Anda di halaman 1dari 12

LEGAL MEMORANDUM

(Pendapat Hukum)
Tentang
LANGKAH ALTERNATIF ATAS PELAKSANAAN EKSEKUSI TANAH YANG
TELAH DIJATUHI PUTUSAN YANG TELAH BERKEKUATAN HUKUM
TETAP PADA PERKARA OVERLAPPING KEPEMILIKAN TANAH

PUTUSAN

Putusan Pengadilan Negeri Bekasi Nomor 432/Pdt/G/2014/PN.Bks

A. Legal Issue

Permasalahan hukum yang muncul adalah :

1. Dapatkah eksekusi atas Putusan yang telah berkekuatan hukum tetap pada sengketa

tumpang tindih kepemilikan tanah dilaksanakan, dengan objek sengketa berupa museum

taman ismail marzuki yang merupakan milik pemerintah?

2. Pada umumnya, perkara antara masyarakat melawan pemerintah sangat sulit untuk

dimenangkan oleh masyarakat, meskipun sudah ada Putusan Pengadilan yang telah

berkuatan hukum tetap, sehingga pertanyaan yang muncul adalah, apabila eksekusi

terhadap objek sengketa berupa tanah tidak dapat dilaksanakan, apakah terdapat alternatif

bagi penyelesaian masalah tersebut?

B. Brief Answer

1. Pada dasarnya eksekusi terhadap objek hukum yang menjadi sengketa berupa tanah baik yang

memiliki bangunan maupun yang belum terdapat bangunan diatas tanah tersebut seharusnya

dapat dilakukan dan dilaksanakan,

C. Case Position

1. Pihak Penggugat adalah Nyonya Purnami yang berkedudukan di alamat Jl. Batu Ampar

III, Komplek Condet Baru B/29, Rt.017/03, Kel. Batu Ampar, Kec. Kramat Jati, Jakarta

Timur dlam hal ini dlikuasakan kepada Kuasanya, Parsaoran Marbun, Advokat,

berkantor di Harlys Residence (basement), Jl. Tomang Tinggi Raya Nomor 2, Jakarta
Barat, berdasarkan surat kuasa Nomor 562/PM&R/14, tgl. 17 September 2014

(terlampir).

2. Pihak Tergugat adalah Yayasan Kesejahteraan Karyawan Pusat Kesenian Jakarta Taman

Ismail Marzuki (YKK PKS TIM) dahulu beralamat di Jl. Cikunir Raya Nomor 12, Rt.

12/13, Kec. Jatiasih, Bekasi dan/atau Jl. H. Dalih Nomor 1, Rt. 03/05, Jakamulia, Bekasi,

Jawa Barat, dan sekarang beralamat di Jl. TIM Asih Nomor 8, Pamahan, Kel. Jati Asih,

Bekasi, Jawa Barat (d/a Bpk. Wahban Nuruddin) dan/atau Jl. Dalih Samping Kolam

Pancing, Jakamulya, Bekasi, Jawa Barat, dan Pemerintah RI cq Kementerian Dalam

Negeri cq Badan Pertanahan Nasional cq Kantor Pertanahan Kota Bekasi.

3. Penggugat adalah pemilik sebidang tanah seluas 23.754 m2, yang terletak di Desa Jati

Mekar, Kec. Jatiasih d/h dikenal Kec. Podok Gede, Kab. Bekasi, Jawa Barat, sesuai

Putusan Pengadilan Negeri Bekasi Nomor 56/ Pdt.G/2006/PN.Bks, tgl. 18 Agustus 2006

jo Putusan Pengadilan Tinggi Bandung Nomor 336/Pdt/2006/PT.Bdg, tgl. 28 Pebruari

2007 jo Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 1928K/Pdt/2007, tgl. 26 Pebruari 2008 jo

Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung RI Nomor 247PK/Pdt/2010, tgl. 28

April 2011.

4. Walaupun putusan dimaksud diatas telah berkekuatan hukum tetap (incracht van

gewijsde), namun tidak dapat dieksekusi sebagaimana mestinya oleh karena amarnya

tidak menyatakan seluruh bukti-bukti hak yang ada diatasnya yang tidak diketahui

Penggugat, tidak dinyatakan tidak sah dan/atau batal demi hukum, sehingga dijadikan

alasan oleh Tergugat II menolak putusan tersebut dijadikan sebagai dasar hukum untuk

mengajukan permohonan hak atas tanah miliknya oleh Penggugat, dengan alasan bahwa

diatas tanah tersebut ada hak orang lain.

