dapat membantu dan memjadikan bahan
referensi.makalah ini berisikan tentang analisa hasil data data yang berkaitan tentang konsep
Green Architecture yang sekarang bayak diperbincangkan public.

Kami berterima kasih pada berbagai pihak yang telah membantu kami dalam
menyelesaikan tugas makalah ini, Kami menydari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh
dari kesempurrnaan, maka kami masih mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
para pembaca untuk meningkatkan kualitas dari makalah kami selanjutnya.

Malang, 15 oktober 2017


DAFTAR ISI

Kata Pengantar..................................................................................................I

Daftar Isi...........................................................................................................II

BAB 1 PENDAHULUAN................................................................................1
1.1 Latar Belakang.................................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah............................................................................................................2

1.3 Pemecahan Masalah.........................................................................................................3

BAB 2 PEMBAHASAN...................................................................................2
2.1 Pengertian Green Architecture.........................................................................................2

2.2 Pengelolaan Air................................................................................................................3

2.3 Arsitektur Hijau Dirumah ...............................................................................................6

2.4 Prinsip Prinsip Green Arsitektur ..................................................................................7

2.5 Konsep Arsitektur Hijau..................................................................................................9

BAB 3 PENUTUP.............................................................................................10
3.1 Kesimpulan......................................................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................11
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Zaman yang sudah modern seperti saat ini, banyak sekali fasilitas yang sudah memadai.
Dengan adanya kebutuhan yang serba instant, membuat orang semakin malas untuk melakukan
sesuatu secara konvensional.Kebutuhan papan yang sekarang menjadi kebutuhan capital bagi
setiap orang membuat bidang properti menjadi meningkat. Hal ini dapat mempengaruhi
percepatan arus urbanisasi dan dampak social yang terjadi. Mereka yang belum memiliki tempat
tinggal secara permanen, telah membentuk lingkungan yang kumuh. Selain itu, pemanfaataan
sumber daya alam yang sudah tidak diperhitungkan lagi seberapa besar dampak yang akan
terjadi, menambah kerusakan pada alam ini.

Banyak sekali dampak yang terjadi dari pemanfaatan alam yang tidak dimanfaatkan
secara sebaik-baiknya. Akhir-akhir ini telah kita rasakan dampak yang terjadi akibat pengaruh
dari kerusakan alam ini. Sekarang, ruang hijau menjadi semakin berkurang, dan resapan air juga
semakin berkurang sehingga menyebabkan terjadinya banjir.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana cara menangani semua yang terjadi di permukaan bumi ini dengan cara
arsitektural.Karena arsitektur adalah salah satu pemeran utama sebagai penyebab dan
penanggung jawab atas segala perubahan dimuka bumi Salah satu cara yang paling tepat untuk
menangani damak pergantiaan iklim ini dalam bidang arsitektur ialah ndengan cara menerapkan
konsepGreen Architecture.Karena dengan cara ini segala dampak perusakkan alam,
penghematan energy dan lain lainya dapat ditekan.

1.3 Pemecahan Masalah

Dengan adanya bencana yang terjadi, kini ramai dengan istilah Green
Architecture.Green Architecture merupakan sebuah konsep merancang dengan memadukan
antara bangunan dengan kondisi lingkungan yang sudah ada, sehingga keberadaan bangunan
tersebut tidak merugikan lingkungannya. Konsep ini semakin banyak dikembangkan seiring
dengan isu internasional yaitu global warming.

