Anda di halaman 1dari 6

KONDUKTIVITAS TERMAL

Konduktivitas termal merupakan suatu besaran intensif bahan yang


menunjukkan kemampuan bahan tersebut untuk menghantarkan panas.
Konduktivitas termal adalah sifat suatu zat yang mengalami perpindahan panas
tinggi. Konduktivitas termal tergantung pada suhu dan memiliki ketergantungan
yang agak kuat untuk berbagai konstruksi dan bahan teknik lainnya.
Ketergantungan ini biasanya dinyatakan dengan suatu hubungan linier. Akan
tetapi suhu rata-rata bahan itu sering tidak diketahui.
Koefisien konduktivitas termal (k) didefinisikan sebagai laju panas pada
suatu benda dengan suatu gradien temperatur . Dengan kata lain konduktivitas
termal menyatakan kemampuan bahan menghantarkan kalor. Nilai konduktivitas
termal penting untuk menentukan jenis dari penghantar yaitu konduktor panas
yang baik untuk nilai koefisien konduktivitas termal yang besar maupun untuk
penghantar panas yang tidak baik untuk nilai koefisien panas yang kecil.
Konduktivitas thermal dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu suhu,
kepadatan dan porositas, serta kandungan uap air. Pengaruh suhu terhadap
konduktivitas thermal kecil. Namun secara umum dapat dikatakan bahwa
konduktivitas thermal akan meningkat apabila suhu meningkat. Keadaan pori-pori
bahan akan mempengaruhi konduktivitas thermal. Semakin besar rongga akan
semakin buruk konduktivitasnya. Kandungan uap air juga mempengaruhi
konduktivitas thermal.
Konduksi termal adalah suatu fenomena perpindahan dimana perbedaan
temperatur menyebabkan perpindahan energi termal dari satu daerah benda yang
panas atau bersuhu tinggi ke daerah benda yang temperaturnya yang lebih rendah.
Panas yang dipindahkan dari satu titik ke titik lain dapat dipindahkan melalui
salah satu dari tiga metode yaitu konduksi, konveksi dan radiasi. Konduktivitas
termal erat kaitannya dengan daya hantar panas suatu bahan. Kemampuan
menghantarkan panas setiap bahan itu berbeda dikarenakan nilai konduktivitas
termal dari setiap bahan tersebut juga berbeda
1. Sifat Termal Bahan
Sifat termal merupakan sifat yang menunjukkan respon material terhadap
panas yang diterima suatu bahan / material. Untuk mengetahui sifat termal suatu
bahan, maka perlu dibedakan antar temperatur / suhu dengan kandungan kalor.
Kalor merupakan energi termal yang telah dimiliki oleh suatu zat yang berpindah
dari suhu tinggi ke suhu rendah. Energi termal dapat berpindah dari satu tempat ke
tempat lain dengan cara konduksi, konveksi, maupun radiasi.

1. Konduksi adalah Bila panas yang di transfer tidak diikuti dengan perpindahan
massa dari benda. Konduksi diakibatkan oleh tumbukan antar molekul penyusun
zat. Ujung benda yang panas mengandung molekul yang bergetar lebih cepat.
Ketika molekul yang bergetar cepat tadi menumbuk molekul di sekitarnya yang
lebih lambat, maka terjadi transfer energi ke molekul disebelahnya sehingga
getaran molekul yang semula lambat menjadi lebih cepat. Molekul ini kemudian
menumbuk molekul lambat di sebelahnya dengan disertai transfer energi.
Demikian seterusnya sehingga pada akhirnya energi sampai pada ujung benda
yang lainnya.
2. Konveksi terjadi karena gerakan massa molekul dari satu tempat ke tempat
lain. Konveksi terjadi perpindahan molekul dalam jarak yang jauh.
3. Radiasi adalah perpindahan panas tanpa memerlukan medium[1].

Berikut adalah tabel nilai konduktivitas suatu bahan

Sejumlah energi bisa ditambahkan ke dalam material melalui pemanasan,


medan listrik, medan magnit, bahkan gelombang cahaya seperti pada peristwa
photo listrik yang telah kita kenal. Tanggapan padatan terhadap macam-macam
tambahan energi tersebut tentulah berbeda. Pada penambahan energi melalui
pemanasan misalnya, tanggapan padatan termanifestasikan mulai dari kenaikan
temperatur sampai pada emisi thermal tergantung dari besar energi yang
masuk.Pada peristiwa photolistrik tanggapan tersebut termanifestasikan sebagai
emisi elektron dari permukaan metal tergantung dari frekuensi cahaya yang kita
berikan, yang tidak lain adalah besar energi yang sampai ke permukaan metal.
Dalam mempelajari sifat non-listrik material, kita akan mulai dengan sifat
thermal, yaitu tanggapan material terhadap penambahan energi secara thermal
(pemanasan). Dalam padatan, terdapat dua kemungkinan penyimpanan energi
thermal; yang pertama adalah penyimpanan dalam bentuk vibrasi atom / ion di
sekitar posisi keseimbangannya, dan yang kedua berupa energi kinetik yang
dikandung oleh electron bebas. Ditinjau secara makroskopis, jika suatu padatan
menyerap panas maka energi internal yang ada dalam padatan meningkat yang
diindikasikan oleh kenaikan temperaturnya. Koefisien daya hantar berlainan
dengan koefisien muai panas, walaupun keduanya dipengaruhi oleh suhu. Naiknya
suhu suatu bahan/material, maka akan mengakibatkan perubahan susunan atom
yang mengiringi pencairan dan pengaturan kembali susunan atom=atom yang
diakibatkan perubahan suhu, yang pada akhirnya akan mengganggu daya hantar
panas bahan tersebut. Temperatur / suhu adalah tinggi rendahnya (level ) thermal
dari suatu aktivitas, sedangkan kandungan kalor adalah besarnya energi thermal.
Suatu benda dapat mengalami muai panas (Thermal Expansion), yaitu pemuaian
yang dialami bahan ketika mengalami perlakuan termal.Besarnya pemuaian bahan
/ material ditentukan oleh jenis benda, ukuran benda mula-mula, dan besarnya
kalor yang diberikan. Pemuaian ini dapat mengakibatkan pertambahan panjang
(l) dan juga pertambahan volume merupakan koefisien muai panjangdan
koefisien muai volume suatu zat.
Daya hantar panas(Thermal Conductivity) merupakan kemampuan suatu
material atau bahan dalam meneruskan panas, yang biasanya terjadi pada benda
padat, dan biasanya terjadi secara konduksi. Jadi perubahan energi pada atom-
atom dan electron bebas menentukan sifat-sifat thermal padatan. Sifat-sifat
thermal yang akan kita bahas adalah kapasitas panas, panas spesifik, pemuaian,
dan konduktivitas panas.