5. Bukti-bukti hak yang diterbitkan Tergugat II atas nama orang lain, selama ini tidak

diketahui Penggugat selaku pemilik sah atas tanah, padahal sebelum gugatan terdahulu
diajukan Penggugat, terlebih dahulu sudah berusaha memperoleh informasi dari Tergugat

II apakah diatas tanah milik Penggugat ada diterbitkan hak atas nama orang lain, namun

ketika itu jawaban yang diperoleh, tidak ada hak orang lain.

6. Ketika proses gugatan sedang berlangsung, Tergugat II sudah dipanggil secara sah dan

patut agar hadir dipengadilan dalam perkara Nomor 56/Pdt.G/2006/PN.Bks, dalam

kedudukannya selaku Turut Tergugat, namun tidak pernah hadir dan/atau menyuruh

kuasanya.

7. Oleh karena permohonan hak yang diajukan Penggugat ditolak Tergugat II, maka

Penggugat dengan terpaksa menggugat Tergugat II di Pengadilan Tata Usaha Negara

Bandung, dan diputus gugatan Penggugat dikabulkan, akan tetapi dibatalkan Pengadilan

Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta dengan salah satu alasannya bahwa putusan

pengadilan negeri yang telah berkekuatan hukum tetap, harus terlebih dahulu dilakukan

eksekusi.

8. Oleh karena itu, tindakan dan perbuatan Tergugat I dan II yang mengaku-ngaku sebagai

pemilik tanah milik Penggugat, lalu diterbitkan hak diatasnya tanpa sepengetahuan

Penggugat selaku pemilik yang sah, adalah merupakan suatu perbuatan melawan hukum

yang sangat merugikan Penggugat yang beritikad baik.

9. Oleh karena itu, sangat beralasan menurut hukum apabila Tergugat II mencabut dan/atau

membatalkan seluruh bukti-bukti hak yang pernah diterbitkan diatas tanah milik

Penggugat dengan tanpa hak, untuk kepentingan Tergugat I dan/atau pihak ketiga yang

mendapat hak daripadanya.

10. Oleh karena gugatan Penggugat berdasarkan bukti-bukti yang otentik, karenanya sangat

beralasan menurut hukum gugatan Penggugat dikabulkan seluruhnya, dan putusan dalam

perkara ini dapat dilaksanakan terlebih dahulu walaupun ada upaya hukum banding

maupun kasasi (uitvoerbaar bij vooraad).


Menimbang, bahwa atas gugatan Penggugat tersebut Tergugat I mengajukan jawabannya

sebagai berikut:

DALAM EKSEPSI :

1. Pengadilan Negeri Bekasi Tidak Kompeten untuk Mengadili perkara perdata Nomor

432/Pdt.G/2014/PN.Bks .

a. Permohonan Penggugat kepada Pengadilan Negeri Bekasi adalah mengenai

Permohonan Pencabutan / Pembatalan Hak Atas Tanah berupa Sertifikat Hak

Milik atas tanah yang disengketakan yang diterbitkan oleh Tergugat 2.

b. Penggugat yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu keputusan tata usaha

negara dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan Tata Usaha Negara agar

keputusan tata usaha negara yang disengketakan tersebut dinyatakan batal atau

tidak sah sebagaimana diatur dalam Pasal 53 ayat (1) UU Nomor 5 tahun 1986 Jo.

UU Nomor 9 Tahun 2004 tentang Pengadilan Tata Usaha Negara. Permohonan

Penggugat tersebut secara tegas menunjukkan materi gugatan diluar kompetensi

Pengadilan Negeri Bekasi.