Green Architecture pendekatan pada bangunan yang dapat meminimalisasi berbagai


pengaruh membahayakan pada kesehatan manusia dan lingkungan. Arsitektur hijau meliputi
lebih dari sebuah bangunan.Keselarasan hidup manusia dan alam terangkum dalam konsep green
architecture. Konsep yang kini tengah digalakkan dalam kehidupan manusia modern.Dalam
perencanaannya, harus meliputi lingkungan utama yang berkelanjutan. Untuk pemahaman dasar
arsitektur hijau (green architecture) yang berkelanjutan, di antaranya lanskap, interior, dan segi
arsitekturnya menjadi satu kesatuan.
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Green Architecture
Green Architecture atau sering disebut sebagai Arsitektur Hijau. Arsitektur
Hijau adalah arsitektur yang minim mengonsumsi sumber daya alam, ternasuk energi, air, dan
material, serta minim menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan.
Arsitektur hijau adalah suatu pendekatan perencanaan bangunan yang berusaha untuk
meminimalisasi berbagai pengaruh membahayakan pada kesehatan manusia dan lingkungan.
Arsitektur hijau merupakan langkah untuk mempertahankan eksistensinya di muka bumi
dengan cara meminimalkan perusakan alam dan lingkungan di mana mereka tinggal. Istilah
keberlanjutan menjadi sangat populer ketika mantan Perdana Menteri Norwegia GH Bruntland
memformulasikan pengertian Pembangunan Berkelanjutan (sustaineble development) tahun
1987 sebagai pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan manusia masa kini tanpa
mengorbankan potensi generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

Keberlanjutan terkait dengan aspek lingkungan alami dan buatan, penggunaan energi, ekonomi,
sosial, budaya, dan kelembagaan. Penerapan arsitektur hijau akan memberi peluang besar
terhadap kehidupan manusia secara berkelanjutan. Aplikasui arsitektur hijau akan menciptakan
suatu bentuk arsitektur yang berkelanjutan.

Untuk pemahaman dasar arsitektur hijau yang berkelanjutan, meliputi di antaranya lansekap,
interior, dan segi arsitekturnya menjadi satu kesatuan. Dalam contoh kecil, arsitektur hijau bisa
juga diterapkan di sekitar lingkungan kita.

misalnya, dalam perhitungan kasar, jika luas rumah adalah 100 meter persegi, dengan pemakaian
lahan untuk bangunan adalah 60 meter persegi, maka sisa 40 meter persegi lahan hijau, Jadi
komposisinya adalah 60:40. Selain itu membuat atap dan dinding menjadi konsep roof garden
dan green wall. Dinding bukan sekadar beton atau batu alam, melainkan dapat ditumbuhi
tanaman merambat. Selain itu, tujuan pokok arsitektur hijau adalah menciptakan eco desain,
arsitektur ramah lingkungan, arsitektur alami, dan pembangunan berkelanjutan.

Selain itu, arsitektur hijau diterapkan dengan meningkatkan efisiensi pemakaian energi, air dan
pemakaian bahan-bahan yang mereduksi dampak bangunan terhadap kesehatan. Arsitektur hijau
juga dapat direncanakan melalui tata letak, konstruksi, operasi dan pemeliharaan bangunan.
2.2 PENGELOLAAN AIR

Dalam perencanaan sebuah bangunan, seorang arsitek selalu dihadapkan pada masalah
pengolahan air. Air hujan adalah salah satu yang perlu manajemen yang baik supaya tidak
mengganggu kenyamanan hidup kita. Air hujan jamaknya dialirkan melalui saluran-saluran
(vertikal maupun horizontal) yang ada di dalam lahan sebelum diteruskan ke sistem drainase
kota. Pengaliran dengan mengandalkan sistem drainae kota ini terbukti sudah tidak efektif dalam
mengelola air hujan.

Banjir besar di Jakarta tahun 2002 dan 2007 adalah bukti betapa lemahnya sistem
drainase kota menghadapi air hujan. Terlepas dari tingginya curah hujan, sistem drainae
kebanyakan kota di Indonesia memang sudah tidak memadai karena semrawutnya tata ruang.
Selain itu, kebiasaan hidup masyarakat membuang sampah ke sungai dan tinggal di bantaran kali
juga menyebabkan kurang berartinya sistem drainase dalam menghadapi limpahan air hujan.