Hal ini pada umumnya benar untuk dinding berlapis banyak, dimana halnya beda
suhu menyeluruh yang pada mulanya ditentukan. Dalam hal-hal demikian, jika
data memungkinkan, masalah ditangani dengan mengandaikan nilai-nilai yang
dianggap wajar untuk suhu-suhu antar muka, sehingga k untuk masing-masing
bahan bisa didapatkan dan fluks kalor per satuan luas dapat ditentukan.Konduksi
merupakan perpindahan kalor melalui suatu benda tanpa disertai perpindahan
partikel benda tersebut, namun partikel hanya bergetar disekitar posisinya saja.
Perpindahan kalor secara konduksi terjadi pada benda patat, terutama logam.
Benda yang dapat menghantarkan kalor dengan baik disebut konduktor, karena
dalam benda konduktor partikel dapat bergerak lebih bebas dibandingkan partikel
pada benda isolator, yakni benda yang tidak dapat menghantarkan kalor dengan
baik. Perpindahan panas terbagi menjadi beberapa kondisi. Salah satu yang paling
rumit ialah perpindahan panas pada dinding berlapis. Dianggap paling rumit
karena dinding berlapis memiliki konduktivitas bahan yang berbeda-beda disetiap
bahan lapisan yang digunakan.Rangkaian termal biasa digunakanyaitu pada sistem
yang kompleks, seperti dinding berlapis. Sebuah dinding satu lapis, berbentuk
silinder, terbuat dari bahan homogen dengan konduktivitas termal tetap dan suhu
permukaan dalam dan suhu permukaan luar seragam. Setiap bahan memiliki sifat
daya penghantaran panas yang berbeda beda, ada bahan yang bersifat konduksi,
konveksi dan radiasi. Konduksi merupakan perpindahan kalor melalui suatu benda
tanpa disertai perpindahan partikel benda tersebut, namun partikel hanya bergetar
disekitar posisinya saja. Perpindahan kalor secara konduksi terjadi pada benda
patat, terutama logam

Konduktivitas termal adalah ilmu untuk mengetahui perpindahan energi karena


perbedaan suhu dianta benda atau material, dan juga menunjukan maik buruknya
suatu material.material yang dapat menghantarkan panas dengan baik disebut
konduktor sedangkan yang kurang baik disebut isolator.untuk mengetahu
konduktivitas termal zat cair dan zat padat ada teori teori yang dapat digunakan
dalam beberapa situasi tertentu,tetapi pada umumnya,dalam zat cair dan zat padat
terdapat banyak masalah yang masih memerlukan penjelasan. Konduktivitas
termal merupakan fungsi suhu dan akan bertambah sedikit kalau suhu naik ,akan
tetapi variasinya kecil dan sering dapat diabaikan
Nilai konduktivitas termal suatu material dapat ditentukan melalui pengukuran tak
langsung. Dengan melakukan pengukuran secara langsung terhadap beberapa
besaran lain, maka nilai konduktivitas termal secara umum dapat ditentukan
melalui persamaan

KETERANGAN
K= konduktivitas termal
Ro= laju pencairan es
L= kalor lebur es
A= luas permukan
= perpindahan suhu
Konduktivitas berbagai bahan pada C
bahan Konduktivitas termal(k)
W/m.c Bt u / h.ft.F
Logam
Perak(murni) 410 237
Tembaga(murni) 385 223
Aluminium(murni) 202 117
Nikel(murni) 93 54
Besi(murni) 93 54
Baja Karbon,1% C 73 42
Timbal (murni) 43 25
Bukan Logam
Magnesit 4,15 24
Marmar 2,08-2,94 1,2-1,7
Batu pasir 1,83 1,06
Kayu 0,17 0,096
Zat Cair
Raksa 8,21 4.74
Air 0,556 0,327
Amonia 0,540 0,321
Freon 12,2 2 0,073 0,042
Gas
Hidrogen 0,175 0,101
Helium 0,141 0,081
Karbondioksida 0,0146 0,00844
Uap air(jenuh) 0,0206 0,0119

Perpindahan panas pada umumnya mengenal tiga cara perpindahan panas yaitu,
konduksi (conduction, juga dikenal dengan istilah hantaran), konveksi
(convection, juga dikenal dengan istilah aliran), radiasi (radiartion).