2. Tentang tanah obyek gugatan :

a. Tanah Obyek gugatan yang didalilkan Penggugat dalam perkara perdata Nomor

432/Pdt.G/2014/PN.Bks tertanggal 23 September 2014, dan perkara perdata

sebelumnya Nomor 56/Pdt.G/2006 tertanggal 18 Agustus 2006 telah salah obyek

gugatannya, tidak jelas(kabur) atau tidak ada/fiktif obyek gugatannya;

b. Tanah obyek gugatan Penggugat yang didalilkan dalam posita gugatan perkara

perdata no: 432/Pdt.6/2014/PN Bks tertanggal 23 September 2014 dan atau dalam

perkara perdata no: 56/Pdt.G/2006/PN.Bks, Tgl. 18 Agustus 2006 jo Putusan

Pengadilan Tinggi Bandung Nomor 336/Pdt/2006/PT.Bdg, tgl. 28 Pebruari 2007

jo Putusan Mahkamah Agung RI Nomor1928K/Pdt/2007, Tgl. 26 Pebruari 2008


jo Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung RI Nomor247PK/Pdt/2010,

tgl. 28 April 2011 senyatanya tidak ada tanah obyek tanahnya obyek

gugatannya/fiktif, atau tidak jelas/kabur atau salah obyek karena disamping

Penggugat tidak bisa menyebutkan batas batas tanah obyek gugatannya : sebelah

utara : batas apa ? atau mana batasnya ?, demikian juga batas-batas tanah obyek

gugatan sebelah barat, timur dan selatan : batasnya apa ? atau mana batasnya ?

tidak ada, atau Penggugat tidak bisa menunjukkan batasnya. Demikian juga

identitas tanah obyek gugatan juga tidak ada, dan Penggugat juga tidak bisa

menyebutkannya - padahal syarat pokok obyek gugatan atastanah, atau Penggugat

mendalilkan punya hak atas tanah yang didalilkan dalam gugatan - Penggugat

harus punya bukti hak atas tanahnya dan juga harus menunjukkan batas-batas

tanahnya serta identitas tanah yang digugatnya secara benar dan jelas. Kalau

Penggugat tidak dapat menyebutkannya - maka oleh karena tanah obyek gugatan

yang didalilkan Penggugat tidak jelas(kabur), fiktif atau tidak ada atau salah -

karenanya gugatan Penggugat haruslah di tolak atau tidak dapat diterima.

c. Dalil gugatan Penggugat menyatakan mempunyai tanah seluas + 23.754 m2

sebagaimana posita gugatan point Nomor1 tetapi tanah obyek gugatannya tidak

ada atau salah obyek, secara hukum tidak bisa dijadikan obyek gugatan dalam

suatu tuntutan untuk menuntut suatu hak, apalagi untuk dijadikan dasar atau alas

hak untuk menuntut hak kepemilikan tanah.

d. Dalil gugatan Penggugat atas dasar putusan Pengadilan Negeri Bekasi Nomor:

56/Pdt.G/2006/PN.Bks, Tgl. 18 Agustus 2006 jo Putusan Pengadilan Tinggi

Bandung Nomor 336/Pdt/2006/PT.Bdg, tgl. 28 Pebruari 2007 jo Putusan

Mahkamah Agung RI Nomor1928K/Pdt/2007, Tgl. 26 Pebruari 2008 jo Putusan

Peninjauan Kembali Mahkamah Agung RI Nomor247PK/Pdt/2010, tgl. 28 April


2011 adalah tidak berdasarkan hukum sama sekali, karenanya dalam putusan

perkara tersebut tanahnya obyek gugatan tidak jelas/kabur, fiktif, atau tidak ada,

salah obyeknya karena tidak ada batas-batas tanahnya secara jelas baik sebelah

Barat, Utara, Timur dan Selatan, apalagi identitas tanahnya juga tidak ada -

karenanya dalil tanah obyek gugatan dalam perkara tersebut tidak bisa dijadikan

dasar hukum suatu hak atau menetapkan suatu hak kepemilikan seseorang.

Karenanya gugatan Penggugat haruslah ditolak atau tidak dapat diterima. Apalagi

mengenai obyek tanah dalam gugatan yang didalilkan Penggugat dan yang

dijadikan dasar kepemilikan Penggugat - hanya didasarkan Akta Hibah yang

katanya Penggugat dibuat dihadapan Soedirdjo, SH notaris di Bekasi yaitu Akta

hibah nomor :