Salah satu alternatif pengolahan air hujan adalah menggunakan lubang resapan biopori
ditemukan oleh Ir. Kamir R. Brata, Msc, seorang Peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB).
Resapan biopori meningkatkan daya resapan air hujan dengan memanfaatkan peran aktifitas
fauna tanah dan akar tanaman.Lubang resapan biopori adalah lubang silindris berdiameter 10-30
cm yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan kedalaman sekitar 100 cm. Dalam kasus
tanah dengan permukaan air tanah dangkal, lubang biopori dibuat tidak sampai melebihi
kedalaman muka air tanah. Lubang kemudian diisi dengan sampah organik untuk memicu
terbentuknya biopori.
Biopori adalah pori-pori berbentuk lubang (terowongan kecil) yang dibuat oleh aktifitas
fauna tanah atau akar tanaman. Kehadiran terowongan/lubang-lubang biopori kecil tersebut
secara langsung akan menambah bidang resapan air. Sebagai contoh, bila lubang dibuat dengan
diameter 10 cm dan dengan kedalaman 100 cm, maka luas bidang resapan akan bertambah
sebanyak 3140 cm atau hampir 1/3 m.

Sementara, suatu permukaan tanah berbentuk lingkaran dengan diamater 10 cm, yang
semula mempunyai bidang resapan 78.5 cm setelah dibuat lubang resapan biopori dengan
kedalaman 100 cm, luas bidang resapannya menjadi 3.218 cm. Lubang biopori disebar dalam
jarak tertentu sesuai dengan luas lahan yang hendak dicover. Selain itu, biopori juga bisa
diterapkan diselokan yang seluruhnya tertutup semen. Dibutuhkan dua sampai tiga kilogram
sampah lapuk untuk sebuah lubang biopori.

Agar orang yang menginjaknya tidak terperosok, lubang ditutup dengan kawat jaring.
Selain memperbesar bidang resapan melalui aktivitas organisme tanah, lubang resapan biopori
juga memiliki dapat mengubah sampah organik menjadi kompos. Lubang resapan biopori
"diaktifkan" dengan memberikan sampah organik didalamnya.

Sampah inilah yang akan menjadi sumber energi bagi organisme tanah untuk melakukan
kegiatan melalui proses dekomposisi. Sampah yang telah didekompoisi ini dikenal sebagai
kompos. Melalui proses seperti itu maka lubang resapan biopori akan berfungsi sekaligus
sebagai "pabrik" pembuat kompos. Kompos dapat dipanen pada setiap periode tertentu dan dapat
dimanfaatkan sebagai pupuk organik pada berbagai jenis tanaman. Sampai saat ini belum
ditemukan apa yang menjadi kelemahan lubang biopori. Sampah organik yang ada pada lubang
biopori dirasa tidak akan mengganggu karena cepat diuraikan.
Sampah akan sulit diuraikan jika lubang resapan terlalu besar dan tidak disebar. Karena
itu sampah harus disebarkan, jangan hanya berada disatu tempat. Hasilnya itu juga bisa dijadikan
kompos. Memakai lubang resapan biopori adalah tampaknya merupakan langkah yang bijak
dalam merencanakan sebuah lingkungan binaan. Arsitek sebagai perencana seyogyanya tidak
hanya memikirkan kepentingan bangunan yang dirancangannya, tetapi juga memikirkan
bagaimana rancangannya itu dapat mandiri dan tidak menambah beban sistem drainase kota.

Karena lahan perkotaan telah telanjur disesaki bangunan, maka sasaran perolehan sel-sel
hijau daun beralih pada hamparan atap datar gedung-gedung yang justru lebih banyak dibanjiri
cahaya matahari. Sebenarnya gerakan atap hijau telah muncul di Jepang sejak awal abad ke-20
melalui konsep eco-roof, tetapi sifat pengembangannya masih ekstensif.

Atap hijau jenis ini ditandai struktur atap beton konvensional dengan biaya dan
perawatan taman relatif murah karena penghijauan atap hanya mengandalkan tanaman perdu
dengan lapisan tanah tipis. Ketika Jepang semakin ketat menjaga lingkungan melalui
pemberlakuan berbagai tolok ukur bangunan ramah lingkungan, para perancang mulai berpacu
mencari solusi cerdas dalam memanfaatkan bidang datar atap bangunan.

Salah satunya adalah intensifikasi taman atap, atau upaya memadukan sistem bangunan
dengan sistem penghijauan atap sehingga dapat diciptakan taman melayang (sky garden).
Berbeda dengan atap hijau ekstensif yang hanya menghasilkan taman pasif, atap hijau intensif
dapat berperan sebagai taman aktif sebagaimana taman di darat.

Dengan lapisan tanah mencapai kedalaman hingga dua meter, atap hijau intensif
mensyaratkan struktur bangunan khusus dan perawatan tanaman cukup rumit. Jenis tanaman
tidak hanya sebatas tanaman perdu, tetapi juga pohon besar sehingga mampu menghadirkan satu
kesatuan ekosistem. Walaupun investasi yang dibutuhkan untuk membuat atap hijau cukup
tinggi, bukan berarti upaya peduli lingkungan ini bertentangan dengan semangat mengejar
keuntungan ekonomi, terbukti kini banyak fasilitas komersial yang menerapkan konsep atap
hijau intensif. Salah satu di antaranya adalah Namba Park, sebuah mal gaya hidup di pusat kota
Osaka.

Manfaat atap hijau bukan hanya sebatas peningkatan nilai estetika dan penghematan
energi, pengurangan gas rumah kaca, peningkatan kesehatan, pemanfaatan air hujan, serta
penurunan insulasi panas, suara dan getaran, tetapi juga penyediaan wahana titik temu arsitektur
dengan jaringan biotop lokal. Perannya sebagai "batu loncatan" menjembatani bangunan dengan
habitat alam yang lebih luas seperti taman kota atau area hijau kota lainnya
Contohnya:
2.3 ARSITEKTUR HIJAU DIRUMAH

Desain rumah yang green architecture bisa diterapkan dirumah kita. Sebagai sebuah
kesatuan antara arsitektur bangunan rumah dan taman tentu harus selaras. Untuk mendekatkan
diri dengan alam, fungsi ruang dalam rumah ditarik keluar. Ruang tamu di taman teras depan,
ruang makan dan ruang keluarga ditarik ke taman belakang atau ke taman samping, atau kamar
mandi semi terbuka di taman samping. Sebaliknya, fungsi ruang keluar menerus ke dalam ruang.
Ruang tamu atau ruang keluarga hingga dapur menyatu secara fisik dan visual. Rumah dan
taman mensyaratkan hemat bahan efisien, praktis, ringan, tapi kokoh dan berteknologi tinggi,
tanpa mengurangi kualitas bangunan.

Arsitektur hijau mensyaratkan dekorasi dan perabotan tidak perlu berlebihan, saniter
lebih baik, dapur bersih, desain hemat energi, kemudahan air bersih, luas dan jumlah ruang
sesuai kebutuhan, bahan bangunan berkualitas dan konstruksi lebih kuat, serta saluran air bersih.
Keterbukaan ruang-ruang dalam rumah yang mengalir dinamis. Ketinggian lantai yang
cenderung rata sejajar, distribusi void-void, pintu dan jendela tinggi lebar dari plafon hingga
lantai dilengkapi jalusi (krepyak), dinding transparan (kaca, glassblock, fiberglass, kerawang,
batang pohon), atap hijau (rumput) disertai skylight.

Penempatan jendela, pintu, dan skylight bertujuan memasukkan cahaya dan udara secara
tepat, bersilangan, dan optimal pada seluruh ruangan. Keberadaan tanaman hidup di ruang dalam
atau di taman (void) berguna menjaga kestabilan suhu udara di dalam tetap segar dan sejuk.
Pintu dan jendela kaca selebar mungkin dan memakai tembok dan kusen seminim mungkin
menjadikan ruang terasa lega. Pintu dan jendela bisa dibuka selebar-lebarnya. Lantai teras dan
ruang dalam dibuat dari material sama dan menerus rata (tidak ada beda ketinggian lantai)
membuat kesatuan ruang terasa luas dan menyatu dengan ruang luar di depannya.