1) No : 1957/626/PDG/1988 TANGGAL 31 Desember 1988

2) No : 1958/627/PDG/1988 TANGGAL 31 Desember 1988

3) No : 1959/628/PDG/1988 TANGGAL 31 Desember 1988

4) No : 1960/629/PDG/1988 TANGGAL 31 Desember 1988

5) No : 1962/632/PDG/1988 TANGGAL 31 Desember 1988

6) No : 1962/631/PDG/1988 TANGGAL 31 Desember 1988

dan ternyata akta hibah yang dijadikan dasar hukum gugatan perkara perdata

Nomor 56/Pdt.G/2006/Pn.Bks tertanggal 18 Agustus 2006 jo. Putusan Pengadilan

Tinggi Bandung Nomor 336/Pdt/2006/ PT.Bdg, tgl. 28 Pebruari 2007 jo. Putusan

Mahkamah Agung RI Nomor1928K/Pdt/2007, Tgl. 26 Pebruari 2008 jo. Putusan

Peninjauan Kembali Mahkamah Agung RI Nomor247PK/Pdt/2010, tgl. 28 April

2011, dan juga perkara dalam perkara perdata Nomor432/ Pdt. G/2014 / Pn.Bks

tertanggal 23 September 2014 tidak benar, asli tetapi palsu atau aspal. Selain akta

hibah yang tidak benar, masing-masing akta hibah didukung dengan girik atau
Surat Ketetapan Ipeda yang juga tidak benar, asli tetapi palsu atau juga aspal.

Dengan demikian secara formil, materiil, dasar hukum gugatan Penggugat atas

tanah seluas + 23.754 m2 yang berdasarkan akta hibah dan alas hak berupa girik

atau surat ketetapan Ipeda yang tidak benar atau asli tetapi palsu atau aspal,

tersebut karenanya haruslah ditolak dan atau tidak dapat diterima.

D. Analysis

1. Dapatkah eksekusi atas Putusan yang telah berkekuatan hukum tetap pada sengketa

tumpang tindih kepemilikan tanah dilaksanakan, dengan objek sengketa berupa museum

taman ismail marzuki yang merupakan milik pemerintah?

Konsep kepastian hukum merupakan hal yang lahir dari konsep the rule of the law,

dimana konsep tersebut dalam hukum positif di Indonesia terdapat pada Pasal 1 ayat 3

Undang-Undang Dasar 1945. Menurut Utrecht seperti yang dikutip oleh Riduan Syahrani,

dalam buku Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, kepastian hukum mengandung dua pengertian,

yaitu pertama, adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan

apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, dan kedua, berupa keamanan hukum bagi individu

dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu

dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh Negara terhadap

individu.1

Pengaturan mengenai tanah terdapat pada Pasal 506 ayat 1 Kitab Undang-Undang

Hukum Perdata yang menyatakan. Barang tak bergerak adalah..1. tanah pekarangan dan apa

yang didirikan di atasnya.2

Mengenai kepemilikan atas tanah terdapat dua perspektif yang digunakan penulis pada

makalah ini yaitu perspektif hukum acara perdata dan hukum agraria. Dalam Pasal 571 Kitab

1
Riduan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, Bandung : Penerbit Citra Aditya Bakti,Bandung, 1999,
hlm.23.
2
Tim Visi Yustisia, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata,
Jakarta : Tim Visi Yustisia, 2015. hlm. 115
Undang-Undang Hukum Perdata dinyatakan bahwa Hak milik atas sebidang tanah meliputi

hak milik atas segala sesuatu yang ada di atas dan di dalam tanah itu. (KUHPerd. 591.) Di

atas sebidang tanah, pemilik boleh mengusahakan segala tanaman dan mendirikan bangunan

yang dikehendakinya; hal ini tidak mengurangi pengecualian-pengecualian tersebut dalam

Bab IV dan VI buku ini. Di bawah tanah itu ia boleh membangun dan menggali sesuka

hatinya dan mengambil semua hasil yang diperoleh dari galian itu; hal ini tidak mengurangi

perubahan-perubahan dalam perundang-undangan dan peraturan pemerintah tentang

pertambangan, pengambilan bara, dan barang-barang semacam itu.3

Mengenai kepemilikan atas tanah itu sendiri dalam Pasal 572 Kitab Undang-Undang

Hukum Perdata dinyatakan bahwa Setiap hak milik harus dianggap bebas. (KUHPerd. 624.)

Barangsiapa menyatakan mempunyai hak atas barang orang lain, harus membuktikan hak

itu.4

Berdasarkan Pasal 20 ayat 1 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-

Pokok Agraria Hak milik adalah hak turun-temurun, terkuat dan terpenuh yang dapat

dipunyai orang atas tanah, dengan mengingat ketentuan dalam pasal 6.