Optimalisasi void menciptakan sirkulasi pengudaraan dan pencahayaan alami yang


sangat membantu dalam penghematan energi. Desain void yang tepat dapat mengurangi
ketergantungan penerangan lampu listrik terutama di pagi hingga sore hari dan pemakaian kipas
angin atau pengondisi udara yang berlebihan. Void dalam bentuk taman (kering) dapat berfungsi
sebagai sumur resapan air. Persenyawaan bangunan dan taman dalam konsep arsitektur hijau
memiliki banyak keuntungan bagi rumah itu sendiri, lingkungan sekitar, dan skala kota secara
keseluruhan. Rumah sehat memiliki sistem terbuka. Maka, setiap rumah yang dibangun
berdasarkan konsep arsitektur hijau dapat mengurangi krisis energi listrik dan BBM serta krisis
kualitas lingkungan
2.4 Prinsip-prinsip Green Architecture

Penjabaran prinsi-prinsip green architecture beserta langkah-langkah mendesain green building


menurut:Brenda dan Robert Vale, 1991, Green Architecture Design fo Sustainable Future:
1. Conserving Energy (Hemat Energi)

Sungguh sangat ideal apabila menjalankan secara operasional suatu bangunan dengan sedikit
mungkin menggunakan sumber energi yang langka atau membutuhkan waktu yang lama untuk
menghasilkannya kembali. Solusi yang dapat mengatasinya adalah desain bangunan harus
mampu memodifikasi iklim dan dibuat beradaptasi dengan lingkungan bukan merubah
lingkungan yang sudah ada. Lebih jelasnya dengan memanfaatkan potensi matahari sebagai
sumber energi. Cara mendesain bangunan agar hemat energi, antara lain:

1. Banguanan dibuat memanjang dan tipis untuk memaksimalkan pencahayaan dan


menghemat energi listrik.
2. Memanfaatkan energi matahari yang terpancar dalam bentuk energi thermal sebagai
sumber listrik dengan menggunakan alat Photovoltaic yang diletakkan di atas atap. Sedangkan
atap dibuat miring dari atas ke bawah menuju dinding timur-barat atau sejalur dengan arah
peredaran matahari untuk mendapatkan sinar matahari yang maksimal.
3. Memasang lampu listrik hanya pada bagian yang intensitasnya rendah. Selain itu juga
menggunakan alat kontrol penguranganintensitas lampu otomatis sehingga lampu hanya
memancarkan cahaya sebanyak yang dibutuhkan sampai tingkat terang tertentu.
4. Menggunakan Sunscreen pada jendela yang secara otomatis dapat mengatur intensitas
cahaya dan energi panas yang berlebihan masuk ke dalam ruangan.
5. Mengecat interior bangunan dengan warna cerah tapi tidak menyilaukan, yang bertujuan
untuk meningkatkan intensitas cahaya.
6. Bangunan tidak menggunkan pemanas buatan, semua pemanas dihasilkan oleh penghuni
dan cahaya matahari yang masuk melalui lubang ventilasi.
7. Meminimalkan penggunaan energi untuk alat pendingin (AC) dan lift.
2. Working with Climate (Memanfaatkan kondisi dan sumber energi alami)

Melalui pendekatan green architecture bangunan beradaptasi dengan lingkungannya. Hal ini
dilakukan dengan memanfaatkan kondisi alam, iklim dan lingkungannya sekitar ke dalam bentuk
serta pengoperasian bangunan, misalnya dengan cara:

1. Orientasi bangunan terhadap sinar matahari.


2. Menggunakan sistem air pump dan cros ventilation untuk mendistribusikan udara yang
bersih dan sejuk ke dalam ruangan.
3. Menggunakan tumbuhan dan air sebagai pengatur iklim. Misalnya dengan membuat
kolam air di sekitar bangunan.
4. Menggunakan jendela dan atap yang sebagian bisa dibuka dan ditutup untuk
mendapatkan cahaya dan penghawaan yang sesuai kebutuhan.
3. Respect for Site (Menanggapi keadaan tapak pada bangunan)

Perencanaan mengacu pada interaksi antara bangunan dan tapaknya. Hal ini dimaksudkan
keberadan bangunan baik dari segi konstruksi, bentuk dan pengoperasiannya tidak merusak
lingkungan sekitar, dengan cara sebagai berikut.
1. Mempertahankan kondisi tapak dengan membuat desain yang mengikuti bentuk tapak
yang ada.
2. Luas permukaan dasar bangunan yang kecil, yaitu pertimbangan mendesain bangunan
secara vertikal.
3. Menggunakan material lokal dan material yang tidak merusak lingkungan.

4. Respect for User (Memperhatikan pengguna bangunan)

Antara pemakai dan green architecture mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Kebutuhan
akan green architecture harus memperhatikan kondisi pemakai yang didirikan di dalam
perencanaan dan pengoperasiannya.
5. Limitting New Resources (Meminimalkan Sumber Daya Baru)

Suatu bangunan seharusnya dirancang mengoptimalkan material yang ada dengan


meminimalkan penggunaan material baru, dimana pada akhir umur bangunan dapat digunakan
kembali unutk membentuk tatanan arsitektur lainnya.
6. Holistic

Memiliki pengertian mendesain bangunan dengan menerapkan 5 poin di atas menjadi satu dalam
proses perancangan. Prinsip-prinsip green architecture pada dasarnya tidak dapat dipisahkan,
karena saling berhubungan satu sama lain. Tentu secar parsial akan lebih mudah menerapkan
prinsip-prinsip tersebut. Oleh karena itu, sebanyak mungkin dapat mengaplikasikan green
architecture yang ada secara keseluruhan sesuai potensi yang ada di dalam site.
2.5 KONSEP ARSITEKTUR HIJAU (GREEN ARCHITECTURE)

Arsitektur hijau adalah suatu pendekatan perencanaan bangunan yang berusaha untuk
meminimalisasi berbagai pengaruh membahayakan pada kesehatan manusia dan lingkungan.
Sebagai pemahaman dasar dari arsitektur hijau yang berkelanjutan, elemen-elemen yang terdapat
didalamnya adalah lansekap, interior, yang menjadi satu kesatuan dalam segi arsitekturnya.
Dalam contoh kecil, arsitektur hijau bisa juga diterapkan di sekitar lingkungan kita. Yang paling
ideal adalah menerapkan komposisi 60 : 40 antara bangunan rumah dan lahan hijau, membuat
atap dan dinding dengan konsep roof garden dan green wall. Dinding bukan sekadar beton atau
batu alam, melainkan dapat ditumbuhi tanaman merambat. Tujuan utama dari green architecture
adalah menciptakan eco desain, arsitektur ramah lingkungan, arsitektur alami, dan pembangunan
berkelanjutan. Arsitektur hijau juga dapat diterapkan dengan meningkatkan efisiensi pemakaian
energi, air dan pemakaian bahan-bahan yang mereduksi dampak bangunan terhadap kesehatan.
Perancangan Arsitektur hijau meliputi tata letak, konstruksi, operasi dan pemeliharaan bangunan.
Konsep ini sekarang mulai dikembangkan oleh berbagai pihak menjadi Bangunan Hijau (green
building...pokokpikira
BAB 3 PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Tujuan utama dari green architecture adalah menciptakan eco desain, arsitektur ramah
lingkungan, arsitektur alami, dan pembangunan berkelanjutan. Arsitektur hijau juga dapat
diterapkan dengan meningkatkan efisiensi pemakaian energi, air dan pemakaian bahan-bahan
yang mereduksi dampak bangunan terhadap kesehatan. Jadi, seorang arsitek dalam membangun
juga mereka harus memperhatikan dampak dan keuntungan lingkungan sekitar.
DAFTAR PUSTAKA
http://apps2.mystart.com/ui/site/index.php?tb=vmndtxtb, Diposting 27th March
2013 oleh izrak mahajani