Lebih lanjut dalam Pasal 26 ayat 1 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang

Pokok-Pokok Agraria Jual-beli, penukaran, penghibahan, pemberian dengan wasiat,

pemberian menurut adat dan perbuatan-perbuatan lain yang dimaksudkan untuk

memindahkan hak milik serta pengawasannya diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Mengenai eksekusi, berdasarkan Pasal 191 ayat 1 RBG menyatakan, pengadilan negeri

dapat memerintahkan pelaksanaan putusannya meskipun ada perlawanan atau banding jika

ada bukti yang otentik atau ada surat yang ditulis dengan tangan yang menurut ketentuan-

ketentuan yang berlaku mempunyai kekuatan pembuktian, atau karena sebelumnya sudah ada

3
Ibid., hlm. 125-126
4
Ibid., hlm. 126
keputusan yang mempunyai kekuatan hukum yang pasti, begitu juga jika ada suatu tuntutan

sebagian yang dikabulkan atau juga mengenai sengketa tentang hak besit.5

Berdasarkan ketentuan Pasal 191 ayat 1 RBG, seharusnya eksekusi dapat dilakukan

meskipun ada upaya banding dan perlawanan, terlebih lagi dalam perkara Putusan Pengadilan

Negeri Bekasi Nomor 432/Pdt/G/2014/PN.Bks sudah memiliki kekuatan hukum tetap

sebelumnya dimana dalam perkara perdata no: 432/Pdt.6/2014/PN Bks tertanggal 23

September 2014 dan atau dalam perkara perdata no: 56/Pdt.G/2006/PN.Bks, Tgl. 18 Agustus

2006 jo Putusan Pengadilan Tinggi Bandung Nomor 336/Pdt/2006/PT.Bdg, tgl. 28 Pebruari

2007 jo Putusan Mahkamah Agung RI Nomor1928K/Pdt/2007, Tgl. 26 Pebruari 2008 jo

Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung RI Nomor247PK/Pdt/2010, pihak penggugat

dimenangkan dalam perkara tersebut di atas dan telah memiliki kekuatan hukum tetap,

namun dalam perkara tersebut di atas, eksekusi terhadap tanah taman ismail marzuki sulit

untuk dilakukan karena adanya upaya kesewenang-wenangan dari pihak taman ismail

marzuki yang berada dibawah naungan pemerintah, dan merasa memilki kekuasaan, bahkan

berani mendalilkan bahwa Pengadilan Negeri Bekasi Tidak Kompeten untuk Mengadili

perkara perdata Nomor 432/Pdt.G/2014/PN.Bks.

Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui, bahwa eksekusi akan sangat sulit dilakukan

dikarenakan kecenderungan badan dan atau aparatur pemerintah yang merasa memiliki

kekuasaan cenderung tidak memiliki kesadaran atas hukum positif yang berlaku dan

cenderung memiliki sikap kesewenang-wenangan dalam menghadapi masyarakat, sehingga

meskipun pengadilan negeri bekasi sudah menetapkan bahwa kepemilikan atas tanah yang

memiliki hak atas sebidang tanah seluas 23.754 m2, yang terletak di Desa Jati Mekar, Kec.

Jatiasih d/h dikenal Kec. Podok Gede, Kab. Bekasi, Jawa Barat, sesuai Putusan Pengadilan

Negeri Bekasi Nomor 56/ Pdt.G/2006/PN.Bks, tgl. 18 Agustus 2006 jo Putusan Pengadilan

5
Ibid., hlm. 320
Tinggi Bandung Nomor 336/Pdt/2006/PT.Bdg, tgl. 28 Pebruari 2007 jo Putusan Mahkamah

Agung RI Nomor 1928K/Pdt/2007, tgl. 26 Pebruari 2008 jo Putusan Peninjauan Kembali

Mahkamah Agung RI Nomor 247PK/Pdt/2010, tgl. 28 April 2011, jatuh ketangan penggugat,

namun eksekusi sampai dengan makalah ini dibuat sulit untuk dilaksanakan.

2. Pada umumnya, perkara antara masyarakat melawan pemerintah sangat sulit untuk

dimenangkan oleh masyarakat, meskipun sudah ada Putusan Pengadilan yang telah

berkuatan hukum tetap, sehingga pertanyaan yang muncul adalah, apabila eksekusi

terhadap objek sengketa berupa tanah tidak dapat dilaksanakan, apakah terdapat

alternatif bagi penyelesaian masalah tersebut?

Dalam perkara ini dapat dilihat pada Putusan Pengadilan Negeri Bekasi Nomor 56/

Pdt.G/2006/PN.Bks, tgl. 18 Agustus 2006 jo Putusan Pengadilan Tinggi Bandung Nomor

336/Pdt/2006/PT.Bdg, tgl. 28 Pebruari 2007 jo Putusan Mahkamah Agung RI Nomor

1928K/Pdt/2007, tgl. 26 Pebruari 2008 jo Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung RI

Nomor 247PK/Pdt/2010, bahwa sebenarnya perkara ini telah memiliki kekuatan hukum tetap

(Putusan PK) sehingga seharusnya eksekusi atas objek sengketa tetap dapat dilaksanakan

oleh penggugat sebagai pihak yang menang berdasarkan Pasal 191 ayat 1 RBG.

Namun dalam perkara ini pihak yang dihadapi adalah pihak pemerintah yang arogan dan

memaksakan kehendak (tergugat I yayasan taman ismail marzuki dan tergugat II BPN kota

Bekasi), eksekusi atas putusan pengadilan PN-PK tidak dapat dilaksanakan sehingga

seharusnya, dalam gugatan ini, pihak penggugat mengajukan gugatan yang didasarkan Pasal

208 RBG dan Pengadilan Negeri Bekasi dalam gugatan baru ini juga dengan bijaksana

menetapkan solusi dari tidak dilaksanakannya eksekusi dengan mengacu pada Pasal 208

RBG yang menentukan apabila eksekusi terhadap objek fisik yang tidak bergerak tidak dapat

dilakukan maka dapat dilakukan dengan eskekusi dalam bentuk penggantian hak dalam
bentuk uang atau eksekusi terhadap barang yang memiliki nilai yang sama dengan objek yang

disengketakan.

Namun masalahnya Pengadilan Negeri Bekasi pada Putusan Pengadilan Negeri Bekasi

Nomor 432/Pdt/G/2014/PN.Bks hanya mengulangi putusan yang telah diputus sebelumnya,

yaitu Putusan Pengadilan Negeri Bekasi Nomor 56/ Pdt.G/2006/PN.Bks, tgl. 18 Agustus

2006 jo Putusan Pengadilan Tinggi Bandung Nomor 336/Pdt/2006/PT.Bdg, tgl. 28 Pebruari

2007 jo Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 1928K/Pdt/2007, tgl. 26 Pebruari 2008 jo

Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung RI Nomor 247PK/Pdt/2010,. Sehingga

kepastian hukm dalam perkara ini tidak dapat tercermin dalam putusan pengadilan bekasi

sebagaimana amanat dalam UUD 45 Pasal 28D ayat 1.

E. Conclusion

Dari seluruh uraian dan analisa di atas, maka kesimpulannya ialah :

1. Berdasarkan ketentuan Pasal 191 ayat 1 RBG, seharusnya eksekusi dapat dilakukan

meskipun ada upaya banding dan perlawanan, eksekusi akan sangat sulit dilakukan

dikarenakan kecenderungan badan dan atau aparatur pemerintah yang merasa

memiliki kekuasaan cenderung tidak memiliki kesadaran atas hukum positif, hal ini

dapat dilihat pada eksekusi terhadap tanah taman ismail marzuki sulit untuk dilakukan

karena adanya upaya kesewenang-wenangan dari pihak taman ismail marzuki yang

berada dibawah naungan pemerintah, dan merasa memilki kekuasaan, bahkan berani

mendalilkan bahwa Pengadilan Negeri Bekasi Tidak Kompeten untuk Mengadili

perkara perdata Nomor 432/Pdt.G/2014/PN.Bks.

2. Pengadilan Negeri Bekasi pada Putusan Pengadilan Negeri Bekasi Nomor

432/Pdt/G/2014/PN.Bks seharusnya menjatuhkan putusan yang bersifat alternatif

berdasarkan Pasal 208 RBG dan Pengadilan Negeri Bekasi dalam gugatan baru ini
juga dengan bijaksana menetapkan solusi dari tidak dilaksanakannya eksekusi dengan

mengacu pada Pasal 208 RBG yang menentukan apabila eksekusi terhadap objek fisik

yang tidak bergerak tidak dapat dilakukan maka dapat dilakukan dengan eskekusi

dalam bentuk penggantian hak dalam bentuk uang atau eksekusi terhadap barang yang

memiliki nilai yang sama dengan objek yang disengketakan.